sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
NEVER TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
It's Sequel of Never Too Far
Happy Reading!
.
.
.
Never Too Far : Chapter 4
- Blaire -
Makam ibuku adalah satu-satunya tempat yang ada dalam pikiran untuk kutuju. Aku tidak punya rumah. Aku tidak bisa kembali ke rumah Granny Gyuri. Dia adalah nenek Minho. Minho mungkin ada di sana menungguku. Atau mungkin tidak juga. Mungkin aku juga sudah mendorongnya pergi. Aku duduk di ujung makam ibuku. Aku menarik lutut di bawah dagu dan melingkarkan tangan di kakiku.
Aku pulang kembali ke kota Summit karena ini satu-satunya tempat yang kutahu akan aku datangi. Sekarang, aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini. Sekali lagi hidupku akan segera menikung tajam. Keadaan yang tidak siap untuk kuhadapi. Ketika aku masih gadis kecil ibuku pernah membawa kami ke sekolah Minggu di gereja Baptis setempat. Aku teringat sebuah ayat suci yang mereka bacakan untuk kami dari Alkitab tentang Tuhan tidak memberikan beban lebih banyak daripada beban yang mampu kita hadapi. Aku mulai bertanya-tanya apakah itu hanya untuk orang-orang yang pergi ke gereja setiap hari Minggu dan berdoa sebelum mereka pergi tidur di malam hari. Karena Tuhan tidak tanggung-tanggung memberikan pukulannya terhadapku.
Mengasihani diri sendiri tidak akan menolongku. Aku tidak bisa melakukannya. Aku juga harus mencari tahu jawaban tentang yang satu ini. Menumpang di rumah Granny Gyuri dan membiarkan Minho membantuku mengatasi urusan hidup sehari-hari hanyalah untuk sementara. Aku tahu saat aku pindah ke kamar tidur tamu bahwa aku tidak bisa menumpang terlalu lama. Terlalu banyak sejarah antara Minho dan aku. Aku tidak punya niat untuk mengulangi sejarah itu. Jawaban tentang kapan aku akan pergi, berada di sini tapi aku masih tetap tidak mengerti kemana aku akan pergi dan apa yang akan kulakukan sama seperti tiga minggu yang lalu.
"Aku berharap kau ada di sini, Momma. Aku tak tahu harus berbuat apa dan aku tidak punya siapa pun untuk kutanyai," bisikku sambil duduk di pemakaman yang tenang. Aku ingin percaya bahwa dia bisa mendengarkanku. Aku tidak senang memikirkan dia berada di bawah tanah tapi setelah saudara kembarku, Kai, meninggal aku duduk di sini, di tempat ini bersama ibu dan kami bicara dengan Kai. Momma mengatakan arwahnya sedang mengawasi kami dan dia bisa mendengar kami. Aku sangat ingin percaya itu sekarang.
"Ini aku. Aku rindu kalian. Aku tidak ingin sendirian… tapi begitulah. Dan aku takut." Suara yang terdengar hanyalah desiran angin menerpa daun-daun di pepohonan. "Kau pernah memberitahuku kalau aku mendengarkan dengan cermat aku akan tahu jawabannya di dalam hatiku. Aku mendengarkannya Momma, tapi aku sangat bingung. Mungkin kau bisa membantuku dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana?"
Aku menyandarkan dagu di lututku dan memejamkan mata, tidak mau menangis.
"Ingat saat kau bilang aku harus mengatakan kepada Minho bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku tidak akan merasa lebih baik sampai aku menumpahkan semuanya keluar. Well, aku melakukannya hari ini. Bahkan jika dia memaafkanku keadaan tidak akan pernah akan sama lagi. Bagaimanapun aku tidak bisa terus-terusan bergantung padanya dalam banyak hal. Sudah waktunya aku mencari tahu sendiri. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya."
Hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih baik. Tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban sepertinya tidak menjadi masalah.
Suara pintu mobil ditutup memecah kedamaian dan aku menurunkan tangan dari kakiku dan menoleh kebelakang di pelataran parkir dan melihat mobil yang terlalu mahal untuk kota kecil ini. Memutar mataku untuk melihat siapa yang telah melangkah keluar dari dalam mobil aku terkesiap kemudian melompat. Itu Yuri. Dia ada di sini. Di Summit. Di kuburan ini… mengendarai mobil yang terlihat sangat, sangat mahal.
Rambut cokelatnya yang panjang ditarik di atas bahunya membentuk ekor kuda. Ada senyum tersungging di bibirnya saat mataku bertemu dengan matanya. Aku tidak bisa bergerak. Aku takut aku berkhayal yang tidak-tidak. Apa yang Yuri lakukan di sini?
"Kau tidak punya ponsel seperti seekor burung. Bagaimana bisa aku meneleponmu dan bilang aku datang untuk menemuimu kalau aku tak punya nomor yang harus dihubungi? Hmmm?" Kata-katanya tidak masuk akal namun hanya mendengar suaranya membuatku berlari mempersempit jarak di antara kami.
Yuri tertawa dan membuka lengannya saat aku melemparkan diriku kepadanya. "Aku tak percaya kau ada di sini," kataku setelah memeluknya.
"Ya, aku juga. Ini perjalanan yang panjang. Tapi kau sepadan dan mengingat bahwa kau meninggalkan ponselmu di Rosemary aku tak punya cara untuk bicara denganmu."
Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku tidak bisa. Belum. Aku perlu waktu. Dia sudah tahu tentang ayahku. Dia tahu tentang Irene. Tapi yang lainnya… Aku tahu dia tidak tahu.
"Aku sangat senang kau ada di sini tapi bagaimana caranya kau menemukanku?"
Yuri menyeringai dan memiringkan kepalanya. "Aku menyetir mengelilingi kota untuk mencari trukmu. Itu tidak sulit. Tempat ini punya sesuatu seperti lampu merah. Kalau aku berkedip dua kali aku masih akan melewatkannya."
"Mobil itu mungkin menarik perhatian warga kota," kataku melirik ke arah mobil itu.
"Itu milik Ravi. Mobilnya sangat nyaman dikendarai."
Dia masih bersama Ravi. Bagus. Tapi dadaku terasa sakit. Ravi mengingatkanku pada Rosemary. Dan Rosemary mengingatkanku pada Sehun.
"Aku akan menanyakan bagaimana kabarmu tapi kau terlihat seperti tongkat yang berjalan. Apakah kau pernah makan sejak kau pergi meninggalkan Rosemary?"
Semua pakaianku sekarang longgar. Makan sulit dilakukan mengingat simpul besar yang terus terikat erat di dadaku setiap saat. "Ini adalah beberapa minggu yang buruk tapi kurasa aku semakin membaik. Melupakan banyak hal. Menghadapinya."
Yuri mengalihkan tatapannya ke kuburan di belakangku. Keduanya. Aku bisa melihat kesedihan di matanya saat dia membaca kedua batu nisan itu. "Tidak ada yang bisa mengambil pergi kenanganmu. Kau memilikinya," katanya sambil meremas tanganku.
"Aku tahu. Aku tidak percaya mereka. Ayahku seorang pembohong. Aku tidak percaya satu pun dari mereka. Dia, Ibuku, dia tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah Ayahku. Dia menyebabkan rasa sakit ini. Bukan Mommaku. Mommaku tak akan pernah."
Yuri mengangguk dan menggenggam tanganku dengan erat. Hanya memiliki seseorang yang mendengarkanku dan tahu bahwa mereka percaya padaku, bahwa mereka percaya Ibuku tidak bersalah sudah cukup membantu.
"Apa saudara perempuanmu sangat mirip denganmu?"
Memori terakhirku dari Kai adalah saat dia tersenyum. Senyum riangnya jauh lebih cantik dibanding senyumku. Giginya sempurna tanpa bantuan kawat gigi. Matanya lebih cerah dibanding mataku. Tapi semua orang mengatakan kami identik. Mereka tidak melihat perbedaannya. Aku selalu heran kenapa. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Kami kembar identik," jawabku. Yuri tidak akan memahami kebenaran.
"Aku tidak bisa membayangkan dua Kim Jongin. Kalian pasti sudah mematahkan hati seluruh pria di kota kecil ini." Dia mencoba untuk meringankan suasana setelah bertanya tentang saudara perempuanku yang sudah meninggal. Aku menghargainya.
"Hanya Kai. Aku bersama Minho sejak aku masih kecil. Aku tidak mematahkan hati siapapun."
Mata Yuri sedikit terbelalak kemudian membuang pandangannya sebelum berdehem. Aku menunggu sampai dia berpaling lagi padaku. "Meskipun melihatmu sangat menyenangkan dan kita bisa benar-benar menggoncang kota ini, aku sebenarnya datang ke sini karena suatu tujuan."
Aku menduganya, aku hanya tidak tahu dengan tepat apa tujuannya.
"Oke," kataku menunggu lebih banyak penjelasan.
"Bisakah kita bicara tentang ini sambil menikmati kopi?" Dia mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan. "Atau mungkin Dairy K karena sepertinya itu satu-satunya tempat yang kulihat ketika aku melewati kota."
Dia tidak nyaman berbicara di kuburan seperti aku. Itu normal. Sedangkan aku tidak. "Ya, oke," kataku dan berjalan untuk mengambil dompetku.
"Itu jawabanmu," bisik suara lembut yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir kalau aku hanya berkhayal. Berbalik menengok kembali ke arah Yuri dia tersenyum dengan tangannya terselip di saku depannya.
"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku bingung.
"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita pergi ke Dairy K?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya. Apa kau membisikkan sesuatu?"
Dia mengernyitkan hidungnya dan kemudian memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng. "Tidak… um… kenapa kita tidak keluar saja dari sini?" Katanya meraih lenganku dan menarikku di belakang punggungnya menuju mobil Ravi.
Aku menengok menatap makam Ibuku dan kedamaian datang padaku. Apakah itu merupakan…? Tidak. Jelas tidak. Menggelengkan kepalaku, aku berbalik dan menuju ke sisi penumpang sebelum Yuri mempersilahkan aku masuk.
.
End for This Chapter
sassy.chessy
