Yo minna-saaaaannn!

Natsu balik lagiiii! XD Kini dengan chapter empat yang gak kalah abalnya dengan chapter-chalpter laiiiinn!

Yooosshh! Tanpa banyak cincong dulu, langsung baca ajaaaa! XD

.

Cerita sebelumnya :

Gadis itu membelalakkan matanya, terkejut dengan tingkah lelaki yang satu ini. Cukup sudah, bukti yang menunjukkan bahwa hari ini Kuroro benar-benar aneh! Ia semakin perhatian, bahkan Kurapika merasakan kasih sayang saat Kuroro menggendongnya turun dari ranjuang tadi. Gadis itu teringat, saat Kuroro merawatnya semalam. Gadis itu lebih merasa bahwa lelaki itu terdorong oleh rasa tanggung jawab, dan sedikit rasa kasihan. Tapi yang ini, lelaki itu lebih terlihat lembut. Benar-benar seorang suami kepada istrinya yang paling ia cintai.

"Ayo, cepat makan. Nanti steak itu bisa dingin," ucap lelaki itu, menyadarkan lamunan Kurapika. menyadari tak ada respon dari gadis itu, Kuroro kembali berkata, "atau kau mau kusuapi—lagi?" tanyanya seraya mengambil kembali piring itu, siap menyuapi gadis di depannya.

Kurapika tersentak, dan langsung saja merampas piring itu dari Kuroro. "Tidak usah! Aku bisa sendiri!" ucapnya dengan nada yang terdengar sedikit kasar.

Kuroro menyerngit, lalu mengangkat bahunya pasrah. "Ya sudah. Cepatlah makan,"

Awalnya Kurapika ragu, namun pada akhirnya ia pun memakan steak itu juga. Memakannya memang lebih efesien, setelah dipotong kecilkan oleh Kuroro. Dan terasa lebih... nikmat. Gadis itu selalu melawan perasaan ini, dan berpikir bahwa semuanya hanya karena ia sedang mengandung. Namun kenyataannya, ia benar-benar menikmati suatu makanan, begitu ada Kuroro di dekatnya. Bukan karena kandungannya. Kurapika tak pernah berselera makan, baik itu di rumah, sekolah, dan tempat-tempat lain jika tak ada Kuroro di sana, dan gadis itu berusaha mengusir pikiran konyol itu jauh-jauh.

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : To Be With You

Story By : Natsu Hiru Chan

Genre : Romance, & Family—maybe?

Rated : Tsemi M for this chapter! XD

Pairing : KuroroXKurapika

Warning(s) : AU, OOC, typo bertebaran dimana-mana, terinspirasi dari sebuah novel, semi-M sometimes, abal, gaje, norak, jelek, ancur, dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin!

Summary : Berawal dari sebuah kesalahan kecil, yang terjadi di Spider Island, Kurapika harus 'tertimpa' bencana besar yang membuatnya harus terjebak dalam kehidupan seorang pria yang bernama Kuroro Lucifer.

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 4 :

Kurapika mulai merasa muak, dengan tatapan sahabatnya yang satu ini. mulai dari pagi, sejak ia datang ke sekolah pelajaran berlangsung, saat istirahat, hingga sampai pulang, Neon bagaikan bayangan yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi.

"Ayolah Kurapika... Ada hubungan apa kau dengan Kuroro Lucifeeerr!?" Neon bertanya dengan nada memelas.

Yang ditanya hanya memutar bola matanya, seraya menatap gadis bersurai pink itu dengan sebal. "Sudah berapa kali kubilang, kami tidak memiliki hubungan apa-apa!" gadis itu menjawab, seraya melanjutkan langkahnya ke luar gerbang sekolah.

Neon tetap tak mau kalah, berjalan beriringan dengan sahabat terdekatnya yang satu ini. "Lalu kenapa kemarin dia datang menjemputmu!? Kenapa kau menyembunyikannya dari sahabatmu sendiriii!?"

"Bukan urusanmu," Kurapika tetap berjalan menjauhi Neon.

"Kurapikaaa!"

"Berisik!"

Setelah perdebatan panjang dari mereka, akhirnya dimenangkan oleh Kurapika, karena mobil jemputan neon sudah datang. Gadis itu berjanji, akan mencari tahu tentang Kurapika, bagaimana pun caranya! Neon diberkahi julukan si Ratu gosip di sekolahnya, dan ia tak ingin gelar itu tercontreng hanya karena kelakukuan sahabatnya yang satu ini.

Kurapika hanya menghela nafas panjang, menatap limosine hitam yang sudah menjauh itu. Gadis itu pun membalikkan badannya, berjalan menuju rumahnya yang agak jauh dari sini.

Namun langkah gadis itu langsung terhenti, begitu ia merasakan isi perutnya seolah bergejolak, meminta ingin keluar. Kurapika langsung saja menjongkok, dan membekap mulutnya dengan erat. Betapa memalukannya, jika ia muntah di tengahjalan! Gadis itu memejamkan matanya erat. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pening, dan tubuhnya begitu lemas saat ini.

Tak ada jalan lain. Gadis itu terpaksa harus pulang dengan taksi, agar terhindar dari resiko pingsan di tengah jalan.

.

.

Dengan lunglay, ia pun berjalan, membuka pagar rumahnya, lalu menuju pintu. Saking lemasnya, gadis itu bahkan tidak menyadari, bahwa sebuah mobil sport biru tua kini tengah terparkir di depan rumahnya.

Kurapika membuka pintu rumahnya—yang tidak terkunci. Langsung saja direbahkannya tubuh ringannya ke sofa, dan memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Matanya terpejam erat, berusaha menahan sakit.

"Nggghhhh..." ia mengerang kesakitan.

"Kau baik-baik saja?" sebuah suara bariton sukses membelalakkan mata gadis itu. Segera dibukanya matanya, dan menoleh ke sumber suara, mendapati seorang pria berambut hitam, dengan tanda aneh di keningnya kini duduk di sampingnya, menatapnya dengan tatapan dingin.

Seketika rasa sakit yang sedari tadi menyiksa gadis itu menguap entah kemana. Ditatapnya lelaki di depannya itu dengan tatapan kaget. "Apa yang kau lakukan di rumahku!?" tanya, atau lebih tepatnya bentaknya.

"Kau lupa?" Kuroro menaikkan sebelah alisnya. "Hari ini kau harus pergi pelatihan ibu hamil 'kan?"

Kurapika melototi Kuroro, menatapnya tak percaya. Ia lupa, dan lelaki itu mengingatnya!? Betapa memalukannya! Gadis itu menghela nafas panjang, seraya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Beri aku waktu sebentar untuk beristirahat..." ucapnya, seraya memejamkan matanya. Ya, Kurapika sangat kelelahan hari ini, terutama saat Neon 'menghantui'nya.

Gadis itu kembali membuka matanya, begitu merasakan ada pergerakan di sampingnya. Diliriknya ayah dari calon anaknya itu, bergerak mendekatinya. Wajahnya memang masih datar, namun gadis itu bisa melihat keantusiasan di sana. Di bola mata besar, dengan iris pekat itu.

"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanyanya dengan suara datarnya.

Kurapika terkejut mendengarnya. Dari kemarin pria di depannya ini bertingkah laku aneh! Ia lebih memperhatikan Kurapika sekarang, dan lebih peduli terhadapnya. Ingin ia menolak tawaran Kuroro, namun begitu rasa mual kembali menguasainya, tanpa pikir panjang gadis itu menyebutkan apa yang tertulis di otaknya, dan juga yang diinginkan perutnya.

"Aku mau takoyaki!" ucapnya dengan nada lemas. Butuh waktu lama, untuk Kurapika sadar akan kebodohannya, telah bertingkah kekanak-kanakan seperti ini!

Pria di sampingnya nampak menyerngit. "Takoyaki?" tanyanya, seolah baru mendengar kata yang sudah biasa di telinga masyarakat itu.

"Kau tidak tau takoyaki?" tanya Kurapika tak percaya. Yang ditanya hanya menggeleng-geleng polos, memasang wajah tanpa dosa yang membuat Kurapika muak.

Gadis itu menghela nafas pasrah. "Ya sudahlah... Lagipula aku tak terlalu menginginkannya," ucapnya berbohong. Tentu saja ia begitu menginginkan makanan khas Jepang berbahan dasar Gurita itu! Namun melihat wajah kebingungan Kuroro membuatnya menyerah. Dasar, anak orang kaya! Jangan bilang Machi Lucifer juga tidak mengetahuinya!?

Kuroro segera berdiri dari duduknya. Ia bisa melihat sirat keputus-asaan dari gadis di depannya ini. "Kau tunggu di sini! Akan kucarikan!" ucapnya, seraya mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di atas meja, dan segera keluar dari rumah itu.

Kurapika terdiam, cengo melihat tingkah pria itu. Bagaimana caranya mendapatkan Takoyaki, sedangkan bentuk dan asalnya saja tidak ia ketahui? Sesibuk bagaimana sih, seorang Kuroro Lucifer? Bahkan waktu untuk menikmati makanan ringan seperti itu pun tak ada. Sebesar apa, tanggung jawabnya kepada keluarga Lucifer? Sebesar apa beban yang ditanggungnya selama 26 tahun dalam hidupnya?

Gadis itu memutar bola matanya. Kenapa tiba-tiba ia merasa prihatin, terhadap lelaki yang telah menghamilinya itu?

.

~TO BE WITH YOU~

.

Kuroro memasuki rumah Kurapika, seraya menjenjeng sebuah kantung plastik yang berisi makanan pesanan gadis yang mengandung calon bayinya itu. Keringat menetes di keningnya yang putih bagaikan mayat hidup, kelelahan setelah berkeliling mencari makanan yang dijajakan oleh pedagan kaki lima tersebut.

Namun alis pria itu mengerut, melihat keadaan rumah Kurapika kosong? Pria itu pun berjalan dengan santai, meletakkan pesanan Kurapika di meja, lalu terus berjalan, masuk ke dapur.

Dapur pun terlihat kosong. Kamar Kurapika terlihat gelap. Pria itu sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis yang dicarinya sekarang.

Mata tajamnya lalu tertuju pada kulkas yang tak terlalu besar, tergeletak di sudut ruangan. Kuroro jadi penasaran, makanan macam apa yang dimakan gadis itu? Kenapa tubuhnya ringan sekali, saat Kuroro mengangkatnya kemarin?

Dibukanya kulkas itu, dan berbagai hal yang membuatnya menyerngit bingung pun tergeletak di sana.

Hanya ada air, dan makanan-makanan cepat saji! Ada ikan sarden kalengan, manisan kalengan dan makanan kaleng lainnya! Hal itu membuat Kuroro menggeram kesal. Makanan kaleng sangat tidak baik untuk kesehatan, jika dikonsumsi setiap hari seperti ini! Hal itu bisa membahayakan bayinya!—dan juga ibu yangmengandungnya!

Klekk...

Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Kuroro pun menolehkan kepalanya, mendapati seorang gadis baru keluar dari sana.

Matanya membelalak sempurna, begitu melihat Kurapika saat ini. Dalam kondisi basah, dan hanya terbalut oleh handuk yang menutupi atas dadanya, sampai ke pertengahan pahanya. Mata gadis itu membelalak sempurna, dengan wajah yang memerah bagaikan tomat. Keduanya membatu di tempat.

"K—KYAAAAAAAA!" sedetik kemudian, barang-barang yang ada di dapur pun melayang(?) menuju pria itu.

.

.

"Hei, tadi itu hanya ketidak-sengajaan!" Kuroro berujar datar, seraya melirik pada gadis yang saat ini duduk di sampingnya, memakan takoyaki pesanannya dengan lahap.

Tidak mendapat respon yang baik, Kuroro hanya menghela nafas pasrah, lalu kembali melanjutkan kegiatan menyetirnya. Meski baru berusia 17 tahun, kekuatan Kurapika tak bisa dipertanyakan lagi—bahkan dalam keaadaan hamil sekalipun. Tadi saja sebuah blender dengan bonus sebuah gelas sukses mendarat di kepalanya, dan rasanya tak perlu dijelaskan lagi.

Padahal tadi ia hanya tidak sengaja masuk ke dapur, dan tanpa perencanaan, Kurapika langsung keluar dalam kondisi yang errr... begitu terbuka. Hanya mengenakan sebuah handuk mini, yang melilit tubuhnya yang telah bersih sehabis mandi. Kulitnya yang putih mulus, dan terdapat butiran-butiran air pun terlihat menggairahkan. Ditambah dengan rambut pirang Kurapika yang basah, terlihat lebih panjang karena menampung beban air.

Namun kesalahan pria itu, ialah : ia terus memperhatikan gadis itu. Entah mengapa lelaki itu bagaikan terhipnotis, untuk tak menoleh, tak ingin menyia-nyiakan 'pemandangan' indah nan langka di depannya tadi. Bagaimana pun ia juga seorang lelaki bukan? Mempunyai hasrat akan kamu hawa, apalagi jika penampilannya errr... seseksi Kurapika tadi.

"Kau punya kulit yang bagus," Kuroro berujar, sambil menyeringai nakal. Ia mencoba untuk menggoda gadis di sampingnya ini.

Seketika wajah Kurapika pun memanas. Langsung saja ia melemparkan death glarenya pada pria itu, memberinya tatapan mengancam. "Sekali lagi kau menyinggungnya, aku tak akan tanggung-tanggung!" ucapnya marah.

Kuroro tersenyum meremehkan. "Kenapa? Bukannya kau harusnya senang, dipuji seperti itu!?"

"AKU SAMA SEKALI TIDAK SENANG!" Kurapika berujar emosi.

"Aku jarang memuji orang. Apalagi bocah ingusan sepertimu,"

Dan kotak tissu yang tergeletak di depan mereka pun sukses mendarat di pelipis Kuroro, hampir mengenai noda merah di sana, tanda akan kepemilikan blender Kurapika untuknya.

.

~TO BE WITH YOU~

.

Mereka berdua memasuki ruangan yang terlihat seperti kelas itu, dengan Kuroro yang berada di depan dan Kurapika mengekor di belakangnya. Sekali lihat saja langsung diketahui, bahwa mereka berdualah, yang merupakan 'pasangan' yang paling muda di sana. Seorang pria 26 tahun, dan gadis kecil kelas 2 SMU. Dan sepertinya, hanya Kurapika lah yang perutnya masih rata di sana. Rata-rata ibu yang ada di sana sudah hamil tua, dengan perut yang membuncit.

Semua orang memperhatikan mereka berdua. Ada yang menatap bingung, namun ada juga yang menatap mereka dengan penuh kekaguman. Namun keduanya seolah tidak peduli, dan tetap berjalan.

Kuroro menyerahkan tiket, yang kemarin diberikan oleh Dr Miharu, kepada resepsionis yang ada di sana. Wanita itu pun mempersilahkan Kurapika untuk duduk di salah satu bangku kosong, yang ada di dekat sana, dan Kuroro di bangku penunggu, bersama suami-suami lainnya di sana.

Pria itu nampak begitu kontras, dengan bapak-bapak di sampingnya. Yah, meski hanya menggunakan kemeja biru dan celana hitam, aura elegan khas orang kaya masih terpancar dari pria itu. Beberapa, bahkan hampir semua ibu hamil yang ada di sana menatap Kuroro dengan pandangan kagum, dan berencana menyuruh pria itu untuk mengelus perut mereka yang membesar, usai kelas nanti. Yaaahh... supaya anak yang lahir nantinya akan seperti lelaki itu. Tampan, arogan, dan memancarkan pesona yang memikat.

Kelas pun dimulai. Kurapika, beserta ibu-ibu yang ada di sana menyaksikan guru pembimbing dengan seksama. Wanita itu nampak menjelaskan tips-tips yang harusnya ibu hamil lakukan, apa yang harus mereka makan, dan apa yang tidak boleh. Mereka juga diberi tahu, bagaimana cara untuk mengatasi mual yang mendadak datang. Kurapika mencatat hal itu baik-baik, dalam otaknya yang cerdas.

Tidak hanya Kurapika. Kuroro yang duduk di bangku penunggu sebrang sana pun mendengarkan dengan seksama, menangkap tiap hal penting yang dikatakjan pleh wanita pembimbing tersebut.

"Baiklah, untuk membuat para istri rileks, pijatan kaki ini adalah metode yang tepat," wanita itu menjelaskan dengan baik. Tatapannya lalu tertuju pada kursi penunggu, tempat para pria berjejer di sana. "Bapak-bapak!" panggilnya, seraya memaju-mundurkan tangannya, memberi isyarat agar pria-pria itu berjalan menuju ke arahnya.

Instruktur itu pun memberikan pengarahan, tentang cara memijit yang benar. "Memijit akan lebih baik, dan lebih nyaman, jika yang melakukannya itu adalah suami sendiri. Tidak hanya membuat hubungan lebih harmonis, namun tenaga laki-laki juga lebih besar,"

Kurapika bisa melihat, para bapak-bapak itu kini tengah berjongkok di depan istri mereka masing-masing, memijat kaki sang istri dengan penuh kasih sayang, sesuai arahan instruktur wanita tadi.

Hati gadis itu menjadi miris. Tersirat kecemburuan di hatinya. Seandainya dia pergi ke tempat ini, beberapa tahun kemudian, bersama lelaki yang tentu dicintainya, pasti ia bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan wanita-wanita yang dilihatnya. Namun kenyataan berkata lain. Ia berada di tempat ini sekarang, sendirian, namun diantar oleh lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.

Mata gadis itu membelalak sempurna, saat menyadari sebuah tangan kekar menyentuh kakinya yang mulus. Gadis itu melihat Kuroro bertekuk lutut di depannya, mengikuti arahan instruktur, dengan lengan baju yang ia gulung sampai siku.

"Apa yang kau lakukan!?" Kurapika bertanya kaget.

"Diam. Kau harus rileks!" Kuroro lalu memasukkan kaki gadis di depannya ke dalam baskom kecil yang sudah terisi dengan air hangat yang tersedia, lalu memijatnya sesuai dengan arahan instuktur wanita tadi.

Kurapika menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan malu. Ia bahkan tak tahu, semerah apa wajahnya saat ini. Apalagi saat tangan kekar Kuroro menyentuh betisnya yang putih, dengan begitu lembut. Kurapika tak bisa memungkiri perasaan ini. Tapi ia merasa nyaman...

Kurapika meremas sisi pegangan kursi yang menyerupai meja itu. Ia berusaha menahan sensasi yang bergejolak di hatinya, juga saat Kuroro terlalu menekankan kekuatannya.

"Kalau sakit, kau bilang," pria itu memberi instruksi.

"Nghh..." Kurapika melenguh pelan, seraya memejamkan matanya. Tanpa mereka sadar, semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikan pasangan tersebut, dengan wajah yang memerah.

Keduanya terlihat begitu lucu saat ini. Kuroro memijiat Kurapika dengan tatapan yang sangat fokus, sementara si gadis hanya memejamkan matanya erat, berusaha menahan malu.

'Dasar, pengantin baru!' itulah yang ada di benak mereka semua.

.

~TO BE WITH YOU~

.

Keduanya terjebak dalam keheningan di dalam mobil kuroro. Pria itu tetap fokus mengemudi, tak mengatakan apa pun.

"Kau lapar?" tanyanya seraya sedikit melirik, pada gadis yang saat ini tengah menatap jalanan, melalui kaca mobil.

Kurapika menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Sedikit... Tapi aku mau makan di rumah saja,"

Keduanya kembali diam, terjebak dalam keheningan. Kuroro terus mengemudikan mobilnya, melewati jalan raya yang luas itu.

.

.

Pria itu memarkir mobil sport hitamnya, di depan pagar rumah Kurapika. Ia sedikit menghembuskan nafasnya, seolah lelah akan hari yang panjang ini. Ia sedikit menoleh, dan sedikit terkejut, begitu mendapati gadis di depannya saat ini tengah terlelap, dalam kondisi duduk.

Seulas senyum tipis terukir di wajah tampannya. Kurapika yang tertidur nampak begitu tenang dan damai. Tidak akan ada yang menduga bahwa gadis itu kini dilanda oleh musibah—yang disebabkan oleh Kuroro. Yah, menurut pria itu beban yang ditanggung untuk gadis 17 tahun seperti Kurapika sangatlah besar, dan gadis itu tak bisa menghadapinya sendiri.

Kuroro lalu turun dari mobil, lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu dekat Kurapika. Pria itu dengan pelan menyelipkan tangan kekarnya di belakang lutut sang gadis, mengangkatnya perlahan-lahan berupaya untuk tidak membangunkannya. Menggendong Kurapika tidak sesulit menggendong ibu hamil pada umumnya. Oh, ayolah! Gadis itu masih berusia 17 tahu, dan perutnya sama sekali belum membuncit. Meski pun Kurapika terkategorikan sangat ringan, untuk gadis seusianya.

Pria itu pun memasuki pekarangan Kurapika, membuka pintu dengan menendangnya, dan langsung menuju kamar gadis itu.

Dibaringkannya dengan perlahan tubuh ringkih nan lemah itu, tak ingin membuatnya tersadar. Ia lalu membuka sepatu dan kaus kaki yang dikenakan gadis itu, meletakkannya di lantai. Kuroro pun menarik selimut, menutup tiga perempat dari tubuh gadis yang kini tengah mengandung calon anaknya.

Drrrtt... drrtt...

Pria itu segera merogoh saku celananya, begitu merasakan ponselnya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Sekilas, ia melihat nama si pemanggil, lalu segera menempelkan ponselnya di telinga, setelah menekan tombol terima.

"Ada apa lagi?" ia bertanya to the point.

"Kau dimana sekarang? Kau tidak lupa 'kan, hari ini Kurapika harus pergi ke pelatihan ibu hamil?" terdengar suara dari sebrang. Suara feminim, namun terkesan tegas.

Kuroro nampak mendengus kesal. "Kakak, kami sudah pergi beberapa jam yang lalu. Sekarang aku ada di rumah Kurapika..."

"Ah, benarkah? Kalau begitu dimana dia? Apa dia baik-baik saja?"

"Dia sedang tertidur..." Kuroro melirik gadis sekilas yang tengah terlelap itu. Bagaikan sleeping beauty yang akan terus tertidur, menunggu sampai sang pangeran datang dan memberikan ciuman pertamanya agar ia terbangun. "Dan dia baik-baik saja," ia menambahkan.

Kuroro bisa mendengar helaan nafas lega dari sebrang sana. "Syukurlah... Kalau begitu, kau segera pulang! Pekerjaanmu masih banyak, di sini!"

"Hn," tanpa mengucapkan sepatah kata pun—karena 'hn' tidak termasuk dalam satu kata—Kuroro langsung menutup telponnya, dan kembali memasukkannya ke saku.

Ia kembali menoleh, menatap siswi SMU itu. Tanpa sadar tangan kekarnya bergerak, menyibakkan poni Kurapika dari wajahnya. Tangannya tertinggal di sana. Menelusuri tiap inci dari wajah gadis itu. Kulit Kurapika terlihat begitu putih, mulus, dan lembut. Hidung serta bibirnya mungil, sedangkan kelopak matanya bergerak-gerak kecil, merasa terganggu atas sentuhan Kuroro. Benar-benar hasil pahatan maha kuasa yang indah...

Mata pria itu membelalak sempurna. Segera ia tarik tangannya, dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ia kembali menghembuskan nafas panjang, lalu memasukkan tangannya ke sakunya.

Ia pun berbalik, meninggalkan kamar itu. "Selamat malam, bocah..."

.

~TO BE WITH YOU~

.

Kuroro membalas jabatan tangan pria tua berjas itu, dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Para karyawan nampaknya sudah bubar, usai rapat yang melelahkan ini.

"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Lucifer..." ucap pria itu dengan suara baritonnya yang terdengar bijaksana.

"Ya, perusahaan anda sangat membantu kami,"

Mereka lalu berjalan beriringan, membahas hal-hal mengenai perusahaan masing-masing. Kuroro nampak begitu tampan, dengan jas rapih, dan rambut yang tersisir ke belakang itu. Ia juga lebih terlihat dewasa, dibanding dengan penampilannya saat rambutnya berantakan.

"Anda benar-benar sangat hebat, di usia anda yang masih sangat muda," pria tua itu memuji, seraya menepuk-nepuk bahu lelaki besurai hitam berkilauan itu. Pria itu sedikit brdehem. "Ehmm... Aku punya seorang putri. Dia juga karyawan, dan sangat cantik. Usianya juga sudah menginjak 24 tahun..."

Kuroro langsung saja tahu maksud dari pria yang satu ini. Namun ia hanya memberikan selulas senyum ramah—palsu. "Pasti anda sangat menyayanginya," ia mencoa mengikuti pembicaraan ini.

"Ya... Tapi, dia belum juag menikah, di usianya yang sudah matang... Seandainya... aku bisa mencarikan jodoh terbaik untuknya. Misalnya saja anda..."

Kuroro terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum. "Hmm... Saya merasa sangat tersanjung, Tuan Elegar. Pasti menyenangkan, bisa bertemu dengan wanita secantik putri anda,"

"Hahahahahaha! Kau memang anak yang menyenangkan!"

Dan mereka pun terus melanjutkan pembicaraan, meski pada akhirnya pembicaraan itu berujung tentang urusan perusahaan.

.

.

Kuroro menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi putarnya, seraya memejamkan matanya pelan. Hari yang melelahkan, dan ia masih punya beberapa meeting yang harus dihadiri lagi. Lelaki itu menghela nafas panjang, seraya mengambil cangkir kopi yang terletak di atas mejanya, dan menyesapnya.

Saat ini perusahaannya tengah mengerjakan proyek, untuk pembangunan sebuah sekolah, yang akan didirikan beberapa bulan kemudian. Hal itu membuatnya super sibuk, tak memiliki banyak waktu luang.

Berbicara tentang sekolah, bagaimana keadaan gadis SMU itu saat ini? Apa yang sedang dilakukannya? Apakah dia baik-baik saja?

Ditengah lamunan Kuroro, ponselnya terasa bergetar, menandakan panggilan masuk. Dengan malas lelaki itu merogoh sakunya, dan menatap layar ponselnya. Sebelah alisnya terangkat, begitu melihat nama Kurapika tertera di sana. Ini pertama kalinya gadis itu menelponnya...

.

~TO BE WITH YOU~

.

Gadis itu meletakkan garpunya, di atas meja, seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia menatap pancake hangat yang tersaji di depannya, dengan tatapan datar, lalu menghela nafas panjang. Pancake yang masih ada di dalam mulutnya ia kunyah pelan. Sangat pelan.

Sejak di sekolah tadi Kurapika sudah menahan diri, tidak sabar untuk memakan makanan asal Eropa tersebut. Begitu sampai di rumah, ia langsung membuatnya sendiri, namun pertama kali mencoba langsung berujung pada kegagalan. Adonannya tidak tercampur dengan baik, dan begitu ia mencoba untuk memanggangnya, hasilnya ialah warna kehitam-hitaman yang lebih kita kenal dengan sebutan 'gosong'.

Akhirnya Kurapika memutuskan untuk membelinya di luar. Namun entah mengapa saat memakannya, gadis itu seolah merasa tidak puas, meski sedari tadi perutnya terus meminta untuk diisi makanan berbahan dasar telur, serta susu tersebut.

Tiba-tiba wajah Kuroro terbayang di benak Kurapika. Mungkinkah...?

Tanpa berbasa-basi lagi, Kurapika langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, mencari kontak nama Kuroro di sana, dan segera menelponnya. Entah mengapa jantungnya berdebar begitu keras. Ia merasa berat untuk menelpon pria itu, tetapi bayi di kandungannya berkata lain.

"Ada apa?" terdengar suara bariton dari sebrang. Kuroro memang mempunyai kebiasaan yang tak suka berbasa-basi, dan langsung menuju pada intinya.

Kurapika memainkan garpu yang dipegangnya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. "Emmm... Apa... apa kau sedang sibuk?" suaranya terdengar agak ragu.

"Yaaa... ada beberapa meeting yang harus kuhadiri. Memangnya ada apa?"

"Aku... ingin makan pancake,"

Di sebrang sana, Kuroro mengernyit heran. Haruskah gadis itu menelpon jika hendak memakan sesuatu? "Lalu...?"

Kurapika menggigit bibir bawahnya sendiri. Kenapa lelaki itu tidak begitu peka? Oh tunggu dulu...! Ia baru saja bertindak layaknya seorang istri hamil yang bermanja-manja pada suaminya. Tapi... apa yang harus dilakukannya? Sedari tadi rasa mual dan gelisah menguasainya, dan gadis itu sudah terlanjur menelpon Kuroro.

"Kurapika...?" suara Kuroro menyadarkannya dari lamunannya.

"A—ah, tidak jadi! Maaf, sudah mengganggumu!" tanpa menunggu jawaban dari Kuroro gadis itu segera memutuskan telponnya. Dilemparkannya ponselnya di sofa yang empuk, lalu memegang dan mengelus perutnya. "Kenapa kau rewel sekali?" tanyanya putus asa, tentunya kepada bayinya yang sudah pasti tak akan menjawabnya.

Gadis yang sedang dilanda keputus-asaan itu tersentak kaget, begitu merasakan sesuatu yang begetar. Langsung saja diambilnya ponselnya, dan melihat nama Kuroro tertera di sana. Alisnya berkerut.

"Ada apa lagi?" tanyanya kesal.

"Kau tunggu di sana," setelah mengatakan hal itu, Kuroro pu memutus panggilannya.

Kurapika terdiam, membatu di sana. Kuroro akan segera ke sini?

Gadis itu segera berdiri, panik, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimana tidak? Saat ini ia hanya menganakan celana pendek setengah paha, serta singlet hijau tua. Kondisinya benar-benar dalam keadaan terbuka sekarang.

Mengingat kejadian seminggu yang lalu, ketika Kuroro melihatnya dalam kondisi yang benar-benar terbuka, hanya dengan handuk kecil yang melilit tubuhnya, membuat Kurapika tak bisa tidur semalaman memikirkannya. Gadis itu tak akan lupa, tatapan lurus pria itu padanya, seolah kepalanya terpaku oleh sesuatu. Dan Kurapika tak ingin hal itu terulang kembali.

.

~TO BE WITH YOU~

.

"Ini," pria itu berujar, seraya meletakkan sepiring pancake, yang dilumuri madu segar, di atas meja, tepatnya di depan Kurapika. Gadis itu hanya menatap ke arah lain, seolah menghindar tatapan Kuroro.

Kuroro lalu merebahkan dirinya, duduk di samping Kurapika. sirat kelelahan terpancar jelas dari wajah tampannya. Saat ini ia hanya mengenakan kemeja putih, yang lengannya digulung sebatas siku, dan dua kancingnya tak terpasang. Jas biru tuanya tergantung begitu saja di tiang gantungan. Sementara gadis yang duduk di sampingnya itu hanya mengenakan celana panjang, dan t-shirt sederhana, menatapnya dengan tatapan bingung.

Namun rasa mual yang sedari tadi menyiksa perutnya membatalkan niat Kurapika untuk bertanya, memuaskan rasa penasarannya. Diambilnya pancake buatan Kuroro itu, dan mulai memakannya segigit dengan menggunakan garpu. Ia tercengang.

Kuroro yang tadinya memejamkan kedua matanya, lalu membukanya, menatap Kurapika dengan seulas senyum tipis. "Bagaimana?"

Kurapika benci mengakuinya, tetapi masakan pria di sampingnya ini benar-benar enak. Bisa saja ia menjadi koki profesional, jika ia mau. Kurapika memakan segigit lagi, menikmati setiap kunyahan masakan yang berasal dari negara Eropa tersebut.

"Kau menyukainya?"

Tanpa sadar, Kurapika mengangguk lemah. Seolah bayi yang ada di kandungannya pun setuju dengan pendapat ibunya, perut Kurapika pun mendadak lega. Tidak mual dan perih lagi, seperti beberapa menit yang lalu. Gadis itu menatap Kuroro dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Enak," ucapnya, dengan senyum tulus penuh arti. Kuroro terdiam, melihat senyuman itu.

Ia segera berdiri dari sofa Kurapika, dan merapikan jasnya. "Baguslah, kalau begitu," ucapnya seraya mengancing jas biru tuanya satu persatu. Tangan kekarnya lalu terangkat, menyisir rambut hitam pekatnya ke belakang dengan jemarinya, merapikannya kembali. "Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu,"

Kurapika pun ikut berdiri, menatap lelaki itu dengan senyum yang sama seperti tadi. Matanya tertuju pada dasi Kuroro yang tidak terpasang, menggantung begitu saja di lehernya. Tanpa sadar tangan gadis itu terangkat, memasangkan dasi bermotif blaster merah-biru itu untuk Kuroro. Lelaki itu membatu di tempat.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dasi itu pun terpasang dengan rapi. Kurapika mundur selangkah, menatap puas atas 'hasil karya'nya, sementara pria di depannya, yang kini berjarak kurang dari satu meter masih berdiri di sana, membeku. Bukankah tadi mereka terlihat bagaikan sepasang suami istri? Apa gadis SMU itu tidak menyadarinya sama sekali?

Lama mereka terdiam, hingga Kuroro berdehem, membuat Kurapika harus mendongkak padanya—lagi. "Baiklah. Kalau kau butuh apa-apa tinggal bilang saja," dengan cepat, ia mengambil kunci mobilnya yang yang tergeletak begitu saja di atas meja.

"Sampai jumpa," ucapnya sejenak, sebelum ia menghilang dibalik pintu, meninggalkan Kurapika yang sendirian di sana.

Gadis itu menghela nafas panjang. Ia pun merapikan piring yang ada di meja bekas tadi dia makan, dengan berbagai pertanyaan yang tak ia ketahui jawabannya, menganggu pikirannya.

Kenapa tadi ia melakukan hal itu? Memasangkan dasi kepada lelaki yang harusnya ia jauhi. Apa yang Kuroro pikirkan saat ia melakukannya? Dan... kenapa pria itu begitu baik padanya, rela mengorbankan waktunya yang padat hanya untuk memenuhi permintaannya yang tak masuk akal.

Oh! Jangan biarkan kebaikan serta pesona pria itu menaklukkan hatimu! Pria itulah yang telah menghancurkan hidupmu! Gadis itu mencoba untuk meyakinkan diri. Tangannya lalu terangkat, mengelus perutnya yang masih agak rata. Senyuman lembut mengembang di wajah cantiknya.

.

~TO BE WITH YOU~

.

Olahraga! Kurapika tak pernah menyadari bahwa ternyata di sekolah ada pelajaran seperti ini. mungkinkah gadis itu terlalu banyak pikiran, sampai-sampai tidak mengingat plajaran yang satu ini. gadis itu hanya bisa meneguk ludahnya, mencari solusi atas masalahnya.

Sebenarnya gadis itu tak suka olahraga, karena ia tidak begitu suka berkeringat. Selain itu, pakaian olahraga khusus perempuan di sekolahnya sangatlah minim—menurutnya. Hanya berupa sebuah kaos kuning kombinasi merah yang tipis, dengan bagian bawah ialah celana merah yang hanya sebatas kurang dari 5 cm dari pangkal pahanya. Oh! Celana itu terlihat seperti celana dalam baginya!

Namun kali ini, ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya. Tangan gadis itu terangkat, mengelus perutnya yang sudah agak MEMBUNCIT. Tentu saja! Bayinya itu sudah berusia sekitar dua bulan. Tentu saja ukuran perutnya kian mem besar, seiring dengan berjalannya waktu. Untunglah ia bisa menutupinya, dengan membeli seragam sailor—yang sebenarnya dibelikan Kuroro—baru, yang lebih longgar, membuat tonjolan di bagian perutnya tidak terlalu kentara.

Dan masalahnya,pakaian olahraganya ini sepertinya tidak bisa bekerja sebaik itu. Tentu akan memperlihatkan tonjolan perutnya, apalagi ketika ia berkeringat nanti. Ia bisa saja mengambil alasan, bahwa ia terkena maag, atau gangguan perut lainnya. Ohh... itu alasan yang memalukan! Lagipula olahraga nanti mungkin akan berat, yang bisa saja membahayakan kandungannya. Entah beberapa minggu yang lalu saja, Kurapika harus melompati sebuah tiang yang diposisikan horizontal, setinggi satu meter khusus putri. Gadis itu harus ekstra hati-hati melakukannya.

"Hei!" gadis itu tersentak, begitu merasakan sebuah tepukan di bagian ia menoleh, menatap sahabatnya dengan tatapan kesal. Ia sudah kenal betul, siapa yang mempunyai tepukan keras, meski terlihat lemah lembut, serta suara manja sahabatnya ini.

"Sedang memikirkan apa?" tanya Neon, seraya duduk, membelakangi papan tulis, pada kursi yang ada di depan Kurapika. mereka kini duduk berhadapan, dengan meja Kurapika sebagai batasannya.

"Bukan urusanmu," gadis pirang itu menjawab cuek. Neon hanya bisa memanyunkan bibirnya, memasang ekspresi cemberut pada sahabatnya ini.

"Kau ini menyebalkan sekali, Kurapika. aku 'kan hanya ingin ngobrol denganmuuu!" rajuknya manja. Ia lalu teringat akan sesuatu. "Ohya! ngomong-ngomong, kulihat wajahmu makin bersinar saja!" tanyanya, seolah melupakan kekesalannya tadi.

Kurapika menaikkan sebelah alisnya. "Bersinar?"

"Kau tahu, kemarin aku membaca artikel menarik di majalah, tentang ibu hamil!" Kurapika tersentak, saat Neon menyebutkan topik ini. "Katanya, cara manual untuk mengetahui apakah bayi yang dikandung oleh seorang ibu itu laki-laki atau perempuan, cukup dengan melihat aura wajah si ibu!" jelas Neon bersemangat.

"Aura wajah?"

"Ya, katanya, jika anak yang dikandung itu laki-laki, maka aura wajahnya akan bersinar cerah, dan jika perempuan, wauranya akan redup. Kurang lebih seperti itulah..." ucapnya menutup penjelasannya. Ia lalu menatap gadis pirang itu, dengan seringai yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. "Dan kulihat... Akhir-akhir ini aura wajahmu nampak berbinar, Kurapika..."

JEDWARRRR!

Layaknya petir yang menyambar Kurapika secara langsung, gadis itu langsung saja membatu di tempat, seolah seluruh darahnya membeku, akibat sengatan petir tadi. Ucapan Neon yang terakhir tadi sama saja dengan mengatakan bahwa ia sedang hamil, dan calon bayinya itu laki-laki! Apakah... gadis berambut seperti kembang gula itu tahu? Kurapika diam, tak tahu harus berkata apa.

"Hahahahahaha!" suara tawa Neon menyadarkannya dari keterjukannya. "Aku hanya bercanda. Lagipula, pacar saja tidak punya. Mana mungkin kau hamil..."

Kurapika kembali terdiam. Sekarang, rasanya ia ingin menampar gadis di depannya ini, hingga terlempar dan jatuh dari lantai dua sekolah.

"Nostraaaadd~!"

Percakapan keduanya pun berhenti, begitu mendengar suara gadis—yang sebenarnya mereka benci datang mengampiri mereka. Keduanya dengan malas menoleh, melihat seorang gadis cantik—sangat cantik berambut coklat karamel yang dikuncir dua, dengan mata biru indah yang besar. Dua 'pengikut' pun ikut serta di belakangnya.

Bisuke Krueger. Salah satu gadis yang paling populer di sekolah ini, disebabkan karena kecantikan, kepintaran, serta kekayaannya. Sebenarnya dia juga saingan Neon. Sejak kelas satu memang selalu saja bersaing, dalam memperoleh gelar 'ratu sekolah'. Selalu saja bersaing dalam hal kekayaan, pangkat keluarga (mengingat mereka sama-sama berasal dari keluarga kalangan atas), dan juga kecantikan, dan hal-hal lainnya. Masalah kepintaran, Neon kalah total. Namun ia membalasnya dengan 'teman terbaik' yang tidak lain tidak bukan adalah Kurapika Kuruta. Merupakan hal yang sangat beruntung, bisamempunyai teman—bahkan sahabat seperti Kurapika. Gadis yang cerdas, sekaligus kuat. Yaaahh... meski sifat dan keramahan gadis itu harus dipertanyakan...

Selain itu, keduanya juga sering saja bersaing, dalam memperebutkan lelaki terpopuler di sekolah, Killua Zaoldyeck. Yah, pemuda kelas satu itu sampai saat ini memang belum menunjukkan tanda-tanda ingin memiliki pacar. Ia terlalu sibuk bermain dengan teman terdekatnya, Gon Freench. Jangan-jangan, si Killua dan Gon itu... Ah! Lupakan!

"Mau apa lagi kau, Krueger? Ini bukan kelasmu..." tanya Neon dengan nada malas. Gadis di sampingnya ini merupakan perempuan yang paling dibencinya, hingga ke ubun-ubun.

"Paling mau pamer lagi," sewot Kurapika. ia juga membenci gadis itu, akibat sifatnya yang sering saja memamerkan kekayaan, kepada orang lain. Neon sih juga kurang lebih. Tapi gadis itu tak ada maksud untuk melakukannya. Ia hanya terlalu cerewet, dan senang 'berbagi kesenangan' kepada teman-temannya. Bisuke, berada pada tempat lain dalam hal ini.

Bisuke hanya menatap sinis pada gadis pirang itu. Ia lalu memainkan kukunya yang sudah dipoles indah di salon, rutin setiap dua minggu sekali. "Kau tahu Nostrad... Sebentar lagi perusahaan Krueger akan menjadi perusahaan terbesar di Jepang..."

Neon menyerngit. "Mana mungkin..." ucapnya meremehkan.

"Ya... Sebentar lagi perusahaan kami, akan bekerjasama dengan perusahaan Lucifer, yang besar itu..."

Kurapika tersentak, begitu mendengar kata 'Lucifer'. Gadis itu hanya diam, diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua primadona sekolah ini.

"Teruslah bermimpi, Krueger..."

Brakk!

Bisuke langsung saja menggebrak meja di antara Kurapika dan Neon. Hal ini membuat Kurapika ingin sekali memutus tangannya, agar tidak melayangkan pukulannya pada gadis kaya sombong yang satu ini.

"Kakakku Menchi akan dijodohkan pada pewaris bungsu keluarga Lucifer! Itu artinya perusahaan kami pun akan bersatu!" ucapnya marah.

Kurapika membeku seketika.

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

Aaahh! Akhirnya selesai jugaaaa! X3

Gomen, agak lama minna! Maklum, Natsu makin sibuk, soalnya udah mau ujian!

Dan kabar buruknya, Natsu udah mulai pengayaan hari senin laluuuu! TT,TT Ditambah dengan kurusus-kursus dan pelajaran tambahan, serta remedial-remedial yang musti Natsu hadirin, waktu luang Natsu makin sempiiiiiitt banget! DX Makanya maklum aja, kalo updatenya agak lama! DX

Yooossshh! Tapi meski begitu, semangat dari reviewer sekalian bikin semangat Natsu jadi cetarrr membahana kembali! XD Arigato minnaaaa...!

Nah, ini balasan reviewnyaaa :

Nekomata Angel of Darkness :
Arigato atas reviewnya, Kirin-saaaaaannn! XD
Kalo mau yang lebih manis, ada di dapur! *baca : gula*
Eeeh!? Natsu bilang jangan panggil senpai! DX
Waaaaa! Makasih atas infonya, Kirin-saaaann!
Maklum, Natsu gak tau apa-apa soal ibu hamil,`soalnya Natsu belum hamil... u,u *plakk!* *itumah udah jelas, dodol!*
Pengetahuan yang Kirin-san berikan (?) sangat membantuuuu! XD

Moku-chan :
Arigato reviewnya, Moku-saaaaannn! XD
Hahahahaha! Itu musti donk! Kuroro nii 'kan gentleman! X3
Hehehehehehe! Gomen, kalo lama! XD

Rin-X-Edden :
Arigato reviewnya, Rin-saaaan, Ziho-saaaaann! XD
Kuroro nii gak bangga karena udah hamilin anak orang! Tapi karena bakal jadi seorang ayah! DX Cowok mana sih, yang gak bangga kalau sebentar lagi dia akan jadi seorang ayah!? DX *emang kamu pernah rasain?*
Hahahahahahaha! Tenang aja! Bayinya bakal sehat walafiat kok! *mulut disumpel bantal*
Hahahahahaha! Ganbatte! XD
Dan, selamat natal juga! XD *telat lu!*

Hana :
Arigato reviewnya, Hana-saaaaaaannn! XD
Hahahahaha! Iyah, tumbuh, seperti pohon duren! *plakk!*

Shizuku M2 :
Arigato reviewnya, Shizu-saaaaaann! XD
Yaaaaa! kuroPika emang the best pairing deh! XD *kibar bendera KuroPika*
Nggak, nggak bakaaaall! Kuroro nii 'kan orangnya gentleman! XD Gak mungkin kasar ama cewek! XD
Yup! Tapi gak selamanya roda kehidupan ada di atas mulu! Pasti suatu hari ada di bawah! *jiah!*
Yeeeesss! Natsu bakal usahain buat ngeramein pairing yang satu ini! XD
Nggak kok! Natsu seneng baca reviewnya Shizu-san! XD Bikin semangat Natsu jadi cetarrr membahana! *plakk!*

ShaKuraChan :
Arigato reviewnya, Shaku-saaaaaaannn! XD
Hahahahahaha! Itu sih bukan hebat! Tapi nambah hutang! *dor!*
Soal Wareware, bakal Natsu lanjutin kalo udah ada inspirasi! Maklum, buat fic yang itu—beserta beberapa fic lainnya Natsu lagi buntu... TT,TT

.

Segitu aja dulu! XD

Yosh! Sekarang, bolehkah Natsu nanya pendapat minna soal fic ini? mau ngasih kritik, saran, concrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan lapang dada! XD

Akhir kata, REVIEW PLEASE...?

~ARIGATOU~

NATSU HIRU CHAN