ralat dikit mumpung nganggur...
kok sepi yakk... target ngumpulin riviw-an gak tercapai nih...
sorry..!! i kill the guys...:'(
Truth & Lie
Sakura membuka matanya. Pandangannya kabur karena air mata yang membasahi matanya. Perlahan dia duduk dan mengusap matanya, sama sekali tidak sadar mengapa dia menangis dalam tidurnya. Hari masih terlalu pagi. Sakura berdiri dan berjalan menuju berandanya, udara dingin membuatnya sedikit menggigil. Saat dia membuka pintu berandanya, dia memeluk tubuhnya menahan dingin, walau begitu sama sekali tidak ada keinginan untuknya kembali ke tempat tidurnya yang hangat. Dia hanya berdiri di sana menatap tirai hujan yang menghalangi pandangannya ke bukit hingga beberapa lama sadar hari sudah semakin siang walau sama sekali tidak ada tanda-tanda matahari akan muncul dibalik awan gelap yang menutupi langit dan hujan sepertinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Akhirnya setelah merenggangkan tubuhnya, Sakura masuk dan bersiap untuk sarapan.
Seperti biasa, dia menemukan Ayame yang sedang sibuk di dapur. Setelah sapaan selamat pagi, Sakura meletakkan koran di atas meja dan menuangkan kopi untuknya. Ayahnya tidak akan sibuk mencari koran karena sejak kemarin dia ada di luar kota untuk suatu urusan, begitu juga dengan ibunya yang sedang berada di luar kota di rumah kakaknya karena acara keluarga, waktu ibunya akan pergi, dia mengajak Sakura tetapi Sakura menolak karena tidak mau ketinggalan pesta prom seniornya.
Setelah menghirup kopinya, Sakura bersiap menarik koran di sampingnya tetapi dia lebih tertarik pada sepiring pancake hangat yang baru saja diletakkan Ayame di hadapannya dan mereka berdua berakhir dengan sarapan bersama sambil menggosipkan harga minyak goreng yang semakin naik sampai minyak dunia yang juga ikut naik. Ya, pengetahuan Ayame tentang bisnis bahkan politik sama sekali tidak bisa dianggap enteng. Efek dari tv di dapur memang tidak bisa disepelekan. Pagi itupun Ayame juga memasak sambil mendengarkan berita tentang sengketa perbatasan di daerah Preah Vihear yang…(ahh…lupakan..!!), walaupun saat mereka makan, mereka tidak begitu memperdulikan berita yang dibacakan para penyiar hingga sebuah berita samar-samar mengusik Sakura..
"…saat ini tiga korban yang selamat dirawat dengan penjagaan ketat di rumah sakit Konoha. Saat berita ini diturunkan pihak rumah sakit menyatakan bahwa Zetsu yang mengalami luka cukup berat sudah mulai sadar walaupun masih belum bisa dimintai keterangan sedangkan dua korban lainnya Pein dan Naruto masih dalam keadaan tidak sadar…."
Sakura membelalak dan menyambar remote di ujung meja mencoba menaikkan volumenya, tetapi berita itu sudah selesai. Sekarang hanya terdengar suara penyiar yang sedang membacakan berita lain. Sakura menatap tv dengan tidak percaya. Dia mengalihkan pandangannya pada Ayame seakan meminta penjelasan apa yang barusan didengarnya. Apakah Naruto yang mereka maksud adalah Naruto yang dia kenal? Apa Naruto yang semalam masih berbicara dengannya yang sehat…baik-baik saja…
"Berita itu…ada di koran kok…bahkan jadi headline…." Ayame mencoba memberi tahu Sakura yang kemudian dengan panik menarik koran di sampingnya dan membukanya dengan cara hampir brutal. Di halaman depan koran terpampang gambar sebuah mobil dengan kondisi parah. Semua kacanya hancur dan salah satu sisinya penyok, mobil itu melintang di jalanan yang penuh dengan pecahan kaca, walau begitu Sakura masih mengenali mobil itu. Tidak salah lagi, itu adalah GTR Sasuke. Tanpa sadar Sakura menahan nafasnya dan membaca berita di bawah headline "Perseteruan Geng Mengakibatkan 4 Tewas". Mata Sakura melebar dan sebelah tangannya menutup mulutnya..
"…ledakan itu membuat ketujuh korbannya mengalami luka-luka. Tiga diantaranya yang masih bisa diselamatkan adalah Pein, Zetsu dan Uchiha Naruto yang saat berita ini diturunkan masih dalam kondisi kritis. Sedangkan empat korban lain diperkirakan tewas dalam ledakan tersebut. Mereka adalah Sarutobi Deidara (22) putra tunggal Hakim Sarutobi, Uchiha Sasuke (17) putra kedua Uchiha Fugaku Direktur Utama Uchiha Co., Danzo…." Sakura berusaha meneruskannya tetapi pandangannya buram. Dia mencoba mengedipkan matanya dan melihat butiran air mata membasahi koran. Tanpa terasa wajahnya sudah basah dengan air mata. Tangannya gemetar menahan isak dan akhirnya dia berdiri dan meninggalkan Ayame yang menatapnya dengan khawatir.
"Sakura?!". Sakura menatap Kakashi yang tidak sengaja ditabraknya. Kakashi memegang kedua lengan Sakura dengan wajah cemas.
"Ada apa?", Sakura hanya mencoba melepaskan dirinya tetapi Kakashi tidak mau melonggarkan genggamannya dan diapun merasakan Sakura yang mulai memberontak melepaskan diri. Kakashi menariknya dan memeluk Sakura yang perlahan mulai tenang walaupun wajahnya semakin memerah dan air matanya mengalir semakin deras. Akhirnya Sakura jatuh berlutut dan menumpahkan semua kesedihannya.
XXXXX
Dua minggu berlalu, walaupun tangan kiri Naruto masih dibungkus perban, dia sudah berada di sekolah untuk hari pertama di kelas barunya. Dia sedang menutup pintu lokernya ketika seorang gadis berambut pink menghampirinya.
"Hai!", Naruto menyapanya dengan lirih dan senyum lemah. Sakura menatapnya sebentar dan memeluknya dengan erat.
"maaf, aku tidak bisa menjenguk.."
"Tidak apa..", Naruto menepuk punggung Sakura yang kemudian melepaskan tangannya dari Naruto, kemudian mereka berjalan ke kelas baru mereka.
Siang itu bel sudah berbunyi dan seisi kelas sudah meninggalkan ruangan tetapi Naruto masih duduk di bangkunya dengan buku masih terbuka di hadapannya.
"Naruto..", Sakura memanggilnya.
"Naruto!", dia mengulanginya sekali lagi dan baru mendapatkan reaksi.
"oh! Sakura! Maaf!" Naruto dengan senyumnya merapikan bukunya dan berusaha memasukkannya ke dalam ranselnya. Sakura melihatnya kesulitan dan membantunya. Sehari ini melihat Naruto sama sekali tidak menghiraukan siapapun membuatnya sedih. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Untuk Sakura ini memang sudah berjalan dua minggu dan Sakura sudah bisa sedikit menerima kenyataan. Tetapi, Naruto, sejak malam itu baru 4 hari kemudian dia sadar dari komanya. 3 hari kemudian dia baru pulang dan baru mengetahui tentang kematian Sasuke yang sudah lama dimakamkan, tepatnya dikremasi mengingat kondisi tubuhnya yang hampir setengahnya hancur karena ledakan.
"Kau tidak pulang Naruto?"
"ah…ya…"
"Ada apa?"
"Rasanya…aku tidak ingin pulang…. Aku tidak tahan berada di rumah melihat Itachi-nii yang seperti itu. Dia tidak berhenti menyalahkan dirinya atas kematian Sasuke..", Sakura hanya menatap Naruto di sampingnya. Dia tahu, sudah cukup sedih kehilangan seorang yang disayangi. Tetapi kenyataan kalo menjadi penyebab kematiannya, pastilah sangat menyedihkan.
"Karena itu…aku pasti akan menemukan orang yang membunuh Sasuke.."
"Sasuke tewas karena ledakan itu Naruto.."
"Bukan.."
"Naruto…", Sakura mulai menatap Naruto dengan cemas.
"Dia bukan tewas karena ledakan itu! Aku tahu karena aku di sana, aku tahu apa yang kulihat Sakura…"
"Hasil otopsi mengatakan setengah tubuhnya hancur karena ledakan…" Sakura menatap Naruto, menentangnya. Tetapi dia melihat mata Naruto yang tidak bisa dihiraukannya. Dia bukan orang yang mengatakan sesuatu dengan cara seperti itu kalau tidak yakin.
"Hasil otopsi resmi itu dikeluarkan oleh kepolisian, lagipula kenapa kau berpikir lain Naruto?"
"Ada yang janggal terjadi sebelum ledakan itu. Lagipula… aku tidak mempercayai kepolisian. Apa yang membuatmu berpikir mereka tidak berusaha menutupi sesuatu untuk meredam kekacauan…", Naruto menatap Sakura dengan yakin, tetapi kemudian dia seperti teringat sesuatu dan menggumamkan kata maaf.
"..aku bukannya menuduh ayahmu melakukan sesuatu, tetapi hubungan kami dengan kepolisian tidak begitu baik….aku hanya berpikir….ada orang lain malam itu…. Sakura. Aku tidak mengatakan hal ini pada siapapun dan aku pikir aku bisa mempercayaimu walaupun…", kata-kata Naruto terpotong oleh suara getaran ponsel Sakura di atas meja. Sakura mengangkatnya dan berbicara sebentar kemudian dia berdiri dan menatap Naruto.
"Aku akan mencoba mencari tahu. Terima kasih kau masih mau mengatakannya padaku….dan...aku senang sekali bisa melihatmu lagi", Sakura tersenyum dan melambaikan tangannya menatap wajah tersenyum Naruto sebentar dan mencoba tidak menghiraukan godaan untuk melirik ke sebelahnya, dimana biasanya ada Sasuke yang juga sedang tersenyum. Sakura berjalan menuruni tangga dan bersandar di dinding seperti sedang kelelahan, tenggorokannya begitu sakit menahan rasa sedih, perlahan dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan dan kembali berjalan keluar dari gedung dimana Kakashi sudah menunggunya.
ngg... no comment...mungkin yang ngikutin pada kecapekan kali yakk bacanya...:D
ayolhaaa...stay with me lahhh...:D
