Of Course, HEADMASTER!
Arischa
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
[…]
Semi-AU, Headmaster!Akashi, pyschical content, Antara deskripsi dan dialog mungkin tidak seimbang, chapter kali ini pendek dengan sengaja,
[Masih ada satu dua lubang, selamat menikmati perjalanan anda!]
Kencangkan sabuk pengaman sebelum meluncur bersama roller coaster kehidupan
Akashi mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut bangunan usang ini. Matanya tajam melirik kesana dan kesini. Sekecil apapun kesalahan, baik retakan dinding maupun pecahan lantai, akan Akashi amati.
"Tulis, dindingnya perlu perbaikan total."
"Kurang ajar sekali kau?"
"Tolong."
"…" Nijimura bungkam, ia kembali menulis segala sesuatu yang Akashi ucapkan, mengenai apa yang kurang dari bangunan sekolah ini. Kadang Nijimura berpikir, kenapa dia sudi menjadi budak begini? Tapi Akashi mengatakan sesuatu yang mustahil ia dengar dua kali, jadi kenapa tidak?
Nijimura itu gila sopan.
"Demi Tuhan, Shuuzou, tempat mengerikan apa ini?"
"Kamar mandi, bodoh." Nijimura memutar matanya bosan, iya, tahu, Akashi kamar mandinya dilapisi emas. Berbeda dengan 'tempat mengerikan' di depan mereka yang dilapisi kerak dan bakteri teridentifikasi mengkontaminasi. Memangnya semiris apa kondisi sekolah ini sampai tidak terurus, sih? Kasus korupsi yang luar biasa sekali kalau dananya sampai melorot begini.
"Astaga Shuuzou, monster itu dengan mudahnya berjalan-jalan di ruangan?"
"Demi Tuhan Akashi, itu tikus. Dan ruangan ini gudang. Astaga." Lama-lama kesal juga, sudah hampir lima lembar yang ia tulis, sesekali berpikir kenapa tidak memakai teknologi semacam handphone saja mengetik daftarnya? Iya, Nijimura lupa. Terus mau apa? Toh tetap saja ada baik buruknya.
"Aku tidak mau tahu, seratus persen gedung ini harus seperti baru. Aku akan mengurus ijin dan surat-surat lain sebelum pengangkatanku sebagai kepala sekolah, selama itu aku akan membawa siswaku kemari. Dan kau, jangan sampai sekolah ini makin buruk." Akashi terus mengoceh sepanjang perjalanan, dan untungnya Nijimura tergolong orang sabar dan tahu diri. Mengumpat segan menahan tak mau, jadilah ucapan sarkatik yang sedari tadi menyahuti kicauan Akashi.
"Bukankah dia cocok sebagai kepala sekolah?"
"Iya, kalau saja dia tidak gila."
"Astaga Riko, pelankan suaramu."
"Akut tidak peduli."
.
.
.
Angin sore itu begitu hangat menyapanya, rasanya seperti dipeluk alam. Berdiri di pembatas jalan kala sore hari memang hal paling menenangkan yang pernah ia tahu, rasa-rasanya bebannya seperti dibawa pergi ke dunia antah berantah yang sama sekali ia tak ketahui.
Jalanan ini sepi, tetutup gedung-gedung baru dan jalan raya baru di sebelah utara. Jalan kecil di belakang pagar jalan raya ini nyaris terlupakan orang-orang. Asrinya danau kecil yang untungnya masih terjaga bersih dengan rindang pepohonan seakan jadi aset tersembunyi di tengah kota ini. Sampai deru mobil membuat dia berbalik penasaran, mendapati sebuah mobil yang kiranya berkelas terparkir hampir menutupi seperempat jalan. Biarlah, lagi pula jalanan ini sepi, mungkin pengemudinya hanya ingin memotret sebentar?
Tapi tidak, dia tahu, pengemudinya punya maksud dan tujuan lain datang kemari, seperti bernegosiasi sepertinya?
"Momoi Satsuki. Kau akan terapi mulai besok." Dan Momoi tidak tahu siapa dia, sebab dirinya dalam sepersekian detik sudah melaju menuju gedung putih di Tokyo,-kata si pengemudi yang nyatanya seorang pria penuh hawa intimidasi.
"Anda ini siapa? Tolong turunkan aku! Atau aku akan berteriak!"
"Berteriaklah di dalam mobil, kau ini pintar sekali."
"A-!" Momoi memekik ketika si pengemudi bersurai merah di sebelahnya benar-benar menyebalkan. Ia mulai berpikir bahwa ia diculik.
"BERHENTI ATAU AKU LOMPAT?!" Pekik Momoi dengan keras, tangannya sudah membuka kunci pintu mobil, dan tangannya siap membuka pengait pintunya. Namun dalam sekejap, laju mobil menjadi sangat cepat, Momoi bahkan tak berani melirik angka speedometernya, terlalu mengerikan untuk ukuran jalan yang tak sepi lagi.
"Lompatlah."
"KAU GILA?! AKU BISA MATI!"
"Kalau begitu duduk dan diam saja." Suara 'klik' berbunyi, menandakan pintu mobil di sebelah Momoi sudah terkunci otomatis, dan dengan perlahan laju motor tersebut melambat, membuat Momoi mendengus jengkel.
"Aku mau di bawa kemana, tuan?"
"Sudah kubilang, gedung putih di mana kau bisa terapi. Jangan tanya atau kutabrakkan kau ke pembatas jalan."
"IYA IYA AKU DIAM!" Harusnya Momoi takut, harusnya Momoi gemetar melihat pria asing mendekatinya, membuat sekelebat ingatan kelam masa sekolahnya merengsak masuk ke memorinya. Perlahan tubuh Momoi mengigil, keringat dingin membanjiri sweater cokelatnya. Momoi terlalu asyik berdebat hingga tak sadar ia dibawa pria asing.
Jangan lagi.
Momoi belum mau mati dua kali.
Ciiiit.
Mobil yang membawa Momoi berhenti dengan tak mulus, menimbulkan suara memekakan telinga, menyadarkan Momoi dalam fantasinya, dengan reflek memeluk sendiri dengan pandangan waspada kepas pria di sebelahnya. Si pria sibuk menarikan jarinya di atas handphone, seperti akan menghubungi seseorang.
Lalu, pip. Panggilan sudah selesai dilakukan.
"Aku bukannya mau membunuhmu atau apa, jadi tidak usah menatap rendah diriku."
"…"
"Aku hanya mau kau sembuh dengan cepat. Lalu kembali sekolah." Nafas Momoi tercekat, sekolah. Benarkah Momoi harus sekolah?
"Astaga, kurang berkelas apa ucapanku? Haruskah aku keluarkan cek bernilai jutaan yen agar kau mau sekolah?"
Tok tok tok
Pria di hadapan Momoi menoleh pada kaca di sebelahnya, nampak siluet seseorang berjas putih mengetuk kacanya dengan wajah datar. Tanpa pikir panjang, pria itu segera membuka kacanya.
"Apapun yang kau katakan, itu bukan cara membujuk sesesorang yang sedang depresi, Akashi. Kau bodoh."
"Dan apapun yang dia katakan, kau harus menurutinya, Momoi. Sembuhkan dia, Mayuzumi." Momoi hanya menatap nanar pria berjas putih di depannya, yang mengulurkan tangan padanya dengan wajah datar.
.
.
.
Riko berjalan cepat pada lapangan indoor SMA Seirin, matanya menatap fokus pada lembaran kertas yang ia genggam erat.
"Katakan padaku kenapa kau ikut setuju orang gila menjadi kepala sekolah di sini?" Lembaran kertas itu Riko lempar pada seorang pria yang bersiap melakukan shoot pada ring basket, membuat mata tajamnya melirik pada Riko yang bernapas cepat.
"Dan katakan padaku kenapa kau begitu marah mendengar orang gila luar biasa menjadi kepala sekolah kita?" tanyanya tenang.
"SEKOLAH INI SUDAH CUKUP GILA UNTUK MENERIMA ORANG GILA!"
"Riko, sesuatu yang gila terkadang butuh kegilaan lain untuk diwaraskan."
TBC
A/N
HALUUUUUUUU, hai arischa kembali dengan chapter 4 :))))) gimana? sudah ketebakkah alasan momoi mogok sekolah?
adakah yang mau kasih akashi tutorial untuk menjadi sopan dan tidak songong? hayuk atuh di pm ke saya, kasian siswa yang dibujuk harus spot jantung :(
Terimakasih untuk semua reviewnya huhu saya terharuuu :"""""""""
Nantikan chap berikutnya, ya! setiap pembujukan dilakukan pertahap.
see,ya!
Arischa
