You are My Opium?


Cast:

Kris, Chanyeol (Krisyeol)

Support Cast in this Chapter: Yongguk, Yesung

Rating: M (NC-17)

Length: Chaptered

Genre : Romance, Yaoi, Yadong, BL, AU, OOC, dll

Disclaimer: Para pemain milik Yang Maha Kuasa. FF ini murni milik saya dan bener – bener datang dari otak saya. Titik.

Bahasa: FF ini menggunakan bahasa Indonesia gaul acakadut

W arning!: Disini Chanyeol nista banget agak agak gimanaaa gitu…Don't like don't read, don't bash and don't be a silent reader ^^

Summary Lengkap:

Chanyeol benar – benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa sentuhan tangan orang itu membuat Chanyeol begitu… begitu… DOMPETKU HILANG!


Chapter 4

Chanyeol duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit kecil. Wajahnya tampak cemas. Sudah bermenit-menit lamanya dia menunggu di depan ruangan dokter praktek umum. Sehun dan Xiumin mengiriminya dua pesan singkat. Menanyakan dimana dia sekarang dan apakah mau makan di rumah atau di luar, Chanyeol membalas keduanya dengan kata-kata yang hampir sama. Memberitahukan mungkin akan pulang sedikit terlambat dan kemungkinan besar akan makan di luar dengan Kris. Emm… kalau cowok itu bersedia sih. Tapi semoga aja dia mau.

Gak lama, pintu ruangan dokter terbuka. Kris keluar bersama dengan seorang dokter muda nan tampan. Chanyeol membaca nametag dokter itu.

Yesung? Jadi namanya Dokter Yesung?

"Bagaimana keadaan temen saya, dok?" tanya Chanyeol khawatir melihat Kris keluar dengan kaki kiri dililit perban tebel banget terus digips. Apa Kris patah tulang? Gila orang-orang itu mukulinnya sampai begini banget!

"Seperti yang kamu lihat, teman kamu ini mengalami sedikit masalah pada tulang kering dan pergelangan kakinya. Tapi karena tidak terlalu parah retaknya, mungkin akan butuh proses yang lumayan sebentar untuk pulih."

"Oh…gitu." Chanyeol manggut-manggut, "Kalo boleh tau berapa lama ya, dok?"

"Ya… paling sekitar dua bulan lah."

Kris tampak mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya panjang-panjang. Pasti dia stress banget kakinya retak. Jadi gak bisa nyopet lagi. Meskipun bisa nyopet, tapi gak bisa lari secepat ninja bayangan lagi. Dan orang-orang itu sepertinya bukan orang yang tau berbelas kasihan. Berani bertaruh mereka bahkan tidak pernah nonton telenovela seumur hidup mereka. Meskipun tidak nyambung, intinya orang-orang kayak gitu emang gak punya perasaan! Mana mukanya Kris jadi bonyok kiri kanan dan penuh perban gitu. Apa ini Cuma perasaan Chanyeol aja ya? Kok biarpun mukanya udah gitu, Kris masih tetep keliatan ganteng? Kenapa gantengnya gak berkurang? Coba habis digebukin mukanya langsung berubah jadi Tukul Arwana gitu kek… Gak mungkin ya? Iya juga sih.

Chanyeol tersenyum getir menatap Kris yang sekarang tampak cemas dan rapuh. Entah kemana perginya wajah dingin dan jutek yang selalu cowok itu perlihatkan ke Chanyeol.

"Kalau begitu saya permisi dulu ya." pamit Dokter Yesung lalu menoleh ke dua orang pasien yang tadi duduk disebelah Chanyeol, "Berikutnya."

"Kris."

"Hm?"

"Sini aku bantu."

"Gak usah." tolak Kris saat Chanyeol mengulurkan tangan mau memapahnya, "Baru segini, masih bisa jalan gue."

"Tapi, Kris…"

"Gak usah." Ulang Kris lebih tegas, "Thanks."

Chanyeol pun membatalkan niatnya membantu Kris dengan raut agak kecewa.

"Eh, ngomong-ngomong, kamu gak laper?" tanya Chanyeol.

Kris menggeleng, "Enggak, kenapa?"

Chanyeol garuk-garuk pipi, rada gugup. "Kalau gitu… temenin aku boleh gak?"

Alis Kris naik dikit, "Gak biasa ya?"

Chanyeol mengernyit gak ngerti. Diajakin makan malah dikasih pertanyaan ambigu. "Maksudnya?"

"Itu... makan sendiri. Sampai makan harus ditemenin segala."

Busheeet! Masih judes aja! Kirain kalo udah bonyok kiri kanan gitu langsung jadi baik dan murah senyum.

Tapi Chanyeol harus sabar. Orang sabar disayang Tuhan dan diberi kelancaran jodoh. Amin.

"Makan sendiri? Apa enaknya?" Chanyeol mencibir, "Malah keliatan kayak jomblo ngenes, tau! Udah deh, temenin aku ya? Ya?"

Dasar cowok ngotot! Tapi berhubung Kris juga lagi laper, makanya dia angkat bahu tanda setuju, "Oke. Terserah lo. Mau makan dimana?"

Kedua mata Chanyeol membulat kocak, "Beneran nih mau?"

Kris angkat bahu lagi, "Ya, selama itu bukan di tempat elit, it's okay."

Iyalah, Chanyeol juga anak kos, kali! Mana mungkin tanggal tua gini dia makan di tempat elit? Itu namanya bunuh diri.

"Gak masalah. Aku tau kok tempat makan yang enak dan harganya terjangkau. Aku sama temen-temen aku sering kesana." Ujar Chanyeol tersenyum riang. Menularkan senyum energi positifnya ke Kris dan membuat Kris refleks senyum juga ngeliatnya. Meskipun lagi-lagi cuma sedikit. Always sedikit. Tapi gak apa-apa. Cowok itu udah narik bibirnya dikit aja udah bikin Chanyeol seneng.

"Oh ya? Dimana?"

"Ada deh, susah jelasin jalannya. Yaa…emang rada jauh sih dari sini. Tapi dijamin kamu gak bakalan nyesel kok kalo udah nyampe sana. Terus kadang juga sering ada diskon buat mahasiswa, cukup nunjukin kartu mahasiswa aja udah dapet potongan harga untuk semua makanan. Ibu pemilik rumah makan itu baik, aku kenal deket sama dia. Terus selain dapat potongan harga aku juga sering dikasih bonus ayam goreng satu loh sama Ibu itu! Pokoknya dia baiiik banget deh!" cerocos Chanyeol panjang kali lebar. Sementara Kris hanya senyam-senyum dalam hati liat Chanyeol promosi semangat banget. Saking semangatnya sampai memproduksi hujan lokal segala.

Polos, lucu, unik dan perhatian. Itu yang bisa Kris tangkap dari sifat Chanyeol hanya dengan sekali memperhatikan raut wajah dan dari cara dia ngomong ke orang.

Karena keasikan ngobrol ini-itu, mereka sampai gak sadar kalo udah nyampe di luar gerbang rumah sakit. Dua namja yang tingginya hampir sama itu kini berdiri di pinggir jalan sambil menatap ke kendaraan yang daritadi lalu lalang di hadapan mereka.

"Kita naik angkot apa bus?" tanya Chanyeol, "Asal jangan taksi lagi ya? Soalnya jujur aja ongkos pulang aku udah kepake buat nganterin kamu. Heheh." Chanyeol cengengesan.

Dasar kelewat polos! "Kita naik angkot kalo gitu." jawab Kris.

"Wah… setuju, setuju! Iya aku juga lagi kangen. Lama gak naik angkot. Eh tapi kamu gak nyopet lagi kan?"

Kris mendelik. Anak ini… orang kaki udah pincang sebelah plus muka udah bonyok semua kayak gini masih ditanyain mau nyopet apa enggak!

Chanyeol meringis, "Owh, oke. Sori. Just asking. Peace, oke? Peace."

Tatapan Kris melunak. Terus begitu ada angkot lewat, kontan cowok itu mengulurkan tangan kanan. Menyetop angkot tersebut.

"Eh… dibelakang aja." tahan Chanyeol saat Kris buka pintu dibagian depan dekat pak sopir.

Kedua alis Kris berkerut-kerut, "Apa? Minta ditemenin lagi?"

Chanyeol manggut-manggut sambil pasang jurus muka polosnya yang menggemaskan. Biar Kris luluh.

"Duduk dibelakang sendiri aja kenapa sih? Ribet banget."

Chanyeol manyun, "Gak seru. Gak bisa ngobrol-ngobrol."

Baru aja Kris buka mulut mau ngebales, tiba-tiba udah di-'Tiiiin!' sama Pak sopirnya, "Woi! Jadi naek gak nih? Malah pada berantem!"

Kris ngeliatin Chanyeol datar. Chanyeol nyengir lima jari, terus pasang muka 'pleaseee' yang melas dan susah ditolak. Kris menghela napas. Udahlah. Daripada lama.

"Ya udah. Sono naik!"

"Yeess! Oke deh!" Chanyeol naik dengan riang gembira. Kris berasa kayak lagi nganterin adeknya yang masih SD ikut lomba mewarnai, bukan kayak lagi jalan sama cowok kuliahan. Habis Chanyeol ini badan doang gede, tapi kelakuan ternyata sebelas dua belas sama bocah.

Sepanjang perjalanan ternyata bocah raksasa ini bukannya ngajakin ngobrol malah pules ngorok di pojokan. Mana tadi udah maksa-maksa nyuruh dia pindah dibelakang segala, eh ternyata malah ditinggal tidur. Payah!

.

.

.

.

Chanyeol melongo.

Ini dimana?

Ini bukan rumah makan yang dia maksud tadi.

Chanyeol melirik Kris, menyalahkan.

Kris ngeliatin balik, alisnya naik sebelah.

"Kok kita bisa ada disini? Aku kan mau ngajakin kamu ke tempat makan langganan aku."

"Terus?" tanya Kris ngeselin, minta ditimpuk batu dari dunia gaib.

Chanyeol menyilangkan tangan di dada, cemberut. "Ya harusnya kita gak turun disini!"

"Ya harusnya lo gak tidur." balas Kris tanpa minat dan gak ngerasa bersalah. Iyalah. Dia kan gak tau dimana tempat makan yang digembar-gemborin Chanyeol tadi. Makanya dia asal berhentiin angkotnya terus turun di depan warung langganan dia. Lagian kok rasanya Kris gak tega aja ngebangunin Chanyeol. Memandangi muka damai sentosanya Chanyeol pas lagi tidur itu… selain bikin jantungnya salto ria, juga bikin hatinya ikut damai dan tentram. Beneran.

"Kok gitu? Kok malah nyalahin balik? Kalo gitu kenapa tadi gak dibangunin?"

"Seriously? Lo tuh yang tidur kayak kebo mati! Udah dicolok lubang hidungnya masih aja gak bangun." tukas Kris asli ngibul. Padahal alasan sebenernya dia gak tega ngebangunin karena keasikan mengagumi muka imutnya Chanyeol waktu tidur. Mulutnya mangap dikit. Ilernya netes-netes. Entah kenapa bukannya merasa jijik, Kris malah pengen melahap mulut menganganya Chanyeol terus menjilati ilernya sampai ludes.

"Lo nyolok lubang hidung gue?" tanya Chanyeol melotot gak terima. Kok bisa sih dia gak bangun? Lagian ngapain sih cowok ini nyolok-nyolok lubang hidungnya?!

Kris mengibaskan tangan terus ngeloyor pergi dengan cueknya. Percuma berdebat sama bocah gak peka ini.

"Yah, malah pergi! Tungguin napa?" Chanyeol berlari-lari kecil menjejeri langkah Kris yang udah duluan masuk ke warung tenda sari laut langganannya.

"Bawel, lo mau pesen apa?" Kris narik kursi dan main duduk di salah satu meja kosong deket got bau pipis tikus bercampur pipis makhluk-makhluk lain yang pernah pipis di got itu.

Chanyeol refleks membekap mulut dan hidungnya. Merasa kebauan parah. "Kamu kok bisa sih duduk santai gitu? Disini kan bau. Pindah meja lain, yukk?"

"Lo gak liat tuh meja lain udah pada penuh?" tanya Kris yang emang orangnya praktis. Kalo mejanya penuh ya sudah. Duduk dimana aja asal pantat nancep di kursi, makan, kenyang, selesai deh!

"Ya kalo gitu tungguin. Tuh di meja sana udah mau selesai. Daripada kita makan bau-bauan gini. Gak enak kan makan ikan dengan latar belakang got dan bau pipis? Gak sehat. Gak higienis tau!"

Hergghhhhhhh baweeeell! Kris mendengus kasar sambil bangkit berdiri. Karena merasa dialah yang paling tua jadi dia yang harus ngalah. Tao juga sifatnya gak jauh beda dari Chanyeol. Sama-sama keras kepalanya, sama-sama suka ngatur, dan sama-sama manja.

Tao…

Kalau keinget adiknya itu, terkadang Kris merasa masih belum benar-benar menjalankan tugasnya sebagai seorang kakak yang baik. Selalu aja merasa ada yang kurang dan ada yang salah. Kalau saja dulu dia bisa lebih memberi perhatian, pasti mereka sudah berkumpul bersama sekarang. Hangout bareng atau piknik ke gunung diakhir pekan. Bukannya malah nyopet dan mikirin besok mau makan apa dengan duit jatah hasil copet yang gak seberapa.

Setelah pengunjung meja itu beranjak, Chanyeol buru-buru menempatinya sebelum keduluan sama orang lain.

"Kris, Kris, sini!" panggil Chanyeol antusias.

Kris datar aja jalan, terus duduk tetap dengan muka datarnya. Dasar manusia pelit ekspresi!

"Mau pesan apa? Ikan lele atau bebek goreng?" tanya Chanyeol.

"Bebek. Kamu?"

Chanyeol manggut-manggut, "Suka makan bebek ya?"

"Semua orang di dunia ini suka makan bebek. Aneh kalau gak suka."

"Ehmm…" Chanyeol berdehem, "Tersinggung gue."

"Ohh, lo gak suka? Ya wajar sih…"

Chanyeol melotot, "Eh! Apa maksudnya tuh?"

Kris menggeleng, "Enggak. Gue mau pesen dulu. Jadi lo apa? Ikan Lele atau…?"

"Ya udah, itu aja." Chanyeol ngangguk.

Tuk tuk tuk…

Chanyeol mengetuk-ngetuk meja dengan tampang super bosan. Habis gimana gak bosen coba? Biasanya kalo orang nunggu makanan itu kan sambil ngobrol kek, apaan kek, lha ini? Masa Chanyeol lagi Chanyeol lagi yang ngemeng? Capek dong dia. Mana tadi udah nyerocos banyak banget soal tempat makan langganannya pake gembar-gembor soal diskon ayam goreng segala, eh gak taunya malah nyasar ke sari laut! Lagian kan Chanyeol juga pengen dengerin ceritanya Kris. Banyak yang bikin Chanyeol penasaran. Tentang siapa orang-orang itu, kenapa dia mau jadi pencopet, kemana adiknya pergi, dan lain-lain. Chanyeol mau nanya duluan juga segan. Biar gitu-gitu tahu diri lah dia. Kalau nanyanya udah baik-baik terus jawabannya nyesek bin nyolot kayak waktu itu kan gak enak.

Chanyeol melirik Kris. Cowok ini ganteng. Tapi keliatan seperti menanggung beban hidup yang sangat berat. Kantung matanya sampai bertumpuk. Kusut, kayak orang kurang tidur akibat kebanyakan mikir. Atau emang Kris jarang tidur? Hmm, not surprised at all. Padahal kalau dia segeran dikit, gak kusut, gak datar dan gak bonyok kayak gini… dia bisa jadi pramugara tampan, pilot tampan, presenter tampan, artis tampan, coverboy tampan, model celana renang tampan… Pokoknya apa aja profesi yang membutuhkan tenaga kerja dari cowok tampan.

Kris berdehem, "Ngapain lo?"

"Ha?" Chanyeol gelegapan salting kepergok ngeliatin Kris serius banget, "Enggak, nggak ngapa-ngapain." kilahnya buru-buru buang muka.

"Kagum liat muka gue?"

Ternyata nih cowok narsis juga! "Idih, siapa yang kagum?! Pweh! Geer! Narsis amit-amit."

Kris cuma angkat bahu dengan muka datarnya.

Buset. Ketangkap basah. Chanyeol si mulut keran lancar dan tukang blakblakan langsung mati kutu. Kayaknya Kris emang punya ilmu spesialis bikin orang bisu deh. Chanyeol juga tadi ngeliatin dia kan karena gak ada kerjaan. Coba kalo ngobrol, pasti dia gak akan iseng gak guna gitu.

Tapi bukan Chanyeol namanya kalau dia gampang kehabisan bahan obrolan begitu saja.

"Kamu udah berapa lama sih tinggal di perumahan itu?"

"Udah lama."

"Disitu ada rumah temen aku juga, namanya Lay. Kamu kenal gak?"

Kris menggeleng, "Enggak."

Oh. Kentara jarang bersosialisasi sama tetangga. Chanyeol gak kaget. "Wah sayang banget. Padahal dia orangnya lumayan rame lho."

Alis Kris naik sebelah dan kira-kira artinya: 'Terus?'

"Yaaa… enggak sih, cocok aja buat temen ngobrol gitu kalo pas lagi kosong."

Kris mengernyit, "Lo ngatain gue kosong?"

Udah jaim, gampang tersinggung lagi! Untung ganteng. "Kalau emang lo gak kosong ya udah. Ngapain sewot?" Chanyeol melengos sok cuek. Padahal dalam hati: 'Tuhaan, semoga dia kosong, Tuhan. Semoga dia kosongg…'

Lagi-lagi Kris hanya mengangkat bahu gak jelas.

Sial. Kris ini lama-lama kayak robot terminator somplak yang diprogram cuma buat naik-naikkin alis sama naik-naikkin bahu aja. Apa dia gak tahu interaksi lain? Naik-naikkin bulu mata kek biar ada variasi dikit.

"Eh, tapi beneran nih kamu gak lagi kos…" Sett! Chanyeol mendadak beku begitu tatapan ala Deddy Corbuzier itu menghujam matanya lurus-lurus. Dan sekali lagi berhasil membuatnya terserang penyakit bisu. Bisu permanen.

"Apa?" tanya Chanyeol memberanikan diri buka mulut. Karena Kris hanya terdiam ngeliatin dia tanpa ekspresi, "Naksir?"

Tau-tau Kris mengulurkan tangannya kedepan. Lurus. Langsung ke mukanya Chanyeol. Jari-jemari panjang milik cowok itu mengusap pelan pipinya sambil berkata "Di pipi lo ada nyamuk mati nih."

Ha? Di pipi Chanyeol ada nyamuk mati? Nyamuk mati?! Demi apa nyamuk itu mati di pipinya? Apa mukanya semacam kuburan nyamuk atau apa? Dan kenapa nyamuk itu mati?! Padahal kan Chanyeol gak nepok sama sekali. Chanyeol menatap dongkol nyamuk kurang ajar yang entah sejak kapan nemplok di pipinya dan merusak momen indah tadi. Ternyata Kris ngusap pipinya bukan karena terpesona dengan pipinya yang semulus bayi. Tapi karena pengen ngambil nyamuk.

Entah kenapa dari sekian banyak pertanyaan keren, yang ditanyakan Chanyeol justru, "Kok bisa?"

Barulah cowok itu mengulum senyum. Dikit. "Gak tau. Bukan gue yang naruh." Dan horeee! Jawabannya agak panjangan dikit. DIKIT!

Chanyeol mencibir, "Iya deh, bukan kamu. Tapi jin penunggu sari laut ini yang naruh."

NYEBELIN! Kris cuma angkat bahu lagi. Lagi, lagi dan lagi! Kalau gak kasian liat muka bonyoknya aja, udah Chanyeol gamparin daritadi.

Chanyeol buang napas. Kayaknya Kris ini cowok yang gampang-gampang susah. Malah lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Bakal ribet nih dia.

Setelah itu Chanyeol memilih menyibukkan diri dengan ngeliatin mas-mas warungnya menggoreng ikan. Daripada mati kering di-jaimin terus.

Tanpa Chanyeol sadari, Kris diam-diam mengamati wajahnya dari samping. Tercenung. Sedetik kemudian menggeleng pelan. Tidak. Dia tidak bisa. Disaat seperti ini, memiliki hubungan romansa dengan seseorang kayaknya berada di urutan seratus dua puluh satu, yang intinya itu bukan prioritas bagi Kris. Tidak sekarang. Dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya. Meski jujur, Kris mulai menyukai namja berpipi chubby ini, tapi menyeret Chanyeol dalam kehidupannya yang berat dan penuh lika-liku… apa cowok itu sanggup? Kris tidak ingin mengambil resiko. Dia tidak boleh membahayakan orang lain. Cukup dirinya sendiri saja yang menanggung ini semua. Dan dekat dengan Chanyeol, otomatis akan membuat namja itu nantinya ikut terjebak dalam sekelumit masalah yang dia hadapi. Itu sudah satu paket. Bonus jika ingin bersama dirinya. Tidak bisa dihindari. Jadi sebelum Kris berpikiran dan berharap terlalu jauh… mending dia mundur teratur dari sekarang.

Tapi hanya mundur saja tidak cukup. Mengingat bocah ini lumayan nekat juga menguntitnya sampai ke rumah meskipun udah dijudesin berkali-kali, jelas 'mundur' saja tidak cukup. Lain halnya kalau Chanyeol yang mundur.

Untuk mewujudkan itu, Kris harus mengambil tindakan lebih. Tindakan untuk membuat namja itu pergi. Menghindar untuk selama-lamanya. Dan jangan pernah kembali lagi.

.

.

.

.

"Kita ke rumah gue dulu ya."

Chanyeol yang lagi asik-asik bbman sama Sehun kontan menoleh dari layar hapenya. Menatap Kris bingung, "Kenapa?"

"Gue…emm, mau ambil motor di rumah. Daripada lo naik angkot begini. Habis di ongkos, gue juga udah gak punya duit lagi buat bayarin lo."

Denger kata-katanya Kris tadi, Chanyeol langsung merasa gak enak dan bersalah banget. Kok kesannya kayak dia ini lintah darat tak tau diri ya? Udah tau cowok susah gini masih disusahin aja.

"Eng… gak usah repot begitu. Kamu gak usah musingin aku, entar aku turun depan lorong rumah aku aja terus minjem duit punya temen-temen aku, kamu turun aja depan komplek kamu." tolak Chanyeol halus, "Dan soal yang tadi, aku bakal sekalian ganti kalau kita udah nyampe di rumah aku."

Gantian Kris yang bingung, "Jadi maksudnya gue nganterin lo pulang dulu naik angkot ini baru habis itu gue balik naik angkot juga? Ya sama aja boong, mending kita naik motor. Pemborosan."

Chanyeol meringis. Eh..iya, bener juga ya? Kalau kayak tadi caranya dia malah makin ngerepotin Kris kan? Nyuruh cowok itu bolak-balik, itu sama aja ngerjain namanya.

"…ngngg…ya udah kalau gitu. Terserah kamu aja. Maaf jadi ngerepotin." Chanyeol garuk-garuk kepala salting dengan pipi merona.

"Baru nyadar?" tanya Kris sukses membuat Chanyeol mendelik.

"Gak perlu sungkan, anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih karena lo udah nolong gue." Untuk pertama kalinya Chanyeol melihat cowok itu tersenyum lebar. Senyum manis dan tulus. Bukan senyum pelit setipis kulit lumpia kayak yang tadi, "Makasih ya."

Pipi Chanyeol merona parah. Sampai-sampai telinga caplangnya juga ikutan merah. Dia sampai harus buang muka biar Kris gak ngeliat tampang memalukannya saat ini. Meski sebenarnya percuma saja karena cowok itu sudah terlanjur melihatnya. Kris geleng-geleng kepala lihat ekspresi malu-malu menggemaskannya Chanyeol. Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang tanpa permisi. Niatnya untuk membuat Chanyeol pergi langsung maju mundur. Apa dia bisa melakukan itu?

Harus bisa! sahut suara tekad dalam diri Kris. Bagaimanapun caranya Chanyeol harus menjauh dari kehidupannya yang berantakan ini. Dia tidak boleh melibatkan Chanyeol lebih jauh.

.

.

.

.

"Yongguk?"

"Yoo broo!"

Kris cepat-cepat masuk dan menggiring namja itu ke dapur.

"Lu ngapain di rumah gue hah?"

"Ngapain? Lo habis nge-drink? Gak baca sms dari boss? Lo dapat misi baru sekarang."

Kris membeku. Sms dari bedebah itu? Misi apa? Jangan bilang…

"Gue anterin 'barang' nih. Masih bagus. Yaa… belum sempurna sih. Makanya untuk percobaan boss nyuruh lo untuk ngejual beberapa dulu."

Kris menggeleng dengan mata memicing sengit, "Gak. Gue gak bisa! Ini bukan bagian gue. Mereka melanggar perjanjian! Bawa balik barang lo dan bilang gue gak sudi ngejual apapun dari mereka!"

Yongguk malah tertawa sinis, "Kris…Kris, lo udah lama gabung tapi pikiran lo masih naif aja ya? Perjanjian? Lo tau perjanjian itu siapa yang bikin? Atasan kan? Jadi kalau sewaktu-waktu dirubah jangan protes, itu sudah haknya dia."

"Berarti itu tandanya tuh orang gak konsisten! Kalau udah ada hitam diatas putih artinya dia udah sepakat! Nggak. Ini gak fair. Gue gak mau menjalankan misi apapun yang diluar tugas gue!" tolak Kris berusaha mengatur suaranya serendah mungkin agar tidak mencapai ruang tamu, dimana Chanyeol duduk menunggu.

Yongguk menepuk-nepuk pundak Kris dengan senyum menyebalkan, "Itu terserah lo sih. Tugas gue cuma menyampaikan pesan dan nganterin ini. Lo emang punya hak untuk nolak. Tapi inget aja, nyawa adek lo masih berada di genggaman tangan orang itu. Jadi saran gue… talk less do more aja deh. Ya?"

Kris menggeratakkan giginya geram, "Gue tetep gak setuju!"

Yongguk mengibaskan tangan tidak perduli, "Terserah. Yang penting minggu depan gue balik barang itu udah laku terjual. Oke?"

Yongguk berlalu sambil menepuk-nepuk pundak Kris, "Udah ya? Udah paham kan? Sekarang gue mau kenalan dulu sama pacar lo."

"Dia bukan pacar gue!" bantah Kris.

"Terus apa? Korban lo? Atau pohon duit?" tanya Yongguk menyeringai, "Tapi emang kalau diliat-liat dia keliatan kayak anak orang mampu sih. Berarti pohon duit kan?"

Kris masih tak bergeming dengan wajah keras saking setengah matinya menahan emosi.

"Oke deh, bro. Good luck ya sama pohon duit lo. Semoga malam ini menyenangkaaan…"

"Kurang ajar!"

Yongguk tertawa keras sambil melenggang pergi tanpa menghiraukan sorot tajamnya Kris.

Beralih profesi jadi pengedar?! Menjadi salah satu dari orang-orang hina itu?! Terus habis ini dia bakal jadi pencopet merangkap pengedar gitu?! M*ther F**king Sh*t A**hole! Terlalu lama bersama orang-orang ini membuat Kris semakin 'tercemar' dan makin gak beres. Bukannya melepaskan Tao, orang-orang itu malah memanfaatkan Kris dan kelemahannya untuk terus beraksi dibawah bayang-bayang mereka.

.

.

.

.

"Hai!" sapa Yongguk saat melihat Chanyeol masih duduk manis di sofa, "Itu minuman di meja bukan untuk diliatin aja. Diminum dong. Silahkan. Anggap rumah sendiri."

Chanyeol mengangguk sungkan sambil meringis takut-takut merinding liat tangannya Yongguk dipenuhi tato gak jelas mulai dari pundak sampai ujung jari. Pokoknya full tanpa celah! Dan entah kenapa sikap sok ramahnya itu malah terlihat menakutkan di mata Chanyeol.

"Minum aja. Sini gue tuangin kalo lo malas ambil sendiri." tanpa disuruh, Yongguk langsung membalik salah satu gelas lalu menuangkan air dingin dari botol kedalam gelas. "Eh iya nama lo siapa?"

"Chanyeol."

"Nih minum." Yongguk menyodorkan gelas yang sudah terisi ke Chanyeol, "Ayo. Gak ada racunnya kok. Hahah. Takut amat."

"Ha..haha." Chanyeol ikut ketawa tapi ekstra garing. Orang ini mau melawak apa nakutin sih? Pake ngomong gak ada racunnya segala. Itu kan kata-kata favorit para penjahat di film-film sebelum menyodorkan minuman ke korbannya. Lagipula air bening yang ada di botol itu air putih apa sprite sih? Kok ada busa-busanya? Minuman keras kah? Gila aja orang ini kalau sampai opsi ketiga yang benar! Lagian Kris mana sih? Ke dapur kok gak nongol-nongol sampai sekarang? Apa jangan-jangan udah dimutilasi terus dimasukin kulkas sama orang ini?!

Oke. Lagi-lagi pikiran Chanyeol mulai ngaco.

"Kenapa? Belum pernah minum sprite ya sebelumnya?" tanya Yongguk dengan senyum tak terbaca.

Chanyeol mengangguk. Apa dia juga punya ilmu membaca pikiran orang lain? "Udah kok."

"Ohh…belum haus ya?" Yongguk meletakkan gelas itu di meja, "Kalau gitu silahkan ambil sendiri. Duluan ya, gue buru-buru. Sori gak bisa ngobrol lama-lama."

Ya udah sono! Yang mau ngobrol sama situ siapa? batin Chanyeol kesal.

"Bye, salam kenal Chanyeol." tukas Yongguk melambaikan tangan lalu menghilang dibalik pintu.

Chanyeol hanya tersenyum singkat menanggapinya. Malas beramah tamah dengan orang mencurigakan.

Begitu Yongguk pergi, kepala Chanyeol langsung celingak-celinguk kedalam. Kris mana sih? Kok gak keluar-keluar? Katanya tadi mau nganterin? Apa Chanyeol pulang duluan aja ya? Tapi itu namanya gak sopan. Masa Kris udah berbaik hati mau nawarin nganter, eh tiba-tiba dia pulang gak pake pamit? Dimana letak tata kramanya kalau begitu.

Kedua mata Chanyeol kemudian hinggap di gelas berisi sprite 'tidak meyakinkan' itu. Apa benar ini sprite? Karena Chanyeol emang orangnya suka penasaran tingkat tinggi, makanya dia celupin telunjuknya terus dia cicipin pake lidahnya.

Nyem…nyem… manis sih… dan agak asem dikit. Mirip sama rasa soda. Tapi jelas ini bukan sprite. Sebagai anak kos yang fanatik sama minuman bersoda macam fanta, coca-cola dan sprite. Dia tahu betul mana yang sprite ori dan mana yang sprite KW.

Engg… jujur… Chanyeol memang agak haus sih. Dan… minuman itu daritadi memanggil-manggil namanya minta diminum…

Apa Chanyeol minum aja ya? Dia haus banget habis panas-panasan dan duduk berdesakan di angkot tadi. Mana Kris gak keluar-keluar sampai sekarang. Bodo lah mau sprite KW kek ori kek, sikat aja!

"Chan…" Kris yang tiba-tiba nongol kontan terperangah mendapati Chanyeol kini tengah menenggak minuman yang asal-usulnya tidak jelas. "Lo minum apa?"

"Ini… soda, kata temen kamu sih sprite. Rasanya enak ya. Ini minuman apa sih namanya? Kok aku baru nyoba sekarang?" jawab Chanyeol polos.

"Astagaaa…" keluh Kris putus asa sambil meremas rambutnya sendiri.

Chanyeol mendelik, "Kok astaga? Kalau emang gak boleh minum ya udah, gak usah lebai gitu ekspresinya."

Kalau tadi meremas rambut, sekarang Kris menepuk mukanya keras-keras. Botol minuman itu kan… arghh! Itu kan salah satu 'barang' yang dimaksud Yongguk tadi. Kris menemukan satu kardus berisi botol-botol serupa di dalam garasinya. Botol-botol minuman yang harus dia edarkan sebagai misi baru dari atasannya yang super bangsat itu. Kenapa pula bocah ini main nyosor seenaknya aja!? Jangan bilang Yongguk yang nawarin? Kurang ajar bedebah satu itu. Apa dia bermaksud menjadikan Chanyeol sebagai kelinci percobaan?! Awas saja kalau anak ini sampai kenapa-napa nantinya!

"Kris…emang rumah kamu selalu panas gini ya? Panas banget. Panaass…" Chanyeol kipas-kipas heboh sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya.

Gawat! Efek obatnya mulai bereaksi.

Saking shocknya, Kris cuma berdiri mematung dengan tampang cengo. Apalagi sekarang Chanyeol mulai melepaskan dua kancing atas kemejanya dan mengekspos leher jenjang dan bahu putih mulus menggodanya.

"Duhh… panass! Paanass… kamu jangan diem aja dong! Ambilin kipas angin kek!"

Kris tersentak dari lamunan dan langsung melesat kedalam mengambil kipas angin sekaligus dengan air mineral dingin biasa.

Kris mengarahkan kipas angin itu ke Chanyeol lalu menyodorkan air mineral dingin. "Nih minum dulu. Habisin aja."

Chanyeol manut dan langsung menenggak habis minuman dalam botol mineral itu. Percuma saja. Dia masih merasa panas luar biasa. Perasaan panas yang sangat aneh. Itu membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat. Rasa semangat yang asing. Membuatnya menggebu-gebu tanpa sebab. Entah menggebu-gebu untuk apa. Yang Chanyeol tahu dia harus menghilangkan perasaan panas ini. Ahh… panasnya!

"Chan, Chanyeol! Lo ngapain!? Berhenti!" tahan Kris saat Chanyeol tiba-tiba berdiri dan melepaskan semua kancing kemejanya dengan barbar lalu melempar kemejanya ke sembarang tempat. Dengan panik Kris memungut kembali kemeja itu lalu menyerahkannya ke Chanyeol, "Ini pake lagi, cepet!"

"Gak mau aah… panaas sih..eunggh…" sekarang Chanyeol mulai mengeluarkan suara lenguhan aneh.

Goddamnit. Kris mau tidak mau terpaksa menelan salivanya saat tubuh half naked menggoda iman milik Chanyeol kini tengah berdiri di depannya dengan 'gundukan besar' di selangkangan yang masih terbungkus celana. Rupanya obat itu berhasil merangsang penuh seluruh sistem syaraf Chanyeol bahkan sampai ke bagian paling intim sekaligus.

Ini tidak bisa dibiarkan!

"Kriss… aku kenapa? Kok badanku panas semua sih? Celanaku sesaak Krissh. Aku copot aja yaa?" tanya Chanyeol dengan muka horny.

WHAT?! Enteng banget ngomongnya mau ngelepas celana! Apa dia sadar mengatakan itu?! Cckck. Ternyata otaknya juga ikutan kacau.

"Eitt…eitt…eitt jangan disini, oke? Disana aja ya, disana aja." Kris cepat-cepat menghentikan aksi buka celana Chanyeol lalu menggiring namja yang sedang tersangsang parah itu ke kamar mandi, "Yak. Oke. Disini aja, ayo masuk. Nah! Anak pintar."

"Kriss… kenapa dikurung disini sih? Paanasss! Kamar mandi kamu panas, Kris!"

Kris berusaha tidak menghiraukan. Buru-buru dikuncinya pintu kamar mandi. Dia tidak mungkin mengembalikan Chanyeol dalam keadaan 'hot' seperti itu. Bisa-bisa anak itu bakal mengganas dan menyerang makhluk-makhluk tak berdosa lain yang dia temui di pinggir jalan. Jadi biarkan saja dulu seperti itu sampai capek-capek sendiri.

"Panas… keluarin aku dari sini, pleaseee…"

Kris pura-pura cuek nonton Tv.

"Kriss… tolong lakuin sesuatu… tolong aku…" pinta Chanyeol dengan suara yang sangat menyayat hati.

Mata Kris mulai melirik-lirik gelisah. Buru-buru dia pakai earphone dan menyalakan musik sekencang mungkin.

Brak Bruk Brak Bruk! "KRIS! BUKA GAK?! SIALAN! JANGAN DIEM AJA! HEH!" pekik Chanyeol mulai barbar diiringi dengan suara benturan keras di pintu.

Kris mengacak rambutnya depresi. Grrrh! Apa boleh buat. Daripada pintu kamar mandinya jebol.

Tapi baru aja Kris mau bukain pintu, dia mendengar ada suara byar byur byar byur di dalam sana. Gila… apa anak itu mengguyur dirinya sendiri?! Separah itukah?

Kedua mata Kris kontan melebar shock melihat pemandangan 'berbahaya' di depannya. Tidak ada lagi Chanyeol half naked yang tadi. Kini yang sedang berdiri di depannya adalah namja bugil dengan tubuh mulus yang basah kuyup mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dan penis yang mengacung tegak tanpa cover sama sekali. Sisa-sisa air yang menetes dari rambut basah Chanyeol, wajahnya yang merah padam, matanya yang sayu dan menyiratkan gairah, dadanya yang megap-megap naik turun, bibir ranumnya yang terbuka sedikit seperti minta dimasuki... Itu semua terlalu 'wow' di mata Kris.

Oh my…

Shit! Kris bisa merasakan sesuatu di bawah sana juga mulai menegang excited.

"Kris… tolong lakukan sesuatu. Panaas… ini masih panaas…tidak mau hilang…" rengek Chanyeol dengan wajah imut namun horny sekaligus dalam waktu bersamaan. Ekspresi muka minta dilahap.

Karena Kris hanya diam mematung. Chanyeol menjulurkan tangannya mengguncang bahu namja di depannya, "Kris?"

Tiba-tiba kayak ada sentakan yang menjalar dari tangan Chanyeol langsung ke pundak Kris, membuat Kris seolah-olah kayak kena setrum aliran listrik bervoltase kecil di seluruh badan. Setrumnya masih berasa meski Chanyeol sudah melepaskan pegangan tangannya. Rasanya seperti kesemutan… tapi di hati.

Kris menghela napas. Mau tidak mau dia harus melakukan ini. Demi kebaikan… jadi, yaah… apa boleh buat kan? Tidak ada jalan lain.

Namja itu langsung membopong tubuh naked Chanyeol ala princess, meskipun agak mengalami kesulitan dengan kakinya yang terasa nyeri sebelah. Tapi akhirnya dia sanggup juga membawa Chanyeol sampai ke kamar dan merebahkan tubuh basahnya diatas ranjang.

Kris mengecup puncak kepala Chanyeol, "Kamu tunggu disini aja ya… ada yang mau aku ambil." tanpa sadar Kris ketularan ber-aku-kamu.

Chanyeol menahan tangan Kris, "Jangan pergi. Jangan tinggalin aku~" rajuknya manja.

Sekali lagi Kris mendaratkan kecupannya di kening Chanyeol, "Aku gak akan lama."

Chanyeol mempoutkan bibir, tampak tidak iklas.

"Serius, aku cuma mau ngambil sesuatu habis itu balik lagi."

"Janji?"

Kris tersenyum, "Janji."

Chanyeol ikut tersenyum lalu melepaskan genggaman tangannya.

Kris beranjak dari kasur lalu keluar dari kamar, meninggalkan Chanyeol yang masih menggeliat sambil mencengkram seprai Kris kuat-kuat, merasakan sekujur tubuhnya seperti terbakar dari dalam dan bergejolak hebat. Hormon-hormon dalam tubuhnya seperti terangsang secara keseluruhan dan itu membuat batang kejantanannya terus mengacung tegak daritadi.

Gak lama Kris balik lagi dengan satu tangan tersembunyi di balik punggung.

"Maaf ya kalau agak lama." Kris kembali merangkak naik diatas tubuh naked Chanyeol, "Nah… sekarang, sampai dimana kita tadi?"

"Kris, kamu bawa apa sih? Kok disembunyiin?"

"Ada deh… kamu pasti suka." tukas Kris dengan senyum misterius.

Chanyeol cemberut, "Apa sih? Kasih tau dong~"

Kris mendaratkan kecupan di kening lagi, "Jangan buru-buru. Entar kamu bakalan tau kok."

Usai berkata begitu, Kris langsung mengecup bibir Chanyeol. Kecupan yang lama-lama berubah menjadi lumatan lembut, sangat lembut, penuh perasaan. Chanyeol sangat menikmatinya. Dia menikmati saat-saat lidah Kris menelusup masuk di mulutnya lalu bergulat sebentar dengan lidahnya, dia menikmati sensasi saat bibir Kris menyesap sepasang bibirnya secara bergantian, lalu kembali melumatnya lembut. Semua itu membuat Chanyeol terbuai. Terbang tinggi. Hingga tertidur dalam sekejap.

Kris tersenyum lembut ketika mendengar suara dengkuran pelan dari namja dibawahnya. Bagus. Chanyeol sudah terlelap. Obat tidur yang dia suntikkan ke leher Chanyeol sudah bereaksi. Sekarang tinggal menunggu apakah efek dari opium itu akan menghilang saat Chanyeol tersadar atau justru malah membuatnya ketagihan?

Semoga itu tidak memiliki efek samping. Mengingat obat itu belum sempurna seperti perkataan Yongguk. Semoga saja itu tidak berdampak panjang bagi kesehatan Chanyeol.

Kris meraih ponselnya lalu cepat-cepat mengetik balasan sms untuk orang itu.

.

.

.

.

Hal pertama yang dilihat Chanyeol saat membuka kedua matanya adalah langit-langit dengan dominasi warna putih dan lampu kamar yang redup. Chanyeol menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, bermaksud untuk berdiri, tetapi saat melihat pakaian yang dia kenakan berbeda jauh dengan pakaian yang dia kenakan saat datang ke rumah Kris, Chanyeol membatalkan niatnya dan malah menarik selimut itu sampai ke dagu.

Baju siapa ini?! Dan kenapa aku bisa tertidur di ranjang ini?! Tunggu dulu… jangan-jangan ini kamar…

"Selamat pagi."

Chanyeol terpekik kaget dan harus menarik napas ketika berhadapan dengan dada paling bidang dan perut paling menggiurkan dari tubuh namja yang kini sedang berdiri di ambang pintu hanya dengan berbalutkan handuk dibagian pinggul. Entah benda sebesar apa yang bisa dia lihat jika berani menarik handuk itu turun. Chanyeol cepat-cepat menggeleng mengusir pikiran mesum yang baru saja merasuki otaknya. Tidak, tidak, tidak! Bukan saatnya memikirkan itu.

Kemudian tatapan Chanyeol perlahan-lahan naik keatas untuk menatap pemilik dada bidang dan perut menggiurkan itu. Di detik berikutnya, Chanyeol bisa merasakan suhu tubuhnya naik dua puluh derajat.

KRIS?!

"Sudah bangun toh? Lelap juga ya tidur lo. Sampai-sampai gue pakein baju aja lo gak sadar."

APAAAAA?!

"Kamu gantiin aku baju?! Ngapain?! Emang kita semalam habis ngapain?!" pekik Chanyeol asli histeris. Dia memang senang memimpikan Kris menyetubuhinya dengan berbagai macam pose. Tapi diperkosa dalam keadaan tidak sadar jelas-jelas tidak masuk dalam daftar mimpi liarnya sedikitpun.

Kris tertawa sinis, "Kita? Lo ngebayangin apa sih? Jangan geer deh! Kemarin lo minum sesuatu dan menjerit-jerit panas gak karuan, gue terpaksa gantiin lo baju karena lo basah kuyup. Lo guyur diri lo sendiri di kamar mandi, ingat? Itupun juga lo baru bisa tenang setelah gue bius. Sori. Gue gak punya pilihan lain."

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan mata tidak percaya. Masa sih dia melakukan itu? Dia tidak ingat apa-apa! Dia tidak bisa mengingat satupun yang dikatakan Kris. Chanyeol cuma bisa inget waktu itu dia minum sesuatu yang rasanya seperti soda, tapi setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Eh, tapi… tadi Kris bilang apa…? Bius? Chanyeol dibius?

"Kenapa aku dibius?" tanya Chanyeol heran.

"Terus lo maunya apa? Diperkosa? Jangan harap. Gue emang kere dan susah, tapi gue gak sepicik itu."

Shit. Blak-blakan juga mulutnya nih orang. Chanyeol emang gak pernah membayangkan dirinya dicabuli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tapi kok mendengar omongan tadi keluar dari mulut Kris justru malah bikin dia kecewa ya?

"Cepat turun dari kasur gue dan rapikan diri lo. Gue anterin pulang." perintah Kris.

"Tapi Kris—"

"Cepat dan gak pake tapi!" BLAM! Kris beranjak keluar dari kamar sambil banting pintu. Ninggalin Chanyeol yang plangak-plongok galau dan kebingungan sendiri.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang, Kris cuma diam seribu bahasa. Kalau kemarin masih mau diajakin berbasa-basi, sekarang tidak ada lagi tanggapan atau sepatah kata yang terlontar dari mulutnya. Ekspresinya campur aduk antara marah, cemas dan bingung. Dan untungnya kali ini Chanyeol lebih peka, sesuatu dalam kepalanya menyuruh Chanyeol ikut bungkam dan tidak mendesak Kris untuk ngobrol panjang lebar lagi. Selain itu, Chanyeol juga belum berani bertanya ini-itu lebih jauh. Feelingnya mengatakan Kris diam bukan karena marah padanya. Chanyeol memang tidak bisa menguping terlalu jelas mengingat jarak dari ruang tamu ke dapur lumayan jauh. Tapi sepertinya itu bukan pembicaraan yang menyenangkan.

"Turun." tukas Kris pendek setelah motor (milik salah satu temannya) yang mereka tumpangi sampai di depan rumah kosan Chanyeol.

Chanyeol turun dari boncengan dan melepaskan helm di kepalanya, habis itu disodorin ke Kris. "Makasih."

Kris menerimanya kemudian menyimpan helm itu dibagasi motor.

"Sekali lagi sori ya udah ngerepotin." tukas Chanyeol tidak berani menatap wajah Kris langsung.

Kris naik lagi keatas motor dan menstarter motor butut berknalpot meriahnya. Tek-ketek-ketek-ketek-ketek-duaar!, kira-kira seperti itulah bunyinya.

"Chanyeol."

Chanyeol yang tinggal seinci lagi mendekat ke pintu langsung berhenti dan menoleh.

"Ya?"

Kris menarik napas panjang-panjang, "Kali ini gue mohon, dengan sangat, pergi dari kehidupan gue."

Apa?

"Pergi. Jangan pernah ikutin gue lagi. Masih ingat kan apa yang terjadi kemarin? Itu belum seberapa. Gue masih punya banyak beragam teman dengan watak yang mirip atau bahkan lebih kejam daripada itu."

Chanyeol terhenyak. Kata-kata Kris menghujamnya sampai ke dasar.

"Jalan hidup lo masih panjang, Chan. Masa depan lo cerah. Jangan sia-siain itu dengan bergaul dengan orang kayak gue."

Chanyeol bungkam. Dia memang hanya bisa menatap Kris dalam diam dengan sorot sayu. Tapi sebenarnya Chanyeol sedang berusaha mati-matian menahan air mata yang seperti akan menerobos pertahanannya.

"Oke."

Sekarang gantian Kris yang terhenyak.

"Makasih untuk semuanya dan selamat tinggal." Chanyeol pun berbalik pergi dan menghilang dibalik pintu kosannya.

Gamang, hampa dan menyakitkan. Itulah yang bisa dirasakan Kris saat ini. Terpaksa. Dia tidak punya pilihan lain. Chanyeol harus menyingkir secepat mungkin dari kehidupannya sebelum timbul 'sesuatu' yang lebih besar daripada perasaan ini. Sesuatu yang selalu dikhawatirkan Kris. Sesuatu yang nantinya membuat Kris makin susah melepas namja itu. Lebih baik Chanyeol tetap begitu. Hidup dalam zona nyamannya. Menjadi mahasiswa biasa-biasa saja. Tanpa perlu terlibat lebih jauh dengan kriminal dan komplotan penjahat seperti dirinya.

.

.

TBC—

.

A/N: Maaf menunggu lama (;-.-). Dikarenakan ada kesibukan yang lebih mendesak akhir-akhir ini, membuat saya terpaksa menjauh dulu dari dunia per-ff-an. Tapi akhirnya sekarang bisa balik lagi (^^).

Oh iya, kali ini ceritanya tbc dengan agak nyesek (^^) dan setelah melewati pertimbangan yang panjang, saya gak jadi menampilkan adegan ngasurnya Kris. Hehehe semoga temen-temen gak kecewa :p

Eh iya, yang mau add fb saya silahkan: Rainey Asmarani ;). Saya siap ditempati curcol kapanpun xD. #plakkk! Dasar authot tukang curcol.

Terus ini buat temen-temen guest yang gak ada akun di ffn, sori ya baru bisa saya balesin sekarang (;-.-) semoga gak pada ngambek sama author.

kkamjonghun22: hehehe iya saya juga baru nyadar ini gak panjang, masih ada ff yang lebih panjang lagi ternyata perchapternya, kemarin baru nemu. Oke oke salam kenal balik ;) thx for RnR

odiodi12: Oke sama2 :* makasih buanyaak for always RnR hug from me ({})

neng: hahaha iya itu mah emang si jones satu kasian banget. anyway, thx for RnR chingguw :D

miyuk: hahahaha oke, seneng banget udah berhasil bikin kamu ngakak xD. thx for always rnr ;p :D

A. Ren. O: Leonardo jadi bella swan? o.O emang bisa? hhah. Saya gak tinggal di jabodetabek hehe. Jangan dongg saya kan gak jago beladiri, taunya jurus jambakan halilintar aja(?). Kalau saya kadang-kadang bus sering banget angkot malah. salam kenal dari sesama angkot lovers :D :*

embee: Waduh, sering jadi korban copet? Saya gak pernah sih... ajaib ya? Kalau di jkt dan sekitarnya emang rawan. Ya udah salam kenal aja dari sesama bobo cantik angkot lovers (?) :*

Azure23: haloo azure-ssi, sori ya baru dibales sekarang. Hope u still read it and like it (^^). MkASIHH ^^. Oh baru pertama kali ya? Welcome and moga ngeshipperin juga setelah baca ini ff #ngarep. Kenapa opium ya. deskripsinya ada di chap 1 :D

PrinceRathena: Waduh o.O masuk got jangan dongg nanti saya sedih (emang lu siapa thor?) okeoke makasih banyak udah rnr :* hope u like it

Saya ucapin makasih banyak buat temen-temen yang udah mau review di chap sebelumnya dan haaiii salam kenal buat temen-temen readers baru ;). Peluk cium dari author buat semuanya ({}) :*! Terus saya gak jamin bakal update cepet dikarenakan ada keperluan yang lebih mendesak ^^. Jadi harap maklum aja.

#cukup sekian aja dan RnR ;)