Shinigami At The Train
Pairing : Kaihun dan teman-temannya
Rated : M
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Kyoto, 6 November 2005
Sehun tersenyum senang karena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Okaasannya langsung menelpon dirinya ketika ia sudah kembali bugar. Sebagai anak yang baik, Sehun menghargai Ibunya yang sekarang berada di Korea bersama ayah mereka. Hah, itu tidak masalah asalkan ia selalu bersama kakak manis dan evilnya ini. Sehun membaringkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Udaranya sangat bersahabat. Meskipun cenderung dingin dan aroma petrichor setelah hujan sangat terasa. Pemuda pale skin itu mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Kyuhyun.
"Imo pulang telat. Samchon ada dinas keluar kota. Aku dan Changmin masih mengurusi administrasi siswa pindahan, mungkin aku tidak bisa makan malam bersamamu. Gommeeenn, Hunnaa.."
Sehun cemberut. Kyuhyun sudah berjanji untuk membelikannya bubble tea minggu ini. Dan setelah ia keluar dari rumah sakit, ia ingin sekali minuman dengan bubble cokelat yang terasa kenyal itu. Sehun akhirnya mendekati jendela yang berada persis diatas kasur tidurnya. Orang-orang berjalan dengan sangat cepat dan seperti dikejar oleh hantu. Mengingat tentang hantu, Sehun jadi terikat kepada Kai. Shinigami yang akhir-akhir ini selalu menguntitnya. Ia tidak tahu apa tujuan Kai yang sebenarnya. Tapi, ia yakin kalau Kai tengah datang untuk mengambil nyawa seseorang entah itu siapa.
'Kau memikirkanku...' Sebuah lengan melingkari pinggang ramping Sehun. Pemuda itu tertegun. suara ini sangat dikenalnya karena sangat menjengkelkan dan selalu menggoda hyungnya. Sehun masih dalam masa transisinya sebelum ia merasakan nafas hangat di lehernya serta jilatan di telinga kanannya. Spontan saja, Sehun langsung beringsut menjauhkan diri. Ia mendudukkan diri menatap tajam Kai sembari bersidekap. Si iblis yang ditatap hanya menatapnya santai.
"Untuk apa kau kembali?! Kau sudah menyakitiku." Sehun merajuk. Ia membalik badannya, tidak mau menghadap iblis yang baru ia sadari super tampan itu. Sehun mencengkeram dadanya. Jantungnya kembali bereaksi tidak wajar. Pertama-tama, ia mengusap dadanya perlahan. Tapi, reaksi itu semakin keras ketika Kai mendekatinya. Iblis itu mengambil tempat di samping Sehun dan merengkuh pemuda pale skin itu kedalam pelukannya. Ia tidak menyangka, kekuatannya membuat Sehun menjadi seperti ini.
'Kau benar. Aku banyak menyakitimu...' Kai mengusap punggung Sehun. Memberi kenyamanan supaya jantung yang menjadi sasaran kekuatannya itu sedikit stabil. Kai sudah menduga kalau Sehun akan melindungi pamannya. Dan dugaannya benar seratus persen. Iblis itu mengecup rambut halus milik Sehun hingga membuat si empunya sedikit tenang.
'Tarik nafas sedalam yang kau bisa.' Sehun menurut. Ia mengusak-usak dada Kai, mencari kehangatan. Tubuh iblis yang sedikit tampan ini terasa nyaman dan hangat. Sangat mirip pelukan Changmin.
"Kai, kau ditugaskan untuk mencabut nyawa seseorang, ya?"
DEG!
Iblis itu terdiam. Pertanyaan Sehun sama persis ketika ia bertemu dengan Sehun yang dulu. Jauh ketika Dinasti Jeoson masih berkuasa. Shinigami itu tidak merespon kalimat Sehun. Ia cenderung mendengarnya secara spontan tanpa direspon oleh otak pintarnya.
"Kau kembali mendiamkanku. Apa kau berniat mengambil nyawa keluargaku? Apa itu Tousan? Okaasan? Kyuhyun hyung? Changmin hyung? Paman? Imo? Atau.." Sehun menarik bahu malaikat maut itu untuk menghadapnya. Disaat seperti ini, entah sekelebatan mimpi ketika ia choma kembali menyeruak.
Iris sekelam malam itu hanya menatapnya datar. Tidak memberi reaksi atas desakan pemuda pale yang ada di hadapannya. Kai sedikit menegang ketika Sehun menatapnya intens. Sejurus kemudian, Sehun mencebik.
"Kau berniat mengambil nyawaku, ya?!" Sehun melirik sinis ke arah shinigami yang sedikit tampan-meski terlihat sangat menawan sore ini-yang hanya menatapnya kosong. Dengan segera, Sehun mendorong Kai untuk menjauh dari kasurnya.
"Malam ini-ah, tidak, untuk seterusnya, jangan pernah masuk kamarmu, sebelum aku memintamu untuk mencabut nyawaku!" Sehun dengan segera mendorong shinigami yang masih dalam masa transisi karena perlakuan bocah kurang ajar di depannya ini.
"Dan satu lagi, jangan menganggapku bocah kurang ajar, karena kau lebih kurang ajar dariku!" setelah menyelesaikan kalimatnya, Sehun menutup pintu kamarnya. Ia tidak mau ambil pusing kalau Kai akan menembus pintu, atau melakukan teleportasi, mengingat di mimpinya itu si iblis bodoh itu bisa menghilang. Eh, hantu pasti bisa menghilang. Sehun memukul dahinya. Sudahlah, ia perlu istirahat karena besok ia akan kembali ke sekolah.
...
"Bagaimana pagimu Sehun?" Changmin melihat adik sepupunya yang sudah siap sedia di meja makan. Bibirnya terlihat menggerutu sembari menatap ponsel flip putih miliknya. Pemuda jangkung itu memutuskan untuk menarik kursi di sebelah Sehun-tempat Kyuhyun biasa duduk-dan membuat pemuda pale skin itu terlonjak.
"Berdiri dari kursi ini! Ini punya Kyuhyun hyung!" dengan beringas Sehun mendorong kakak sepupunya untuk menjauh dari kursi milik kakak kesayangannya. Tapi, sepertinya, Changmin masih kukuh untuk bertahan. Ia tidak menghiraukan Sehun yang mendorong pinggangnya, menggeser kursinya, memukul bahunya, dan mengobrak-abrik tasnya. Pemuda jangkung itu terlihat santai dengan sebuah buku sejarah di tangannya. Sibuk memahami berbagai tulisan yang tercetak di dalamnya.
Menyerah, akhirnya Sehun membiarkan Changmin duduk di sampingnya. Ia sayang Changmin, hanya saja, kakaknya yang satu ini pasti akan bertanya tentang pelajaran dengan kosa kata pertama-
"Aku tahu kau jenius dengan IQ 132 yang kau banggakan itu, Sehun-chan." Sehun bersumpah kalau ia bisa melihat Changmin menyeringai setelah ia memanggilnya dengan suffix –chan. Ia yakin kalau ini akan berakhir tidak baik. Sehun berusaha menutupi ketegangannya dengan memainkan ponsel flip putihnya.
"Jadi, jelaskan kepadaku, kenapa kau berbicara sendiri di kamarmu ketika aku pulang kemarin sore?" Sehun sedikit menegang melihat Changmin yang menatapnya dengan pandangan menyelidik. Pemuda jangkung itu menangkap dengan jelas gestur tubuh yang menunjukkan ketakutan yang cukup signifikan.
...
"Ore wa Sehun desu. Hisashiburi." Sehun membungkukkan badannya sopan.
PLAK!
"Sopanlah sedikit dan gunakan bahasa formal, anak muda." Desis gurunya. Pria paruh baya itu mengeryit tak suka ketika Sehun hanya terdiam dan tidak merespon. Baru saja ia akan menegur, tetapi, anak muda yang menurutnya tidak sopan itu harus di beri pelajaran sekali-sekali.
"Watashi wa Sehun desu. Saya dari Korea, jadi tidak begitu fasih berbahasa Jepang. Salam kenal." Sehun melirik sinis ke arah gurunya yang tersenyum kebapakan dan mempersilahkan Sehun duduk. Pria itu mengawasi murid barunya yang sudah ia cap bandel karena sangat menjengkelkan dengan perkenalan sok dekat yang baru saja dilakukannya.
"Baiklah, kita mulai pelajaran sastra Jepang hari ini. Oh ya, ada yang tahu dimana Kai Takeshi? Ia belum datang sedari tadi." Guru itu terlihat kembali memasang wajah ingin marah miliknya. Sehun tidak menghiraukan guru meyebalkan di depannya, tetapi dengan nama yang disebutkan oleh pria di depan kelasnya itu.
"Sumimasen, saya terlambat, Tarashi-sensei."seorang pemuda masuk ke kelas dengan wajah datar. Tidak menunjukkan rasa bersalah karena dia terlambat atau apapun itu. Sehun hanya melirik sekilas dan tidak tertarik. Ia kembali mengalihkan kepada soal fisika yang baru saja ia kerjakan. Kedua kakaknya memang sedikit keterlauan kalau memberi soal. Toh ini untuk persiapan masa depan Sehun-kata Changmin dan Kyuhyun dengan gaya yang bukan mereka sekali. Ia yakin kalau pemuda itu akan menuju ke bangku barunya.
"Kai, kembali ke bangkumu. Kau memiliki teman satu bangku sekarang." Seperti yang ia duga, guru itu menyuruh pemuda bernama Kai Takeshi itu untuk duduk di sampingnya. Tapi, satu hal yang bisa membuat tengkuk Sehun meremang adalah seringai dari orang yang duduk di sampingnya ini.
'Selamat pagi, Oh Sehun'dan Sehun hanya bisa merutuk dalam hati karena tingkah laku shinigami yang selalu membuat kepalanya pusing dan otaknya miring sejenak. Hanya sejenak, tidak selamanya. Dan ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menghindari iblis satu ini. Jadi Kai Takeshi itu adalah Kim-bodoh-Kai yang selalu menguntitnya kemanapun ia pergi? Sungguh sial!
'Kau tak akan bisa menghindariku, Sehun-chan.' Tangan kanan Kai mengelus paha kiri Sehun. Membuat pemuda pale itu menggigit bibirnya karena iblis sialan itu menyentuh di bagian titik sensitifnya dengan sempurna.
'Lindungi hambamu ini, Kami-sama' ratap Sehun merana.
...
Pria dengan jubah hitam dan tanda api di kaki jubahnya terlihat berjalan dengan santai. Ia tidak menghiraukan berbagai pandangan yang ditujukan kepada dirinya. Pria itu terus melangkah. Tujuannya hanya satu. Tokyo Shinkadai Kòkou. Tempat orang yang menjadi mate-nya bersekolah. Ia sudah mengirim telepati ke salah satu anak buahnya. Tetapi, iblis bandel yang satu ini tidak juga merespon gelombang miliknya.
"TUAN, AWAAAAASS!" sekonyong-konyong, ada seorang pemuda menggunakan sepatu roda meluncur ke arahnya. Dapat pria itu duga kalau bocah SMU ini pasti tidak bisa mengerem laju sepatunya. Dengan gesit, pria berjubah itu dengan segera menangkap pinggang ramping si pemuda itu, mencegah kejadian yang lebih fatal.
Nafas si pemuda masih memburu, terkejut dan masih tegang. Ia masih menahan posisinya, sebelum ia sadar kalau ada orang yang menolongnya.
"Terima kasih. Anda siapa? Aku tak pernah melihat anda disini?" terkesan tidak formal dan tidak basa-basi. Pemuda itu menjauhkan dirinya. Ia menata rambut cokelat madunya dan memperhatikan pria berjubah yang menurutnya mirip dengan patung Dewa Poseidon di perpustakaan sekolah. Intinya, sangat tampan.
"Aku hanya sekedar mampir. Boleh tahu namamu?" Kyuhyun-pemuda itu mengernyit. Hei, mereka berdua baru saja bertemu, dan pria ini baru saja, mengajaknya kenalan? Che! Memang dia orang seperti apa? Ia bukan Changmin yang dengan mudah akrab dengan banyak orang.
"Maaf, kau tidak sopan." Dengus Kyuhyun langsung. Perkataannya yang tajam membuat pria itu mengernyit.
"Tidak sopan mana dengan tidak menggunakan bahasa formal kepada orang yang lebih tua?" dengus pria berjubah itu menatap tajam Kyuhyun yang mencebik.
"Kau pikir aku takut dengan tatapanmu itu?" Kyuhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia melepas sepatu rodanya dan berbagai atribut keselamatan lainnya.
Piiiiiipppp!
"Ye, moshi-moshi? Changmin? Bodoh! Sebentar, aku lupa membelinya." Dan setelah itu, Kyuhyun segera berlari melewati pria berjubah hitam itu tanpa salam perpisahan.
Pria berjubah itu menyeringai. Ia sudah menemukan orang yang tepat sebelum ia melakukan pencarian lebih ke dalam sekolah. Hah, mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya.
...
"Kyuhyun hyung, ayo pulang. Samchon dan Imo tidak bisa pulang malam ini." Sehun terus mengekor Kyuhyun yang masih sibuk dengan berkas OSIS. Changmin menghukumnya karena terlalu lama keluar rapat hanya karena lupa membeli memo-card satu paket untuk dibagikan ke anak kelas tiga. Sehun tahu dengan pasti kalau Changmin pasti akan berteriak frustasi mengingat hanya pemuda jangkung itu yang waras di rumah mereka-ah tidak, Samchon Yunho juga waras.
"Sehun, pulanglah lebih dulu. Festival musim dingin sebentar lagi akan digelar. Aku akan membicarakannya dengan Changmin. Sayur ada di kulkas, jangan buat mie instan oke?" Kyuhyun mengusak rambut Sehun. Pemuda pale skin itu menunduk kecewa. Ia pasti akan di rumah sendiri.
"Padahal, alasanku untuk pindah ke Jepang adalah supaya aku tidak kesepian." Sehun merajuk. Ia mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun yang masih sibuk dengan setumpuk berkas dari Changmin.
"Oh Sehun, jangan memulainya lagi. Aku tidak suka dengan keluhan. Sudahlah, kupastikan pukul lima, aku dan Changmin sudah sampai di rumah dan menemanimu makan malam. Atau, kalau tidak, kau bisa mengundang teman sebangkumu untuk mampir." Mendengar kata 'teman sebangku' membuat Sehun dengan segera mencubit pinggang kakaknya.
"Sudah Sehunie, Kai Takeshi,, berhubung kau cukup dekat dengan adikku, kumohon jaga dia ketika ia ada di rumah, ya?" Sehun mengikuti arah pandang Kyuhyun yang lurus ke samping kirinya. Oh, Kami-sama, ia sudah seharian penuh terjebak dengan iblis mesum, gombal, dan menjijikkan di depannya. Dan sekarang, Kyuhyun dengan santainya menyerahkan tanggung jawab adik kecilnya, menjadi tanggung jawab Kai-bodoh yang menjadi penjaganya.
'Kita bisa berpesta, nanti malam' dan Sehun bersumpah ia bisa melihat seringai mesum terpampang di bibir tebal sang shinigami. Sial. Tapi, Sehun heran kenapa Kyuhyun bisa tahu nama teman sebangkunya? Ini hari Rabu dan para siswa memakai pakaian bebas tanpa tanda pengenal.
.
.
.
TBC
Jwesonghamnida...jwesonghamnida #bungkuk
Ehem, berhubung sudah selesai uas, dan baper dengan rangking, saya memutuskan untuk,#authorhoror
Nggak, langsung aja. Maaf banget deh kalau ancur atau nggak nyambung dan tambah bingung. Kangmas tercinta liburan mendaki gunung tapi nggak diajak akhirnya pengaruh ke ff. Gomeeen
