[ Benang 4,1 - Cyan Baekhyun ; Naluri]

Seingatku, aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

Merampok, meneror, membunuh. Aku tidak pernah melakukannya, bahkan tidak ada setitik pun nafsu untuk mempunyai niat.

Namun, mengapa mereka semua menatapku layaknya aku durjana dunia? Menjaga jarak sejauh mungkin seakan eksistensiku mengancam nyawa mereka?

Bahkan, Kyungsoo berada di kerumunan sana. Menatapku dengan sorotan mata yang tidak dapat kuartikan. Aku menatapnya, memohon pertolongan. Namun, ia malah membuang muka, dengan raut wajah yang masam.

Aku tidak pernah merasa dikhianati seperti ini.

Suara kusen tua mengalihkan kebisuan di ruangan ini. Menampakkan sosok yang kucari sedari tadi. Ibu, sedang berdiri dengan dua Elvish berbadan besar sedang mengawalinya, ia nampak seperti narapidana yang siap untuk dihakimi kapan saja.

Narapidana apa? Ibu tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Saat manik kami bertemu. perasaan takut bertabuh, aku kira ibu akan marah karena aku pergi tanpa sepengetahuannya. Namun, sendu biru lah yang kudapati dari air wajahnya. Kelir wajahnya meleleh bagaikan keringat, aksen kuat dan tangguh luntur seiringnya tatapan itu menyedot eksistensiku. Seperti sedang dilanda rindu.

Ada banyak sekali yang ingin kutanyakan kepadanya. Perihal luka bakar di punggungku, aku tidak ingin berasumsi hal yang menyebabkan rasa jangar. Ibuku lebih tau persoalan ini daripada siapapun, aku hanya ingin mendengarnya langsung dari bibir ibu.

Ia duduk di kursi sebelahku, yang terletak di fokus ruangan. Bulu kudukku meremang, menyadari kami yang menjadi pusat perhatian. Mereka bergumul menatap kami dari serambi atas, seperti sedang mencari hiburan.

Namun, ini bukanlah arena sirkus. Aku bukanlah gajah atraksi, dan ibu bukanlah sang pemandu.

Ini adalah ruang pengadilan. Tempat di mana para penjahat dijatuhi hukuman.

Lantas kenapa aku berada di sini? Menjadi tontonan gerumulan kawan? Aku bukanlah pendosa, namun aku diperlakukan layaknya bajing yang hina.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, tidak ada hakim dan kawanannya di mimbar yang membundar. Namun, ada yang lebih buruk dari itu.

Aku melihat Cyan Yunho dan peninggi klan yang lain, tengah bersidekap dada menatap kami dengan pandangan yang seakan menembus kepalaku. Terlalu tajam dan sengit, mereka seperti ingin menelanku hidup-hidup.

"Apakah tidak apa?" tanya salah satu peninggi klan yang berada di dalam barisan, menatap ke Cyan Yunho yang sedang berdiri di tengah-tengah mereka, namun yang ditanya tidak menatap balik, ia sama sekali tidak melepas pandangannya dariku. Aku merasa tidak nyaman ditatap terus menerus seperti itu.

"Tidak, aku tidak ingin pihak kerajaan sampai turun tangan." ucapnya sesekali melirik ibuku yang sedang tertunduk diam. Mencari pikiran, atau sedang dibuai rasa lelah. Aku tidak tahu menahu

"Lagipula, kita sudah membawa tersangkanya datang ke sini"

Bulu kudukku berdiri, keringat bercucuran ke sana ke mari. Jemariku bergetar dalam sunyi, gigiku kusengaja terpelatuk dalam rongga birai. Perlahan-lahan, aku bertanya kepada diriku sendiri, sembari menimbang-nimbang kesalahan apa yang sudah kuperbuat di kehidupanku sebelumnya. Apa luka bakar di punggungku ini adalah tanda dari pembunuh fenomenal? Atau pemberontak kerajaan?

Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, terasa dunia menyembunyikan fakta pahit, agar aku tidak tersengat di awalnya. Namun, pada akhirnya aku tetap tersengat di akhir cerita. Dengan kadar yang tinggi sampai tubuhku menegang tidak bernyawa.

"Baekhyun" panggilan itu mampu membuat jiwaku retas dari raga. Aku mengangkat pandanganku ke sana, ke arah yang memanggil namaku begitu lantangnya. Aku tidak sanggup untuk sekedar menjawab, hanya keluguan yang dapat kutampilkan di layar ekspresiku. Memasang wajah sejujur apapun untuk meyakinkan mereka bahwa aku hanyalah domba lugu yang tidak pernah mencoba untuk mencuri daging lembu.

Namun tatapannya seperti sedang mengeksekusi seekor Canis Lupus

"Apa kau tahu alasan kami memanggilmu ke sini?" tanya yang lain dengan kalung kait berbatu merah jambu. Aku menggeleng kepalaku dengan spontan, benar-benar tidak mempunyai akal atas hal ini semua.

Cyan Yunho memejamkan matanya sejenak, terasa berat untuk melepaskan apa yang ada di dalam pikirannya. Entah apa yang ingin ia katakan, tentunya itu sangat memberatkan hati dan butuh banyak pertimbangan. Merancang susunan kata seringkas mungkin agar segalanya dapat terselesaikan dengan mudah. Namun..

"Ibumu" helaan kasar mengiringi suara itu. bangkitnya pandangan seraya dengan ucapan yang memberatkan hati.

..."Ibumu lah penyebab dari semua ini. Atas segala pertanyaan yang ada di pikiranmu, rasa sakitmu, dan kegelisahan yang menghantuimu. Perempuan di sampingmu lah yang menjadi dalangnya"...

...aku tidak yakin apa permasalahan ini dapat diselesaikan dengan mudah.

Setelah kata yang terucap, sepintas aku memikirkan kemungkinan yang ada pada setitik pun makna yang tersirat. Namun, sebagian diriku menolak pernyataan itu.

Ia tidak berhak menghakimi ibuku! Atas dasar apa ia mengatakannya!

"Apa maksudmu?" ucapku menggertak. Gertakanku mendapatkan antisipasi kepada yang lainnya. Terbukti dengan petinggi klan lain yang mulai mengambil bumerang dari sakunya.

Memangnya aku apa? Monster hutan yang mengerikan?

Aku menoleh ke arah ibu, berniat untuk meminta respon ataupun penjelasan darinya, namun ia sama sekali tidak menyangkalnya, ia terlihat lesu dan tidak berdaya.

Apa yang terjadi dengan ibuku?

"Ibumu sudah melakukan dosa besar!" Cyan Yunho memukul meja di hadapannya, dentuman suara menggema akan sunyi, seperti ingin di eksekusi mati. Kesabaran sudah membuih dari isi kepalanya, uapnya tak tersisa hingga urat-urat itu muncul dengan kentara di bagian pelipisnya. "Beruntung sekali aku tidak langsung memenggal kepalanya begitu mengetahui hal ini, Baekhyun!".

Aku tersentak di tempatku. Cyan Yunho tidak pernah semurka ini sebelumnya, tidak, setidaknya tidak di hadapanku.

Aku menoleh kembali, ibu tetap membisu dengan wajah tertekuk ke bawah, jika ibu tetap dalam keadaan seperti itu aku yakin beberapa menit setelahnya wajah ibu pasti sudah mencium tanah.

Tidak ada pembelaan, tidak ada pernyataan apapun. nampak seperti perbuatan sang pelaku

Namun, ibu telah melakukan dosa apa?

"Ibuku bukanlah pendosa!" ucapku lantang dengan secercah harapan di dalam benakku.

Namun, sepercaya diri apapun, tidak ada satupun yang berpihak kepadaku.

"Kenapa kalian menatap kami seperti itu! kenapa kalian-

"Sudahlah Baekhyun!" suara yang sedari tadi kunantikan memotong ucapanku. Di sana, ibuku berujar dengan uraian air matanya, terlihat repas dan pasrah "Memang benar adanya, ibu adalah pendosa, anakku.."

Cyan Yunho terlihat senang atas jawaban ibu.

"Ya! Memalsukan Thread adalah dosa besar. Cyan Haejin" tuding Elvish lain dari serambi atas, tempat di mana semuanya berkumpul. Sedari tadi mereka hanya terdiam namun sekarang mereka terlihat sangat murka dan bringas, tatapan mereka seperti ingin membunuh ibuku.

"Dewi Hera sudah mempercayakan Thread kepada klan Cyan, tapi kau mematahkan reputasi itu. kau adalah Elvish Thrella yang terkutuk Cyan Haejin!"

"Bangkaimu tidak akan membusuk!"

"Arwahmu tidak akan diterima di sisi manapun!"

Kata demi kata, ucapan demi ucapan yang terlontar menyakiti hatiku. Naluri anak lah yang membuat air emosiku mengalir melihat ibu diperlakukan seperti ini. Aku tidak mengerti mengapa ibu diam saja, aku yang mendengarnya saja sudah sakit telinga.

"Kenapa kau diam saja Cyan Haejin? bukankah kau cerdik dalam membual? Lalu bagaimana dengan-

"Berhenti berkata jahat ke pada ibuku!" sergahku tak kuat menahan lebih lama lagi, namun bukannya ciut, mereka semakin memperlihatkan seringaiannya.

"Apa yang kau lakukan Baekhyun?" ucap Fuchsia Hani. Teman akademiku dulu "Apa yang dilakukan wanita tua itu sehingga kau menjadi sebodoh ini!"

"Kau sudi membela Elvish yang sudah membuatmu menderita selama ini?" tanpa menunggu untuk kujawab, Silver Sungyeol sudah melontarkan pertanyaan yang serupa.

Mereka tidak ingin jawaban, mereka hanya ingin aku merasa tersudutkan.

Perbuatan Cyan Yunho membuat keadaan hening seketika. Semuanya memperhatikan pergerakannya yang menuruni mimbar dengan segulung kertas di genggamannya. Setiap langkah yang ia ambil, semakin tercekat nafasku di pangkal tenggorokan. Langkahnya seperti sedang membawa kematian.

Tubuh tingginya tiba di hadapanku. Aku terduduk ketakutan, tidak dapat melakukan apa-apa selain mengatup bibirku. Bernafas pun sungguh sulit di saat seperti ini. benar-benar bentuk intimidasi yang luar biasa.

Ia menyentuh kudukku. Membuat wajahku mendongak kehadapannya, aku terkencar-kencar namun harus pasrah di saat yang bersamaan. Ketika permukaan kasar tangannya menyentuh wajahku, aku tahu aku sedang tidak dalam keadaan aman,

Tangannya yang kasar menyentuh pelipisku, lalu menekan garis antara kedua alisku dengan keras, aku terbelalak akan rasa sakitnya, sentuhan itu seperti memaksa masuk untuk mengoyak pikiranku, membuatku berteriak kesakitan karena rasa spontan itu.

Tekanan itu membawa pandanganku pergi ke ruangan gelap gulita, seperti sedang berada di dalam ambang ke sadaran. Setiap sengatan yang dihasilkan, potongan-potongan kecil yang berhamburan tak menentu mulai memunculi layar hitam pikiranku.

Aku melihat ayah, ibu, Yerim, serta kerabat yang lain di dalam potongan-potongan itu. sepercik aku mengingat sesuatu.. ini adalah potongan peristiwa yang sudah terjadi.

Mungkinkah...

Potongan-potongan kecil itu berisi gambar atas segala memori, ilmu, perasaan dan pengetahuan yang mulai memudar di dalam kotak pikiranku?

Benang merah, panah,busur, bintang kejora, perahu layar yang koyak...

Potongan-potongan itu bergetar-getar tak stabil, membuatku terguncang dalam angan-angan pelik itu.

Layar hitam itu kembali menampilkan Yunho yang tengah menunduk menatapku. Semua memori itu, perlahan masuk ke dalam otakku. Terlalu banyak, sehingga lututku tak sanggup untuk menopang tubuhku. Aku rubuh dari pendirian.

"Miris sekali, banyak sekali yang hilang dalam pikiranmu". Ucap Cyan Yunho sendu, merasa iba kepadaku "Inilah akibatnya jika ada yang memalsukan Thread".

Semua rasa sakit itu. Memori di mana ibu menangis tersedu melihatku yang sekarat karena rasa ganjil yang menghantui tubuhku. Benang merah rajutanku di akademi, adikku yang menangis pertama kali di pelukanku, cerita Thread yang selalu ibu ceritakan sebagai penghantar tidur. dan...

Sapaan Firebrick Chanyeol kepadaku yang sedang memerhatikannya dari jendela kamarku

Semua memori itu membuatku menangis tersedu. Aku tidak dapat berdiri atas segalanya. Memori itulah jawabannya. Oleh karena itu aku sekarang mengerti.

Aku bangkit untuk menatap ibuku dengan siratan kekecawaan yang mendalam. Air mata sudah tumpah ruah mengaliri dataran pipinya, terlalu menyesal sudah melakukan hal ini semua.

"Jadi, kau sudah mengetahuinya sayang..." ucap ibu dengan senyuman pahit di dalam tangisannya, ia berusaha untuk mendekat ke arahku, melebarkan tangannya seakan ingin membawaku ke dalam pelukannya

"Maafkan ibu..Baekhyun"

"T-tidak.." aku menggeleng kepalaku dengan cepat, memundurkan tubuhku sedikit demi sedikit untuk menjauh darinya "Atas semua yang kau lakukan? Tega-teganya kau melakukan itu kepada anakmu sendiri!"

Ibu terlihat terluka atas jawabanku. Ia memang pantas mendapatkannya! Akulah yang paling terluka, akulah yang menanggung semuanya!

"Jadi ini jawabannya huh? Jawaban atas semua perlakuanmu kepadaku? alasan dari mengapa aku diberhentikan dari akademi, mengapa ayah meninggal dalam pelayarannya, mengapa aku tidak boleh meninggalkan kastil karena...k-karena..." aku tidak sanggup mengucapkannya, ingatan itu terasa segar sekali. Rasanya seperti kemarin aku melihat senyumannya yang menjadi penghantar manis sapaan hangatnya di kala itu.

Namun... karena ibu aku melupakan semuanya, dan hidup dalam ketidak tahuan yang naif dan sengsara.

"Aku melakukannya demi dirimu!" ucap ibu penuh pembelaan atas perbuatannya. Dimana disambut tak sedap oleh yang lainnya.

"Itu terjadi karena keegoisanmu sendiri!" ucap Cyan Yunho bersidekap dada, sedang aku mulai berlari ke belakang punggungnya, meminta tempat untuk berlindung

Bahkan di dunia ini pun, aku tidak dapat mempercayakan hidupku ke pada ibu.

Ibu membalas tatapan itu dengan tatapan lelah namun murka di saat yang bersamaan. "Memangnya kalian dapat menerima fakta ini dengan mudah? Kenyataan bahwa anak lelakiku menjadi Estelle murni adalah sesuatu yang tidak dapat diterima begitu saja. jika iya, maka dari itu aku memang egois!" suara lantang itu menggema memenuhi ruangan, bahkan di saat seperti ini ibu terlihat tegar.

Tidak ada respon apapun dari serambi atas maupun mimbar, mereka membisu seketika.

"Aku hanya ingin melindungi anakku, walaupun benar aku mengakui bahwa perbuatanku salah, namun.. kumohon jangan pisahkan aku dengan Baekhyun". Ucap ibu dengan suara yang melembut, penuh ketulusan dan rasa kasih sayang.

Nada itu berbeda dengan biasanya, mengingatkanku kepada ibuku yang dulu, yang sangat lembut, yang tidak mengekangku, dan yang selalu memelukku. Namun, aku benar baru menyadari bahwa satu-satunya kesamaan yang selalu ada adalah...

Ibuku yang dulu dan ibuku yang sekarang selalu menyayangiku.

"Sayang sekali Cyan Haejin.. kau sudah dikenai hukuman mati atas tindakanmu" ucapan itu meruntuhkan lamunanku, bagai tersambar petir di siang hari aku menoleh tak terima atas hukuman itu.

"Hukuman mati?" aku mengulangi ucapannya dengan nada tinggi. "Ibu masih bisa diampuni, ia sudah mengakui dosanya!"

"Tetap saja Baekhyun. Haejin sudah mengancam jiwa bumi arda atas tindakannya itu"

Ibu tidak dapat berkutik apapun, bahunya bergetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi walau tetap tegar dengan tubuh yang berdiri tegap.

"Ini tidak bisa! aku tidak mau ibuku di hukum mati!" akibat ucapanku itu, Aku merasa cengkraman lain di sutraku. Aku dipaksa menoleh ke arah selatan dengan Kyungsoo yang sedang menatapku dengan tatapan tajamnya.

"Apa kau gila?! Kau sudah menyadarinya namun tetap saja melindunginya!" teriaknya tepat di hadapanku, aku kembali menangis di hadapannya. Setelah memalingkan wajah, inikah yang Kyungsoo lakukan kepadaku?

"Tak peduli apapun yang kau pikirkan, ia tetaplah ibuku!" aku berusaha untuk melepaskan cengkramannya. Namun Kyungsoo malah semakin mengeratkannya.

"Namun di mata kami, ia adalah pendosa!"

"Aku tidak bisa membiarkan kalian menyentuh ibuku!" setelah cengkramannya melemah, kugunakan itu untuk meninju perutnya kuat-kuat. Membuat Kyungsoo terjerambab dari tempatnya. Aku menoleh ke arah ibu, Elvish-Elvish yang berada di serambi atas sudah meloncat kearah ibuku dan mengepungnya. Memberikan pukulan demi pukulan kepada ibuku dan jambakan surainya.

"Jika kau tidak ingin ia di eksekusi mati. Maka biarlah kami yang membunuhnya!"

Ibu menunduk kesakitan, berlindung di balik tangannya yang ringkih dari segala pukulan yang dilayangkan. Aku berusaha untuk pergi melindungi ibu dan menyelinap masuk ke dalam kerumunan itu. Namun tidak ada sedikitpun celah, yang ada aku mendapatkan pukulan dari berbagai arah.

"Jangan pukul ibuku!" aku menjambak rambut siapapun yang memukul ibuku, namun nihil, itu tidak berdampak sedikitpun.

Aku melihat tubuh ibu yang semakin melemah, ia tidak melakukan perlindungan apapun. wajahnya terkena pukulan dari berbagai arah dan juga tendangan di sikut ataupun bahu. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak menerima, kuterjang kerumunan itu walau perih terasa.

"Tidak-tidak kumohon hentikan ini!" isakku memohon namun tidak ada satupun yang mendengar.

"BERHENTI!" bentakkan itu sukses membuat pukulan yang dilayangkan berhenti. Mereka menoleh ke sumber suara, di mana Cyan Yunho sedang bersidekap dada atas keheningan semua. aku terlempar ke belakang, terjatuh tepat di sampingnya.

"Sebenarnya ada baiknya juga kita mendengarkan permintaan dari Cyan Baekhyun" ucapan itu membuat kontroversi seketika, belum sempat ada yang protes Cyan Yunho pun melanjutkan ucapannya kembali "Jika aku puas atas permintaannya, maka permintaan Baekhyun akan dikabulkan, namun jika sebaliknya Cyan Haejin akan tetap di eksekusi mati"

Aku hampir terjatuh kembali, sebelum aku bangkit dengan sempurna. Aku terdiam, ini adalah tindakan yang sulit. Di tanganku ada nyawa ibuku. Apa yang harus aku pinta darinya?

Aku memejamkan mata, berusaha untuk mencari permintaan sebaik mungkin agar ibuku tetap terselamatkan. Namun pada kenyataannya, heningnya keadaan membuatku resah, hingga satu membuka suara yang memintaku untuk sesegera mungkin menentukan pilihannya membuat hatiku goyah, pikiranku buyar ke segala arah.

"Ya, waktu habis kita akan-

"T-Tunggu!" sanggahku dengan cepat. Cyan Yunho membalikkan badannya, dan menatapku penuh tanya, menanti jawaban atas pilihan yang ia berikan.

"A-Aku ingin... " lidahku terasa kelu mengucapkannya, terlalu takut untuk memberikan pinta kepadanya. Nyatanya, perbuatanku itu membuat yang lainnya merasa kesal.

"Lama sekali. Sudahlah, arah wanita ini ke-

"A-Aku tidak ingin ibuku tidak di eksekusi mati. Ia bisa diampuni dengan menjadi buruh desa atau bekerja di kawasan perbatasan" ucapku dalam sekali tarikan nafas, tanganku memilim-milin sutra yang kupakai, takut setengah mati akan respon yang diberikan.

"Bukankah itu terlalu ringan?" Sahut yang lain dan disetujui oleh kelompok lainnya.

"A-Apapun itu lakukanlah asal tidak mengancam jiwa ibuku. Bagaimanapun juga, tidak ada anak yang ingin ibunya dieksekusi mati.."

"Apapun ya?" Cyan Yunho terlihat sedang menimbang ucapanku

"Bagaimana jika bekerja di kawasan perbatasan, ditambah lupa ingatan?" ucap salah satu ketua klan yang berada di mimbar.

"Tidak, menghapus ingatannya tidak dapat membuatnya merenungi dosa-dosanya. Bagaimanapun, hukuman ada untuk merenung. Jika ingatannya dihapus, tidak ada dasar dari hukuman tersebut" sanggah yang lainnya dengan usapan di janggut tebal. Aku menanti-nanti keputusan terbaiknya dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisku.

"Ya, benar juga. Kalau begitu.." Cyan Yunho menghela nafasnya kasar "Aku ingin Cyan Haejin dipekerjakan di kawasan perbatasan tanpa Obellix di dalam dirinya, bagaimana?"

Semuanya berbisik-bisik meminta pendapat, aku tertegun dalam pendirianku. Elvish tak akan berguna jika ia tidak mempunyai Obellix. Ibu akan semakin lemah karena bagaimanapun juga Obellix adalah bagian dalam dirinya.

"Menurutku itu sudah cukup" ucap yang lainnya, dan disetujui dengan kerumunan yang lain. Aku tidak bisa mengelak, lagipula masih untung Cyan Yunho masih memberi kesempatan ibu untuk diampuni. Aku harus banyak-banyak bersyukur.

Namun, ini tetaplah tidak adil.

Setelah palu dipukul, semuanya merasa puas dan pergi meninggalkan ruangan sidang, seakan kejadian yang tadi hanyalah angin yang lalu, mereka bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.

Kini hanya tersisa aku, Yerim dan ibu yang terkulai lemah di pelukanku, dengan wajah penuh luka lebam akibat pukulan tinju dan tendangan dari berbagai arah yang semakin menyakitkan hatiku.

Yerim tidak berhenti menangis melihat keadaan ibu, aku pun tidak ada bedanya. Air mata tidak berhenti mengalir di pipiku.

"Aku takut oppa..." ucap Yerim dengan gemetar menyentuh lenganku. Mengusak wajahnya di sana untuk mencari kehangatan.

"Jangan takut Yerim... semuanya akan baik-baik saja". Entah, aku pun ragu saat mengatakannya. Aku tidak dapat memastikannya, pasti ada pihak yang tidak setuju atas keputusan ini. dan juga kenyataan bahwa aku adalah...

"Baekhyun?" suara itu menyadarkan lamunanku, aku menoleh ke sumber suara dan menemukan Chanyeol dengan kondisi kusut, seperti sedang terengah-engah akan sesuatu. Bola mataku melebar melihat manik marunnya yang menatapku penuh rindu, entah mengapa naluri aneh menguasai pikiranku, karena aku pun juga.

Ia berlari ke arahku dengan langkah yang tergesa-gesa. Entah dorongan apa itu, membuat tubrukan tubuhnya terjalin denganku dalam balutan yang sempurna. Ia menekan kepalaku di dadanya untuk memperdengarkan detakan jantung yang sedang berpesta ria. Ia mengecup pucuk kepalaku berkali-kali sembari terus mengucap..

"Estelleku... Estelleku... Estelleku...akhirnya aku menemukanmu.."

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku merasa gila karena perasaanku seketika berbanding balik dari sebelumnya. Aku tidak pernah merasakan ini, naluri apa ini? apakah ini hal yang wajar?

Aku tidak tahu apa yang sepenuhnya terjadi, yang penting ini bukanlah naluri yang biasa.

Aku memutuskan untuk tidak mengambil pusing akan hal itu. aku hanya ingin menikmati perasaan ini sebelum otakku kembali mengambil alih. Biarkan aku melupakan segala kesakitan ini untuk sementara, dengan sandaran sepenuhnya, dan menyamankan posisiku di dalam pelukannya.

Aku tidak akan menyesal jika naluri ini adalah bagian dari...

Yah. Naluri Estelleku.

Naluri yang membuat duniaku seketika berpusat hanya ke padanya.

Kepada Elvish yang tengah merengkuhku saat ini, atau lebih tepatnya ia kini mulai mengambil tindakan untuk mencium bibirku lembut.

Ini gila.

Ia adalah lelaki dan aku pun sama. Tapi aku membiarkannya terjadi begitu saja. detakan ini jauh berbeda dengan detakan kepada Elvish wanita yang kusukai di akademi dasar.

Ini jauh lebih indah.

Apakah ini salah satu keindahannya?

Aku terengah-engah ketika Chanyeol memutuskan ciuman kami. Wajahku memerah malu menatapnya, ia pun tidak ada bedanya, kemerahan mulai menjalar sampai ke kupingnya. Setelah ciuman-ciuman yang memabukkan, kami kembali ke dunia nyata.

Aku memeluknya kembali, sembari memikirkan persoalan yang ada. Mungkin setelahnya akan ada yang tersakiti, atau perubahan sifat atas segala kenyataan ini. entah dari baik ke buruk, ataupun dari buruk ke baik. Aku meyakini hal itu...

Ya. Itu hanyalah Naluri..

.

.

.

.

[ Di sisi lain pada kediaman Cyan]

Wanita itu tidak terlihat cantik seperti biasanya, senyum yang menghiasi bibirnya tidak terbingkai seperti dahulu kala. Raut wajahnya gelap gulita. Yang ada hanyalah kantung mata yang membengkak dengan manik yang tidak berhenti mengeluarkan air mata

Bibrinya tergerak seperti sedang melafalkan kutukan kepada siapapun yang membuatnya menderita atas keterpurukan yang sedang di alaminya.

Ia berubah menjadi wanita yang penuh aura hitam, dendam dan kejatuhan atas apa yang ingin ia raih selama hidupnya.

"Cyan Baekhyun.. Cyan Baekhyun... kau tidak akan pantas bersanding dengannya.."

[Benang 4,1- Cyan Baekhyun ; Naluri – END]

TBC

Holla Fellas, bagaimana kabarnya? Sudah lebih 2 bulan semenjak update terakhir. Ada kah yang kangen? Huehehehe.

Untuk chapter ini emang pendek banget dari chapter-chapter sebelumnya. Sengaja sih biar endingnya lebih enak HEHEEHHE.

Untuk yang masih nyariin Chanbaek, harap bersabar ya. Karena chapter depan akan banyak moment Chanbaeknya, setelah berbagai cobaan yeayyy XD

Aku harap kalian suka sama chapter ini. terima kasih atas segala review untuk chapter-chapter sebelumnya. Thank you so much!

Big loves,

HapkidoTwink