Konbanwa minna~
Wah wah pasti pada syok ya atas sikap Sasuke kemarin pas balas reviews kalian?
Maklumin aja, dia kan emang gitu orangnya.
Karena polling yang minta Itachi-nii balas reviews hari ini banyak, Shera bela-belain ngerayu Itachi-nii buat balas reviews kalian lho~
Balasan Reviews~
Itachi : Selamat sore. :)
Hari ini aku yang akan membalas reviews kalian. Semoga berkenan, dan tidak menyinggung. Sebelumnya aku merasa menyesal kepada Sasori, hari ini seharusnya ia yang akan membalas reviews kalian. Maaf ya, Sasori. (Sasori : aku rha po po *pundung*)
Me, terima kasih atas dukunganmu. Semoga Fict ini tak akan emngecewakan. :)
hanazono yuri, terima kasih buat review-nya.. :)
Lui H, menurut Author, Fict ini akan dibuat dalam part yang cukup panjang.
semoga kamu nggak bosan dan terus mengikuti kisah kami ya... :)
edelwish, terima kasih atas review-mu... :)
UchiHarunoKid, ah sepertinya Sasuke nggak ernah ngapa-ngapain. *lirik Sasuke curiga*
Haruchan,maaf atas sikap adikku yang keterlaluan ini ya. *bungkukkin kepala Sasuke*
Sebenernya kalau boleh kasih tau, Author-san udah janji akan kasih adegan lemon nggak lama lagi, mungkin karena itu Sasuke mau membalas reviews. *dijitak Sasuke*
Black SS pearl, Maaf, maafkan adikku ini. Dia mungkin sedikit sadis, tap sebenarnya Sasuke anak yang baik kok.
Selama Author-san berhasil menyelesaikan script secepatnya, kami akan langsung melakukan take. Jadi semoga saja kami masih bisa terus update setiap hari ya. :)
febri Feven, terima kasih atas review-nya... :)
Ara-chan, salam kenal, Ara-chan. Senang berkenalan denganmu.
terima kasih atas review-nya... :)
Lussia Thinkaruin, iya sebenarnya memang dia anak yang manja. *dijitak Sasuke lagi* (Shera : Sasuke! sama kakak sendiri kok nggak sopan! *ngomel*)
Reako Mizuumi, Sasuke dan Sakura berciuman? kapan?
*aku nggak tau*
Zanah pinkyblue, bisa jadi, karena sejak kecil Sasuke memang mudah cemburu dengan orang lain.
Hm... lemon ya. Ah iya, mereka akan segera melakukannya. *entah kenapa jadi sedih* :(
Luca Marvell, Sayang sekali Ino tak muncul di Fict ini..
Author-san bilang ia sudah terlalu sering membuat Fict dimana Sakura dan Ino bersahabat dekat.
Sepertinya Author-san ingin lebih mendekatkan Hinata dengan Sakura. :)
Uchiha ratih, Untungnya di sini tak ada Yuri maupun Yaoi. Aman... :)
Wah, senang sekali bisa berkenalan denganmu. Terima kasih atas review-nya ya... :)
Sakura zouldyeck, maafkan kejudesan adikku ini ya... *nunduk-nunduk*
lain kali aku akan menasehatinya lagi. Terima kasih atas review-nya. :)
ichihaara saara, maa maaf maafkan adikku ini ya. *paksa Sasuke bungkukkin badan*
semoga kamu nggak tersinggung dengan ucapannya. Ternyata kamu sependapat denganku, aku juga sempat meminta Author-san untuk menambah adeganku dengan Sakura.
Kurasa kalau kau ikut merayunya, harapan itu bisa dikabulkan. Sekian, terima kasih atas review-nya. :)
Nuria23agazta, baiklah, terima kasih atas review-nya. :)
CutIcut Uchiha, maafkan adikku itu ya, aku tak menyangka banyak sekali korbannya. *repot*
Sayang sekali bukan Sai yang membalas review-mu, semoga kau tak terlalu kecewa ya.
terima kasih atas review-nya. :)
Jeremy Liaz Toner, namamu bagus juga.
Terima kasih atas review-nya ya... :)
uchihana rin, maafkan sikap adikku ini ya..
Wah idemu untuk membuat Sasuke oplosan bagus juga, akan kusarankan kepada Author-san.
Sayang sekali bukan Sasuke yang membalas review-mu, tapi semoga kau tak terlalu kecewa ya.
Terima kasih atas review-nya. :)
Natsumo kagerou, Sasuke itu sebenarnya lemah dengan wanita, kebalikan dari Sai-kembarannya.
*dijitak Sasuke*
Dhezthy UchihAruno, iya, aku juga penasaran kenapa Sakura berhenti karate.
tapi perlahan Author-san pasti memberitahukannya.
Wah, kalau boleh tau memang kata-kata terakhir pada part kemarin kenapa?
sonedinda2, terima kasih atas review-nya. :)
Fira Uchiha, benarkah? kau sepupu jauh Uchiha?
Aku baru tahu, sepetinya aku terlalu sibuk hingga melupakan sekitarku.
Semoga kita bisa makin akrab ya, terima kasih atar review-nya. :)
Uchiha Ratih, banyakin adegan Sasu nyiksa Saku?
jangan-jangan kau sadis juga. Baiklah, terima kasih atas review-nya. :)
Kiyora yamazaki, Sebenarnya aku-(Shera : *menyela omongan Itachi-nii* Ah, gomen Itachi-nii, tapi kali ini biar aku yang menjawabnya. Iya, Shera suka korea~ apa kamu juga suka?)
*menghela nafas* baiklah, terima kasih atas review-nya. :)
Hanna Hoshiko, salam kenal juga. Semoga kamu jadi suka dengan Fict ini setelah membacanya ya. :)
Sasa, Sepertinya saat aku sedang sibuk, banyak hal yang terjadi di dalam rumah ya?
Author berjuang sebisanya untuk menyelesaikan script di sela kesibukannya, semoga bisa terus update setiap hari.
Terima kasih untuk review-nya. :)
Cherryma, maaf, maafkan Sasuke. Entah sudah yang keberapa kalinya aku minta maaf.
Maaf juga karena bukan Sasori yang membalasnya, semoga kamu tak terlalu kecewa ya.
Kami akan berusaha secepat mungkin untuk menghafal script dan mengeditnya.
Terima kasih atas review-nya. :)
Marukocan, iya kah? sepertinya Author harus lebih berhati-hati lagi.
terima kasih atar review-nya, akan kusampaikan pada Author-san. :)
maya clark 3914, Ah, Sasuke? iya ini silahkan. *serahkan Sasuke*
wow... *liatin Sasuke disannaro* ha ha kau gemas sekali dengan adikku satu itu ya?
Maaf kalau ada sikapnya yang menyakitimu, terima kasih atas review-nya. :)
haru CherryRaven, ah iya kalau boleh tau apa yang membuatmu tertawa? :)
Sami Haruchi, 2PM? *lirik Author* (Shera : hm.. lumayan. Tapi hanya beberapa lagu mereka saja yang kutau.)
Hikari Matsushita, kudengar kamu kawan lama Author-san, haruskan kupanggil Hika-san? :)
konfliknya baru akan muncul, tapi sepertinya Author pun bingung mencari jalan keluarnya. *kasihan melihat Author*
White's, maaf sekali akan hal itu ya. Sasuke memang tak berpikir dulu sebelum bicara, karenanya aku lebih mengajarkan dia untuk diam. *sweat drop*
Syukurlah kalau Sasuke tak terlalu merepotkanmu, terima kasis atas review-nya. :)
Lucy Hinata, Sasuke sepertinya tak peduli, tapi entah mengapa anak itu malah semakin populer dengan kejutekkannya. *berpikir keras*
Terima kasih atas review-mu ya.. :)
Itachi : Sekian balsan review dari saya. Maaf bila kata-katanya terdengar terburu-buru, itu karena ada banyak pekerjaan yang menungguku. Kuharap kalian bisa memakluminya. Selamat menikmati part ini. :)
~Enjoy Reading~
Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto
Disclaimer Story © Shera Liuzaki
.
.
A story with a girl being loved by lot of guys
.
Shera Liuzaki, present :
.
.
"BROTHER X SISTER"
.
.
Part 4 : Miss You
.
.
Enjoy Reading
.
.
Matahari belum lama memancarkan sinarnya, terlihat seseorang sedang mengendap-endap sambil memperhatikan sekitarnya. Seorang gadis dengan mahkota merah muda menghiasi kepalanya itu sepertinya merencanakan sesuatu.
Setelah merasa semuanya aman, dan sebagian besar murid belum berdatangan, ia bergerak maju menuju sebuah pintu kayu coklat, sekali lagi ia memastikan tak ada seorangpun yang melihatnya sebelum masuk ke dalam.
Cklek
Dengan cepat ia membuka pintu ruang ganti di gedung olah raga indoor itu dan masuk ke dalamnya.
"Ohayou, Sasori—kyaaa—mmmph!" Sakura langsung dengan refleks menutup mulutnya.
Penyebab ia berteriak adalah karena ia melihat sesosok pemuda yang sedang bertelanjang dada di hadapannya. Pemuda itu juga bahkan sampai kaget dibuatnya. Ia langsung buru-buru memakai kaosnya sementara Sakura berbalik memunggungi Sasori.
"Kau ini~! APA YANG KAU LAKUKAN DI RUANG GANTI PRIA?!" ketus Sasori dengan wajah garangnya.
"Sssstt! Aish~ jangan berisik~" Sakura langsung mendekati Sasori dan menyumpal mulutnya.
Sasori jadi salah tingkah. Sudah melihatnya telanjang, kini gadis itu berada dekat dengannya. Padahal jujur saja, ini baru pertama kalinya bagi Sasori menghadapi wanita. Terlebih berada di satu ruang sempit seperti ini, pikirannya bisa kemana-mana.
Setelah beberapa saat, suasana mulai menenang. Sasori duduk dengan gusar di pinggir tempat duduk kayu, sedangkan Sakura duduk manis di lantai.
"Sebenarnya…apa yang kau inginkan?"
Sakura mengedarkan matanya, "Emm,… apa…aku boleh bertanya sesuatu?"
"Barusan kau sudah bertanya."
"Ah iya gomen, aku hanya ingin bertanya mengenai KISS."
"KISS? Maksudmu band milik Sasuke? Ada apa dengan KISS? Jangan bilang kau KISSer juga?!" sahut Sasori sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Sebenarnya cukup janggal mendengar Sasori memanggil nama Sasuke tanpa embel-embel. Tapi Sakura berusaha tak memikirkannya sekarang.
"Aku…hanya ingin tahu tentang Sasuke. Sepertinya ia tak suka denganku, dan aku ingin tahu kenapa. Apa kau tahu sesuatu?"
Itachi pernah mengatakan kalau Sasori dulu dekat dengan keluarga Uchiha, mungkin Sasori juga mengetahui sesuatu dibalik kejudesan kakak tirinya itu. Ditambah lagi, sepertinya Sasuke dan Sai pun cukup mengenal Sasori.
Sepertinya alasan Sakura cukup untuk membuat Sasori terdiam sejenak. Sorot mata pemuda itu meredup dan bahkan ekspresinya perlahan berubah. Sasori menghela nafasnya, ia merebahkan tubuhnya dengan tangan sebagai tumpuan di belakang.
"Aku tak tahu kau seakrab itu dengan Sasuke, sampai-sampai kau penasaran pada kehidupan masa lalunya."
Blush
Ucapan Sasori sukses membuat wajah Sakura memerah pekat. Sasori sendiri sampai kaget melihatnya, entah mengapa jantungnya seperti menyesuaikan kegugupan Sakura di hadapannya. Bahkan ia kini tak bisa mendengarkan suara lain selain detak jantungnya sendiri.
Sasori terdiam sesaat, sepertinya ia telah menyadari sesuatu yang tak seharusnya disadarinya. Pemuda itu baru menyadarinya saat melihat wajah gugup Sakura, ia merasa pernah melihat wajah itu di suatu tempat di masa lalu.
"Kau tahu, mungkin ini semua berawal dari 'tragedy' itu."
Sakura beralih menatap Sasori sambil memegangi wajahnya yang memerah. Tragedi yang dimaksud, bisa saja sama seperti apa yang pernah dikatakan Hinata di awal mereka bertemu.
Kini Sakura membenarkan posisinya, bersiap mendengarkan cerita lama dari Sasori. Sebenarnya, jauh dari dalam hati pemuda itu, Sasori tak ingin mengungkitnya. Sepertinya ia juga terlibat dalam tragedy itu.
"Sekitar lima tahun yang lalu, KISS terbentuk. Awalnya hanya band iseng yang beranggotakan lima orang. Kerja mereka hanya mencari kesenangan sekaligus menyalurkan hobi. Mereka berlima berteman sangat baik, bahkan diantara mereka 'terlalu baik'." Sasori bercerita sambil menerawang ke langit-langit kamarnya.
"Terlalu baik?"
Mata pemuda itu meredup, "Cinta. Sasuke dan salah seorang anggotanya."
Penjelasan Sasori membuat Sakura melotot kaget, ia merasa sesak menghampiri dadanya. Sakura meremas ujung roknya, sebelah tangannya mengelus dadanya yang nyeri. Ada rasa tak ingin melanjutkan cerita Sasori, tapi sesuatu lainnya memaksanya untuk terus mendengarkan.
Merasa sepertinya Sakura mulai gelisah, Sasori memberikan jedanya. Seakan ia sendiripun sebenarnya berat untuk bercerita.
"Namanya Karin. Seorang vocalist, sama seperti Sasuke sekarang." Sasori menundukkan kepadanya untuk melihat reaksi Sakura. "Hubungan mereka lancar-lancar saja, sampai 2 tahun yang lalu."
"Apa yang terjadi?"
"Karin meninggalkannya." Sasori menghela nafas berat, sepertinya ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. "Kini ia debut solo. Kalau kupikir… sepertinya kau mirip dengannya, mungkin karena itu Sasuke membencimu."
"Mirip denganku?"
"Awalnya akupun kaget melihatmu, rambut panjang, bentuk tubuh dan matamu, hampir sama dengannya. Sasuke pasti membenci Karin sampai-sampai ia melampiaskannya kepadamu."
"Kenapa aku? Kenapa ia tak membalasnya kepada Karin?"
"Entahlah, kurasa sulit untuknya move on. Karenanya ia mencoba melampiaskan kekesalan itu padamu. Sebenarnya, mungkin itu bisa jadi kesempatan untuk Sasuke membuka diri lagi. Sejak kejadian itu ia berubah, bukan lagi Sasuke yang kukenal."
Sakura menundukkan kepalanya, entah kini apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui hal yang mungkin tak seharusnya ia tahu.
"Kuharap kau bisa membukakan hatinya, Sakura." bisik Sasori lirih.
-ooOoo-
Hinata mengerutkan dahinya, sekali lagi ia disuguhi pemandangan tak mengenakan mata. Sosok Sakura yang lusuh seperti tak terurus itu membuat Hinata jenuh. Sakura melamun dan pandangannya kosong.
Sepertinya ia masih kepikiran mengenai cerita Sasori, ia juga sedikit penasaran dengan kisah masa lalu Sasuke. Meski ia ingin bertanya lagi pada Sasori, kemarin saja ia sudah diusir dari tempat itu. Tapi siapa lagi orang yang bisa ia tanyai? Masih banyak hal yang ingin ia ketahui.
"Sakura-chan, waktu kau dibawa pulang oleh Sasuke-niisama apa kau ingat sesuatu?"
Sakura menggeleng, "Tak banyak yang kuingat, hanya saja saat terbangun aku sudah tertidur lelap di atas tempat tidurku."
"Aaah~ Aku jadi merasa bersalah, maaf ya sudah mengajakmu ke sana."
Sakura menganggukkan kepalanya, wajahnya masih datar dan matanya tak focus pada satu tempat. Sasori yang memperhatikannya dari kejauhan hanya bisa mengerutkan dahi dan kembali berkutat dengan buku yang dibacanya.
Mendadak Sakura membulatkan mata, sepertinya ia teringat sesuatu. Hinata terkejut saat Sakura memegang tangannya secara tiba-tiba dan menggenggamnya erat.
"Hinata, apa aku bisa bertemu dengan pesonil KISS lagi?"
"Ehh?"
"Kumohon~ ada yang ingin kutahu dari mereka, bisa kan? Bisa?"
Hinata terlihat berfikir sejenak, lalu ia meminta Sakura melepaskan tangannya. Sakura hanya bisa menunggu jawaban Hinata saat gadis itu mengetikkan sesuatu melalui ponselnya. Beberapa setelahnya Hinata memamerkan senyuman kepada Sakura.
"Ok."
-ooOoo-
Sakura sempat menelpon Itachi untuk meminta izin dirinya menginap di rumah Hinata. Sekarang di sinilah Sakura berada, markas KISS. Beruntung mereka sedang off, jadi Sakura bisa bertemu dengan para personilnya. Dan yang lebih menguntungkan lagi, Sasuke sedang tak berada di sini. Kabarnya ia sedang mengatur jadwal manggung di Bogor, Indonesia, minggu depan.
"Jadi, kau ingin tahu mengenai Karin?" Kiba memulai pembicaraan sambil memberikan segelas soda kepada Sakura.
"Ah, iya. Aku ingin tahu seperti apa dia." Sakura hanya memegangi gelas itu, takut kalau-kalau ia salah minum lagi. Hanya karena soda yang diberikan kepadanya habis, dengan cerobohnya alcohol pun diembat.
"Bagaimana ya… Dia wanita yang hebat. Tentu saja, suaranya adalah modal utama bagi KISS. Sayangnya ia memilih untuk meninggalkan kami." Kiba memainkan gelasnya sebelum akhirnya ia meneguk soda yang ada di dalamnya.
Sakura menunduk, ia ikutan meminum air dari Kiba. Beberapa personil lainnya mulai berkumpul satu per satu. Shion—seperti biasa—memilih tempat duduk di samping Sakura dan mengusir Naruto yang awalnya berada di sana.
"Dia dan Sasuke pacaran sebelumnya, kau tahu itu kan?" Sakura mengangguk menjawab pertanyaan Naruto. Meskipun sebenarnya Naruto kesal diusir oleh Shion, tapi melihat Hinata yang mendekatinya, emosinya langsung luluh.
"Kenapa kau harus memperdulikannya? Dia pengkhianat! Sasuke sudah memberikan segalanya untuk wanita itu, tapi dia malah meninggalkan Sasuke! Biar saja ia tenggelam di laut!" ketus Shion sambil bergelayutan di lengan Sakura, membuat Sakura sulit bergerak.
"A—anoo~ kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi antara Sasuke-niichan dan Karin-san?"
Kiba dan Naruto saling perpandangan sejenak, "Kami tak tahu detailnya, tapi yang jelas perasaan Sasuke kepadanya lebih besar dari yang terlihat."
"'Because I miss you' adalah lagu debut KISS, lagu itu diciptakan oleh Sasuke dan Karin bersama." tambah Hinata. Sepertinya Hinata juga mengetahui mengenai hal ini dan memilih untuk pura-pura tak tahu saat Sakura pernah menanyakannya dulu.
Nyuut
Rasanya semakin lama dan semakin jauh Sakura mendengar cerita ini, dadanya makin nyeri. Wajahnya memanas, rasanya ia hampir meledak. Tapi ia sendiri tak tahu mengapa, emosi memenuhi perasaannya.
"Ahh~ aku tak menyangka mereka berakhir seperti itu. Sasuke sempat mengamuk dan vakum bernyanyi hampir setengah tahun, popularitas KISS langsung menurun drastis. Sementara Karin semakin jauh meninggalkan kami." Kiba menghela nafas panjang.
"Kau tahu? Sejak saat itu KISS tak pernah menyanyikan lagu cinta, 'Because I miss you' adalah lagu cinta pertama dan terakhir yang pernah dimainkan KISS. Entah kenapa, rasanya seperti Sasuke sudah kehilangan hatinya."
-ooOoo-
Lega sekaligus sesak, itulah apa yang dirasakan Sakura. Rasa penasarannya membuatnya melangkah mengendap-endap. Ia melongok ke sana, mencari sesosok orang yang biasanya ada di sana. Tapi sekarang ia tak menemukannya. Meskipun sudah diperingatkan Sai bahwa Sasuke tak akan tinggal diam kalau Sakura terus datang ke tempat persembunyiannya, tapi lihat saja, gadis itu memang tak ada takutnya.
Sakura mengerutkan bibirnya, ia hampir menyerah dan kembali ke kelas. Namun rupanya ia menemukan sosok itu tak jauh darinya. Sakura mengurungkan niatnya dan kembali ke posisi semua.
Seorang pemuda berambut raven dengan emo style terlihat duduk dengan santai sambil memangku gitar peraknya. Ia sedang mengatur gitar kesayangannya itu agar mengeluarkan nada yang sesuai keinginannya. Sakura terdiam, garis-garis merah menghiasi wajahnya. Hanya melihat sosoknya saja ia sudah dheg-dheg-an. Entah berdebar karena takut, atau karena terpesona.
Jrengg
Sasuke—pemuda itu, mulai mencoba gitarnya. Suara indah mengalun di sana. Sementara Sasuke memainkannya, Sakura memejamkan mata menikmatinya. Nada yang pernah didengarnya, ini akan jadi yang keempat kali untuknya. Lagu yang 'katanya' dibuat bersama sang mantan, dan lagu cinta pertama sekaligus yang terakhir bagi KISS.
Always under exactly the same sky
[Selalu dibawah langit yang sama]
Always exactly the same day
[Selalu hari yang sama]
Other than your not being here
[Selain kau yang tak ada di sini]
There's nothing different at all
[Tak ada yang berubah sama sekali]
Sakura terenyuh seketika, angin seakan membuat suasana semakin mendukung. Memainkan rambut Sakura yang terhelai bebas, seperti lagu Sasuke yang memainkan perasaannya melalui nyanyian. Denyut nadi sekaligus denyut jantungnya mengikuti petikan gitar Sasuke.
Suaranya begitu lembut, begitu berbeda dengan apa yang pernah didengarnya di konser KISS beberapa waktu yang lalu. Sasuke menjadi orang yang benar-benar berbeda ketika itu berhubungan dengan Karin. Seakan ia sedang curhat dalam nyanyian itu.
I just want to smile
[Aku hanya ingin tersenyum]
Want to forget everything
[Aku ingin melupakan segalanya]
Just like absolutely nothing has happened
[Seakan benar-benar tak terjadi apapun]
Smiling to live my days
[Tersenyum untuk menghidupkan hariku]
Sakura benar-benar bisa merasakannya. Perasaan Sasuke tersalurkan melalui lagu itu. Seakan hatinya merintih kesakitan, ingin menyerah atas luka yang tak bisa diobati ini. Dan hanya Sakura yang bisa mendengar jeritannya.
Bagi Sasuke, memori akan dirinya bersama sang gadis pujaan terpampang jelas. Membuatnya ingin menjerit dan mengamuk lagi. Tapi berkat lagu itu, ia bisa kembali ke akal sehatnya. Sasuke mendongakkan kepala sambil menegadah ke langit. Seakan lagu itu menjadi obat penenangnya, tapi juga menjadi racun yang menggerogoti perasaannya.
Miss you, miss you so much
[Merindukanmu, sangat merindukanmu]
Because I miss you so much
[Karna aku sangat merindukanmu]
Everyday all by myself
[Setiap hari sendirian]
Calling and calling you
[Terus memanggilmu]
Lagu ini begitu menyayat hatinya. Sakura memegangi dadanya yang nyeri, padahal sama sekali tak ada luka. Tapi perasaan Sasuke yang meluap padanya begitu menyakitinya dari dalam. Perlahan tubuh Sakura beringsut.
Namun kebalikannya, bagi Sasuke ini adalah antitoxinnya. Membuatnya kembali berpikir realita. Membuatnya teringat kembali caranya untuk hidup. Meskipun ia telah kehilangan alasannya hidup. Ia sendiri tak menyangka bahwa perasaannya tak semudah itu dilupakan.
Want to see you, want to see you so much
[Ingin melihatmu, sangat ingin melihatmu]
Because I want to see you so much
[Karena aku sangat ingin melihatmu]
Now it's like I have this habit
[Sekarang ini seperti kebiasanku]
keep calling out your name
[Terus memanggil namamu]
It's the same today
[Sama seperti hari ini]
Air mata Sakura tumpah sudah. Cukup untuknya mendengarkan keluhan Sasuke, ia ingin bisa menghentikan lagu itu. Menghentikan tangisan sunyi Sasuke. Suara indah Sasuke tak rela dibiarkannya menyanyikan lagu parau. Sakura ingin memberikan Sasuke alasan untuknya hidup, alasan untuknya tersenyum lagi.
I thought I'd let go
[Kupikir aku telah melepaskan]
Not leaving anything behind
[Bukannya meninggalkan semuanya]
No, no, now I still can't let you go
[Tidak, Tidak, sekarangpun aku tak bisa melepasmu]
Sakura bangkit dari duduknya. Ia menghapus jejak air mata di pipinya. Mendadak ia keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju Sasuke. Ia berlari tak memperdulikan meskipun sang kakak akan menyadari kehadirannya.
GREB
Sakura langsung memeluk kepada Sasuke, membuat sang kakak bahkan hampir terjungkal jatuh. Membuat pemuda itu benar-benar kembali ke alam sadarnya. Entah apa yang terjadi, tapi lagu itu seakan dapat terus didengarkan oleh telinga mereka berdua. Hanya mereka saja.
Miss you, miss you so much
[Merindukanmu, sangat merindukanmu]
Because I miss you so much
[Karna aku sangat merindukanmu]
Everyday all by myself
[Setiap hari sendirian]
Calling and calling you
[Terus memanggilmu]
"Sasuke-nii~ hiks hiks hiks."
Sakura semakin mengeratkan pelukannya. Memeluk kepala sang kakak dan mengelus rambutnya. Sasuke sempat terdiam dan terkejut, namun akhirnya ia bisa mengerti. Sasuke menarik nafasnya, sesuatu yang ditahannya mendadak lepas begitu saja.
Want to see you, want to see you so much
[Ingin melihatmu, sangat ingin melihatmu]
Because I want to see you so much
[Karena aku sangat ingin melihatmu]
Now it's like I have this habit
[Sekarang ini seperti kebiasanku]
keep calling out your name
[Terus memanggil namamu]
It's the same today
[Sama seperti hari ini]
Sasuke membalas pelukan Sakura. Salahkan adiknya itu kalau kini egonya runtuh sudah. Hanya di depan gadis itu ia bisa melakukannya, hanya di depan Sakura air matanya bisa keluar tanpa ragu. Hanya kepada gadis itu ia bisa menyampaikan kepedihan hatinya. Tanpa harus bicara.
Hanya Sakura. Dan Sasuke menyadari bahwa hanya gadis itu yang dibutuhkannya. Meskipun ia mencoba menjauhkan diri dari gadis itu, tapi tetap saja pada akhirnya Sakura akan menemukannya.
Everyday, everyday, it feels like I'm gonna die
[Tiap hari, tiap hari, rasanya seperti aku akan mati]
what should I do?
[Apa yang harus kulakukan?]
Tangisan Sakura seakan mewakili perasaan Sasuke. Meski pemuda itu juga tak terelakkan lagi untuk meneteskan air matanya, namun Sakura masih mencoba menjaga imej sang kakak dengan menutupi wajahnya.
Perlahan Sasuke melepaskan pelukannya, ia menegadah menatap sosok adik yang telah seenaknya menjelajah masuk ke dunia terlarangnya. Tangan Sasuke meraih helaian rambut merah muda Sakura yang menutupi pandangannya dari wajah elok adiknya itu.
Perlahan tangannya membelai pipi Sakura, menghapus air mata yang menetes untuknya. Jemari itu menyusup hingga ke tengkuk Sakura, membuat Sakura menaikkan bahunya karena geli.
Love you, I love you
[Mencintaimu, aku mencintaimu]
I love you so much
[Aku sangat mencintaimu]
I hadn't even spoken the words
[Aku bahkan belum mengatakannya]
I just let you go
[Aku melepasmu begitu saja]
Kecupan itu hanya sekilas, namun rasanya tak memuaskan hasrat Sasuke begitu saja. Ia kembali menarik wajah Sakura, menekannya sedikit lebih lama dari sebelumnya. Membuat tangisan Sakura berhenti karena terhambat oleh bibir Sasuke.
"Engh mm~"
Sorry, I'm sorry
[Maaf, maafkan aku]
Do you hear my words
[Apa kau mendengar kata-kataku]
My late confession
[Pernyataan cintaku yang terlambat]
Can you hear it
[Dapatkah kau mendengarnya]
"Fuwaah~"
Ciuman itu terlepas begitu saja. Menyisakan nafas keduanya yang terengah. Sasuke bisa melihat jauh ke dalam mata Sakura, adanya kelegaan yang terbayang di sana. Sakura masih terisak, artinya ia belum sepenuhnya diam. Tapi entah mengapa Sasuke menyukainya.
Tunggu. Menyukainya? Sepertinya perasaan itu tumbuh diluar akal sehat Sasuke. Membiarkan Sakura menjelajahi dunianya, ternyata berdampak pada dirinya juga.
Terkadang orang membangun dinding di sekitar mereka bukan untuk membatasi diri dengan orang lain. Tapi untuk melihat siapa yang cukup peduli untuk merobohkannya.
I love you
[Aku mencintaimu]
-ooOoo-
Tlak Tak Tak
Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Malam ini semua berkumpul di meja makan. Ya, semuanya. Karena hari ini sang Tuan dan Nyonya Uchiha pulang dari perjalanan bisnisnya.
Kepala keluarga di sana terlihat memandangi putra dan putrinya bergantian dengan tatapan senang. Betapa rindunya pria paruh baya itu untuk bisa berkumpul lagi dengan keluarga besarnya.
"Jadi…bagaimana keadaan rumah selama kami tak di sini?"
"Semua masih under control, Tousan." Itachi menjawabnya penuh percaya diri. "Bagaimana dengan keadaan di perusahaan? Apakah program kerja yang waktu itu telah kita bahas berhasil dijalankan?"
"Sukses besar, Itachi!" Fugaku nampaknya senang sekali membahas ini. "Hampir semua yang kau perkirakan terjadi. Rencana berjalan sangat mulus, kalau begini aku bisa tenang meninggalkan perusahaan di tanganmu."
"Arigatou, Tousan."
"Kalian ini… Berhentilah membahas pekerjaan di meja makan!" sepertinya nyonya Uchiha tak menyukainya, dan anak lainnya pun merasakan hal yang sama.
"Oh, gomen." sahut Fugaku dengan nada menyesalnya. "Hm… bagaimana dengan keadaan sekolah? Hm? Sai? Sasuke? Sakura?"
"Pameran, penghargaan, dating, semuanya lancar. Tak perlu khawatir." Jawab Sai masih dengan senyuman hampanya.
"Masih seperti biasa." jawab Sasuke sekenanya.
"Bagus, bagus sekali anak-anak Kaasan~" Mikoto tersenyum bangga, matanya melirik sosok Sakura yang sedang menyantap hidangannya. "Nah kalau Sakura? Bagaimana denganmu, sayang?"
Sakura yang langsung mendapat seluruh perhatian hanya bisa memasang wajah bingung. Ia memandang Sasuke yang duduk tepat di depannya, namun Sasuke hanya meliriknya sejenak sebelum beralih dan pura-pura tak melihatnya. Kini Sakura memasang senyum canggungnya.
"Aku… baik-baik saja. Niichan banyak membantuku sehingga aku bisa menyelesaikan masalah dengan mudah."
"Benarkah~? Wah~ senangnya~ Kaasan rindu sekali denganmu lho, Sakura~"
Sakura kembali tersenyum canggung menjawabnya.
"Oh ya, Kaasan… apa lukisan yang kutitipkan waktu itu sudah di serahkan saat Kaasan di London?" Sai langsung menginterupsi.
"Ah! Kau tahu, desain itu sangat diminati oleh seorang designer interior profesional di London, kau harus bertemu denganya. Aku sudah memberikan alamat e-mail yang dibisa ia hubungi nanti."
"Benarkah?! Kaasan punya nomornya kan? Aku akan—"
"Ehem!" kepala keluarga satu ini sepertinya tak suka melihatnya. "Tadi sepertinya ada yang mengatakan untuk tak membahas pekerjaan di meja makan."
Mikoto Uchiha yang terkena sindiran itu langsung mencubit sang suami karena kesal. Keempat anak-anaknya hanya bisa mengalihkan perhatian mereka seolah tak melihat kejadian orang tuanya bertengkar—tapi sebentar lagi akan mesra—itu.
Disana, pandangan antara Sakura dan Sasuke bertemu. Sakura langsung teringat mengenai kejadian siang tadi, wajahnya langsung merah padam. Ia melakukannya diluar kendali. Saat tersadar, dirinya sudah berada di samping Sasuke sambil bergandengan tangan menuju ke rumah.
"Anak-anak, sebenarnya kami pulang bukan semata-mata karena pekerjaan telah selesai saja." tiba-tiba Fugaku mengumumkan sesuatu sambil merangkul istri tercintanya. "Kami ingin mengajak kalian liburan ke Hawaii, bagaimana?"
"Hawaii?!"
Seluruh anak-anak mereka langsung berteriak terkejut.
"Serius?! Kita ke Hawaii?!" Sai terlihat paling bersemangat. Mungkin ia berharap bisa menemukan wanita-wanita berbikini di sana.
"Kaasan, Tousan, apa benar baik-baik saja meninggalkan rumah dan perusahaan? Kalian ingin kami semua juga ikut? Atau biar saja aku tinggal di sini dan serahkan semua padaku." saran Itachi.
Fugaku menggeleng, "Tidak, Itachi. Semua harus berpartisipasi. Bukankah jarang sekali kita bisa berkumpul bersama seperti ini? Dan ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Kita bisa mengatur jadwal keberangkatan dengan waktu yang tepat. Bagaimana? Semua setuju?"
Tuk
Mendadak Sasuke meletakkan sendoknya dan bangkit berdiri. Meskipun seluruh perhatian memandangnya, namun tatapan datarnya tak goyah. Ia bersiap meninggalkan meja makan.
"Aku tak bisa ikut, minggu depan aku ada konser dan aku harus mempersiapkannya."
Ucapan Sasuke yang begitu dingin membuat Sakura berpikir lagi, apakah kejadian sebelumnya itu hanya ilusi saja? semuanya seakan tak berubah. Padahal kalau benar momen itu terjadi, maka seharusnya sikap Sasuke sedikit berubah dari biasanya.
Saat semua sedang berbisik-bisik dan berpikir untuk memaklumi sikap Sasuke, Sakura melirik ke pemuda itu, dan ia terkejut mendapati Sasuke juga sedang menatapnya. Pandangan Sasuke begitu tajam sampai Sakura tak bisa mengalihkan pandangan darinya. Namun sepertinya sesuatu tersembunyi di sana, Sakura mencoba menerkanya.
Sementara itu Sai diam-diam memperhatikan mereka, sepertinya ia menyadari perubahan sikap adiknya dengan kembarannya itu. Sesuatu pasti telah terjadi di antara mereka.
-ooOoo-
"Haaahhh~"
Sakura menghela nafas panjang. Setelah berjam-jam menunggu acara 'pembahasan liburan' mereka, akhirnya tepat pukul 10 malam mereka menyudahinya. Sakura menaikki tangga menuju kamarnya sambil merenggangkan oto-ototnya yang kaku.
"Aduh~ pundakku~"
Tanpa disadari Sakura, seseorang sudah menunggunya untuk lewat. Dan tepat setelah tangga terakhir dilewati olehnya, seorang itu membekap mulutnya. Tubuhnya ditarik paksa, membuatnya hampir terjungkal jatuh. Untungnya orang itu juga yang menopangnya.
"Emph!" Sakura mencoba memberontak, bahkan tangannya mencoba melepaskan bekapan di mulutnya. Hingga sebuah suara berbisik di telinganya.
"Berhenti memberontak dan diamlah."
Dheg
Sakura menyadari suara itu. Ia meliriknya, dan benar saja. Kakaknya sedang menyekapnya dan memandangnya tepat di mata emeraldnya. Perlahan Sasuke melepaskan mulut Sakura, namun tak melepaskan dekapannya.
Sakura jadi gugup setelah mengetahui itu Sasuke, apa lagi sejak ciuman siang tadi. Ditambah kini Sasuke membawanya masuk ke kamar, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sakura semakin pusing untuk memikirkannya.
"Sakura~"
Bisikan Sasuke di telinganya membuat wajah Sakura semakin memerah. Tengkuknya serasa geli dan dengan refleks menjauhkan diri. Ini terlalu cepat baginya, mereka adalah adik-kakak. Apapun alasannya, yang mereka lakukan saat ini salah besar.
"Niichan~ aku harus kembali ke kamar~ lepaskan aku."
"Kenapa? Kau tak suka?"
Dheg Dheg
"Bu..bukan begitu."
"Kalau begitu tak apa."
DHEG
Entah setan apa yang mempengaruhi sang kakak hingga jadi begini. Tapi benar saja, bagi Sakura ini tetap salah. Akhirnya dengan keberanian yang susah payah dikumpulkannya, ia melepaskan pelukan Sasuke dan mendorongnya menjauh. Kini ia menjaga jarak dengan kakaknya itu.
Sasuke hanya diam sejenak menatap Sakura di hadapannya. Terlihat sekali kegugupan Sakura hanya dari wajahnya. Nafasnya terengah padahal Sasuke 'belum' melakukan apapun terhadapnya. Dan itu sangat menggemaskan bagi Sasuke. Membuatnya ingin lebih mengerjainya.
"Sasuke-nii! Hentikan atau aku akan teriak!"
"Teriak? Ah, benar juga. Kau sudah mendeklarasi perang kepadaku."
Glek
Sekarang bukan saat yang tepat kalau Sasuke mengingatnya. Sakura sampai melupakan hal sepenting itu, benar-benar bodoh sekali. Ia hanya bisa merutuki dirinya, melihat langkah Sasuke yang semakin mendekat. Masa iya sekarang kakaknya itu akan menerkamnya lagi.
"Niichan! Sudah bukan waktunya lagi untuk bercanda!"
Sasuke sepertinya sudah tak memperdulikannya. Kini ia kembali mengunci pergerakan Sakura. Sakura memberontak, tentu saja. Tapi kembali, kekuatannya bukan apa-apa bagi Sasuke. Meskipun bisa saja Sakura menendang titik vital Sasuke di bawah sana, masa iya Sakura tega melakukannya.
Hingga tiba-tiba Sasuke mengambil alih bibir Sakura. Membekapnya dan membuat pertahanannya hancur begitu saja. Ekspresi kaget masih terlihat jelas di wajah Sakura, tapi tenaganya hilang entah kemana.
Lumatan demi lumatan dirasakan Sakura, bibirnya dibasahi oleh saliva yang saling bercampur. Tangan Sakura terasa lemas, ah tidak, bahkan seluruh tubuhnya terasa lemas. Kabut putih seakan menyelimutinya, membuat pandangannya jadi kabur.
"Emghh~ Engh~ hah~"
Ciuman itu terlepas, saling berpandangan sejenak, lalu Sasuke meneruskan te tahap berikutnya. Ia memeluk tubuh mungil Sakura, membuat gadis itu larut dalam suasana dan menyerah untuk melawannya.
"Sasuke-niichan~ hentikan kumohon…enghh~"
Sasuke menenggelamkan dirinya di sudut leher Sakura, sekali lagi Sakura bergidik geli. Bahunya naik, membuat Sasuke merasa semakin gemas padanya. Terdiam tak melakukan hal lebih, Sakura menjadi risih karenanya.
"Sasuke-nii!" Sakura yang merasa kesal mencoba melepaskan diri lagi.
Syuuut
Gerakan perlawanan Sakura kembali lagi. Sasuke tak ingin tinggal diam kini, ia menekan tubuh Sakura dan mulai menciumi leher jenjangnya. Aroma cherry menguak dari sana. Ia baru menyadarinya, ternyata selama ini Sakura bukanlah anak kecil seperti yang dipikirkannya.
Tak ingin hanya menciuminya, tangan Sasuke mulai menjelajahi tubuh Sakura. Meraba punggungnya dan memberikan sensasi geli tersendiri. Sebelah kakinya menelusup di sela paha Sakura. Menekannya, membuat Sakura melejit.
"Ahh~ Sasuke-nii! Hentikan!"
Untuk ke sekian kalinya Sakura merintih, tapi tubuhnya berkata lain. Tangannya justru meremas-remas rambut raven Sasuke, Sakura sendiri tak tahu mengapa ia bisa melakukan hal ini. Padahal ia masih bisa berpikir untuk melarikan diri.
Saat Sasuke menegadah dan menatap Sakura, seakan onyx itu membius emerald-nya. Membuatnya memberikan persetujuan untuk Sasuke menjelajahi rongga mulutnya. Mengabsen setiap gigi-giginya. Mata keduanya terpejam, tanpa sadar Sakura mengalungkan tangannya ke leher Sasuke.
"Engh…mmmh…ah..mngh~"
Sasuke melepaskan ciumannya, wajahnya kembali menelusup ke leher Sakura. Menciumi setiap lekuk yang ada. Sakura merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya selama ini. Namun saat sedang melayang tinggi, tiba-tiba Sakura merasa sesuatu menghempaskannya.
"Karin."
DHEG
Sakura membulatkan matanya. Sepertinya ia mendengar sesuatu yang membuatnya terkejut. Tubuh Sakura langsung menjadi kaku. Ia berhenti membalas perlakuan Sasuke.
Apa yang akan kau rasakan, mendengar seseorang memanggil nama wanita lain ketika sedang bersamamu? Sakit, perih, bingung, sesak, berbagai perasaan berkecambuk di dalam hati Sakura. Sakura menundukkan kepalanya, masih tak menunjukkan reaksi berlebih.
"Sakura? Kau dimana? Sudah malam! Ayo cepat tidur~"
Kesadaran Sakura langsung terkumpul setelah mendengar suara Kaasan memanggilnya. Dengan reaksi yang cepat dan keras, ia mendorong tubuh Sasuke. Membuat kakaknya itu hampir terjatuh. Sakura bisa melihat mata kosong Sasuke yang menatapnya.
Mungkin memang sulit menghapus ingatan Sasuke mengenai Karin, tapi kalau Sasuke menganggap dirinya sebagai pengganti Karin… rasanya itu diluar kendalinya. Tubuh Sakura gemetaran, Sasuke yang melihatnya sedikit terkejut. Ekspresi Sakura menunjukkan keterkejutannya, sepertinya Sasuke menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.
Tanpa mengatakan apapun Sakura pergi meninggalkan Sasuke di sana. Saat pintu tertutup, Sasuke menghela nafas panjang. Ia memegangi kepalanya dan menegadah ke langit-langit kamar.
"Aahh…Bodoh."
-ooOoo-
"Haaahh~"
Jam telah menunjukkan pukul 6 pagi. Hari ini merupakan hari yang telah dijanjikan. Seluruh Uchihas akan pergi berlibur ke Hawaii. Sayangnya Sakura bangun kesiangan, dan seperti biasa, note dari Itachi membuatnya kesal.
Dengan kekuatan supernya(?), ia melesat menuju bandara. Beruntung Sai nampaknya juga kesiangan. Yang benar saja, setiap Sakura ditinggal oleh kakak-kakak lainnya, pasti ada saja orang yang juga tertinggal di rumah. Tapi Sakura bersyukur itu bukan Sasuke lagi.
"Nah, Sakura. 10 menit lagi kita akan berangkat. Ayo cepat." Sahut Sai sambil memeriksa karcis yang dipegangnya.
Sakura menangguk, ia menggendong tas ranselnya dan berjalan mengikuti Sai. Sebenarnya ini perjalanan pertamanya menggunakan pesawat, mungkin itu sebabnya Sai sengaja menunggunya agar Sakura tak tersesat.
Hal yang paling melegakan di perjalanan ini adalah kenyataan bahwa Sasuke tak ikut berlibur. Akan sangat menyiksa kalau Sakura tertinggal di rumah bersama kakaknya yang satu itu. Entah mengapa setiap Sakura merasa ada kemajuan dalam hubungan mereka, Sasuke sealalu melakukan hal yang membuat hubungan itu merenggang kembali.
"Apa ia sengaja melakukannya untuk menyingkirkanku?" gumam Sakura lirih. Mungkin ia berpikir tak ada seorangpun yang bisa mendengarnya, namun sepertinya perkiraan itu salah.
"Melakukan apa?" tanya Sai sambil tersenyum kepada Sakura.
"Ah. Tidak, tidak, bukan apa-apa." sekarang Sakura hanya bisa merutuki dirinya sendiri. "Emm… Sai-nii~ kurasa aku harus ke toilet~"
Sai mengerutkan dahi, tapi kemudian kembali tersenyum. "Kembalilah dalam 5 menit, kalau tidak… kau tahu apa yang akan terjadi kan?"
Sakura kembali bergidik melihat senyuman sang kakak itu. Akhirnya mau tak mau Sakura menyetujuinya, dan ia bergegas pergi. Di belakang sana Sai memperhatikannya, melihat punggung Sakura yang semakin menjauh.
Sebenarnya kalau di-flasback, saat kejadian Sasuke menculik Sakura ke kamarnya, Sai ada tak jauh dari mereka. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan kebetulan kejadian itu terjadi tepat di depan matanya.
Awalnya Sai hanya diam dan tak ingin mengganggunya, karena ia merasa tak ingin mencampuri urusan kembarannya itu. Namun tepat saat ia akan kembali ke kamarnya, Sakura berlari menabraknya. Cukup keras dan membuatnya merintih, memang. Tapi bukan itu yang dipermasalahkannya, yaitu wajah Sakura yang dipenuhi air mata.
Ia memang tak tahu apa saja yang telah terjadi di dalam sana, tapi ia juga bisa melihat sosok Sasuke yang memegangi kepalanya. Sepertinya hanya dengan melihat hal itu ia sudah bisa menduga yang terjadi. Tak lama Sasuke menutup pintunya, dan Sai pun masuk ke kamar.
"Dasar bodoh."
Entah untuk siapa ucapan itu. Mungkin untuk adiknya, atau untuk kembarannya. Bahkan bisa jadi untuk keduanya.
-ooOoo-
Tepat 5 menit Sakura menyelesaikan 'urusannya' di kamar mandi. Tapi sekarang ia jadi kalut karena waktu keberangkatan tinggal beberapa menit lagi. Dan pastinya saat bertemu Sai, ia akan mendapatkan banyak sindiran.
"Aishhi~"
Sakura membenarkan tas ranselnya dan kembali meneruskan berlari. Seperti adegan romantis di drama Korea setiap hari, Sakura menabrak seseorang. Namun sayang sekali, ini sama sekali tak romantis mengingat bagaimana kekuatan Sakura dan caranya menabrak orang.
Sebelum Sakura bisa mengeluhkan kenapa setiap kali di tempat umum ia selalu menabrak orang, ia menegadah untuk melihat siapa orang yang ditabraknya. Sialnya, itu adalah orang yang saat ini paling tak ingin ditemuinya.
"Sasuke-nii!"
Sakura sudah tak bisa berkata-kata lagi. Bukankah Sasuke bilang tak akan ikut acara liburan ini? Jangan-jangan ia berubah pikiran, kalau begini lebih baik Sakura tak jadi ikut dan pergi berlibur bersama Hinata saja. Sakura mengalihkan matanya, mencoba menghindari tatapan langsung sang kakak.
"Apa yang… Sasuke-nii lakukan di sini?"
Sasuke hanya diam tak menjawabnya, namun pandangannya tak lepas dari adik cantiknya itu. Sakura semakin risih dengan tatapan itu.
"Aku harus segera—"
Trrrttt Ttttrrrt
Tiba-tiba ponsel Sakura berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Ia melihat nama Sai tertera di layarnya. Sakura kembali menyengir dan merutuki dirinya dalam hati, sepertinya ia sudah membuat kakak satunya itu marah besar sampai menelponnya.
Tapi kalau bisa beralasan, ini semua karena kembarannya sendiri Sakura terlambat, dengan berat hati dan bersiap untuk mendapatkan omelan, Sakura mengangkat teleponnya.
"Mm…moshi-moshi? Sai-niichan aku—"
GREB
Kini giliran Sasuke yang memberikan kejutan untuk Sakura. Dengan cepat tangan panjang itu meraih ponsel Sakura dan mengambilnya. Sakura sampai terkejut dan mengira ponselnya terjatuh, ia langsung memberikan tatapan bingung kepada sang kakak.
Sasuke menatap Sakura sejenak, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Sakura akan ikut bersamaku."
Pip
Kalimat itu sangat tak terduga. Mulut Sakura terbuka dan matanya melebar mendengarnya. Sasuke mengembalikan ponsel itu dan dengan cepat menarik tangan Sakura.
Kakaknya satu ini benar-benar tak terduga. Sakura sepertinya masih sangat terkejut hingga ia mengikuti langkah cepat Sasuke yang membawanya entah kemana. Meski awalnya ia tak menyukai sikap Sasuke, tapi ia juga mengakui bahwa setiap perlakuan Sasuke kepadanya, jantungnya selalu berdebar-debar.
Kali ini, debaran apa lagi yang akan diperlihatkan oleh Sasuke? Apakah dengan ini artinya ia sudah bisa membuka hati? Sakura tak tahu jawabannya, bahkan sampai ia duduk bersebelahan dengan Sasuke di dalam pesawat pun, ia tak tahu arah tujuan perjalanan ini.
-To Be Continued-
...Behind The Scene...
Author : *terkapar*
Sakura : *colekin Author pakek lidi* Author-san, kau baik-baik saja?
Itachi : Biarkan dia istirahat, Sakura-chan. Kurasa untuk part kali ini ia sedikit kesulitan, berhubung cerita sudah mulai menunjukkan perkembangan antara hubunganmu dengan Sasuke. Dan mengubah sifat Sasuke yang keras itu juga sepertinya bukan hal yang mudah untuk Author. Konfliknya juga mulai dimunculkan setelah part ini.
Sasuke : *mendekat, memperhatikan Itachi* hey, kenapa tiba-tiba kau mengerti sampai sedetail itu? *curiga*
Sai : mungkin sesuatu terjadi diantara mereka? *ikut memperpanas suasana*
Sakura : Eeeh? benarkah?!
Itachi : Eh? Eh? Itu...
Author : KALIAN BERISIIIIIKKKK~! *ROAR*
*semua diam seketika*
Maaf ya, readers~ Shera sedang kekurangan batre (energy) akhir-akhir ini.
Tapi sebisa mungkin Shera memenuhi tugas sebagai Author, meskipun update-nya agak kemaleman, semoga kalian masih stay tune ya. x(
Perubahan sikap Sasuke udah mulai keliatan belom?
Apa menurut kalian Sasuke udah bisa menerima Sakura dan membuka hati untuknya?
Oh ya, di chap depan sifat Sasuke mungkin berubah lagi lho~ karena suatu hal. Nantikan saja apa hal itu ya~ *evil
Ok, sekian dari Shera. *bersiap tepar*
Can you leave a mark (review)?
See you tomorrow,
Keep Trying My Best!
Shera.
