Fandom: Got7

Characters: The whole Got7 with some JYP Artists

Pair: Yugyeom x Bambam

Hope you like it!

.

"Selamat atas debutnya, manhwamu akan mulai diterbitkan di majalah bulanan 'Magma Zone' untuk edisi bulan depan."

Yugyeom terdiam untuk sesaatーtidak seperti biasanya. Youngjae yang menyadari akan hal itu, dengan hati-hati mengguncang tubuh pemuda bersurai hitam tersebut, "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Yang diguncang, tanpa sadar, meneteskan air matanya. Youngjae terkejut, ia pun berhenti mengguncang tubuh Yugyeomーkemudian menatap pemuda itu dengan kewalahan.

"H, hey, kalau aku salah bicara, bilang saja, jangan menangis-" Kalimat Youngjae belum selesai namun Yugyeom dengan cepat menggeleng kepalanya; memberi kode bahwa Youngjae bukanlah alasan ia menangis. Pundak Yugyeom bergetar, ia sesenggukan. Sang Editor semakin kebingungan, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar pemuda di hadapannya ini berhenti menangis. Meskipun Yugyeom sudah memberi tahu Youngjae tidak bersalah, lelaki bersurai cokelat itu tetap saja merasa tidak enak.

"A- aaahhh, Yugyeomsshi maafkan aku-"

"Tidak apa, ini air mata bahagia kok, tenang saja."

Youngjae sempat ingin bertanya, namun ia urungkan niatnyaーmungkin membiarkan pemuda yang lebih muda darinya tersebut menangis merupakan hal yang benar. Toh, Youngjae mengerti, Yugyeom pasti sangat senang dengan berita barusan. Dapat berkerja di bidang perkomikan pada umur muda adalah hal yang patut dibanggakan, setidaknya itu yang Youngjae pikirkan. Berharap bisa menenangkan Yugyeom, Youngjae menepuk-nepuk pundak pemuda itu.

"Kerja bagus, Yugyeomsshi." ujar Youngjae yang lalu menyerahkan sapu tangannya. Yugyeom mengangguk pelan, ia menerima sapu tangan tersebut. Youngjae hanya tersenyum kecil melihat Yugyeom yang begitu kekanakan.

Namun, ketika ia menyadari waktu saat ini, dengan cepat ia kembali membahas manhwa Yugyeom.

"Maaf menganggu, tapi kita harus kembali ke topik," Yugyeom tersadar akan suara Youngjae yang tegas, maka kegiatan ayo-menangis-dengan-bahagia-nya pun terhenti, kini ia memfokuskan perhatiannya ke Youngjae.

"Uhm, sebenarnya, naskah yang kau berikan kemarin itu sedikit pendek, namun karena masih prolog, akan kubiarkan," Youngjae berucap seraya menghitung kembali total halaman naskah Yugyeom. "Jadi, aku harap kau bisa membuat naskah selanjutnya lebih panjang dari ini." terangnya. Yang lebih muda hanya mengangguk pelan; mengerti apa yang dimaksud Youngjae.

"Lalu.. Hanya sekedar meyakinkan, kau ingin debut dengan pen name KYG?"

Yugyeom pun membalas pertanyaan itu dengan singkat, "Ya." Youngjae mengadahkan wajahnya, "Kau menyembunyikan identitasmu ya?" Tanya pemuda tersebut kemudian diiringi sebuah kekehan pelan. Yugyeom lagi-lagi mengangguk, "Hmm, aku tidak mau orang lain tahu tentang hal ini, meski itu teman dekatku maupun orang tuaku, aku tidak mau." tuturnya tegas. Sang Editor hanya bersungut-sungut mengerti.

"Baiklah kalau begitu."

.

Sebulan semenjak kejadian Yugyeom menangis di kantor penerbit (dan hal tersebut sempat membuat heboh beberapa pekerja di sekitarnya), kini Yugyeom sedang berada di mini market dekat apartemennya, atau lebih tepatnya, ia sedang berada di depan bagian buku. Pemuda dengan kaki panjang itu tengah celingak-celinguk mencari majalah komik bulanan 'Magma Zone' edisi bulan ini. Di saat ia menemukannya, Yugyeom langsung saja mengambil barang cetak itu. Tanpa basa-basi, ia segera berjalan menuju kasir dan membayarnyaーhatinya terus berdetak dengan kencang pasal ia tidak sabar untuk membacanya.

Saat ini, Yugyeom sudah berada di kamar. Pemuda tersebut menghempaskan dirinya ke kasur. Ia mengehembuskan nafas; sedang mempersiapkan mentalnya. Sedikit ragu, Yugyeom pun mulai menyibak halaman demi halamanーsetidaknya ia bisa menenangkan dirinya dengan membaca manhwa-manhwa lain. Tanpa sadar, Yugyeom sudah membaca sekitar tiga-empat manhwa, dan 'The Dragon Knights' termasuk salah satunya. Ia sejujurnya masih berpikir keras dengan fakta bahwa manhwaga karya itu menjalin hubungan dengan Si editor dingin yang sempat mengurus dirinya.

Di kala Yugyeom hendak membuka lembaran baru, ia meneguk salivanyaーtegang. Ia tahu halaman selanjutnya merupakan karyanya, pemuda tersebut benar-benar merasa tidak tenang.

Bagaimana jika saat naskahnya telah discan, hasilnya hancur?

Bagaimana kalau para pembaca lainnya tidak puas dengan karya miliknya?

Sungguh, kepala Yugyeom serasa akan meledak. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif. Namun di saat ia mengingat pujian dari Jinyoung, seketika ia merasa semua bebannya hilangーdi jurus itu pula, Yugyeom pun memberanikan diri untuk membuka halaman selanjutnya.

Kedua mata Yugyeom kian membuntangーternyata hasilnya tidak begitu buruk, tidak seperti apa yang ia pikir tadi. Pemuda bersurai hitam legam tersebut tersenyum tipis, perlahan-lahan sebuah tawaan kecil terlepas dari bibirnya. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, beberapa tetes air mata lolos dari kantungnya. Ia bersyukur. Sesekali ia bergumam bahwa ia masih tidak percaya dengan dirinya yang mampu debut. Yugyeom berharap, semoga ia mendapatkan tanggapan baik.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Lelaki tiang itu kalang-kabut mencari barang canggih tersebut. Di kala ia menemukannya, cepat-cepat pula ia tekan tombol hijau di layarーtidak melihat siapa yang menelpon.

"Halo?"

"Heeyy~ Yugyeom my bro!"

Hampir saja tersedak, Yugyeom lantas memukul-mukul dadanya untuk beberapa kali. Bagaimana tidak? Yang menelponnya adalah Bambam, alias sahabat sejatinya! Sepertinya, pemuda yang berada di seberang itu mendengar Yugyeom terbatuk-batuk.

"Oh my God, Yugyeom! Kau baik-baik saja?"

Meskipun tidak terlihat, Yugyeom mengangguk, "I- iya, aku baik-baik saja, ada apa tiba-tiba menelpon?"

Dari seberang, Bambam hanya terkekeh, "Hehe, aku berencana ingin mengajakmu keluar, kau mau tidak?" tanyanya.

"Yaaaahhh Bam, aku sedang tidak ada uang."

"Tenang saja, aku yang traktir~"

"Benarkah!?"

"Haha, ya ampun Yugyeom, kenapa kau jadi formal begini sih?"

Yugyeom memaki diri sendiri, ia tidak sadar akan dirinya yang terus menerus menggunakan bahasa formal. Mungkin dampak dari berbincang dengan Youngjae sebelumnya. Ia harus lebih berhati-hati lain kali.

"Hah, tidak kok! Kau saja yang berpikir aneh-aneh!"

Bambam pun menyahut (dengan nada berguyon), "Enak saja! Apa maksudmu!?"

Lalu kedua mahasiswa itu hanya tertawa dengan lepasnya. Yugyeom kemudian bertanya kepada sahabatnya yang berada di seberang tersebut kapan mereka akan berangkat dan dimana mereka akan bertemu. Setelah mendapatkan informasi, Bambam mengakhiri teleponnya dan bersiap-siap, begitu pula Yugyeom.

Waktu berlalu dengan cepat, kini Yugyeom sudah siap dengan jaket hitamnya, menunggu Bambam di lobby Mall XX. Di saat matanya menangkap bayangan pemuda bersurai keputihan itu, ia menghampirinya.

"Bambam!"

"Oh! Yugyeom!"

Yugyeom melemparkan senyuman khasnya, "Jadi mau makan dimana?" tanyanya. Bambam berpikir sebentar untuk beberapa saat, kemudian ia pun mengeluarkan usulnya. Yugyeom hanya mengangguk di kala Bambam mencetuskan usulannya. Toh, ia akan menerima jenis makanan apapun asalkan ditraktir.

Tanpa disadari, mereka berdua pun telah sampai di tujuan. Sebuah kafe kecil yang tidak begitu ramai. Sedikit dugaan dari Yugyeom, mungkin Bambam mengajaknya kesini akan uangnya yang bisa dibilang berkecukupanーNamun ia cepat-cepat melupakan hal itu, lantas mengikuti Bambam masuk ke kafe tersebut.

"Sudah lama sekali kita tidak pergi keluar bersama." Bambam memulai percakapan seraya melihat-lihat menu. Yugyeom hanya menatap Bambam dengan sedikit terkejut. Dipikir-pikir lagi, sepertinya Yugyeom memang terlalu sibuk belakangan ini untuk pergi keluar. Ia selalu berkutat dengan tugasnya (ia yakin, dengan dirinya berkerja sambilan menjadi manhwaga, pasti tugasnya sekarang sudah menggunung kalau ia masih bermalas-malasan seperti dulu).

"Yah kau kan tahu, tugas kelas jurusanku jauh lebih rumit dan banyak dari kelas jurusanmu." Wow sudah sebulan lamanya Yugyeom tidak membual. Bambam memutar bola matanya, "Iya aku mengerti Tuan Kim Cerdas Yugyeom dengan segala maha kepintarannya," balasnya dengan sarkastik. Yugyeom hanya terkekeh pelan mendengar hal itu. "Tapi hey, kelas ekonomi juga dapat membuatmu rontok tahu." tambah Bambam.

"Memang, karena itulah aku memilih jurusan teknik HAHAHA"

"Bodoh."

Yugyeom masih cekikikan sedangkan Bambam mengabaikannya, ia justru memanggil salah satu pelayan untuk mencatat pesanan merekaーdan Bambam mendapati sebuah pekikan kecil dari Yugyeom bahwa ia bahkan belum membaca menunya. Namun jujur saja, melihat Yugyeom yang begitu riuh membuat Bambam sedikit senangーia memang merindukan kawannya satu itu. Salahkan tugas-tugas menumpuk mereka yang menjadi penghalangnya.

Setelah Si pelayan pergi dari meja mereka dan berjalan menuju dapur, Yugyeom memperhatikan Bambam yang sedari tadi masih merenung.

"Hey, Bam."

"A- ah, iya? Ada apa?"

Yugyeom hanya memiringkan kepalanya, "Tidak, aku hanya bingung kenapa kau diam sekali hari ini." jelasnya.

Sungguh, Bambam sempat merasa telinganya panas. "I- itu, aku.. Sejujurnya..." pemuda bersurai putih tersebut mencuri-curi pandang kepada pemuda di hadapannya.

"Aku hanya merasa sedikit kesepian waktu kau tidak bisa ikut berpergian dengan kita-kita.."

Yugyeom hanya terdiam, lantas hal tersebut membuat Bambam berseru, "Sudahlah! Lupakan hal itu, ayo kita bersenang-senang seharian ini!" Dan Yugyeom hanya memancarkan senyuman kecilnya.

"Tentu."

Tidak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja mereka berdua dengan pesanannya. Yugyeom dan Bambam pun berseru ria karena begitu senang sampai-sampai pengunjung lain sempat merasa terganggu. Mereka berdua sadar akan hal tersebut, tetapi mereka justru tertawa layaknya orang bodoh.

Mereka berdua merindukan saat-saat seperti ini.

Seusai makan, Bambam mengusulkan untuk bermain di game center, dan hal itu pun disetujui oleh Yugyeom. Dua pemuda tersebut pun berlomba-lomba siapa yang lebih cepat ke game center karena Bambam sebelumnya memberi tantangan, "Yang kalah harus membelikan thai tea!" namun pada akhirnya ia juga yang kalah. Yugyeom hanya tertawa terpingkal-pingkal di depannya.

Kemudian mereka berdua pun berencana untuk memainkan dance dance revolutionーdimana permainan ini merupakan permainan kesukaan Yugyeom. Ia yakin 100% jika Bambam memainkan lagu favoritnya, kaki pemuda Thailand tersebut pasti menjadi keriting. Dan Bambam tidak terima akan perkataan Yugyeom, dengan begitu mereka berdua berakhir berlomba-lomba siapa yang lebih banyak memenangkan permainan itu.

"S- satu lagi... Aku tidak terima ini.."

Yugyeom terkekeh melihat Bambam yang nampak sangat letih, "Badanmu berkata lain, tahu? Lebih baik kita hentikan saja lalu cari permainan la—"

KRIING KRIINNG

Yugyeom menolehkan kepalanya ke arah sumber, dan ternyata ponsel miliknya yang membuat ulah. Pemuda bergigi kelinci tersebut pun merogoh ponselnya dan melihat nama siapa yang terpampang di layar.

Youngjaesshi

Yugyeom meneguk salivanya, lalu ia meminta izin kepada Bambam untuk menelpon sebentar. Meskipun sedikit heran, namun ia tetap membiarkannya. Di saat Yugyeom sudah menjauh, ia pun segera membalas teleponnya.

"Halo?"

"Yugyeomsshi, tolong datang ke kantor sekarang juga!"

"E- eh? Ada apa?"

"Kami para editor dan para manhwaga untuk Magma Zone akan membahas edisi bulan depan! Aku mempunyai kabar baik untukmu, cepatlah datang!"

Yugyeom menebak-nebak apakah kabar baik itu, akan tetapi ia sadar ia harus merespon Youngjae dengan cepat, "B- baik, aku akan segera kesana." Lalu Sang pemuda pun memutuskan teleponnya. Ia berjalan balik ke tempat Bambam berdiriーterlihat girang ketika melihat ia kembali.

"Yug-"

"Maaf Bam, aku harus kembali, aku ada urusan mendadak."

Sebuah kekecewaan nampak di wajah Bambam, "Me, memangnya urusan apa? Aku bahkan belum mentraktirimu Thai Tea sesuai janji tadi.."

Yugyeom hanya tersenyum kecut mendengar keresahan dari sahabatnya tersebut, namun ia cepat-cepat membalas dan mengubah atmosfernya, "Urusan penting, maaf ya Bam, kau bisa mentraktirku kapan hari kok, haha! Bye Bam!" Sedetik kemudian, Yugyeom meninggalkan Bambam di game center.

Namun Bambam tidak akan menyerah, ia pun membuntuti Yugyeom diam-diam. Tetapi itu hanya berlaku sampai sekitar 10 menit. Bambam tertangkap basah oleh Yugyeom karena kecerobohannya akan menginjak kaleng minuman. Yang bersurai hitam legam menatap Bambam tidak percaya.

"Bam, seriously!?"

Bambam sedikit terkejut dengan sikap Yugyeom yang tiba-tiba membentaknya, "Ma- maaf... Aku hanya ingin tahu kau pergi kemana sampai-sampai kau rela membatalkan rencana kita hari ini-"

"Pergilah dari hadapanku sekarang juga. Kumohon, Kunpimook."

Bambam yakin, barusan ia merasakannya hatinya disayat dengan pisau tanpa ampun. Suara Bambam tercekat di tenggorokan, ia tidak mampu berkata apa-apaーdengan hati yang terpukul ia melangkah dan mulai menjauhi Yugyeom.

Diam-diam, Yugyeom merasa sedikit bersalah. Tetapi ia berusaha untuk melupakan hal itu dan segera berlari menuju kantor penerbit.

.

"Yugyeomsshi, akhirnya kau datang! Ayo ikut aku!" Merupakan hal pertama yang terlontar dari mulut Youngjae ketika ia melihat Yugyeom baru saja memasuki gedung. Tanpa basa-basi Sang editor menarik pergelangan tangan Yugyeom.

"T- tunggu aku sangat grogi! Aku belum berani melihat para manhwaga-manhwaga pro saat ini juga, beri aku wak-"

"Tidak bisa, kita harus segera membahas hal ini."

Daripada membuat pertikaian, Yugyeom pun memutuskan untuk mengalah dan mempersiapkan mentalnya agar tidak pingsan di saat ia bertemu dengan manhwaga lain. Di saat mereka berdua memasuki ruangan rapat, Yugyeom merasa semua mata tengah menatapi dirinya.

Seseorang berdiri dari duduknya, kemudian ia menepukkan kedua tangannya. Yugyeom menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang tertera di ID cardnya; Park Jinyoung (CEO + Head of Editor). Sejujurnya ia sempat berpikir apakah orang itu kembaran Editor Jinyoung atau bagaimana, namun ia langsung mengabaikannya.

"Mari kita ucapkan selamat atas debutnya seorang manhwaga baru yang berumur 18 tahun ini!"

Kedua mata Yugyeom membulat, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia hanya bisa memancarkan senyum tersipunya dan sesekali mengucapkan, 'Terima kasih.' kepada orang-orang disitu yang ikut bertepuk tangan riuh.

"Cukup, mari kita langsung saja ke tujuan utama kita mengadakan rapat ini," Ucap Sang Kepala editor. Seketika yang lain pun menghentikan tepuk tangannya dan kembali fokus. Yugyeom dengan gusar pun duduk di sebelah Youngjae.

"Kim Yugyeom, saya ingin memberi tahu bahwa respon para pembaca terhadap karyamu sangatlah baik, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya angka penjualan 'Magma Zone', kerja bagus." Jujur saja, Yugyeom sempat kaget dengan hal tersebut. Ia tidak percaya pendatang baru seperti dirinya dapat meningkatkan angka penjualan.

"Terima kasih.."

"Dan karena itulah, saya meminta anda untuk menggambar cover depan untuk bulan selanjutnya."

"E- Eeeh!?" Pekikan Yugyeom sedikit mengundang tawa yang lain, tetapi ada beberapa juga yang mengucapkan selamat kepalalu pemuda tersebut dengan cepat menunduk beberapa kali akan sikapnya barusan.

"Lalu, kalian tahu bulan depan bulan apa?"

"Uhm, bulan Desember." Balas seorang pemuda dengan hoodie merah. Di sebelahnya ada Jinyoung, apakah itu Mark?

"Dan kalian tahu ada apa di bulan Desember..?"

Para Manhwaga lain (terkecuali Yugyeom) meneguk salivanya ragu, "...Natal..." Ucapnya pelan. Yugyeom menyadari perubahan atmosfer ruangan, ia melihat Sang Kepala Editor yang sedang tersenyum.

"Seperti biasa, kalian harus membuat chapter ekstra untuk manhwa kalian edisi natal, dengan 10 halaman berwarna."

"TIDAAAAAAAKKK!"

Yugyeom yang kebingungan menyikut pinggang Youngjae; meminta penjelasan. Sang Editor menghela nafasnya kecil, "Setiap natal, Magma Zone dan Flower Girls selalu merayakannya dengan cara memberi servis lebih untuk para pembaca, yaitu sebuah chapter ekstra yang menceritakan tentang karaktermu yang sedang merayakan natal diikuti dengan 10 lembar berwarna." Jelasnya panjang lebar.

"Ah, jadi.."

"Benar, chapter keduamu yang seharusnya dilanjutkan terkena delay, menjadi lebih telat." Sela seseorang di sebelah Yugyeom. Pemuda bersurai hitam itu baru saja menyadari keberadaannya.

"Oh, Jackson hyung sudah menjelaskannya untukmu." Youngjae bersuara. Sepertinya nama orang barusan adalah Jackson. Seingat Yugyeom, Jackson adalah manhwaga 'Rise of The Beast' yang merupakan karya terindah yang pernah ia lihat—dan Yugyeom tidak menyangka orang tersebut sedang duduk di sampingnya.

Tiba-tiba Yugyeom bertanya lagi, "Maaf banyak bertanya, tapi apakah ini hal yang harus dikecewakan?"

Jackson menautkan alisnya, "Tentu saja, kau harus memikirkan plot baru lagi untuk chapter ekstra seperti ini," Balasnya. "Memangnya kau suka?"

"E- ah maaf.."

Sebuah tepukan di punggung Yugyeom mendarat, "Haha! Jangan dimasukkan ke hati, aku hanya bercanda kok~" Sifat Jackson ternyata diluar dugaan Yugyeom, pemuda tinggi itu mengulum senyuman manis, lalu mengangguk kecil.

Sang Kepala Editor pun menatap Yugyeom, kemudian mengarahkan telunjuknya. "Kau, aku berharap tinggi padamu," Di saat yang bersamaan, Yugyeom merasa wajahnya telah basah karena tetesan keringat.

"Karena itulah, kami memberikan sepaket copic marker untukmu, lakukan yang terbaik."

Seketika Yugyeom mengangkat kepalanya dan melihat sepaket copic marker di hadapannya. Ia sangat bahagia, apalagi mengingat harga copic marker bisa dibilang mahal sekali, dan kini ia mendapatkannya dengan gratis!

"T, terima kasih Pak Kepala!"

Dengan begitu, rapat selesai. Sang Kepala editor berjalan keluar terlebih dahulu, meninggalkan para manhwaga berserta editornya di dalam. Di saat Yugyeom hendak berjalan keluar ruangan, Jackson menahan pundaknya.

"Kita semua berencana untuk makan siang di sebuah resto, kau mau ikut?" Ajak Jackson. Mata Yugyeom berbinar-binar mendengar ajakan dari manhwaga panutannya itu, "B- bolehkah?"

"Tentu saja!"

"Aku sudah makan sih.. Tapi aku ingin ikut!"

"Haha, bagus sekali semangatmu, anak muda~"

Akhirnya mereka semua pun berjalan menuju sebuah resto dekat kantor. Hati Yugyeom berdegup dengan kencang, ia tidak percaya ia sedang bersama manhwaga-manhwaga ternama (menurut Yugyeom). Kemudian mereka duduk di suatu tempat yang pastinya menurut mereka nyaman.

Di kala Jackson, Youngjae dan beberapa orang lainnya sedang memilih-milih apa yang harus mereka pesan, seorang pemuda dengan kaus hitam pun bertanya kepada Yugyeom, "Yugyeomsshi, kau masih kuliah, bukan?"

Yugyeom sedikit terkejut akan pertanyaan yang terlontar dari lelaki itu, "E- eh, ah iya.."

"Wah, pasti sulit sekali membagi waktu kerjamu dan kuliahmu."

"Begitulah, tapi pada akhirnya aku selalu menyelesaikan semuanya."

Melihat Yugyeom mulai membaur dengan yang lain, Youngjae pun menimbrung kembali.

"Ooh Yugyeom~ Kau jadi akrab dengan yang lain eh?" Goda pemuda bersurai cokelat tersebut. Yugyeom hanya membalasnya kecil, "Mungkin? Haha."

"Hey, hey! Kenapa tidak sekalian saja merayakan pesta keberhasilannya Yugyeom disini?" Usul Jackson berhasil menarik perhatian yang lain. Tidak ada sedetik mereka langsung saja berseru riuh; setuju. Yugyeom pikir, ia akan merasa canggung berbicara dengan para manhwaga lain yang notabenenya lebih senior hal ini pun berlaku pula untuk para editornya. Namun nyatanya tidak, dan Yugyeom senang karena tidak ada senioritas di antara mereka semua.

"Oke, mari kita memulai pesta ini dengan perkenalan dulu! Aku Wang Jackson! Aku manhwaga 'Rise of The Beast', Editor kita sama, yaitu Youngjae! I'm looking forward to you!" Jackson memulai terlebih dahulu disertai Bahasa Inggris yang cukup fasih. Dan Yugyeom kagum akan hal tersebut. Ia juga cukup kaget ternyata Youngjae merupakan editor Jackson pula. "Next, Jaebum-ah~!"

"Sudah kubilang pakai hyung!" Tukas seseorang berkaus hitam tadi yang menanyai Yugyeom. Ternyata namanya Jaebum. Ia mengambil nafas perlahan, "Namaku Im Jaebum, pen nameku JB, aku manhwaga 'The Cursed Sword', editorku Wonpil," ia berhenti sementara dan menunjuk pemuda yang duduk di sebelahnya. "Kau boleh memanggilku JB atau Jaebum, tapi aku lebih nyaman jika kau memanggilku dengan nama asliku." Lanjutnya dengan sebuah senyuman terpampang di wajah.

Setelah Jaebum, seseorang dengan hoodie merah (Yang Yugyeom duga itu Mark) pun melanjutkannya, "Namaku Mark Tuan, pen nameku YiEn, aku manhwaga 'The Dragon Knights', editorku..." Ia melirik Jinyoung, dan yang dilirik hanya mengalihkan pandangannya.

"Iya aku tahu editormu pacarmu kan, lanjut saja." Sela Yugyeom tiba-tiba dan hal tersebut berhasil mengundang tawa yang lain. Diam-diam Jinyoung menatap Yugyeom tajam seolah-olah ia berkata, 'Malam-ini-kau-akan-kubunuh' yang membuat pemuda bergigi kelinci itu bergidik ngeri.

Waktu berlalu dengan cepat dan pesanan mereka pun datang (tapi Yugyeom hanya memesan minuman), dan Yugyeom kini mengenal rekan kerjanya. Ada; Mark, Jaebum, Jackson, Jaehyung, dan Younghyun. Ia menjadi tahu lebih detil tentang sulitnya menjadi editor, karena dari pengalaman Wonpil, ia harus mengunjungi apartemen Jaehyung, yang merupakan manhwaga di bawah awasannya, setiap bulan karena kalau tidak didatangi naskah Jaehyung selalu telat. Yugyeom sedikit kagum dengan para editor yang sanggup mengurusi manhwaganya. Oh, ia juga menjadi tahu kalau Jaebum dan Jinyoung merupakan teman sejak masa SMA. Mereka berdua sempat membahas sebuah salam buatan mereka yang bernamakan 'JJ Cross' dan Yugyeom pikir itu pasti tidak lebih seperti salam dah buatan dirinya dan Bambam.

Singkat kata, ia tahu hubungan para editor dan manhwaga di meja makan ini; Youngjae editornya Jackson, Jinyoung editornya Mark dan Younghyun, terakhir Wonpil editornya Jaebum dan Jaehyung.

Yugyeom senang berada disini, ia tidak menyesal telah mengajukan naskahnya disini.

.

"Sial... Aku tidak mengerti cara memakai copic."

Yugyeom sedang frustasi. Sekarang tanggal 5 November dan ia masih belum membuat kemajuan sama sekali. Ia sudah berulang kali menonton video bagaimana cara memakai copic yang baik dan benar, namun ia tetap saja tidak mengerti. Padahal ia sudah membuat beberapa sketsa kasar untuk chapter spesial edisi natal nanti. Awalnya Yugyeom berniat untuk meminta pendapat Youngjae akan sketsa kasarnya dan mulai menebalkannya lalu berakhir dengan mewarnainya. Akan tetapi sampai detik ini Yugyeom masih tidak mengerti bagaimana cara menggunakan copic.

Di kala Yugyeom sedang latihan menggunakan copic, ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Namun ia tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari kertas. Meskipun ternyata pesan itu dikirim oleh Bambam, Yugyeom masih berkutat dengan copic serta kertas percobaannya.

Bambam

Yugyeom, maaf aku kekanak-kanakan waktu itu, aku akan membawakan kue kesukaanmu ke rumahmu sekarang juga

TBC