Age Gap AU

Jihoon: 23 tahun

Samuel: 17 tahun

.

"Hey."

Jihoon menoleh. Seorang bocah berpakaian SMA sedang bersandar pada dinding tak jauh dari tempatnya berdiri. Mukanya terlihat seperti bule. Matanya tidak berniat menyembunyikan fakta bahwa ia terang-terangan memperhatikan Jihoon.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya Jihoon basa basi. Jarinya menitikkan abu yang sudah menggumpal diujung batang rokoknya. Jihoon menangkap ekor mata bocah SMA tersebut mengamati gerakan jari lentiknya. Sekali lagi, bocah itu seolah tidak peduli dia tertangkap mengamati setiap pergerakan Jihoon.

"Hm... mungkin kau bisa membantu dirimu sendiri."

"Maaf?" ucap Jihoon setelah menghembuskan asap nikotin dari hidungnya.

"Ini tempat yang sering dilewati petugas keamanan. Jadi sebaiknya kau matikan rokokmu dan carilah tempat lain yang lebih tertutup." Bocah itu menjelaskan dengan nada seolah-olah itu merupakan rahasia umum dan informasi yang seharusnya Jihoon tahu.

Well, Jihoon tahu hal itu, karena lorong di sebelah tempatnya bekerja ini memang biasa ia singgahi untuk sekedar melepas penat dengan menghisap batang tembakaunya. Ia juga sudah kenal dengan petugasnya. Lalu, permasalahannya apa?

Dan apa pedulinya bocah ini?

"...oke, lalu tujuanmu mengatakan ini semua adalah...?" Jihoon benar-benar bingung.

Bocah itu mengernyit tidak percaya.

"Astaga ternyata kau seorang troublemaker ya?" Decak bocah itu.

Jihoon yang sudah dilabeli seenaknya oleh orang yang baru ia temui (terlebih lagi masih bocah SMA) merasa tidak terima.

"Aku tidak tahu bahwa seseorang yang merokok maka otomatis menjadikannya seorang troublemaker." Ucap Jihoon ketus. Sarkasme terdengar jelas di nada bicaranya.

"Ya ampun." Bocah itu menarik napas kasar. "Permasalahannya bukan pada merokok." lanjutnya. Kemudian seolah untuk menekankan ucapannya, bocah itu mengeluarkan satu pak rokok miliknya dari saku baju sekolahnya.

"Yang jadi masalah itu," ucap bocah itu lamat-lamat, seakan dengan begitu Jihoon akan mampu mencerna omongannya dengan jelas.

"Kau sebagai anak dibawah umur yang jelas-jelas dilarang merokok malah dengan bebasnya melakukan itu disini! Di siang bolong lagi."

Hah.

Jihoon benar-benar ingin menghajar bocah ini sekarang.

"SIAPA YANG KAU SEBUT ANAK DIBAWAH UMUR, BOCAH?!" seru Jihoon menggebu-gebu. Rokoknya yang masih menggantung di mulutnya hampir terjatuh. Mulut dan hidungnya mengeluarkan asap seperti seekor naga.

"Ya tentu saja kau. Siapa lagi disini selain kita berdua?" tanya bocah itu. Ia cukup kaget dengan reaksi Jihoon sebenarnya.

"DASAR BOCAH!" geram Jihoon. Ia tergesa-gesa mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dompetnya lalu menyodorkannya ke wajah bocah itu.

"Umurku 23 tahun, bocah! Seharusnya, aku yang menceramahimu soal merokok! Bukan kau!" seru Jihoon gemas.

Samuel melongo kala ia menyerap tulisan yang tertera di kartu itu.

"Wow, ini terlihat asli. Dimana kau memalsukannya?"

Doenggg

Tuhan, salahkah aku jika menghajar anak kurang ajar ini? batin Jihoon.

"YAH! DASAR BOCAH SETAAAAN! AKU INI BENAR-BENAR 23 TAHUN!" Jihoon sadar dia sudah terlihat seperti orang kalap sekarang, tapi masa bodoh lah.

Bocah itu masih dengan setia memasang wajah bingungnya melihat reaksi berlebihan Jihoon. Pemuda yang sedang mencak-mencak di depannya ini memang terlihat muda. Apalagi semburat merah muda alami di pipinya itu benar-benar membuatnya terlihat imut.

"Kau tidak perlu berbohong padaku, aku juga merokok kok. Malah kalau kau mau, akan kuajak kau ke tempat aku biasa merokok." tawarnya. Meskipun pemuda di depannya ini tidak jelas, tapi dia tertarik untuk mengenalnya. Laki-laki imut dan merokok. Wow, kombinasi mematikan bagi bocah itu.

"Astaga kenapa kau tidak mempercayaiku? Dan aku tidak sudi merokok denganmu!" tukas Jihoon sebal.

"Yah mana ada orang terlihat semuda dan seimut kau ternyata sudah 23 tahun?"

Eh, bocah itu keceplosan. Dia sudah hampir salah tingkah, tapi ternyata Jihoon sudah terlebih dulu melakukannya. Terbukti dari wajahnya yang memerah hingga telinganya.

"Nah kan," bocah itu menyeringai. "Mana ada lelaki 23 tahun memerah dengan cepat seperti itu? Karena gombalan anak SMA lagi."

Jihoon gelagapan. "A-aku... Kau... AKH SUDAHLAH!"

Sontak Jihoon langsung pergi meninggalkan tempat itu dan masuk ke kantornya lewat pintu samping dengan merah menghiasi wajahnya.

Bocah SMA itu tergelak melihat kondisi Jihoon. Benar-benar menarik.

"Namaku Kim Samuel! Kalau kau benar-benar bukan anak dibawah umur, aku akan menunggumu besok disini di waktu yang sama! Ayo merokok bersama!"

Jihoon yang masih dapat mendengar teriakan bocah itu dari balik pintu hanya mendengus kesal.

"TIDAK MAU! ENYAH SAJA KAU, BOCAH SETAN!"

Gelak tawa Samuel yang terdengar menandakan kalau dia bisa mendengar dengan jelas meskipun terhalang pintu.

Jihoon berusaha untuk tidak berpikir bahwa suara tawa Samuel membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dan bahwa ajakan Samuel untuk 'merokok bersama' lebih terdengar seperti ajakan kencan.

Ugh, Jihoon harap dia tidak akan bertemu Samuel lagi.

Nyatanya...

"Ternyata kau benar-benar kerja disini ya? Ya sudah ayo merokok!"

Keesokan harinya Samuel sudah berdiri manis di depan pintu kerja Jihoon.


Note:

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN.

Jadi jangan ditiru ya hehehehe ini hanya fiksi.

Anyway, i hope you enjoy this one! And review please? Hiks review disini lebih sedikit dari Problem T_T