GHOST
*Ch 4*
Story © alice dreamland
Vocaloid © Crypton Media & Yamaha Corp
Genre: Mystery, Horror, Romance
Warning: Typo(s), alur lambat/ngebut, all in Normal PoV
Summary: Dua sekolah kini digabung kembali setelah tiga tahun terpisah. Dan setelah kedua sekolah itu digabungkan, kejadian-kejadian horror pun dimulai…
Len pun dengan cepat berlari menuju arah suara Rin. Saat ia sampai, ia dapat melihat bahwa Neru dan Lui sudah berada di sebelah Rin dengan mata terbelalak. Rin sendiri tidak jauh berbeda, ialah yang terlihat paling terkejut diantara mereka semua.
"A-Ada apa?" tanya Len tergagap.
"I-I-Itu…," jawab Rin tergagap sambil menunjuk sesuatu diantara rak buku. Len pun melihat ke arah yang ditujukan Rin dan melihat 'seseorang'.
Ya, seseorang. Seseorang bersimbah darah di depan mereka. Matanya terlihat seperti memelototi mereka diantara wajahnya yang penuh darah.
Satu kata. Orang itu atau lebih tepatnya—gadis—karena ia berambut cukup panjang, sudah tidak bernyawa.
Mati. Dan sepertinya ia bukan mati secara alami, alias…
… dibunuh.
Len sendiri kini tengah menatap 'orang' dihadapannya itu dengan pandangan tidak percaya.
"I-I-Ini…"
"A-Aku tidak tahu… Tapi aku hanya berjalan-jalan di loker sekitar sini, lalu aku mencari yearbook itu. A-Aku pun menemukannya, namun saat aku menariknya, secara tidak sengaja aku menyenggolnya cukup keras. La-Lalu tiba-tiba saja, gadis itu sudah ada disini terjatuh dari atas le-lemari…," jawab Rin tergagap. Neru berusaha menenangkannya, walaupun ia sendiri juga cukup ketakutan.
"Kalau begitu dimana yearbook-nya?" tanya Len. Rin terlihat sudah lebih tenang. Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menunjuk sebuah buku yang tidak jauh dari tempat kejadian.
"Disana."
Len dengan cepat pergi dan mengambil buku berwarna cokelat tersebut. Ia mengelap cover-nya dengan tangan—menghilangkan debu—lalu kembali ke tempatnya semula.
"Nee, apa ini?" tanya Lui ketika melihat sebuah kertas yang berada di dekat jasad gadis berambut hijau tersebut.
"E-Eh? Aku tidak menyadari kalau tadi ada kertas disana," ucap Neru sambil memerhatikan kertas itu dengan seksama.
Lui pun membalikkan kertas tersebut, namun yang ia dapati hanyalah sebuah logo disana.
Logo perempuan.
Apa itu berarti pembunuhnya adalah seorang gadis?
Entahlah.
Lui mengangkat bahunya lalu meneliti kertas itu lagi dengan teliti. Di ujung kanan kertas tersebut, terdapat sebuah tulisan yang ditulis dengan rapi.
'GHOST'
Dengan huruf G yang sudah dicoret entah mengapa. Lui kembali menyerngitkan kedua alisnya, heran.
"Nee minna... dalam bahasa inggris, ghost itu berarti hantu kan?" tanya Lui sambil melihat kearah Rin, Len, dan Neru secara bergantian. Mereka semua mengangguk.
Petunjuk. Semua ini merupakan petunjuk.
"Lantas… Apakah ini maksudnya pembunuhnya adalah hantu?" batin Lui.
"Eh! Aku ingat! Tadi aku melihat sebuah mayat juga!" jerit Len tiba-tiba. Karena terlalu fokus dengan keadaan disini, ia lupa dengan apa yang menimpa dirinya. Neru dan Lui membelalakan mereka dengan terkejut. Sedangkan Rin menatap Len aneh.
"Apa itu aneh?" tanya Rin pelan, membuat ketiga orang disana melihat kearahnya dengan tatapan binggung.
"Aku takkan curiga jika ada sebuah mayat lagi disini. Lagipula, satu sudah ditemukan, kemungkinan akan ada lagi sangat besar," lanjut Rin sambil memainkan rambutnya sejenak. Kemudian menatap kearah Len.
"Kagamine-kun, dimana mayatnya sekarang?" tanya Rin dengan nada selidik. Len menunjuk lemari yang berada cukup jauh dibelakangnya itu, lalu menunjuk atasnya.
Rin langsung menghampiri tempat itu lalu matanya segera terbelalak. Kali ini satu korban lagi. Rambutnya juga berwarna hijau. Seperti gadis tadi. Namun ini mayatnya masih berada diatas lemari, sehingga susah untuk diobservasi.
Duk!
Duk!
Duk!
Rin melihat ke asal suara. Ternyata, Lui berniat untuk mengoyangkan lemari tersebut sehingga 'jasad' tersebut dapat jatuh. Walaupun ia tahu nanti akan terlibat masalah dengan sekolah, namun lebih baik diobservasi dahulu.
"Lu-Lui-senpai! Apa yang kau lakukan?!" tanya Neru kaget. Lui menatap Neru lalu menjawab.
"Tentunya menurunkan mayat ini. Kalau tidak turun, kita takkan tahu siapa orang ini—"
"Kita bahkan belum tahu gadis tadi siapa," potong Neru sambil berkacak pinggang.
"Kurasa ia belum lama dibunuh. Darahnya saja masih mengalir dan belum kering, lalu aku merasa ia bukanlah anak sekolah ini."
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Neru sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Karena aku adalah seorang Ketua OSIS. Aku harus hafal nama-nama murid-murid disini," jawab Lui.
"Oh iya ya," jawab Neru. Ia baru ingat bahwa Lui merupakan seorang ketua OSIS.
"Bagaimana kalau yang mati adalah murid tiga tahun yang lalu disini? Gumi Megpoid."
Sebuah suara berkata tiba-tiba. Neru dan Lui pun melihat keasal suara—Len—dengan pandangan aneh.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ia ada di yearbook tiga tahun yang lalu," seru Len lalu menunjuk yearbook yang tengah terbuka di hadapannya itu.
"Kenapa kau bisa yakin ia adalah salah satu murid yang menghilang tiga tahun yang lalu?" tanya Lui kebinggungan.
"Ia memang seorang murid yang menghilang tiga tahun yang lalu, dan aku baru menyadarinya karena ia mengenakan seragam sekolah lama saat dibunuh."
Neru dan Lui mengangguk-angguk mengerti. Benar juga, sebelum Crypton dan Yamaha digabung kembali, seragam yang mereka kenakkan sangat berbeda dari sekarang.
"La-Lagipula, ia cukup mirip dengan mayat yang pertama, kurasa mereka bersaudara atau apalah… Dan mungkin pembunuh mereka sama," lanjut Lui—melanjutkan pembicaraannya dengan Neru yang sempat terpotong.
Rin? Rin sedang terdiam melihat mayat itu dengan wajah pucat pasi.
"Rin?" tanya Neru.
"…"
"Rin?"
"…"
"Rin?"
"…"
"RIN!"
"E-Eh! Neru! Kenapa kau berteriak seperti itu?!" jerit Rin terkejut karena tidak terima Neru meneriakinya.
"Kau itu habis darimana sih? Daritadi kupanggil kau tidak menjawab. Apalagi melihat wajahmu yang pucat pasi seperti hantu," tanya Neru dengan pandangan bingung kearah Rin. Lui dan Len juga melihat kearah Rin dengan pandangan bingung.
"A-Ah, aku tadi hanya melamun kok…," ucap Rin sambil tertawa ragu. Len menaikkan alisnya, terlihat sukar mempercayainya. Neru melihat Rin seperti seseorang yang tidak dikenalnya. Sedangkan Lui hanya memandang Rin dengan tatapan yang sulit untuk dideskripsikan.
"Tidak biasanya Rin seperti ini…," batin mereka bertiga kebinggungan.
.
.
.
Kini mayat itu telah berhasil diturunkan. Berdasarkan info yearbook tiga tahun yang lalu, ia merupakan saudara kembar Gumi bernama Gumo Megpoid.
Lui kini sedang 'mengutak-atik' mayat tersebut, berharap mendapatkan informasi menarik yang akan menguak misteri ini.
"AH! Aku menemukannya!" Jerit Lui gembira ketika menemukan secarik kertas. Ia pun memungutnya dan membolak-balik kertas itu. Neru, Rin dan Len pun beranjak mendekati Lui.
Kali ini, terdapat sebuah logo anak laki-laki.
"Tunggu… Tadi perempuan, sekarang laki-laki... Apa mungkin logo-logo itu mempunyai maksud bahwa yang dibunuh adalah seorang laki-laki atau perempuan?" batin Lui.
Lalu ia meneliti kertas itu lagi. Seperti saat itu, di kertas tersebut, terdapat sebuah tulisan kecil di ujung kanannya.
'GHOST'
Sama seperti tadi, dengan huruf G yang sudah dicoret.
Lalu diatasnya terdapat sebuah tulisan:
'Ghost'. Namun kali ini, tidak menggunakan huruf besar semua. Hanya awal saja yang huruf Kapital.
"I-Ini aneh…," ucap Rin kebinggungan. Sepertinya ia kini akan menggemukakan pendapatnya. Len, Lui dan Neru memandang Rin.
"Apa yang aneh?" tanya Lui.
"Apa menurutmu ini tidak aneh? Mereka sudah lama hilang. Tapi baru dibunuh belum lama ini, dan lagi, kenapa harus kita yang menemukan mereka?" Rin pun melanjutkan pertanyaannya dengan pandangan serius dan cemas kearah Len, Neru, dan Lui.
"Kau benar Rin… Aku juga merasa ini aneh, seperti…," ucapan Neru terhenti sejenak.
"Seperti?" tanya Len sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Seperti… Sang pembunuh berusaha untuk mempermainkan kita."
.
Fiuh… Chap ini jadi juga! Hurray! Gomen kalau ini cerita lama ga updet… Saya lagi fokus ke 'Tower' soalnya, pengen cepet selesaikan itu cerita. Tapi akhirnya ini lanjut lagi! XD Saya sebenarnya pikir kalau untuk GumiGumo saja, chap ini ngak akan cukup… Jadi sebenarnya Alice pikir untuk menambahkan sesuatu tentang 'Racun'… Tapi ternyata cukup, jadi racunnya nanti di chapter depan saja~ Ini balasan reviewnya!
-Kurotori Rei
Ehehe… Bukan, tapi sudah ketahuan disini kan? :D
Arigatou sudah me-review! X3
-Xinon
Iya… Alice buat alurnya memang agak cepat untuk cerita ini, karena susah untuk dibuat lambat saking banyaknya misteri yang sudah tertanam di otak Alice TAT
Gomen… Alice juga baru nyadar kalau ini lebih cenderung ke Mystery sepertinya, mungkin itu yang membuat horrornya tidak terlalu terasa… Sekali lagi Gomenn…
Arigatou sudah me-review! :3
-Yaileekyaa
Ini sudah lanjut… Iya, Alice tega banget buat cerita kayak gini (?) #disepak
Arigatou reviewnya! X3
-Lyzia Yuki Chan
Halo Yuki-chan! Ini sudah lanjut… Arigatou ne sudah me-review! XD
-Kireina Yume
Bener banget! Kok bisa tebak? XD
Kalau masalah Internet biasanya Alice ngunain modem, jadi gatau .-.
Gomen ga bisa membantu… Biasanya ngetik, disend ke hp, lalu dipublish atau diupdet lewat hp-nya Alice…
Arigatou sudah baca fict ini dan sudah me-review! X3
-Shiroi Karen
Ini sudah lanjut Karen-san! Arigatou reviewnya! X3
Arigatou buat yang sudah fave, fol, dan baca sampai sini! Sekian,jaa ne~!
~Kiriko Alicia
