Disclaimer : Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Rate : T

Warnings : AU, maybe contain a little bit OOC n typo

ooo

Temari mengusap tali tas kulit yang tengah ia pegang, mencoba mengingat-ingat alasan kenapa ia ada di bandara saat ini?

Tengah hari berada di terminal kedatangan internasional Bandara Haneda menunggu sebuah pesawat dengan tulisan American Airlines mendarat. Apa ia menganggur? Tentu saja tidak. Ada setumpuk kertas yang harus ia gambar dengan sepatu yang nantinya harus bisa membuat para wanita itu rela menggosok credit card-nya berkali-kali untuk bisa memiliki sepatu rancangannya.

'Sebenarnya sedang apa aku disini sekarang?' desahnya pelan sambil menggosok tengkuknya.

"Kenapa pesawatnya belum mendarat juga, Temari?" sebuah suara feminim membuyarkan lamunannya.

"Pesawatnya delay, Oba-sama." Ia tersenyum tipis ketika melihat kegelisahan wanita paruh baya di sebelahnya.

"Panggil aku Kaa-san Temari, kau akan segera menjadi menantuku kenapa masih memanggilku seperti itu?"

Temari tersenyum salah tingkah ketika mendengar teguran wanita itu, yah wanita yang menjadi alasan mengapa ia berada di sini saat ini.

Awalnya ia ingin menolak ajakan Uchiha Mikoto untuk menjemput putra bungsunya yang akan pulang dari Amerika, ia sedikit segan berurusan dengan anggota keluarga Uchiha manapun saat ini mengingat masalahnya dengan Itachi yang belum beres, tapi apa daya ia sepertinya tak bisa menolak bujukan wanita itu.

"Baik, Kaa-san." Ia pun akhirnya menuruti permintaan itu.

"Kau tahu Temari, saat ini aku senang sekali. Akhirnya aku akan memiliki seorang putri sebentar lagi." Ia berkata sambil membelai kepala Temari.

Temari hanya bisa tersenyum kecut, seandainya wanita di hadapannya ini mengetahui rencana fantastis putranya, apa ia akan sebahagia sekarang.

"Tentu akan sangat menyenangkan bila itu terjadi." Mulutnya bergerak tanpa bisa ia kontrol, sedetik lalu ia mungkin akan menyesali apa yang ia katakan, tapi ketika melihat senyum Nyonya Uchiha mau tak mau ia ikut tersenyum.

'Astaga Itachi, kau membuatku menjadi serba salah.' Batinnya putus asa meskipun bibirnya menyunggingkan senyum.

ooo

My Shotacon Girl

Chapter 4

Nadeshiko Ama

ooo

"Kenapa wajahmu mendung sekali?" ia bertanya ketika sahabatnya duduk di mejanya.

"Memangnya harus ekspresi apa yang kupasang, Tenten?" jawabnya sambil menghela nafas panjang.

"Kenapa lagi dengan para Uchiha itu?"

"Memusingkan."

"Tell me." Ia sepenuhnya menaruh perhatian pada temannya sekarang, meninggalkan apa yang ia kerjakan tadi.

"Tadi pagi Nyonya Uchiha mengundang kami ke makan malam untuk merayakan kepulangan Sasuke."

"Lalu? Bukannya itu hal yang bagus?"

"Itachi kembali hari ini." Jawabnya sambil menerawang ke jendela di hadapannya.

"Oh." Tenten hanya bisa berkomentar pendek mengenai hal ini.

"What should I do?" ia kembali menghela nafas putus asa.

Tenten memandang sahabatnya dengan prihatin, ia tahu Temari bukanlah gadis sentimentil yang mudah resah tentang laki-laki. Akan tetapi dengan semua permasalahan ini siapa pun pasti akan frustasi, apalagi jika ayahmu adalah seorang Kazekage yang pasti lebih mementingkan nama baik keluarga daripada alasan putrinya.

"Hei Temari ambil bagian termudahnya saja, bukankah kau bilang Itachi yang akan bertanggung jawab. Jadi kau bisa kembali lagi pada Shikamaru kan?"

"Bagaimana kau bisa bicara seperti itu, Tenten?" serunya kesal.

"Sudahlah percayakan saja semua padanya, he is The Prodigy Itachi, don't you remember?"

"Tapi..."

"Take it easy girl, atau jangan-jangan kau sudah mulai tertarik pada Itachi."

"Tidak, tentu saja tidak." Temari dengan cepat membantah dugaan Tenten.

"Lalu?"

"Entahlah." Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas frustasi.

"Ceritalah, Temari." desaknya

"Keadaan berubah menjadi tak terkendali."

"Maksudmu?"

"Calon tunangan yang mencintaiku ingin membatalkan rencana pertunangan, ibunya yang sudah menganggap aku seperti putrinya sendiri, adiknya yang tidak menyukaiku, dan keluarga mantan pacar yang membenciku, memangnya aku bisa kembali padanya?"

"Dia membencimu?" Tenten terkejut mendengar fakta yang diutarakan Temari.

"Siapa? Sasuke? Begitulah. Kemarin saat menjemputnya terlihat sekali bahwa ia benar-benar tidak menyukaiku. Tatapan matanya benar-benar menusuk, Ha~ sayang sekali padahal menurutku dia terlihat manis."

"Hentikan. Sekarang bukan saatnya sifat shotacon-mu itu kambuh, Temari."

"Pasti Sasuke mendukung keputusan Itachi, lalu bagaimana nasibku selanjutnya?"
"Wah ini memang benar-benar masalah berat kalau seperti itu."

"Kenapa kau tidak percaya padaku?" ujarnya setengah kesal.

oOo

Temari seperti sudah pasrah pada nasibnya ketika masuk ke ruangan di hadapannya, saat ini Itachi akan menjalankan rencananya tempo hari. Nasibnya akan ditentukan dalam beberapa langkah ke depan, entah apa yang akan diperbuat ayahnya jika ia mengacaukan semua rencana keluarga Uchiha dan Sabaku yang telah disusun matang-matang.

Ia merasakan pening akibat pasokan udara yang tiba-tiba menurun drastis di sekitarnya ketika melihat Itachi berada di ruangan yang baru ia masuki.

Temari sadar mata Itachi mengikuti setiap langkahnya dalam diam, ia harus berkonsentarsi penuh agar bisa melangkah dengan wajar, akan sangat menyebalkan jika ia tiba-tiba jatuh terjerembab di depan Itachi karena ia begitu gugup ditatap dengan intens oleh pria itu. Dengan membulatkan semua tekadnya ia berusaha membalas tatapan Itachi, ada sebersit rasa sakit di dadanya ketika mata hijaunya bertemu dengan mata onyx itu, tatapan matanya begitu tajam seakan langsung menembus hatinya.

Sebuah suara lembut yang terdengar dari seberang tempatnya membuatnya menyudahi kontak mata dengan Itachi, begitu juga dengan pria itu segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Temari segera memasang senyum terbaiknya ketika melihat Uchiha Mikoto menghampirinya.

"Kau sudah datang?"

"Iya, Ob... Kaa-san." Ia segera meralat ucapannya ketika melihat kerutan di dahi wanita itu.

"Tidak apa-apa kan, Karura-san? Jika Temari memanggilku seperti itu?" Mikoto bertanya pada wanita di sebelah Temari.

"Tentu saja, aku menyadari hal ini cepat atau lambat akan terjadi." Jawabnya sambil tertawa kecil.

Temari hanya bisa tersenyum ketika mendengar percakapan dua wanita itu, sekilas ia melirik Itachi, yang sedang menuang chivas ke gelas yang dipegangnya.

'Apa tidak apa-apa ia minum sebelum perutnya terisi sesuatu?' batinnya sambil terus mengamati Itachi yang duduk di single sofa.

"Kau harus sedikit bersabar padanya." Temari sontak menoleh dengan terkejut ketika ia mendengar seseorang berbisik padanya.

Uchiha Mikoto tersenyum ketika melihat ekspresi terkejut di wajah Temari, "Dia itu kaku dan membosankan sama seperti pria-pria Uchiha pada umumnya, tapi putraku itu sangat menghargai wanita, jadi kau tidak perlu khawatir."

Perlu beberapa detik bagi Temari untuk bisa memprosesnya, sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk tanda ia mengerti pada wanita itu.

'Juga keras kepala.' Ia berkata pada dirinya sendiri sambil melihat Itachi.

oOo

Makan malam terasa begitu menyiksa bagi Temari, setiap suapan terasa seperti karet bagi, susah sekali untuk ia potong atau kunyah. Belum lagi tenggorokannya yang terasa menyempit sehingga sulit baginya untuk menelan. Sulit untuk bisa makan dengan benar bila ada yang terus-menerus menatapmu dengan penuh kebencian. Belum lagi harus tetap waspada pada Itachi, setiap ia akan membuka mulutnya maka ia mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka semua pada dirinya. Ia belum siap untuk mengacaukan segalanya saat ini.

Makan malam sudah selesai beberapa saat yang lalu, para orang tua terlibat dalam percakapan ringan dan ia tidak berniat untuk bergabung dengan mereka, jadi setelah berpamitan ke toilet ia tetap berada di luar tidak ikut masuk ke dalam rumah.

"Kenapa kau masih di luar?"

Temari menoleh dan melihat Itachi tengah mengamatinya dari belakang.

Tanpa menjawab ia kembali menatap kolam ikan di hadapannya, ia sedang tidak ingin berbicara dengan pria itu saat ini.

Itachi hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat Temari memalingkan wajahnya, ia tahu pasti wanita itu masih marah pada dirinya. Sejak saat ia datang ke rumahnya sampai usai makan malam ia selalu mencoba menghindari tatapan matanya, ia juga mencoba mengalihkan pembicaraan ketika ia membuka mulutnya.

'Apa ia begitu khawatir dengan perkataanku tempo hari?'

Temari sedikit bergidik ketika angin malam menerpa dirinya, ia otomatis menggosok lengannya agar merasa sedikit hangat. Tapi percuma saja saat ia memakai gaun sleeveless, sehingga angin malam langsung menusuk kulitnya.

"Eh?" Temari merasakan sesuatu yang hangat menutupi lengannya.

"Ini sudah hampir musim gugur kenapa kau memakai baju tanpa lengan seperti ini?"

Temari langsung cemberut ketika tahu apa yang sebenarnya terjadi, rasa hangat yang menutupi lengannya berasal dari jaket yang dipakaikan ke bahunya.

"Mana aku tahu kalau makan malam kalian adalah barbeque outdoor seperti ini?" Ia merasa tidak terima ia disalahkan karena informasi yang tidak jelas dari ibunya.

"Itu bukan alasan, sekarang kita masuk saja."

"Tunggu kau tidak akan mengatakannya sekarang kan?" Temari menahan lengan Itachi yang sudah akan berbalik menuju ke dalam rumah.

"Kenapa? Lebih cepat lebih baik bukan?"

"Pertimbangkan sekali lagi, Itachi." Ia makin menguatkan cengkeramannya di lengan Itachi. "Aku mohon." Ia kembali memohon ketika Itachi tidak menanggapi permintaan sebelumnya.

Temari hanya bisa memejamkan matanya dan menghela nafas putus asa ketika Itachi tetap melangkah masuk ke dalam, dan sekarang setiap langkahnya membawanya semakin dekat ke dalam kemurkaan ayahnya.

Ia sadar sekarang adalah kesempatan sempurna untuk mengungkapkan semua rencananya, semua anggota kedua keluarga tengah berkumpul, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang memberatkannya untuk membicarakan hal tersebut. Matanya kembali mengamati Temari yang tengah resah dalam duduknya, 'Ini saat yang tepatkah?' sebuah pertanyaan yang terus terulang di otaknya.

Temari duduk dalam gelisah pikirinnya kembali berputar ke beberapa saat yang lalu, ketika ia berpapasan dengan Sasuke sebelum ia mengikuti Itachi ke dalam rumah.

"Ada yang ingin kau bicarakan Sasuke?" Temari akhirnya tidak tahan untuk tidak menegurnya karena dari tadi hanya tatapan tidak mengenakkan yang ia dapat dari pemuda itu.

"Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Sejak pertemuan pertama kita di bandara kau selalu menatapku dengan tidak suka."

Lama sampai akhirnya Sasuke mau membuka mulutnya, "Kau yakin itu pertemuan pertama kita? Apa sekarang seleramu berubah?"

"Apa?" Temari terpaksa menanyakan kembali karena ia sungguh tidak menyangka perkataan itulah yang keluar dari mulut Sasuke setelah sekian lama.

"Jangan kau kira aku tidak tahu reputasimu, Shotacon Girl?"

Temari hanya bisa membelalakkan matanya, entah kenapa sebutan itu terasa sangat merendahkan baginya meskipun tidak sekali ini saja ia mendengarnya. Tetapi yang lebih membingungkan darimana Sasuke tahu mengenai predikatnya itu.

"Lalu? Kenapa memangnya? Apa itu menjadi masalah untukmu?"

"Tidak, tapi apa kau pikir kakakku masih mau denganmu?" jawabnya dengan penuh kemenangan.

'Ya, Sasuke kau boleh saja tersenyum, karena aku bertekad akan menjadi yang paling akhir tersenyum hari ini.'

"Itu tidak masalah. Asal kau tahu saja, kakakmu sudah tahu dan seperti yang kau lihat ia masih denganku sekarang."

Temari melenggang pergi, ia terus melangkah dengan anggun, senyum kemenangan tersungging di wajahnya. Meninggalkan Sasuke yang wajahnya perlahan memucat.

'Tersenyum paling akhir? Yah tentu saja, kecuali apa yang akan Itachi katakan sebentar lagi.' Batinnya kecut.

oOo

"Itachi..." Temari berusaha mengembalikan perhatian pria itu pada dirinya

"Hm." Kembali jawaban itu yang keluar dari mulutnya.

"Astaga. Bisakah kau perhatikan aku sebentar saja." Ia mengambil Playbook yang dipegang Itachi. "5 menit. Tidak, hanya 2 menit. 2 menit, oke? Lalu kau bisa kembali pada Playbookmu ini."

"Ada apa?" Itachi menyerah pada kemauan keras gadis di hadapannya

"Kau tidak akan mengatakannya pada Otou-sama kan?"

Itachi melirik Temari sesaat lalu meneguk espresso-nya, "Hm, mungkin."

"Kenapa mungkin?" tanyanya mendesak

"Lalu? Memangnya apa yang kau mau?"

"Mauku? Tentu saja kau tidak mengatakannya."

"Oke."

"Apa?" ia sedikit tidak mempercayai pendengarannya karena dengan mudahnya Itachi menyetujui permintaannya.

"Ya Sabaku Temari aku tidak akan mengatakan apa pun pada keluarga kita, puas?"

Temari menganggukkan kepalanya dengan antusias, senyum lebar merekah di bibir indahnya.

"Tapi dengan satu syarat." Perkataaan Itachi yang mampu menghapus kebahagiaan di wajah Temari.

"Apa?" tanyanya dengan waspada.

"Kau tidak boleh menangis lagi." Temari hanya mampu mengerjapkan matanya dengan bingung ketika mendengar hal yang sama sekali tidak ia duga.

"Kalau kau menangis lagi, tidak hanya orang tua kita saja yang akan mendengar pembatalan pertunangan kita. Aku juga akan menyeret kau dan Nara Shikamaru ke hadapan kedua orang tuamu agar menikahkan kalian berdua."

"Kenapa?" suaranya tercekat seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.

"Karena mungkin hanya dia saja yang bisa membahagiakanmu." Itachi menatap langsung ke bola mata dark green Temari.

Temari hanya bisa terdiam memandang Itachi, ada sesuatu yang membuat dadanya berdesir mendengar kesungguhan Itachi. Tidak ada yang benar-benar memikirkan kebahagiaannya sampai detik ini, bahkan dirinya sendiri. Alasan ia tetap mempertahankan rencana pertunangannya dengan Itachi semata-mata hanya karena ia takut pada kemarahan ayahnya. Tetapi kenapa pria di hadapannya ini sampai begitu jauh memikirkan kebahagiaan dirinya. Temari mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya dalam mata Itachi, mencoba menyelami apa yang ada di balik manik hitam itu, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Temari dengan tiba-tiba memutus eye contact-nya dengan Itachi.

Pesona mata itu terlalu kuat untuknya, she got strange feeling.

"Itu Sasuke." Suara Itachi memecah keheningan diantara mereka.

Temari otomatis melihat ke arah yang ditunjuk Itachi, di kejauhan ia melihat Sasuke sedang berjalan mendekat ke arah mereka.

"Sepertinya Sasuke tidak menyukaiku." Temari menyuarakan isi hatinya pada Itachi.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Itachi mengerutkan keningnya ketika mendengar penuturan Temari.

"Kau tidak melihat cara dia memandangku? Dia terlihat..." Temari berhenti sejenak memberi jeda untuk menghela nafas, "Entahlah membenciku tapi juga ada kemarahan di matanya."

"Mungkin karena kalian belum terlalu kenal." Itachi mencoba mendinginkan suasana.

"Tapi.." perkataannya terputus ketika tiba-tiba Sasuke sudah sampai di meja mereka.

Tanpa berkata apa-apa Sasuke sudah menghempaskan tubuhnya di sebelah Itachi, Temari mencoba untuk tersenyum padanya dan hanya dibalas dengusan kecil dari Sasuke.

'See? Aku tidak akan bermanis-manis lagi denganmu, Bocah.' Batin Temari sebal.

"Hei, bagaiman kalau kita mengadakan double date?" Itachi mencoba mencairkan suasana yang terlanjur kaku sejak kedatangan Sasuke.

"Double date? Dengan siapa? Tenten?" Temari mengerutkan alisnya dengan bingung ketika mendengar usul yang menurutnya aneh, meskipun ia tahu Itachi cukup akrab dengan Hyuuga Neji.

"Tidak. Kita berdua dan juga Sasuke bersama pacarnya."

"Aku tidak punya pacar." Jawab Sasuke dengan ketus.

"Tidak heran." Jawab Temari seenaknya.

"Bukankah kau pernah bilang ada gadis yang kau sukai disini, sekarang kau sudah pulang, ajaklah dia kencan." Itachi menjawab dengan sabar sepertinya tidak terpengaruh dengan aura perang yang dikeluarkan adik dan calon tunangannya.

Sesaat tangan Sasuke yang hendak meminum espresso-nya terhenti, Temari bisa menangkap raut kekagetan di wajah tampannya, tapi dengan cepat ia berhasil mengendalikan diri dan memasang wajah datarnya. "Itu bukan urusanmu, Aniki."

"Hei kenapa kau kasar sekali pada kakakmu."

Entah mengapa Temari yang merasa tersinggung dengan ucapan Sasuke, sedangkan Itachi tetap tenang tidak terpancing sedikitpun, sepertinya pria itu sudah kebal dengan berbagai tingkah menyebalkan Sasuke.

"Lalu kenapa harus kau yang marah?"

"Itu tidak sopan, bisa-bisanya kau berbicara seperti itu pada yang lebih tua."

"Semuanya baik-baik saja sebelum kau datang, baik dulu atau pun nanti tidak akan ada yang bisa merubahku atau Anikiku, apapun statusmu."

"Ah ternyata itu masalahnya."

"Apa maksudmu?"

"Kau dan brother complex-mu itu. Kalian selalu bersama sejak kecil juga dekat satu sama lain, jadi ketika aku tiba-tiba datang, kau merasa panik karena takut aku mengambil semua perhatian kakakmu."

Sasuke tidak berkomentar sepatah kata pun mendengar argumen Temari, ia hanya mencengkeram erat gelas esprsso yang tengah ia pegang.

"Jadi bukan karena aku kan? Siapapun orang yang akan menjadi tunangan kakakmu kau akan bersikap sama, iya kan? Bersikaplah dewasa Sasuke, Itachi tidak akan menjadi baby sitter-mu selamanya."

Cengkeraman Sasuke makin erat, kukunya terlihat memutih, matanya penuh kilat kemarahan, "Diam,Temari. Kau tidak tahu apapun, jadi tutup mulutmu." Ia bangkit dari duduknya dan keluar dengan penuh kemarahan.

Temari terkesiap ketika melihat reaksi Sasuke, "Apa aku mengacaukannya?" ia merasa sangat bersalah pada Itachi.

"Tidak. Mungkin kalian memang butuh waktu." Ia berkata menenangkan sambil menepuk pelan punggung tangan Temari.

oOo

"Jadi apa ini artinya ada berita bagus mengingat dengan baik hatinya kau mentraktirku makan siang seperti ini?"

"Ya, begitulah." Temari masih terus meneliti buku menu yang sedang dipegangnya tanpa menatap Tenten.

"Jadi kau berhasil membujuk Itachi untuk memberimu kesempatan kedua."

"Yap."

"Well, selamat kalau begitu. Sepertinya yang harus aku lakukan adalah duduk santai dan menunggu undangan pertunangan kalian saja."

"Terserah kau saja." Ia berkata acuh pada sahabatnya itu.

"Lalu apa kau sudah berhasil mengambil hati calon adik iparmu itu?"

Temari mengembuskan nafas panjang ketika teringat masih ada ganjalan dalam hubungannya dengan Itachi.

"Kau tahu?" Temari kini memberi perhatian pada Tenten, "Sepertinya ada yang aneh dengan Sasuke."

"Apa?" tanya Tenten penuh minat.

"Ya, selain fakta bahwa ia penderita brother complex akut, dia mengatakan bahwa kami pernah bertemu sebelumnya."

"Dan kau tidak pernah merasa bertemu dengan dia sebelumnya?" Tenten mulai menginterograsi layaknya detektif handal.

Temari mengangguk

"Kau yakin tidak pernah bertemu dengannya sebelum di bandara kemarin?"

Temari kembali mengangguk.

"Kau yakin dia bukan salah satu pria yang pernah kau goda, lalu kau campakkan begitu saja, makanya dia begitu membencimu."

"Hei... kalau memang benar aku pernah menggodanya, aku tidak akan mencampakkannya. Karena sebenarnya ia sungguh manis dengan sifat ketus dan pemarahnya itu."

"Fokus, Temari, fokus. Oke?"

"Oke." Ia mengangguk sekali lagi.

"Ingat-ingat sekali lagi."

Tenten hanya bisa menghela nafas ketika sekali lagi Temari menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia benar-benar tidak punya ingatan sedikit pun tentang Sasuke.

"Oke, kita menyerah saja. Mungkin memang dia hanya mengada-ada, sekedar untuk mengintimidasimu."

Untuk pertama kalinya Temari mengeluarkan ekspresi cerianya hari ini.

"Setelah ini kita ke toko kaset ya, ada CD yang ingin kubeli."

"Oke."

oOo

Temari menyapukan matanya ke deretan CD di hadapannya, sesekali ia mengambil CD untuk membaca daftar track CD tersebut. Disampingnya Tenten juga melakukan hal yang sama, tetapi bedanya gadis itu sudah menemukan beberapa CD yang ingin ia beli. Setelah beberapa saat Temari segera menjadi bosan dengan aktifitasnya itu, ia memtuskan berjalan mendahului Tenten, siapa tahu di rak lain ia mendapat CD yang menarik perhatiannya.

Sesampainya di rak seberang, Temari tidak lantas meneliti deretan CD dihadapannya. Matanya terpaku pada objek di hadapannya, sekitar 50 meter di hadapannya ada Sasuke yang sepertinya jug sedang mencari CD, dan dengan tiba-tiba mood Temari langsung menjadi buruk mengingat pertemuan terkhir mereka yang kacau.

"Kau sedang melihat apa?" sebuah tepukan di bahunya memaksa ia untuk menolehkan kepalanya ke samping.

"Kau ingin bertemu Sasuke?"

Seperti yang sudah ia duga Tenten mengangguk dengan antusias.

"Kau lihat pria memakai kemeja putih di sana." Katanya sambil menunjuk dengan dagunya. "Itulah Uchiha Sasuke yang sering kita bicarakan selama ini."

Tenten yang melihat ke arah yangditunjukkan Temari langsung membelalakkan matanya, "Oh My God."

"Yeah, Oh My God." Temari memutar bola matanya.

"No, seriously, Temari. You're in big trouble now."

"Yeah of course." Kata Temari keras kepala, msaih tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan sahabatnya.

Tenten dengan tiba-tiba mencengkeram bahunya dan membalik tubuhnya agar bisa berhadapan dengan dirinya.

"Kau ingat pesta Halloween di Las Vegas 2 tahun lalu."

Temari mengiyakan, sedikit ragu-ragu dengan ingatannya.

"Pria itu adalah pria yang kau cium saat kau kalah taruhan dengan kami." Temari membelalakkan matanya dengan horor. "Ya, pria itu adalah Uchiha Sasuke."

To be Continued...

Author's Note:

Hoho yang kemarin mau SasuTema, ayo merapat...

Seperti sebelum-sebelumnya saya ucapkan terima kasih bagi yang sudah membaca fic ini, baik yang sekedar lewat ataupun yang sudah review. Kiss n hug satu-satu buat reader yang sudah review XOXO .