Kuroko No Basuke

Fujimaki Tadatoshi

Pairing : AkaKuro

Fantasy,Shounen Ai,Romance

Happy Reading !

Chapter 4

Sore hari disebuah taman terdapat sosok seorang laki-laki berkacamata sedang duduk di ayunan. Tampaknya dia sedang menunggu seseorang. Taman yang biasanya dipakai para orang tua untuk mengajak anaknya bermain itu kelihatan sepi.

" Kenapa lama sekali" tanya sosok yang sedang duduk di ayunan kepada seorang laki-laki yang entah dari mana tiba-tiba berada dibelakangnya. Laki-laki itu memakai jubah hitam sampai menutupi seluruh tubuh nya.

"Hanya bermain sebentar" jawab laki-laki berjubah itu

" Hah" menghela nafas sebentar "Aku kan menyuruhmu mencari informasi tentang kuroko itu Hanamiya, kenapa malah bermain dengan kisedai itu?" tanyanya pada pemuda yang diketahui bernama Hanamiya Makoto.

"Aku bosan Shoichi, lagi pula sudah lama aku tak tegur sapa sama mereka" jawab Hanamiya

Imayoshi Shoichi laki-laki berkacamata seorang penyihir bangsawan, berwajah tampan yang dari luar terlihat selalu tersenyum tetapi dibalik senyuman itu dia menyimpan berbagai rahasia yang sepertinya hanya dia yang tahu. Saat ini Imayoshi menjadi tangan kanan dari Nash Gold sang Penyihir Bangsawan yang beberapa tahun lalu melakukan pemberontakan kepada Raja Akihito dan Raja Kuroko Kazuya serta penyeban terjadinya peperangan yang amat dasyat. Sedangkan Hanamiya Makoto adalah teman masa kecil Imayoshi yang juga menjadi bawahan Nash Gold. Keduanya sama-sama bekerja kepada Nash Gold dan mereka adalah pengawal setia sang pimpinan.

"Lalu apa yang kau dapat?"

"Dugaanku sepertinya mereka menyembuyikan anak yang bernama kuroko itu. Aku tadi coba untuk memberitahukan pada si tuan muda Akashi itu lalu dia menjawabnya tidak tahu. Itu aneh sekali. Mana mungkin seorang Akashi ketinggalan berita semacam ini" jelas Hanamiya

"Hum, begitu. Apa kau tahu mereka menyembunyikannya dimana?"

" Mana Aku tahu, aku tak merasakan sihir darinya. Aku sudah mencoba mencarinya dengan sihirku ke seluruh bangunan itu tetapi nihil"

" Seperti dugaan Tuan Nash, bahwa sihir kuroko masih belum sepenuhnya bangkit."

" Ini Aneh. Kuroko itu kan dari keluarga penyihir, bukannya harusnya dia bisa menggunakan sihirnya sedari kecil. Bahkan sihir itu sendiri akan bangkit waktu kita bayi kan."

" Kau benar, tapi mungkin Raja dan Ratu yang melakukannya. Kau ingat julukan dari Ratu Tetsuna yaitu 'Queen of the Earth' tidak menutup kemungkinan bahwa Ratu Tetsuna yang menekan atau menyegel Aliran Sihir Kuroko sehingga kita tidak bisa mendeteksi sihirnya"

"Merepotkan"

"Sebaiknya kita segera melaporkan hal ini kepada Tuan Nash"

" Yah, baiklah"

" Tapi sebelum itu, apa kita tidak sekalian kencan saja? Mumpung lagi disini" ucap Imayoshi dengan senyumnya kepada Hanamiya

"A-Apa? Kau gila, aku tidak mau!

" Yah, sayang sekali" kata Imayoshi dengan nada sedikit kecewa

" Kapan-kapan saja"

"Eh?"

"Ck. Kau tidak dengar. Kapan-kapan saja kita perginya" ucap Hanamiya seraya memalingkan wajah. Terlihat semburat merah tipis disana

"Hehe. Baiklah kalau itu maumu. Ayo kita pulang" kata imayoshi sambil merangkul Hanamiya

" Hei, Apa yang kau lakukan. Singkirkan tanganmu"

" Ha'i-ha'I" katanya langsung menghilang bersama Hanamiya

.

.

Kota Tokyo memang ramai dan padat, itu karena Tokyo sendiri adalah pusat dari pemerintahan. Banyak orang berlalu lalang, ada yang pergi bekerja, sekolah, sekedar jalan-jalan, ngobrol, berkumpul. Dari sekian banyak orang yang berlalu lalang untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, terlihat seorang wanita keluar dari stasiun bawah tanah. Surai biru langit sepinggangnya melambai-lambai tertiup angin. Dari cara berjalannya sudah terlihat kalau dia begitu anggun. Semua mata tertuju padanya kulit pucatnya seputih salju, surainya secerah langit musim panas dengan memakai topi pantai besar wajah cantiknya tidak akan terlihat. Wanita itu sebenarnya agak risih dilihat seperti itu tetapi karna wajahnya tertutup topi dia sedikit tenang.

Berjalan menyusuri kota Tokyo tanpa tersesat sedikitpun seolah dia sangat mengenal kota ini. Setelah menaiki bus sekarang dia turun dan melihat kanan kiri sejenak lalu belok di persimpanagn, jalannya agak menanjak tetapi dia tidak merasa kesulitan dengan barang bawaannya yang cukup besar. Setelah sepuluh menit berjalan dia berhenti di depan rumah pagar hitam dengan tulisan 'Mayuzumi" di plakat depan. Wanita itu segera membuka pagar dan memasukinya lalu memencet tombol bel yang terpasang.

" Hai-hai cotto matte kudasai" terdengar suara wanita dari dalam rumah, dan langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu. Pertama Mayuzumi Hikari bingung siapa wanita yang berdiri di depannya ini. Tetapi setelah emlihat surai birunya Hikari melebarkan mata seakan tak percaya.

"Domo, Hikari-chan apa kau sehat-sehat saja" sapa wanita itu dan mendongak dari balik topinya memperlihatkan iris biru lautnya dan langsung melepas topi yang dipakainya sedari tadi.

"Ya-Yang Mu-Mulia!" kata Hikari tak percaya bahwa yang berdiri didepannya saat ini adalah Ratu Kerajaan Teikoku Kuroko Tetsuna atau biasa di panggil Lady Tetsuna.

" Hikari-chan berhentilah bersikap berlebihan seperti itu dan jangan panggil 'Yang Mulia' disini" kata Tetsuna

"Ta-tapi aku tidak bisa dan Ah, Astaga silahkan masuk" ucap Hikari ketika sadar sedari tadi mereka berada diluar

Mereka masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang tamu Tetsuna mendudukkan dirinya di sofa sambil bernafas lega. Setidaknya dia masih ingat jalanan di Tokyo dan tidak tersesat mencari rumah ini.

" Anda mau minum apa Yang Mulia"

" Hikari-chan sudah kubilang jangan seformal itu denganku dan kita ini tidak sedang di kerajaan, jadi tolong hentikan" katanya tegas namun masih terdengar lembut secara bersamaan

" Tapi…."

" Tidak adatapi-tapian"

" Oke. Tapi itu berlaku kalau hanya di rumah ini kalau di luar aku akan tetap memanggilmu seperti itu kau mau aku di omeli orang-orang karena tidak sopan dengan Ratu ku sendiri"

" Hah terserah kau sajalah" ucap Tetsuna pasrah kepada sahabatnya dan juga pelayannya saat berada di kerajaan dulu.

" Ngomong-ngomong aku terkejut saat kau menampakkan diri disini, apa akan terjadi sesuatu pada Tetsuya?"

" Tidak. Aku sudah lama meninggalkan Kerajaan pada para tetua, dan aku juga belum siap meyerahkan seluruh tanggungjawab kerajaan di bahu Tet-chan. Kau tahu sejak aku membawanya ke desa itu dan memanipulasi memori ingatannya, dia tak pernah menggunakan sihirnya sekalipun"

" Souka, tapi Tetsuna kau masih Ratu di kerajaan itu setidaknya sepeninggal suamimu kau bisa memimpin Kerajaan dan tak harus buru-buru menyerahkan tanggungjawab kepada Tet-chan"

" Aku tahu tetapi, seperti yang kau dengar dari seorang Seer itu bahwa yang akan benar-benar mengalahkan bangsawan Nash adalah Tet-chan dan peranku hanyalah membantunya dari belakang semampuku"

" Aku tak tahu apa yang bisa aku bantu. Tapi aku akan menghargai dan menghormati seluruh keputusanmu itu sebagai seorang sahabat dan Ratuku dari Teikoku"

" Terimakasih Hikari-chan. Sudah saatnya kita kembali Hikari-chan banyak tugas yang menumpuk di sana karena aku tinggal selama dua puluh tahun dan aku harus menuntaskan tanggungjawab dari mendiang suamiku"

"Baiklah Yang Mulia"

.

.

Hari ini hari yang sangat melelahkan bagi Tetsuya, mengikuti seluruh mata pelajaran yang ada di kampus ini sedikit menguras tenaganya apalagi seharian ini dia belum mendapatkan asupan gizi dari kekasihkanya vanilla milkshake. Hari pun semakin sore dan kampus sudah mulai sepi. Dia berjalan sendirian dilorong yang sepi dan dia merasakan udara jadi dingin padahal ini belum musim dingin. Kepalanya merasa pusing dengan tiba-tiba pandangannya pun sedikit berputar. Pemandangan didepan yang semula adalah lorong sekarang menjadi hutan rimba. Tetsuya tersentak, kaget, tentu saja. dia yakin atadi dia masih di kampusnya dan sekarang berada di tengah hutan rimba sendirian. Mencoba berpikir tenang dan tidak gugup, pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi selalu terngiang di kepalanya. Suara gemeresak membuyarkan lamunan Tetsuya. Dia menoleh ke samping kiri, mencari sumber suara. Tapi kemudian suara itu terdengar dari sisi kanan. Ketika Tetsuya menoleh cepat ke arah kanan, seorang pria bertopeng sudah berdiri di sebelahnya. Tetsuya bergerak mundur, tapi kemudian pandangannya terhalang kibasan jubah hitam. Kemudian, Tetsuya merasakan pandangannya terblokir dan mulutnya terbungkam paksa.

Di tengah kepanikan, Tetsuya berusaha untuk tenang dan berkonsentrasi untuk melarikan diri. Tetapi belum sempat dia berpikir sebuah suara asing mengusiknya.

" Hee….jadi ini si kuroko itu. ternyata memang mirip. Wajahmu memang perpaduan dari keduanya. Kukira kau sekuat mereka tetapi sepertinya kau lemah. Kenapa orang-orang itu menyembunyikannya" kata pria bertopeng itu

"hmmmpp, hmmmp"

" Haa, apa yang kau katakan anak manis aku tak mengerti"

" Fuah. . . Si-siapa kalian" ucap Tetsuya setelah mulutnya bebas

" Kami? Kami ini hanya seorang penyihir yang diberi tugas untuk me-le-nyap-kanmu. Hihihi"

"A-apa" kata Tetsuya terkejut, kini dia ketakutan. Tidak mungkin dia bisa melawan lima orang berjubah dan bertopeng didepannya ini. Dia tak pernah berkelahi sejak kecil. Bagaimana dia bisa melarikan diri dari orang-orang ini apalagi dia tidak tahu tempat apa ini.

" hahaha, jangan takut anak manis tenang saja kau tidak akan merasa sakit kok" ucap pria bertopeng itu sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Tetsuya.

" Sentuh sedikit saja kau akan mati" terdengar suara tegas dan tajam dari sebelah kiri mereka

" Akashi-kun!" ucap Tetsuya terlihat binar kesenangan di matanya

Akashi dan yang lainnya sudah berdiri disana. Terlihat kemarahan dari mata Akashi tetapi mencoba untuk tidak gegabah mengambil tindakan.

" Ara.. tuan muda Akashi ternyata. Hebat juga bisa menemukan tempat ini dan tahu bahwa aku mengambil mainanmu"

" Lepaskan Tetsuya!" Titahnya

" Gomen ne, tapi aku sudah merebutnya darimu dan sekarang dia adalah milikku"

Kilatan merah melayang kearah pria berjubah itu namun dia bisa menghindarinya dengan gesit. Dengan cekatan Tetsuya di tarik oleh Akashi dan dibawa kedalam pelukannya. Keempat rekannya langsung menyerang pasukan berjubah dan bertopeng tanpa menunggu komando dari Akashi. Berkali-kali kilatan merah,hijau,kuning melayang diudara pertanda bahwa pertempuran antar penyihir sedang terjadi. Sosok berjubah yang diketahui sebagai pemimpin mereka sekarang berada dihadapan Akashi dan Tetsuya yang masih berada dalam pelukan Akashi.

" Kau tidak apa-apa Tetsuya?"

"Aku baik-baik saja Akashi-kun" jawab Tetsuya masih tampak takut dan cemas

" hoo, jadi namanya Tetsuya" kata pria berjubah itu

" Jangan pernah panggil namanya dengan mulut kotormu itu!" geram Akashi

" Hahahaha… kenapa kau begitu melindungi dia Akashi ? Apa kau merasa bersalah padanya"

" Diam!"

" Apa dia tidak tahu yang sebenarnya? Dan apakah sebaiknya aku yang mengatakannya padanya?"

"Diam!"

"Ini akan menarik jika aku mengatakan yang sejujurnya kepada Kuroko Tetsuya"

" Kubilang DIAM!"

Sihir Akashi keluar dengan tidak terkendali, semua mata menuju ke arahnya. Dan Tetsuya yang tak pernah melihat Akashi semarah ini merasa sedikit takut. Tetapi niat itu ia urungkan saat melihat mata Akashi dia melihat disana ada penyesalan yang sangat dalam dan juga kesedihan.

" Akashi,! tenangkan dirimu dengarkan omongannya! Teriak Midorima dari arah kanan, dia masih sibuk menghadapi pria berjubah dan bertopeng dihadapannya sepertinya lawannya kali ini sedikit kuat dari lawan-lawan sebelumnya dan sepertinya mereka selevel. Dengan mengucapakan mantra dan melayangkan serangan kearah pria berjubah itu seketika langsung terpental kearah pohon dibelakang dan pohon itu langsung tumbang

"Ck. Akashii! Jangan mudah terpengaruh omongannya kau itu kuat kan!" kali ini Aomine yang berteriak, sambil menghadapi lawannya.

" Benar Akashicchi! Jangan saja pria itu ssu"

" Aka-chin apa perlu aku yang menghajarnya untukmu"

"Hahahahaha….kalian sungguh membuatku terharu. Saling memberi semangat kepada seorang teman. Hahahaha sungguh lucu sekali. Hei Akashi mereka itu tak tahu apa yang kau rasakan, mudah bagi mereka yang mebicarakannya tapi apa kau lupa bahwa perbuatanmu itu su…"

"DIAAM!" teriak Akashi dan sihirnya semakin kuat membuat seluruh hewan dihutan ini berteriak. Semua teman-temannya menyadarkan Akashi tetapi sepertinya usaha mereka gagalkali ini. Tanpa mempedulikan dan kebingungan yang menghampiri Tetsuya, dia tiba-tiba saja memeluk Akashi dengan erat.

" Kumohon Hentikan Akashi-kun" pinta Tetsuya " Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi kumohon sadarlah Akashi-kun, Aku akan selalu percaya kepada Akashi-kun bahwa kau tak akan menyakiti hutan ini" ucap Tetsuya dengan nada lembutnya lalu tersenyum tipis

Perlahan sihir Akashi mulai terkendali. Cahaya berwarna merah menyelimuti dirinya dan kemudian menipis lalu menghilang. Akashi menatap Tetsuya lalu menyunggingkan senyum kepadanya. Midorima dan yang lainnya lega karena Tetsuya dapat meredam amarah Akashi.

"Terimakasih Tetsuya" ucap Akashi dengan nada lembut

" Sungguh diluar dugaan, kau bisa menenangkan seorang Akashi, Kuroko Tetsuya"

" Apa kau sudah puas Hanamiya" kata Akashi dengan nada datar dan tegas

" Ara, jadi kau sudah tahu siapa aku? Sungguh hebat sekali emperor eye mu itu"

" Lebih baik kau tutup mulutmu sekarang juga atau aku yang akan menutup mulutmu selamanya" Kata Akashi tajam

" Menarik"

Satu serangan dari hanamiya langsung menuju Tetsuya yang berada di belakang Akashi. Tetsuya yang belum siap mendapat serangan kagetdan tak bisa bergerak. Dengan cepat Akashi menghalang serangan sihir yang di luncurkan Hanamiya kepada Tetsuya. Namun serangan itu meleset dan mengenai lengan Akashi.

" Akashi-kun!" teriak Tetsuya panik

"Akh! Aku tidak apa-apa Tetsuya. Dari pada itu apa kau baik-baik saja?"

" Baka, bagaimana kau bisa mengatakan baik-baik saja sedangkan kau terkena serangan darinya"

" Luka kecil ini tak seberapa bagiku Tetsuya"

" Itu benar Kuroko, seorang Akashi tak akan mati hanya gara-gara serangan tadi" ucap Hanamiya

" Akashi apa kau perlu bantuan?" ucap Aomine yang kelihatan kelelahan menghadapi lawannya kali ini

" Fokus saja pada lawan kalian aku akan baik-baik saja disini" ucapnya

Berkali-kali Hanamiya meluncurkan kilatan warna hitamnya kepada Akashi. Dan dengan mudahnya Akashi bisa menghindar lalu menepisnya. Dia juga meluncurkan sihirnya kepada Hanamiya saat hampir mengenai dirinya, si hanamiya menggunakan sihir ilusinya. Dan ini cukup menyulitkan. Tiba-tiba Tetsuya meraskan kehadiran seseorang di belakangnya ketika dia menoleh Hanamiya sudah berada disana dan meluncurkan serangan balasan yang di tujukan kepada Tetsuya. Akashi yang terkejut langsung menghalangi serang tadi dan mengenai tubuhnya. Sontak Tetsuya langsung berteriak memanggil nama Akashi dan keempat temannya pun langsung bergegas menuju ke Akashi yang jatuh dalam pelukan Tetsuya.

" Akashi-kun, Akashi-kun! Bangunlah Akashi-kun! Panggil Tetsuya dengan perasaan khawatir dan cemas

" A-Aku tidak apa-apa Tetsuya"

" Sudah cukup hentikan! Aku tidak mau ada yang terluka lagi"

Pasukan berjubah tadi berkumpul jadi satu dengan Hanamiya.

" Kuroko Tetsuya, ikutlah denganku dan aku akan melepaskan mereka semua dari hutan ini"

" Keparat. Berani-beraninya kau menggunakan Tetsu sebagai umpan untuk menyerang!"geram Aomine dan inginmeluncurkan serangan kepada hanamiya namun ditahan oleh Midorima

"Jangan gegabah nanodayo, saat ini kita berada di sarang musuh, ajdi kekuatan mereka bertambah karena ini wilayahnya nanodayo. Kita harus memikirkan cara untuk kabur dari sini, sementara inilah rencananya"

"Kau tidak lihat Midorima apa yang dia lakukan kepada Tetsu dan Akashi!" protes Aomine

" Aku setuju. Midorimacchi apa yang dikatakan Aominecchi benar ssu. Aku tidak sabar ingin menghajarnya"

" Mido-chin tanganku sudah gatal sekali ingin menghancurkannya"

" hahaha….kalian tidak dengar apa yang dikatakan wakil pimpinan kalian. Ini adalah wilayah kekuasaan kita jadi sihir kalian tidak akan keluar dengan maksimal. Semakin kalian menggunakan banyak sihir semakin kalian akan merasa kelalahan" ucap Hanamiya

" Ck Sialan!"

" Nah, kuroko ikutlah denganku"

"Jangan Tetsuya, kami tidak apa-apa" kata Akashi masih dalam pelukan Tetsuya

" Tapi kalian akan di sakiti, aku tidak mau itu terjadi"

" Kau pikir kami lemah, Kami tidak apa-apa Tetsuya ini luka kecil" ucap Akashi lagi

" Akashi kau harus segera diobati nanodayo"

Karena menunggu terlalu lama Hanamiya merasa tidak sabar dan menyuruh pasukannya untuk menyerang secara bersamaan.

" kita serang saja mereka"

" Tapi Hanamiya jika Pangeran Kuroko terkena kita bisa dibunuh oleh Tuan Nash"

" Ck. Tidak ada cara lain"

Lalu kelima pria berjubah itu meluncurkan serangan secara bersamaan.

Akashi yang mengetahuinya langsung menyuruh Murasakibara untuk memasang perlindungan di sekitar mereka.

" Atsushi pasang barrier yang kuat" titahnya

Murasakibara di bantu yang lain untuk memperkuat barrier yang melindungi mereka dan mereka tampaknya kelelahan. Karena energi dan sihir mereka seperti tersedot. Tetsuya yang melihat hal ini tak sanggup lagi dan amarah memenuhi perasaannya.

" Kami sudah tidak kuat Akashi" kata Midorima

Mereka berempat terpental ke samping Tetsuya dan teman-temannya terluka karena dia, Tetsuya semakin marah dan sedih.

" Yamete kudasai" kata Tetsuya lirih

" Kau sudah lihat kan Pangeran Tetsuya. Jika kau tak ikut dengan kami maka teman-teman mu akan semakin terluka"

" Yamete" ucapnya lirih

" Apa? Aku tidak dengar yang kau ucapkan"

Sonte imia asorta ii

Amaristista atorta aii

Arta ah ah. . . .

" YAMETE!" teriak Tetsuya. Lalu halilintar saling bermunculan cahaya biru dan merah menyelimuti tubuh Tetsuya yang tertunduk angin berhembus kencang. Tiba- tiba sekeliling berubah menjadi beku seperti Kristal es. Semua terkejut dengan apa yang terjadi. Saat mendongak mata Tetsuya sudah berubah menjadi merah berkilat .

"A-apa yang terjadi?" ucap Hanamiya terbata sambil melangkah mundur

" Sudah cukup kau menyakiti teman-temanku" Ucap Tetsuya tegas

Ami sorati storti ini

Samari tasa torti ini

Alitora samaria aridia distoria

Tetsuya menggumamkan sebuah mantra mengangkat satu tangannya ke depan dan lingkaran sihir muncul di depan tanganya. Keluarlah tombak-tombak yang terbuat dari es yang tak bisa pecah ataupun hancur. Tombak-tombak itu menyerang mereka dan mengunci gerakan mereka. Angin kencang kembali muncul mengelilingi tubuhnya lalu air dengan jumlah yang banyak muncul dari dalam tanah bersatu bersama angin dan menghantam kelima pasukan berjubah tadi.

"Tetsuya.."ucap Akashi takjub melihat yang dilakukan Tetsuya didepannya

Ami sorati storti ini

Samari tasa torti ini

Alitora samaria aridia distoria

Kelima pria tadi terpental sangat jauh dan mereka sepertinya tak bisa bangkit lagi kecuali satu orang Hanamiya Makoto.

"Sialan. Tak kusangka kekuatannya bangkit disaat seperti ini" ucapnya

" Sepertinya kau cukup kuat dari keempat rekan-rekanmu" kata Tetsuya dingin dan datar tatapan mata merahnya masih saja menusuk. Seperti bukan dirinya sendiri.

Anggota kiseki no sedai pun tak percaya bahwa yang ada dihadapannya ini adalah Kuroko Tetsuya yang kesehariannya terlihat rapuh dari luar dan siapapun orang yang melihatnya pasti ingin melindunginya. Tetapi saat ini dia terlihat begitu berbeda, tatapan mata yang dingin dan menusuk serta mata merah itu memancarkan kemarahan yang begitu besar.

Arta ah.. ah. . .

Ami sorati storti ini

Tidak hanya melancarkan serangan seribu tombak es, angin dan air kali ini Tetsuya mengeluarkan api birunya dan membakar habis keempat penyihir yang tadi menyakiti teman-temannya.

"Ck. Sial lain kali aku akan menghabisi kalian semua" ucapa Hanamiya sebelum menghilang

Melihat hal itu Hanamiya langsung melarikan diri. Menghilang bersama bayangannya. Setelah semuanya telah dimusnakan. Tubuh Tetsuya bercahaya dan mengeluarkan sihir secara tidak terkendali. Sihirnya menari-nari di udara seakan merasakan kebebasan yang tidak pernah didapat.

"AAKhh.." teriak Tetsuya kesakitan

" Tetsuya!" Akashi langsung berlari kearah Tetsuya namun saat ingin menggapainya dia tersengat sihir yang melindungi Tetsuya

Tetsuya jatuh diatas lututnya, memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Dahinya mengeluarkan cahaya kebiruan lama-lama cahaya itu membentuk sebuah symbol mahkota raja dan di punggung tangannya muncul gambar pedang yang dililit oleh seekor naga. Setelah itu sihir yang menyelubungi dirinya menghilang beserta symbol tadi. Tetsuya langsung jatuh pingsan tetapi sebelum menyentuh tanah tubuhnya sudah di tangkap dengan cepat oleh Akashi.

Samari tasa torti ini

Alitora samaria aridia distoria

" Tetsuya! Tetsuya!" teriak Akashi cemas. Hutan yang mereka tempati tadi menghilang dan sekarang menjadi lorong kampus. Keadaan kembali seperti semula mereka sudah kembali dari dunia sihir yang diciptakan oleh segerombolan sosok berjubah tadi.

" Sebaiknya kita segera membawanya dan memeriksanya nanodayo" kata Midorima terdengar nada cemas disana

"Kurokocchi, bertahanlah ssu" kise ikut menangis dan khawatir

" Kita pergi ke rumahku sekarang" titah Akashi

Mereka berlima berkonsentrasi dan memejamkan mata dalam sekejap mereka menghilang. Dan dalam detik berikutnya mereka sudah berada dalam mansion keluarga Akashi yang berada di Tokyo.

Fate to Zero by Yuki Kajiura

Domo senpai tachi bertemu lagi dengan saya Kouzuki Haruka desu

Semoga chapter ini tidak mengecewakan. saya menulis cahpter ini sambil dengerin lagu dari yuki kajiura-san lagunya cocok untuk menggambarkan pertempuran. seperti biasa kritik dan saran masih saya butuhkan.

saya akan menjawab review yang sudah masuk:

kakaknyakurokotetsuya: sebelumnya terimakasih, apa chapter sebelum ini pendek? atau apakah akakuronya terasa pendek? hehe saya akan berusaha membuatnya lebih panjang senpai. terimaksih untuk reviewnya

ChintyaRosita: Terimaksih^_^ ini sudah lanjut. tetap ikuti cerita saya ya

Snow-san: Sebenarnya Akashi bisa membaca dan berbicara lewat pikiran hanya dengan Tetsuya karena mereka sudah terikat secara diam-diam oleh Takdir. dan sesuai dengan ramalan yang sudah di gambarkan. untuk isi ramalannya sendiri akan dijelaskan di chapter berikutnya. terimakasih untuk reviewnya

IftiyanHerliani253: iya terimaksih iftiyansenpai. tidak apa-apa terimaksih untuk sarannya. di chapter ini saya menuangkan banyak fantasinya meski masih ada romancenya sedikit

ShinjuHatsune: ini sudah lanjut senpai. semoga romancenya masih terasa. terimaksih sudah membaca cerita saya

Arigatoo Gozaimasuu...