Author : Lynkim
Tittle : Sunshine
Cast : Kim Joonmyeon, Wu Yi Fan, and other
Rate : T
Lenght : 4of?
Genre : Family, GS
.
.
.
.
"Mommy..."
Joonmyeon terpaku melihat wanita paruh baya yang masih cantik itu membukakan pintu.
"Hallo sayang." sapa wanita itu. Kris yang melihat keterkejutan istrinya itu hanya tersenyum tipis. "Jangan melihatku seolah melihat hantu,Myeonie. Lets come in."
"Ayo sayang.." Kris merangkul Joonmyeon dan menggiring Joonmyeon masuk mengikuti ibunya. Yah,wanita paruh baya yang masih cantik itu adalah ibu mertua Joonmyeon.
"Sena ~ Long time not see you. Look! How beautiful and cute you?!" heboh ibu Kris sambil mengambil Sena dari gendongan Joonmyeon.
"Kyaaa~" Sena membalas apa yang dikatakan neneknya dengan gelak tawa senang,sepertinya Sena mengerti situasi.
"Kyaaa~ Kau semakin menggemaskan." ibu Kris memekik gembira karena mendapat respon dari cucunya.
"Kau tidak bilang kalau kita akan menemui mommy?!" bisik Joonmyeon pada Kris.
"Kalau aku bilang,kau pasti akan menolak kuajak kemari." jawab Kris dengan berbisik juga. "Aku tau kau pasti bisa,mommy sudah berubah." lanjut Kris masih berbisik,dengan pandangan mata tetap pada ibu dan anaknya yang tengah bersenda gurau.
Joonmyeon menatap Kris dengan pandangan memelas. "Tenanglah... Everything is change,don't worry babe." Kris kembali memberi Joonmyeon semangat dan merangkul kedalam pelukannya.
"Huweeeee..." setelah hampir 30menit akhirnya Sena menangis.
"Myeonie,Sena lapar. Sebaiknya beri dia makan dulu." ujar Ibu Kris,sambil menyerahkan Sena pada Joonmyeon. Joonmyeon menerima Sena dengan sedikit kikut.
Setelah mendapatkan makanannya Sena terdiam dan berkosentrasi pada acara makannya. Joonmyeon tersenyum menatap Sena yang terlihat lucu saat menyusu padanya.
"Kupikir kau tidak akan berubah,Myeonie." ujar Ibu Kris. Joonmyeon mengalihkan tatapannya pada ibu mertuanya tersebut.
Tatapan mereka bertemu,dan Joonmyeon tidak menemukan tatapan tidak suka dari ibu mertuanya seperti terakhir kali mereka bertemu.
"Ne... Semua orang bisa berubah,mom." Joonmyeon menjawab dengan suara lirih dan sedikit takut.
Ibu mertua Joonmyeon tersenyum. "Aku tau akan menjadi ibu yang baik untuk Sena. Dan sama sepertimu,aku juga telah berubah."
"Maafkan aku karena sempat tidak menyukaimu." ujar Ibu Kris sambil mengelus kepala Joonmyeon,Joonmyeon merasakan kasih sayang dari tangan ibu mertuanya itu.
Joonmyeon tersenyum canggung. Memang sejak awal pernikahan mereka ibu Kris tidak menyetujui pernikahan anaknya itu,tapi karena nasi sudah menjadi bubur mau tidak mau ibu Kris akhirnya menyetujuinya. Dan ibu Kris semakin tidak menyukai Joonmyeon karena sikap Joonmyeon yang seolah tidak mengiginkan Sena. Tapi seiring waktu,karena bujukan Kris dan bukti-bukti Joonmyeon telah berubah dari Minseok,akhirnya ibu Kris mau membuka hatinya untuk Joonmyeon dan menerima Joonmyeon sebagai menantunya.
"Jangan menatapku seperti itu,Myeonie. Kau tidak perlu takut lagi padaku. Aku sudah menerimamu sebagai menantuku,asalkan kau menjaga Sena dengan baik." terang ibu Kris.
Melihat istrinya terdiam Kris menampakan senyum tipisnya. Dan kemudian menatap Sena yang tengah menatapnya dengan mata sipitnya,yang menurut Kris sangat megerikan kalau sedang menatap tidak suka sesuatu. Dan secara tidak sadar Kris tidak menyadari kalau mata Sena adalah turunannya.
"Jadi,apakah kau juga bisa menerimaku menjadi ibu mertuamu?"
"Ne..." jawab Joonmyeom lirih,tidak mau melewatkan kesempatan untuk ibu mertuanya dan menjadi menantu yang baik.
Chu ~
Kris mencium pipi Joonmyeon. "Yak! Akhhhh~" teriakan Joonmyeon karena Kris menciumnya dan diakhiri dengan erangan kesakitan karena Sena menggigitnya. Joonmyeon meringis kesakitan yang membuat Kris dan ibunya panik.
"Wae?" pertanyaan bodoh Kris.
"Myeonie gwenchana?"
Joonmyeon menatap Sena yang tengah melayangkan tatapan kesal dengan mulutnya tetap menggigit Joonmyeon. Meski Sena belum punya gigi tapi gigitan Sena sangat menyakitkan bagi Joonmyeon.
"Appo ~" ringis Joonmyeon.
"Dia menggigit?" tanya ibu Kris. "Na-ya... Lepaskan mommy ne? Lihatlah.. Mommymu kesakitan." lanjutnya membujuk Sena.
Tapi Joonmyeon tetap meringis kesakitan. Melihat itu,Kris mengulurkan tangannya dan menepuk pelan paha Sena. "Baby,lepaskan mommymu ne? Mommy kesakitan." bisik Kris. Seolah suara Kris adalah perintah mutlak,Sena akhirnya melepaskan gigitannya. Dan desah nafas lega langsung terdengar dari bibir Joonmyeon. Tapi,Joonmyeon meringis lagi karena Sena menghisap kembali ASInya.
"Kenapa sayang?" tanya ibu Kris.
"Anniyo mom.. Hanya sedikit terasa sakit setelah digigit." bisik Joonmyeon.
"Ohh... Itu sudah biasa,sayang. Krissie juga seperti itu saat masih bayi."
"Momm..."
"Why? Its the truth boy."
Joonmyeon POV
Tadi malam aku menginap dirumah Kris. Aku tidak meyangka ibu mertuaku yang galak dan bermulut tajam itu bisa berubah menerimaku.
"Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu,sayang?" tanya Kris.
"Anni..." jawabku. Aku menatap Sena yang masih setia berada di alam mimpinya. Kuperhatikan wajah kecilnya yang damai.
"Lihatlah! Kau semakin aneh,orang bisa mengira kau gila nyonya."
Aku menatapnya. "Aku hanya mengagumi kecantikan putriku yang menurun dariku,itu saja." jawabku acuh.
"Cih! Kalau tidak ada daddy..."
"Appa." potongku.
Kris mendesah. "Ya ... ya.. Appa... Kalau tidak ada appa sepertiku,Sena juga tidak akan bisa cantik."
"Percaya diri sekali kau tuan." cibirku.
"Akuilah... Aku aktor tampan dan terkenal. Hampir semua orang mengenalku di Canada."
"Itu di Canada bukan di Korea." potongku.
"Ya... ya... Kau selalu menang. Tunggu saja nanti malam kau akan kalah dariku sampai meminta ampun... Akhhh... Aku sedang menyetir."
"Jangan berteriak,Sena bisa bangun." desisku. Demi Tuhan,kenapa otaknya itu selalu seperti itu sejak kami memutuskan untuk memulai dari awal.
"Kau mencubit lenganku." keluhnya.
"Rasakan.. Itu pantas kau dapat karena otakmu semakin bergeser." jawabku ketus.
"Kau tau apa yang di maksud hasrat lelaki kan,Myeonie sayang?" bisiknya dengan suara seduktif.
Aku membelalakan mataku,dan kurasakan wajahku sedikit memanas. "Kau sedang menyetir naga mesum. Perhatikan jalanmu." ujarku berusaha terlihat ketus.
"Ck... Kau sekarang menolaknya tapi saat kau di bawahku kau akan memohon-mohon padaku... Yak... yak..."
Aku menghentikan ocehannya dengan mencubit kembali tangannya. Rasakan...
Setelah memparkirkan mobil di basement apartemen,kami langsung berjalan menuju lift yang akan membawa kami ke lantai 11 apartemenku.
Klek...
"Minseok disini?" tanya Kris saat melihat sepatu Minnie ada di beranda.
"Hmnn... Tapi dengan siapa?" tanyaku balik.
Kris mengedikkan bahunya dan menggiringku masuk kedalam rumah. Dan saat sampai diruang keluarga. Bisa kurasakan tubuhku mendadak mejadi kaku,tubuh Kris juga demikian.
Bruk...
Sebuah surat kabar harian di lempar oleh namja yang berasa di samping Minseok. Aku menatap surat kabar itu dan mataku membelalak melihat berita yang ada dihalaman depan tersebut. Kris memungut koran itu dan reaksinya kurang lebih sama denganku.
"Lihat ulah kalian!" bentak manager Han. Sena berlonjak kaget di gendonganku,aku segera mengayun-ayunkan Sena pelan untuk menenangkannya. Untunglah Sena tetap tertidur.
"Apa aku bilang.. Kalian terlalu sembrono.. Bagaimana ini bisa terjadi.. Aishh... Kepalaku pusing." keluhnya. "Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Kalian ini?! Karirmu bisa hancur Kim Joonmyeon. Dan kau Wi yifan,kedatanganmu membuat segalanya menjadi kacau."
Hening ~
Setelah aku meletakkan Sena di tempat tidur,sekarang aku berkumpul bersama 5 orang disini. Yah.. CEO agensiku,Lee Soman datang beberapa menit yang lalu untuk membahas masalah ini.
"Hah..." desah direktur Lee. "Kim Joonmyeon,apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Aku sudah memberimu kebijakan untuk menikah dan melahirkan. Tapi kau malah membocorkan rahasiamu sendiri." ujarnya yang langsung menusuk hatiku.
"Maafkan aku,ini kesalahanku." ujar Kris. Entah kenapa mendengar ucapan Kris,aku merasa dia pria gentle sekarang ini.
"Tentu saja ini salahmu." potong manager Han.
"Tenanglah... Kita bisa menyelesaikan ini kalau kita berfikir dengan kepala dingin." ujar direktur Lee. "Kris,Joonmyeon... Tindakan apa yang akan kalian ambil?"
"Aku akan mengungkap hubungan ini di muka public." ujar Kris,otomatis aku langsung menatapnya dengan mata membelalak. Apa yang ada diotaknya?
"Kau gila?" bentak manager Han.
"Sepertinya kita harus memanggil managermu,Kris." ujar direktur Lee tenang.
"Tapi pak..."
"Tenanglah manager Han. Kita harus memikirkan dengan kepala dingin." ujar direktur Lee lagi. "Apakah kau sudah memikirkan semua masak-masak akibat dari apa rencanamu itu?"
Kulihat Kris menganggukkan kepalanya. "Tentu,aku bisa saja kehilangan popularitasku dan bukan aku saja,tapi Joonmyeon juga bisa kehilangan semuanya." jelas Kris. Aku bisa melihat sorot mata serius dimatanya. Apa yang harus aku lakukan?
"Jadi,kau bagaimana,Myeonie?" tanya Minseok. Aku menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku... Aku..."
"Pikirkan keputusan apa yang terbaik untuk kalaian berdua malam ini. Dan jangan terburu-buru. Joonmyeon,aku akan membatalkan jadwalmu untuk kedepannya. Kau dalam pengawasan paparazi saat ini." ujar Pak Lee.
"Dan kau Kris.. Sebaiknya kau tidak mengunjungi Joonmyeon untuk beberapa waktu kedepan." lanjut pak Lee.
Author POV
"Kau tau Myeonie,aku merindukan Sena." ujar Kris dari seberang telepon.
"Bersabarkah! Nantikita pasti akan bisa bertemu lagi. Kau tau kan sekarang ini sangat berbahaya bagi kita untuk bertemu." Jawab Joonmyeon.
"Hah! Aku tau itu Myeonie. Oke sampaikan pada Sena kalau daddynya ini sangat merindukannya."
Joonmyeon tersenyum, "Ne,akan aku sampaikan pada Sena kalau di sudah bangun lagi nanti."
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau sedang menyusui Sena?" tanya Kris.
"Kau pikir apa yang membuat Sena bisa tertidur?" tanya Joonmyeon balik pada Kris.
"Andai aku ada disana."
"Tutup mulutmu. Ini sudah malam aku mau tidur. BYE." Joonmyeon mengakhiri acara berteleponnya karena topik bahasan akan melenceng jauh.
Joonmyeon menatap Sena yang tengah tertidur di sampingnya,Sena tertidur dengan nyaman. "Kau tau,kenapa setelah hubunganku dengan nenekmu membaik kenapa sekarang hubunganku dengan appamu terbongkar sayang. Apa yang harus aku lakukan?" bisik Joonmyeon pada Sena.
Tok... Tok...
Joonmyeon mengangkat tubuhnya sedikit saat mendengar pintu kamarnya diketuk,dan saat pintu terbuka Joonmyeon melihat Minseok diikuti oleh wanita yang sangat ia kenal.
"Eomma..." bisik Joonmyeon. Joonmyeon langsung menegakkan badannya,ibunya terlihat tersenyum dan langsung duduk di sisi tempat tidur Joonmyeon.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Sungmin,ibu Joonmyeon.
"Seperti yang eomma lihat. Aku baik-baik saja,kecuali keadaan yang semakin memburuk." Jawab Joonmyeon dengan kepala menunduk.
Sungmin mengelus pundak Joonmyeon untuk memberikan dukungan pada anak perempuannya itu. "Percayalah semua akan baik-baik saja,sayang." Sungmin menenangkan Joonmyeon. Minseok yang masih berdiri disamping mereka hanya bisa menatap sdih Joonmyeon. Pasalnya sahabatnya itu baru saj mendapatkan kebahagiaan tapi dengan cepat masalah baru muncul lagi.
"Aku bukanlah anak yang baik. Aku pasti mengecewakan kalian,terlebih appa." Ujar Joonmyeon lirih.
"Anniyo.." Sungmin langsung menyanggah ucapan Joonmyeon. "Kau tidak pernah mengecewakan kami,Myeonie."
"Aku..."
"Stttttt... Percayalah kau selalu membuat aku dan appamu bangga,Myeonie. Terlebih dengan hadirnya Sena." Sungmin menatap Sena yang tengah tertidur dengan damainya. "Lihatlah! Kau membuat eommamu ini tidak percaya bahwa anaknya yang manja bisa menjadi seorang ibu di usia yang sangat muda."
Joonmyeon menatap Sena dan ikut tersenyum seperti Sungmin.
Next Day
"Kau gila,Myeonie." Desis manager Han. Saat ini Joonmyeon tengah berada di ruangan direktur Lee untuk mebicarakan keputusan akhirnya. Manager Han terlihat membelalakan matanya dan direktur Lee tetap terlihat tenang dengan apa yang baru saja diucapkan Joonmyeon.
"Anni.. Aku hanya berfikir ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Aku rela kehilangan semua asalakan aku tidak kehilangan keluargaku." Joonmyeon berujar dengan mantap pada manager Han.
Hening ~
"Kau yakin dengan pilihanmu Kim Joonmyeon?" tanya direktur Lee dengan suara rendah yang menunjukkan ketegasan didalamnya.
Joonmyeon menatap direktur Lee tatapan penuh keyakinan. Dan menjawab, "Ya,saya yakin."
"Apakah kau sudah memikirkan konsekuensinya baik-baik?"
"Seperti yang saya katakan tadi,saya siap menerima resikonya."
"Baiklah jika itu pilihanmu." Ujar direktur Lee.
"Tapi direktur..."
"Kita akan membicarakan ini dengan pihak agensu Kris." Direktur Lee memotong ucapan manager Han.
Joonmyeon POV
Aku yakin keputusan yang aku ambil adalah yang terbaik untukku dan Sena. Tidak selamanya aku akan menjadi bintang jadi tidak ada salahnya aku pensiun lebih awal. Meski menjadi seorang bintang adalah impianku tadi selama lebih dari 10 tahun ini aku sudah melakukannya,menjadi seorang bintang.
Tap..
Aku berhenti menatap ruang latihan,yang aku lewati. Aku melihat ada beberap traini yang sedang berlatih akting. Aku tersenyum,walau dalam sedikit berat,tapi aku sudah memutuskannya. Baru saja aku ingin melangkah...
"Joonmyeon sunbae? benarkan?" kudengar suara seseorang memanggil namaku,setealh aku menoleh ternyata salah seorang traini memanggilku. Kalau tidak salah namanya Minji."Annyeong sunbae." Sapanya sambil membungkukkan badan,aku tersenyum untuk membalas sapaanya. Dan akhirnya kami duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang latihan. Sepertinya dia akan segera debut dilihat dari sering jadwal latihannya.
"Hmmm.. Sunbae.. aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi..." dia menghentikan ucapannya.
"Tapi?"
"Hmmnnn.. apakah berita yang aku dengar di TV itu benar? Kalau... Kalau sunbae sudah... sudah memiliki anak?" dia mengakhiri kalimatnya dengan suara yang lirih dan menundukkan kepalanya.
Aku terdiam. Memikirkan jawaban apa yang akan kukeluarkan. Meski niatku sudah bulat,tapi bohong jika aku tidak merasa berat meninggalakan semua usaha yang aku bangun selama ini.
"Dan benarkah,sunbae akan mengundurkan diri dari dunia hiburan?" lanjutnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Sunbae tau,aku adalah penggemar beratmu,dan akuy memutuskan masuk ke dunia hiburan juga karena aku ingin sepertimu."
"Semua bisa berubah seiring dengan perubahan waktu,Minjia.." aku memotong ucapannya. Minji menatapku dan aku juga balas menatapnya. "Perlu kau tau Minji,tidak selamanya kita akan tetap menjadi seorang diva,suatu saat nanti kita juga akan mengalami yang bernama keredupan. Dan seperti yang kau dengar aku mengambil masa redupku lebih awal." Jelasku. "Dan dengan keluarnya aku dari dunia hiburan juga aku ingin memberi kesempatan pada hobae-hobaeku seperti dirimu." Lanjutku lagi.
"Sunbae..."
"Jadi,jangan gunakan aku sebagai patokanmu karena aku tidak memberi contoh yang baik untuk kalian. Lihat apa yang terjadi padaku sekarang,aku mengecewakan banyak pihak." Ujarku. "Sepertinya aku harus pergi." Lanjutku dan beranjak dari dudukku. Sepertinya aku butuh tempat yang lebih pribadi untuk meluapkan apa yang aku rasakan saat ini. Appa...
Flashback
"Jika suatu saat kau bisa menjadi aktris terkenal,jangan buat appamu ini malu dengan nilai yang turun atau skandl dengan aktor tampan." Ujar appa saat kami sedang menonton TV bersama.
Aku mempoutkan bibirku, "Demi Tuhan appa,aku masih berusia 9 tahun aku tidak menjalin hubungan sebelum dewasa." Ujarku.
"Aku tahu itu tidak akan pernah terjadi,seorang Kim Joonmyeon tidak akan mengecewakan ayahnya." Kata appa sambil mengecup keningku.
"Tapi suatu saat nanti aku ingin menikah dengan aktor yang tampan, tinggi dan kaya."
"Yak! Kau itu masih kecil,Myeonie. Jangan menghayal yang belum saatnya kau hayalkan." sela eomma dengan Jongdae di gendongannya.
"Hahahahaha.. tidak apa-apa,Minie. Biarkan Myeonie berhayal saja. Tapi ingat apa yang appa katakan padamu. Kau tidak boleh melakukan sesuatu yang negatif yang berujung membuat orangotuamu ini mali. Kau taukan kehidupan liar seorang artis sekarang ini sedang banyak menjadi banyak perbincangan dimedia masa." Jelas appa.
"Ne,aku tau appa.. aku masih anak-anak." Jawabku.
"Aku yakin Myeonie kita tidak akan berbuat seperti itu saat dia besar nanti." Eomma menambahkan.
"Aku bangga menjadi adikmu,noona. Aku punya noona yang dikenal banyak orang." Kali ini Jongdae berbicara.
Flashback End
Author POV
Joonmyeon terdiam di dalam mobilnya dengan mata yang sudah basah dengan airmata,dia menundukkan kepalanya dengan berumpu pada tangan diatas kemudi mobilnya. Joonmyeon benar-benar membutuhkan tempat bersandar untuk saat ini. Ingin sekali dia bersandar pada suaminya tapi apa boleh buat semuanya dalam masa sulit untuk saat ini.
"Mianhae appa,eomma... Aku telah mengecewakan kalian. Aku menyerah saat sudah menginjakkan kaki diatas bintang. Aku melakukan kesalahan saat aku sudah tinggal di atas bintang. Maafkan aku... Hiks.." bisik Joonmyeon sambil terisak.
Drttttt... Drtttt...
Joonmyeon merasakan ponselnya bergetar didalam tasnya. Dengan segera dia merogoh tasnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
Krissie Calling...
"Kris?" bisiknya. Kemudian menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Yeob..."
"Kau dimana? Sena demam. Minseok baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang kau tidak mengangkat teleponnya." Kris memotong apa yang Jonnmyeon katakan. Langsung saja membuat Joonmyeon kaget dan membelalakan matanya. Pasalnya saat dia tinggalkan tadi pagi Sena masih biasa saja.
"Myeonie.. Kau masih mendengarku.. Hallo.." Kris memanggil Joonmyeon.
"Ne.. Aku akan pulang sekarang. Kau dimana?"
"Mianhae.. Aku tidak bisa mendampingimu. Kau tau,aku terikat jadwal dan..."
"Aku tau,nanti aku akan menghubungimu lagi. Bye."
"Myeonie... Wait..." teriak Kris saat Joonmyeon akan menutup teleponnya.
"Wae?"
"I love you.."
Joonmyeon terdiam. "I love you,too." Balas Joonmyeon,sebelum benar-benar menutup teleponnya.
.
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
.
Huweeeeeeeeeeee...
.
Ngetik lagi setelah file hilang... hasilnya bueda bangett... maafkan aku jika kalian para reader kecewa.. hiks...
.
Gomawo sudah membaca dan mereview... #bow
