Daddy's Baby

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! SUPER Out Of Character! Plot Rush! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

.

Sasuke menguap sambil mengusap tengkuknya yang terasa pegal saat memasuki kamar inap Kazuki dan menemukan bayi itu kini terduduk di atas ranjang dengan tangan melambai-lambai di udara mengikuti irama musik Timmy Time yang terputar di televisi. Hinata berdiri tak jauh dari ranjangnya, mengocok botol susu Kazuki yang isinya hampir penuh.

"Apa?" Sasuke menatap Kazuki tak percaya. "Apa yang sedang dia lakukan? Dia harusnya lelah dan tertidur. Ini sudah lewat tengah malam, demi Tuhan," oceh Sasuke.

"Dia baru saja bangun," jawab Hinata, tepat saat itu Kazuki berhenti melambai dan menengok ke arah Sasuke.

"Ah nyu nyu ee," Kazuki kembali dalam keributannya sendiri, kali ini bukan karena Timmy Time-nya, melainkan karena kehadiran Sasuke. Jari telunjuk bantatnya menuding-nuding ke arah Sasuke.

Sasuke menjilat bibirnya, meyakinkah dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukan bayi di hadapannya itu bukanlah sesuatu yang manis ataupun menarik.

"Susumu, Kazu," ujar Hinata setelah memastikan seluruh bubuk susu dan air yang ada di botol itu tercampur sempurna.

"Poochuu nya," Kazuki menatap Hinata namun jemarinya terus menunjuk Sasuke. "Chuu nya," kali ini Kazuki mencengkeram ujung kemeja yang Sasuke gunakan.

"Baiklah-baiklah," Hinata tersenyum merespon Kazuki seakan dia mengetahui dengan jelas apa yang bayinya inginkan. Tangannya kemudia terulur, menyodorkan botol susu ke arah Sasuke.

"Huh?" Sasuke menerima botol itu dengan wajah bingung.

"Dia ingin kau yang memberikannya," jelas Hinata.

"Oh," Sasuke mengangguk namun belum memberikannya ke Kazuki meski bayi itu sudah membuka mulutnya.

"Minta kepada papamu, Kazu," ucap Hinata kepada Kazuki tanpa melirik Sasuke sedikitpun. "Katakan papa. Pa..." tambah Hinata menuntun Kazuki untuk mengucapkan kata itu.

Namun Kazuki terlalu terbutakan oleh botol susu yang dipegang Sasuke sehingga mengabaikan Hinata.

"Choo," ujar Kazuki, kembali membuka mulutnya, menuntut jatah susunya.

"Katakan papa," ulang Hinata lagi.

"Uhh... tidak apa-apa," potong Sasuke dengan tawa gugupnya. "Sungguh tidak apa-apa," ulangnya kemudian memberikan Kazuki apa yang bayi itu minta sejak tadi.

Kazuki menerima botol susu dengan penuh semangat, namun sebelum memasukkan bagian karetnya ke mulut, si bayi menggumankan sesuatu. "Choo da da."

Sasuke berkedip beberapa kali sedangkan Hinata tersenyum puas.

"Anak pintar," Hinata mengecup pelipis Kazuki sebelum menghadap Sasuke. "Aku ingin ke toilet sebentar."

"Oh... baiklah. Eh... tunggu dulu," Sasuke menghentikan langkah Hinata. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," ujarnya.

"Bisakah kita membicarakannya setelah aku selesai buang air?"

"Apa? Oh, maksudku... tentu saja."

Hinata tertawa kecil melihat reaksi Sasuke yang tak biasa. "Kenapa kau tiba-tiba merona?"

Sasuke hendak membuka mulutnya untuk protes namun didahului oleh suara bersin Kazuki. "Wah, kau lihat tadi? Dia bersin," ujar Sasuke seolah bayi bersin adalah salah satu keajaiban dunia, sama sekali berbeda dengan kalimat yang awalnya ingin ia lemparkan kepada Hinata.

"Bayi juga bisa bersin, Sasuke," Hinata mengangkat alisnya, menatap Sasuke aneh.

"Hahaha, tapi tadi itu lucu... hahahaha" jawab Sasuke lagi, dengan tawa yang lagi, benar-benar terdengar dipaksakan.

..

...

..

"Baiklah, kau sudah habiskan sebotol penuh, sekarang lepaskan," Sasuke berusaha melepaskan botol susu yang kini hanya berisi udara dari mulut Kazuki, namun nampaknya bayi itu masih terlalu sayang dengan botolnya sehingga jari-jarinya malah mencengkeram erat badan botol tersebut. Wajahnya terlihat kesal saat menatap Sasuke yang masih mencoba menarik botolnya. "Sudah tidak ada apa-apa, Chunky," Sasuke kembali menarik botolnya, kali ini cukup kuat untuk melepaskan empeng karet botol itu dari mulut Kazuki, membuat si bayi menggaduh protes sembari mengapai-gapaikan tangannya di udara.

"Nyuuu da daa... chu..." protes Kazuki, matanya melotot ke arah botol yang dipegang Sasuke.

"Tidak, tidak. Lihat saja domba-dombamu itu," Sasuke menunjuk ke arah televisi yang tengah menayangkan acara Timmy Times di seberang ranjang sebelum berbalik ke sofa, menjauhi Kazuki, antisipasi kalau-kalau bayi itu memutuskan untuk mengeluarkan tatapan merajuknya untuk membuat pertahanan Sasuke goyah.

"Kupoo da," Kazuki kembali bersuara setelah beberapa detik mengalah kepada Sasuke, membuat Sasuke kembali memusatkan perhatian padanya.

Dari ranjang tempatnya duduk, Kazuki nyengir, memperlihatkan gigi barunya yang baru muncul kepada Sasuke. Tangannya meraih-raih ke nakas di samping ranjang, tempat dimana sebotol permen susu dipajang. Kazuki terus meraih-raih benda itu sembari matanya ia tujukan kepada Sasuke.

"Kupoo nyu," katanya lagi.

"Tidak. Tidak ada gula tambahan untuk malam ini."

Kazuki lagi-lagi menyerah, tak mengeluarkan keributan-keributan lain. Ia memainkan ujung pakaian rumah sakitnya sendiri untuk beberapa detik sebelum kembali mengangkat kepalanya menatap Sasuke dengan tangan kiri terangkat, juga ke arah Sasuke.

"Poo pooh," Kazuki menunjukkan kapas dan plester kecil yang menempel di lengannya, tempat dimana sebelumnya jarum IV ditusukkan.

"Ya Tuhan, siapa yang melakukannya padamu?" tanya Sasuke sambil beranjak dari sofanya dan mendekati ranjang Kazuki. Sasuke mendudukkan dirinya di sisi ranjang kemudian meraih tangan Kazuki yang sebelumnya bayi itu pamerkan. "Apa bubuh-mu sakit?"

Kazuki mengulurkan tangannya yang tak sedang di genggam Sasuke, mencengkeram bagian depan kemeja Sasuke dan menarik-nariknya. Tatapannya berpindah-pindah ke arah Sasuke kemudian ke arah botol permen susu.

Sasuke menghela nafas. "Baiklah. Aku akan memberikanmu satu permen karena bubuh-mu sakit."

"Poo pooh da."

Sasuke memutar bola matanya, mengambil satu bungkus permen dari dalam botol kemudian membuka bungkusnya sebelum memberikannya ke Kazuki. Selanjutnya yang Sasuke lakukan hanyalah memandangi si bayi yang sepertinya sudah tak lagi mengetahui keberadannya hanya karena sebuah permen.

"Apa yang dia makan?" suara Hinata tiba-tiba mengisi ruangan, membuat Sasuke berputar untuk bertatapan langsung dengannya.

"Ohh jangan salahkan aku. Dia mengeluarkan binar-binar mematikan itu di matanya saat merayuku untuk mengambilkan permen itu," jelas Sasuke cepat.

"Aku tidak beniat untuk mengomelimu," Hinata mengangkat alisnya sambil menahan tawa setelah mendengar jawaban perlindungan diri Sasuke. "Kau tidak mendapatkannya dariku jadi kau memintanya dari papamu, huh?" ujar Hinata lagi, kini tertuju pada Kazuki yang masih menikmati dunianya sendiri.

"Kenapa lama sekali? Kau ini buang air atau membangun toilet di dalam sana?" tanya Sasuke sekonyong-konyong.

"Wow... kau tidak merindukanku selama dua tahun ini dan sekarang, tiba-tiba kau terlihat seperti benar-benar kehilangan hanya karena durasi kunjungan toiletku? Benar-benar kemajuan yang besar, Uchiha Sasuke," balas Hinata sambil mendorong Kazuki untuk berbaring dan mencoba membenarkan selimut Kazuki meskipun pada akhirnya bayi itu kembali pada posisi duduknya.

"Dia tidak akan tertidur," ujar Sasuke, membanting stir dari topik sebelumnya.

"Dia akan segera tidur jika kau diam," Hinata mematikan televisi, meredupkan lampu ruangan kemudian menyingkirkan semua mainan Kazuki dari ranjang. "Ini dia chocho-mu, sekarang tidurlah," Hinata kemudian menjauhi Kazuki dan duduk di sofa.

"Kau harus menepuk-nepuk punggungnya," sela Sasuke.

Hinata menatap Sasuke dengan senyum geli yang tertahan menyadari ucapan Sasuke barusah yang menyatakan seolah lelaki itu mengenal Kazuki lebih baik dari siapapun. "Aku tidak perlu melakukannya," jawab Hinata akhirnya. Tangannya kemudian menepuk tempat kosong di sebelahnya yang seketika terisi oleh Sasuke. "Jadi apa yang ingin kau katakan?"

"Aku... berpikir tentang..." Sasuke mulai bersuara dengan jeda tak wajar.

"Apa?"

Sasuke mengencangkan rahangnya sesaat karena merasa kehilangan dirinya sendiri. Sungguh, bagaimana bisa ia merasa gelisah hanya karena duduk di samping Hinata?!

"Kenapa kau baru memutuskan untuk muncul sekarang?" tanya Sasuke pada akhirnya setelah samar-samar menghembuskan nafas panjang.

"Oh... aku kira kau akan menanyakan apa," buka Hinata. "Uh well, sebenarnya aku sudah mengetahui keberadaanmu hampir setahun, tapi sepertinya baru sekarang aku memiliki alasan yang cukup untuk menemuimu. Jadi... ya begitulah."

"Oh tunggu... kau... mencariku?"

"Tentu saja," Hinata mengangguk, namun tak menatap Sasuke. "Ini cukup memalukan tapi yeah... awalnya aku hampir gila mencarimu setelah aku mengetahui, uhh kehamilanku. Aku terus datang ke klub tempat kita bertemu tapi kau tak pernah terlihat, jadi aku menyerah. Tapi hari itu, aku melihatmu keluar dari gedung tempatmu bekerja..."

"Tapi kau tidak menghampiriku saat itu?" sela Sasuke di tengah penjelasan panjang Hinata, tatapannya lekat tak meninggalkan wajah wanita itu.

"Saat itu aku sudah memiliki Kazu, usianya hampir dua bulan," Hinata menghela nafas, "awalnya aku mencarimu karena kupikir aku takkan bisa mengurus semuanya sendiri, tapi akhirnya aku melahirkan Kazu dan kupikir..."

"Kau berpikir kau tidak membutuhkanku lagi," ujar Sasuke lirih, nada ucapannya cukup membingungkan untuk memutuskan apakah kalimat itu sebuah pertanyaan atau pernyataan.

Hinata mengangkat kepalanya hanya untuk kemudian terkunci dalam iris gelap Sasuke. "Tidak... bukan itu," belanya. "Aku sudah memikirkan hal... ini... maksudku, aku sudah memikirkan reaksi apa yang mungkin muncul darimu dan sepertinya aku belum siap ditolak untuk saat itu. Aku tidak siap jika kau mengelak. Jadi aku memutuskan untuk... menundanya. Hingga sekarang ini, pekerjaanku menuntutku untuk bekerja sampai malam, tak ada daycare yang beroperasi pada jam itu dah yeah... aku memutuskan untuk mengetuk pintu apartemenmu," Hinata terkekeh kecil mengingat ekspresi Sasuke saat ia pertama mengatakan bahwa Kazuki adalah anaknya.

"Jadi semua itu demi Chunky?" tanya Sasuke.

Hinata mengangguk kecil. "Aku hanya ingin Kazu memiliki ayah, seperti bayi lainnya. Aku memberikan segala yang ia inginkan, segalanya kecuali kau tentu saja," Sasuke dapat melihat mata Hinata melembut. "Tapi kini aku bahagia mengetahui sekarang dia memiliki seseorang yang bisa ia panggil ayah," Hinata mengangkat kepalanya dan mengirimkan senyum ringan kepada Sasuke.

"Bagaimana denganmu?" tanpa Sasuke lagi tanpa melepaskan oniksnya dari mata Hinata.

"Huh?"

"Kau... jika bukan karena Chunky... apa kau akan tetap mencariku?"

Hinata berkedip dua kali, di kepalanya agak memilah jawaban yang cukup cocok untuk pertanyaan Sasuke. "Uhh well, aku juga menyukaimu, kurasa. Kau lucu, menyenangkan, berkharisma meskipun agak brengsek," aku Hinata tertunduk. "Tapi santai saja, aku tidak mengincar seseorang yang memiliki kekasih," lanjut Hinata dengan kekehan kecil.

"Tapi kau menciumku," serang Sasuke, sedikit menyeringai.

"Hey... kau yang pertama menyerangku," bela Hinata.

"Tetap saja, kau membalas ciumanku," cengiran Sasuke melebar.

"Entahlah," Hinata diam sejenak, kini matanya menatap Kazuki yang tengah terlelap tenang. "Sepertinya aku memang tidak penah bisa mengabaikan ciumanmu."

Sasuke mengangkat alisnya sedikit tak mengerti. "Ngomong-ngomong soal ciuman-"

"Sungguh, Sasuke, apa tidak ada topik lain?" sela Hinata, menatap Sasuke tak percaya.

"Oh ayolah, kita bukan anak-anak lagi. Bukan hal yang dilarang jika hanya membicarakan soal ciuman," sanggah Sasuke enteng. "Jadi... ngomong-ngomong soal itu, aku penasaran siapa yang pertama melakukan gerakan... maksudku kita... dua tahun lalu."

"Tentu saja bukan aku," Hinata memutar bola matanya.

"Benarkah?" tanya Sasuke setelah meresapi makna dari jawaban Hinata. Dalam hati ia mengumpat karena tak dapat mengingat apapun soal momen pendeknya bersama Hinata. Ia memandang Hinata menuntut penjelasan lebih lanjut.

Hinata yang mendapati Sasuke menatapnya malah heran, mengapa lelaki itu terlihat begitu tertarik membahas masa lalu mereka?

"Uhh... well-"

"Bagaimana... maksudku saat itu?" potong Sasuke.

Hinata meneguk liurnya sendiri, masih menatap Sasuke heran. Sungguh, dari semua pertanyaan yang bisa ditanyakannya, kenapa lelaki itu menanyakan yang satu ini?!

"Jadi?" tanya Sasuke lagi, menuntut jawaban Hinata.

"Uhh... cukup panas, kurasa," jawab Hinata, mengalihkan pandangannya, melewatkan seringai puas Sasuke.

"Sudah kuduga," gumam Sasuke bangga disela cengiran kudanya.

"Apa?"

"Tidak. Tidak apa-apa," Sasuke menjawab cepat, matanya masih menatap Hinata dengan binar keingintahuan. "Hinata..." panggilnya.

"Ya?"

"Waktu itu apa aku... kita mabuk?" Sasuke akhirnya menanyakan hal itu.

"Aku memang agak berada dalam pengaruh alkohol tapi masih cukup sadar," jawab Hinata, rautnya sedikit menerawang mengingat-ngingat. "Kalau kau... kau malah lebih sadar dariku, kurasa. Entahlah," Hinata mengedikkan bahu.

Sasuke mengangguk ringan, namun kepalanya masih penuh pertanyaan.

"Kau pasti bingung karena tidak mengingatku, bukan?" Hinata menebak dengan alis terangkat. "Santai saja, aku memang bukan pemain one night stand, tapi mungkin aku juga tidakakan mengingat partner semalamku," tambahnya dengan tawa ringan.

"Tapi kau mengingatku," sanggah Sasuke.

"Itu karena ternyata aku hamil anakmu, bodoh!"

..

...

..

"Akan kusebarkan ini di facebook dan akan kutandai Sakura."

Kalimat itu, ditemani serangkaian kekehan kecil, adalah suara pertama yang Sasuke dengar saat terbangun dari tidurnya. Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya luar terhadap matanya. Beberapa langkah di hadapannya, Gaara berdiri, terkikik dengan ponsel terangkat.

"Kau sudah bangun? Baguslah. Senyuuum," ujar Gaara lagi sebelum terdengar suara jepretan kamera ponsel.

"Apa?" balas Sasuke akhirnya meski masih dengan suara serak dan kebingungannya.

Sasuke baru akan mencoba bangun ketika kemudian menyadari beban di sisi kirinya. Hinata masih terlelap di sampingnya di sofa yang sama. Sebagian punggung wanita itu bertumpu pada tubuh Sasuke, membuat kepalanya tepat berada di bawah dagu Sasuke. Oh, dan jangan lupakan tangan kiri Sasuke yang melingkar ringan di sekitar pinggang wanita itu.

Sekelibat gambaran muncul di dalam kepalanya meski masih dalam keadaan setengah sadar. Posisi ini... Hinata yang terlelap dalam rengkuhannya ini, agak terlalu familiar bagi Sasuke. Mungkinkah?

Sasuke baru saja akan memilih untuk sedikit menggali apapun di benaknya yang mungkin berhubungan dengan Hinata. Namun segera ia menyadari keberadaan Gaara dan malah memutuskan untuk meladeni sahabatnya itu.

"Damn! Gaara!" Sasuke mengumpat pelan kepada Gaara yang sadari tadi terkekeh. Saat itu Sasuke benar-benar menyesal telah meminta Gaara datang.

Hinata bergerak sedikit, membenamkan wajahnya di dada Sasuke. Baiklah, siapa yang baru saja menghentikan waktu? Karena Sasuke yakin saat itu ia benar-benar membeku di tempat sembari menelaah apa yang terjadi.

Dan lagi-lagi hal ini terasa familiar. Sasuke yakin hal yang serupa pernah terjadi antara dirinya dan Hinata di masa lampau. Sial! Ini membuat Sasuke semakin penasaran.

Namun tak lama, Hinata kembali bergerak, kali ini kepalanya terangkat, mulai sadar. Dan wanita itu terlonjak hingga ujung sofa terjauh setelah cukup sadar akan jaraknya dengan Sasuke.

Hinata mengedipkan matanya beberapa kali, pandangannya berkeliling untuk kemudian mendapati sosok lain di ruangan itu.

"Uhh... kau..."

"Hai... kau masih ingat aku kan? Aku baru saja datang," sapa Gaara lengkap dengan senyum penuhnya.

Sasuke mendelik dari ujung matanya, memandangi Kazuki yang tengah melawan seorang perawat yang berusaha mencegahnya menjilati lengan yang baru saja diolesi losion itu.

"Muuhh piu," protes Kazuki keras kepada si perawat.

Sasuke menghela nafas, ia ingin menyembunyikan wajahnya bagaimanapun caranya. Jadi sudah berapa orang yang melihatnya... uh melihat mereka tertidur seperti tadi? Ia mulai menyesali karena tak bangun lebih pagi hari itu.

"Kapan dia boleh keluar?" tanya Hinata kepada perawat dengan nada yang cukup kasual.

"Kurasa Anda bisa membawanya pulang hari ini. Anda bisa bertanya lebih jelas kepada dokternya nanti."

"Baiklah, terima kasih."

Si perawat keluar dari ruangan dan Hinata berjalan santai menuju toilet tanpa mengatakan apapun lagi kepada Sasuke ataupun tamunya. Ia hanya merasa... tidak perlu? Ya, tidak perlu.

Baik Sasuke maupun Gaara mengikuti gerak Hinata melalui ujung tatapannya hingga wanita itu menghilang di balik pintu. Gaara yang sedari tadi berdiri mulai bergerak ke arah sofa dan menjatuhkan bokongnya di samping Sasuke. Gaara menyikut pelan lengan Sasuke beberapa kali sambil memancarkan senyum gelinya.

"Jadi... mendua, huh?"

"Kau ini bicara apa, sih?"gumam Sasuke tanpa mendelik sedikitpun ke arah Gaara. "Oh hey... aku ingin membeli sesuatu untuknya," lanjut Sasuke dengan topik berbeda.

"Untuk siapa?" Gaara mengangkkat sebelah alisnya.

"Untuk Chunky tentu saja," Sasuke memotar bola matanya.

"Oh... kupikir untuk dia," balas Gaara matanya menyipin menggoda, ia yakin Sasuke tahu siapa 'dia' yang Gaara maksud. "Memang kau ingin membelikannya apa?"

"Itulah yang ingin kutanyakan padamu," jawab Sasuke pelan dan hati-hati, seolah membisikan rahasia paling vital di dunia.

"Oh Sasuke, kau benar-benar harus belajar lebih banyak untuk menjadi ayah yang baik. Sungguh, tidak ada ayah yang memanggil anaknya Chunky."

"Biarlah. Itu terdengar lucu," bela Sasuke. "Jadi, ada ide?"

"Sasuke?" kedua wajah lelaki dewasa itu terangkat menuju sumber panggilan dan mendapati Hinata sudah berdiri di depan pintu toilet. "Aku akan mengurus beberapa administrasinya. Bisakah kau menjaga Kazu sebentar?"

"Oh tentu, tentu saja," jawab Sasuke membuat Hinata mengangguk dan hendak beranjak keluar ruangan. "Oh iya... Hinata," panggil Sasuke lagi, menghentikan gerakan Hinata. "Setelah ini kalian bisa menginap di apartemenku beberapa hari sampai Chunky benar-benar sembuh."

Hinata menaikkan satu alisnya. "Kau yakin?"

"Hmm," Sasuke mengangguk. "Lagipula aku harus pergi ke kantor sebentar, jadi aku akan menurunkan kalian di apartemenku dulu."

..

...

..

"Oh ini sempurna," ujar Sasuke kepada dirinya sendiri.

Sasuke tersenyum lebar kepada seekor hamster di dalam kadang yang ada di tangannya. Sasuke seharusnya menelpon Sakura dan meminta maaf soal kejadian makan malam itu, tapi entahlah, ia hanya menemukan dirinya masih di luar mood yang baik untuk menghadapi Sakura. Dan kini disanalah dia, berjalan menuju apartemennya setelah berkeliling mencari hadiah semoga-cepat-sembuh untuk Kazuki.

"Dia menggemaskan dan gendut seperti dirimu, kau tahu," kata Sasuke kepada si hamster, senyum idiotnya masih belum hilang dari wajah tampan itu.

Sasuke baru menyadari bahwa ternyata agak mengasyikkan melakukan sesuatu menggelikan-tapi-manis seperti itu kepada orang lain. Dan mungkin itulah yang Sakura harapkan darinya. Memanjakannya. Namun selama ini Sasuke tak memiliki ketertarikan untuk beralih ke mode romantis dan melakukan hal-hal manis untuk Sakura. Ia tak begitu tertarik, kecuali dalam hal yang melibatkan ranjang tentu saja. Tapi sekarang ia dihadapkan kepada Hinata dan Kazuki dan ia merasa mereka... berbeda?

Sasuke memasuki apartemennya dan langsung mendapati Kazuki duduk tenang di sofa dengan seluruh perhatian tercurah pada program khusus bayi yang muncul di televisinya. Sasuke berdeham setelah beberapa detik, mencoba mencari kehidupan lain di dalam apartemennya dan benar saja, Hinata langsung muncul dari kamar mandi.

"Uh... hai," sapa Hinata canggung sedangkan Sasuke, ia berusaha tak menjatuhkan rahang bawahnya ke lantai setelah melihat Hinata muncul dengan paha mulusnya yang cukup terekspos. "Aku uh... maaf tadi Kazuki muntah di pakaianku. Aku tidak membawa apapun jadi aku yeah... mencari sesuatu, aku tidak berani membuka lemarimu jadi hanya ini yang bisa kutemukan," jelas Hinata.

"Tidak masalah," dua kata itu keluar lebih seperti bisikan dari mulut Sasuke sementara matanya masih tak beralih dari pemandangan yang terhidang di hadapannya. Oh, bagaimana mungkin Sasuke bisa mengalihkan pandangannya saat wanita itu hanya tenggelam dalam kemeja Sasuke yang kebesaran di tubuh kecilnya yang hanya dapat menutupi area tubuh dan separuh pahanya. Oh tidak, bukan separuh, Sasuke yakin itu sekitar sepertiga dari pahanya!

"Berhenti menatap," protes Hinata tak nyaman, ia bergerak pelan tapi pasti ke balik sofa.

"Tidak, aku tidak menatap apapun," bantah Sasuke sebelum bergerak ke sofa mendekati Kazuki.

"Puchupaa!" Kazuki mulai terusik dari ketenangannya saat Sasuke dengan sengaja berdiri di depan televisi, menghalaginya menonton.

Bukan menjauh, Sasuke malah makin mendekat, memblok pandangan Kazuki dari televisinya. "Aku membawakan sesuatu untukmu, Chunky," ujarnya pada Kazuki setelah membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menjangkau bayi itu kemudian mengangkat kandang hamster yang sedari tadi dipegangnya.

Kazuki tak lagi protes soal televisi. Kini bayi itu terdiam, menatap makhluk kecil yang ada di dalam kandang itu dengan tatapan bingung namun tertarik.

"Kau membelikannya hamster?" tanya Hinata tak percaya.

"Yap," jawab Sasuke senang, terlebih ketika tangan Kazuki mulai terangkat untuk menyentuh kandang yang masih melayang di hadapannya.

"Tapi dia masih kecil, Sasuke. Kau tidak mungkin tega melakukan itu, kasihan sekali dia," protes Hinata.

"Oh ayolah, kau lihat, kan? Chunky menyukainya. Lagipula hamster tidak berbahaya."

"Aku tidak sedang membicarakan Kazu, Sasuke. Maksudku hamster itu. Kazu bisa saja tanpa sadar melukainya," jelas Hinata.

Sasuke mendelik sesaat ke arah Hinata kemudian kembali ke Kazuki. Ia menurunkan kandang hamster itu di atas karpet ruang tengahnya kemudian menurunkan Kazuki dari sofa, mempermudah pendekatan bayi itu dengan teman barunya.

Sasuke kemudian berdri dan kembali menatap Hinata. Namun sialnya, fokusnya kini terbagi ke pamandangan yang sedari tadi terasa memanggilnya. Ia tetap penasaran dengan paha itu meski Hinata berusaha menyembunyikannya di balik sandaran sofa. Ia tak bisa menahan diri untuk tak meneguk salivanya beberapa kali.

"Oh, ya Tuhan," Sasuke mendesah cukup keras namun rendah.

"Apa?" tanya Hinata tak mengerti.

Sasuke hanya menggeleng. "Akan akan mencarikan celana untukmu," gumamnya. "Kakimu sungguh mencolek-colek mataku," tambahnya lagi dengan gumaman yang lebih rendah yang endah sampai atau tidak di telinga Hinata.

.

to be continued...

..

.

Chap 4 up guysss!
Untuk flashback sasuhina, saya umm*cough*belomadaide*cough* T.T
Sebenernya sih main plot ada, cuma ngga tau kok alot banget buat ngembanginnya, jadi ya... entahlah T.T Atau mungkin ada yang mau bikinin prequel buat flashback sasuhina nya? Please let me know :3

Tebar cinta buat readers, followers, favoriters juga reviewers... thank you so much

See yaaww...