Jangan Percaya Ramalan
Heri Punten, salah satu murid di Hogwarts kini sedang merasa bimbang. Masalahnya bukan karena dirinya yang kian hari kian tampan saja, tetapi karena di tahun ketiganya ini dia bingung mau memilih pelajaran khusus apa yang akan diambil nantinya. Namun, bukan Heri namanya kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dan mengambil keputusan dengan tepat. Dengan sigap, Heri menggapai cermin kesayangannya yang menurutnya bisa jadi alat untuk memecahkan segala masalahnya.
"Wahai, cermin ajaib! Siapakah yang paling tampan di seluruh bumi dan langit ini?" tanya Heri kepada cerminnya. "Tentu saja Anda, Tuanku!" jawab si cermin atau tepatnya jawab Heri sendiri. "Oke, kalau begitu aku tak perlu bimbang lagi, aku memang paling keren di sini."
Dan begitulah. Masalah Heri terpecahkan secepat kilat tanpa perasaan bingung dan bimbang lagi. Dia memutuskan untuk mendaftarkan pelajaran Ramalan dan Pemeliharaan Satwa Gaib. Heri pun sampai kaget mengapa tiba-tiba dia bisa seyakin itu, sungguh kekuatan ketampanannya memang tak tertandingi.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
"Hai, Heri… Ron!!" sapa Hermione yang baru saja turun dari kamar perempuan.
"Hai, Hermione!" jawab Heri dan Ron hampir bersamaan.
"Berangkat, yuk! Pelajaran Ramalan dimulai beberapa menit lagi nih," Hermione mengajak kedua temannya menuju kelas Ramalan mereka yang pertama kalinya. Hermione sendiri sebenarnya merasa ragu tentang penting atau tidaknya pelajaran ini, namun karena rasa ingin tahunya yang seperti biasa ditambah rayuan kedua temannya, maka diapun memilih pelajaran ini juga.
"Hayu atuh, kita kemon…" kata Heri yang tak kalah semangatnya ingin mengetahui bagaimana pelajaran Ramalan.
Karena ini adalah hari pertama mereka pergi ke Kelas Ramalan, maka benar-benar perlu usaha yang keras agar bisa sampai di sana tepat waktu, dikarenakan posisi kelas ramalan yang memang berada di puncak menara utara Hogwarts dan untuk mencapainya harus menaiki beratus-ratus tangga. Beruntung, Heri dkk berangkat setengah jam sebelumnya, sehingga mereka bisa masuk kelas beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.
"Selamat sore menjelang maghrib, anak-anak!" sapa seorang perempuan paruh baya yang mengenakan kacamata tebal aneh serta bermacam kalung dan syal yang secara tiba-tiba muncul di depan kelas. "Aku Trelawney – Guru Ramalan kalian. Ramalan, seperti kalian tahu, adalah sebuah hal yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Karena menurut mereka, ramalan hanya sebuah omong kosong belaka atau rekaan tentang kejadian masa depan. Yah, bukan salah mereka juga menganggapnya seperti itu, karena sekarang banyak sekali peramal-peramal palsu yang meramal hanya untuk sebuah keuntungan. Berbeda denganku yang memang memiliki bakat turun-temurun meramal dari leluhurku. Pertanyaannya sekarang.. Apakah ada yang memiliki bakat meramal juga sepertiku? Ok, untuk membuktikan siapa yang mempunyai bakat juga, kita mulai saja pelajaran kita, buka halaman 13 tentang meramal nasib menggunakan bola kristal! Cobalah untuk melihat gambar apa yang ada di bola tersebut dan lihat artinya di buku, sekarang!"
Setelah perintah itu dilontarkan, sontak suasana kelas menjadi ricuh saat para murid membuka buku ramalan mereka dan mulai berceloteh tentang apa yang mereka lihat di bola kristal yang ada di depan meja masing-masing murid. Tentu saja Heri juga sedang mencoba melihat ke dalam bola kristal bening yang ada di depannya. Dan setelah berkonsentrasi agak lama, Heri melihat suatu bayangan dari bola tersebut, dan yang mengherankan dia langsung tersenyum. Hermione dan Ron yang belum melihat apapun di bola kristalnya menjadi penasaran setelah melihat ekspresi temannya itu, namun sebelum mereka membuka mulut hendak bertanya apa yang Heri lihat, Profesor Trelawney sudah keburu menanyakannya terlebih dahulu.
"Mr Punten?"
"Iyah, Bu?"
"Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu? Membuatmu mirip orang mesum yang baru menemukan mangsanya," komentar Prof Trelawney, "Memangnya apa yang kau lihat dalam bola kristal itu?"
"Hihi, kirain profesor teh udah tahu. Pan tadi katanya peramal berbakat.." jawab Heri polos, membuat bibir prof Trelawney mengerucut monyong, kesal karena bakat meramalnya disinggung-singgung. Heri tersenyum lagi, kemudian berkata, "saya melihat pantulan wajah keren saya, Bu! Beuh, ternyata di benda bulet atau lonjong, wajah saya tetep ganteng yah! Hehe.."
"Ada yang kaulihat selain itu?" Tanya Prof Trelawney lagi, masih terlihat cemberut.
"Tentu saja," balas Heri cepat, "Aku melihat seraut wajah jelek keriput, memiliki mata yang besar, dan, uh, sepertinya giginya juga besar-besar dan berkilau kuning seperti emas karatan. Kayaknya makhluk ini teh jarang menggosok gigi., Bu Apakah itu pertanda buruk buatku?"
"Yeah, tentu saja itu pertanda buruk buatmu, 10 poin dikurangi dari Gryffindor!" seru Prof Trelawney ketus dan membuat Heri heran kenapa beliau mengurangi poin asramanya. Tapi sebelum Heri sempat bertanya kenapa, Prof Trelawney langsung berkata, "Asal kau tahu, itu bayangan dari wajahku (Heri mendesis dan berkata "Ups!"). Yah, begitulah.. Kurasa kau tidak memiliki bakat meramal sepertiku. Kalau begitu, sini, biar aku saja yang melihat bola kristalmu dan aku akan sangat senang jika melihat pertanda buruk lain untukmu.."
Heri tersenyum getir, walaupun dia yakin senyumannya tetap bakal membuat orang lain terpesona. Kemudian dia melihat wajah Prof Trelawney yang mendekat ke arah bola kristalnya. Wajahnya terlihat serius sekali dan semakin membuat Heri yakin, bahwa bayangan dari bola kristalnya tadi memang bayangan Profesor nyentriknya itu.
"AHAA!!" teriak Prof Trelawney tiba-tiba, membuat Heri dan hampir seantero kelas melonjak kaget. Tapi sepertinya mereka kaget karena melihat senyuman Heri tadi, yang dijamin lebih keren dari biasanya. "Aku melihat banyak sekali visi dari bola kristalmu, Nak. Aku sungguh tak percaya! Sepertinya kau beruntung sekali dilahirkan di dunia ini.."
"Ya, aku tahu aku ini dilahirkan sebagai anak tampan dan bersahaja dan banyak disukai orang. Tapi apaan atuh yang diliat Profesor? Bagian tubuh kerenku yang mana?" kata Heri bernarsis ria. Untung saja teman-teman Heri yang sudah tahu sifat Heri yang satu itu telah menyediakan permen penawar pastiles pemuntah buatan Fred dan George, sehingga mereka yang tadinya mau muntah bisa direda dengan penawar itu.
"Sungguh luar biasa, Nak! Aku melihat gambar bebek yang sedang kawin, kemudian aku melihat ikan yang berebutan memakan pakan, serta gambar anjing hitam, err, bukan—bukan hitam, anjing ini berwarna hijau. Sungguh menakjubkan!"
"Aku masih belum mengerti di bagian mana menakjubkannya?" Hermione-lah yang bertanya, sinis. "Kecuali kalau adegan bebek kawin cukup seru."
"Miss Granger, eh? Sedari awal aku sudah tahu kalau kau tak ada bakat meramal, jadi tentu saja kau tak tahu apa artinya," ujar Prof Trelawney, "Biar kujelaskan kalau begitu.."
Pandangan anak-anak mengarah kepada profesornya itu, kuping mereka pun sudah dipasang sedemikian rupa agar bisa mendengar penjelasan tentang ramalan tersebut. Sebetulnya mereka sendiri tak begitu mengerti di bagian mana luar biasanya.
"Anjing hijau, hmm, aku tak begitu yakin apa artinya ini, tapi aku tahu kalau itu berarti kau akan semakin terkenal. Anjing hijau tak ada dunia ini kan? Jadi tentunya jika ada anjing hijau satu ekor saja, semua orang akan membicarakannya," Papar Trelawney, "bebek kawin, menandakan kalau Mr Punten ini akan selalu diikuti oleh beberapa orang. Terakhir, lihat, ikan berebutan pakan merupakan pertanda kalau pemujamu itu akan senang jika diberi sesuatu olehmu."
Begitu Profesor Trelawney selesai menerangkan gambar-gambar yang dia lihat di bola Kristal Heri, mata Heri semakin membelalak tak percaya. Impiannya menjadi kenyataan. Dia.. Akan.. Menjadi.. Terkenal!!
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
"Heri! Hei, Sobat! Kau sedang menuang jus labumu ke semur jengkolmu!" teriak Ron kepada Heri ketika mereka sudah berada di Aula Besar.
"Aw, semur jengkol kiriman emak-ku!!" seru Heri setelah tersadarkan. "Tapi jadi enak uy, rasanya tambah eksotik setelah dicampur jus labu. Mau coba?"
"Boleh," refleks Hermione, "Eh, maksudku, bolehkah aku tahu kenapa kau melamun saat makan?" kilah Hermione, rupanya dia tidak mau mengakui kalau dia tertarik dengan bau makanan Heri. "Jangan bilang kau masih memikirkan ramalan dari Profesor Trelawney. Itu semua hanya bualan belaka tauk! Jangan percaya deh, apalagi dalam agamamu percaya kepada ramalan itu tidak boleh kan?"
Perkataan Hermione begitu menohok Heri. Bagaimana mungkin dia bisa lupa tentang aturan tersebut? Membuatnya berpikir, seharusnya dari awal dia memang tidak memilih pelajaran ramalan sebagai kelas pilihannya. Tapi sepertinya nafsu Heri untuk menjadi orang terkenal telah merasukinya, sehingga bukannya membuang jauh-jauh pikirannya tentang ramalan, kepalanya malah makin dipenuhi dengan harapan kalau-kalau ramalan itu menjadi nyata.
Akhirnya setelah diam agak lama, Heri menjawab, "Iya, memang tidak boleh, Hermione. Tapi kurasa perkataan Profesor Trelawney ada benarnya. Apalagi didukung dengan fisikku yang kau-tahu-seperti-apa.."
"Oh, tak mungkin!" pekik Hermione tak percaya.
"Tenang saja, Bro! Aku juga setuju dengan pendapatmu." Dukung Ron. "Kita lihat saja nanti, kalau kau benar-benar menjadi terkenal, Hermione pasti akan menutup mulutnya selamanya!"
"Euh, dasar laki-laki. Ok, kita lihat saja nanti, tapi kalau Heri tidak terkenal dan malah jadi gila lalu stress, kau yang tanggung jawab, Ronald!"
"Haha.. dimana-mana stres dulu baru gila!" ledek Ron sambil tertawa terbahak-bahak, sementara Heri masih tetap terdiam, bukan karena masih kepikiran, tetapi karena perutnya mulai mules, sepertinya semur jengkol memang tidak bisa di-mix dengan makanan lain.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Heri tepekur memikirkan perkataan Hermione dan memutuskan untuk menerima perkataan temannya itu. Dia seorang muslim dan sudah sepantasnya-lah untuk tidak percaya dengan hal-hal yang berbau dengan ramalan. Walaupun isi ramalan itu benar-benar menantang imannya, tapi sekali lagi dia tekadkan untuk tidak berharap sama sekali kepada ramalan tersebut.
"Heri, ayo kita pergi! Schedule-mu kali ini adalah pelajaran Ramuan," ajak Ron, rupanya dia sedang berlagak menjadi manajer Heri. "Hari ini memang bakal jadi hari yang sibuk bagimu, kawan!"
"Ok, hayu atuh kita berangkat, sarapannya udah beres inih," jawab Heri, meninggalkan cangkang telor asin yang baru dia makan isinya.
Cklek. Pintu kelas Ramuan terbuka. Menampakkan wajah Snape yang berkebalikkan dari Heri, wajah sangar nggak keren, beserta rambut lepek berminyaknya. Membuat Heri ingin membintangi iklan shampoo dan menghadiahi gurunya itu dengan produk yang dibintanginya.
"Hari ini kita akan belajar tentang ramuan penua, dari namanya dapat kita ketahui bahwa efek ramuan tersebut adalah membuat sang peminum bertambah umur menjadi lebih tua. Aku sendiri pernah mencobanya, maksimal efeknya akan hilang sekitar 2 jam. Ng, ada yang tahu kapan biasanya ramuan ini dipakai?" papar Profesor Snape, yang ditutup dengan pertanyaan. Dan tak usah heran jika tangan Hermione-lah yang pertama kali terangkat. Namun, seperti biasa, Snape akan mengacuhkannya. Heri yang tak rela, ikut-ikutan mengangkat tangan, padahal dia tak tahu jawabannya. Tapi betapa hebatnya pesona Heri, Snape langsung menunjuknya, "Ah, Mr Punten ternyata tahu jawabannya, kalau begitu kita dengar apa katanya.."
"Err, anu.." Heri melirik sebentar ke arah Hermione berharap dia mendapatkan bocoran, tapi temannya itu tetap bergeming. Heri juga berusaha berkaca ke cermin kecil yang selalu dibawanya, betul saja, dia langsung mendapat gambaran jawabannya. Lagi-lagi kekerenannya menyelamatkannya. "Ah, iya! Biasanya digunakan bagi mereka yang tidak sabar ingin punya cucu, sehingga ramuan ini diminum dan mereka bisa mengadopsi banyak anak.. Dan dari kata-kata profesor tadi, berarti profesor juga ingin cepat punya cucu nih. Tapi sayang ga laku-laku yah, pak!"
"Heri, Heri, tepuk tangan untuk jawaban dari seleb baru kita ini.. Bisakah aku minta tanda tanganmu?" puji Snape, setelah itu memberikan sebuah perkamen kosong.
"Dengan senang hati, prof!" Heri langsung menerima perkamennya dan menandatangani dengan pena-nya. Sekali lagi sungguh ajaib! Guru yang banyak dibenci orang itu pun bisa ditaklukannya. "Ini, Sir!"
"Terima kasih, Heri!" kata Profesor Snape sambil menggerakkan tongkatnya di atas perkamen tadi, tiba-tiba tulisan-tulisan kecil muncul di atasnya. "Ini adalah surat yang harus kau berikan kepada Prof McGonagall yang menyatakan kau siap didetensi selama sebulan penuh, karena jawaban asalmu! Bravo, Heri!"
"Sial, tadi itu aku lengah!" ujar Heri, lebih pada dirinya sendiri. "Aku masih mengharap pada ramalan untuk bisa jadi terkenal, makanya yang terjadi adalah kebalikannya. Lain kali gak boleh tergoda yeuh!"
"Ah, aku lega sekali, mendengar komentarmu yang tidak mau mempercayai ramalan dari ibu-ibu nyentrik itu," kata Hermione, membuat Heri takjub, karena tak sekalipun dalam hidup Heri mendengar Hermione mengata-ngatai gurunya, kecuali saat sekarang ini. "Kau harus mencoba lebih keras, Heri, aku percaya padamu!"
"Iyah, Hermione, hatur nuhun!"
"Ng, Heri, sekarang jadwal berikut kita adalah temu kangen dengan adik-adik kelasmu. Ah, tapi sepertinya bentrok dengan pelajaran Transfigurasi nih, bagaimana Heri?" tanya Ron, kayaknya dia ingin jika Heri beneran menjadi artis, sehingga Heri bakal beneran mengangkatnya jadi manajer juga.
"Euh, plis deh, Ron!" desis Hermione, pada teman berambut merahnya itu. "Jadi, Heri? Apa keputusanmu? Kau tak akan bolos pelajaran hanya demi calon fans-mu itu kan?"
"Tentu saja, aku akan lebih memilih masuk kelas Transfigurasi," jawab Heri sambil memasang muka sungguh-sungguh, padahal dia menjawab begitu karena lebih ke faktor takut kepada profesor McGonagall. Di dalam hatinya sih, dia kepikiran untuk ikut acara temu kangen itu.
"Ok, kalau begitu, ayo kita berangkat ke kelas Transfigurasi.. Jangan sampai poin kita dikurangi gara-gara telat!" ujar Hermione lagi.
"Lagipula siapa tuh yang mengadakan acara itu?" tanya Heri seraya melirik ke arah sahabatnya, Ron.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Keesokan harinya, tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, Heri masih saja tampan dan bersahaja. Tapi entah mengapa terasa aura aneh yang terdeteksi Heri. Apalagi ketika dia sedang berjalan sendirian di jembatan yang menghubungkan ke pondok Hagrid. Heri pun menghentikan langkahnya saat berada di tengah jembatan hanya untuk mengecek kira-kira apa yang membuat perasaannya tidak enak. Benar saja, ternyata sedari tadi dia sudah dibuntuti oleh serombongan anak perempuan pengagumnya.
"Hai, Heri.. Akhirnya kau menyadari keberadaan kami ya?" kata salah seorang dari mereka.
"Tadi ada yang kentut kan? Suaranya kedengeran pisan sih, makanya aku langsung sadar ada yang ngikutin.." kata Heri, menyadari bahwa rupanya aura aneh yang tadi dirasakannya adalah semilir bau kentut dari arah belakangnya.
"Itu kentutku, Heri! Bagaimana rasanya? Duh, senangnya kentutku dicium oleh idolaku! Oh iya, namaku Lisa McKinley.." cerocos cewek yang berambut bule. "Ng, sebenarnya kami mengikutimu hanya ingin bertanya, kenapa kemarin kau tidak datang ke acara temu kangen?"
"Aduh, maap. Aku sama sekali tidak tahu ada acara seperti itu. Lagian kok bisa ngefans ama Heri sih? Walaupun emang Heri keren, tapi tetep aja aneh kalo tiba-tiba semua pada ngejar-ngejar ginih, iyah pan?" tanya Heri, penasaran dan berusaha sekuat mungkin agar tak mempercayai ramalan Trelawney.
"Ih, Heri jahat! Kan acara kemarin diadain oleh Heri. Malahan kami sudah membayar tiket acaranya sama manajer Heri yang berambut merah itu lho! Terus, Heri beneran mau main film tentang penyihir kan? Abis kata manajernya kayak gitu, jadinya kami ngefans.." papar Lisa panjang lebar, membuat Heri yakin kalau dia adalah ketua dari fans club ini. "Tapi pertama kali ngefans itu pas liat Heri jatuh di pertandingan Quidditch sih, gaya jatuhnya kereeenn!!"
Ya, ampun! Ternyata Ron!! Heri membatin seraya memikirkan dimana kiranya sahabat tercintanya itu. "Err, maap sebelumnya teh.. Heri mah sebenernya nggak maen pelem kok. Yang maen pelem mah si Daniel Radcliffe – aktor muggle yang emang mirip Heri," kilah Heri kepada gerombolan yang dipimpin Lisa. "Terus, beneran Heri tuh ga tau kalau ada acara temu fans kayak gitu."
"Ah, pasti Heri cuma menutup-nutupi saja," ujar cewek lain dari gerombolan Lisa.
"Betul," Lisa menyetujui. "Pokoknya kita tetep bakal nagih janji Heri itu!"
Tadinya Heri hendak mengikuti permintaan Lisa juga, tapi kemudian dirinya ingat tentang ramalan Trelawney, apakah ini yang dimaksud dengan bebek kawin dimana dia akan diikuti terus? Heri menggelengkan kepala. Tentu saja dia menolak untuk percaya bahwa semua ini terjadi akibat ramalan Trelawney. Kejadian ini hanya kebetulan saja yang disebabkan oleh Ron seorang. Jadi sudah semestinya Heri pun menolak tawaran dari Lisa dkk.
"Aduh, maap lagi, Heri harus pergi ke dekat hutan terlarang. Ada pelajaran tambahan Pemeliharaan Satwa Gaib.. Permios Neng..!" ujarnya seraya membalik badan dan berjalan secepat-cepatnya meninggalkan gerombolan adik kelasnya di belakang. Sejujurnya Heri pergi ke pondok Hagrid hanya untuk mengunjungi teman besarnya tersebut.
"Herii, tunggu..!" teriak mereka, tapi saat Heri mendengar itu, dirinya sudah tinggal berjarak 10 langkah dari pondok Hagrid.
Blam! Heri sesegera mungkin menutup pintu Hagrid saat dia telah masuk ke dalam pondok. Sambil memejamkan mata, dia hirup udara dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Hai, Heri!" sapa Hagrid.
"Hai juga.." balasnya.
"Kata Ron, kau sudah jadi artis terkenal, eh?" tanya Hagrid. "Ah, tak perlu menunggu jawabanmu juga harusnya aku sudah tahu. Karena dari tadi adik-adik kelasmu dari Hufflepuff sudah menunggumu di sini. Kata mereka, seharusnya ada acara jumpa fans tadi pagi, tapi kau tidak datang, jadi Ron menyuruh mereka datang kemari karena tahu kau pasti ke sini.. Hebat sekali sahabatmu itu, sangat peduli padamu."
Usai mengatakan itu, Hagrid menggeser badan besarnya. Barulah pada saat itu Heri melihat kira-kira selusin adik kelasnya yang berasal dari Hufflepuff telah berkumpul dan semuanya sedang duduk manis di ruang tengah pondok Hagrid. Tapi sebelum mereka semua menyadari keberadaannya, Heri langsung keluar dari pondok Hagrid dan memutuskan untuk kembali ke ruang rekreasi Gryffindor saja.
"Beritahu mereka.. Aku sedang tak enak badan.. Sampai ketemu lagi ya, punten ah!" teriak Heri dari luar pondok. Sebetulnya dalam kepalanya dia berpikir untuk menghadapi semua fansnya itu, tapi dia belum siap terkenal, bahkan walaupun dia tahu kalau dia lebih tampan dari Daniel Radcliffe sekalipun. Ini semua terlalu mendadak baginya. "Euh, jadi gini yah, rasanya jadi orang terkenal teh?"
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Belum saja Heri sampai di ruang rekreasi, beberapa gerombolan cewek di aula depan langsung berteriak ketika melihatnya dan dalam waktu singkat mereka semua telah mengerubunginya.
"Heri, ya ampun, Heri!" teriak salah seorang dari mereka. "Aku tak percaya bisa bertemu seorang aktor di sini. Bisakah aku meminta tanda tanganmu?"
"Iyaa, Heri! Aku juga mintaa..!!" teriak cewek lainnya.
"Aku dulu-aku dulu!" kata cewek yang paling besar sambil mendorong cewek lainnya. "Heri, tanda tangannya di dahi ya.. Supaya mirip dengan bekas lukamu itu dan supaya semua orang bisa melihat kalau aku sudah bertemu artis terkenal."
"Eh, tapi.. Heri teh tidak.." sebenarnya Heri mau bilang kalau dia tidak main film, tapi rupanya cewek-cewek yang mengerubunginya berpikiran lain.
"Oh, Heri tidak membawa pena ya? Ini aku pinjamkan.." ucap cewek lainnya lagi.
"Tidak, Heri.. Pakai punyaku saja ya?" ujar yang lain, sambil menarik lengan Heri. "Kalau kau mau, pakai darahku saja sebagai tintanya..!"
"Heri, yang aku saja.."
"Heri, ini punyaku.."
Belum saja Heri memberi tanda tangan, yang lain sudah nyeletuk lagi.
"Waduh, Heri.. ponimu imut sekali. Boleh aku minta sejumput rambut ponimu?"
"Wah, kancingmu keren. Aku minta ya.."
"Heri, bolehkah aku menciummu? Katanya bau mulutmu eksotis. Aku ingin merasakan sensasi dicium olehmu, boleh kan?"
"Heri, aku punya kacamata sepertimu lho.."
"Heri, aku ingin kau jadi suamiku.."
"Heri, kok pantatmu kalau dipegang lembek-lembek ya?"
"Heri, ajarin bahasa Sunda dong!"
"Heri, maaf ya tadi aku kentut!"
"Heri.. blablabla…"
Semuanya betul-betul ingin mencari perhatian Heri. Hal yang bagus sih, seandainya tangan Heri tidak ditarik-tarik dari satu sisi ke sisi lainnya. Baju Heri tidak diacak-acak. Rambut Heri tidak dicabut. Bahkan kutil tersembunyi Heri yang ada di belakang kupingnya pun sempat ditarik-tarik. Ramalan tentang ikan berebutan pakan kah ini? Lagi-lagi Heri menggelengkan kepala, tidak, tentu saja ini hanya kebetulan semata.
Penderitaan Heri belum selesai sampai di situ. Makin banyak gerombolan cewek yang berkumpul mengerumuninya. Makin parah pulalah penganiayaan yang dilakukan mereka terhadapnya. Jadi, daripada dirinya makin tersiksa, Heri mengeluarkan mantra pembius kepada semua yang ada di situ.
"STUPEFY!" Heri meneriakkan mantra, satu cewek langsung jatuh. "STUPEFY!" lagi dan satu cewek lainnya jatuh, dan Heri terus melakukan itu sampai semua cewek yang mengerumuninya pingsan.
Tapi apakah semua masalah sudah beres? Tentu saja tidak. Karena sekarang, Heri tertimpa tubuh cewek-cewek yang pingsan itu. Sehingga dengan sisa kekuatannya, dia harus merangkak keluar untuk mencari udara bebas. Memang perlu waktu lama untuk melakukannya, tapi akhirnya dia berhasil juga. Dan tentu saja, tanpa menunggu waktu lama, Heri langsung melesat ke ruang rekreasi Gryffindor.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Setelah tiba di ruang rekreasi Gryffindor, Heri melihat Ron dan Hermione sedang duduk di kursi yang berada di tengah-tengah. Tentu saja, dia langsung menghampiri mereka.
"Ya ampun, Heri.. Darimana saja? Penampilanmu kok tampak kusut ya hari ini?" tanya Hermione.
"Wah, kau pasti sudah bertemu fans-fansmu itu ya? Yeah, harus kuakui sih, mereka itu benar-benar fans yang fanatik sekali padamu. Makanya ga heran kalau mereka mengerubungimu sampai penampilanmu kusut.. Hehe.." komentar Ron sambil meledek.
"Yeah, pokoknya mah terima kasih untuk semua jasamu itu, Ron!" ucap Heri. "Sekarang Heri jadi dikejar-kejar siapa aja di luar sana. Euh!"
"Wow, keren sekali bro!"
"Ron! Apa kau tak merasa kalau yang diungkapkan oleh Heri adalah majas ironi?" Hermione terpaksa menjelaskan. "Dia tidak suka dengan semua itu. Lagipula dia kan bukan seorang artis!"
"Tapi ramalan Trelawney bilang kalau Heri bakal terkenal dan dikejar-kejar oleh fansnya…" Ron hendak berkilah.
"Iyah, Heri juga udah apal ramalannya. Tapi itu teh kan cuma ramalan atuh Ron!" kata Heri sabar.
"Tapi lihat.. Ramalan itu benar kan? Ramalan itu terjadi kan sekarang?" Ron masih tetap bersikukuh.
"Bukan tentu saja. Ramalan itu tidak akan menjadi kenyataan kalau kau tak percaya ramalan itu dan melaksanakan apa yang ada di dalam ramalan itu. Jadi sebetulnya kejadian ini bukan karena ramalan itu, tapi karena ulahmu, Ron tersayang.." papar Hermione lagi.
"Well, kalau begitu aku minta maaf deh. Aku telah khilaf." Kata Ron akhirnya, walaupun sebenarnya dia tak begitu mengerti dengan penjelasan Hermoine. "Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Tentu saja kita harus ngadain konferensi pers, tak lengkap rasanya kalau artis belum pernah melakukan itu." Kata Heri. "Ups, maksudku kita harus ngumpulin mereka dan memberitahu hal yang sebenarnya!"
"Yee, ternyata si Heri diem-diem suka juga ya jadi orang terkenal? Ya sudah, sekarang juga kau harus memberi pengumuman pada semua anggota dadakan Heri fans club buatanmu itu untuk berkumpul besok di lapangan Quidditch!" perintah Hermione kepada Ron.
"Laksanakan tugas!" balas Ron.
"Eh, tapi tunggu, Ron.. Ada satu hal deui yang harus kau lakukan.." kata Heri, yang langsung membisikkan sesuatu kepada Ron dan Hermione.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Keesokan harinya Heri dan Hermione (minus Ron) sudah ada di lapangan Quidditch. Bersiap untuk melaksanakan konferensi pers yang menurut Heri diperkirakan akan dihadiri oleh jutaan murid Hogwarts. Pertemuan itu sendiri akan dilaksakan sekitar pukul sepuluh pagi.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima puluh menit, beberapa murid perempuan mulai berdatangan. Tak sedikit dari mereka yang datang sambil menunjuk-nunjuk ke arah Heri sambil cekikikan. Wajah mereka semua juga terlihat senang sekali, karena merasa Heri akhirnya menepati janji untuk mengadakan jumpa fans.
Pukul 10 tepat, Hermione sebagai juru bicara Heri pun segera memulai acaranya, walaupun yang datang belum mencapai target yang dipikirkan Heri tadi. Jumlah mereka hanya ada sekitar 30 orang.
"Teman-teman sekalian," kata Hermione membuka konferesinya, "ada yang ingin kukatakan kepada kalian.. Sebenarnya.."
"Kami mau Heri yang ngomong! Bukan ibu-ibu yang di sebelah Heri!" potong Lisa, disetujui yang lain.
"Euh, menyebalkan sekali! Ya sudah deh, kau lanjutkan saja!" gumam Hermione kesal dan menyuruh Heri yang melanjutkan.
"Halo sadayana..!" sapa Heri yang langsung dibalas dengan kompak oleh semua perempuan di depannya. Beberapa juga ada yang hanya teriak-teriak saja dan sebagian ada juga yang langsung pingsan. "Sebenarnya Heri mengadakan ini teh cuma mau ngasih tahu kalau Heri itu.."
"Mau ngajak salah satu kita di sini ke acara premier filmnya ya?" lagi-lagi Lisa yang memotong.
"Ya ampun, bisa gak sih untuk tutup mulutmu barang sebentar saja?!" bentak Hermione, membuat Lisa langsung terdiam.
"Ok, ulangi lagih ya. Jadi sebenernya Heri mau ngasih tahu kalau Heri teh bukan artis atau aktor yang mau main film tentang penyihir," papar Heri, disambut serempak dengan kata 'APA?' oleh semua yang hadir di sana. "Heu euh, aktor yang aslinya mah namanya Daniel Radcliffe, emang sih wajah dia mirip sama Heri, makanya banyak yang salah duga.."
"Grrr, berarti selama ini Heri nipu kita nih!" cewek sebelah Lisa, Gina, terlihat marah.
"Iya, sungguh pembodohan umat.." tambah Lisa.
"Ayo, kita ganyang Heri sekarang. Siksa dia sebagai hukumannya!" tambah yang lain seraya mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Tu-tunggu dulu.. Kan semenjak kalian ngejar-ngejar Heri juga, Heri mah udah ngaku kalau Heri itu bukan artis, walaupun punya tampang artis!" Heri membela diri, tanpa menghilangkan rasa narsisnya.
"Tapi kok diadain jumpa fans segala?" tanya Bertha, anak Hufflepuff bertubuh mungil tapi cerewet.
"Yang mengadakan itu semua adalah teman Heri, Ron, kalian ingat? Cowok seangkatan kami? Berambut merah?" Hermione coba menenangkan massa dan sepertinya mereka pun langsung menganggukkan kepala tanda mengerti siapa yang dimaksud oleh Hermione.
"Kalau begitu, dimana teman kalian itu? Kami mau menghukum dia saja deh!" ujar Lisa. "Kami mau menggantung dia, lalu menyelupkan dia ke dalam kuali mendidih, setelah itu merapalkan mantra penghilang ramuan, supaya dia kapok!"
"Err, dia sudah kami amankan.." jawab Heri, suara 'Huu' langsung membahana. "Eit, tenang-tenang, jangan marah dan kecewa dulu. Karena sebagai permintaan maaf Heri dan teman-teman Heri, maka Heri datangkan seseorang yang spesial untuk kalian."
"Siapa??" tanya mereka serempak.
"Tentu saja, aktor asli yang akan bermain film penyihir itu, Daniel Radcliffe!" kata Heri dan seketika itu sesosok tubuh tegap masuk ke arena lapangan Quidditch. Yep, dia memang Daniel Radcliffe.
Sontak semua perempuan yang tadinya fokus dengan dendam kepada Ron langsung melupakan pikiran mereka sebelumnya. Sekarang semuanya hanya terfokus pada Daniel Radcliffe.
"Kyaaa, Daniel! Minta tanda tanganmu dong!"
"Daniiiieeel! Cium aku.."
"Daniel, boleh kucubit pipimu kan? Ah, rasanya masih belum puas, kucubit pake Tang boleh ya?"
"Daniieel, aku punya foto kamu lagi ngeden lho!"
"Daniiel, cakep deh.. Sinih mau tak gendong?"
Dan masih banyak komen dan permintaan lainnya dari mereka kepada Daniel yang hanya bisa diam terpaku menerima perbuatan mereka.
Di sudut lain, tampak Heri dan Hermione yang begitu lega dan terhibur dengan apa yang ada di depan mereka.
"Fyuh, syukurlah Heri, semuanya sudah selesai," ucap Hermione lega.
"Yeah, dan ideku untuk mendatangkan Daniel asli yang ternyata Ron menggunakan polijus oge sukses nya?," kata Heri terdengar bangga. "Biar deuh supaya si Ron teh merasakan bagaimana rasanya menjadi terkenal. Hahaha.. Aku juga sebenernya seneng sih jadi orang terkenal, tapi nanti ajah deh kalau udah gede. Sekarang mah belajar dulu."
Usai berkata itu, Heri melirik ke arah Ron yang berwujud Daniel Radcliffe. Ron memberi kode kepada Heri dan Hermione untuk menolongnya. Tapi Heri dan Hermione malah tersenyum lalu melambaikan tangan pada sahabat mereka yang sedang jadi bulan-bulanan fans ekstrimnya.
"Dadah, Ron.. Eh, dadah Daniel.." ledek Heri. "Semoga efek polijusnya segera hilang ya..! Makanya lain kali teh jangan asal percaya ama ramalan okeh? Hihihi.."
"Dadah, Ron cayank!" ledek Hermione juga.
Mereka berdua pun berjalan keluar lapangan Quidditch, meninggalkan Ron yang sedang mendapatkan hukuman akibat ulahnya. Dalam hati Ron pun berkata, 'Ampuuun, ga akan deh percaya ama ramalan-ramalan lagi! Sumpeh kapok! Ternyata jadi orang terkenal tuh ga enak!'
Tamat
NB: Fic ini didekasikan untuk siapapun yang ingin terkenal kayak gw. Semoga sadar kalau jadi orang terkenal itu tetep banyak ga enaknya. :))
