"Apa yang terjadi dengan Sakura?" bisik seorang pria kepada seorang wanita yang berdiri nyaris sejajar di sampingnya.

Wanita bersanggul itu hanya diam, menggelengkan kepalanya bingung. "Begitu aku sampai di sini, Sakura sudah begini…" gumamnya lirih diiringi dengan tatapan sendu pria heterokromia di sampingnya itu.

Kakashi – pria heterokromia itu – menghela napas sejenak. Tatapannya sedih terarah pada sosok Sakura yang sedang meringkuk di sudut kamarnya, mendekap erat album usangnya di dadanya. Selama nyaris sejam, gadis pink itu tidak mengeluarkan suara atau membuat gerakan sedikitpun. Hanya matanya yang sesekali berkedip dan bahunya yang terlihat naik turun lah yang menandakan masih ada kehidupan di dalam tubuh kaku itu.

"Apa Sakura menceritakan sesuatu padamu?"

Kakashi tersenyum kecut, kemudian menggeleng. "Kau tahu itu tidak mungkin kan…"

Wanita di sampingnya, Yugao, menghela napas. "Benar juga ya…"

"Kalau kau?"

Yugao kembali menatap Sakura. Setitik air mata keluar dari ujung matanya. "Dia tidak bilang secara langsung. Tapi, sepertinya dia sedang dekat dengan seorang pria."

Kening Kakashi berkerut. "Pria? Kekasih?"

"Kurasa belum sampai tahap itu," jawab Yugao sambil menggedikkan bahunya.

"Sou ka…"

.

Satu, dua, tiga hari berlalu tanpa perubahan dalam diri Sakura. Gadis itu masih terus-terusan diam, pergi meringkuk di sudut kamarnya, atau melamun memandang pianonya yang ada di ruang tengah rumah yang ditinggalinya bersama Kakashi. Kakashi yang memang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam mengamati Sakura, sesekali mengajak gadis itu bicara walaupun hanya ditanggapi dengan jawaban yang lebih cocok disebut gumaman.

Kakashi menghela napas berat. Matanya memandang sayu Sakura yang kini tengah duduk di kusen jendela lebar rumahnya, memandang kejauhan. Suhu udara semakin mendingin, mengingat sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Gadis itu tidak juga bergeming saat merasakan angin dingin berhembus menerpa kulitnya yang hanya ditutupi kaus tipis dan celana pendek. Penampilan sangat kusut, berantakan, dan sangat tidak Sakura.

"Sakura…"

Gadis itu hanya menggerakkan kepalanya ke samping – tanpa benar-benar fokus menatap. Menandakan ia tengah menyimak Kakashi yang memanggilnya. Kedua bibirnya mengatup rapat. Wajah yang biasanya menampakkan ketidaksukaan begitu ia bersama Kakashi, sekarang lenyap. Hanya ada ekspresi kosong dan datar, begitu pula sorot di mata emeraldnya yang tidak lebih dari kehampaan.

Kakashi yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai penyebab perubahan sikap Sakura hanya bisa pasrah. Berusaha untuk selalu ada di samping gadis itu kapan pun, walaupun ia juga tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Yugao. Kakashi jadi sering bertanya-tanya lagi, apakah baik kalau ia menikah di saat kondisi Sakura seperti ini? Ia sangat menyayangi Sakura dan ia tidak mau terjadi apa-apa pada adiknya itu.

"Aniki…"

Kakashi terkesiap mendengar panggilan lemah Sakura. Antara kaget mendengar Sakura memanggilnya, juga rasa senang begitu Sakura memanggilnya 'aniki'.

"Ya?"

"Maaf…" gumamnya lirih.

Kakashi melangkah lebar dan mencapai Sakura yang kini menatapnya dengan sorot mata yang tak dapat diartikan. Sedih, kekecewaan, sakit, dan… rindu…?

"Maaf aku sudah jadi adik yang jahat…" Kalau saja Kakashi tidak berdiri di samping Sakura, pria itu tak akan mendengar gumaman lirih Sakura.

"Kau adik yang sangat baik…"

Sakura menggelengkan kepalanya tanpa daya. "Aku jahat… Padahal aku yang menyebabkan Kaa-san dan Tou-san meninggal. Tapi aku malah bersikap seolah-olah menyalahkan Aniki…"

"Ssssh… Itu bukan salah siapa-siapa… Itu murni kecelakaan. Kau tidak membunuh siapa pun, Sakura…" Lengan Kakashi merengkuh bahu Sakura yang kini mulai bergetar. "Tou-san dan Kaa-san sangat bahagia mempunyai putri sepertimu. Mereka sangat bangga padamu."

Dari balik dekapan hangat Kakashi, Sakura terisak pelan. "Kita pasti sudah jadi keluarga yang bahagia, kalau saja… kalau saja…"

"Ssssh… Sudah…" Kakashi mengelus punggung Sakura menenangkan. "Kau tidak perlu menyesal. Kita sudah jadi keluarga yang bahagia. Ada kau, aku, Yugao. Tou-san dan Kaa-san sudah bahagia di sana…"

"Apa… Apa aku dimaafkan oleh mereka?"

Kakashi tersenyum hangat. "Kau tidak salah, jadi tak ada yang perlu dimaafkan. Kau sudah jadi anak yang baik. Mereka pasti bahagia, Sakura…"

Sakura beringsut mengangkat kepalanya. Matanya yang kosong sekarang terlihat sembab, walaupun Kakashi belum menemukan perubahan berarti dalam sorot mata sayu itu.

"Terima kasih…"

"Sama-sama." Kakashi tersenyum lebih lebar. "Nah, bersenang-senanglah dengan Yugao. Kau sudah lama mengurung diri sejak tiga tahun lalu. Kau harus nikmati masa mudamu."

Sakura mengangguk, walaupun tidak seantusias dugaan Kakashi. "Sudah tiga tahun ya…"

"Ya. Dan mereka akan lebih bahagia melihatmu tumbuh jadi gadis yang bahagia."

"Terima kasih, Aniki…"

.

"Sakura! Ada apa? Kau tidak masuk hampir seminggu!"

Sakura tersenyum samar menanggapi karibnya yang kelabakan menyambutnya pagi itu begitu ia menginjakkan kaki di kelasnya. "Aku hanya tidak enak badan, Piggy."

Ino merucutkan bibirnya yang ditutupi lip balm pink tipis. "Kau harusnya mengabariku!"

"Maaf, tidak sempat."

"Ah ya sudahlah!" Ino segera menarik Sakura untuk duduk di bangkunya yang biasa. "Hei, kau tahu, selama kau tidak masuk para dosen jadi agak malas mengajar lho!" Ino tergelak menyambut kerutan di dahi Sakura.

"Kau terlihat senang…"

"Ya!" Rambutnya yang kuncir kuda bergoyang begitu kepalanya mengangguk antusias. "Dan begitu juga yang lain!"

Sakura mendengus. "Sepertinya keabsenanku di sini disambut gegap gempita, ya…"

Ino nyaris tersedak saat berusaha menahan gelak tawanya. "Jangan begitu! Haha…"

"Hah, sudahlah. Dosennya sudah datang."

"Lihat, beliau jadi sumringah, kan!"

Sakura mendengus, buru-buru mengeluarkan diktat dan buku catatannya. Diliriknya sekilas dosen setengah baya yang wajahnya, yah… dihiasi senyum lebar. Sakura diam-diam menggerutu dalam hati sebelum benar-benar memfokuskan diri pada penjelasan dosennya.

.

"Ada apa sih, ramai sekali?" Sakura melongokkan kepalanya ke papan pengumuman fakultasnya yang dipadati para mahasiswa begitu Sakura keluar dari kelas terakhirnya siang itu.

Ino yang berdiri di sampingnya juga tampak mengerutkan kening. "Entah."

"Hei, Ino!"

"Oh, hai!" sapa Ino balik pada seorang gadis pirang berkuncir empat yang tengah berlari dengan napas terengah ke arah Ino dan Sakura. "Ada apa ini?" tanya Ino begitu salah satu teman gosipnya itu, Temari, sampai di depannya.

"Itu?" Telunjuk Temari yang lentik menunjuk ke arah papan pengumuman yang ramai. "Kau tidak tahu?" Matanya membulat dengan keterkejutan.

Ino dan Sakura menggeleng kompak. "Ada apa memang?"

Temari merogoh saku mantel merah yang dikenakannya dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat empat bagian. "Ini." Temari mengangsurkan kertas yang tadi dikeluarkannya dan memberikannya pada Ino. Sepertinya itu selebaran yang sama seperti yang dipasang di papan pengumuman.

Ino dan Sakura dengan cermat membaca baris kalimat singkat yang dicetak dengan huruf wah itu. Surat pengunduran diri Sasuke Uchiha dari Universitas Konoha!

"Eh? Nani?" Mata Ino membulat. Mulutnya menganga lebar membaca kalimat tersebut.

Sedangkan Sakura yang berdiri di sampingnya hanya memandang kertas itu bingung. 'Siapa ya, Sasuke itu?' batinnya penuh tanda tanya.

"Siapa Sasuke?" Tak tahan juga, akhirnya Sakura menyuarakan pertanyaannya. Tentu saja membuat Temari terbelalak tak percaya. Rupanya masih ada spesies kurang gaul yang tidak kenal sepak terjang Sasuke Uchiha di kampus mereka!

"Sasuke itu anak Fugaku Uchiha! Kau kenal dia, kan? Keluarganya yang punya Uchiha Corp.!"

Kata-kata Temari serasa berdenging di telinganya. Ini dia spesies satu rumpun Ino, suka sekali bicara dan sekalinya bicara tidak ada jeda! Sakura tidak begitu memperhatikan ucapan beruntun Temari. Pikirannya terfokus pada foto kecil yang ikut dicetak di selebaran itu. Beruntung selebaran itu dicetak berwarna, sehingga Sakura bisa melihat dengan jelas wajah pria yang ada di foto itu. Seorang pemuda blonde yang tengah tersenyum lebar sambil merangkulkan lengannya di pundak pemuda raven yang kurang nyaman difoto. Pemuda itu...

"Van...?"

.

Yugao yang tengah mengelap salah satu jendela rumah Sakura tersentak kaget begitu mendengar pintu masuk rumah mungil itu dibuka lebar dengan kasar.

"Sakura?"

Dengan napas tersenggal, Sakura berkata – lebih tepatnya memohon. "Aneue, bisa antar aku ke rumah sakit Konoha?"

Yugao yang masih kaget dengan kedatangan Sakura semakin dibuat kaget dengan sebutan baru Sakura untuknya. Sebersit rasa haru melingkupi perasaannya. "Te-tentu!" jawabnya sedikit terbata. Buru-buru diletakkannya lap dan penyemprot yang sedari tadi dipegangnya di atas meja.

Yugao dan Sakura segera menyerbu pintu masuk rumah, menuju halaman depan rumah di mana Yugao memarkirkan Volvo peraknya – milik Kakashi tepatnya.

"Ada perlu apa di sana?"

"Aku... Aku harus memastikan sesuatu," jawab Sakura ragu sambil memasang sabuk pengamannya.

Yugao yang duduk di kursi pengemudi tidak lagi berkomentar. Dengan cekatan, tangannya memutar kunci mobil dan menghidupkannya. "Apa kita terburu-buru?"

Sakura mengangguk agak ragu. Tanpa banyak tanya, Yugao memindahkan gigi dan menginjak pedal gas mobilnya. Dengan sedikit hentakan, Volvo yang dikemudikannya bergerak meninggalkan kediaman Hatake.

Sepanjang perjalanan, Sakura hanya diam di kursinya. Tangannya yang berkeringat dingin mengepal di pangkuannya. Jantungnya berdetak kencang, memompa darahnya ke seluruh tubuh hingga membuat tubuh gadis itu berkeringat dingin. Yugao yang tengah serius menyetir, hanya melirik calon adik iparnya itu cemas. Ia berpikir serius, namun tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura. Namun tetap saja, tak ada sedikit pun pertanyaan terlontar dari bibirnya yang mengatup rapat.

Sedangkan Sakura juga tidak tampak akan menjawab – jika memang Yugao memutuskan bertanya. Gadis itu sibuk menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti... Sas...? Sesekali mata emeraldnya memandang jalanan yang untungnya lumayan sepi. Lebih sering gadis itu memandang genggaman tangannya yang terkepal rapat.

"Sakura...?"

"Ya?"

"Uhm... Tidak apa-apa."

Sakura kembali diam dan memandangi tangannya yang memucat. Lagi-lagi ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kekalutan semakin melingkupi dirinya begitu ia teringat janji yang dibuatnya bersama Vanadium, ah bukan, Sasuke Uchiha – mungkin?

Itu adalah satu dari sekian sore yang dihabiskan Sakura bersama Vanadium. Layaknya sore-sore yang lain, dua insan itu hanya duduk termenung di kursi kayu favorit mereka sambil memandangi matahari tenggelam. Bukit itu sudah jadi tempat favorit Sakura. Karena yah, ia bersama Vanadium.

"Kau mau berjanji satu hal padaku?"

Sakura yang tengah asyik memandang pendar keemasan cahaya jingga matahari, menoleh. Seulas senyum terukir di wajahnya yang juga ikut keemasan. "Tentu."

Vanadium tersenyum tipis sebelum mengembalikan tatapannya ke arah matahari lagi. "Berjanjilah untuk tidak melupakanku."

Sakura terkekeh geli. "Memangnya kau mau kemana sih, hantu?" candanya setengah berbasa-basi. Namun sayang, Vanadium sama sekali tidak menanggapi. Wajahnya masih sama seriusnya, kali ini Sakura bisa melihat tatapannya mengeras. Membuat mau tidak mau Sakura akhirnya mengiyakan. "Iya iya, baik. Aku berjanji."

Suara klakson yang teramat nyaring membuyarkan lamunan Sakura. Di sampingnya, Yugao merutuk sebal begitu pengendara di sampingnya menyerobot seenaknya. Untung Yugao bisa mengendalikan mobilnya dengan baik, sehingga mereka tidak perlu sampai di rumah sakit Konoha untuk mendaftar menjadi pasiennya.

"Pelan-pelan saja, Nee. Tak apa."

Yugao mengangguk samar. "Kau benar-benar baik-baik saja?" Kali ini Sakura mengangguk diiringi senyum tipisnya.

"Tentu."

Keduanya saling diam hingga menit-menit mereka sampai di rumah sakit Konoha yang megah. Dengan langkah terburu, mereka berdua memasuki rumah sakit itu. Tanpa sadar, Sakura meremas mantel yang dipakainya, menandakan kecemasan dan kegugupan luar biasa. Jantungnya berdetak kencang seiring langkah mereka menuju meja resepsionis yang ada di koridor masuk rumah sakit.

"Uhm, permisi…"

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" sapa seorang wanita berpakaian seragam rumah sakit dengan senyum terlatihnya. Matanya yang hitam memancarkan keramahtamahan menyambut Sakura dan Yugao.

Sakura menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dengan gugup. "Uhm… Apa… ada pasien di sini yang bernama Uchiha?"

"Tunggu sebentar, ya, Nona."

Dengan cepat petugas resepsionis tersebut mengetikkan nama Uchiha di komputer yang menyimpan database rumah sakit. Tak lama resepsionis itu kembali mendongak menatap Sakura.

"Madara Uchiha, maksud, Nona?" tanya resepsionis tersebut sambil membaca salah satu nama yang muncul di layar datar monitor kerjanya.

Sakura menggeleng gamang. Mata emeraldnya yang semula dipenuhi harapan, berubah kosong. Hanya ada sinar kekecewaan di sana.

"Sakura…?" Yugao yang sedari tadi berdiri di samping Sakura mengusap-usap punggung Sakura perlahan. "Kau sudah temukan yang kau cari?"

Sakura menggeleng. Tanpa bisa ditahan lagi, isakan kecil keluar dari bibir pink gadis itu. Yugao yang berusaha menenangkan Sakura jadi kelabakan begitu Sakura kembali menangis.

"Sakura!" seru Yugao berusaha menahan Sakura yang tiba-tiba sudah berlari keluar dari rumah sakit.

Yugao yang semula ingin berlari menyusul Sakura, kembali mengurungkan niatnya begitu sang resepsionis mengatakan sesuatu.

"Uhm, maaf, Nona. Ada satu nama Uchiha lagi. Sasuke Uchiha."

.

Sakura berdiri bersandar pada dinding pembatas halaman yang dipenuhi rangkaian bunga berwarna putih. Matanya menjelajahi suasana ramai acara resepsi pernikahan anikinya. Dihelanya napas bosan. Sudah sejak sejam lalu Sakura hanya berdiam diri sendiri, sama sekali tidak ada minat untuk sekedar bercakap-cakap dengan para tamu yang juga sebagian dikenalnya. Ino juga entah menghilang kemana setelah mereka berbincang kira-kira sepuluh menit di awal acara. Mungkin gadis blonde itu tengah cuci mata, begitu pikirnya saat tidak juga menemukan Ino.

Tepat di tengah halaman rumah keluarga Hatake – yang sudah lama tidak mereka tinggali, resepsi pernikahan dilangsungkan. Suasana yang hijau dan sejuk – sesuai dengan tema mereka, pesta kebun – semakin membuat semarak suasana. Yugao benar-benar mempersiapkan pernikahannya dengan sempurna. Semuanya tertata rapi dan sesuai rencana. Tampak pasangan yang baru saja menikah itu tengah berdansa di tengah-tengah. Para undangan bertepuk tangan riuh begitu mereka mengakhiri dansa mereka.

Seulas senyum tipis menghiasi wajah Sakura yang dimake-up minimalis dengan nuansa pink, warna favoritnya. Gaun putih berbahan sutra lembut bertali spagetti membalut tubuh ramping nan tinggi Sakura, mengekspos kaki jenjangnya yang mulus. Tidak sedikit pria yang meliriknya sepanjang pesta, ditambah dengan Sakura yang sedari tadi sendiri.

Sakura melangkah perlahan – berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan stiletto sepuluh senti yang luar biasa mengerikan – menuju panggung yang ada di depan. Langkahnya mantap membimbing dirinya menuju grand piano hitam yang dibawa Kakashi dari rumah mereka. Jemari panjangnya mengusap punggung piano kesayangannya yang masih ditutup. Dengan mudah, gadis pink itu membuka bagian atas tutup pianonya, membuka lebar celah suara dentingan. Terlihat barisan rapi senar-senar yang terhubung di setiap tuts. Kehadiran Sakura di depan panggung membuat para undangan, terlebih Kakashi dan Yugao untuk menghentikan aktivitas mereka untuk sejenak memandangi Sakura.

"Sakura bisa bermain piano?" bisik Yugao pada Kakashi yang hari ini tampak gagah dengan balutan tuxedo putih bersih dengan dasi yang sama putihnya.

Kakashi mengangguk. Matanya menatap adik semata wayangnya itu dengan tatapan bahagia sekaligus haru. "Dia pianis hebat," jawabnya memuji. Tak ayal matanya yang beda warna bersinar penuh kebanggaan.

Sakura memosisikan diri duduk di depan pianonya. Tangannya bergerak perlahan untuk membuka penutup piano. Jemari jenjangnya bersiap di atas jejeran tuts hitam dan putih itu. Sakura menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya yang tiba-tiba dilanda kegugupan. Ini kali pertama dalam tiga tahun Sakura bermain piano di depan orang banyak. Sebelum kematian kedua orang tuanya, Sakura memang sempat bermain piano dan bahkan sering menjuarai kompetisi piano ketika ia masih kecil.

Dengan satu hentakan jari-jarinya menekan tuts-tuts piano, menghasilkan nada-nada indah. Seulas senyum sendu terukir di wajah Sakura, seiring dengan matanya yang tiba-tiba digenangi air mata. Jari-jarinya bergerak lincah, menari di antara deretan nada-nada yang dihafalnya di luar kepala.

"Indah sekali…" gumam Yugao sambil mengeratkan pegangannya pada Kakashi.

Kakashi balik melingkarkan lengannya di pinggang Yugao. "Ini lagu ciptaan Sakura yang tidak pernah selesai dimainkannya." Tatapan Kakashi berubah sendu mengingat Sakura – gadis enam belas tahun yang dulu pernah ada di hatinya – tengah memainkan nada-nada di piano hitamnya, sembari mencoret-coret lembaran partitur. "Ini lagu yang ingin dipersembahkannya pada Kaa-san." Suara Kakashi bergetar. "Sayang, lagu ini tidak pernah selesai. Sakura tidak bisa menemukan kekurangan dari lagunya yang membuat lagu ini terasa begitu hampa dan timpang."

Yugao menatap Kakashi hangat, berusaha memberikan kekuatan pada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Ia tahu benar, kenangan masa lalu keluarganya sama menyakitkannya dengan Sakura yang belum lepas dari rasa bersalah atas kematian kedua orang tua mereka.

"Sakura tidak bisa memainkannya untuk Kaa-san. Tidak pernah bisa, sampai akhirnya Sakura memutuskan berhenti bermain piano dan menjadi Sakura yang dingin," lanjut Kakashi. Matanya masih menatap sendu Sakura yang kini sedang terhanyut dalam memori pahit masa lalu mereka.

"Sampai di sini nada timpang yang belum bisa Sakura benahi. Di bagian ini Sakura tidak bisa menghubungkan bagian lagu sebelumnya dengan bagian baru yang akan dimainkannya."

Sakura semakin berdebar di tempatnya. Tangannya masih bergerak lincah, mengulang nada yang sama untuk kedua kalinya – tentu saja tidak ada yang mengetahui cacat lagunya karena Sakura memainkannya dengan sangat baik. Kalau ia tidak berhasil mengambil nada yang pas, selamanya lagu ini tak akan selesai. Sakura memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri saat jemarinya akan menekan satu tuts yang serasa hilang dan timpang.

Satu hentakan nada-nada harmonis menghentikan kecemasannya begitu Sakura mendengar lagunya kembali mengalun. Sempurna. Semuanya terangkai dengan nada yang pas. Ini yang selama ini Sakura cari. Di nada yang baru saja jadi jembatan lagunya.

Sakura memandang takjub sosok pemuda raven yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Lengan kemejanya yang digulung hingga siku. Sakura masih membeku di posisinya, kehilangan tenaga untuk sekedar memulai lagi lagunya.

"Van…" guman Sakura.

Pemuda yang tampak sempurna dengan kemeja biru yang sedikit acak-acakan itu mengerling dengan seulas senyum simpul. "Sasuke."

Sakura menelan ludahnya seraya menahan napas. Perasaannya campur aduk sekarang. Belum sempat Sakura buka mulut, pemuda yang berhasil mencuri hatinya itu mengerling sekali lagi.

"Kalau kau tidak mainkan lagumu, aku bisa jamin ini akan jadi lagu paling buruk yang pernah ada. Aku tidak hafal semua bagiannya."

Setengah terkesiap, Sakura mengembalikan fokusnya pada tuts di depannya. Ia berhitung dalam hati, menunggu saat yang pas untuk memulai lagi nada-nada kelanjutan lagunya.

Dari tempatnya, Kakashi tersenyum bahagia. Pelukannya mengetat. "Lagu yang indah, kan?"

Yugao menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh di pipinya. "Iya, indah sekali."

Sakura menghentikan gerakannya. Begitu lagu itu selesai dimainkannya, sontak tepuk tangan riuh terdengar dari para undangan yang sedari tadi memperhatikan Sakura bermain. Sakura tertawa sedih. Ia menyelesaikan lagunya.

"Aku seperti orang gila. Mana mungkin kau ada…"

Vanadium, atau lebih tepatnya Sasuke, yang duduk di samping Sakura mengerutkan kening. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. "Tidak juga kok."

"Eh?"

"Oi! Teme! Apa yang kau lakukan di sana? Ayo! Itachi-nii menunggu kita untuk memberi salam pada Kakashi!"

Sakura yang sedikit kaget, semakin kaget begitu mendengar teriakan seorang pemuda blonde. Pemuda itu berteriak padanya, pada Sasuke tepatnya. Itu pemuda yang sama seperti yang Sakura lihat di selebaran waktu itu, yang memeluk Sasuke dengan riangnya.

Dengan mata yang jelas menggambarkan kebingungan, keterkejutan dan keraguan itu, Sakura kembali memandang Sasuke yang kini sepertinya sudah nyaris jebol tawanya.

"Kau!" Bibir Sakura terlihat bergetar. Mata emeraldnya dengan segera digenangi air mata.

Sasuke tertawa mendengus. "Ya. Kau pikir aku masih hantu, eh?"

Sakura langsung memukul bahu Sasuke sekuat yang ia bisa. Air matanya sudah tumpah, tak lagi terbendung. "Tapi kau… kau tiba-tiba menghilang, Baka!"

Sasuke berusaha menahan tawanya sambil memegangi Sakura yang dengan ganas memukulnya. "Aku sudah kembali, nona. Kau pasti merindukanku, ya?"

Seketika itu juga gerakan Sakura terhenti. Gadis itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan tangisnya yang pecah. "Kau… Kau tidak tahu…"

Tawa Sasuke langsung terhenti. Ganti ia yang kelabakan begitu Sakura menangis. "Hei, kau kenapa?"

"Aku… aku…"

Dengan lembut, Sasuke merengkuh Sakura ke dalam pelukannya. "Maaf," ucapnya pelan sambil mengelus pucak kepala Sakura.

"Kau menyebalkan!"

Sasuke tidak menjawab dan membiarkan Sakura mengeluarkan semua kekesalannya.

"Kau berhutang banyak penjelasan padaku, SASUKE UCHIHA!"

Sasuke tersenyum lebar, nyaris tertawa. "Tentu, tentu, Sakura Haruno. Akan kutebus secepatnya. Lain kali aku ingin memotret senyummu lagi."

"Yare… Sepertinya dua orang itu tidak akan segera turun…" Pemuda blonde itu menggaruk rambut spikenya yang tidak gatal dan segera berlalu sambil mengangkat bahunya. "Dasar Teme…"

.

Epilog

"Hei hei, bisa tersenyum tidak sih?" Sasuke yang tadi sudah bersiap membidik dengan kameranya kembali tegak menatap objek kameranya yang tengah cemberut.

"Kau sudah terlambat satu jam dan kau suruh aku tersenyum? Tidak salah, heh?" Sakura yang sedari tadi duduk di bangku taman itu balas membentak.

Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Benar juga sih. Sasuke memang terlambat sejam dari waktu janjian mereka. Hei, ini kan bisa disebut kencan pertama mereka! Bisa-bisanya pemuda itu terlambat. Tak salah juga Sakura sekarang marah-marah.

Setelah menekan satu tombol tertentu di kameranya, Sasuke beranjak mendekati Sakura.

"Hei, maaf. Jangan marah, oke?"

Sakura membuang muka, tak memedulikan Sasuke yang sudah memelas. "Pergi kau!"

Seringai Sasuke mengembang. Lengannya tiba-tiba saja sudah melingkari pinggang Sakura, membuat gadis itu sedikit terlonjak.

"Hei! Jangan sentuh aku!"

"Cheers!"

"Eh?" Sakura sedikit mendongak menatap Sasuke yang memeluknya dari samping.

Dan CUUUP. Kecupan ringan di bibir Sakura seketika membuat wajahnya yang tertekuk itu berubah merah bersamaan dengan suara bidikan kamera.

"Ekh? Beraninya kau!"

Suara gelak tawa Sasuke pun pecah begitu Sakura histeris sambil berlari mengejarnya. Kenapa kencan pertama mereka berubah menjadi aksi Bollywood? [ ]