Pair: PeinHina

Warn: AU, OOC, Misstype

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

"Hyuuga."

"Y-ya?"

"Pinjam tugasmu."

Ada wajahnya yang dingin, juga suaranya yang berat dan memaksa. Aku, jadi menciut. Dia memang selalu bisa melakukan ini padaku. Aku selalu takut olehnya.

Setelah menerima bukuku, dia kembali menghadap ke depan, mulai menyalin.

Saat itu, kelas sedang ramai-ramainya. Waktu istirahat memang selalu begini. Di kelas, ada banyak kelompok-kelompok kecil yang saling mengobrol, bercerita. Kadang, aku bisa mendengar suara tawa mereka. Hangat. Nyaman. Seandainya rasa itu juga menyebar dan menghampiri aku yang duduk di kursi paling belakang di pojok kelas, aku pasti akan senang. Tapi nyatanya, tidak ada yang datang dan menghampiriku, mengajak bicara dan tertawa bersama.

Aku terlalu pemalu untuk memulai. Jadi aku hanya diam sambil menatap jendela di sampingku. Tapi kali ini, aku mulai merasa bosan. Pemandangan di luar hampir tak pernah berubah. Aku hampir menghapal semuanya. Ada pagar sekolah kami yang berwarna hitam, lalu pepohonan, ada sedikit semak juga, terus rerumputan hijau yang selalu dirawat. Sekolah yang indah. Apalagi ada mentari yang tak terlalu menyengat pagi ini. Warnanya tak terlalu terang. Mungkin mirip dengan warna rambut Pein-san. Tidak, tidak. Sedikit lebih terang dari warna oranye rambutnya.

"Hh…"

Bahu Pein-san bergerak saat dia menghela nafas. Bahu lebar dan tegap itu, terasa kosong dan dingin. Selain rambut pirangnya yang terkesan hangat, seluruh tubuhnya berasa beku. Aku bisa lihat rahangnya mengeras, lalu alisnya yang hampir menyatu, dan tatapannya yang mengerikan, serta bibirnya tipisnya yang seolah merengut. Bahkan genggaman tangannya yang erat di tanganku juga terasa dingin.

Sejak kapan tanganku terjulur ke depan?

Sejak kapan Pein-san berbalik?

"Apa yang mau kau lakukan?"

Aku tidak tahu. Aku mau apa? Kenapa tanganku bergerak sendiri?

"Jawab. Aku."

Perintahnya terlalu tegas, aku jadi berkeringat.

"Hyuuga."

Wajahnya yang seram juga mendekat ke arahku. Ada rasa berdebar, pasti karena takut.

"Katakan."

"K-kau terlihat dingin." Ya. Itu dia sebabnya. Karena Pein-san terlihat dingin, aku jadi ingin tahu sebeku apa dia. Jadi tanpa sengaja, aku… kelepasan ingin menyentuhnya.

"Huh?"
"B-bahumu, b-bahumu y-yang bilang be-g-gitu." Aku takut melihat ekspresinya saat itu, jadi aku memaksa mataku untuk terpejam. Aku tahu, alasanku pasti sangat tidak masuk akal baginya yang memang pintar. Jawabanku yang seperti anak-anak lima tahun, pasti tak akan bisa diterima olehnya yang juara kelas.

Pein-san itu, meski berkostum seperti preman karena punya banyak piercing di wajahnya, nyatanya dia itu jenius. Nilai akademisnya selalu tinggi, jauh melampaui aku dan teman-teman. Diam-diam, aku mengaguminya.

Dia itu orang pertama yang merusak teori umum tentang orang cerdas. Dia bukan kutu buku, juga bukan orang rajin, buktinya dia memilih menyalin milikku yang belum tentu benar ketimbang mengerjakannya sendiri. Dia, hanya seorang Pein yang malas dan suka memerintah. Dan aku, hanya siswi kuper yang terkurung dalam pesonanya.

Dada Pein-san sedikit naik, ada banyak udara yang diambilnya. Saat wajahnya tenang dengan kelopak mata yang menutup, aku jadi melihat dia yang lain. "Hinata," lalu matanya terbuka lagi. Seketika, aku sesak. Mungkin Pein-san terlalu banyak menghirup udara di sekitar kami hingga aku kehabisan, mungkin aku punya gejala asma, atau bisa jadi karena hari ini terlalu panas. Yang manapun alasannya, aku tak akan menyangkal kalau ternyata sakitnya menyebar.

Ada telapak tanganku yang nyeri, lalu perut yang kram, dan wajahku yang menghangat. Apa aku demam?

Lalu, ada juga senyumnya yang hadir untukku.

"Terima kasih."

Untuk apa?

Tangannya meletakkan buku tugasku di atas meja sebelum tangan satunya melepas tanganku. Setelahnya, dia langsung berbalik dan pergi.

Hawa keberadaannya memang dingin dan menusuk, tapi akan lebih baik jika dia tetap ada jadi aku tak merasa kosong seperti ini.

.

.

.

"Aku suka kamu, Hinata. Jadi pacarku, mau gak?"

Ada matanya yang tulus, lalu senyumnya yang canggung, serta tubuhnya yang menegang. Dia juga penuh keringat. Dia gugup sama sepertiku.

Selama ini, aku belum pernah berkenalan dengan romansa. Aku, masih terlalu bodoh untuk mengerti cinta. Tiba-tiba saja, ada yang datang dan menyatakan perasaannya padaku. Aku senang tapi juga malu. Kelasku yang ramai tak bersuara. Aku merasa tenggelam saat semua mata itu menuju ke arahku penuh rasa ingin tahu.

Dia Inuzuka Kiba. Cowok kelas sebelah yang hebat dalam sepak bola. Kabarnya, dia itu gelandang tengah terhebat se-provinsi kami. Dia orang yang hebat yang selalu jadi pusat perhatian, aku hanya orang yang diabaikan. Jika aku bersamanya, mungkin aku akan lebih diperhatikan. Atau mungkin, dia jadi ditinggalkan.

"Bagaimana?"

Yang aku tahu hanya namanya, rupa wajahnya, serta prestasinya. Selebihnya, tidak ada. Ini pengalaman pertamaku soal percintaan, aku harus berpikir matang-matang.

"Hinata?"

"A-aku…" ragu, "a-aku…" terlalu sederhana untukmu yang gemerlap. Jadi aku ingin "…ma-"

"Pinjam tugasmu."

Ada tangan yang menarikku menuju pojok kelas, ke arah kursiku. Aku keluar dari zona prestisius Kiba yang asing dan masuk ke kawasan dingin milik Pein. Tangannya yang menarik tanganku mengerat, dan akhirnya aku tahu satu hal; walaupun sikapnya cenderung beku, tapi telapak tangannya hangat.

Kami berhenti tepat di sisi mejaku.

Dia berbalik membelakangiku. Samar-samar, aku bisa mendengar suaranya yang tertekan di tenggorokan.

"Hinata? Bagaimana jawabanmu?"

Kiba belum menyerah. Dia mendekat dan langsung menghadapi Pein. Di saat yang sama, geraman Pein semakin jelas. Aku takut, juga bingung.

"M-maaf…"

.

.

.

Siang ini, cuaca mendung. Ada awan hitam besar yang bergulung di langit. Rambutku sedikit berkibar karena angin keras yang muncul. Sekolah mulai sepi. Ada murid yang sudah pulang, dan sisanya punya kegiatan klub. Aku ada di klub memasak yang punya acara setiap hari kamis. Di hari Sabtu seperti ini, aku tak punya kegiatan.

"Cepat!"

"Memang ada apa, sih?"

"Kau tak tahu? Si Pein itu sedang bikin ribut di klub."

Aku berhenti. Pikiranku memaksa maju, tapi hati menyuruhku berbalik dan mengikuti kedua siswa tadi. Pein-san kenapa?

Setahuku, klub Karate adalah satu-satunya hal yang ditekuni Pein dari sekolah dasar. Terus, kenapa anak-anak berbaju jersey tadi bilang Pein ada bersama mereka?

Di lapangan sepak bola, ada kerumunan yang mulai sepi. Dari sudut lapangan, aku melihat Kiba terduduk di lapangan dengan luka lebam di wajahnya. Ada banyak. Bahkan ada darah di pelipisnya. Saat itu, dia jelas kesakitan, tapi menolak bantuan teman-temannya.

"I-Inuzuka-san…"

Wajahnya terangkat. Ada mata kelamnya, juga alisnya yang lebat, serta ekspresi terkejutnya. "Hinata?"

Jarak aku dan dia semakin dekat, tapi akau masih merasa kurang. Jadi aku berjongkok, ikut menyejajarakan diri dengannya. "Kenapa?"

Aku bisa dengan jelas mendengar tawa renyahnya. "Tidak apa-apa, kok."

"K-kenapa lebam?"

"Ne, kau perhatian padaku?"

Aku juga tidak tahu. Apa aku perhatian padanya atau tidak, tapi ada sesuatu yang serasa tak benar. Aku bisa merasakannya. Di sini. Di hatiku. Bukankah tadi kedua orang itu bilang ada Pein di sini? Kenapa malah Inuzuka-san?

"Kau mencari Pein?"

"B-biar aku bantu." Aku melihat Inuzuka-san yang kesakitan. Lapangan sudah sepi. Jika aku meninggalkannya di sini, apa aku cukup bertanggung jawab?

"Pein ada di halaman belakang, loh."

Kenapa dia menjawab yang bukan pertanyaanku?

.

.

.

"S-sedang apa?"

"Apa urusanmu?"

Selalu begini. Aku yang berusaha untuk ramah langsung ditolak mentah-mentah. Pein-san memang jago membuatku menciut.

"M-maaf."

"Bisa tidak kau berhenti bilang kata itu?"

Aku bisa mendengar dengusan nafasnya yang terlalu keras. Aku tahu, dia kesal. Pasti padaku.

"Pergilah."

Sekarang dia mengusirku.

Mataku langsung panas dan berkabut. Cuaca mendung semakin mempertegas suasana hatiku yang kelabu. Sebentar lagi hujan, dan aku malah berdiri di sini, di halaman belakang sekolah, di bawah pohon sakura, hanya untuk diusir oleh orang yang selalu meminjam tugasku.

Aku ingin langsung pergi dan mengabaikannya, tapi dia terluka.

"Mau apa, kau?"

Ingin membantumu. Kau terluka, dan aku tak bisa mengabaikannya.

"Singkirkan tanganmu dari wajahku."

Cuaca mendung dengan angin kencang kalah dingin dengan suaranya. Aku berusaha keras untuk tak mendengar, pura-pura tuli adalah jalan terbaik yang ku ambil.

Ada pertanyaan untuk Pein-san yang selalu pintar. Tanganku menyentuh rambutnya, dia mengusirku. Tanganku menyibak poninya, dia menyuruhku pergi. Saat aku memplester lukanya, dia masih tetap memintaku pergi. Dia selalu memintaku pergi, tapi tubuhnya sama sekali tak bereaksi. Mungkin kelelahan berkelahi dengan Inuzuka-san membuat otot-ototnya kaku hingga tak mampu menghentikanku.

"Hinata," suaranya yang serak memanggil namaku. Tanganku masih ada di plester dan keningnya. Aku meliriknya yang menatapku. Matanya seolah bersinar, padahal hari sedang gelap. "Jangan pergi." Mendengar suaranya, ada desiran aneh yang terasa di tubuhku. Senang? Tentu.

"Jangan buat aku kerepotan."

"M-maaf."

"Jangan ucapkan kata itu."

Aku berdiri, Pein-san juga berdiri. Kalau begini, aku merasa jarak kami jadi terlalu dekat.

"Aku, tak bisa melepasmu," akunya padaku. Tanganku bergetar ketika dia meraihnya, menggenggamnya. "Aku akan kerepotan mengendalikan emosi, pikiran, dan hidupku jika kau pergi." Dia menarikku untuk bersandar di dadanya. "Jadi, tetaplah di sisiku." Ada lengan kokohnya ku rasakan mengikat tubuhku, lalu suara detak jantungnya, dan hembusan nafasnya di puncak kepalaku. "Jangan tinggalkan aku dengan si Inuzuka itu. Jangan juga pergi dengan yang lain. Kau itu punyaku."

Desiran dalam tubuhku semakin tak bisa dikendalikan. Aku terlalu terkejut untuk sekedar menjawab. Yang bisa ku lakukan hanya mengangkat kedua tanganku, lalu menepuk punggungnya pelan.

Dulu aku pernah berangan seberapa beku bahunya. Dan sekarang aku dapat jawaban setelah menyentuhnya. Pein-san bukan seekor bunglon yang bisa berubah-ubah sesuka hati, berkamuflase tentang emosinya. Dia itu cuma seorang siswa cerdas pemalas yang tersesat dalam dunia aneh yang membuatnya sulit menunjukkan ekspresi yang seharusnya dia keluarkan. Banyak orang salah mengerti dengan sikapnya, aku terutama. Tapi akhirnya aku belajar; mungkin buku yang sampulnya mengkilap dan cantik itu bagus, tapi buku tua yang usang juga berguna. Pein-san buktinya.

Ada alasan kenapa aku memilihnya.

Pertama, karena hanya dia laki-laki yang dekat denganku.

Kedua, karena hanya dia yang mau memaksaku dan membuatku mengerjakan tugasnya dengan senang hati.

Ketiga, karena hanya dia yang pernah memelukku seperti ini.

Keempat, karena hanya bersamanya aku bisa merasakan desiran aneh yang menyenangkan dari tubuhku.

Kelima, karena aku tak punya pilihan. Karena cinta memilihnya untukku. Karena aku tak bisa melawan. Karena cintaku menghendakinya demikian.

Ada banyak alasan kenapa aku memilihnya. Jadi, kenapa aku harus menolak cintanya?

.

.

.

In love, you'll get what you need

In love, you'll never have any choise

In love, you'll need me

In love, I'll force you to love me too

.

.

.

Kelamaan ngapdet… -,-")

Saya mohon maaf… Minggu ini sama sekali gak ada waktu untuk bisa nyempil nulis fic meski idenya udah teriak-teriak minta dikeluarin…

Romancenya kurang kerasa, ya? (-.-? saya juga bingung mau gimana buatnya. Tapi karena sudah dipublish, so, review ya?

Mind to Review?

-:- H. Kazuki -:-