Martyr of Love
Maaf bila ada kesalahan EYD, OOC, OOG(ada kah? mungkin hanya buatanku.)
Naruto punya pemiliknya, bukan punyaku.
Summary : ketika salah satu dari kita berkhianat akan cinta, pasti akan ada balasan yang setimpal. Ya kan sayang?
Uchiha Sasuke (23 tahun)
Haruno Sakura (23 tahun)
Sabaku No Gaara (23 tahun, mempunyai alis dengan tato 'Ai' tetap melekat di dahinya)
4. Painful
Aku berjalan kaki menuju tempat pembelanjaan terdekat. Aku tidak begitu menyukai mengendarai kendaraan. Lebih memilih bersepeda dan jalan kaki. Berhubung sepedaku mengalami kerusakan pada bagian rem, daripada nyawa melayang, aku jalan kaki saja.
Sialnya, pilihanku untuk jalan kaki menuju tempat pembelanjaan bukanlah pilihan terbaik. Membuatku lebih mudah melamun, karena dalam keadaan tidak fokus, nyaris saja aku tertabrak sepeda.
"Maaf, maafkan aku." Ucapku seraya membungkukkan badan. Saat memulai perjalanan lagi ada yang menepuk pundakku.
"Eh-.."
"Sakura?"
(in the other place)
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Suruh masuk"
Tak lama terdengar suara sepatu yang beradu dengan karpet mulai mendekat ke ruangan seseorang yang dipanggil 'Tuan'
"Oh, adikku. Lama tak jumpa dengan kakakmu." Sapa seseorang yang baru saja masuk ke ruangan.
"Cih, tak sudi aku menyebutmu kakak." Terlihat ekspresi dari sang pemilik wajah bahwa ia memiliki dendam tertentu.
"Ada apa denganmu, kenapa kau seperti ini?" tanya seseorang yang mulai menghampiri adiknya.
"Aku menderita. Karena kau, aku harus menikah dulu untuk menjabat sebagai direktur karena kau menghilang begitu saja. Dan tiba – tiba kau datang. Langsung diberikan pekerjaan sebagai pemilik perusahaan. Ini memang rencanamu kan?"
Tak pernah orang itu mendengar adiknya berbicara sepanjang itu, terutama dalam keadaan marah. Ia menyahut dengan tawa tertahan yang makin membuat sang adik semakin kesal.
"Aku harus terperangkap dalam pernikahan, harus menjadi suami di umurku yang masih muda. Berada satu rumah dengan orang yang mana aku tidak ada perasaan terhadapnya . Apa maumu?" sang adik menarik rambutnya dengan frustasi.
"Paling tidak ia mencintaimu kan?"
"Tapi aku tidak mencintainya!"
"Karena yang kau cintai itu istriku! itulah kenapa aku melakukan ini semua, aku membuat rencana ini untuk membuatmu meninggalkan istriku dengan cara menikah. Itulah alasan aku menghilang dan tidak menghadiri pernikahanmu!" amarah diantara keduanya semakin naik. Sampai salah satu diantaranya menarik nafas panjang.
"Maafkan aku Sasuke." Jawab seseorang itu sambil menatap wajah adiknya.
"Aku pergi, Itachi." Sasuke pun langsung keluar dari ruangan yang mempertemukannya dengan kakaknya.-Itachi.
.
.
.
.
.
"Sakura?"
"Ga-Gaara?, apa yang kau lakukan disini?" tanyaku heran. Semenjak terakhir kali aku bertemu dengannya di pernikahanku, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Hal ini membuatku sedikit gembira. Terkadang, aku rindu dengan caranya menggodaku dengan leluconnya. Ia datang disaat yang tepat. Saat ini aku memang butuh seseorang yang dijadikan sandaran untuk melepas rasa sedihku.
"Olahraga, tentu saja." Ia sedikit menggerakkan pundaknya untuk memberi tahu bahwa pakaian yang ia kenakan merupakan pakaian olahraga.
"Oh, begitu. Silahkan lanjutkan olah ragamu." Jawabku sambil tersenyum.
Aku kembali berjalan kaki lagi. Sampai-
"Biar kuantar kemana kau pergi."
.
(Gaara's POV)
Aku melihat dai kejauhan siapa wantia berambut soft pink itu. Mengingatkanku kepada Sakura. Cara berpakain persis seperti Sakura, blouse dan cardigan serta celana jins dan sepatu keds. Simpel. Tipikal Sakura. Aku diam di tempat. Sengaja menunggu wanita tersebut semakin mendekat ke arahku. Ternyata benar, itu Sakura. Tapi ada yang lain, ia berjalan dengan tidak fokus, tatapan matanya kosong. Telihat menyedihkan dan hampa.
Ia semaikn dekat dengan denganku, belum sempat ku sapa. Ia nyaris saja menabrak sepedaku.
"Maaf, maafkan aku." Ucapku seraya membungkukkan badan. Dan ia tidak sada kalau di depannya itu aku. Ku tepuklah pundaknya setelah ia mulai berjalan lagi.
"Eh-.." ia sepertinya terkejut dan menoleh ke arahku. Semakin terkejut ia begitu melihatku.
"Sakura?" aku pura-pura baru saja menyadari kalau yang nyaris tertabrak itu Sakura. Padahal, aku sudah melihatnya dari tadi.
"Ga-Gaara?, apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura sambil menunjukkan ekspesi heran. Semenjak terakhir kali kami bertemu saat di pernikahannya, setelah itu aku sibuk dengan profesiku dan tidak penah bertemu lagi dengannya.
"Olahraga, tentu saja." Jawabku, aku menatapnya dan mengangkan pundakku sedikit. Ada yang berubah darinya.
"Oh, begitu. Silahkan lanjutkan olah ragamu." Jawabnya sambil tersenyum. Senyum paksaan itu muncul lagi. Ia membutuhkan bantuan.
Ia kembali berjalan menjauhiku. Entah apa yang membuatku mengejanya dengan menggunakan sepedaku dan menghentikan langkahnya karena aku menutup jalannya dengan sepedaku.
"Biar kuantar kemana kau pergi." Satu hal yang pasti mengapa aku berkata seperti itu adalah. Ini pasti berhubungan dengan Sasuke.
.
.
.
(Sakura's POV)
"Cepat naik." Seru Gaara sambil menatap ke arahku.
Aku hanya bisa mengerutkan alis, bagaimana cara naik sepeda ini? Tidak ada tempat untuk duduk dibelakang. Seperti menyadari itu, Gaara pun berkata. " kau melihat di bagian tengah roda belakang ada tempat untuk pijakan kaki kan? Naiklah." Serunya tak sabar.
Aku sedikit berpikir, sepertinya tidak usah ikut Gaara. Jalan kaki saja sebentar lagi akan sampai. Tiba – tiba ada yang menarik tanganku-Gaara. Ia menaruh tanganku di pundaknya. "Cepat, gunakan pundakku saat kau mau menapakkan kakimu. Semakin lama, semakin panas di sini" Serunya lagi.
Terlalu sering rasanya ia beseru, jadi kuturuti saja. Aku sudah berada di posisi yang tepat, sampai putaran roda sepeda pertama, aku hampir jatuh.
"Ups," aku mencengkram pakaian depan bajunya untuk menahan keseimbangan.
Entah kenapa, aku merasa kalau Gaara sedikit membeku dengan situasi seperti itu.
"Eh, sepertinya tidak usah saja aku-" perkataanku tepotong ketika Gaara menggengam tanganku yang seperti mengalung di lehernya. "Tidak. Tetaplah seperti ini."
Perjalanan menuju tempat pembelanjaan tidak begitu buruk seperti yang pertama. Aku sudah bisa menjaga keseimbanganku dan Gaara sepertinya mengeluakan seluruh tenaganya untuk membuat sepedanya berjalan.
Setelah sampai, aku turun dari pijakan kaki sepedanya, dan Gaara sedang memarkir sepedanya.
Sambil tersenyum canggung, aku berterima kasih kepadanya. Dan aku menyuruhnya utnuk melanjutkan olahraganya lagi. Dengan mimik muka sok polos ia menjawab, "Sepertinya acara belanjamu lebih seru dibanding olahaga." Dengan kalimat itu pasti ia ingin ikut berbelanja. Oh Tuhan!
.
.
.
Menyenangkan juga berbelanja bila ditemani, orang yang menemani kita dapat merekomendasikan sesuatu produk yang kiranya kualitasnya lebih bagus dengan harga murah, bisa dijadikan tempat untuk mengobrol , bedebat sesuatu, rasanya sudah lama sekali aku tidak bersosialisasi dengan seeorang, dan bagian paling penting adalah membantu mengambilkan sesuatu. Itulah saat ini yang kurasakan dengan Gaara. Rasa baiknya tak berubah dari dulu. Ia bahkan tidak memperbolehkanku untuk mendorong trolley dengan alasan bahwa itu sudah kewajibannya sebagai pria yang katanya 'bertenaga lebih banyak dibanding wanita.'
"Tapi aku sudah biasa mendorong trolley bila berbelanja." Sahutku sambil mendengus tak suka dengan cara pemikirannya. Terutama dengan hak wanita untuk dapat melakukan sesuatu yang masih di taraf kewajaran. Apa mendorong trolley seperti mendorong kerbau? Perbedaannya saja sudah jelas, trolley menggunakan roda agar mudah bergerak, sedangkan kerbau? Kaki yang hanya menuruti si pemilik kaki, siapa lagi kalau bukan si kerbau.
"Jangan menganggapnya telalu serius Sakura-sensei, tentang sekelumit penyetaraan hak dan taraf kewajaran itu tidak begitu penting disini." Sahutnya dengan santai sambil melihat-lihat salah satu produk susu. Menggunakan kata –sensei seperti menyangkut pautkan profesiku sebagai pengajar, karena saat aku membuat soal di tempat les , sering kali aku berdebat di dalam pikiranku. Mungkin ekspresiku sama seperti bertahun-tahun yang lalu.
"Hm, H-Hei!, kau tahu dari mana kalau aku tadi sempat berpikir tentang itu?" tanyaku kepada Gaara. Ia hanya terkekeh dan menjawab dengan singkat. "aku mengenalmu dari pada dirimu sendiri."
Hah? Apa maksud perkataannya? Ku urungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut karena ia berkata ingin melihat ke bagian sayuran dan buah-buahan. Sepertinya ia tidak jadi merekomendasikan susu yang baru saja ia lihat. Tiba- tiba saja aku berpikir, 'yang sebenarnya mau belanja itu siapa sih?'
Dai rak satu ke rak lainnya, aku menemukan buah merah kesukaan Sasuke. Tomat. Segera saja aku mengambil kantung plastik untuk memasukkan kira-kira 15 buah ke kantung plastik. Setelah mengambil dan ditimbang, aku mengecek lagi harga tomatnya, sedikit mengerutkan alis karena harga tomat kali ini 'naik' dibanding melihat Gaara seperti mengawasiku. Setelah menaruh belanjaan itu di trolley. Aku bertanya ada apa dengannya.
"Entahlah, kau menatap tomat itu seperti menatap anak-anakmu sendiri." Jawab Gaara. Lantas hal itu membuatku tertawa. Aku merasakan blitz kamera dan bunyi 'klik', ku arahkan wajahku ke Gaara, ternyata ia memotretku. Hal ini memang sering terjadi, berusaha sekeras apapun memintanya untuk menghapus foto yang telah ia 'ambil' seperti mencoba mengahapus garis tangan. Jadi hal itu tidak lagi begitu ku permasalahkan.
"Selalu kau bawa, heh?" ku tunjuk kameranya yang kini tergantung di lehernya.
" Tentu saja. Kesempatan langka melihatmu tetawa lagi tidak akan kulewatkan." Jawabnya sambil mengutak-atik kameranya.
Aku hanya mengangkat bahuku, dan kemudian melanjutkan perjalanan 'berburu' kebutuhan hidup.
Saat membayar, adalah hal yang paling kubenci. Semua orang menatapku. Bukan, lebih tepatnya menatap Gaara, lalu menatapku dengan pandangan sinis. Ya aku tahu, Gaara termasuk oang yang parasnya diatas rata-rata. Tapi untuk apa mereka menatapku seperti itu? Mengira aku istrinya?
Yang melayani kami saat pembayaran juga sama. Berusaha menyebarkan sekuat tenaga pesonanya. Tapi hanya di tanggapi biasa oleh Gaara. Tanpa ada rasa bersalahnya sama sekali, aku memberi tahu yang melayani kasir itu bahwa aku bukan istrinya. Mendengar kata itu membuat-Tayuya, namanya yang ku lihat dari name tagnya langsung berseri-seri.
"Ia juga single." Sahutku kepada Tayuya yang kini tengah memberikanku struk belanja, sepertinya Gaara menyadari apa yang kubicarakan. Dengan senyum menawan ia berkata, "Maaf, aku penyuka sesama jenis."
Krik
Krik
krik
Membuat Tayuya shock, rasanya mataku hampir mau jatuh, langsung saja aku kabur dari tempat itu sambil berusaha mendorong Gaara agar lebih cepat berjalan dengan membawa barang belanjaan.
Keluar dari tempat pembelanjaan, Gaara tertawa, aku yang masih berusaha mengatur nafasku mengerutkan alis, ada apa ini? Bukannya aku mau menjauhinya atau apa, rasa cinta kepada seseorang yang meskipun bisa dibilang 'abnormal' adalah urusan orang itu sendiri, itu bukan bagian aku harus ikut campur. Tapi entah kenapa aku marah kepadanya.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Gaara kepadaku sambil menahan tawa.
"Kau keterlaluan, tidak cerita kalau kau punya kekasih. Aku tak akan menghadiri pernikahanmu dan tak usah kenalkan aku pada priamu!." Mendengar hal itu Gaara semakin tertawa. Sambil berusaha menguasai dirinya ia pun menjawab, "Aku tahu kau tidak menyukai pandangan orang-orang itu. Menjengkelkan terkadang. Jadi kupikir dengan mengatakan itu, adalah jalan yang terbaik." Ia kembali tertawa lagi, aku yang masih melongo karena maksud Gaara yang seperti itu. Lama-kelamaan aku juga ikut tertawa. Di dalam pikiranku, aku berandai-andai. Seandainya Sasuke seperti ini, baik, sering membuatku tertawa, dan peka.
Perjalanan pulang karena tidak dapat membawa belanjaan itu sendiri, Gaara ikut membantu. Ia tidak mengendarai sepedanya, ia lipat, dan ia masukkan kedalam tas. Jadi ia ikut berjalan kaki bersamaku.
" Terimakasih, dan maaf."
"Hah? Untuk apa?"
"Sudah menemaniku dan sudah merepotkanmu."
"Dari dulu kau juga sudah merepotkan."
Bletak!
"Aduh..." Gaara mengusap kepalanya di tempat aku menjitaknya. Lalu kami berdua etawa.
"Aku yakin kau tak lagi tertawa selama beberapa minggu terakhir ini kan?" sahutnya becanda.
"Memang benar." Aku menjawabnya dan langsung diam. Gaara mungkin ada kekuatan magis ya sepertinya? Tahu segala hal. Ah iya, 'aku mengenalmu dari pada dirimu sendiri' mantra Gaara untuk meramalku.
"Kalau kau ada masalah dengan Sasuke, cerita saja."
"Maaf, kupikir itu urusan rumah tangga kami." Jawabanku itu langsung membuat Gaara terdiam.
Sesampainya di rumah, aku menawarkan Gaara untuk mampir sejenak ke rumah. Dengan awalan penolakan tapi dengan paksaanku ia pun menerimanya.
"Mungkin untuk mengurangi dahaga boleh juga."
.
.
Aku membuka pintu rumah,yang anehnya tidak dikunci, kurasa sudah ku kunci, beruntung pintu paga terkunci selama aku pergi, jadi kurasa aku memang lupa mengunci pintu rumah. Setelah masuk, aku menaruh belanjaan di dekat dapur dan membuat minuman untuk Gaara, kami berbincang-bincang dan aku mengingat sesuatu, puisi 'duet'ku dengan Gaara yang belum selesai pada masa SMA, karena saat itu sudah waktunya lulus. Sudah ku selesaikan, aku ingin membutuhkan pendapat darinya. Aku memintanya untuk menunggu sebentar di bawah, karena puisi itu kusimpan di perpustakaan yang letaknya ada di lantai 2.
Saat aku menaiki tangga, aku bingung. Ada pakaian, bukan, beberapa pakaian berserakan di tangga atas dan menuju ruang tidur. Aku pun memungutnya dan melangkahkan kaki dengan hati–hati menuju ruang tidur. Benar saja, ruang tidu tidak terkunci, dan sedikit terbuka, saat aku mengintip sedikit, tubuhku lemas. Apa-apan ini?
(Gaara's POV)
'kenapa Sakura lama sekali' pikirku, aku pun menyusulnya karena penasaran. Menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencai ruangan yang di dalamnya ada Sauka, aku melihat Sakua sedang duduk, tapi tubuhnya bergetar, aku menghampirinya.
"Sakura, kau kenapa? Sudah menemukan-" aku membuka pintu yan terbuka seperempat dan melihat ke dalam ruangan. Aku terkejut sekali. Aku menatap Sakura yang kini menangis tanpa suara.
.
.
.
.
.
Sesuatu yang masuk akal bila melihat suamimu kini tidur dengan wanita lain di ranjangmu.
To be continued
Note : maaf atas keterlambatannya untuk meng-update cerita ini, awal masuk sekolah dan dikagetkan dengan banyak tugas membuatku kekurangan waktu untuk menulis. Jadi harus kena 'insomnia dulu baru si penulis newbie ini bisa mengetik dengan puas. Kalau ada penulisan yang salah mohon dimaklumi karena belum ku baca ulang dan belum di edit. Terima kasih yang sudah me-review. Kritik dan saran silahkan
