Classical As Usual

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rated : T

Main Pair : SasuSaku

Special thanks to : Annabel with her soft-voice in Anamnesis

WARNING : AU, OOC, Little bit of Crime, Not to bashing and typo(s)

Happy Listening-

.

.

.

"Kau bercanda?" tanya Sakura dengan nada tak percaya. Ino menggeleng pasti sambil tersenyum. "Aku tidak bisa bernyanyi klasik."

"Tentu kau bisa." Ino memegang kedua bahu Sakura lalu memiringkan kepalanya sambil tersenyum menyemangati. "Aku akan mengajarimu. Kemampuanku setiap malam itu harus disalurkan."

Sakura berdecak sebentar, lalu tersenyum kecil dan mengangguk. "Hm, terserah kau saja. Kapan kita mulainya, Geisha-sensei?"

"Kau bercanda? Kita sudah mulai!" Ino duduk di sebelah Sakura, lalu menangkupkan wajah Sakura agar menoleh ke arahnya. "Lihat dirimu, sangat tidak seperti wanita! Penuh bau amis! Wajah tidak terawat, aduduh!"

Sakura menggembungkan pipinya kesal. "Yah, kan, itu gak penting. Buat tugas beginian ngapain coba pake make up banyak-banyak? Adanya juga nanti luntur karena keringat dan darah."

"Aku mengerti." Ino kini berdiri dan menggandeng Sakura menuju salah satu salon. "Kau harus direparasi."

"Kau anggap aku ba-HELL! INO!" Sakura menghentakkan tangannya saat Ino menariknya ke dalam salon. "Bloody hell! Kau mau apa, sih?"

"Mau memperbaiki penampilanmu itu, jidat. Duduk dan bersiaplah. Aku akan menemui temanku di salon ini." Ino berlalu meninggalkan Sakura yang melongo kebingungan sambil duduk di bangku besi tempat menunggu. Ia menghela napas berat, lalu membaca koran yang terkapar begitu saja di dekatnya.

"Monoton." Ia membukanya berkali-kali. "Tch, tidak adakah kasus pembunuhan yang berhasil diungkap polisi? Fufu." Ia kini membaca halaman ke-11 dan matanya langsung membelalak.

"Ino… benar-benar gila…"

Naruto Uzumaki dan Gaara Sabaku : Kembali Ke Jepang, Temui Uchiha!

oOo

Sasuke duduk dengan kesal di dalam mobil, sedangkan Itachi menyetir menggantikan supir mereka. Tak ada alasan spesifik, hanya saja Itachi ingin menyambut kedua sahabat adiknya sejak kecil itu secara pribadi.

"Jadi, bagaimana konferensi persnya?" suara Sasuke. "Jangan sampai nanti para wartawan itu membuatku tampak buruk."

"Harusnya aku yang bilang begitu, Otouto." Itachi memperlambat deru mobilnya saat mereka sampai di tempat pembelian karcis. Ia membuka kaca jendela, lalu membayar tiket dan masuk langsung ke bandara dengan mobil. Kacamata hitam tak pernah lepas dari wajahnya. "Hah… Otouto, kalau mereka baru take off, untuk apa kita kesini duluan?"

"Hn. Aku lapar." Sasuke melepaskan sabuk pengaman saat mobil berhenti. "Ayo kita makan dulu." Itachi mengangguk. Tumben sekali, batinnya.

"Tumben sekali, Otouto. Biasanya kau disuruh dulu baru mau makan," ujar Itachi. Sasuke mendelik.

"Moodku sedang bagus. Cepatlah keluar atau aku berubah pikiran." Itachi geleng-geleng kepala sebelum akhirnya tersenyum kecil dan keluar dari mobil.

"Kau ingin makan dimana?" tawar Itachi. "Kalau mereka baru take off, masih ada wak-"

KRINGG!

"Halo? Ada apa, Konan-san?" Itachi langsung mengangkat telepon to the point. "Souka, aku mengerti. Baiklah akan kuberitahukan dengannya. Yah, kami baru saja mau makan. Begitukah? Baiklah. Sampai nanti."

FLIP!

"Konan?" tanya Sasuke. Itachi mengangguk. "Apa?"

"Katanya Naruto dan Gaara sebenarnya sebentar lagi sudah landing." Sasuke menahan amarahnya. "Entah kapan mereka sudah take off dari Amerika. Well, ayo kita makan dulu."

Sasuke menepuk dahinya pasrah sebelum mengangguk dan mengikuti kakaknya yang berjalan menuju kios makanan khas Indonesia.

"Kau pesan apa?" tawar Itachi. "Aku pesan model, sate padang dan es jeruk saja." Itachi menaruh buku menu itu di atas nampan yang disodorkan pelayan.

"Hn, aku ayam bakar tomat dan jus tomat." Itachi berdecak mendengar pesanan adiknya. Adiknya mendelik tajam ke arahnya, sebelum kembali menatap lurus buku menu. "Dan aku mau kopi untuk dibawa ke rumah."

"Kita masih lama pulangnya, Otouto." "Berjaga-jaga." Itachi menghela napas.

Sasuke meletakkan buku menu itu, lalu pelayan itu membungkuk sedikit sebelum berjalan tergesa menuju dapur. Itachi melihat punggungnya yang menghilang di belokan, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melirik ke bawah dan tersenyum saat melihat benda yang terjatuh dari pelayan tadi.

"Lihat ini, Sasuke. Ini sebuah keberuntungan." Sasuke melirik sebentar. "Ini yang namanya keberuntungan dalam kesialan."

"Syukurlah kau berpikir kalau menunggu anak-anak itu tanpa waktu yang tepat sama denganku, kesialan." Itachi mendengus menahan tawa. "Apa itu?"

"Nametag. Lucu sekali."

oOo

"Nah, Dei. Aku ingin Saku rambutnya dijadikan lebih teratur. Rambutnya dimasukkan ke dalam dan agak curly. Tambahkan kesan fresh dari wajahnya." Ino sedang mengobrol dengan Deidara di depan kaca yang di depannya telah duduk Sakura dengan wajah kesal. "Nah, Sakura, serahkan saja semuanya padaku. Kau hanya perlu duduk."

"Kurang ajar, aku tidak mau memotong rambutku." Sakura berdecak saat Deidara mulai menyemprot rambutnya dengan air untuk melemaskan rambutnya.

"Bukannya dipotong. Hanya merapikan, Saku-chan." Ino kini duduk di sebelah Sakura dengan bangku lain sambil membaca majalah fashion. "Dengar, kau sudah baca majalah dan koran hari ini?"

Sementara Deidara terus bekerja, Sakura mengangguk sambil memperhatikan. "Aku sudah membacanya. Kenapa?"

"Kau baca header yang menarik tidak?" tanya Ino. Sakura mengangguk sekali lagi. "Ck, Sakura, jangan anggukan kepalamu! Deidara memotongnya jadi tidak rapi!"

"Ups, sori." Sakura berdeham. "Lanjutkan." Ino memperdekat jaraknya.

"Tentang kakak sepupuku dan sahabatnya yang mau datang ke Amerika itu?" bisik Ino. Sakura menggumam tanda 'ya'. "Nah, aku ingin minta koordinasi dengan mereka agar kau bisa langsung menyerang si Uchiha itu."

"Hei, kau kira aku ini tante-tante girang? Jangan samakan aku denganmu, bloody hell!" Ino terkikik pelan sebelum kembali berbisik.

"Kau kenal tidak, dengan kakak sepupuku?" Sakura menggeleng kecil. "Ck, sudah kubi-" "Nanti kedengaran, bodoh!"

Ino berdecak. "Okelah. Uhm, kakak sepupuku itu yang rambut pirang." Sakura ber'oh' ria. "Dia landing di Narita nanti setengah jam lagi. Oh iya, setelah ini kita akan membeli pakaian yang bagus untukmu. Kita akan ke Narita!"

Ino menjauh, sementara Sakura memandangnya kaget. "Kau… Kita ke Nari…ta? Bertemu dengan… Uchiha itu?" Ino mengangguk girang. "Untuk apa?"

"Untuk menemui kakak sepupuku, lah, baka! Jarang-jarang tuh ada orang bisa deket sama artis dari kecil!" sahut Ino. Deidara yang mendengar itu langsung ikut.

"Hei! Yang kalian bilang itu Uchiha bersaudara, kan?" tanya Deidara. Ino mengangguk. "Well, aku tidak suka gaya musik mereka yang nampak monoton dan membosankan, tapi mereka itu tampan-tampan!"

"Oh ya? Aku tidak sabar bertemu dengannya!" tambah Sakura –dengan semua nada-nada-manja-khas-anak-muda yang ia pelajari selama ini. "Memangnya mereka itu seperti apa?"

"Kau tidak pernah melihat mereka?" "Uhm, tidak pernah." Deidara mulai menyisir bagian poni Sakura.

"Mereka itu musisi, Saku-chan. Musisi yang membosankan tapi fresh. Kau tahu arti fresh disini?" Sakura menggeleng. "Ck, maksudnya masih muda-muda dan tampan!"

"Dei, jangan pengaruhi dia." Ino tertawa kecil. "Ia masih polos untuk mengetahui hal itu." Deidara mengangguk mengerti, lalu melanjutkan pekerjaannya. "Dei, nanti pilihkan pakaian yang bagus untuk menjemput artis di Narita."

"Siapa yang kalian jemput?" tanya Deidara ingin tahu. Ino dan Sakura saling bertatapan, lalu Sakura mengangguk kecil.

"Anak keponakanku. Ia benar-benar artis. Oh iya, juga sepupuku. Ia sahabatnya artis." Deidara mengangguk, lalu menyelesaikan potongan layer terakhir untuk Sakura.

"Selesai!" Sakura melihat pantulan dirinya di cermin, lalu tersenyum miring. "Bagaimana, Saku-chan?"

"Nampak lebih fresh dari sebelumnya, kan, Sakura?" tanya Ino. "Rambutmu yang kemarin itu benar-benar berantakan. Dei, tolong pinjam make up." Deidara mengangguk lalu menghilang di balik ruangan. Sakura melirik Ino, minta klarifikasi.

"Hehe, Ino." Sakura tersenyum kecil. "Untuk apa semua ini, hm?" Auranya berubah, membuat Ino ketakutan.

"Hiee, aku hanya ingin kau tampak manis, Sakura! Lagipula, kau itu awet muda!" Dan aku iri, sambung Ino sambil bersungut-sungut dalam hati. Sakura mendengus. "Ayolaah~ Kau harus memenuhi keinginanku kali ini, harus!"

"Ck, baiklah." Deidara kembali dengan sekotak make up. "Perlakukan aku dengan baik."

"Kau kira aku ini pembantumu?" "Bisa dikatakan begitu."

oOo

"Dimana si bodoh itu." Sasuke menggumam sambil memegang nametag di tangannya. Sejam berlalu sejak ia dan Itachi menunggu, dan 15 menit berlalu semenjak Itachi meninggalkannya menuju toilet. Dengan meninggalkan sebuah nametag, mencurigakan.

"Ck." Ia berdecak bosan. "Ke toilet saja lama sekali, sih." Ia mengusap rambutnya pelan. Pandangan para fansnya yang kebanyakan dari kalangan –uhm, tua membuatnya risih.

Beralih pandangan, kini ia melihat ke arah pintu gerbang kedatangan. Belum ada kepala berwarna kuning dan merah yang menyembul di balik kawanan orang-orang berkepala 'aneh' di sekitar sana. Ia mendengus, lalu memilih untuk duduk di bangku besi yang telah di sediakan disana.

BRUKK!

"E-Eh? Maafkan kami!" Sasuke berdecak mendengar suara gadis yang agak berat setelah gadis itu menabraknya. Bukan hanya satu, ada 2 gadis sekaligus. Sasuke mengangguk, yang tidak terlihat oleh gadis itu –nampaknya. Gadis-gadis itu membungkuk dalam sekali, hingga Sasuke tak dapat melihatnya.

"Hn." Dan gadis-gadis itu berjalan menjauhinya terburu-buru, membuat Sasuke sedikit keheranan. Tak mau ambil pusing, ia kini kembali fokus ke tujuan awalnya. Ia berjalan menuju depan toilet, lalu melihat keramaian disana.

"Ada apa ini?" Rasa penasaran Sasuke menuntutnya untuk bertanya. Semua orang menatapnya kaget lalu memberinya jalan. Ada pria yang menggedor-gedor pintu dari luar, dan hanya pintu itu. Sasuke berdiri di belakangnya, lalu menepuk bahunya.

"HEI! SIALAN! KELUAR DARI TOILET! BANYAK ORANG YANG INGIN PAKE TOILET, TAU!" Sasuke bergeming. "BODOH! CEPAT BANTU AKU DOBRAK PINTU INI!"

"Biar aku." Sasuke mencari celah pintu, lalu mendapatkannya dan mulai memanjat untuk melihat keadaan dari atas. Sedikit memalukan baginya, namun tak urung membuat rasa penasarannya padam. Saat ia melihat pemandangan di bawah sana, Sasuke langsung pias seketika. Wajahnya pucat bagai mayat yang diawetkan. Matanya membulat.

"ANIKI!"

To Be Continued

.

.

.

AN : Ara, misteri lagi =3= fufu gabakat bikin Crime jadinya malah bikin misteri == huhu *pundung* Oke, balas review.

celubba : hehe, kakaknya Ino kali. Typo tuh hwhwh. Itutuh yang bikin daku bingung, jadi mungkin ganti genre ke mystery *slap* Huhu, gimana nih yang ini? Udah keliatan belum? Maafkan daku yang gak bisa maen alur cepet hiksuu TT Yosh, thanks for review !

Aihara Aya : hehe, mumpung belum mudik nih ;_; kalo mudik soalnya ga bawa komp ihiks. Yaudah nanti kubuat lebih jelas deh kerjaan InoSaku itu apaa. Hehe. Soal itu tergantung dari pemikiran Author dumz XD #plak. Uhm, kasih tau gak ya? #plakplakplak. Liat saja nanti :3 Ini udah. Thanks for review!

Fujiwara Arisa : aduh jangan panggil senpai hwaa TT Gaara jadi sahabat masa kecilnya SasuNaru :3 Nanti bakalan ditambahin nama kok tenang aja :) Nih udah. Semoga gak mengecewakan yaa. Thanks for review!

Hime Hime Chan : umm, soal itu… *dordordor* Jadi sahabat masa kecilnya Sasu :D Iyadong Naruto huhu XD nah soal itu masih dalam pemikiran *jebleg* Berguna kok, reviewnya hehe :) Thanks for review nyo~!

Blue Fairy Ocean *nama disamarkan #plakplakplak* : oke, nih udah :D hummm soal perpanjangan chapter kayaknya belum bisa. Soalnya susah nanti bacanya *keinget fic PB huweee* *plak* Okei, thanks for review!

Uhm, arigatou minna! Mind to review again? *wink wink* *dihajar* (Sakura : Dasar genit!) Aku baru mau update kalo udah dapet review lebih dari 25 woohooohoooo XD #plakbughduagh (Sakura : Dasar seenaknyaaa!)

A-Ano, sampai jumpa di chap berikutnya…-KYAAA!