Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
.
Demons
.
Hoshikawa Mey
.
.
.
"Ini adalah kamarmu," langkah kaki Rukia berhenti disebuah ruang kamar yang cukup besar, tangannya bergerak menyingkap tirai bambu agar udara luar lebih banyak masuk, lalu kembali berbalik pada tamu yang baru saja di bawa oleh tetua Kurosaki beberapa menit lalu. Perempuan itu masih memperhatikan isi ruangan dengan canggung, Rukia tersenyum mencoba membangun situasi yang lebih santai. "Kalau kau ingin bertemu Ichigo, kamar kami berada di bangunan sebelah barat, kau bisa datang kesana ketika sore hari. Aku tidak akan keberatan sama sekali."
Gadis itu membungkuk, mengucapkan terimakasih dengan suara membisu. Wajahnya tersenyum menampilkan garis-garis wajah yang cantik, Rukia setuju gadis itu bisa membuat pria manapun luluh. Tetua Kurosaki memang sangat pandai memilih. "Aku belum memperkenalkan diri, namaku—"
"Jangan." Rukia menolaknya. Tidak membentak ataupun meninggikan intonasi, hanya datar serta tegas menyela ucapan sang gadis. Badan mungilnya melintasi ruangan mencapai pintu, bersiap untuk meninggalkan si gadis cantik sendiri. "Aku tidak pernah ingin tahu nama-nama orang yang berkeliaran dirumahku."
Wajah cantik sang gadis muda jelas terlihat bingung, banyak pertanyaan seperti akan terlontar. "Tapi—"
"Itu bukan kepentinganku." Kembali Rukia menolak, memotong dengan tegas ucapan si nona muda sebelum sempat disurakan. "Aku tidak akan membatasi gerakmu disini, kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Dan kurasa kau bukan bagian dari keluarga atau kerbat dekatku, jadi kita tidak perlu saling mengenal bukan? Kuharap kau mengerti."
Singkat dan langsung mengena pada inti. Kuchiki Rukia sudah mengeluarkan bakatnya sebagai seorang Kuchiki sejati yang dingin dan berbisa. Tidak boleh dibantah, dan tidak bisa dipatahkan. Kuchiki adalah mutlak. Siapapun yang berani beradu argumen dengan orang-orang sekelas klan Kuchiki jangan pernah berharap memenangkan perdebatan dengan mudah. Yah—itulah Rukia.
Perempuan bangsawan berparas dingin itu hanya butuh sekali mendeklarasikan bahwa ada tembok pemisah yang tidak akan pernah bisa dilewati ataupun disentuh. Setelahnya dia tidak perlu repot-repot merangkai kata kembali, tahu bahwa perkataannya sudah lebih dari cukup. Karena itu Rukia bisa melenggang dengan santai meninggalkan si nona baru untuk menikmati tempat peristirahatan, tidak perlu perduli apakah perempuan itu sakit hati atau tersinggung atas ucapannya barusan.
Pelayan muda yang sedari tadi mengikuti Rukia melirik sekilas gadis berambut panjang yang masih berdiri terdiam di tengah ruangan, lalu bergegas mengejar sebelum langkahnya benar-benar tertingal oleh Rukia. Ada rasa iba melihat perempuan itu tidak berdaya.
Namanya adalah Cyang Shun-sun, seorang putri bangsawan yang tentunya pelayan rendahan sepertinya juga mengenal nanamnya. Berparas cantik dengan rambut hijau zaitun serta iris violet seperti nyonya kesayangannya. Untuk gadis bangsawan sekelas itu seharusnya Shun-sun layak mendapatkan calon suami yang lebih baik selain menjadi istri kedua. Dia pun merasa sikap nyonya kesayangannya agak keterlaluan saat menolak untuk mengetahui nama perempuan itu, tapi di lain sisi juga memahami pemikiran Rukia yang sudah berlapang dada menampung perempuan lain yang mungkin akan mengandung seorang calon pewaris dari Kurosaki Ichigo.
Ayolah—ketika posisi seorang istri keturunan bangsawan akan di gusur, tentu hal terbut amat menghina harga diri.
Hhh—hidup keluarga bangsawan sungguh begitu rumit.
.
.
.
Bergantian para pelayan membawa nampan berisi makanan, menyusun rapi di atas meja, menyajikan hidangan terbaik agar nikmat disantap. Tiap-tiap pelayan fokus pada apa yang akan mereka sajikan, berusaha tidak terusik atmosfer tidak menyenangkan yang menyebar ke setiap sudut ruangan. Belakangan suasana kediaman Kurosaki Ichigo memang sedikit berbeda, gosip sudah tersebar keseluruh telinga pelayan, bukan rahasia lagi bila Kurosaki Genryusai sedang mempersiapkan seorang perempuan sebagai nyonya kedua di kediaman Kurosaki Ichigo. Dan tampaknya berita tersebut benar-benar membuat rumah tangga Kurosaki Ichigo terlihat dingin.
"Hari ini kau tidak memasak?" Ichigo memulai lebih dulu, melihat para pelayan telah usai menata makanan dan menutup pintu memberikan privasi pada mereka.
Rukia tertawa singkat, sekilas melirik orang yang duduk dihadapanya lalu menyerahkan sumpit pada suami di sebelahnya. "Aku tidak ingin menjadikan orang lain bahan percobaan masakanku, aku merasa tidak enak kalau tiba-tiba pencernaannya jadi bermasalah."
Iris kuning madu Ichigo ikut melirik sekilas pada orang yang Rukia maksud, wajahnya semakin merengut melihat tamu mereka bisa mengunyah makannya dengan santai tanpa merasa terganggu. Sekalipun Ichigo tidak pernah menyapa ataupun mengajak perempuan itu berbicara. Bukannya Ichigo membencinya, hanya ada perasaan mengganggung bila perempuan itu hadir diantara dirinya dan Rukia. Sekali lagi, kakeknya perlu di acungi jempol dalam memilih orang untuk merecoki kehidupan pribadi Ichigo. Gadis yang diharapkan sang tetua dapat mengandung calon pewaris Kurosaki itu rupanya masih bisa tebal muka dan terus bertahan meskipun terus Ichigo abaikan. Dan Rukia—istrinya—sendiri tidak merasa terganggu, masih bisa makan dengan tenang meski gadis yang diharusksan tidur dengan suaminya duduk dalam satu meja yang sama. Awalnya Ichigo pikir Rukia akan marah, tersinggung dan merasa tidak dihargai atas perilaku sang tetua, namun nyatanya perempuan dingin itu hanya diam menerima dan benar-benar memperlakukan gadis yang dibawa sang tetua dengan amat sopan. Bayangkan bagaimana mengerikan sifat istrinya itu? Begitu sulit di tebak.
Terima kasih untuk Rukia. Berkat dirinya Ichigo merasa menjadi orang yang palin konyol sendiri. Ichigo perduli padanya, yah—sedikit dikoreksi bahwa Ichigo hanya tidak suka menjadi seperti pria tamak perempuan, untuk sekarang hanya cukup Rukia saja yang menyandang status sebagai istrinya. Karena itu Ichigo bersikap perduli. Tapi lihat istrinya, perempuan itu sekali lagi tetaplah perempuan es. Sungguh tidak berperasaan.
Semakin kesal karena hanyut dalam kekesalan sendiri, Ichigo mendengus—melemparkan sumpit yang diberi istrinya ke atas meja sampai terbuang ke dalam mangkuk sup hingga memercikan air di dalamnya. Kedua orang perempuan yang berada di ruangan yang sama dengan Ichigo berhenti makan, saling memberi tatapan tanda tanya ke arah Ichigo. Wajah kepala keluarga Kurosaki itu merengut, tiap-tiap garis wajahnya tertarik membentuk ekspresi anak kecil yang sedang marah karena sedang dipermainkan.
Sebagai sosok istri yang pengertian Rukia meletakan sumpit makan, lebih menaruh banyak perhatian pada sang suami. "Kau tidak suka dengan masakannya?"
Tidak suka?
Lagi, mendengus kasar. Pertama iris kuning madu Ichigo memandang istrinya, lalu beralih pada si pendatang baru. Keduanya terdiam menatap dengan serius. Kepura-puraan mereka semakin membuat Ichigo kesal, merasa dua orang perempuan itu bersandiwara mencoba terlihat peduli. Mendengus kembali, Ichigo memutuskan mengosongkan segala prasangka dan asumsi yang terus terbangun dalam kepala, mengambil gerakan tiba-tiba menerjang tubuh istrinya sampai terbaring rata di tatami.
"Ichigo!" itu bukan marah, Rukia hanya terkejut.
"Diam."
Akhirnya Rukia tidak mengeluarkan suara, perintah mutlak dari Ichigo membuat ia bungkam dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Kali ini tidak boleh ada lagi permasalahan baru cuma karena hal kecil yang bersangkutan emosi tak terkendali Ichigo. Rukia tahu suaminya masih marah dengan kelancangan tetua Kurosaki mengambil keputusan, Rukia juga tahu—si pemuda bersurai orange bukan orang-orang tipe verbal bila memiliki masalah. Suaminya akan lebih memilih bungkam seperti orang memiliki sakit sembelit, lalu saat kemarahan berada pada puncaknya—emosi itu akan meledak. Dan Rukia rasa, kali ini Ichigo sedang memasuki fase terakhir. Meledakkan semua emosi dengan cara tersendiri.
Pemuda bergelar bangsawan Kurosaki tersebut sedang berebut melucuti kimono Rukia. Brutal menghujani sang istri dengan kecupan tanpa repot-repot perduli ada orang lain yang menonton dalam ruangan. Ichigo sendiri juga sudah berpikir bila gadis itu tahu diri, ia pasti menjalankan akal sehatnya untuk tidak lama-lama berada dalam ruangan. Dan Ichigo benar—semenit kemudian terdengar pintu yang di buka kasar, membuat Ichigo tersenyum puas berhasil mengusir penganggu sekaligus dapat pula menikmati tubuh istrinya.
Rukia menggeliat kecil, menahani dada bidang suaminya agar tidak terlalu menjepit. Desahan yang sampai pada telinga Ichigo telah memicu pemuda itu bergerak akftif. Pemuda itu menggeram, tidak lagi perduli pada pakaian yang belum sepenuhnya tertanggalkan, hanya lebih fokus mencari cara agar tubuh mereka cepat menyatu.
Dalam hati Rukia sedikit kesal desahannya sudah disalah artikan sebagai ekspresi gairah. Pada kenyataannya suara yang berhasil memicu hasrat suaminya bisa muncul karena sebelumnya perempuan itu sedang memperhatikan ekspresi perempuan yang sedang menontoni mereka dengan muka memerah marah, karena kesal perempuan itu pergi meninggalkan mereka, menggeser pintu lebar-lebar dan lupa untuk menutupnya kembali. Rukia kesal, karena itu ia mendesah. Pintu yang tertinggal dalam keadaan terbuka akan membuat siapapun yang berjalan lewat dapat melihat aktivitas yang mereka lakukan di dalam. Sialnya selama beberapa waktu kedepan Ichigo tidak akan memikirkan hal tersebut dan akan terus fokus menjamah tubuhnya.
"Ichig—hmmn," Rukia mencoba untuk mengatakan, tapi Ichigo membungkam dengan ciuman. Kakinya membuka lebar kaki Rukia untuk tujuan yang jelas, mengajak agar mereka lebih fokus pada penyatuan tubuh mereka.
Kali ini Rukia tidak mungkin menahan desahannya. Meski kimononya masih menempel utuh—berkat keahlian suaminya menyingkap belahan bawah kimononya hingga terbuka lebar, tanpa susah payah tubuh mereka telah menyatu. Membawanya hampir hanyut terbawa nikmat, mendesah tidak teratur dari percampuran gairah dan rasa panik karena takut mereka akan ditemukan oleh para pelayan dalam keadaan tidak pantas. Dan jangan dikira reaksi Rukia tidak memberi dampak apapun pada Ichigo, pemuda bersurai orange itu kian menghentakkan pinggulnya dengan menggila, tersulut gairah merasa istrinya merasakan nikmat yang sama.
Rasa panik kian menjalar, Rukia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Matanya terus bergantian melirik pintu dan juga suaminya, mengantisipasi kapan Ichigo akan mengakhiri kegiatan mereka tanpa harus ditemukan oleh para pelayan.
"Ahmm!" jeritan Rukia tertelan dalam ciuman kala tangan Ichigo meraih sebelah kakinya, membukanya semakin lebar untuk akses yang lebih baik. Sebelah mata Rukia yang tertutup rapat mengitip wajah suaminya yang juga sedang memejamkan mata. Keringat semakin deras mengalir menuruni pelipis dari celah-celah surai orangenya, dahinya mengerut seperti sedang menahan sesuatu, urat-urat lehernya pun tertarik tegang. Rukia tahu pemuda itu sedang mengejar nikmat, sedikit menahan diri agar tidak lebih dulu daripada Rukia. Kecepatan pemuda itu sama sekali tidak berkurang, hentakannnya semakin putus asa dan kuat.
"Hmmhhh..." kembali mata Rukia terpejam erat. Kali ini tidak lagi perduli dengan kekhawatiran akan ditemukan oleh para pelayan, desahan nikmat tertawan oleh ciuman Ichigo. Matanya terus terpejam menerima sensasi kesemutan yang amat familiar, berhasil diseret paksa sang suami menuju nirwana.
Tubuh Ichigo gemetar. Ciumannya terlepas saat jeritan Rukia benar-benar telah tertelan, wajahnya mengalihkan diri membenamkan pada persimpangan leher Rukia. Meskipun istrinya sudah mencapai kenikmatan, pinggul Ichigo masih bergerak menggila dengan nafas tidak teratur seperti pelari yang berusaha mencapai garis akhir. Dan pada saat cengkraman Rukia pada lengannya kembali mengetat dengan jeritan tertahan menyertai, Ichigo semakin dalam membenamkan wajahnya pada persimpangan leher Rukia. Menghentakkan pinggul untuk terakhir kali sebelum menggeram nikmat karena Rukia mencapai nirwana untuk kedua kali disertai dengan kenikmatan yang menjalar diseluruh tubuh.
Butuh beberapa saat untuk menghilangkan gemetar yang masih menguasai. Akhirnya tubuh Ichigo ambruk menindih badan mungil istrinya. Nafas mereka masih berpacu dengan detak jantung, merasa bulir-bulir keringat merembes pada pakaian. Ichigo baru sadar selain bagian bawah tubuh mereka yang sudah terbuka, selebihnya mereka masih memakai pakaian lengkap. Ia masih mengenakan yukata santai, dan Rukia—meskipun belahan bagian bawah kimononya sudah tersingkap sampai batas pinggul, tapi selebihnya kimono dan ikatan obinya masih utuh.
Terengah, tangan Rukia terangkat, mengusap sayang surai berkeringat Ichigo. Membiarkan laki-laki itu merasa nyaman pada sentuhan, membantunya untuk lebih santai dalam pelukan. Rukia pun tidak keberatan saat Ichigo lebih mengetatkan pelukan, tidak dapat dipungkiri tubuhnya juga menikmati berada dalam dekapan hangat suaminya. Meresapi kembali bagaimana nimatnya cumbuan mereka beberapa saat yang lalu, merasakan hangat dari bagian tubuhnya yang telah dipenuhi benih-benih sang Kurosaki muda. Apakah suatu saat nanti—atau mungkin sebentar lagi, bisakah dia mengandung seorang Kurosaki juga?
Mereka terlalu kacau.
Ah—Rukia tidak harus perduli dengan segala macam omong kosong mengenai seorang pewaris. Kalau memang sudah saatnya, nanti dia pasti akan mengandung. Seharusnya Rukia harus lebih khawatir—semoga tidak ada satupun pelayan berbisik tentang mereka esok hari.
.
.
.
Seorang pelayan duduk meringkuk disisi lain pintu yang berhasil ia tutup beberapa saat lalu. Matanya terpejam erat, tangannya menutup telinga rapat-rapat meskipun sama sekali tidak membantu meredam untuk tidak mendengar desahan dari dalam ruangan dibelakangnya. Jantungnya terus berdebar was-was, matanya akan sekali-kali melirik sisi kiri ataupun kanan dalam mode siaga.
Beberapa menit berlalu, sang pelayan ragu-ragu menurunkan tangan yang menyumbat pendengaran, tidak ada lagi desahan maupun jerit tertahan. Suasana di balik ruangan telah menjadi lebih hening, sayang masih jauh kontras dengan detak jantungnya yang tidak mau menurut untuk tidak berdetak kencang. Takut-takut matanya melirik pintu tertutup disebelahnya, memastikan situasi apakah sudah aman baginya untuk bergerak pergi. Tubuhnya sudah mantap mengambil ancang-ancang berdiri.
Sreeg!
Terjengkang tubuhnya terdorong terduduk di lantai. Nyaris ia terkesiap kaget, beruntung tangannya cepat refleks membekap mulut sendiri. Pintu disebelahnya bergeser terbuka, menampilkan sosok majikan bersurai orange yang tidak begitu menghiraukan keberadaan sang pelayan. Wajah tuan besarnya masih tetap arogan melintas lurus ke ujung lorong ruangan. Antara lega dan keheranan, si pelayan menghembuskan nafas menurunkan tangan tergeletak lemas disebelahnya.
"Siapa namamu?"
Kali ini tangan si pelayan tidak berhasil menyelamatkan. Suara terkesiapnya berhasil lolos terdengar, mengalihkan fokus menghadapi sosok majikan satu lagi berdiri di ambang pintu menangkap basah dirinya.
Dikuasai rasa bersalah si pelayan langsung bersimpuh, membungkuk serendah mungkin pada lantai. "Maafkan saya, Nyonya. Saya bersumpah tidak akan mengatakan apapun pada yang lain."
Keringat dingin terus mengalir di pelipis, menanti penghakiman. Si pelayan pasrah. Apapun yang terjadi pada dirinyanya nanti, adalah akibat kelancangannya sebagai seorang pelayan yang berani terlibat dalam kegiatan majikannya. Sekarang tinggal menunggu nasib apa yang akan membawanya nanti.
Tawa rendah dari sang majikan membuat si pelayan melongo, memberanikan diri mengangkat wajah untuk mendapati wajah majikannya yang tertawa cantik. Suaranya masih sedikit serak, jangan tanya apa yang sudah terjadi hingga suara cantik itu bisa seperti itu. "Aku hanya bertanya siapa namamu. Kenapa kau malah ketakutan begitu?"
Ragu-ragu si pelayan membuka mulut, matanya sesekali sedikit lancang memperhatikan bahwa kimono sang majikan masih dalam keadaan kacau. "Kiyone, Nyonya."
.
.
.
Derit langkah seperti menjadi hal yang khas ketika seseorang melangkahkan kaki dalam bangunan mewah yang memiliki lantai kayu dibeberapa koridornya. Tidak perduli malam semakin dingin membuat permukaan lantai semakin mendingin, langkah kecil itu terus mantap menapaki tujuan.
Itu adalah Rukia.
Seorang perempuan bangsawan yang berkeliaran di malam hari mengenakan yukata santai setelah menanggalkan kimono indah yang akrab menjadi pesona si putri Kuchiki. Perempuan itu—Rukia berjalan pelan membawa nampan berisi sake yang sudah dipersiapkan khusus. Sebelah tangan yang tidak memegang nampan sengaja menarik ikatan pengunci yukata sedikit longgar, membuat tampilan tidak sengaja belahan kerah yukata yang sedikit mengekspos lebih banyak daerah leher. senyumnya tertarik begitu berhenti di depan pintu yang menghubungkan ke pemandian air panas di rumahnya. Bila seandainya informasi yang ia terima tidak salah, seharusnya suaminya sudah berada di dalam. Membuat Rukia tidak berhenti membayangkan wajah cemberut si surai orange yang masih setengah mati kesal padanya.
Usai mencumbu di ruang makan, Ichigo tidak mengatakan apapun selain membenahi pakaian sendiri dan berlalu pergi. Dengan begitu saja Rukia sudah bisa menebak kalau kekesalan Ichigo belum reda sama sekali. Ada kalanya laki-laki itu perlu dibujuk ketika sedang marah, dan inilah siasat Rukia—sama seperti saat ia membujuk si surai orange di Kurosaki Mansion dulu. Siapa bilang menjalani kehidupan pernikahan tidak harus memakai rencana?
"Nyonya—" Rukia sudah hampir menggeser pintu, namun seorang pelayan yang baru Rukia ketahui namannya adalah Kiyone menyapa dengan nada suara ragu. Gadis muda itu terlihat bingung dan seperti sedang berdebat sesuatu di dalam kepalanya. "—nyonya yakin akan bergabung masuk ke dalam?"
"Ya, tentu saja. Kau pergi saja istirahat, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi."
Sikap Rukia sudah dibilang cukup pengertian, membiarkan pelayannya dan tidak terlalu banyak merepotkan untuk malam ini. Setelah jasa besar yang dilakukan Kiyone untuk menyelamatkannya dari rasa malu saat di ruang makan sebelumnya, Rukia tahu gadis muda itu butuh waktu menenangkan diri istirahat. Bisa saja pelayan muda itu masih shock dari menjaga pintu sementara di dalam majikannya sibuk mendesah.
Tapi sedetik kemudian Rukia merasa salah menerka sapaan sang pelayan barusan karena sedikitpun gadis itu tidak beranjak pergi, malah lebih gelisah menanti kepastian kapan Rukia akan membuka pintu yang menghubungkan ke pemandian. Ohh—jangan dikira Rukia tidak mengerti penyebab tingkah aneh Kiyone.
Rukia mendesah kalah, melirik sekilas pintu seakan dia bisa melihat tembus sampai kedalam, lalu kembali lagi pada Kiyone. "Sudah berapa lama mereka di dalam?"
Kiyone semakin salah tingkah. Tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, akhirnya ia membungkuk merasa rasa bersalah yang amat besar. Ia tidak ingin jujur karena mungkin bisa menyakiti hati sang majikan, tapi kalau ia tidak mengatakan semua sama saja ia sudah menghianati nyonya kesayangannya. Menelan ludah susah payah, Kiyone terpaksa menjawab, "Sudah cukup lama, Nyonya."
"Kalau begitu—apakah kau bisa mengantarkan sake ini untuk mereka?"
"Nyonya—" Kiyone semakin dihantui rasa bersalah. Apakah majikannya ini terlalu baik atau naif? Kenapa respon yang ditunjukkan oleh Rukia selalu membuat perempuan itu berada di posisi yang dirugikan? Selalu tidak keberatan untuk disisihkan atau dirampas apapun miliknya.
"Sake ini adalah favorit Ichigo. Aku akan merasa sangat sayang kalau dia tidak meminumnya padahal aku sudah menyiapkannya. Dan—oh iya, apakah kau tidak keberatan membantuku lagi?"
.
.
.
"Kulit anda sangat halus, Nyonya."
Rukia tertawa kecil. Tampilan punggung telanjangnya menghadap keseluruhan ke arah Kiyone, kedua tangannya bertumpuk didepan dada menempelkan diri pada bak kayu berisi air hangat. Gadis muda itu kini tengah membantu menggosokkan rempah-rempah pada punggungnya, menyebarkan aroma khas percampuran yang segar. Rasanya begitu nyaman, membuat otot-otonya sedikit lebih rileks.
Sudah sejak lama ia tidak melakukan hal tersebut setelah menikah. Di rumah suaminya jelas awalnya tidak ada satupun pelayan yang bisa ia percaya untuk menyentuh kulitnya. Bagaimanapun ia tidak mau menanggung resiko diracuni atau dirusak kulitnya apabila pelayan yang ia mintai tolong adalah salah satu orang yang membencinya. Beruntung Rukia memiliki Kiyone sekarang. Awalnya Rukia tidak ingin perduli sama sekali pada gadis muda itu. Meskipun dia sering menempel, Rukia bahkan tidak mau repot menanyakan siapa namanya. Namun yang dilakukan Kiyone beberapa jam lalu merubah penilainnya. Pada saat di ruang makan, Rukia melihat perempuan itu shock saat menangkap basah sang majikan sedang melakukan aktivitas yang harusnya dilakukan pada ruang tertutup pribadi. Rukia berpikir mungkin setelahnya sang pelayan akan menyebarkan apa yang sudah dia lihat pada pelayan lain, namun yang dilakukan Kiyone selanjutnya membuat Rukia yakin bisa mempercayai gadis itu. Dengan baiknya pelayan lugu itu menutup pintu sepelan mungkin agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Setelah Ichigo selesai membenahi pakaian dan berlalu pergi, Rukia pikir Kiyone sudah tidak ada lagi di depan pintu. Karena terusik rasa penansaran, Rukia semakin dibuat terkjut mendapati si gadis pelayan masih dalam mode siaga menjaga pintu. Lihat betapa baiknya perempuan itu. Dan untuk pertama kalinya—Rukia menanyakan nama seseorang yang tidak terlalu berkepentingan dalam hidupnya, mencoba percaya bahwa mereka bisa membangun ikatan yang baik.
Perlahan mata Rukia terpejam, menikmati sensasi nyaman pijatan. Garis bibirnya tertarik dalam bentuk senyum damai. Parcaya pada seseorang. Yah—semoga saja.
"Kenapa kau begitu?" sosok Rukia yang masih menjadi nona kecil sedang cemberut bericara dengan seseorang berkulit pucat yang sudah teramat familiar. Berapa usianya saat itu? Sepuluh—atau mungkin dua belas, Rukia masih sedikit ragu. Meskipun itu adalah kejadian sudah lewat, Rukia masih ingat pula sikap kikuk orang itu.
"Kuchiki-san."
"Sudah kukatakan, panggil namaku."
"Tapi—"
Wajah orang itu semakin kikuk. Ia terlihat takut memenuhi permintaan Rukia kecil, tapi ia juga tidak ingin melukai hati si nona Kuchiki. Dengan helaan nafas pasrah, orang itu mengalah dan tersenyum. "Ru,Ru—ki,a"
Sedikit kaku penglafalannya, tapi dengan segitu saja Rukia kecil tersenyum lebar. "Coba panggil lagi namaku."
"Rukia?"
Segaris aliran air mata mengalir di sudut mata Rukia dalam kelopak mata yang menutup. Dadanya berdenyut menyakitan, senyum di wajah pudar sudah. Mimpi itu—dan semua perasaan yang diberikan, begitu indah—tapi menyakitkan.
"Jawab aku Rukia! Berhenti menagabaikanku!"
Sekejap Rukia merasakan sensasi kulit kapalan menyentuh lengan telanjangnya. Mata Rukia tersentak membuka, terkesiap terkejut membalikan badan menepis sentuhan pada pundaknya. Tidak perduli dada telanjangnya terekspos, matanya bergerak liar dengan ekspresi panik dan waspada. Pikirnya dimana Kiyone berada? Kenapa gadis pelayan itu membiarkan tubuhnya disentuh oleh orang asing? Rukia mungkin tidak begitu hafal dengan tekstur tangan pelayannya itu, tapi Rukia yakin dari sentuhan kasar yang diperolehnya, itu bukan tangan pelayannya.
"Rukia—"
Dan—Rukia mulai mengenali suara itu. Suara parau serta ada rasa cemas bercampur dalam nada suaranya. Itu Ichigo.
Mata Rukia mengerjap beberapa kali. Mengmbalikan fokus untuk mencerna situasi. Wajahnya menoleh ke samping, Kiyone ada disana, terlihat khawatir.
"—kau baik-baik saja Rukia?"
Wajah Ichigo menyerinyit, rasa kesal terlupakan melihat Rukia masih terlihat bingung dan sedang mencoba mencerna situasi. Ichigo masih ingat respon tidak biasa Rukia saat dia meluapkan rasa kesalnya meraih lengan istrinya untuk mendapat perhatian.
Semula Ichigo memasuki kamar mandi tempat Rukia hanya ingin meminta penjelasan atas tindakan istrinya yang memberikannya sake di ruang pemandian air hangat tanpa mau bergabung masuk menyelamatkannya dari perempuan baru yang dibawa sang tetua. Tapi Rukia tidak memberi jawaban apapun, tampak nyaman pada pijatan lembut pelayan pada punggungnya. Sekali—bahkan sampai lebih dua kali Ichigo menuntut penjelasan, Rukia masih tidak menjawab. Akhirnya mengabaikan perkataan pelayan yang meminta waktu agar majikannya diberi waktu untuk berpakaian terlebih dahulu, Ichigo meraih lengan istrinya.
Namun sedetik kemudian tangannya ditepis dan dihadiahi tatapan ngeri Rukia. Semula Ichigo berfikir perempuan itu akan berteriak marah, tapi sekejap kemudian ia sadar tatapan ngeri Rukia tidak ditujukan untuknya. Tatapan mata violet itu jelas telihat menerawang jauh, seperti percampuran rasa sakit dan hampa. Ichigo merasakan jantungnya berdenyut menyakitkan, mulutnya telah terbuka siap bertanya kembali, namun ekspresi Rukia berubah ke mode normal. Iris violetnya mengerjap beberapa kali sebelum membentuk senyum kikuk.
"Ahh—aku sepertinya tertidur tadi," Rukia memberi isyarat pada pelayan untuk mengambilkannya handuk, lalu kembali fokus pada Ichigo. "Apakah kau sudah lama berada disini?"
Kembali Ichigo membuka mulutnya hendak bicara, namun sedetik kemudian ia menghela nafas. Tangannya merebut handuk dari sang pelayan, menyelimuti sendiri istrinya lalu menggendong tubuh pucat itu dari bak mandi. Tanpa ada perlawanan Rukia menurut, menyilangkan tangan di leher Ichigo saat pemuda itu menggendongnya menuju kamar.
"Ichigo?"
"Diamlah. Ternyata kau sama lelahnya denganku." Mata Ichigo masih memandang lurus ke depan, dalam mode siaga apabila ada pelayan lewat yang berani menatap tubuh Rukia. Beruntung saat ini sudah jam malam, kecil kemungkinan para pelayan akan berkeliarana di lorong-lorong.
Rukia menghela nafas, kali ini ia merasa sependapat dengan suaminya. Ia memang sangat lelah. Rukia mebiarkan tangan kokoh Ichigo menggendong dengan erat, memilih membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami, menutup mata untuk mengenang lagi memori kejadian yang baru terjadi. Untuk beberapa saat lalu, Rukia merasa kenyamanan saat pelayan memijat tubuh lelahnya. Membuatnya diserang kantuk hingga tanpa sadar jatuh tertidur. Tidur singkat yang sudah berhasil membawa ke alam mimpi—ah, mungkin lebih tepatnya kenangan masa lalu.
"Kenapa kau begitu?"
Bayangan mimpi itu terulang. Mata Rukia makin terpejam ketat, membiarkan rasa sakit itu kembali mengalir. Membuat hatinya semakin mendingin untuk menolak rasa.
"Sudah kukatakan panggil namaku."
"Ru,Ru—ki,a"
Ahh—meskipun hati Rukia sudah mendingin, tampaknya ia tetap masih Rukia yang sama dengan yang dulu. Tubuhnya memang sudah tumbuh dewasa, tapi perasaannya masih terkurung dalam dirinya yang lama. Membentengi diri agar kenangan tersisa tidak dirampas, membekukan rasa agar tidak terluka lagi.
Hati kecil Rukia berbicara dengan jujur, ia merindukan masa-masa indah itu.
.
.
.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
Tangan Rukia sudah terangkat menemukan sudut terbaik untuk menyematkan bunga rangkaian, namun terhenti saat gadis muda yang sudah menjadi tamu dirumahnya duduk mendatangi, berbicara tanpa basa-basi.
Rukia masih berdiam diri, bersikap seolah sedang memikirkan sesuatu seolah ada beberapa warna bunga yang tidak cocok dalam rangkaiannya. Alisnya menyerinyit, mendengus mencabut salah satu bunga untuk diganti dengan bunga warna lain. "Tidak usah bertanya apapun. Kalau kau menginkan sesuatu, lakukan saja."
Jari-jari cantik perempuan itu menyematkan helaian anak rambut berwarna zaitun dibelakang telinga, wajahnya tampak tidak terusik meski Rukia seperti sengaja mengabaikannya. Senyumnya tertarik ke atas memperhatikan gelagat si nyonya besar. "Kalau aku ingin kau memberikan ruang untuk suamimu agar terus bisa bersamaku, kau bersedia?"
Iris violet Rukia melirik sekilas perempuan cantik yang masih bertahan menunggu jawabannya, wajahnya terlihat tajam dan menunjukkan garis berbeda dari tampilan yang Rukia lihat sebelumnya. Rukia menghela nafas, menancapkan bunga krisan putih di vas. "Lakukan saja sesuka hatimu, aku tidak perduli."
"Kau serius?"
Rukia hampir menancapkan bunga krisan berikutnya, gerakan nyonya Kurosaki itu terhenti. Tangannya meletakan kembali bunga pada meja. Senyum dinginnya terkembang memberi perhatian penuh pada sang gadis. "Kalau kau bisa mendapatkannya, kenapa aku harus susah payah menghalangimu?"
Ada keheningan singkat diantara keduanya. Malas terjebak bersama perempuan yang bersikeras memiliki ambisi yang begitu besar itu, Rukia berdiri hendak meninggalkan ruangan. Seleranya merangkai bunga sudah hilang, ia muak harus menghadapi perempuan-perempuan pemilik topeng seperti gadis itu.
Tentu sejak awal Rukia tahu gadis itu hanya berpura-pura ramah padanya, karena itulah ia bisa menampilkan aura cantik. Bersikap lugu dan tidak berdosa seolah dialah yang tersakiti atas tindakan tetua Kurosaki yang menempatkannya di antara pernikahan cucunya, semua adalah palsu. Karena itu Rukia tidak terkejut mendapati perempuan itu sudah berani lancang memasuki pemandian air hangat yang selalu digunakan Rukia untuk menyiapkan tempat mandi Ichigo beberapa hari lalu.
Lelucon klasik—gadis rubah.
"Kiyone, tolong bereskan—" mata Rukia mengerjap sedikit, matanya mendadak sedikit kabur, dan bandannya terhuyung.
"Anda baik-baik saja, Nyonya?" Kiyone menahani lengan Rukia, penuh rasa khawatir yang tersirat dari wajahnya. "Apakah harus saya panggilkan dokter?"
"Tidak perlu, aku rasa ini hanya karena kelelahan saja."
"Tapi, nyonya—"
"Tidak apa, Kiyone."
"Nyonya—apakah mungkin anda sedang hamil?"
Dahi Rukia menyerinyit, tatapan matanya memandang geli Kiyone. "Aku tidak yakin itu benar. Jangan mengada-ada."
Rukia melepaskan diri dari peganggan Kiyone, tawa singkatnya meninggalkan ruangan. Membiarkan rasa geram pelayannya karena perkataan seriusnya dianggap candaan. Tanpa Rukia sadari, perempuan cantik yang ditinggalkannya tadi sedang duduk dengan marah menatap benci punggung sang nyonya muda.
.
.
.
Ichigo memasuki kamar dengan perasaan lelah. Mandi air hangat tidak sepenuhnya mengembalikan sendi-sendinya yang pegal. Hari berlalu dengan banyak kegiatannya memeriksa pekerjaan di luar. Bergerak kesana-kemari untuk membantu sang tetua mengumpulkan harta. Ichigo mendengus sinis pada pemikiran terakhir yang melintas di kepala. Sungguh ia muak dijadikan alat penghasil uang keluarga Kurosaki. Kapan seandainya ia bisa hidup bebas menikmati hidup tanpa harus dikendalikan oleh tetua.
Dia lemah—dan Ichigo tidak ingin itu.
Meski hidupnya masih dalam kendali sang tetua, Ichigo harus tetap kuat memegang menguasai alur permainan. Kalau dia lemah, banyak yang akan terampas darinya. Hak otoriternya, kekeuasannya, ahh—mungikin Ichigo tidak akan perduli dengan yang lain, tapi belakangan dia mulai berpikir ada sesuatu yang tidak boleh terampas darinya dari sekian banyak yang sudah dimiliki. Ichigo merasa itu adalah hak miliknya, karena itu tidak boleh dirampas. Dia pernah merasakan hampir kehilangan, dan Ichigo tidak ingin merasakan lagi.
Dahi Ichigo berkerut memasuki kamar yang hanya diterangi lilin-lilin indah di beberapa sudut. Karakternya yang tidak peka awalnya hendak mematikan semua lilin sebelum akhirnya mata kuning madunya melihat yukata tidur yang terlipat di ujung tempat tidur. Senyum Ichigo terkembang. Permainan kecil yang sudah bisa dia tebak alurnya.
Tawa rendah tidak bisa dicegah kemunculannya saat tubuh Ichigo naik ke tempat tidur, merangkak mendeketai tubuh tidur yang terbungkus selimut. Walau perempuan itu masih bersembunyi ketat dalam perlindungan, Ichigo tahu semua situasi yang terjadi dalam ruangan adalah bentuk dari sebuah undangan. Perempuan itu kali ini pasti ingin mengajaknya berbaikan.
Memang, hubungan mereka sungguh sangat tidak baik minggu ini. Terlalu banyak pertengkaran di antara mereka, dan tidak pernah ada yang terselesaikan. Perdebatan mereka akan selalu berakhir dengan Ichigo memiliki lava panas siap meledak di kepala, sementara Rukia akan memperburuk suasana dengan bersikap ambigu.
"Aku tahu kau berpura-pura tidur disana," Ichigo tertawa rendah, mengunci sosok dalam selimut dengan kurungan tangannya di sisi kiri dan kanan. Matanya terus mengintai, berisiap-siap melancarkan serangan saat perempuan yang ditunggunya keluar dari persembunyian.
Perempuan itu masih bersikeras, tampaknya malam ini ingin berperan sebagai gadis pemalu. Sedikit tidak sabar, Ichigo menurunkan wajahnya. Ujung hidungnya menelusuri bentuk tubuh perempuan itu dari balik selimut, mencari rasa untuk menyimpan aroma memabukan yang selalu membuatnya tergoda. Aroma itu lembut dan hangat, menjadikannya candu dengan aroma—mawar?
Dahi Ichigo menyerinyit, menarik diri sedikit menjauh. Isi pikirannya terus mencoba mencerna, ada sesuatu yang berbeda. Hal itu tidak biasa, dan tidak bisa diabaikan karena begitu menganggu. Pasti ada yang salah. Ini bukan lagi isi pikirannya, namun instingnya sudah melibatkan diri.
Di saat Ichigo masih disibukkan dengan isi kepalanya, selimut tersingkap, menampilkan sosok cantik yang begitu familiar menerjang tubuh Ichigo sampai terbaring rata di tempat tidur. Perempuan itu tersenyum menggoda, membiarkan selimut terbuang di lantai memamerkan tubuh telanjangnya. Dengan begitu manisnya dia duduk diatas perut Ichigo, menarik-narik yukata tidur si pemuda Kurosaki.
"Bukankah tetua bilang aku harus segera mengandung anakmu?" senyum manis itu masih terus bertengger di wajah cantiknya, menggoda sang Kurosaki agar segera memulai langkah berikutnya. Dia bisa saja memulai lebih dulu, tapi pastinya perempuan itu ingin inisiatif dari Ichigo tentunya.
Ichigo menghela nafas, tangannya meraih helaian rambut perempuan di atasnya, punggung yang semula berbaring di rata bersinggut bangun—mulai mendekatkan wajahnya pada persimpangan leher dewi cantik diatas pangkuan. Matanya terpejam, menarik sebanyak mungkin aroma perempuan itu untuk meracuni kewarasannya. Tidak menyentuh ataupun mengecup, hanya menikmati aromanya.
Perempuan itu mendesah, menjalankan jari-jari menangkup wajah Ichigo untuk bertemu tatap. Tersenyum menggoda, mengajak pemilik iris kuning madu tenggelam dalam tatapannya, membujuk pemuda itu untuk menyimpan gambaran dirinya secara menyeluruh.
Dan Ichigo melihatnya.
Iris violetnya yang memantulkan cahaya lilin, berbinar amat cantik dan menggoda. Senyumnya yang lebar dan sesekali menggigit ujung bibirnya karena gugup, sangat indah. Wajah itu—ribuan kali Ichigo menatapnya, sebanyak itu pula Ichigo ingin memilikinya. Menjaga untuk terus disisinya, menunggu sampai sorotan mata violet itu bisa terpantul dirinya di dalam sana. Bisakah Ichigo melihatnya suatu hari nanti?
"Ichigo?" perempuan itu berkedip karena si surai orange tak kunjung bergerak.
"Rukia." Ichigo bergumam lirih, memejamkan mata meresapi setiap kata hingga ke aliran darah.
Perempuan itu memasang mimik muka cemberut, tangannya meraih kembali wajah Ichigo untuk mendapatkan perhatian. "Aku bukan Rukia, namaku—"
Kelopak mata Ichigo terbuka, menampakan iris kuning madu yang menusuk hingga mengehentikan perkataan perempuan di atas pangkuannya. "Aku tidak ingin tahu siapa namamu."
"Kau harus tahu karena aku akan mengandung anakmu nanti."
Ichigo menyingkirkan kedua tangan yang masih menangkup kedua pipinya, mendorong tubuh itu kesamping agar tidak lagi berada di atas pangkuan. Wajah dinginnya terbentuk saat bangun dari tempat tidur.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyentuhmu."
Kalau ada yang berpikir Ichigo tidak tergoda setelah apa yang sudah perempuan itu lakukan padanya beberapa saat yang lalu, itu adalah omong kosong besar. Dia adalah seorang laki-laki normal, tentu hal sekecil apapun yang dilakukan seorang perempuan akan membuat tubuhnnya bereaksi. Saat ini tubuhnya bahkan sudah panas akan kebutuhan, mendamba untuk menyentuh dan mendapat kepuasan dari menyentuh seorang perempuan. Hanya saja keinginan itu tidak tertuju pada perempuan yang sedang menggodanya.
Di awal Ichigo bahkan tidak ingin repot menolak godaan, mencoba hanyut untuk menikmati waktu. Lagi pula ini bukan pengalaman pertamanya untuk mencumbu perempuan secara acak. Terlebih lagi perempuan itu sangat cantik luar biasa fisiknya. Namun—saat mata Ichigo terpejam, gairah itu memang semakin bangkit, tapi bukanlah untuk perempuan itu. Gairah itu bisa muncul saat wajah Rukia terbentuk dalam kepala. Saat Ichigo menolak dan memandang lurus perempuan lain, bayang-bayang istrinya kembali terbentuk menggantikan siluet perempuan itu. Semakin Ichigo menolaknya, semakin jelas pula rupa perempuan mungil yang memenuhi isi kepalanya.
Ahh, haruskah Ichigo mencari perempuan itu segera? Yah—dia sedang mendamba tubuh istrinya. Tidak ada yang salah bila ingin menyentuh istri sendiri bukan?
Sependapat baik insting dengan logika. Gembira Ichigo bergerak meninggalkan Shun-sun, instingnya sudah berubah seperti navigator yang pasti bisa membawanya ke tempat Rukia bersembunyi saat ini. Dalam kepalanya sudah membangun berbagai rencana agar tubuh perempuan itu takluk dalam dekapannya hingga pagi.
"Kalau ku katakan istrimu yang menyuruhku, apakah kau terkejut?"
Langkah Ichigo terhenti.
Satu kalimat. Dan ya, gairah Ichigo yang berkobar sudah padam seketika seperti di siram seember air es.
.
.
.
To be continued...
Chapter ini benar-benar ga sempat diperiksa, pasti banyak typo bertebaran... maaf sekali...
Dan ada satu lagi, saya benar-benar sibuk. Mengupdate atau mengetik cerita itu ga semudah membuat mie instan. Jadi saya minta maaf sekali ga bisa punya waktu terjadwal untuk mengupdate.
