TITLE : Popular Boy and His Ideal Type (Chapter 4)

AUTHOR : NinHunHan5120

GENRE : Yaoi, boys love, romance, friendship, school life

LENGTH : Series

RATING : T

CAST :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

SUMMARY : Chanyeol sang idola sekolah yang tidak pernah merasakan jatuh cinta tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tidak tertarik padanya. Sehun namja tampan yang tergila-gila pada kakak kelasnya yang cantik. Dapatkah mereka berdua mendapatkan hati namja ideal mereka?


^_Baekhyun's POV_^

Dikarenakan guru matematika yang mengajar kelas XII A jurusan vokal sedang sakit jadi kelas kami tidak ada pelajaran. Untuk mengisi waktu senggang, sekarang ini anak-anak kelasku sedang duduk melingkar bermain Truth or Dare.

"Luhan hyung, truth or dare?" tanya Woohyun yang mendapat giliran memberi pertanyaan kepada Luhan hyung. Luhan hyung adalah siswa tertua kedua setelah Jinki hyung yang menjabat sebagai ketua kelas di kelas kami, maka dari itu semua memanggilnya 'hyung' kecuali Jinki hyung tentunya. Yah walaupun wajahnya tak seimbang dengan usianya karena dia sangat baby face.

Luhan hyung yang duduk tepat di sampingku terlihat berpikir dengan imutnya sampai akhirnya ia menjawab.

"Dare,"

"Besok kau harus mencium Sehun setelah ia selesai berlatih basket," ucap Woohyun disertai seringaian menyeramkan.

Luhan hyung membelalakkan mata tak percaya. Ia hendak protes tapi Woohyun mengangkat tangan menyuruhnya tak bersuara.

"Tidak menerima protes. Lagian kau hanya perlu menciumnya di pipi. Atau kau mau tantanganmu bertambah berat? Kau mau aku menyuruhmu menciumnya di bibir, hyung?" seringaian Woohyun bertambah menyeramkan ketika mengucapkannya. Oh tidak, seringaiannya bahkan lebih terkesan mesum.

Luhan hyung menggerutu tidak jelas dan memasang wajah cemberut ketika menatap Woohyun yang menahan tawanya. Aku hanya bisa mengelus punggungnya untuk menenangkannya.

"Yang sabar, hyung," ucap Suho hyung dengan raut wajah yang menyiratkan... cemburu mungkin. Dia adalah fans Luhan hyung. Dia pernah bilang bahwa Luhan hyung adalah tipe idealnya dan menyukai Luhan hyung sejak pertama kali melihatnya. Dia selalu mencoba mendekati Luhan hyung. Karena Luhan hyung orang yang sangat baik jadi dia tidak pernah mengabaikan para fans-nya. Mungkin dia hanya akan menolak secara halus jika benar-benar tidak menyukai.

"Jongdae-ya, kau boleh mengambil giliranku," ucap Luhan hyung kepada Jongdae yang duduk di samping kirinya. Jongdae tersenyum sumringah. Luhan hyung sepertinya sedang bad mood.

"Baiklah," kata Jongdae bersemangat kemudian memutar botol yang diletakkan di tengah-tengah.

Damn it. Ujung tutup botol itu mengarah padaku. Jongdae mengikuti arah ujung botol tersebut dan menyeringai melihatku.

"DARE!" seruku yakin setelah berpikir singkat. Daripada harus menjawab jujur pertanyaan mereka yang pasti aneh-aneh lebih baik mencari jalan aman, meskipun memilih dare tidak bisa disebut aman.

"Sekali lagi kutanya. Kau yakin, Baek?" tanya Jongdae disertai cengiran menyebalkan.

"Iya. Dare," ucapku yakin.

"Kau serius, hyung?" aku melirik Kyungsoo yang bertanya dengan mata bulatnya.

"IYA! Aku memilih DARE! Jangan bertanya lagi," teriakku emosi.

Memangnya kenapa kalau aku memilih dare? Itu keputusanku. Apa itu salah? Kenapa mereka terus bertanya? Toh yang menjalani hukuman adalah aku.

"Kuharap kau tidak menyesal, Baek," Luhan hyung berkata seraya menepuk pundakku. Aku mendengus kesal. Dia mengatakan itu karena dia baru saja mendapat tantangan memalukan. Aku yakin tidak akan mendapat tantangan se-ekstrim itu karena aku tidak dekat dengan namja manapun.

"Keputusanku sudah bulat. Jangan membuang-buang waktu. Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran," kataku dengan melipat tangan di depan perut.

Sekali lagi Jongdae tersenyum mencurigakan padaku. Perasaanku jadi tidak enak. Tapi aku tetap pada pendirianku. Berhubung aku adalah orang yang menyukai tantangan jadi aku bersikeras memilih dare.

Aku terus menatap Jongdae dengan mata tajamku menunggunya berbicara. Pandangannya tertuju ke jendela kelas. Aku mengikuti arah pandangannya dan kudapati di luar sana ada namja tinggi bak tiang listrik –sepertinya Park Chanyeol- yang sedang dikerumuni para fans-nya. Aku mendecih dan kembali memusatkan perhatianku pada Jongdae yang sepertinya sudah mendapatkan ilham.

"Kau harus membuat Park Chanyeol jatuh cinta padamu dan membuatnya menyatakan cinta padamu saat hari ulang tahunnya," kata Jongdae dengan jelas.

Sontak aku membulatkan mataku dan menatapnya tajam. Tanganku mengepal. Bagaimana bisa dia memberiku tantangan seperti itu? Itu sama saja merendahkan harga diriku di depan namja tiang listrik itu.

"YA! Mana bisa seperti itu? Bagaimana mungkin aku melakukannya?" protesku tak terima.

"Kau hanya perlu menggunakan pesonamu untuk mendekatinya. Kau cantik, Baek. Mana mungkin Park Chanyeol tidak tertarik padamu?" ucap Jongdae.

"Aku namja! Dan kenapa harus dia?" teriakku frustasi seraya berdiri dari dudukku.

"Semua tahu kalau Chanyeol tidak pernah digosipkan dengan siapapun. Tentu akan menggemparkan jika dia tiba-tiba menyukai seseorang. Kupikir itu menarik. Dan bukankah kau menyukai tantangan? Tunjukkan bahwa kau bisa melewati tantangan ini," jelas Jongdae dengan senyum miringnya. Kurasa dia sengaja mengerjaiku.

"Jika aku tidak mau melakukannya?" tanyaku acuh.

"Kau yang harus menyatakan cinta padanya," jawab Jongdae.

BRAK

Seseorang membanting kamus bahasa inggris yang tebal. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Kenapa kau melakukan ini, Jongdae-ya? Kenapa juga harus dengan Chanyeol?" tanya Daehyun emosi.

Oh... aku hampir lupa kalau aku juga mempunyai penggemar di kelas ini. Jung Daehyun. Siapa anak kelas yang tidak tahu kalau Daehyun menyukaiku? Dia yang merelakan tempat duduknya untukku karena aku tidak suka duduk di belakang, dia yang selalu membantu membawakan buku-buku beratku, dia yang baru mau pulang jika aku sudah pulang, dia yang pertama kali menyapaku saat aku baru memasuki kelas, dia yang selalu menungguku sampai aku selesai menyelesaikan tugas piket, dia yang selalu menasihatiku untuk menjaga kesehatan, dia yang memberiku minum saat aku kehausan selepas berolahraga, dia yang bla bla bla... Masih banyak lagi yang dia lakukan untuk menunjukkan rasa sukanya padaku. Semua anak di kelas selalu mengejekku dengannya. Meskipun aku selalu cuek dan mengabaikannya tapi dia tetap selalu gencar mendekatiku. Akhirnya aku menyerah dan membiarkannya melakukan apapun yang ia suka. Aku lelah jika terus menegurnya yang berujung dia malah semakin melakukan banyak hal untukku.

"Daehyun-ah, kau tenang saja. Ini hanya berlangsung sementara. Hanya sampai ulang tahun Chanyeol. Dan kau bisa menolaknya, Baek. Jika kau tidak punya perasaan padanya kau pasti akan dengan mudah menolaknya setelah membuatnya jatuh cinta padamu," kata Jongdae.

"Tapi bukankah itu akan menyakiti Chanyeol juga?" tanya Jungkook mengeluarkan pendapatnya.

"Siapa yang peduli? Jika Baekhyun benar-benar mencintai Chanyeol pada akhirnya, maka dia boleh menerimanya. Bukankah Chanyeol tidak buruk? Dia sangat luar biasa. Kau beruntung bisa menjadi kekasihnya, Baek," kata Jongdae lagi yang semakin membuatku muak.

"Andwae!" teriak dua orang secara bersamaan.

Daehyun sudah pasti tidak terima. Yang satunya adalah... Luhan hyung? Kenapa dia ikutan protes?

Semua anak bingung melihat Luhan hyung yang kini menggaruk tengkuknya canggung.

"A-aku... hanya reflek. Hehe," tawanya kikuk.

Aku tahu Lulu hyung, kau menyukai Chanyeol. Dasar. Sudah punya Sehun yang mengejar-ngejarnya masih saja bertahan dengan idolanya.

"Kenapa aku harus melakukan itu? Kenapa tidak dengan tantangan yang lain?" tanyaku masih tidak terima.

"Karena kau tidak mempunyai seseorang yang dekat denganmu atau yang kau sukai. Tidak seperti Luhan yang dekat dengan Sehun makanya aku memberi tantangan seperti itu padanya. Atau kau mau tantanganmu sama dengan Luhan dan objeknya tetap Chanyeol?" kali ini Woohyun yang bersuara.

"Andwae!" teriakku.

Aku terdiam untuk berpikir. Membuat Park Chanyeol jatuh cinta dan menyatakan cinta padaku? Cukup dengan menebar pesona dia akan luluh? Saat dia menyatakan cinta aku hanya perlu menolaknya. Tidak terlalu sulit kupikir-pikir. Lagian aku tidak punya perasaan apapun padanya. Di lain sisi aku juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menjauh dari Daehyun yang terus mengusik hidupku. Tapi jika para fans-nya membunuhku bagaimana?

"Bagaimana jika para fans Chanyeol marah padaku gara-gara ia menyukaiku?" tanyaku sedikit kepedean memang tapi aku ingin tahu pendapat mereka.

"Kau lihat apakah fans Sehun pernah meneror Luhan saat tahu Sehun menyukainya?"Jinki hyung balik bertanya.

Aku bersahabat dengan Luhan hyung dan tak pernah mendapati sahabatku diserang para fans Sehun. Tentu saja mungkin diam-diam Sehun mengancam fans-nya agar tidak menyakiti Luhan hyung. Selain itu juga karena Luhan hyung termasuk idola sekolah. Mana mungkin mereka berani menyakiti Luhan hyung. Sedangkan aku? Aku tidak terkenal. Aku hanyalah orang beruntung yang berteman dengan sang idola.

"Tenang saja. Kami akan membantumu," ucap Jonghyun yang diangguku oleh anak-anak lainnya kecuali Daehyun. Seolah-olah mereka tahu apa yang mengganggu pikiranku.

Aku menghela napas pasrah. Sepertinya mereka semua mendukungku. Karena lelah berdiri maka aku kembali duduk. Kini giliran Luhan hyung yang menepuk punggungku untuk menenangkanku.

"Baiklah, aku terima tantangan ini," ucapku pada akhirnya. Ucapanku lebih seperti 'Aku menerima pernikahan ini' kepada orang yang dijodohkan secara paksa denganku. Semua anak tersenyum puas mendengar jawabanku. Ini kan yang mereka mau? Sepertinya mereka memang sepakat mengerjaiku. Berbeda dengan Daehyun yang masih memasang wajah tak terimanya.

"Tapi dengan satu syarat," kataku tersenyum tiba-tiba. Aku juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta apa yang kumau bukan?

Semuanya menatapku dengan alis terangkat.

"Katakanlah," ucap Jongdae.

"Aku mau eyeliner kualitas tinggi edisi terbaru yang hanya tersedia lima buah di Seoul," ucapku sumringah.

"Tidak masalah," ucap Suho yang notabenenya anak dari orang kaya raya. Aku menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Kau akan menjalani tantanganmu dengan mudah, Baek," ucap Suho lagi. Aku tak tahu pasti apa yang dimaksudkannya. Pasti dia mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui. Dia adalah sahabat Chanyeol. Tentu dia mengetahui sesuatu tentang sahabatnya itu. Tapi aku tak mau ambil pusing. Aku hanya perlu menjalani tantanganku setelah itu selesai dan aku akan hidup dengan normal lagi.

...

...

...

"Kau beruntung, Baek," kata Luhan hyung seraya membasuh tangannya di wastafel. Saat ini kami berdua berada di kamar mandi untuk mencuci wajah setelah pelajaran olahraga.

"Beruntung apanya? Berurusan dengan namja tiang listrik itu beruntung katamu? Oh, aku lupa. Kau adalah fans Chanyeol. Makanya kau iri padaku kan?" tanyaku sinis.

"Kau tahu sendiri," jawabnya melirikku di cermin.

"Kau payah, hyung. Kau punya Sehun yang jauh lebih tampan darinya. Kenapa kau belum bisa melupakannya?" tanyaku seraya membasuh muka.

"Entahlah. Perasaanku padanya dan pada Sehun berbeda. Aku menyukainya hanya sebagai fans. Sedangkan aku menyukai Sehun dengan segenap hatiku," kata Luhan hyung.

"Lalu jika disuruh memilih?"

"Tentu saja aku akan memilih Sehun," jawabnya mantap.

"Tapi kenapa kau tidak rela jika Park Chanyeol denganku?" tanyaku tak sadar dengan apa yang kuucapkan. Seolah-olah akulah yang menginginkan itu.

"Siapa yang berkata seperti itu? Aku hanya mengatakan kau beruntung,"

"Memangnya kau pikir kau tidak beruntung bahkan Sehun sudah jelas-jelas menyukaimu?" tanyaku memutar balikkan pertanyaannya. Sedikit menyampaikan padanya kalau aku juga menyukai Sehun. Tapi kuharap dia tidak menangkap maksudku. Aku tak ingin dia menganggapku pengkhianat.

Dia hanya diam tidak menjawab dan fokus pada pembersihan wajahnya. Aku menyunggingkan seringaian.

"Kau belum menjalankan tantanganmu, hyung," ucapku meliriknya.

Dia terhenti sejenak kemudian cepat-cepat membersihkan wajahnya yang dipenuhi sabun dan mengelapnya dengan handuk. Lalu ia menyambar tasnya dan beranjak menuju pintu.

"Aku akan merenung nanti malam untuk menjalankan rencanaku besok," teriaknya sebelum membanting pintu dan keluar.

Aku terkekeh melihat reaksinya. Sepertinya dia benar-benar malu membicarakan itu. Belum lagi jika besok benar-benar terjadi. Wah, aku tidak sabar melihatnya. Pasti akan luar biasa. Aku harus menyiapkan kameraku besok.

...

...

...

Aku menyumpah serapahi Luhan hyung yang meninggalkanku pulang sendirian. Dia bilang harus mengantar berbelanja sepupunya dari China yang sedang berkunjung. Alhasil sekarang aku harus pulang sendirian. Memang sih rumah kami jauh tapi searah. Jadi aku selalu pulang bersamanya sampai di halte dekat rumahnya kemudian menunggu bis untuk mengantarku pulang ke rumah.

Di saat aku berjalan dengan lesu tiba-tiba sebuah motor berjalan pelan di sampingku. Tentu saja dengan penumpangnya. Aku menoleh dan terkejut melihatnya. Park Chanyeol –si pengendara motor itu- tengah menatapku. Setelah sempat berhenti sejenak aku kembali berjalan tak menghiraukannya.

"Baekhyun-ssi," panggilnya dengan suara bass-nya. Aku terpaksa menghentikan langkahku lagi dan menoleh padanya. Ia tersenyum padaku.

"Kau pulang sendiri?" tanyanya tidak penting. Dia mau berbasa-basi denganku, eoh?

"Kau lihat ada orang lain di sampingku?" tanyaku dengan nada ketus.

"Tidak," jawabnya dengan tampang idiotnya.

"Kau sudah tahu jawabannya," kataku malas. Aku mengerucutkan bibirku memandang tak suka padanya.

"Aku ingin menawarkan tumpangan padamu," ucapnya.

Aku menatapnya cukup lama. Dia mencoba menarik perhatianku? Yang benar saja. Kenapa dia tiba-tiba baik padaku akhir-akhir ini? Padahal kami baru saja kenal. Penawarannya tidak akan mempan. Aku menggeleng sebagai jawaban.

"Kau yakin? Penawaranku tidak akan berlaku dua kali. Sekali lagi aku bertanya, maukah kau pulang bersamaku?" tanyanya sedikit menuntut.

Aku mendengus kesal sebelum membuka mulut untuk menolaknya lagi. Namun sekelebat kejadian di kelas tadi terlintas di otakku. Aku baru sadar jika berhadapan dengan Park Chanyeol saat ini. Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. Ini bisa jadi langkah awal untuk menarik perhatiannya. Mungkin mulai saat ini aku harus bersikap baik padanya. Ya, ini kesempatan yang bagus sekali.

"Baiklah," jawabku pada akhirnya. Kuharap dia tidak curiga dengan keputusanku yang berbanding terbalik dengan tadi.
Dia tersenyum lebar mendengarnya. Karena tidak mau berlama-lama karena langit mulai gelap, aku menaiki motornya dan memakai helm yang ia berikan.

"Kau mau mampir ke cafe dulu atau langsung pulang?" tanyanya mulai menyalakan mesin.

"Langsung pulang saja. Eommaku menungguku," jawabku. Memang benar, aku tidak mau eomma khawatir karena aku tak kunjung pulang.

Setelah itu hanya suara mesin yang kudengar dan laju motornya yang semakin cepat. Walau ia menjalankan motornya dengan kecapatan maksimal aku bersikeras untuk tidak memeluk perutnya. Tiba-tiba ia menghentikan motornya di tempat gelap. Apa ia mau macam-macam denganku? Ia menghadapku yang membuatku mengerutkan dahi.

"Kau belum memberitahu alamat rumahmu," ucapnya.

Bodoh. Kenapa tidak bertanya sedari tadi? Aku pun juga lupa memberitahunya. Setelah memberitahu alamat rumahku padanya ia kembali menjalankan motornya. Aku hampir berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

Beberapa menit kemudian kami sampai di depan rumahku. Aku segera turun dari motornya dan memberikan helm padanya.

"Baekhyunnie..." suara eomma terdengar di telingaku. Rupanya sedari tadi eomma menungguku di teras.

Aku benci mengatakan ini. Tapi bukankah ini yang wajib aku ucapkan kepada seseorang yang berbuat baik padaku?

"Gomawo," ucapku singkat. Ia membalas dengan tersenyum. Kenapa orang ini suka sekali tersenyum?

Aku meninggalkannya yang masih memasang senyum bodohnya dan menghampiri eomma.

"Honey, kau pulang dengan siapa? Kenapa tak menyuruhnya mampir?" tanya eomma mencuri pandang ke belakangku.

"Teman. Dia buru-buru eomma. Ayo masuk. Baekki lap –"

Eomma tidak ada lagi di hadapanku. Ia melesat menghampiri Chanyeol yang masih bertengger di atas motornya di depan pagar.

"—ar," ucapku tersenyum miris. Huft... aku berbalik dan melihat eomma yang kembali dengan mengapit lengan Chanyeol.

"Makanlah bersama kami. Appa Baekki lembur di kantor. Sayang sekali jika makanannya tidak habis. Eomma sudah terlanjur memasak banyak malam ini," kata eomma menarik tangan Chanyeol dan melewatiku.

"Baekki, jangan lupa tutup pintu!" teriak eomma dari dalam. Eomma meninggalkan anaknya di luar dan malah mengajak anak orang masuk? Dengan kesal aku melangkah masuk dan membanting pintu.

Aku menaiki tangga menuju kamar tak menghiraukan eomma yang sedang berceloteh kepada Chanyeol. Entah apa yang dibicarakan. Baru akan masuk ke dalam kamar, eomma memanggilku.

"Mandilah dan cepat turun. Makanannya keburu dingin," teriak eomma dari ruang makan di lantai satu. Aku mengernyit dan melanjutkan tujuanku.

Setelah membersihkan diri aku menuju ruang makan dan mendapati eomma dan Chanyeol sedang berbincang akrab dan tertawa bersama. Eomma tersenyum ketika melihatku mendudukkan diri di sampingnya.

"Baekki sudah selesai. Ayo kita makan," ucap eomma ceria.

Eomma memang mempunyai kepribadian yang ceria dan mudah bergaul. Tak heran jika secepat itu eomma bisa akrab dengan Chanyeol. Tidak sepertiku yang cuek dan tidak peduli. Mungkin aku menurun dari appa.

Seusai makan eomma membawa piring-piring kami ke tempat cuci piring.

"Tunggu sebentar ne? Eomma akan mengambil buah-buahan. Kalian mengobrollah dahulu," ucap eomma sebelum meninggalkan kami berdua di ruang makan.

"Eommamu sangat menyenangkan," ucap Chanyeol.

"Eomma memang seperti itu," tanggapku.

"Jadi kau punya hyung yang sekarang kuliah di London? Wah, hebat. Aku punya cita-cita kuliah di sana juga," ucapnya. Aku hanya diam mendengarkan ocehannya.

"Eommamu suka mendadanimu menjadi yeoja ya? Aku ingin melihatmu berdandan ala yeoja," ia terkekeh mengatakannya. Mataku mendelik mendengarnya.

"Apa saja yang eomma bicarakan padamu?" tanyaku curiga. Eomma memang orang yang menyenangkan. Saking menyenangkannya sampai membuat orang lain senang dan mempermalukan anaknya sendiri. Berbicara apapun yang bisa membuatnya dan lawan bicaranya tertawa bersama.

"Banyak hal. Mulai dari masa kecilmu sampai sekarang. Eommamu sangat leluasa menceritakannya. Aku jadi tahu banyak hal tentangmu," katanya disertai tawa.

Aku menggeram. Eomma benar-benar kelewatan. Membicarakanku di belakangku kepada orang yang baru kukenal dan membuatnya tahu segala hal tentangku. Semua tentangku sangat memalukan apabila eomma yang berbicara. Ternyata mereka sedari tadi tertawa bahagia karena menertawakanku?

"Honey, kenapa mukamu kusut begitu? Seharusnya kau senang temanmu datang berkunjung," ucap eomma yang telah kembali dengan sepiring buah-buahan yang telah dikupas dan dipotong. Lalu eomma duduk kembali dengan wajah tanpa dosa.

"Chanyeol-ah, jika kau merasa kesepian kau bisa main ke sini dan menginap. Baekki pasti senang karena tidak akan kesepian. Sejak hyungnya pergi ke London ia terus mengurung diri di kamar. Luhan memang sering ke sini tapi akan lebih baik jika temannya yang ke sini bertambah," ucap eomma.

"Kenapa dia mesti kesepian eomma? Dia pasti lebih senang berkumpul dengan keluarganya di rumah," kataku pelan hanya kepada eomma.

"Ya ampun, kau tidak tahu honey? Chanyeol tinggal sendirian di apartemen. Kedua orangtuanya menetap di Jepang dan noonanya tinggal bersama suaminya," ucap eomma lalu memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.

Oh... Aku baru tahu. Dan kenapa juga aku musti tahu? Bukan urusanku dia mau tinggal dengan siapa.

"Ahjumma, sudah malam. Lebih baik Chanyeol pulang," pamit Chanyeol.

"Oh, Chanyeollie... Jangan memanggil eomma dengan sebutan itu. Eomma lebih pantas dipanggil noona. Lebih baik kau memanggil dengan sebutan eomma saja, arraseo?" ucap eomma. Astaga, aku mulai gila melihat eomma yang seperti ini.

"Ne, arraseo eomma. Yeolli pulang ne.." ucap Chanyeol seraya beranjak.

"Baiklah. Mumpung belum larut. Sebenarnya kau bisa menginap di sini. Tapi baiklah jika mau pulang. Tapi Yeolli harus berjanji akan main ke sini lagi," ucap eomma sedikit memaksa.

"Pasti eomma. Terima kasih atas makan malamnya,"

"Terima kasih juga sudah mengantar Baekki pulang. Berhati-hatilah di jalan. Jangan ngebut," kata eomma seolah-olah Chanyeol adalah anaknya.

"Baekki, antar Yeolli ke depan. Drama favorit eomma akan tayang sebentar lagi," suruh eomma. Aku mendengus tapi akhirnya beranjak. Daripada berdebat dengan eomma percuma saja, toh aku pasti yang kalah.

Aku menunggu Chanyeol melajukan motornya tapi ia tak kunjung melakukannya padahal sudah semenit menaiki motornya.

"Apa yang kau tunggu?" tanyaku tidak sabar. Aku ingin menyusul eomma menonton drama favoritnya.

"Gomawo," ucapnya tersenyum.

Aku menautkan alisku. Untuk apa ia berterima kasih padaku?

"Gomawo untuk semuanya. Aku senang bisa mengantarmu pulang," ucapnya memperjelas.

"Tidak masalah," sahutku acuh.

"Aku pulang ne. Selamat malam... Baekhyunnie," ucapnya sebelum melajukan motor. Aku bersumpah melihat senyum jahilnya setelah mengatakan itu.

^_End of Baekhyun's POV_^

...

...

...

^_Chanyeol's POV_^

Setelah mandi aku merebahkan diriku di kasur bersiap-siap untuk tidur. Hari ini sunggu melelahkan, tapi menyenangkan. Pikiranku melayang ke beberapa jam yang lalu. Siang tadi aku makan bersamanya, malamnya pun aku makan bersamanya lagi. Betapa senangnya aku bisa melihatnya terus hari ini. Bahkan eommanya menyukaiku. Ini akan memudahkanku untuk mendekatinya. Ya Tuhan, apakah aku jatuh cinta padanya? Walaupun sikapnya acuh padaku namun aku tak akan menyerah. Setelah apa yang kudengar dari eommanya dia memang begitu jika baru mengenal orang. Mungkin lambat laun ia bisa berubah baik padaku. Mudah-mudahan saja.

Cukup memikirkan tentangnya. Aku takut tidak bisa tidur karena terus terbayang-bayang wajahnya. Bodohnya aku kenapa tidak meminta nomor handphone-nya. Aku pun mencoba menutup mata dan berharap cepat sampai di alam mimpi dan bertemu dengannya. Aku tersenyum dalam tidurku.

...

...

...

...

...

~T_B_C~


Balasan review chapter 2:

Fuji jump910: iya, nunggu waktu yg tepat,, hunhan pasti jadian kok :D

EXiOh HunHan: hunhan malu malu tapi malu"in #plakk,,, chanyeol lemot sih #plakklagi,, okeh semangat buat chanhun #kibarbenderamerahputih

flamintsqueen: tuh udah dijelasin kenapa baek mau sm yeol,, sehun orangnya woles nggak mau buru"

Park Ji Hee: hunhan shipper nih,,, oKAI

lollyaiko: gitu ya? Okeh.. nanti aku perbaiki,, makasih buat sarannya :)

Tabifangirl: tuh chanbaek udah mulai pedekate :D

Baekhyunniee: yup begitulah.. tapi baekhyun ke sehun sama luhan ke chanyeol itu sebatas fans aja.. aku emang sengaja bikin kayak gitu, hehe

Beechanie: hunhan pasti bersatu kok,, ekhem yeol..

rachel suliss: baek bisik ke luhan kalo dia dimintai tolong suho buat nemenin yeol makan,, luhan itu kaget karna baek beruntung bgt bisa makan sm yeol, secara luhan kan ngefan yeol.. kenapa baek mau nerima yeol? Itu udah dijelaskan di atas :)

Rnine21: sehun itu malu-malu meong,, dianya belom siap punya pacar cz takut popularitasnya menurun

exoel: ini udah dilanjut ^_^

meliarisky7: kapan ya? Nunggu lebaran monyet kali? #plakk, hehe menunggu waktu yg tepat

Guest: okok.. :)

Biezzle: aku usahakan ChanBaek-nya banyak,, baekki emang sekedar fans kok.. jangan khawatir

Facis: ntar ChanBaek-nya aku banyakin deh

HyunRa: Luhan Cuma ngefen Chanyeol kok.. nggak lebih

hunhan shipper: ini udah lanjut :)

fitri: akhirnya yeol berani ngajak baekki pulang bareng :3


Makasih buat readers yg sudah bersedia menuliskan komentar di kolom review :). Saya sangat menghargai apresiasi anda #bahasague

Oh ya, aku mau curhat.. akhirnya lepiku bisa buka FFn lagi! Setelah minta bantuan di mbah gugel akhirnya bisa.. jadi kan aku bisa update ASAP :)

Chap depan mau siapa nih? ChanBaek atau HunHan? Silahkan tulis pendapat anda di kolom review :)

Jangan lupa tinggalkan jejak, readers-nim...

See you on next chap :)