Maaf baru bisa lanjutin… aku lupa password account ku dan baru tau cara password nya .. sekali lagi maaf ya …
Happy reading …
Chapter 4 – Last Chapter
"Kau tidak mungkin pergi sendiri. Mustahil untuk mengalahkan mereka semua kalau hanya sendiri. Setidaknya kau harus membawa ku ke tempat mereka." Ujar Shiho menghampiri Shinichi. "Aku tidak akan membawamu pergi bersamaku. Sudah ku bilang aku akan pergi sendiri. Kau dan yang lain tinggalah disini. Professor, bolehkah ku minta kunci rumahku ?" "Ah, ini." Profesor Agassa mengambil sebuah kunci dari saku kanannya dan menyerahkannya pada Shinichi. "Kalau butuh sesuatu, kau tau kau bisa mengandalkanku." Tambahnya lagi. "Terimakasih, Profesor." Shinichi berjalan keluar. "Tunggu Kudou-kun." "Biarkan dia pergi" ujar agen Jodie menahan Shiho. "Kami, FBI, tidak akan membiarkan ini terjadi." Bisik Jodie seraya menatap punggung detektif favoritnya yang menghilang dibalik pintu.
Beika Selatan, pukul 00.00
Seorang pemuda dengan celana panjang, kaos hitam, dan topi abu-abu tua tampak berdiri bersandar pada sebuah mobil sport hitam yang sepertinya miliknya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Menggenggam erat udara dingin yang menusuk tulang. Topinya menutupi sebagian wajahnya. Namun tak mampu tutupi ketampanannya. Sekaligus tak mampu sembunyikan ketegangan yang ia rasakan sekarang. Perasaan ini. Tak pernah seperti ini sebelumnya. Pantas saja. Mereka, organisasi sialan itu membawa gadisnya. Gadis yang ia cintai.
Bibirnya bergerak, menggumam, Ran … Tepat ketika sebuah mobil Porsche hitam berhenti 10 meter di hadapannya. Tampak 2 pria dan 2 wanita keluar dari mobil itu. Seorang pria berambut panjang menggunakan topi dan jubah hitam berdiri selangkah didepan seorang pria berbadan besar berkacamata hitam dan seorang wanita berpakaian serba hitam. Seorang gadis berkemeja putih, menggunakan rok blue jeans sedikit diatas lutut dan flat shoes yang senada dengan rok yang membalut kakinya yang jenjang. Rambut hitamnya yang panjang tampak terurai lembut. Tertiup angin. Benar-benar seperti Angel. "Ran .. " mata sapphire milik detektif muda itu menatap sendu sepasang bola mata emerald milik gadis 10 meter dihadapannya itu. "Shinichi … Kau .. Datang." Ujar gadis itu. Tersenyum lembut. Lalu jatuh terduduk bersandar pada mobil Porsche hitam yang membawanya. "Ran .!" pemuda itu segera melangkah bermaksud menghampiri gadisnya.
"Berhenti disitu atau ku bunuh gadis ini." Ujar Gin. Vodka tampak mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkan moncong pistolnya ke arah gadis yang terduduk tak berdaya itu. Sepertinya tak sadarkan diri. "Baik." Detektif itu menghentikan langkahnya. Mengepalkan tangannya. Menahan amarahnya yang sudah mencapai puncak. Siap memakan korban kapan saja.
"Bagaimana dengan kesepakatan kita? Mana dia?" ujar Gin.
"Aku tidak pernah menyepakati apapun denganmu." Ujar detektif itu, tenang.
DOR ! sebuah peluru melesat cepat. Detektif itu berusaha menghindar. Kurang cepat. Peluru itu menyerempet lengan kirinya. Darah segar mengalir perlahan. Sang detektif hanya tersenyum tipis. Berusaha menahan sakitnya. "Kurang ajar. Jangan bermain-main denganku." "Aku tidak bermain-main denganmu. Aku tidak membawanya bersamaku." "Haha. Baiklah. Peluruku tadi boleh saja meleset. Namun kali ini, … Lakukan Vodka!" "Siap, Aniki." Shinichi bisa melihat Vodka siap menarik pelatuk pistolnya dari sudut matanya. Dan, sekali lagi ..
DOR !
Vodka terjatuh, tumbang. Sang detektif tampak berdiri memegang sebuah pistol di tangan kanannya. Emosinya tak tertahankan lagi. Sebuah peluru tepat menembus jantung pria berbadan besar itu dan membuatnya tumbang seketika. Seorang wanita berambut pirang berdiri bersandar pada mobil Porsche di belakangnya tampak menyulut sepuntung rokok dan menghisapnya. Kembali menyaksikan duel maut yang selama ini sudah ditunggunya.
"Jangan pernah sekalipun kau menyentuhnya!" ancam sang detektif dengan nafas yang menderu.
"Berani juga kau memegang sebuah pistol. Kau belum cukup umur untuk memegang benda berbahaya itu. Jatuhkan. Atau kali ini, gadis ini akan benar-benar pergi untuk selamanya." Gin tampak mengarahkan moncong pistolnya ke arah Ran.
"Hentikan, Gin." Wanita berambut pirang bernama Vermouth itu angkat bicara.
"Diam kau!"
"Cuih"
"Cepat jatuhkan senjatamu. Ku hitung 1 sampai 3." Detektif itu berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Ditatapnya gadisnya yang tergeletak tak berdaya. Berpikir berpikir dan berpikir. Memikirkan setiap kemungkinan yang mungkin terjadi. Memikirkan bagaimana mengakhiri pertempuran ini. Memenangkan pertempuran ini.
"1" sialan ..
"2" apa yang harus kulakukan sekarang?
"3" tunggu, Ran!
DOR !
Sang detektif mengangkat wajahnya. Berharap bukan kemungkinan terburuk yang terjadi.
Detektif itu terdiam. Dilihatnya tubuh musuhnya terjatuh, tersungkur. Dengan darah segar mengalir dari pelipisnya. Dilihatnya lebih lagi. Tak bernyawa.
"Sudah kuperingatkan kau sebelumnya. Jadi jangan salahkan aku." Ujar Vermouth meniup asap di moncong pistolnya.
"Kau, kenapa kau lakukan itu?" Tanya sang detektif tetap waspada.
"Balas budi. Aku tak suka berhutang." Jawab wanita itu menghisap rokoknya.
"Balas budi? Apa maksudmu?"
"Pembunuhan Berantai di New York waktu itu."
"Pembunuhan Berantai? New York? Jangan-jangan …" Mobil FBI tampak berhenti disamping Shinichi. Jodie segera keluar dan menyiapkan pistolnya.
"Haha. Tenang. Aku tak bermaksud melarikan diri."
"Tangkap dia!" perintah Jodie dan beberapa agen FBI segera memborgolnya dan membawanya masuk ke dalam mobil FBI. "Cool Guy, sampaikan salamku untuk Angel." Shinichi hanya terdiam mendengarnya. Shinichi berjalan ke arah Ran. Mengecek kondisi gadisnya. Syukurlah, ia baik-baik saja. Beberapa agen FBI tampak menghampirinya dan member isyarat kalau mereka akan membawa Ran. Shinichi mengangguk. Ran diobati oleh agen FBI dan diantarkan pulang. Bersyukur ayahnya belum pulang dari luar kota. Sementara Shinichi pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka di lengannya.
Esoknya di SMA teitan …
"RANNNNN ! Kau sudah kembali! Aku sangat mengkhawatirkanmu! Hiks hiks" Sonoko tampak berlari memeluk sahabatnya yang baru datang.
"Aku tidak apa-apa sonoko. Jangan menangis seperti ini." Ucap Ran membalas pelukan Sonoko.
"Mana detektif kurang ajar itu? Apa dia datang menolongmu? Atau jangan jangan dia lebih memilih kasusnya daripada kau?"
"Hey hey! Apa maksudnya dengan detektif kurang ajar?" seorang pemuda berdiri di belakang Ran. Ia terlihat tampan dengan deragam yang dikenakannya sekarang. Ran membalikkan badannya. Shinichi.
"Kau ? Kapan kau kembali? Setelah membuat sahabat tercintaku begini baru kau kembali? Suami macam .. "
"Sonoko hentikan. Shinichi kau baik-baik saja?"
"A.. Aku baik-baik saja. Kau ?"
"Ran! Kau ini bagaimana? Kau yang menderita malah kau yang menanyakan kabarnya."
"Sudah Sonoko. Aku baik-baik saja. Ayo masuk."
Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Para gadis dan wartawan tampak mengerubungi Shinichi yang baru kembali ke sekolah. Berita kembalinya Holmes of heisei Era ini menjadi topic hangat di Jepang. Seluruh media massa memuat berita kembalinya Detektif dari Timur ini sebagai berita utama.
Sore hari Shinichi baru menyelesaikan wawancaranya dengan para wartawan. Ia mengambil HPnya dan mengetik sebuah e-mail.
To : Ran
Ran, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Kuharap kita bisa bertemu sore ini di lapangan belakang sekolah. Aku menunggumu disana.
Sore harinya di lapangan belakang sekolah,
Shinichi tampak bersandar pada sebuah pohon Sakura. Ia mengenakan kaos putih polos yang menampakan dadanya yang bidang, celana panjang jeans berwarna gelap, sepatu, dan topi berwarna sedikit lebih muda dari celana yang ia kenakan. Match. Kakinya tampak sibuk memainkan bola sepak yang ia temukan tergeletak di tempatnya berdiri sekarang. Sesekali ia melirik arlojinya. Permainannya terhenti ketika mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Ia tersenyum, mengangkat wajahnya, dan menemukan seorang gadis berdiri disana. Ran Mouri. Gadis itu tampak mengenakan dress putih selutut dan flat shoes yang juga berwarna putih. Tangannya memegang tas putih yang biasa ia bawa. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Tertiup angin sore. Cantik.
"Ran …" Shinichi tersenyum, meletakan bolanya dan menghampiri gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana lukamu?" tangan Ran tampak menyentuh luka pemuda dihadapannya yang sudah dibalut perban. Mata emeraldnya menyiratkan rasa khawatir. Dan Shinichi tau itu.
"Aku baik-baik saja, Ran." Shinichi memegang kedua tangan Ran dan menggenggamnya erat. Mata sapphire nya menatap sepasang mata emerald dihadapannya.
"Shinichi…"
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku … Conan. Aku adalah Conan."
"Apa maksudmu?" Ran menatap Shinichi serius.
Shinichi menjelaskan semuanya pada Ran. Mulai dari kejadian Tropical Land waktu itu. Ia berubah menjadi Conan. Berurusan dengan BO, semuanya. Ia ceritakan semuanya pada Ran, pada gadis yang ia cintai. Berharap gadisnya mau mengerti. Dan memaafkannya.
Ran menunduk. Ia menarik kedua tangannya dari genggaman Shinichi. "Aku .. Aku harus pulang. Ayahku menungguku." Ran berbalik dan berlari. Meninggalkan Shinichi yang terdiam. Ran tidak pulang. Ia pergi ke sebuah danau yang sering ia kunjungi ketika ia sedang sedih. Seperti saat ini. Ia senang Shinichi kembali. Tapi untuk menerima kenyataan bahwaa Conan yang selama ini bersamanya adalah Shinichi, rasanya sulit. Sakit. Kenapa Shinichi tak jujur padanya? Ia yang selama ini percaya Shinichi akan kembali dan terus menunggunya. Tak bisakah pemuda itu percaya padanya? Membuatnya menunggu sekian lama untuk orang yang jelas-jelas selalu berada di sampingnya. Membuatnya menjadi gadis bodoh yang menunggunya tanpa tau apa-apa. Air mata mulai membasahi pipi Ran. Membawa setiap kesedihan hatinya. Berharap kan hapuskan rasa sakit ini…
Sudah seminggu Ran mengabaikan shinichi. Setiap kali shinichi menghampirinya, ia pasti segera menjauh. Tidak pernah membalas e-mail Shinichi. Tak mengangkat telponnya. Sahabatnya pun tau ada sesuatu yang tidak beres diantara mereka.
Hari itu Sabtu. Waktu menunjukkan pukul 19.30
Biasanya ran baru selesai berlatih karate di sekolahnya. Shinichi pun memutuskan untuk menghampiri ran di sekolah. Dan sesampainya di sekolah, Shinichi tidak menemukan 1 orang pun di sekolah, termasuk Ran. Sampai akhirnya ia mendengar suara seseorang di atap sekolah. Seperti suara Ran. Shinichi naik ke atap sekolah dan mendapati Ran disana. Berdiri menatap bintang malam. Ran yang menyadari keberadaan seseorang menoleh dan mendapati Shinichi disana. Ia bermaksud pergi sampai Shinichi menahan tangannya.
"Jangan begini, Ran. Kumohon" Shinichi menarik tangan Ran, berdiri dihadapannya, dan menyentuh kedua pundak Ran lembut.
"Biarkan aku menjelaskannya semuanya. Aku punya alasan melakukannya."
"Sudah, Shinichi. Aku … tidak ingin mendengar penjelasanmu. Biarkan aku pergi." Ran menyingkirkan kedua tangan Shinichi. Dan melangkah pergi.
"Aku tidak ingin kau terluka. Karena itu aku tidak memberi tahumu." Langkah Ran terhenti. Air matanya menetes.
"Terluka? Aku justru terluka menunggumu yang aku sendiri tidak tahu kapan kau akan kembali. Kau membuatku tampak bodoh dengan selalu membiarkanku menunggumu. Padahal kau ada bersamaku. Itu yang kau maksud tidak ingin aku terluka?"
"Ran, mengertilah. Aku benar-benar tidak ingin kau terluka. Karena aku mencintaimu. Lebih dari siapapun di dunia ini." Ran terdiam. Jantungnya berdetak kencang. Ia yakin Shinichi bisa mendengarnya. Shinichi kembali meraih kedua tangan Ran, menghapus air mata di pipi gadis itu. Menggenggam kedua tangannya erat.
"Aku mencintaimu, Ran. Jadilah kekasihku," ujar detektif muda itu berlutut disertai degup jantungnya yang kian bertambah cepat.
"Shinichi …. " Ran menatap Shinichi dalam. Mata sapphire itu menyiratkan ketulusan dan harapan. Ran bisa rasakan itu. Senyum tampak di wajah cantik Ran sebelum akhirnya "Ya, aku mau." Shinichi tersenyum mendengar jawaban gadis di hadapannya. Ia mencium lembut kedua punggung tangan Ran lalu bangkit. "Terima kasih, Ran. Aku janji aku tak kan meninggalkanmu dan membuatmu menunggu lagi."
"Bagaimana kalau aku yang ganti meninggalkanmu? Akankah kau menungguku?"
"Hahahahaha" tawa detektif muda itu memecah keheningan malam.
"Kenapa kau tertawa? Sama sekali tak ada yang lucu." Ujar Ran menarik kedua tangannya dari genggaman kekasihnya dan bermaksud pergi dengan wajahnya yang cemberut, tapi tetap cantik.
Shinichi menahan tangan Ran dan menarik kekasihnya kembali. "Hey, tunggu dulu. Sama sekali tak ada yang lucu."
"Lalu kenapa kau tertawa?"
Tangan Shinichi menyentuh pipi Ran lembut. "Because I'll never leave you. Never." Mereka saling menatap, tersenyum. Shinichi menarik Ran ke dalam pelukannya.
"Watashi wa anata o aishite, Ran."
"Watashi mo anata o aishite, Shinichi"
Bulan dan bintang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Segala penantian dan pengorbanan terbalas sudah.
"Stupid, I'm not happy at all... since after so long, I haven't told her anything.. she would want to see me.. if I told her how I feel, she'd just miss me even more. after all, I'm the guy who breaks her heart by making her wait an eternity, even though I'm always by her side. I don't want to see her cry anymore. even if it means that I no longer have a place in her heart. seems pretty immature of me, doesn't it?" – Edogawa Conan
" I don't really mind waiting for people. Because the more you wait, the happier you'll be when you meet" – Mouri Ran
- Ending -
Akhirnya selesai juga .. maaf kalo masih banyak kurangnya …
Ditunggu reviewnya …
