Genius...
... adalah kata yang mereka gunakan untuk menggambarkanku.
Menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Menembus batas-batas yang sejatinya adalah sebuah kerahasiaan atas sang pencipta. Dan bahkan, mengatur ulang segalanya hingga eksistensiku kini menjadi sebuah pertanyaan.
Masihkan aku ini seorang manusia?
Aku percaya.
Setiap makhluk di dunia ini memiliki potensi yang berbeda satu sama lain. Dan itu hal yang wajar jika mereka baik di satu hal, dan buruk di hal lainnya.
Itu juga berlaku untukku.
Aku mungkin baik di sihir. Tapi buruk di fisik.
Menyadari fakta tersebut tidak membuatku depresi. Aku menerimanya, tapi kenyataan tidak serta merta menyetujui hal tersebut.
Kemampuanku dalam menggunakan sihir melewati batas, menghancurkan keseimbangan antara fisik dan mental, hingga pada titik tertentu aku pertanyaan tersebut datang kembali.
Masihkan aku ini seorang manusia?
... Kekuatan ataupun pengetahuan bukanlah tujuan akhirku, yang ku inginkan jauh lebih sederhana dari semua ekspetasi kalian. Tetapi mereka tidak berpikir seperti yang aku pikirkan.
"Dia kan memang genius, percuma saja kita mengejarnya."
"Enaknya jadi orang genius. Bisa menguasai semuanya dengan mudah."
"HIDUP INI TIDAK ADIL! KENAPA KAU HARUS ADA DI DUNIA INI! SEMUA PASTI AKAN JADI LEBIH BAIK KALAU KAU TIDAK PERNAH ADA!"
Kalian salah.
Aku bukan seorang genius.
Semua hasil yang selama ini kudapat bukanlah buah dari title 'Genius' yang kalian sematkan padaku.
Itu adalah hasil kerja kerasku.
Menghabiskan hari demi hari menunggu datangnya sebuah ketidak pastian atas hari esok, hingga tak terasa aku telah melakukannya sampai pada titik dimana semua itu menjadi hal yang mustahil.
Dan yang kalian ucapkan padaku adalah "Itu hal yang wajar karena kau adalah seorang Genius."
TIDAK!
Itu bukan yang ingin ku dengar, KALIAN SALAH!
Aku melakukan semua ini bukan untuk mendapatkan title 'Genius'!
Setelah semua kerja kerasku dan hanya kata 'Genius' yang kalian berikan padaku. Itu tidak adil! Sangat egois! Apa kalian tidak paham betapa kerasnya aku berjuang!
Aku...
Aku hiks...
Kumohon...
Seseorang...
Siapapun...
Tolong katakan padaku...
"Kau sudah bekerja keras Naruto."
Fall of Dimension
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto & Highschool DxD © Ichie Ishibumi
This Story © Bocah sekolah
Rate : M
Genre : Adventure, Fantasy, Romance, and Sci-fi?
Pair : Naruto x Hinata x (belum terbuka lagi)
Warning : AU, Fanon semi Canon, OOC, OC, Bahasa tidak baku, EYD ancur, Smart!Naru, Overpower!Naruto, Human!Naru, MagicUser!Naru.
Gak suka? Silahkan utarakan dengan jelas supaya bisa Author koreksi, atau tekan tombol kembali.
Summary :
Great War adalah perang antara 3 fraksi yang menyebabkan bencana di dunia. Namun karena distorsi antar dimensi yang tidak terduga menyebabkan dunia bawah, dunia atas, dan surga menyatu. Lalu apa yang terjadi/Ini adalah cerita tentang sihir dan pertarungan/Selamat datang di Konoha Magic Academy.
Chapter 4 : Mereka yang dipanggil Genius.
Iris lavender Hinata tak henti-hentinya memperhatikan Naruto yang berdiri di hadapannya. Udara dingin tipis membungkus seluruh tubuhnya hingga samar-samar menciptakan sebuah gambaran abstrak angin yang bergerak teratur di sekitar. Dan warna kulitnya, yang sejak pertama kali mereka bertemu adalah tan kini berubah pucat, membaur bersama bongkahan es di sekeliling mereka.
Di sebelahnya, Sairaorg masih terus mempertahankan ekspresi yang sangat sulit untuk diartikannya. Mereka memang sudah diberitahu oleh Naruto kalau dirinya bisa malakukan sihir es. Dan inilah yang Hinata-Sairaorg dapati ...
Mengagumkan.
Sebuah kata yang terdiri dari 11 huruf adalah apa yang bisa mewakili kekuatan es Naruto. Ia memang tidak menunjukkan kekuatan sihir besar seperti Menma ataupun Sairaorg. Namun, hawa dingin yang bahkan bisa membekukan sang api terkutut dengan sangat tegas mengumandangkan bahwa dirinya tidak kalah dari dua orang tersebut.
"Kau dan Sairaorg-senpai tetaplah dibelakangku. Dari sini, aku akan maju sendirian," ujar Naruto pada Hinata seraya melangkah menuju Menma, meninggalkan jejak-jejak permukaan tanah beku ditiap langkah kakinya.
Hinata yang masih tidak percaya akan perubahan Naruto tidak bisa berkata-kata. Dalam benaknya, Naruto semakin terlihat cool dikala keadaan menjadi sangat serius. Itu sebenarnya salah, tapi Hinata benar-benar tak bisa menahannya.
Sementara di sampingnya, Sairaorg juga tak banyak bicara. Energinya sudah menipis karena melawan Menma tadi, jadi lebih baik jika dirinya beristirahat dulu dan melihat bagaimana arus membawa pertarungan ini. Lagipula, ini adalah momen yang tepat untuk melihat seberapa bagusnya Naruto dalam pertarungan yang sesungguhnya.
"Semoga berhasil, Naruto," dukung Sairaorg dengan suara lantangnya.
"Ya!"
Di sisi lain, untuk sebuah alasan yang masih tersembunyi Menma tersenyum menyambut kedatangan Naruto. Darah seorang Phenex yang mengalir dalam dirinya seolah terbakar dalam euphoria. Dan dengan terkeluarnya Demonic power dari tubuhnya, Menma melangkah maju menuju Naruto.
Untunglah seragam KMA memiliki fitur yang dapat menahan segala kerusakan hingga pada level 'Ekstrim'. Jadi tidak ada sedikitpun bekas robekan di seragam mereka.
"Kau benar-benar akan mati disini, Naruto," seru Menma seraya memunculkan api hitam di kedua tangannya.
"Ini kali pertama kau memanggil namaku," tidak berbeda dengan Menma, Naruto juga mengumpulkan hawa dingin di tangan kanannya.
Keduanya berjalan mendekat dengan langkah yang normal. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh penonton sebelum keduanya saling menjual serangan.
"Phoenix Breath."
Dari kedua tangan Menma, api hitam seolah menyembur dalam kapasitas yang luar biasa besar menerjang Naruto. Radiasi konstan yang terbawa oleh api tersebut sempat membuat Sasori berkeringat, karena secara pasti ini memiliki suhu yang lebih tinggi dari semua serangan Menma sebelumnya.
Namun dengan gerakan alami yang terlihat begitu biasa, Naruto mengangkat tangan kanannya seraya menyebut nama skillnya.
"Freezing Line."
Hawa dingin yang tak bisa terucapkan dengan kata-kata kini melanda seisi arena. Penonton yang duduk di tribun terpaksa merasakan panas dingin secara bersamaan ketika udara di hadapan Naruto membeku, membentuk sebuah garis luruh menanjak yang menyerupai bongkahan gunung es, dan secara dramatis serangan Naruto menabrak semburan api Menma.
BOOOOOOMMMM~!
WUUUUSSSSZZ~!
Kabut tipis warna putih tersebar ketika dua serangan dengan perbedaan suhu besar saling menyatu. Pandangan menjadi sedikit buram kala itu, namun jelas dari kepulan asap yang tercipta menampakkan siluet dua siswa yang saling bertarung.
"Padahal kau tidak memiliki energi besar, tapi kenapa kau punya sihir es!?"
Mengabaikan pertanyaan Menma, Naruto melakukan salto yang kemudian di susul dengan meluncurnya 10 tombak es yang melesat secara acak menuju Menma.
"Kau pikir―" Suhu di sekujur tubuh Menma naik secara drastis dan melelehkan tombak es Naruto, "―serangan seperti ini akan mempan padaku?"
Menciptakan sepasang sayap di punggungnya, Menma melesat bagaikan peluru ke arah Naruto. "Terima ini!"
"Black Fire Blow."
Sebuah pukulan berlapis api hitam segera berayun ketika jarak di antara mereka tereliminasi. Momentum yang di tambah perpindahan berat badan menciptakan sebuah pukulan mematikan tepat menuju Naruto.
"Ice Shield."
Baaaakkk!
Namun bukannya tubuh Naruto yang terkena serangan tersebut, tinju api Menma malah tertangkis oleh sebuah perisai berbentuk segi enam. Hal tersebut sontak membuat Menma semakin terprovokasi, ia dengan liarnya memperbesar api di tangannya dan terus menerus melancarkan pukulannya. Namun...
"Six-Way Ice Prison."
"Apa ini?"
Di sekeliling Menma, lebih tepatnya dari 6 arah mata angin (plus atas) muncul perisai es yang sama persis. Mereka saling menempel hingga mengurung Menma dalam penjara es berbentuk segi 6. Tidak terhenti di sana, Naruto segera menyentuh perisai yang ada di hadapannya dengan jari telunjuk.
"Freeze."
Wuuuusssh!
Suuuush!
Swuuuush!
Dari seluruh perisai es yang mengurung Menma, keluar hawa dingin berbentuk salju yang saling bertabrakan di dalam kurungan. Memberikan rasa sakit yang sedetik kemudian dirubah menjadi 'Mati rasa' pada sang Phenex muda.
Siswa [Flower] itu tidak sempat berteriak ketika tubuhnya secara paksa menerima perubahan suhu yang sangat signifikan. Ia hanya bisa terpejam, menghalau salju-salju dingin itu mencapai kedua bola matanya, dan bertahan sebisa mungkin dengan mengeluarkan api hitam kebanggaannya dari sekujur tubuh.
Beberapa detik setelah jurus Naruto terlancar, tidak ada tanda-tanda balasan dari Menma.
"Kali ini benar-benar sudah selesai atau belum?" Gumam Sasori menaikkan sebelah alisnya.
Penonton agaknya menjadi riuh ketika Menma tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan lagi. Banyak dari mereka yang kecewa, dan sebagian juga nampak tidak percaya.
"Me-mereka benar-benar menang?" Tanya Irina pada Tsunade dengan nada yang tidak percaya.
Maksudnya ... lawan Hinata cs adalah Three Prince of Konoha Gakuen, 3 murid yang dipercaya akan menjadi anggota dewan osis tahun depan. Itu begitu mustahil untuk di percaya, bahkan bagi teman seasrama mereka ―Irina.
Itu mengagumkan...
"Tidak semudah itu, Irina," mimik muka Tsunade nampak serius menatap penjara es dengan luas yang tak lebih dari 4 meter persegi itu.
Bongkahan es yang sebelumnya merupakan perpaduan dari 6 perisai es itu sedikit demi sedikit memberikan tanda keretakan. Naruto, yang berada tepat di hadapannya menajamkan mata tatkala keluarnya hawa panas dari pengekang sang Phenex muda.
Kraaaak!
Krak!
Kraaak!
Kraaaaaaak!
Blaaaar!
Sebuah pukulan, yang di dorong oleh daya ledak selayaknya roket melesat menuju wajah Naruto.
Buaaagh!
Wussssh!
BraaaaAAAAAKKK!
Tubuh Naruto terlempar keras menuju sisi arena. Kekuatan yang memang sedari awal sudah besar itu seolah menghancurkan tiap tulang dari sang siswa blonde. Bunyi tabrakan yang terjadi ketika Naruto mendarat menjadi hasil nyata atas kemampuan sang Prodigy Phenex.
Dengan keadaan yang sudah kacau, Menma menarik nafas cepat setengah terengah. Rambutnya kusut dan wajahnya kelihatan sangat kelelahan, tapi api hitam yang muncul di sekelilingnya nampak berbanding terbalik akan kondisinya.
"Jangan remehkan aku!" Raungnya keras bercampur jengkel.
"Uwoooooaaaaahhhh~ Menma! Menma! Menma! Menma! Menma! Menma!"
"Sang Genius Phenex~!"
"Kalahkan siswa [Weed] itu Menma-kyun~~~"
Namun...
Semua teriakan itu harus terhenti.
Ketika, Naruto keluar dari 'lubang dinding' yang baru diciptakannya dalam keadaan yang terbilang baik. Wajahnya tidak menunjukkan banyak ekspresi, hanya sebuah keseriusan dan memar yang terselip di sana.
'Itu pukulan yang kuat,' selanjutnya Naruto tidak boleh lengah lagi.
"KAU!"
Menma kembali menggila, dari belakangnya muncul 9 bola api yang terbuat dari padatan demonic power. Tidak ada hawa panas yang tercipta disana, hanya Killing Intens yang dengan paksa membuat orang-orang kesulitan bernafas.
Setelah persiapannya selesai (yang entah kenapa hanya Naruto perhatikan), satu bola api sebesar softball terbang cepat ke arahnya.
"Black Fire : Annihilated."
Naruto menahannya, menciptakan sebuah perisai dengan bentuk yang sama seperti sebelumnya dengan kerapatan melebihi susunan molekul berlian. Bola api hitam itu menabrak perisai Naruto, mengakibatkan suara nyaring keras yang begitu mengerikan.
Bahkan, Naruto harus menggunakan sebagian besar kekuatan di tubuhnya yang 'sekarang' untuk meredam daya hancur serangan barusan. Apalagi, serangan tersebut kemudian melebar ke sekeliling perisai. Mengakibatkan sebuah kawah ekstrim yang melebar ke belakang.
[A/N : Inget Naruto vs Orochimaru di seri Shippuden. Efek serangannya mirip Bijuudama yang di tahan gerbang summon Orochimaru.]
"Ini buruk," gumam Naruto setelah melihat efek dari serangan Menma.
"MATI! MATII! MATI! MATI!"
Tapi tidak disangka-sangka, Menma terus melemparkan bola apinya pada Naruto. Membombardir sang siswa blonde dalam ledakan yang begitu 'ekstrim'.
Keduanya, dengan kesusahan melakukan pertarungan yang saling bertolak belakang. Menma kelihatan sangat kelelahan setiap kali bola apinya melesat. Sedangkan Naruto, berusaha mati-matian menahan bola api yang datang dengan berbagai sihir pertahanan yang dipadukan dengan 'Great Ice Shield'.
"Tsunade-sensei, bukannya ini sangat gawat? Mereka seperti akan saling membunuh," Irina yang duduk di tribun penonton tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia khawatir pada keadaan Naruto, begitu juga Menma (Hati nurani gadis gereja). Karena mereka ―Naruto dan Menma sudah berada di batasannnya.
"Kau terlalu khawatir, Irina."
BOOOOOMMM!
Itu adalah serangan terakhir milik Menma, dia kemudian jatuh lemas dengan tangan yang gemetar. Tubuhnya telah mencapai batas, dan untuk berdiri saja ia sudah tidak bisa.
"Sial ... Sial ... Sialan!"
Di sisi lain, Naruto keliahatannya masih sanggup untuk berdiri, bahkan jika perlu ia bisa melancarkan salah satu sihir 'terbaiknya' yakni 'Freeze' pada Phenex Muda. Tapi hal tersebut tidak ia lakukan, dan berjalan menuju Menma adalah apa yang Naruto pilih.
"Apa yang kau inginkan!? Kau pikir ini sudah berakhir!? Jangan bercanda! Aku masih bisa bertarung, akan kubakar kau sampai jadi abu dasar murid [Weed]," Seru Menma berusaha berdiri. Tapi belum sempat ia mengambil posisi tegak, kakinya lemas dan ia terjatuh kembali.
Para fans menatap dengan prihatin. Ini adalah kali pertama Menma bertarung secara habis-habisan. Dan yang terburuk dari semua itu, ada seorang siswa [Weed] yang dapat menahan serangan sekaliber Annihilated.
Itu tidak dapat dipercaya sampai-sampai dikira hanya mimpi oleh sebagian orang. Tapi bukti nyata tak bisa berbohong, di hadapan beratus-ratus pasang mata seorang membuktikan hal tersebut. Dan atas semua kesombongan yang telah diperbuatnya, ini akan menjadi penghakiman pribadi Naruto atas Menma.
Atau begitulah yang mereka pikirkan.
"Menma... " panggil Naruto menggantungkan ucapannya, "... menurutmu untuk apa sihir ada di dunia ini?" Lanjut Naruto sambil berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Menma.
"Apa yang kau bicarakan!? Tentu saja untuk memperbudak yang lain. Memangnya apa lagi?"
Dak!
Sebuah pukulan karate ringan menghantam kepala Menma.
"Ittai! Kau itu kenapa sih!"
Naruto mengabaikan gerutuan Menma dan berkata kembali, "Mungkin aku harus mengubah pertanyaanku jika kau tidak paham."
"Untuk apa kau mempelajari sihir? Tujuan yang sesungguhnya atas semua pencapaianmu, apa itu adalah memperbudak yang lain?" Tanya Naruto pada Menma. Meskipun wajahnya menunjukkan keseriusan, itu tidak memberikan kesan dingin seperti saat bertarung. Melainkan lebih ke perasaan yang menenangkan dan sejuk.
Menma terdiam, bola matanya melebar ketika Naruto menanyakan hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap iris shafire yang kerap kali memendam begitu banyak kesedihan itu.
"Aku ... Aku adalah seorang genius di keluarga Phenex. I-Itu hal yang wajar jika aku memperbudak yang lainnya untuk menengaskan betapa geniusnya ... aku."
'Benar. Aku memang seorang genius di keluarga Phenex. Tapi...' Menma menggigit bibirnya kuat, menyalurkan rasa frustasi yang tidak akan pernah diketahui orang lain.
'... ini menyakitkan.'
"U-UWOOOOOAAAAHHH~! Itulah sang Prodiy genius keluarga Phenex!"
"Sang genius yang sesungguhnya~!"
"Sang Genius Phenex~!"
Aku...
Aku hiks...
Kumohon...
Seseorang...
"Kau bukan seorang genius."
Tes...
Tanpa bisa dibendung. Untuk sebuah alasan yang bahkan tidak disadari oleh sang Prodigy Phenex, air mata mulai jatuh melalui pelupuk matanya. Perasaan tertekan, yang kerap kali datang bersama banyaknya harapan semua orang pada dirinya ... perasaan itu ... rasanya ingin meledak.
Siapapun...
Tolong katakan padaku...
"Kau sudah berjuang keras Menma."
Deg...
Menma mendongak, menatap lurus bola mata shafir di hadapannya dengan iris onyx-nya yang memerah. Jantungnya serasa akan meledak, sesuatu ... sesuatu yang sangat ingin sekali di dengarnya.
"Na-Naru-to ..."
Pemuda itu tidak menyahut panggilan Menma. Dia hanya terseyum, sebuah senyum yang kaya akan kehangatan seraya mengelus puncak surai hitam iblis keturunan Phenex tersebut.
"Hiks ... hiks ... HuwaaaaAAAAAaa! WaaAAaaaa! WhaaaaaAAAaaa!"
Greep...
Semua orang terdiam. Membeku di tempatnya ketika melihat apa yang dilakukan oleh sang Prodigy Phenex. Sosok pangeran yang selalu menindas para murid [Weed], pemimpin dari para pembully itu memeluk erat seorang Naruto layaknya anak kecil.
Tangisan yang sarat akan perasaan itu meledak di arena. Memecahkan segala ketegangan yang tercipta akibat pertarungan sebelumnya. Sedangkan Sasori, sebagai wasit ia dibuat kebingungan.
"Etto ... jadi bagaimana aku harus memutuskannya?"
.
.
.
To Be Continued.
A/N : Yosh, makasih buat kalian yang sudah memberikan dukungan pada Bocah dalam bentuk review, fav, foll, dan bahkan PM. Itu fantastis! Dan sangat membakar semangat Author :)
Bocah juga minta maaf karena chapter 4 hanya segini. Bukan maksud ingin buat chapter yang pendek-pendek. Tapi ini adalah sambungan dari chapter 3. Karena wordnya kemarin itu kepanjangan, jadi Bocah potong aja xD
Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya. Kenapa Naruto dan Menma? Ada apa ini? Yaoi?
Well ... saya akui, endingnya emang agak menyimpang. Tapi Naruto punya alasan kok. So, tunggu di chapter 5 ya ^_^
Rangkuman pertanyaan.
Dari sekian banyak chara cewek, apa gak ada yang lain selain Hinata? Ini fic Crossover dimana banyak pembaca ingin cerita Naruto dengan kekuatan, pasangan dan kehidupan baru?
Bukan masalah 'gak ada selain Hinata'. Bocah bisa saja membuat Naruto berpair dengan banyak gadis. Sebut saja Yasaka, Gabriel, Grayfia, Rias, Akeno, dan bahkan Ophis. Tapi bocah gak bisa bohong ... dari hati yang terdalam emang udah suka sama karakternya Hinata.
Bukan sekedar dari bacaan fanfict yang isinya hanya lemon dan lime. Tapi udah sejak kecil, kira-kira dari tahun 2005 ... satu tahun setelah keluarnya serial Naruto di (TV Swasta) Indonesia.
Saya gak akan maksa kalian (yang mempermasalahkan Pair) untuk membaca cerita ini. Karena NaruHina sudah menjadi identitas saya yang lain, dan ini bukan sekedar penilaian atas fisik atau paras yang cantik, tapi taste. Kamu minta alasan saya pakai Hinata? Sudah saya jelaskan di atas.
Satu lagi ...
... Bocah bikin cerita bukan untuk memuaskan pembaca. Ini sekedar bagaimana saya menuangkan imaginasi di otak saya. Itu menyenangkan, karena menulis cerita sudah menjadi hobi saya :)
Tapi ...
... mendapati orang-orang menikmati cerita yang saya buat juga memberikan kepuasan tersendiri. Jadi, saya hanya ambil yang positifnya saja xP
Apakah Naruto akan menggunakan [Sacred Gear]-nya?
Sebenarnya saya gak ingin mengecewakan pembaca sekalian. Tapi sampai pada chapter ini, [Gear] Naruto belum selesai. Perlu beberapa penyempurnaan pada rumus sihir serta waktu yang tepat untuk pengeluarannya, karena ya ... [Gear] yang ini adalah sebuah kecurangan (Cheat).
Reply some review.
Uzzu : Saya sudah pikirkan. Terlalu Godlike emang ngebosenin, dan terlalu sembunyi-sembunyi juga kurang bagus. Jadi saya ... bingung sekarang :/ #kenagaploksendal, pokoknya lihat aja deh :)
Faizal771 : Yah, Naruto emang lebih tua dari kebanyakan makhluk di dunia (ceritanya). Tapi karena 'sesuatu' Naruto gak bisa mengalami penuaan :3
FAISHAL ROKIE T : Sebenarnya, tanpa menggunakan kelemahan tiap Gear Naruto itu sudah lebih superior dari para Longinus. Jadi, meskipun tahu Naruto gak akan terlalu ambil pusing ...
Saputraluc000 : Trimakasih atas reviewnya. Di chapter 2 dan 3 saya emang sengaja mengambil sudut pandang Irina sebagai pengenalan para tokoh. Alasannya, karena kalau saya memperkenalkan Naruto dari POVnya atau POV Author, kesan misteriusnya jadi gak kerasa xD
Th0822626 : Bukan devil slayer sih, cuman sihir aja o.o
Pratamamirai7 : Bijuu ya? coba bocah pikir ... liat ntar deh :3
Sekali lagi, saya minta maaf karena chapter ini pendek dan tidak memuaskan.
Bocah Sekolah cabut ~!
