THIS IS BL STORY! IF YOU DON'T LIKE, JUST LEAVE.
CLICK CLOSE AND DON'T GO BACK IF YOU JUST WANT TO JUDGE ME BY THE ROUGH WAY!
.
.
DON'T FORGET TO LEAVE COMMENTS, CLICK FAV AND FOLLOW TO GET NOTIFICATION IF THE STORY UPDATE!
.
.
MORE COMMENT, MORE UPDATE!
.
.
HAPPY READING !
.
.
Duduk lemas di bangku ruang tunggu dengan bulir keringat di dahinya. Chanyeol sengaja membawa dokter yang menangani Baekhyun di rumah sakit waktu lalu untuk memastikan kondisi Baekhyun dengan tepat.
"Dia bilang sedikit demam kemarin, apa itu baik-baik saja?" tanya Chanyeol,
"Eum, apa lukamu terasa sakit atau gatal?"
Baekhyun menatap Chanyeol, lelaki itu memberinya tatapan menuntut. Mengharuskannya untuk jujur, jadi dia mengangguk dan menunjuk pada luka robek di dadanya.
Dokter memeriksanya, melihat lukanya dengan serius kemudian menutupnya kembali dengan kasa baru.
"Kurasa ini ditekan, ada memar baru di dekat lukanya. Jadi dia demam memang karena luka, namun malah ditambah dengan menekan lukanya. Seharusnya sudah baik-baik saja, luka tusuknya juga sudah membaik, namun ini hanya robekan malah menjadi yang terparah." Jelas dokternya, menggulung stetoskop dan memasukkannya ke saku.
"Apa dadamu terbentur kemarin atau beberapa waktu sebelumnya?" tanya Dokter Nam pada Baekhyun, pria kecil itu menggeleng.
"Sungguh?" Chanyeol mengambil langkah dan memposisikan di hadapannya, menatapnya menuntut untuk mengatakan jujur. Namun Baekhyun tetap menggeleng, semuanya sudah selesai dan alangkah baiknya dia menyembunyikan kejadian kemarin. Lagi pula, mungkin kemarin itu tidak sengaja.
"Baekhyun?" Chanyeol masih tak mempercayainya, Baekhyun menghela nafas, "Aku mengantuk, duduk di depan komputer dan dadaku mencium ujung meja…"
Chanyeol masih menatapnya, memberikan tatapan yang intens meminta pria yang lebih kecil itu lebih jujur lagi. "….sakit." lanjut Baekhyun pelan.
Chanyeol menghela nafas, setidaknya tidak ada orang lain lagi yang berusaha menyakiti Baekhyun. Dia meminta resep obat dan beberapa saran untuk menangani si hiperaktif ini selama lukanya belum sembuh total.
.
.
.
"C-c-chanyeol ah!" panggil Baekhyun, dia menarik ulur sabuk pengamannya menandakan bahwa dia kurang menyenangi suasana saat itu atau ada sesuatu yang ingin dia katakan. Bibir bawahnya ia gigit dengan mata yang tak kunjung beradu dengan Chanyeol yang sesekali melirik padanya.
"Apa? Kau memendam sesuatu." Ucap Chanyeol pelan, kalimatnya menekan pria yang lebih kecil telak, bahu sempit itu sedikit berjengit mendengar bagaimana Chanyeol mengetahui dirinya.
"Ayo pulang ke apartemen saja!" cicit Baekhyun pelan, Chanyeol berada di pertigaan, jika dia ambil kiri maka dia akan sampai di dorm, dan jika dia ambil lurus maka mereka akan tidur di apartemen yang mereka beli.
"Kenapa? Apa kau masih merasa tak nyaman dengan mereka? Mereka bahkan menghawatirkanmu, Baekhyun."
Baekhyun menatapnya, dia menggeleng.
"Aku salah, Chanyeol. Aku masih jadi pengecut yang tak punya muka untuk bertatap muka dengan mereka." Ucap Baekhyun pelan.
"Kau tak memiliki kesalahan apapun, karir kami semua baik-baik saja. Begitu juga dengan karirmu, semuanya baik dan tak ada kerugian yang ditimbulkan. Sekalipun ada, kau sudah tahu bahwa itu telah tertutup dengan kenaikan saham yang melebihi waktu sebelumnya, tidakkah kau mengerti?" cerca Chanyeol dengan nada sedikit meninggi, dia meremas stir dan tetap berbelok ke kiri untuk sampai pada dorm mereka.
Kecepatannya naik, remasan pada stir juga kian mengencang. Dia tak menyukai ketika Baekhyun kerap menyalahkan dirinya, merasa tak berguna dan selalu menghindari semuanya. Dia ingin mendorong Baekhyun untuk lebih percaya diri dan berhenti untuk menyalahkan dirinya. Tapi Baekhyun nyatanya malah berkaca-kaca ketakutan di kursinya, meremat belt yang terpasang dan menggigit bibirnya. Sesekali dia menyedot pipinya ke dalam, matanya berkeliling dan duduk dengan gusar tak nyaman.
Chanyeol tak dapat menampik itu, terlihat dari sudut matanya tingkah Baekhyun yang berusaha untuk menyembunyikan air matanya yang kian mengenang.
Chanyeol menepikan mobil, dia menatap Baekhyun penuh tuntutan dan tersirat kesal di wajahnya. "Semuanya baik, Baekhyun ah. Tak ada yang membencimu, orang-orang tak melakukan itu. Buka matamu dan hadapi semuanya, aku berada di depan untuk menjadi tameng bagimu."
Baekhyun menelan ludahnya susah payah, mengangkat wajahnya dan mengulum bibirnya, dia merasa Chanyeol amat marah kali ini. Pria tinggi itu tak pernah setegas ini sebelumnya. Nafasnya seolah tertarik seluruhnya ketika Chanyeol menempel pada bibirnya dan bermain dengan lembut.
Tangannya meremat pakaian Chanyeol dan ikut mengimbangi gerak bibir tebal yang berada di atas bibirnya itu. Dia menjauh ketika nafasnya mulai sesak, menatap Chanyeol yang masih menatapnya menuntut. Pria ini memintanya untuk berubah dan mendorongnya untuk terus tumbuh dewasa. Dia terlalu manja selama ini, dan dirasa Chanyeol sudah cukup muak dengan sikap pengecutnya.
"Dorm atau—"
"Dorm."
Chanyeol mencuri kecupan pada bibirnya kemudian kembali menjalankan mobilnya, sedikit banyak dia merasa bersalah telah begitu kasar pada Baekhyun. "Chanyeol~" panggil Baekhyun pelan.
"Apa kau merasa muak karena aku manja dan tak dapat menyelesaikan masalahku?" tanya Baekhyun to the point, anak ini cukup membuat Chanyeol merasa terkejut. Namun apa yang disukainya dari Baekhyun adalah hal ini, dia polos dan selalu terbuka. Namun kepribadianya akan menjadi diam ketika dia berada dalam suasana yang tidak disukainya.
"Kau menyelesaikan banyak masalah dengan baik, Baekhyun. Kau penengah di antara semua member, seribu masalah di antara kami kau yang menyelesaikannya. Jangan selalu memikirkan orang lain, dirimu juga butuh keegoisan. Aku mengerti ketika dirimu ketakutan setengah mati kala masalah ini datang, ini pertama bagimu." Chanyeol melirik Baekhyun sesekali.
"Maafkan aku jika caraku terlalu mengejutkan dan kasar bagimu, aku menyesal."
"Aku akan berubah, Chanyeol." Ucap Baekhyun pelan, Chanyeol meraakan getaran pada bibii tipis itu kala kalimat pendek itu terucap.
Bibirnya tertarik membentuk senyum, dia selalu bahagia ketika masalah apapun akan cepat selesai jika itu dengan Baekhyun. Namun pengecualian untuk masalah ini karena memang Baekhyun terlalu kaget dan terlalu banyak mendapat tekanan. Dia benar-benar terpojokkan, masalahnya juga datang terlalu tiba-tiba.
"Tetap jadi dirimu, Baekhyun. Hanya dorong dirimu untuk lebih berani dan percaya pada dirimu sendiri."
"Ayay, Captain!"
Baekhyun berseru seraya membuat gestur hormat dan menampilkan deret gigi rapinya. Ini juga yang Chanyeol suka, Baekhyun selalu menerima saran dengan baik dan dapat mencairkan suasana dengan cepat. Keduanya tertawa, gelak Chanyeol lebih mendominasi, kemudian bergantian dengan gelak tawa Baekhyun yang mendominasi ketika gigi Chanyeol terantuk stir.
"Hk, hehehe. Aku berharap gigimu kena lebih sering." Ucap Baekhyun di sisa tawanya.
"Eoh?"
"Jadi tidak ada yang gigit bibir dan 'sesuatu'ku kapanpun itu."
"Anak kita akan gigit dadamu di masa depan, ada penggantiku."
"Dadaku terluka, bebekas. Jadi dia tak mau gigit." Balas Baekhyun.
"Berarti aku yang akan menggigitmu selamanya."
"Kau kan sudah ompong, Chanyeol. Aku bilang kan kau akan lebih sering terantuk stir, gigimu habis. Aku bisa tenang."
"Berhenti bahas hal ini, Baekhyun. Kita pulang ke dorm dan tak mungkin membuat member lain tak bisa tidur." Chanyeol berusaha untuk menghentikan percakapan ini.
"Makanya jangan lakukan!"
"Kau mengingatkanku!"
"Aku punya luka tusuk dan goresan panjang di dada, masih perlu bed rest."
Chanyeol menghela nafas, si kecil Baekhyun bahkan menggunakan hal mengerikan itu di candaan mereka. Dia benar-benar membuat semuanya ringan sebenarnya.
.
.
.
.
Baekhyun datang dengan gugup sekalipun tadi dia sudah tersenyum dan saling melempar candaan, Chanyeol tahu pria kecil di sampingnya ini gugup. Tapi Baekhyun menyembunyikannya, dia tak ingin Chanyeol marah lagi, dia tak ingin membuat Chanyeol muak. Dan Chanyeol tahu itu, wajah Baekhyun jelas kentara tertekannya.
"Fighting, Bobohu!" bisik Chanyeol seraya meraih tangan Baekhyun dan mengangkatnya membuat gestur 'semangat' dengan kepalan tangan.
Baekhyun tersenyum, dia punya Chanyeol.
Pintu terbuka, beberapa orang di ruang tamu menoleh, Sehun dengan keripik di pangkuan, Jongdae dengan kopi di tangannya dan Kyungsoo dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Wasseo? Hey, kemari dan duduk bersama. Kami menonton film Kyungsoo." Ujar Jongdae, dia menepuk sebelahnya yang kosong.
Baekhyun tersenyum, melangkah lebih dekat dengan kekehan kecil ketika melihat Sehun mengaduh menggigit lidahnya sendiri. Namun kegugupannya masih kentara, tangannya tak lepas dari Chanyeol, menarik laki-laki itu untuk tetap disampingnya.
"Apa lukamu membaik?" tanya Jongdae.
"Ya, mulai mengering." Jawab Baekhyun seadanya.
"Apa itu terasa sakit, hyung?" tanya Sehun polos.
Semuanya menghela nafas, menatap Sehun jengah. Pertanyaan Sehun merupakan retorik yang tak berbobot.
"Tidak ada rasanya sama sekali. Sekalipun robek juga, itu terasa menggelitik." Jawab Baekhyun dengan nada meledek, dia mulai melupakan masalahnya dan merasa ringan dengan suasananya.
"Aah~ pasti kau tertawa ketika dokter menjahit lukamu." Kini Suho datang dengan menimpali percakapan mereka, ada perasan jeruk di tangannya. Dia tertawa dengan leluconnya, namun tak ada yang tertawa selain dirinya.
"Hyung…."
"Eumm, leluconmu tak lucu sama sekali." Kyungsoo menimpali Sehun yang sama speechless nya dengan orang-orang. Suasana hening beberapa detik, tak ada yang menimpali lelucon yang tak berbobot itu, namun ledakan tawa terdengar kemudian, menertawakan Suho yang memerah malu.
"Hyung, aku harap kau tak bicara lagi." Kali ini Jongdae yang bicara,
"Ah! Dimana yang lain?" tanya Chanyeol,
"Mereka punya jadwal." Jawab Suho, kali ini di tak lagi berbicara hal lucu.
Percakapan mulai terbentuk, lama-lama menjadi pembicaraan abstrak yang tak bermutu dengan gelak tawa dan lemparan keripik. Ini sudah waktunya makan malam, mereka memesan banyak makanan dengan kartu kredit Chanyeol yang menjadi tumbal.
Baekhyun telah jatuh tertidur di paha Chanyeol sejak tadi dan tampak tak terganggu dengan bisingnya tawa mereka. Malah dia yang membuat semua orang terawa ketika dia mengikik seperti anjing beberapa kali ketika dia tertidur.
Ketika semuanya lelah tertawa, tak ada lagi bahan percakapan dan perut rasanya mulai lapar, semuanya diam. Sehun yang berlari kecil ke dapur dan mencari makanan pengganjal kembali dengan sebatang cokelat yang telah patah.
"Aku hanya dapat ini, kita terlalu sibuk kemarin. Tak ada yang beli makanan." Keluh Sehun,
"Omong-omong, ini jadwalmu untuk beli makanan." Celutuk Kyungsoo.
"Apa alasanmu kali ini, Sehun?" tanya Jongdae. Dia hafal betul Sehun terlalu menyayangi uangnya, menabung untuk beli barang kesukaannya dan mengemis untuk ditlaktir pada yang lebih tua darinya. Dan ketika giliran dia berbelanja, dia akan beralasan, entah itu dia belum mendapat gajinya atau uangnya habis dia belikan topi.
"Tidak ada alasan, Jongdae hyung pasti menyerangku." Jawab Sehun.
Semuanya terkekeh, Sehun mengalah kali ini karena hyung nya berada dalam mood untuk menindasnya. Ketika mulut Chanyeol mulai terbuka, Sehun memutar matanya untuk mencari objek yang akan dia jadikan topik untuk mengalihkan serapah si tiang listrik itu.
"Baekhyun hyung tidur!" Sehun mengatakannya dengan cepat, kemudian Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.
"Apa dia berkeringat?" tanya Kyungsoo. Suho mendekat padanya dengan membawa tisu, mengelap keringat di dahi dan leher pria yang tertidur itu.
Chanyeol menyingkirkan bantal yang ada di pahanya, membiarkan kepala Baekhyun langsung bertumpu pada pahanya. Terasa hangat, dia memeriksa kening Baekhyun kemudian mengangkatnya dengan lembut. Baekhyun benar-benar demam, dia tak mengatakan apapun dan membawa Baekhyun ke kamarnya, menyalakan penghangat dan menyelimutinya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Suho, semuanya menatap Chanyeol penasaran.
"Dia terantuk meja, dadanya memar tepat di lukanya." Ucap Chanyeol,
"Woow, dia terlalu aktif." Timpal Jongdae.
"Kukira dia akan diam setelah dapat luka seperti itu." Celutuk Kyungsoo, dia heran dengan orang yang selalu tersenyum itu. Melempar candaan, jahil kesana kesini dan berteriak sambil berjoget dihadapan semua orang.
"Apa hyung percaya dia terantuk meja?" tanya Sehun, semuanya diam. Tatapan tertuju pada Chanyeol, memberikan tatapan tanya. Pasalnya Baekhyun senang menipu, dan Sehun yang selalu dia tipu. Wajar jika anak itu yang tak begitu mudah dengan apa yang dia dengar soal Baekhyun.
Dan Chanyeol baru sadar bahwa seharusnya dia tak percaya dengan alasan seperti itu.
"Kurasa~ tidak." Jawab Chanyeol agak lama. Dia kemudian melangkah ke kamar dan mengambil ponsel Baekhyun, membuka pesan dan media sosialnya. Memeriksa deretan pesan yang kebanyakan dari nomor tak dikenal itu.
"Tak ada yang menyeramkan selain pesan-pesan sasaeng." Sehun berkomentar.
Jari Jongdae bergerak untuk ikut menyentuh layar, menahan gerak jemari Chanyeol pada layar. Dia kemudian membuka satu pesan yang berisi susunan huruf acak, dia tak megerti. Dia melihatnya dengan serius walau dia tak mengerti apapun.
Sudah banyak pesan dari nomor itu, dia melihat pesan sebelumnya, berisikan hal yang sama. Dan Baekhyun pernah membalasnya sekali dengan deretan huruf acak yang sama, Chanyeol segera melihat tanggalnya, ini dikirim sejak Baekhyun siuman. Pesan ini belum lama, namun sudah tenggelam dengan pesan-pesan yang lain yang tak berguna.
"Seseorang masih mengganggunya." Celutuk Sehun.
Chanyeol meremat ponsel kekasihnya itu, emosinya terasa memuncak, Baekhyun masih menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tanggal 25, apa itu terjadi sebelum penangkapan?"
Penangkapan pelaku tanggal 26, emosi Chanyeol mereda.
"Ya, ini terjadi sebelum penangkapan." Jawab Chanyeol merasa lega, semuanya juga merasakan hal yang sama. Kemudian Chanyeol berdiri dan mengembalikan ponsel Baekhyun ke tempatnya setelah mengirimkan pesan itu ke nomor teleponnya dan menghapusnya dengan cepat. Sejujurnya, dia tak begitu merasa lega, masih banyak yag mengganjalnya. Dia tak begitu yakin Baekhyun baik dibalik punggungnya.
"Baekhyun akan marah jika tahu aku membuka ponselnya." Ujar Chanyeol pelan. Semua member terlihat murung ketika kembali, melihat Chanyeol tampak stress dan mulutnya terkunci seketika. Dia tampak berpikir, dan semuanya mengerti apa yang dia pikirkan.
"Mungkin kita harus buat Baekhyun menyadari bahwa dia tak melakukan hal yang salah." Celutuk Jongdae, dia menyodorkan ponselnya ke tengah, mencari berita di Naver dan mengambil screenshotnya. Dia juga tak lupa untuk melakukan hal yang sama pada komentar baik yang penggemar kirim di portal berita dan trending dunia yang menunjukkan dukungan untuk Baekhyun.
Tak ada yang membencinya, itulah yang harus mereka tunjukkan pada Baekhyun yang merajuk.
Semuanya memposting di galeri grup chat mereka, memberi sindiran halus pada Baekhyun yang masih tertidur. Cukup lama sibuk dengan ponsel masing-masing, hingga Jongin dan yang lainnya datang dengan banyak makanan di kantung yang mereka bawa.
"Makan lagi?" Sehun tampak malas, dia ingin menunjukkan perutnya di konser.
"Tak perlu makan jika tak mau." Balas Kai seraya meraih paha ayam.
Sehun mencebik, meraih burger dan soda. Menggigit makananya membelakangi Jongin.
.
.
.
Paginya cukup produktif, dia sudah olahraga dan masak sarapan untuk membernya, dia juga sudah mandi dan keramas. Tubuhnya begitu segar, dia merasa paginya begitu sempurna. Pekerjaannya rampung, Sehun dan Suho tak seberantakan kemarin-kemarin di dapur. Kemasan makanan telah masuk ke tong sampah dan dipisah antara sampah basah dan kering, mereka melakukannya.
Dia bergerak untuk membangunkan Baekhyun dan memberinya teh hangat atau mungkin obat untuk demamnya, Chanyeol menitipkan obat yang dokter beri pada mereka semua, meminta semua member untuk mengingat letak obat Baekhyun dan kapan dia harus minum.
"Baekhyun?" Panggil Kyungsoo, kepalanya melongok ke dalam. Merasa tak ada jawaban, dia mulai melangkah masuk dan menangkap bahwa tak ada siapapun di kasur. Setahunya Baekhyun belum keluar kamar sejak kemarin malam. Tapi sekarang menghilang dengan bekas selimut yang tak dirapikan.
"Baekhyun hyung?" Panggil Kyungsoo lagi, merasa tak ada jawaban, dia memeriksa kamar mandi. Tak ada siapapun, jadi Kyungsoo berjalan keluar dan menghampiri siapapun yang ditemuinya.
"Jongin ah, Xiu hyung, dimana Baekhyun?" tanya Kyungsoo.
"Huh? Dia ada di kamarnya, belum keluar sejak malam." Jawab Jongin setelah menyesap yoghurtnya.
"Apa Chanyeol hyung tidur bersamanya tadi malam?" tanya Kyungsoo.
"Ya, sampai pukul satu malam, setelahnya dia harus membantu Jongdae recording album barunya." Jawab Jongin.
Kyungsoo berkerut, dia kembali ke kamar Baekhyun, Chanyeol dan Jongin tanpa berkata lagi. Memeriksa ulang kamarnya, berpindah ke kamar lain namun sama sekali tak menemukan apapun.
"Apa Chanyeol membawa Baekhyun?" tanya Xiumin, Jongin menatapnya heran. Dia menggeleng.
"Aku bangun masih ada Baekhyun hyung di kasurnya."
Semuanya mulai heran, panik juga mulai menyerang. Kyungsoo kembali mengitari tiap ruangan, namun kali ini lebih gusar. Pikirannya mulai bercabang, dan ketika Jongin memekik keras di kamarnya, Xiumin dan Kyungsoo menghampirinya dengan cepat.
Sehun yang masih tidur juga ikut terbangun dan menghampiri asal suara, melihat kerumunan tiga orang dan Baekhyun tertidur dengan wajah pucat dan bibir diplester, jarum suntik masih menempel di lengan kanannya, bersama obat di tabung suntikannya, belum di tekan, mungkin obatnya belum masuk, tangannya terikat dan kakinya juga dalam keadaan yang sama.
Baekhyun terlihat mengerikan, dan ini merupakan hal yang menyeramkan yang pernah mereka lihat secara nyata.
"Hk, hk" Baekhyun menatap mereka, menggeleng ketika Jongin mengeluarkan ponselnya. Kyungsoo mencabut jarum suntiknya perlahan, mempercayai tangannya yang tak berilmu medis apapun. Sehun dan Xiumin melepas tali. Kemudian Suho melepas plester yang menempel pada bibir tipis itu perlahan.
"Hk, jangan hubungi siapapun!" lirih Baekhyun, dia kemudian bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang, menghapus air matanya dan menatap mereka memohon.
Sehun tampak tak setuju, namun ketika Jongdae mengatakan mungkin seseorang mengancamnya dan menyarankan semuanya untuk mendengarkan Baekhyun dulu. Baekhyun diberi minum dan dibantu untuk naik ke ranjang, semuanya melingkar dan menunggu apa yang akan Baekhyun sampaikan.
"Semuanya terjadi dengan cepat, jangan pikirkan. Aku juga terkejut, kuharap semuanya tutup mulut." Lirih Baekhyun pelan, namun bukan itu yang ingin mereka dengar.
"Setidaknya kami dapat membantu, atau mungkin jika Chanyeol-"
"Jangan beritahu dia!" potong Baekhyun cepat.
"Hyung!"
"Apa?" Baekhyun mulai tersulut, menatap Sehun bengis.
"Jangan buat semuanya terancam!" sentak Sehun cepat, Suho menarik tangannya dan memberi kode agar Sehun memikirkan apa yang akan dia katakana pada Baekhyun yang sama tertekannya.
"Aku yang terancam disini! Mereka ingin membunuhku!" Bentak Baekhyun keras, dia bangun dan melempar selimut, lewat melalui celah kecil diantara Xiumin dan Jongdae, menabrak bahunya membuat keduanya tersentak beberapa langkah kebelakang. Dia pergi dengan langkah terhuyung, meringis ketika merasa kakinya kebas dan sekitaran bibirnya begitu perih bekas plester yang tertempel acak.
Sehun menarik nafasnya, bergumam maaf pada semua yang lebih tua darinya itu kemudian berbalik dan menyusul Baekhyun.
Langkahnya semakin cepat, ketika lift telah tertutup, dia menatap kemana Baekhyun akan pergi, kemudian dia berlari melalui tangga darurat. Matanya berputar ketika tak mendapati Baekhyun dimanapun.
Matanya berpendar ke segala arah, menangkap ringisan kecil. Kaki beralaskan sandal bergambar ular merah itu melangkah menumpu pada tembok sesekali.
"Hyung!" Sehun berseru, berlari ke arah Baekhyun dan menarik tangannya.
Baekhyun berbalik, melayangkan satu bogeman pada pipi Sehun namun tak cukup keras. Tak cukup untuk membuatnya tersungkur, dia menoleh pada Baekhyun yang nyatanya tak tega memukulnya, dia tersenyum, menatap Baekhyun kemudian memeluknya.
"Aku akan tutup mulut, maafkan aku. Jika butuh bantuan, aku siap." Bisik Sehun pelan.
"Jangan berlagak seperti dewasa, anak kecil." Ledek Baekhyun pada akhirnya. Dia berpikir alangkah tak pantasnya dia sungguhan marah pada Sehun, dia hanya takut dan emosi.
Sehun mengambil alih kunci mobil Baekhyun dan mempersilakan pria kecil itu untuk duduk di kursi penumpang, dia mengemudi, membawa Baekhyun pada imbalan permintaan maafnya.
Berakhir dengan mereka meminum kopi bersama, mereka berbaikan dengan cepat. Sehun dan Baekhyun pergi ke apotek bersama, membeli plester dan antibiotic untuk luka Baekhyun, mereka juga membeli salep untuk memar untuk bekas ikatan di tangan dan kaki Baekhyun.
"Itu membuatmu harus rehat." Celutuk Sehun seraya menunjuk pergelangan tangan Baekhyun yang membiru.
"Ini bisa ditutup, aku tak perlu lama-lama vakum."
"Chanyeol hyung akan marah jika tahu kau mengatakan itu."
Baekhyun tak menanggapi, kembali ke dorm dan beristirahat dengan si maknae yang menginginkan satu ranjang dengannya.
"Hyung, aku sungguhan tidur dengan memelukmu, ya. Nanti pagi kau harus tetap ada di pelukanku!" pinta Sehun, Baekhyun mengerti, bukan itu yang ingin Sehun katakan. Ini menyangkut kejadian tadi pagi yang sebenarnya membuatnya takut juga, namun dia berusaha menekan semuanya dan menguburnya dengan kata 'baik-baik saja'.
"Peluk aku sampai kau puas, bocah! Dengan begitu orang jahat tak akan berani menyentuhku!"
.
.
.
Chanyeol tak masalah ketika dirinya menemukan Sehun menempel pada Baekhyun ketika dia menyelesaikan syutingnya, anak itu memang selalu begitu jika ada maunya. Semalam dia merangkak ke ranjang dan tidur dengan memeluk Baekhyun dari belakang, berdempat di kasur dengan Baekhyun yang paling kecil di tengah, tapi ketika mendengar Sehun mengigau, melihat dahi anak itu berkeringat dan mengibaskan tangannya, Chanyeol pindah ke kamar Suho untuk tidur, tak lagi merecoki mereka yang mulai kegerahan.
"Apa pagimu menyenangkan?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun memegangi perutnya usai bercanda dengan Sehun.
"Hu-uh, apa tidurmu nyenyak?" tanya Baekhyun balik, Chanyeol mengangguk. Dia kemudian membawa Baekhyun untuk duduk di sampingnya, hanya tersisa mereka dan Jongin di dorm, yang lainnya memiliki jadwal masing-masing.
"Jongin akan bangun siang, jadi-"
"Kita akan memasak sarapan!" Potong Baekhyun cepat, dia tahu apa yang Chanyeol inginkan, namun Chanyeol mungkin akan mengintrogasinya ketika melihat memar di pergelangan tangan, lengan dan pergelangan kakinya. Chanyeol harus menekan kemauannya, melirik pada bawahnya yang bernasib malang karena Baekhyun jelas menolaknya memberi waktu. Namun pria kecil itu tetap tampak tak peduli, dia tak ingin memarnya terlihat.
"Baekhyun, kau cukur?" tanya Chanyeol, mengelus philtrum Baekhyun yang terlihat lembut dari hari sebelumnya.
Baekhyun mengelus philtrumnya, ini bukan cukur.
"Ya, aku bercukur bersama Sehun kemarin." Jawab Baekhyun, berusaha untuk mengalihkan fokusnya pada hal lain.
Kemarin mulutnya ditempeli lakban dan plester tak beraturan.
"Apa kau salah pakai krim cukur?" Tanya Chanyeol lagi, menelisik pada bekas merah di sekitar mulut Baekhyun, pria kecil itu mengangguk, mengiyakan saja.
Baekhyun membahas hal lain, dia terus menanyai Chanyeol soal ini itu, membuat pria itu terkadang harus ekstra sabat ketika Baekhyun tak berhenti bertanya. Namun, ketika Chanyeol memintanya untuk melepas calana panjang dan kaus kakinya, melepas baju panjang yang menenggelamkan kedua pergelangan tangannya, Baekhyun malah terlihat marah membuat Chanyeol memilih untuk diam.
"Maafkan aku, biasanya kau hanya pakai celana dalam. Ini aneh bagiku." Tutur Chanyeol lembut, menarik Baekhyun kedalam pelukannya. Dia ingin mengisi energi sebelum syuting pukul sepuluh nanti.
.
.
.
.
.
Chanyeol mulai tak khawatir meninggalkan Baekhyun dan membiarkan anak itu berkeliaran sendiri atau hanya dengan managernya, lukanya juga sembuh total dan Baekhyun mulai muncul dengan memulai siaran gaming-nya, dia banyak mendapatkan dukungan membuatnya pulang dengan senyum lebar.
Sekarang semuanya tengah bersiap untuk tampil di acara penghargaan, namun Baekhyun malah menangis karena dia belum diizinkan untuk menari. Yang dilakukannya malah memposting kekesalannya karena belum diperbolehkan menari, dia ingin menyapa penggemar dengan keringat dan nafas yang terengah usai menari, penggemar selalu menyukai keadannya yang menurutnya sedang jelek-jeleknya seperti itu.
Ketika semuanya telah selesai, Baekhyun tak tidur di jok belakang bersama ponselnya.
"Lain kali tinggalkan aku saja di dorm!" rutuk Baekhyun, Suho dan Sehun menengok ke belakang, melihat Baekhyun mengangkat kakinya, naik ke kursi dan mencebik.
Mereka hanya menatapnya jengah, Sehun melempar kaus kakinya ke belakang membuat Baekhyun menjerit. Chanyeol dan Jongdae yang tengah tertidur ikut merutuk bersama Baekhyun, menyalahkan Baekhyun yang terlalu berisik.
"Tutup mulutmu, Chanyeol!"
Chanyeol menutup mulutnya, kalimat seperti itu merupakan sirine bahaya dari Baekhyun. Bisa saja anak iu merajuk dalam waktu yang lama membuatnya rugi sendiri.
Mereka turun dari mobil dengan wajah mengantuk, tak peduli tatanan rambut mereka dan hanya terus melangkah sampai ranjang. Untuk gosok gigi dan mencuci wajah, hanya Suho yang melakukannya, hanya dia yang peduli pada wajahnya.
Besok mereka ada jadwal masing-masing, berpencar dan meninggalkan beberapa orang kesepian di dorm seperti biasa. Lagi-lagi hanya Baekhyun tersisisa, diam di depan televisi bersama keripik singkong di pangkuannya. Dia hampir mati kebosanan, ketika bibirnya mencebik karena tak ada apapun yang menarik di portal berita, tenggorokannya seolah ditonjok keras sampai dia pengap sendiri. Dia selalu ingin mengutuk semua orang yang terlalu menganggapnya lemah, menyuruhnya terus beristirahat dan beristirahat. Dia muak terus diam, tak memiliki teman untuk bermain dan ketika dia merengek, Chanyeol akan terus menyuruhnya istirahat.
Tangannya meraih ponsel, ternyata ada notifikasi dari grup mereka. Sudah cukup lama, namun Baekhyun baru saja membukanya. Mereka mengirim banyak screenshot artikel tentang dukungan untuknya, mereka berbincang banyak soal dirinya. Diam-diam dia tersenyum, bersyukur memiliki teman yang mendukungnya penuh.
Jemarinya bergerak ke aplikasi lain, menyentuh aplikasi pencarian. Belum sempat dirinya mengetik, namanya menjadi bahasan teratas.
Dua detik yang lalu, berita tentang dirinya berkelahi dengan Sehun di basement waktu lalu diposting.
Baekhyun membaca dengan seksama, berita itu hanya mengatakan bahwa dirinya memukul Sehun lalu meninggalkan si maknae disana dan pergi dengan mobilnya. Jelas namanya yang dikenal salah, berita itu tak sekalipun mengatakan bahwa dirinya berbaikan. Semuanya akan salah paham.
"Se-sehun ah" lirih Bekhyun ketika telepon telah tersambung dengan Sehun. Namun anak itu malah tertawa, dia mengatakan bahwa Baekhyun jangan menghawatirkan apapun.
Pembicaraannya dengan Sehun cukup melegakan karena anak itu mengajaknya untuk meluruskan berita yang tersebar. Dadanya naik turun teratur, merasa rileks. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan, membeli kopi atau hal lain yang ditemukannya nanti.
Beberapa saat kemudian, Chanyeol menghubunginya.
"Baekhyunee, kau dimana? Apa semuanya baik? Tuhan, kau tetaplah di dorm! Hubungi kakakmu atau kakakku atau siapapun yang kau percaya sayang-"
"Tidak apa-apa, semuanya akan selesai. Sehun akan menyelesaikannya bersamaku ketika dia pulang nanti." Jawab Baekhyun,
"Aku-"
"Tetap di tempat kerjamu, Chanyeol! Aku tak apa-apa!" bentak Baekhyun cepat, dia menyesap stroberi smoothie yang dia beli tadi.
"Aku sampai sekarang bisa jalan-jalan dan membeli minuman, makan di restoran, semuanya bisa kulakukan seperti biasa. Jangan berlebihan!"
Chanyeol mengatakan ya dengan nada rendah, dia menutup sambungannya setelah mengatakan 'aku mencintaimu' pada pria yang lebih kecil itu. Baekhyun menarik nafasnya berat, kembali melanjutkan langkahnya untuk berkeliling. Diam-diam dia tersenyum mengingat bagaimana Chanyeol begitu menghawatirkannya, jantungnya bertalu dengan cepat, mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 5 tahun, tapi rasanya masih sama.
Kakinya berhenti dia sebuah toko musik, dia memilah satu gitar, berencana untuk membelikan Chanyeol satu. Dia menghubungi Chanyeol dan bertanya merk apa kira-kira yang diinginkannya, dia tak pintar memilih. Dan pria itu mengatakannya secara gamblang, tak mengira bahwa kekasihnya ada di toko musik dan berencana untuk merogoh koceknya untuk sebuah gitar.
Baekhyun tersenyum puas ketika gitar yang ia beli telah ia beri stiker, menulis alamat managernya untuk kiriman gitar yang ia beli nanti, ia masih ingin jalan-jalan, jadi meminta si penjaga toko untuk mengantarkan gitarnya.
Dia keluar dengan perasaan yang ringan, menyusuri trotoar dengan lompatan kecil. Sesekali dia menendang batu kerikil yang dekat dengan kakinya.
"Menyenangkan mendapat kepedulian?"
Baekhyun baru saja ingin melirik ke belakang ketika suara itu terdengar terlalu dekat dengannya. Seseorang mendorongnya ke jalan raya, klakson mobil berbunyi nyaring dan berantakan, dirinya berguling di aspal, merasa dirinya akan mati. Dadanya berdentum kencang, dia bahkan tak bernafas, matanya membola bersamaan dengan bunyi panjang klakson kepanikan si pengemudi.
Namun tangan kekar menariknya ke pinggir jalan, membawanya dalam pelukan usai memungut topi hitam yang ia pakai dan memakaikannya kembali.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE.
.
.
.
Hi, ini udah di edit. Lebih panjang dan mungkin lebih baik dari sebelumnya –aku bakal berusaha untuk itu di tiap chapternya.
Terima kasih untuk semua yang telah meninggalkan komentar. Terlebih yang ngasih koreksi, aku sadar betul ff ini ditulis pas ujian. Dimana titik kegabutanku di asrama mencapai angka tertinggi dan gak tau harus ngapain –jangan ditiru soal aku yang belajar mepet waktu tidur. Sekarang bisa dibilang mood nulis aku lagi baik, soalnya lagi di rumah. Wkwkwk.
Sekian ku berbacod, don't forget to review, follow and fav.
