Autumn in Paris

Remake story by Ilana Tan

Ps: Author hanya mengganti nama tokoh dan beberapa detail lainnya untuk menunjang jalannya cerita

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Oh Sehun

(Genderswitch)

.

Seandainya masih ada harapan - sekecil apapun - untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu.

.

e)(o

.

Chapter 3

.

"Maaf, aku terlambat."

Chanyeol mengangkat wajah dan melihat Baekhyun berdiri di samping meja dengan wajah memerah dan napas terengah-engah. Ikal-ikal pendek rambutnya agak berantakan akibat angin, namun sama sekali tidak mengacaukan penampilannya.

"Sudah lama?" tanya gadis itu lagi sambil tersenyum lebar. Ia cepat-cepat merapikan rambutnya dan menjatuhkan diri di kursi di depan Chanyeol.

Chanyeol memaksakan seulas senyum. Kejadian tadi membuatnya agak terguncang dan ia masih belum pulih.

"Lumayan lama," sahutnya, berusaha keras bersikap tenang.

"Maafkan aku," kata gadis itu sekali lagi. Raut wajahnya sungguh-sungguh. "Sebenarnya aku sudah memasang beker, tapi ternyata tidak berguna. Akhirnya aku bangun kesiangan dan harus pergi menjemput ayahku dulu karena mobilnya rusak, lalu..."

Baekhyun terus berbicara. Chanyeol nyaris tidak mendengarkan apa yang dikatakannya karena bayangan orang tadi masih memenuhi otaknya.

Orang itulah yang membuat Paris menjadi kota yang begitu menyakitkan baginya. Orang itulah penyebab utamanya membenci Paris. Tidak bisa, ia tidak bisa begitu terus. Melihat orang itu saja sudah membuatnya kebingungan. Bagaimana kalau nantinya ia harus berhadapan langsung dengan orang itu dan bicara dengannya?

"Chanyeol?"

Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. Gadis itu sedang mengamatinya dengan tatapan heran. "Kau sakit? Wajahmu kelihatan pucat," kata Baekhyun prihatin.

"Aku tidak apa-apa," sahut Chanyeol, lalu beranjak dari kursi. "Aku ke belakang sebentar."

"Oh, oke," gumam Baekhyun, masih agak bingung. Bagaimana tidak bingung kalau dari tadi ia terus berceloteh tetapi tidak ditanggapi?

Di toilet, Chanyeol segera menghampiri wastafel dan membasuh wajahnya.

Kendalikan dirimu, katanya pada bayangan di cermin. Ia menundukkan kepala dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran wastafel. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Kendalikan dirimu.

Setelah debar jantungnya kembali normal, ia mengangkat wajah dan menatap bayangannya sekali lagi. Ia mengangguk samar, lalu meraih serbet untuk mengeringkan wajah. IaIa keluar dari toilet dan berjalan kembali ke mejanya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Matanya terarah pada Baekhyun yang duduk menunggu di sana. Gadis itu tidak menyadari kedatangannya karena posisi duduk yang sedikit miring dan memunggunginya. Gadis itu sedang duduk bersandar dengan kaki disilangkan dan memandang ke luar jendela. Gadis itu... posisi duduknya... kaca jendela besar... sinar matahari menyinarinya...

Benar-benar aneh—tapi menyenangkan—melihat gadis ini duduk di sana dan melihat ke luar jendela. Posisi duduknya sekarang mengingatkan Chanyeol pada saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu di bandara Charles de Gaulle. Gadis yang membuatnya merasa tertarik...

.

e)(o

.

Baekhyun menoleh ketika merasakan kedatangan Chanyeol.

"Maaf, perutku sedang bermasalah," kata laki-laki itu sambil memegangi perut dengan sebelah tangan.

"Sekarang sudah baikan?" tanya Baekhyun. Kalau Chanyeol sakit perut, berarti mereka tidak jadi jalan-jalan, dan itu artinya sia-sia saja ia bangun pagi.

Chanyeol mengangguk.

Baekhyun menumpukan kedua siku di atas meja. "Jadi, sekarang kita mau ke mana?"

Chanyeol berpikir sejenak. "Sudah lama aku ingin melihat-lihat museum yang ada di sini. Museum apa yang menarik?"

"Museum?" Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata. Sudah berapa kali laki-laki ini memberikan jawaban yang sama sekali tidak diduganya? Park Chanyeol benar-benar orang yang sulit ditebak.

Baekhyun jarang sekali ke museum. Boleh dibilang hampir tidak pernah. Selama ia tinggal di Korea juga ia tidak pernah menginjakkan kakinya di Museum. Selama di Paris satu-satunya museum yang pernah dikunjunginya cuma Louvre. Itu juga cuma satu kali dan itu karena paksaan teman-temannya. Tapi ayahnya yang senang mengunjungi museum dan menikmati seni. Ia berusaha mengingat-ingat, "Ada Louvre, Musée Rodin, Musée d‟Orsay... eh, dan lain-lain. Mau ke mana dulu?"

Chanyeol membuka-buka buku panduannya, lalu berkata, "Hari ini aku ingin mulai dengan Musée Rodin."

"Tapi yang paling terkenal itu Louvre," kata Baekhyun. Ia heran Chanyeol tidak memilih museum yang jelas-jelas merupakan pilihan nomor satu bagi kebanyakan orang. "Kau yakin tidak mau memulai dari sana? Ada lukisan Mona Lisa dan... eh, sebagainya." Sebaiknya ia tidak bicara banyak kalau tidak tahu apa-apa soal seni.

Chanyeol menutup buku panduannya dan tersenyum lebar. "Aku punya banyak waktu. Kitapunya banyak waktu. Memang banyak tempat yang ingin kukunjungi dan hari ini aku ingin melihat karya Rodin. Ayo."

.

e)(o

.

Gadis itu kelihatan bosan.

Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang memandangi sebuah patung karya Rodin tanpa ekspresi. Mereka sudah berada di museum itu selama lebih dari dua jam dan walaupun jelas-jelas tidak tertarik pada seni patung, gadis itu cukup sabar menemaninya. Tidak mengeluh sedikit pun.

Chanyeol memutuskan tidak memperpanjang penderitaan Baekhyun dan mengajaknya makan siang di kafe yang ada di taman museum. Makanan yang disajikan sederhana saja, tapi suasananya menyenangkan.

"Bosan?" tanya Chanyeol sementara mereka menunggu pesanan diantarkan.

Baekhyun tersenyum dan melipat kedua lengannya di meja. "Mm, sedikit," jawabnya jujur, lalu mengangkat bahu. "Tapi aku sudah terbiasa. Sehun sering mengajakku kalau ada pameran arsitektur, sedangkan aku buta soal arsitektur."

Chanyeol tertawa kecil. "Kalau begitu, setelah makan siang, kita ke tempat lain yang lebih menarik. Bagaimana? Ada saran?"

"Bagaimana kalau ke Jardin du Luxembourg?" tanya Baekhyun, lalu berpikir lagi. "Atau kau mau belanja? Kita bisa ke Boulevard Saint-Germain atau rue de Grenelle. Tidak, laki-laki tidak suka berbelanja... Ah, benar! Aku harus menunjukkan tempat kesukaanku! Sudah pernah melihat kota Paris dari ketinggian?"

Chanyeol menggeleng. Ia baru menyadari ia senang mendengar celotehan gadis itu. Ia suka mendengarkan suara Baekhyun. Seolah memahami perasaan Chanyeol, Baekhyun terus berceloteh panjang lebar.

"Sehun dan aku suka sekali melihat pemandangan kota Paris dari puncak Arc de Triomphe," katanya dengan mata berbinar-binar. "Benar-benar menakjubkan! Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik. Bisa membuatmu sulit bernapas.

Aku paling suka berada di tempat yang tinggi, karena aku akan merasa... mm, bagaimana mengatakannya, ya? Rasanya begitu jauh dari peradaban. Kau mengerti maksudku? Rasanya seperti meninggalkan beban di tanah dan kita melayang bebas. Aku dan Sehun suka ke sana kalau sedang stres. Aku jamin, setengah jam di sana perasaanmu langsung jauh lebih baik."

"Kita akan ke sana malam nanti karena pemandangan malam kota Paris lebih indah." Baekhyun terdiam sejenak untuk menarik napas, lalu bertanya, "Kau sungguh-sungguh belum pernah melihat-lihat kota Paris?" Matanya yang seperti puppy menatap Chanyeol dengan pandangan bertanya.

"Begitulah." Chanyeol berusaha menahan senyum. Gadis itu sanggup bercerita terus kalau memang diperlukan. Gadis yang menarik.

"Aneh... Sudah berapa kali kau datang ke Paris?" tanya Baekhyun.

Chanyeol mendongak dan berpikir-pikir. "Wah, aku tidak ingat."

Baekhyun mengangkat bahu. "Aneh sekali kalau datang ke Paris dan tidak berkeliling. Kau selalu datang untuk urusan kerja?"

Chanyeol ragu sejenak. "Tidak juga," jawabnya pelan.

"Lalu kau datang untuk apa? Tidak mungkin untuk berlibur karena kau bilang kau bahkan tidak berkeliling dan melihat-lihat kota."

Chanyeol menunduk dan bergumam, "Mencari seseorang."

"Apa?" tanya Baekhyun dan mencondongkan tubuh ke depan karena tidak mendengar dengan jelas.

Chanyeol mengangkat wajah dan mengulangi, "Aku ke sini untuk mencari seseorang."

"Siapa?"

Pertanyaan yang wajar, tapi Chanyeol tidak ingin menjawab. Ia masih belum yakin mau menceritakannya pada orang lain. Untung saja saat itu makanan pesanan mereka datang sehingga Chanyeol tidak perlu langsung menjawab.

"Kau mencari siapa?" tanya Baekhyun sekali lagi setelah pelayan pergi.

Gadis itu benar-benar tidak mau melepaskannya. Jawaban apa yang bisa diberikan?

"Ceritanya panjang," Chanyeol mengelak, tidak langsung menjawab pertanyaan Baekhyun tadi.

"Lain kali saja kuceritakan."

Gadis itu tidak mendesaknya lagi. Baekhyun memang suka berceloteh panjang lebar, tetapi ia tidak suka memaksa, meskipun sebenarnya dia penasaran.

Setelah selesai makan, Baekhyun membawanya berkeliling kota, dengan penuh semangat menunjukkan tempat-tempat menarik, seperti pemandu wisata berpengalaman. Chanyeol menyadari Baekhyun gadis yang ekspresif. Ia tidak hanya bercerita dengan kata-katanya, tapi juga dengan mata dan gerakan tubuhnya. Mungkin karena cuaca hari ini cerah, mungkin karena angin juga tidak bertiup terlalu kencang, atau mungkin juga karena ia mendapat teman seperjalanan yang menyenangkan, Chanyeol merasa santai hari itu. Gembira dan santai. Sudah lama sekali ia tidak mengalami perasaan seperti ini. Kapan terakhir kalinya ia merasa gembira? Pasti sebelum ibunya meninggal dunia. Dan sudah pasti sebelum ia tahu rahasia itu.

Ia merasa lengannya disiku pelan. Ia menoleh dan melihat Baekhyun sedang menatapnya dengan alis berkerut.

"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanya gadis itu sambil tersenyum. Kerutan di dahinya menghilang.

"Tidak ada," Chanyeol berbohong.

Baekhyun mendengus pelan, masih tetap tersenyum. "Bohong," gumamnya dengan nada riang.

"Kau tahu, Sehun juga sering begitu."

"Sering bagaimana?"

Baekhyun mendongak. Senyumnya masih menghiasi bibirnya. Sepertinya memikirkan Sehun saja ia bisa tersenyum. "Aku selalu tahu kalau Sehun sedang banyak pikiran," kataya. Chanyeol mendengar nada bangga dalam suara gadis itu.

"Alisnya akan berkerut dan dia lebih banyak diam. Kalau ditanya apa yang sedang dipikirkannya, dia hanya akan menjawab 'tidak apa-apa' dengan nada berat." Baekhyun menoleh mamandangnya dan senyumnya melebar. "Sama seperti yang kau lakukan tadi."

Chanyeol mengangkat alisnya dan ikut tersenyum. Gadis itu punya senyum yang menular.

"Taman yang indah," komentar Chanyeol mengalihkan pembicaraan.

Mereka sedang berjalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Chanyeol memandang berkeliling. Banyak juga orang-orang yang menikmati jalan-jalan sore di taman ini seperti mereka.

Baekhyun menggumam dan mengangguk. "Aku dan Sehun suka ke sini. Kadang-kadang kalau kami berdua punya waktu senggang, kami akan duduk-duduk dan mengobrol tanpa tujuan."

Chanyeol memandang gadis itu dengan bimbang.

"Ah! Itu ada bangku kosong," seru Baekhyun tiba-tiba. "Ayo, kita duduk di sana."

Chanyeol membiarkan dirinya ditarik ke arah bangku kosong tidak jauh dari sana. Baekhyun menyandarkan tubuhnya, mendongak, memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, dan mengembuskannya.

"Hari yang indah sekali," katanya pada dirinya sendiri, lalu menyiku lengan Chanyeol pelan. "Lihat, daun-daun sudah mulai berwarna cokelat. Bagus sekali, bukan?"

Chanyeol memandang gadis itu sambil tersenyum samar.

"Kami—Sehun dan aku, maksudku—suka sekali musim gugur," desah Baekhyun. Ia menoleh menatap Chanyeol. "Kau tahu bagian yang paling menyenangkan?"

Chanyeol menggeleng, masih tetap memandangi gadis itu.

"Aku paling suka merasakan angin musim gugur di wajahku. Membuat ujung hidung dan kedua pipiku terasa dingin," kata Baekhyun sambil tertawa. Ia menyentuh ujung hidung dan pipinya untuk menegaskan kata-katanya.

Chanyeol menimbang-nimbang sesaat, lalu berkata, "Ada yang ingin kutanyakan."

Gadis yang duduk di sampingnya itu menoleh. "Apa itu?"

Chanyeol ragu sejenak, lalu memutuskan untuk bertanya. "Apakah kau dan Sehun...?"

Baekhyun mengangkat alisnya, menunggunya melanjutkan.

"Kau tahu maksudku," Chanyeol meneruskan dengan enggan. "Apakah kau dan Sehun... pacaran?"

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tertawa terbahak-bahak. "Oh, astaga! Tidak," jawabnya ketika tawanya mereda. "Tidak, kami tidak pacaran. Kenapa bertanya seperti itu?"

Chanyeol mengangkat bahu. "Kau selalu menyebut-nyebut namanya. Sehun juga sering membicarakan dirimu."

Baekhyun menatapnya lurus-lurus. Matanya berbinar-binar. "Sehun sering membicarakan aku?" tanyanya perlahan.

Chanyeol membalas tatapannya. Baiklah, seharusnya ia tadi tidak mengatakan hal itu. Sekarang ia merasa tidak ingin menjawab, tapi... "Ya."

Baekhyun tersenyum senang dan menunduk memandangi kakinya. Saat itu juga Chanyeol tahu. Gadis itu menyukai Sehun.

"Kau menyukainya?"

Kenapa mulutnya bergerak sendiri? Chanyeol menyesali kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Bagaimanapun itu bukan urusannya.

Baekhyun berpikir sejenak. "Dia teman yang baik," jawabnya diplomatis. Ia menoleh menatap Chanyeol dan tersenyum lagi. Tiba-tiba ia berkata, "Hei, aku baru sadar warna matau abu-abu. Sama sepertiku. Kau lihat? Mataku juga abu-abu."

Chanyeol menatap mata kelabu gadis yang duduk di sampingnya itu dan tersenyum. Mata kelabu yang bersinar ramah, hangat, dan ekspresif. Mata yang dengan mudah mencerminkan apa yang sedang dirasakan pemiliknya. Mata yang bisa dipercaya.

"Lensa kontak, bukan? Aku tahu lensa kontak berwarna sangat digandrungi anak-anak muda di Jepang," tambah Baekhyun agak bangga karena merasa punya sedikit pengetahuan tentang tren anak muda di Jepang, entah itu benar atau tidak.

Chanyeol tidak langsung menyadari bahwa Baekhyun masih membicarakan tentang warna matanya yang tidak biasa bagi orang Asia. Akhirnya ia balas bertanya, "Kau sendiri memakai lensa kontak?"

Baekhyun teringat warna matanya sendiri. "Enak saja," protesnya. "Ini warna asli mataku."

"Ah, benar," kata Chanyeol sambil menengadah. "Sehun pernah bilang ayahmu orang Prancis."

"Ya. Ibuku orang Korea. Selain warna mataku, aku memang lebih mirip ibuku."

"Oh, Korea?"

"Kenapa?"

"Aku punya kenalan yang bisa berbahasa Korea di Tokyo."

"Oh ya?"

Chanyeol tertawa kecil. "Dia tetanggaku. Apartemennya tepat di sebelah apartemenku. Gadis manis yang pendiam, tapi bisa berubah segalak singa kalau perlu. Kadang-kadang dia suka mengomel dalam bahasa Korea"

"Kau mengerti apa yang dikatakannya?"

Chanyeol mengangkat bahu. "Hanya beberapa kata. Aku suka bertanya apa yang diomelkannya."

Baekhyun mengangguk-angguk. "Aku jadi ingin belajar bahasa Jepang."

"Kau ingin belajar bahasa Jepang?" Chanyeol mengulangi ucapan Baekhyun. "Kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa. Aku memang suka belajar bahasa asing," sahutnya sambil mengangkat bahu. "Kalau tidak salah, dalam bahasa Jepang kau harus menambahkan kata sanpada nama orang, bukan?"

Chanyeol mengangguk. "Kalau kau sudah mengenalnya dengan baik, kau boleh memakai kata chan."

"Chanyeol-san? Atau Park-san?" tanya Baekhyun tidak pasti.

"Dua-duanya boleh, Baekhyun-chan."

"Hei, kau tahu, aku suka caramu menyebut namaku," kata Baekhyun dengan wajah berseri-seri. "Sehun tidak pernah menyebut namaku dengan benar."

Chanyeol merasa senang. Ia punya satu kelebihan dibandingkan Sehun.

Nah, pikiran apa itu? Kenapa sekarang ia membanding-bandingkan diri dengan Sehun? Chanyeol menghapus pikiran itu dari benaknya.

Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi.

"Allô?" kata Baekhyun setelah menempelkan ponsel ke telinga. Chanyeol bisa melihat perubahan ekspresinya. Matanya berkilat-kilat dan senyumnya melebar.

Telepon dari Sehun, pikir Chanyeol tanpa bisa dicegah.

"Sehun!" seru gadis itu gembira.

Chanyeol memalingkan wajah. Benar, bukan?

"Kau sudah sampai?... Belum?... Tentu saja, aku bisa menjemputmu... Kau bawa oleh-oleh untukku?... Wah, kau memang baik sekali!... Oke, sampai jumpa!"

Baekhyun menutup ponselnya. Ia masih tersenyum sendiri.

"Sehun pulang hari ini?" tanya Chanyeol berbasa-basi.

Baekhyun mengangguk. "Aku mau pergi menjemputnya," katanya, lalu ia teringat sesuatu. "Oh ya, maaf. Aku tidak bisa menemanimu ke Arc de Triomphe malam ini."

"Tidak apa-apa. Kita bisa pergi lain kali."

Baekhyun bangkit dan merapikan syalnya. "Mau kuantar pulang?"

Chanyeol menggeleng. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku ingin ke tempat lain dulu. Kau pergi saja."

"Baiklah," kata gadis itu sambil tersenyum. "Aku pergi dulu. Terima kasih karena sudah mentraktirku makan siang. Lain kali giliranku."

"Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini."

Baekhyun melambaikan tangan. "Sampai jumpa."

"Sampai ketemu lagi, Baekhyun-chan."

Chanyeol memandangi Baekhyun yang berlari-lari kecil menjauhinya dan menarik napas panjang.

.

TBC

.

Eheeeey Chanyeol nya cembokur tau kalau Baekhyun-chan nya suka sama Sehun^^

Btw yang baca kasih review dong~

Apapun biar aku tau ini ff ada yang minat atau engga ehehe^^

Oiya kira-kira enaknya update setiap berapa hari ya? Kasih saran:)

Salam ChanBaek is real:*