Note: bagi kalian yang sedang berpuasa, disarankan untuk membaca fanfic ini setelah buka puasa karena chapter ini juga dibuat sebelum bulan puasa. tapi bagi yang tidak puasa boleh-boleh saja kok dibaca sekarang. selamat menikmati dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan...
Disclaimer:
Kuroko no Basuke is belongs to Tadatoshi Fujimaki
Uta no Prince-sama is belongs to Broccoli Production
And this fanfic is mine, okay?
Main Casts:
Midorima Shintarou as himself
Kagami Taiga as Midorima Taiga
Kuroko Tetsuya as Midorima Tetsuna (fem!Kuroko)
Support Casts:
Akashi Seijuurou as Midorima Seika (fem!Akashi)
Kurusu Shou as Midorima Shouko (fem!Shou)
the others
Rated: T+ alias nyerempet ke M
Genre: Humor, Family
Warning: AU, Alternate Age, Gender Swicth (sesuai kebutuhan), susis!Shintarou, fujo!Tetsuna, OOC to the max, sedikit (banyak) kata-kata menjurus, DLDR
Happy reading, Minna!
.
.
Suggestion song(s):
Kiseki by Ono Daisuke feat Kamiya Hiroshi (for MidoAka moment)
.
.
.
Akhirnya hari yang paling ditunggu-tunggu Shintarou pun tiba. Ya, Shintarou sedang mendapat cuti selama tiga hari dari rumah sakit untuk berkumpul bersama keluarganya. Dan untuk mengisi waktu libur, Shintarou bersama istri dan anaknya berkunjung ke kediaman orang tua Seika di Kyoto. Sedangkan Taiga dan Tetsuna tetap tinggal untuk menjaga rumah.
"Tadaima!" sahut Seika ketika sampai di rumah Akashi yang sangat mewah dan megah.
"Okaerinasai, Seika. Eh? Kau juga bawa suami dan anakmu? Aih, senangnya…" sambut seorang wanita paruh baya bernama Akashi Shiori yang merasa senang melihat anaknya pulang beserta menantu dan cucunya.
"Obaachan…‼" seru Shouko lalu melepas tautan tangannya dengan Shintarou dan berhambur ke arah Shiori.
"Ara… cucu Baachan makin cantik aja ya? Baachan kangen sama Shouko" kata Shiori sambil menggendong Shouko dan mencium pipi gembul cucunya.
"Maaf mengganggu, Kaasan. Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Kaasan dan juga Tousan" kata Shintarou dengan sopan lalu menyerahkan satu paket buah-buahan pada Shiori. Yang langsung diterima seorang maid yang mendampingi Shiori.
"Ah, tak perlu repot-repot begitu, Shintarou-kun. Lagipula Kaasan tak merasa terganggu kok. Kaasan malah senang kalian main ke sini, jadi Kaasan tidak kesepian lagi"
"Are? Tousan wa?" tanya Seika.
"Ayahmu sedang sibuk ngurusin pekerjaannya di Paris. Haa… kau tau, Sei? Semenjak kau dan Shintarou-kun menikah, rumah ini terlalu besar dan sangat sepi bagi Kaasan. Apalagi kakakmu yang ikut-ikutan ke Tokyo dan juga ayahmu yang jadi sering ke luar negeri. Kaasan tuh gak bisa diginiin…" jawab plus curhat Shiori yang entah kenapa jadi ikut-ikutan trending topik di sosmed.
"Jangan khawatir, Kaasan. Kan sekarang ada kami" hibur Seika dengan senyum maklumnya.
Sementara itu, Shintarou menghela napas lega. Sebenarnya batin Shintarou belum siap kalau harus ketemu sama si Bapak Mertua. Gimana tidak? Siapa sih yang tidak kenal Akashi Masaomi? Seorang presdir di salah satu perusahaan terbesar di Jepang yang terkenal kewibawaannya dan ketegasannya? Jujur, Shintarou saja masih merasa bermimpi menikahi Seika dan punya anak. Secara waktu pertama kali ketemu saja, Shintarou sudah merasakan aura-aura negatif dari bapak mertuanya yang saat itu masih calon. Apalagi fakta tentang Shintarou yang hanyalah seorang bartender di sebuah cafe pada waktu itu. Well, logikanya Shintarou sudah pasti ditendang dari daftar calon menantu Akashi. Mengingat Masaomi sangat selektif dalam hal memilih dan yang pastinya selalu perhatikan bibit, bebet dan bobot sang menantu. Haa… benar-benar perjuangan yang melelahkan hati Shintarou.
"Iya juga sih. Udah yuk kita ngobrol-ngobrol saja sambil minum teh. O iya, pelayan! Tolong sediakan tiga cangkir teh untuk kami! Setelah itu tolong siapkan kamar untuk anak dan menantuku! Shouko biar tidur bersamaku saja"
"Hai, Shiori-sama"
み
ど
り
ま
Sekarang mereka berada di halaman belakang rumah Akashi. Seika menikmati acara minum teh bersama ibunya. Sedangkan Shintarou asyik bermain bersama Shouko.
"Kena! Ayo tangkap Choko! Ahahaha…" seru Shouko sambil berlari dengan riangnya.
"Hee… kau menantang Papa ya, Shouko-chan? Okey… kalau begitu rasakan pembalasan dari Papa!" seru Shintarou sambil mengejar anaknya.
"Ahahaha… ahahaha…" tawa Shouko sambil terus bermain kejar-kejaran dengan ayahnya.
"Shouko-chan, jangan kencang-kencang larinya! Nanti kau bisa jatuh!" seru Seika mengingatkan. Sementara yang diingatkan masih berlari sambil tertawa riang. "Kau juga, Shin! Jaga Shouko dan jangan sampai dia terjatuh!"
"Aa… wakatteru yo, Sei!"
Seika tersenyum melihat suami dan anaknya bermain bersama. Jarang-jarang Seika bisa melihat Shintarou tersenyum dan tertawa senang. Shintarou itu jarang sekali tersenyum dan sekalinya senyum, itu pasti senyum mesum untuk Seika. Seika jadi kepo, Shintarou itu dokter spesialis apa sih? Kok sampai jadi semesum itu? Spesialis kandungan? Spesialis kelamin? Eh tunggu! Kalau dokter spesialis kandungan apalagi kelamin, berarti Shintarou bisa melihat –piip–nya orang dong! Okey… gunting mana gunting?
"Ara… Shintarou-kun terlihat sangat menikmati sekali ya? Shouko-chan juga sepertinya akrab sekali dengan Shintarou-kun" guman Shiori melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Hn… sou desu nee…" sahut Seika lalu kembali menyeruput teh hijaunya. "Shintarou-kun itu orang yang sangat sibuk. Hampir tiap hari, Shintarou-kun habiskan waktunya di rumah sakit. Dan pernah dia sampai tidur di rumah sakit karena sangking banyaknya pasien. Tapi, Shintarou-kun juga sempat meluangkan waktunya untuk menjemput Shouko sepulang sekolah. Maka dari itu, Shintarou-kun sangat senang mendapat cuti karena dia jadi bisa meluangkan waktu lebih banyak lagi dengan Shouko. Haa… mereka benar-benar sangat dekat"
"Ah! Pantesan… o iya, ngomong-ngomong Kaasan jadi ingat waktu kau mengandung Shouko dulu" kata Shiori sambil bernostalgia. "Bukannya dulu Shintarou-kun sampai ikut-ikutan ngidam dan mual-mual?"
"Iya, tapi di dua bulan pertama aku yang mengalaminya, Kaasan"
"Iya Kaasan juga tau. Tapi mungkin karena Shintarou sangat sayang padamu dan juga Shouko, makanya jadi dia yang gantian kena morning sickness. Atau mungkin juga karena waktu itu, Shouko ingin kenalan dengan ayahnya"
"Hn… benar juga ya…"
.
.
(-A-)_flashback mode: On_(-A-)
.
.
Pagi yang sangat cerah untuk memulai aktivitas baru. Tapi tidak untuk pasangan pengantin baru yang masih nyenyak dalam tidurnya.
Akashi Seika, 24 tahun, atau yang sekarang resmi menjadi Midorima Seika mengerjapkan matanya untuk mengadaptasi cahaya yang masuk ke retinanya. Ditolehnya ke belakang dan menemukan pria berambut hijau yang kini resmi menjadi suaminya sedang memeluknya dari belakang. Setelah itu, Seika kembali memejamkan matanya sambil menyamankan diri dalam pelukan si suami. Namun tak lama kemudian, kenyamanan itu berubah ketika perutnya terasa penuh dan seperti diaduk-aduk.
"Hmph‼" Seika menutup mulutnya dengan satu tangannya. Lalu, cepat-cepat dia bangkit dan berlari menuju kamar mandi setelah sebelumnya menyingkirkan tangan si suami.
"Hoek! Ukh! Ukh!"
Midorima Shintarou, 21 tahun, menyudahi mimpi indahnya karena terganggu oleh suara muntahan Seika. Kemudian, Shintarou bangkit dan duduk sebentar di tepi ranjang untuk pengumpulan nyawa.
"Ukh… hoek!"
"Astaga! Seika?"
Setelah itu, Shintarou menyusul Seika ke kamar mandi.
"Sei, daijoubu?" tanya Shintarou memijat tengkuk Seika.
"Ukh! Hah… e-entahlah… hah… hah… pe-perutku mu-hoek!"
"Tuh kan… kamu sih bandel banget gak mau makan kemarin. Asam lambungmu jadi naik kan?"
"C-ciyee… yang perhatian…" ledek Seika di sela-sela mualnya.
"Siapa yang perhatian? Emangnya tidak merepotkan apa istri seorang dokter sakit karena ulahnya sendiri yang lalai pada kesehatannya sendiri?" omel Shintarou ngeles.
"Iya… iya… Tsunderima-sensei…"
"Sekarang, kau istirahat saja dulu kalau kau benar-benar tidak enak badan. Aku akan membuatmu jahe hangat agar lambungmu terasa mendingan. O iya satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi karena kau juga menyandangnya, Nyonya Midorima" kata Shintarou kesal dipanggil 'Tsunderima'. For your information, 'Tsunderima' adalah plesetan dari 'Midorima' yang menjadi julukan Shintarou ketika masih kuliah.
"Mou… tapi aku tidak mau jahe… aku maunya es krim strawberry…" rengek Seika lalu bergelayut manja di lengan Shintarou.
"Baka! Es krim mengandung lemak berkadar tinggi yang akan menghancurkan lambungmu! Apalagi perutmu belum terisi apa-apa!"
Sementara itu, Seika memandang Shintarou sambil mempoutkan bibirnya. Membuat pose ngambek yang jatuhnya jadi terlalu unyu. Shintarou sampai harus menelan ludah gara-gara tingkah istrinya.
'Tahan Shintarou, tahan…' batin Shintarou komat-kamit.
"Berhenti memasang wajah melas seperti itu, Sei! Haa… baiklah, kau boleh makan es krim sepuasmu setelah sarapan nanti"
"Hontou…?" tanya Seika masih dengan wajah imutnya. Dengan sedikit ogah-ogahan, Shintarou pun mengangguk. Setelah itu, Seika bersorak riang sambil mencium pipi suaminya. "Yatta! Arigatou, Shin! Hihihi…"
'Haa… cobaan macam apa ini?' batin Shintarou.
~MnK~
"Ohayou, Shintarou-nii!" sapa seorang anak perempuan berambut baby blue kepada si kakak. Kemudian gadis cilik itu mencomot roti sandwitch yang sudah disiapkan Shintarou.
Anak perempuan itu adalah Midorima Tetsuna, 10 tahun, si bungsu Midorima yang sekarang duduk di bangku SD kelas lima.
"Ohayou, Tetsuna. O iya, Taiga?"
"Oh, Taiga-nii…" belum selesai Tetsuna menjawab, tiba-tiba sebuah suara gaduh datang dari arah tangga.
Brak!
Gedubrak! Gedubruk!
"Shimatta‼ Aku kesiangan lagi‼"
"Aish… itu anak! Telat kok udah jadi langganan" guman Shintarou sweatdrop gara-gara adik laki-lakinya itu.
"Padahal aku tadi juga udah membangunkannya. Tapi Taiga-nii aja yang masih molor kayak kebo" guman Tetsuna poker face.
"Siapa yang kayak kebo, hah?! Kau saja yang tidak niat membangunkanku, Tetsuna‼" geram seorang remaja cowok beralis cabang yang baru saja masuk ke ruang makan.
Remaja itu bernama Midorima Taiga, 15 tahun, si tengah Midorima yang tengah duduk di bangku SMP kelas tiga.
"Ups! Kedengaran ya?" guman Tetsuna watados.
"Kau mengejekku, hah?! Ngajak berantem?!" tantang Taiga merasa kesal dengan adik bungsunya.
"Siapa yang ngajak berantem, Taiga-nii? Taiga-nii aja yang susah dibangunin. Padahal aku sampai memberimu ignite pass kai ke wajahmu supaya cepat bangun. Nyatanya tidak" jawab Tetsuna masih watados. Shintarou aja sampai gak habis pikir adik bungsunya akan bertindak seekstrim itu.
"Ignite pass? KAI?! IYA DA! Pantesan tiap aku bangun mukaku babak belur mulu! Tanggung jawab!" omel Taiga.
"Lho? Tapi aku kan tidak menghamili Taiga-nii. Kenapa aku harus tanggung jawab?" protes Tetsuna dengan super polosnya. Dan Shintarou menduga, pasti ini adalah efek kebanyakan nonton drama yang isinya 'hamil di luar nikah' semua. Well, sepertinya Shintarou perlu menyeleksi tontonan sehat untuk Tetsuna lebih ketat lagi.
"TAPI KAU SUDAH MEMBUAT MUKAKU JADI JELEK, TETSUNA TEME‼" teriak Taiga yang udah gondok to the max.
"Hiks… hiks…"
'Waduh! Kok malah nangis sih?' batin Taiga, si pelaku utama menangisnya Tetsuna.
"Udah! Udah! Taiga, kamu ini kan udah lima belas tahun tapi kelakuan masih kayak bocah usia lima tahun. Lihat tuh! Tetsuna jadi nangis kan?" lerai Shintarou lalu mengusap-usap rambut baby blue Tetsuna.
"Udah Tetsuna, jangan nangis lagi! Nanti aku akan belikan Vanilla Milkshake porsi jumbo, okey?" kata Shintarou yang diangguki Tetsuna.
"O iya, Aneesan kemana?" tanya Tetsuna yang baru menyadari kalau kakak iparnya tidak ada.
"Oh, Seika masih tidur di kamar. Dia sedang tidak enak badan" jawab Shintarou lalu menaruh semangkuk bubur, secangkir jahe hangat, dan juga segelas air putih ke atas nampan.
"Oh…" guman Tetsuna melanjutkan sarapannya.
"Aniki, kau mau kemana? Kok bawa-bawa makanan?" tanya Taiga yang melihat Shintarou beranjak dengan membawa nampan tersebut.
"Kemana? Tentu saja aku mau mengantarkan makanan untuk Seika. Dia kan lagi sakit dan belum makan" jawab Shintarou agak ketus.
"Matte kudasai, Shintarou-nii! Biar aku saja yang mengantarkannya" kata Tetsuna lalu berdiri menghampiri Shintarou dan mengambil alih nampan dari tangan kakak sulungnya.
"Tet-Tetsuna?"
"Gak apa-apa kok, Shintarou-nii. Aku senang bisa mengantarkan makanan untuk Aneesan" kata Tetsuna lalu melesat ke kamar Seika dan juga Shintarou, setelah merebut nampan yang dibawa si sulung. Sementara Shintarou menghela napas lalu lemas di meja makan.
"Haa… padahal pas aku yang sakit, Tetsuna gak bakal seperhatian ini. Giliran Seika yang sakit aja…" keluh Shintarou merebahkan kepala yang kaya akan klorofilnya itu di atas meja.
"Oh… jadi ceritanya cemburu nih…?" tanya Taiga menyantap sarapannya dengan rakus.
"Chigau! Chigau! Aku hanya sebal saja. Mentang-mentang aku ini dokter jadi dicuekin gitu kalau sakit?"
"Mungkin. Apalagi mereka sama-sama cewek kan?"
"Ya tapi gak gitu-gitu juga kali! Aku ini kan kakak kandungnya!"
"Aniki"
"Huh?"
"Kamu sabaro…"
Dan Shintarou pun facepalm karena jargon andalan Taiga. Tak lama kemudian, suara pekikan Tetsuna dari kamar Shintarou dan Seika pun terdengar.
"Shintarou-nii‼ Aneesan pingsan‼"
"Alamak! Sei‼"
緑x赤
"Aneesan, aku bawakan sarapan" kata Tetsuna kemudian masuk ke kamar kakak dan iparnya itu.
"Eh? Tetsuna" Seika yang sedari tadi berbaring sambil memejamkan matanya, tapi bukan berarti tertidur, langsung bangkit untuk menerima sarapan yang dibawakan adik ipar kesayangannya itu. "Waa… Aneesan jadi merepotkanmu nih…"
"Tidak kok. Malah aku senang karena ini kali pertama aku merawat kakak perempuan. Aneesan tau sendiri kan kalau aku tidak punya saudara perempuan. Dan tau kalau Shintarou-nii menikah dengan Aneesan saja membuatku bahagia karena akhirnya aku punya seorang kakak perempuan" jawab Tetsuna polos kemudian meletakan nampan itu ke atas meja.
"Lho? Emangnya kenapa kalau punya kakak laki-laki? Bukannya Shintarou-nii dan Taiga-nii sangat sayang dan perhatian padamu?"
"Iya sih. Tapi mereka itu rempong. Apalagi Shintarou-nii yang hobinya bawa barang-barang aneh yang katanya itu lucky item. Untung saja Aneesan betah sama orang kayak Shintarou-nii. Kalau tidak, mungkin Shintarou-nii bakal jadi jones selamanya dan aku gak bakal punya kakak perempuan seperti Aneesan lagi" jelas Tetsuna panjang lebar dengan wajah innocent khas anak sepuluh tahun.
"Hee…" guman Seika sweatdrop. Iya juga ya. Bisa-bisanya seorang Akashi Seika, yang terkenal anggun dan perfeksionis, jatuh dalam pesona seorang Midorima Shintarou, si megane tsundere yang hobi menonton ramalan kayak cewek. Ditambah lagi dengan lucky item yang bejibun itu. Seika jadi kepo, apa sih sisi menarik Shintarou?
Gantengnya? Artis muda Hyuga Ryuya malah jauh lebih ganteng dari Shintarou, macho pula. Eh ngomong-ngomong, kenapa jadi ngebahas Hyuga Ryuya? Kan bukan bias Seika. For your information, Seika itu ngefans banget sama Sumeragi Kira, salah satu member boyband yang bernama HEAVEN.
Uangnya? Well, kalau bukan karena keluarga Akashi yang konglomerat itu, pasti sekarang Midorima bersaudara itu menjadi gelandangan.
Jampi-jampi? Hey! Gak mungkin kan, Shintarou sampai jauh-jauh datang ke salah satu negara Asia Tenggara yang terkenal mistisnya itu cuma buat beli pelet untuk Seika?*) Entahlah, Seika juga tidak mau ambil pusing.
"Aneesan! Kok malah bengong sih?" tanya Tetsuna yang langsung membuyarkan lamunan Seika.
"Aa! Etto… gomen nee" kata Seika yang kemudian nyengir.
"Huft… ya sudahlah. Ayo makan! Biar aku yang suapin" kata Tetsuna lalu dengan semangatnya menyodorkan sesendok bubur yang masih hangat itu ke mulut Seika.
Dan Seika pun mengangguk kemudian menerima suapan itu dengan senang hati. Tapi setelah suapan kelima, tiba-tiba Seika menutup mulutnya kemudian berlari menuju kamar mandi dan…
"Hoek! Ukh! Ukh! Ngh…"
…mengeluarkan lima suap bubur yang baru masuk ke perut Seika beberapa menit yang lalu. Poor lima suap bubur…
"Aneesan, daijoubu desu ka?" tanya Tetsuna berdiri di ambang pintu kamar mandi. Melihat kakak iparnya yang sedang menguras isi perut dengan tatapan khawatir.
"Da-daijoubu, Tetsuna. Aneesan hanya masuk angin dan sedikit kecapekan kok…" jawab Seika terbata-bata dan…
Bruk!
"Shintarou-nii‼ Aneesan pingsan‼"
"Alamak! Sei‼"
~MnK~
Setelah membaringkan Seika, Shintarou pun memeriksa denyut nadi istrinya. Kemudian, Shintarou menekan-nekan perut bagian bawah Seika dengan lembut. Setelah itu, sebuah senyum kebahagiaan terulas di wajah tampan si sulung Midorima. Sedangkan si bungsu malah asyik menangis dipelukan kakak tengahnya.
"Sudahlah Tetsuna... jangan menangis..." kata Taiga mengelus-elus punggung kecil Tetsuna.
"Ta-tapi... gimana kalau Aneesan meninggal? Aneesan kan belum nyalon jadi Hokage... hiks... hiks..." isak Tetsuna dengan absurdnya.
"Oy! Oy! Emangnya Seika-nee itu Naruto apa?" guman Taiga sweatdrop.
puk!
"Are? Shintarou-nii?" guman Tetsuna ketika tangan Shintarou menyentuh lalu mengusap puncak kepala Tetsuna.
"Daijoubu, Tetsuna. Aneesan baik-baik saja kok. Malah sekarang di perut Aneesan sudah ada adik bayi" kata Shintarou kalem banget.
"Adik bayi? Hontou desu ka?" tanya Tetsuna dengan mata berbinar yang langsung diangguki Shintarou.
"Iya. Sebentar lagi kau akan menjadi bibi kecil, Tetsuna"
"Hah? Seika-nee hamil? Waa... selamat ya Aniki! Tak kusangka kau bisa menghamili anak orang. Kupikir kau gak bakal berhasil karena sifat tsundere-mu" kata Taiga kurang ajar.
"APA KATAMU?!" omel Shintarou gondok. Sementara yang diomelin malah nyengir lebar banget.
"Adik bayi, cepatlah tumbuh nee? Nanti kalau kau sudah lahir dan besar, kita bisa bermain bersama-sama. Bachan sayang sama adik bayi..." kata Tetsuna sambil mengelus perut Seika dan kemudian memeluknya.
"Ngh..." lenguh Seika siuman.
"Seika" panggil Shintarou dengan nada yang amat sangat senang.
"S-Shintarou? A-ada apa ini? Taiga? Tetsuna? Kalian gak sekolah?" tanya Seika dengan lirih.
"Tentu saja tidak karena aku akan mengajak kalian ke Kyoto" jawab Shintarou dengan seenak jidatnya.
"Eh?!" guman Seika cengo.
"Yatta!" seru Taiga dan Tetsuna lalu ber-tos-ria.
"Saa, Kimitachi! Cepat ganti pakaian kalian! Aku akan menghubungi guru kalian untuk meminta ijin"
"Roger!"
Setelah itu, Taiga dan Tetsuna pun kabur dari kamar pasutri itu.
"Apa-apaan sih ini?! Shin, kau menyuruh adik-adikmu untuk membolos sekolah? Kakak macam apa kau, hah?!" omel Seika yang kemudian…
Chu…
Bibir ranumnya dikecup oleh Shintarou. Sangat singkat tapi mampu membuat wajah Seika merona. Setelah itu, Shintarou menempelkan dahinya dengan dahi Seika dan kemudian menatap manik delima itu secara intens.
"Arigatou, Sei" bisik Shintarou lembut lalu kembali mencium bibir sang istri.
"Eh? Untuk?" tanya Seika gak mudeng. Dan bukannya menjawab, Shintarou malah mengelus-elus perut datar Seika. "Hey! Kenapa malah ngelus-ngelus perutku? Kau mencoba menggodaku ya? Geli tau!"
"Gitu aja kau sudah terangsang? Nakal sekali pikiranmu itu, hn?" goda Shintarou kemudian menindih tubuh mungil Seika.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Ahn! S-Shin! Ngh…" protes Seika yang kemudian mendesah karena Shintarou yang tiba-tiba menyerang lehernya.
"Aniki! Kami sudah siap!" seru Taiga langsung masuk kamar kakaknya yang kemudian disusul oleh Tetsuna. Gakuran yang semula melekat di tubuh Taiga, kini berganti menjadi pakaian santai.
"Are? Shintarou-nii…" guman Tetsuna yang langsung matanya ditutup oleh tangan Taiga.
"Astaga! Ini bukan tontonan anak kecil, oy!" pekik Taiga.
"Kyaaaa… Shintarou no baka‼" pekik Seika mendorong tubuh Shintarou dan…
Pletak!
"Ittai!" ringis Shintarou tumbuh benjol di kepalanya.
"Taiga-nii, hanase kudasai!" kata Tetsuna menepis tangan Taiga kemudian menunjuk Shintarou. "Shintarou-nii juga, kenapa malah nindih Aneesan seenaknya?! Nanti kalau Aneesan gak bisa napas gimana?! Apalagi sekarang Aneesan ada adik bayinya!"
"Are? Aku? Adik bayi? Maksudnya aku hamil?" tanya Seika pada Shintarou.
"Ehem! Ya… begitulah. Dan masalah yang tadi itu karena aku senang ada Midorima kecil di dalam perutmu. Yang berarti kau sedang hamil" jawab Shintarou dengan gaya stay cool-nya.
Pluk! Pluk! Pluk!
"Oy! Kenapa malah aku dipukul?!" protes Shintarou karena dipukul Seika pakai bantal.
"Shintarou no baka! Kenapa gak dari tadi kau bilang secara to the point?! Aku kan kepo tau!" omel Seika sambil terus memukul suaminya.
"Ampun! Ampun! Ampun!"
"Haa… pantesan udah sebulan 'tamuku' gak datang-datang. Mana perutku rasanya gak enak lagi dari kemarin-kemarin… huft…" kata Seika mengakhiri serangannya pada Shintarou lalu memeluk bantal yang tadi digunakan untuk acara 'Pemukulan Shintarou'. "Kau bener-bener kejam, Shintarou"
"Kejam apanya, oy!"
"Udah! Udah! Ini jadi gak acara jalan-jalannya? Jamuran nih nungguin kalian ribut mulu kayak Tom and Jerry. Udah pada nikah juga" lerai Taiga yang jadi sebel sendiri karena dicuekin.
"Dan ngomong-ngomong, emangnya tamunya Aneesan siapa? Apakah dia temannya Aneesan?" tanya Tetsuna yang dengan polosnya tidak bisa membedakan mana yang 'tamunya' cewek sama tamu beneran.
Gubrak!
Ya otomatis ketiga orang yang lebih dewasa itu sweatdrop dong.
"Tetsuna, kamu itu kan cewek. Masa kamu gak ngerti sih 'tamu' yang dimaksud Seika-nee?!" omel Taiga membuat Tetsuna cengo.
"Taiga, udah… namanya juga masih kecil" tegur Seika lalu memandang lembut Tetsuna. "Daijoubu nee, Tetsuna. Suatu saat kau pasti mengerti kok"
"Ya udah, Taiga! Tetsuna! Kalian tunggu dulu di depan! Kami akan siap sebentar lagi" perintah Shintarou pada kedua adiknya.
"Hai"
~MnK~
"Nah, kita sudah sampai" kata Shintarou setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Akashi.
"Ugh…" lenguh Tetsuna, yang tertidur bersama Taiga di jok tengah, lalu sedikit menggeliat dan mengucek-ucek matanya. Setelah itu, Tetsuna memandang sekitarnya dan kemudian mengguncang-guncangkan tubuh Taiga.
"Taiga-nii, bangun!"
"Hn… bentar lagi…"
"Ish! Dasar kebo!" gerutu Tetsuna lalu mengambil ancang-ancang untuk meng-ignite pass Taiga.
"Oy! Jangan sekali-sekali kau bonyokin mukaku dengan jurus laknatmu itu, Tetsuna!" cegah Taiga yang langsung melek dan seger buger. Padahal Tetsuna baru saja mau mengambil ancang-ancang.
Sementara itu, Shintarou sweatdrop dengan tingkah kedua adiknya. Dan ngomong-ngomong, Shintarou jadi kepo sendiri. Itu jurus 'ignite pass' Tetsuna dapat darimana? Apakah semacam jurus 'kamehameha' yang dimodifikasi ala Tetsuna? Entahlah Shintarou juga bingung.
Setelah si tengah dan si bungsu itu keluar dari mobil, Shintarou memandang istrinya yang masih terlelap dengan wajah damainya di jok penumpang depan. Yang tak lain adalah tepat di samping Shintarou.
'OMG… Sei imut banget kalau kayak gitu…' batin Shintarou masih sempet-sempetnya terpesona. Lalu wajah Shintarou mendekat ke arah wajah manis Seika yang sedang tertidur. Dielus-elusnya poni merah Seika sekalian merapikannya. Kemudian Shintarou berbisik lembut setelah mencium kening Seika, "Sei, bangun sayang! Kita sudah sampai"
"Ugh…" lenguh Seika merasa terusik kemudian membuka mata delimanya. "S-Shin?"
Dan sekarang posisi Shintarou dan Seika benar-benar sangat dekat. Entah kenapa Seika masih saja merasa salah tingkah ketika delima miliknya bertemu dengan emerald milik suaminya. Apalagi dengan jarak kurang dari sepuluh senti. Tuh kan, wajah Seika mulai memerah hampir menyamai rambutnya. Apa waktu yang lebih dari dua tahun itu belum cukup bagi Seika untuk beradaptasi dengan si sulung Midorima itu?
"Kok malah bengong sih? Ayo turun! Taiga dan Tetsuna udah duluan tuh bersama Shiori Kaasan" kata Shintarou yang sudah berada di ambang pintu mobil. Oh well, sepertinya Seika terlalu asyik dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau Shintarou sudah beranjak untuk keluar dari mobil.
"Aa… o-ough"
~MnK~
"Aa… kimochi…" kata Tetsuna sambil merenggangkan otot-otot badannya yang terasa kaku karena tidur di mobil tadi.
"Waa… sugoii naa… besar banget rumahnya Seika-nee!" seru Taiga terkagum-kagum dengan rumah Akashi.
"Eh? Taiga-kun! Tetsuna-chan!" sapa Shiori di teras rumah.
"Aa… konnichiwa, Shiori-basan" sapa Tetsuna menghampiri Shiori lalu ber-ojigi.
"Mou ii… jangan panggil 'Basan'. Panggil saja Kaasan" ralat Shiori.
"Eh? Ta-tapi…"
"Daijoubu, Tetsuna-chan. Shintarou-kun kan sudah menikah dengan Seika, maka Shintarou-kun sudah Kaasan anggap sebagai anak sendiri. Begitupun dengan Taiga-kun dan juga Tetsuna-chan"
"Ka-Kaa…san?" guman Tetsuna yang langsung berkaca-kaca. "Hiks… hiks…"
"Lho? Kok nangis? Ada apa, Tetsuna-chan?" tanya Shiori sambil mengelus punggung Tetsuna.
"Hiks… Te-Tetsuna… hiks… hiks… kangen sama… Kaasan… huweee…" tangis Tetsuna lalu menghambur ke pelukan Shiori.
"Are? Tetsuna kenapa menangis?" tanya Seika yang baru datang bersama Shintarou.
"Oh… dia sedang mengenang seseorang yang sangat berharga" celetuk Taiga agak ngasal. Tapi sebenarnya dia juga merindukan ibu kandungnya yang tewas bersama ayahnya karena kecelakaan pesawat itu. Taiga juga tidak tega melihat adiknya menangis seperti itu.
"Aa... sou ka... udah dua tahun nee..." guman Shintarou ikut terkenang.
"Lho? Seika? Tumben kau ke sini secara tiba-tiba? Ada apa?" tanya seorang pria paruh baya muncul dari dalam rumah yang kemudian disusul oleh pemuda jangkung berambut ungu.
Pria paruh baya itu adalah Akashi Masaomi, ayah kandung Seika. Sedangkan pemuda jangkung itu bernama Akashi Atsushi. Putra sulung Akashi yang juga merupakan kakak Seika.
"Aa... kejutan, Tousan!" kata Seika mengedipkan sebelah matanya.
"Nee... chotto, Sei-chin! Kalau kau cuma membawa Taiga-chin dan Tetsu-chin sih gak masalah. Tapi kenapa kau juga mengajak si ijo lumut jelek itu?" protes Atsushi sambil menunjuk Shintarou. Sedang yang ditunjuk sedang nahan gondok dengan urat yang bermunculan di wajahnya.
'Apa kau bilang, dasar titan omnivora!' umpat Shintarou dalam hati. Sebenarnya sih Shintarou bisa saja langsung menyemprot kakak iparnya dengan kalimat-kalimat judes seperti biasa. Tapi karena berhubung ada Masaomi, yang notabennya adalah bapak mertua Shintarou yang serba absolut, maka nyali Shintarou pun mengecil.
"Udah! Udah! Mending sekarang kita masuk aja dulu!" kata Shiori sebagai penengah.
"Saa… ikou!" kata Seika kemudian memasuki rumah yang merupakan tempat Seika menghabiskan masa kecilnya. Setelah itu, secara berturut-turut disusul oleh Shintarou, Taiga, Atsushi, dan kemudian Masaomi. Sedangkan Shiori masih menenangkan si kecil Tetsuna.
"Tetsuna-chan, sudah yuk kita masuk! Tetsuna-chan tidak boleh nangis lagi. Kalau Tetsuna-chan menangis, nanti Kaasan nya Tetsuna sedih di surga. Ya?" bujuk Shiori dengan lembut. Dengan masih sesegukan, Tetsuna mengangguk. Kemudian Shiori masuk ke rumah sambil menggandeng tangan Tetsuna.
緑x赤
Delapan cangkir teh dan juga sepiring kue kering dihidangkan oleh seorang maid. Shiori langsung menawari Seika beserta Midorima bersaudara itu untuk meminum teh mereka. Sedangkan Masaomi memasang wajah datar nan garangnya. Beda lagi dengan Atsushi yang malah asyik memakan keripik kentang bermerk Unicorn's dengan lahapnya.**) Begitu juga dengan Midorima bersaudara yang malah terlihat canggung di sini. Gimana tidak? Lihat wajah garang Masaomi saja sudah bikin keder-keder, terutama Shintarou.
"Ayo silahkan dimakan cemilannya" tawar Shiori dengan nada yang sangat ramah.
"A-arigatou…" guman Midorima bersaudara itu bersamaan.
"Mou ii desu yo, Tousan. Kau membuat mereka ketakutan" kata Seika jengah dengan wajah garang yang selalu dipasang ayahnya itu.
'M-Masaomi-jisan wa kowaii desu yo…' batin Tetsuna.
'Gila! Ini beneran bapaknya Seika-nee? Serem banget…' batin Taiga.
Sedangkan Shintarou cuma bisa terdiam.
"Ahem!" dehem Masaomi dan memulai percakapan. "Jadi ada apa kau ke sini bersama keluargamu, Seika? Secara mendadak pula. Apa sebelumnya mereka sudah minta cuti? Apalagi ini kan masih jam kerja dan adik-adik iparmu itu juga masih sekolah"
"Tentu saja sudah, Tousan. Memangnya Tousan yang dikit-dikit bolos?" jawab Seika agak menantang. Well, kalau urusan kayak begini mah Seika lah jagonya.
"Oy! Aku ini kan presdir! Biarpun aku membolos selama setahun, tidak akan ada yang berani memecatku!"
'Hn… iya deh yang punya perusahaan besar sendiri…' batin semua yang ada di ruangan itu kecuali Taiga dan Tetsuna yang tergolong masih bocah juga Atsushi yang emang pada dasarnya cuek.
"Ya sudah. Justru maksud kami datang ke sini karena kami punya kabar gembira bagi kita semua" kata Seika dengan wajah yang berbinar-binar.
"Kabar gembira? Apa itu?" tanya Shiori penasaran.
"Yang pasti bukan kulit manggis kini ada ekstraknya itu kan?" tanya Atsushi yang ternyata menjadi korban iklan obat manggis.
Kemudian dengan senyum cerahnya, Seika mengelus-elus perut datarnya lembut. Membuat Masaomi dan Atsushi mengernyit sedangkan Shiori ikut tersenyum karena…
"Aku hamil" kata Seika masih tersenyum. Gak nyadar kalau suaminya udah merinding takut karena ada dua aura negatif.
"APA?!" pekik Masaomi dan Atsushi terkejut.
"Kyaaa… Seika, omedettou! Akhirnya aku punya cucu juga! Arigatou nee…" pekik Shiori senang sekali sambil memeluk anak perempuannya. "Udah berapa minggu?"
"Katanya Shintarou-kun sih sudah memasuki minggu keenam"
dan sepasang ibu-anak itu pun kembali berpelukan seperti teletabis.
Sementara itu…
"Kau apakan anakku, hah?!" tanya Masaomi menatap tajam ke arah Shintarou. Sedangkan Shintarou sudah sejak kapan diikat ala budak dengan ujung talinya yang dipegang Atsushi.***)
"Kau ingin aku buat perkedel, hah?!" ancam Atsushi sambil mengencangkan ikatan talinya.
"GYAAAA… AMPUN‼"
Sementara itu, Taiga dan Tetsuna sweatdrop melihat kakak sulung mereka sedang dibully.
"Oh… aku turut berduka cita…" guman Taiga.
"Shintarou-nii! Ganbatte!" seru Tetsuna malah memberi semangat.
"IYA DAAA‼ TASUKETE‼" teriak Shintarou merana.
.
.
.
~TBC~
Ket:
*) bayangin aja Shintarou datang ke Indonesia lalu beli pelet untuk memikatkan hatinya Seika. Tapi bohong! #digibeng
**) keripik Unicorn's yang dimaksud di sini adalah plesetan dari keripik Lay's. Yang EXO-L pasti udah tau asal-usulnya. Member EXO yang bernama Zhang Yixing a.k.a. Lay memiliki simbol di MV MAMA yaitu unicorn. Apalagi nama panggungnya kayak merek snack, ya udah diplesetin jadi kripik unicorn. *dihajar fans Yixing*
***) aku membayangkan adegan ini seperti di Barakamon dimana Handa Seishuu yang melakukan itu kepada Naru di episode. Hanya saja posisi Naru digantikan Shintarou.
Tsuki's diary:
Doumo, Minna-san! chapter kali ini setting-nya kira-kira enam tahun sebelum Shouko lahir. jadi, Taiga dan Tetsuna masih imut-imut dan selalu imut-imut hanya untuk Tetsuna -tebar vanilla- (Taiga: lha terus gue dikemanain?!)
sebenarnya sih mau dijadiin oneshot kayak chapter sebelumnya. tapi karena di Ms Word jadi kepanjangan, makanya aku potong dari dua. dan chapter satunya udah jadi. tapi aku nunggu dulu siapa yang masih berminat. takutnya kalau udah diupdate, gak ada yang mau baca.
o iya, sekalian aku mau tanya. kalau dari chara original dibuat punya kembaran yang gender bend itu termasuk OC tidak? contohnya, Murasakibara Atsushi punya kembaran cewek namanya Murasakibara Atsuko. nah, yang si Atsuko nya termasuk OC atau tidak?
okey... segitu aja dulu sesi author's note-nya.
mind to review?
