Chapter 4
.
.
.
Terlihat sebuah mobil mewah baru saja terparkir di pekarangan mansion mewah keluarga Kim. Tak lama setelahnya, seorang namja tampan berwajah tegas keluar dari mobil mewah itu dengan mantel jas berwarna dark brown tersampir di lengannya. Namja bertubuh jangkung itu kemudian melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu mansion Kim. Sesampainya di ruang tengah, ia disambut ramah oleh seorang yeoja paruh baya dengan sebuah nampan yang dibawanya.
"Kau sudah datang Sekretaris Zhou." Ujar yeoja paruh baya itu membungkuk hormat.
Zhou Mi – Sekretaris Zhou – balas membungkuk lalu tersenyum, "Lama tidak jumpa Jung ahjuma. Bagaimana kabarmu?" Tanya Zhou Mi, ramah.
Jung ahjuma tersipu, "Kabarku baik-baik saja." Jawabnya.
"Bagaimana denganmu sendiri?"
"Aku baik ahjuma. Err.. bagaimana keadaan Nyonya Kim akhir-akhir ini ?" Tanya Zhou Mi sedikit kaku.
"Tentu kau tidak tahu keadaannya sekarang seperti apa, sudah berapa lama kau tidak berkunjung kemari?"
"Maafkan aku. Bukannya tidak mau, setelah diberi mandat oleh Nyonya untuk mengurus produk terbaru perusahaan, aku jadi sangat sibuk. Bahkan baru dua belas jam yang lalu aku mendarat di Korea." Jawab Zhoumi menjelaskan sambil mengusap tengkuknya sungkan. Sudah hampir tiga bulan ia tidak mengunjungi mansion ini.
"Hh~ pasti sangat melelahkan. Kau tidak boleh sampai lupa makan dan istirahat yang cukup Sekretaris Zhou. Kalau tumbang bisa gawat 'kan?" Ucap Jung ahjuma menasihati dibarengi dengan candaan.
Zhoumi terkekeh, "Tentu ahjuma."
Hening beberapa saat, hingga akhirnya Jung ahjuma mulai berbicara. "Sebenarnya, dua hari terakhir ini kondisi Nyonya menurun."
Zhoumi terdiam mendengar ucapan Jung ahjuma, "Itu terjadi setelah Nyonya dan err… Nyonya muda bertengkar.." Ucapnya pelan, berhati-hati.
"Maksudmu Nyonya bertengkar dengan Tuan muda–?"
"–Ssstt.."
Namja tampan itu menghela nafas lelah, "Dimana dia sekarang? Biar aku yang bawakan obatnya."
"Dia sedang beristirahat di kamarnya."
Kemudian Zhou Mi mengambil alih nampan berisikan obat-obatan itu. Namja berdarah Chinese itu memandang sejenak nampan yang dibawanya. Obat penenang lagi, batinnya.
Lalu melangkahkan kakinya menuju ruang istirahat Nyonya Kim. Namun langkahnya terhenti ketika Jung ahjuma mengucapkan hal yang cukup mengganggunya.
"Tadi pagi ia berbuat kekacauan, jadi.. berhati-hatilah saat bersamanya." Ucap Jung ahjuma memperingati.
Zhoumi menoleh lalu tersenyum lembut menanggapinya. Namja jangkung itu kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Nyonya Kim dengan raut mukanya yang berubah datar.
.
Klek..
Zhoumi membuka pintu berbahan eboni itu dan menutupnya dengan hati-hati. Kamudian namja Chinese itu menghampiri ranjang dimana sang Nyonya tengah membaringkan tubuhnya di sana. Nampan berisi obat itu diletakkannya di atas nakas, di samping ranjang.
Menatap sendu sang pujaan hati. Wajahnya yang begitu damai dan polos saat terlelap, mengingatkannya akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana pada kenyataannya dengan kejam yeoja cantik ini membuat hidup anaknya sendiri sengsara.
Tangannya terangkat membelai lembut dahi Victoria yang seputih susu itu, perlahan merambat turun ke pelipis, pipi, dagu, hingga akhirnya jemari itu mendadak terhenti di belahan bibir yeoja tersebut ketika tiba-tiba Victoria menyebutkan nama yang tidak asing lagi baginya. Victoria mengigau gelisah dalam tidurnya ditambah keringat dingin yang mengucur di pelipisnya.
"Sun Young.."
"Ukh, S-sun Young.."
"Kumohon Sun Young…jangan tinggalkan aku!"
Zhou Mi memandang wanita pujaannya itu sakit, perasaannya sakit. Kemudian namja berwajah stoic itu membangunkan Nyonya Kim hati-hati. Tak lama Victoria membuka matanya bersamaan dengan mengalirnya liquid bening itu tanpa tertahankan. Onyx wanita itu meredup dan itu cukup membuat perasaan Zhou Mi seakan tersayat.
Victoria menatap pria itu sambil tersenyum manis. Menahan tangis dibalik senyuman cantiknya mungkin akan membuat pria di sampingnya ini tidak tau keadaannya saat ini. Namun, pertahannya runtuh seketika saat obsidian itu menatapnya sangatlah lembut dan hangat. Seakan mendapat ijin untuk melepaskan resah dan sakit yang dirasanya. Kemudian wanita cantik itu menangis sejadi-jadinya. Zhou Mi yang mengerti apa yang terjadi pada Victoria pun langsung memeluknya. Melontarkan kalimat-kalimat menenangkan sambil mengelus lembut punggung sang wanita pujaan.
"Hiks..aku – Zhou Mi..aku bermimpi tentangnya lagi..hiks" Racaunya dengan air mata yang mengalir deras ke pipinya yang sudah berubah merah.
.
.
.
PrinceRathena
My Step, My Everything
.
Cast:
Kim Jongwoon [Yesung], Cho Kyuhyun
Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Victoria Song, ...
[bertambah seiring berjalannya cerita]
.
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comport
.
.
.
.
*Selamat membaca*
.
.
Chapter 4
.
Beradunya lonceng menimbulkan suara merdu di seluruh wilayah Ouran High School, membuat semua warga OHS bersorak gembira – termasuk para pengajar. Itu adalah tanda bahwa jam pelajaran telah berakhir dan waktunya warga OHS merefresh kembali otak mereka yang telah 'tercemar' dengan begitu banyak bahan pembelajaran. Tidak sampai lima menit, hampir seluruh kelas sekolah elit itu kosong.
Lorong koridor yang awalnya begitu sepi dalam sekejap menjadi ramai oleh siswa-siswi yang sudah tidak sabar untuk keluar dari – gerbang – jeruji ilmu yang mereka sebut dengan sekolah. Hingga terlihatlah seorang yeoja mungil nan cantik di antara lautan manusia. Yeoja cantik itu tersenyum manis ketika teman-temannya menyapa.
"Apa? Baekhyun tidak kembali masuk kelas?" Tanya seorang yeoja bermata sipit itu yang kita tahu adalah Yesung.
Yeoja berwajah mungil itu mengangguk. "Sepertinya Baekhyun sakit eonnie."
"Sakit? Tapi.., dia tidak menghubungiku." Gumam Yesung yang masih didengar teman sekelas Baekhyun.
"Saat aku mengantar Hyolyn ke ruang kesehatan, aku melihat Baekhyun digendong seseorang dan meminta ijin Im Seonsaengnim untuk membawanya pulang.." Ucapnya, kemudian raut wajah itu terlihat berfikir. ".., sepertinya telah terjadi perkelahian, dilihat dari namja yang menggendong Baekhyun begitu berantakan dan banyak memar dan darah di daerah mukanya." Jelas yeoja itu sambil menunjuk wajahnya melingkar.
Yesung menautkan kedua alisnya. "Namja?"
Yeoja itu mengangguk lagi.
"Seperti apa ciri-ciri namja yang membawa Baekhyun?" Tanya Yesung penuh selidik. Yeoja bersurai caramel itu mengarahkan bola matanya ke segala arah – pose mengingat.
"Emm.., namja itu tampan, tinggi dan…" Tiba-tiba alisnya bertautan. "Tunggu! Dia sunbae yang satu bulan lalu menyatakan cintanya pada Baekhyun!" Yeoja itu bersorak girang.
Menyatakan cinta? Pada dongsaengnya?
Ah, iya!
Yesung ingat sekarang. Baekhyun pernah bilang bahwa ia pernah ditembak seseorang. Tapi siapa? Baekhyun tidak menyebutkan namanya waktu itu. Kejadiannya tidak begitu booming di sekolah.
"Baekhyun mengirimiku pesan singkat tadi siang, tapi dia tidak bilang kalau dia sakit. Aku kira dia masih mengerjakan tugas dari Jeon Seonsaengnim."
"Baekhyun keluar perpustakaan lebih dulu dariku nuna." Ucap seorang namja bersurai orange tiba-tiba. Membuat Yesung semakin berfikir keras. Ia takut sesuatu terjadi pada dongsaengnya.
Menghela nafasnya lemas, Yesung kemudian tersenyum pada dua teman sekelas Baekhyun, "Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih Dasom-sshi, Tae Hyung-sshi." Ucapnya memberi salam. Setelahnya yeoja cantik itu pergi meninggalkan dua teman Baekhyun dengan perasaan khawatir.
.
.
"Yesungie~"
Puk
Yesung yang sedang sibuk menelpon Baekhyun terlonjak kaget ketika tiba-tiba seseorang membisikkan namanya seduktif disusul dengan tepukan di kedua bahunya. Refleks Yesung menoleh ke kanan – ke arah si pembisik, dan itu sukses membuat mata sipitnya membola lucu. Pipinya berubah panas dan memerah ketika tahu jarak hidung Kyuhyun dan dirinya begitu dekat.
Kyuhyun terkekeh melihat raut wajah Yesung yang selalu lucu di matanya. Lalu tangannya terangkat mengacak poni Yesung gemas.
"Halo manis~ kenapa belum pulang hm?" Sapa Kyuhyun, jangan lupa senyuman mautnya yang semakin membuat Yesung membatu.
"Err.. itu.., aku sedang…menelpon." Jawabnya, onyx kelam itu berkedip imut. Gugup lebih tepatnya.
Kyuhyun terkekeh. Ada apa dengan yeoja ini, Kyuhyun kan tidak menanyakan apa yang dilakukannya. Ckckck.. mungkin itu efek samping dari senyuman menawanku, batinnya narsis.
"Harusnya kau menjawab 'aku sedang menunggu kekasihku' atau 'aku menunggu mobil jemputan' bukan 'sedang menelpon'." Ucapnya gemas.
"A-aku tidak punya kekasih!"
Tuh 'kan, Yesung aneh..
Namun, bukan Kyuhyun namanya kalau namja evil itu tidak jahil.
"Benarkah?"
"Ukh!" Yesung mengangguk cepat.
Kyuhyun terkekeh geli. Menyenangkan rasanya menjahili Yesung yang polos dan salting begini. Terlebih lagi kesaltingan Yesung itu disebabkan olehnya.
"Well, kalau kau memang tidak punya kekasih, kau mau kan temani aku jalan-jalan?"
Yesung berkedip lucu..
"Kau tidak punya kekasih kan?"
Yesung menggeleng..
"Kalau begitu, ayo…" Kyuhyun mengulurkan tangannya ka arah Yesung.
Yesung tersipu malu, "Kau…, mengajaku berkencan?"
.
Hening…
.
3 detik
.
4 detik
.
6 detik
.
WHAT!? Kencan?
Dengan Kyuhyun?!
[alarm berbunyi], Oh Yesung betapa polos dirimu~ dengan entengnya menanyakan itu kepada seorang manusia jelmaan Iblis macam Kyuhyun?! Jelas Kyuhyun kita tersinggung dengan pertanyaan itu. KYUHYUN KITA KAN GAY! Kawan…
Sampai ladang gandum dihujani cokelat dan menjadi koko crunch juga Kyuhyun tidak akan pernah mengajak yeoja manapun untuk berkencan. ckck..
Kyuhyun tersenyum kaku. "Err… kau..., mau 'kan mengantarku membeli komik di toko buku dekat pusat kota?" Tanya Kyuhyun, mengalihkan pembicaraan. Kemudian namja berkulit pucat itu perlahan-lahan melanjutkan perjalannya menuju gerbang sekolah. Jangan lupa wajahnya yang terlihat syok.
Yesung terdiam cukup lama, menatap kepergian Kyuhyun yang mulai menjauh darinya. Apa dia salah mengartikan ucapan Kyuhyun? Entahlah. Yesung tak mengerti. Yeoja bersurai hitam itu mengedikan bahunya tidak peduli.
"Aku ikut Kyu! Tunggu aku!" Yesung kemudian mengejar Kyuhyun yang semakin menjauh darinya dengan senyuman manis di bibir tipisnya.
Yesung dan Kyuhyun meninggalkan gerbang sekolah mereka bersama. Dan.. yeah~ sepertinya Yesung melupakan sesuatu yang lebih penting hanya karena seorang Cho Kyuhyun.
.
.
Baekhyun meringis ketika sebuah kapas beralkohol mengenai bibir di bagian bawahnya. Sekarang ini mereka – lebih tepatnya Baekhyun – berada di apartement Chanyeol.
Chanyeol yang saat itu kalap dan bingung karena Baekhyun yang tiba-tiba pingsan, tanpa berpikir panjang lagi langsung membawa hoobae mungilnya itu ke apartement mewahnya. Dan berakhirlah mereka sekarang terdampar di kamar Chanyeol yang berantakan. Sangat berantakan.
Karpet dengan bermacam-macam noda, lantai lengket, alat makan kotor yang menumpuk, banyak bungkus snack dan wadah-wadah makanan junkfood yang sudah kadaluarsa ditambah pakaian kotor dimana-mana, dari kaos, kemeja sampai daleman saja berserakan di lantai.
Seluruh ruangan di apartement ini bagai kandang sapi – eits, bukan sapi. Kandang sapi masih suka dibersihkan, tapi ini sama sekali tidak mencerminkan apartement mahal malah terlihat seperti gubuk bobrok. Entahlah, intinya apartement ini tidak layak dihuni titik.
Lalu bagaimana dengan Baekhyun yang anteng bagaikan 'chili baby'?
Baekhyun yang kini tengah berada di atas ranjang Chanyeol – tempat terapih satu-satunya – sambil menahan sakit tentu saja tidak memperdulikan itu semua. Yang ia rasakan sekarang ini hanya sakit di beberapa bagian tubuhnya dan jantungnya yang hampir copot karena gugup.
Kenapa harus gugup?
Err.. mungkin–
Memang apa yang membuat Baekie segugup itu?
Itu karena Baekhyun harus berduaan dengan orang yang ditaksirnya!
Dan orang itu tepat dihadapannya dengan jarak yang tidak bisa dibilang jauh!
Coba bayangkan..
Di dalam apartement yang sepi juga gelap karena sepertinya hari mulai sore dan Chanyeol juga tidak mau repot-repot menyalakan lampu di ruangan itu. Ditambah Baekhyun yang sekarang ini tengah topless dihadapan Chanyeol.
"Pasti sakit ya.." Ujar Chanyeol. Ibu jarinya mengelus lembut bibir pulm Baekhyun yang tidak terkena luka. Baekhyun mengangguk sambil tersenyum kaku.
"Tapi sekarang tidak apa-apa. Sunbae menolongku tadi, heheh.."
Mereka saling bertatapan dalam diam. Namun tak lama karena Baekhyun lebih dulu memutuskan kontak mata yang saling menyiratkan kepedihan itu.
Baekhyun menundukan kepalanya, tak mau menatap sunbaenya karena entah kenapa sekelebat ingatan atas kejadian tadi membuatnya sungkan untuk menatap lama sang sunbae.
Chanyeol tersenyum. Ia tahu perasaan namja bersurai magenta di hadapannya ini. Hatinya pasti sakit dan malu dilecehkan seperti itu. Dan entah kenapa Chanyeol merasakan sakit yang sama di hatinya. Perlahan-lahan tangannya terangkat, membelai lembut pipi kiri Baekhyun yang hangat.
Chanyeol mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba kejadian buruk dua belas tahun yang lalu terlintas di ingatannya. Kejadian dimana ia melihat nuna kesayangannya dilecehkan. Dengan mata kepalanya sendiri Chanyeol kecil menyaksikannya. Nunanya yang tanpa sehelai benang pun, menjerit kesakitan dan berteriak meminta tolong. Juga tawa puas bercampur nafsu dari para bajingan itu.
"Akkh! hiks.. I-ini sakith – hiks..k-kumohon berhentihh! –"
" – hiks..mmbbhh! mmbbhh!"
"HAHAHAH…!"
Ukh.
Baekhyun memandang khawatir sunbaenya yang terlihat pucat. Namja mungil itu perlahan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Chanyeol, "Sunbae, kau terlihat pucat. Kau juga harus diobati."
Baekhyun mengambil obat antiseptic dan kapas kemudian mulai mengobati luka-luka itu tanpa persetujuan dari empunya. Chanyeol memandang Baekhyun dalam. Merasa ditatap seintens itu, Baekhyun balik menatap Chanyeol walau hanya sebentar kemudian melanjutkan kegiatannya.
Dibenaknya Baekhyun bertanya-tanya, Chanyeol sunbae yang menghajar habis-habisan orang itu bagaikan monster. Tidak terlihat seperti sunbaenya yang ramah dan humoris. Tapi kenapa? Ada apa dengan sunbaenya saat itu?
"Kau mengingatkan aku akan seseorang yang kucintai, Baek.."
Baekhyun menatap Chanyeol kaget. Tiba-tiba hatinya berdesir ketika Chanyeol yang juga menatap wajahnya. Begitu berbeda dari biasanya. Chanyeol lebih tampan. Begitu gagah.
Sama halnya dengan Baekhyun. Namja yang lebih tinggi itu menilik wajah hoobaenya yang ternyata sangatlah manis dan lain dari namja yang setiap hari ditemuinya dimana-mana.
Baekhyun begitu cantik.
Ya..
Dia berbeda, dia bagai peri..
.
Baekhyun begitu manis.
Dia bagai gulali..heh
.
Begitu Lugu dan polos.
Yeah~
Chanyeol memandang liar Baekhyun yang topless dan tak berdaya dihadapannya. Membuat sesuatu di bawah sana tiba-tiba menegang.
Baekhyun begitu seksi.
Yeah..ia benar-benar seksi dan menggairahkan–
E-ekh?!
Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan! Aissh!
Dia namja Chanyeol pabo!
Dan aku juga..NAMJA!
Menahan rasa gugupnya, Chanyeol segera pergi dari kamarnya meninggalkan Baekhyun yang kebingungan di atas ranjang.
"Ada apa dengannya?" Gumam Baekhyun sambil mengerucutkan bibir pulmnya. Jujur saja ada rasa sedikit kecewa dalam hati namja mungil itu atas kalimat yang Chanyeol lontarkan tadi.
Seseorang yang dicintai Chanyeol?
Hah, Baekhyun menghela nafasnya lemas. Kemudian namja pendek itu membaringkan tubuh rampingnya kasar ke ranjang. Ia ingin tidur sekarang.
.
*Kyusung*
.
"Pukul 04:45.."
Yesung menghela nafasnya bosan. Hampir dua jam ia menemani Kyuhyun mencari buku. Sudah tiga toko mereka jelajahi dan dari ketiga toko tersebut mereka selalu keluar dengan tangan kosong. Dan tepat detik ini ia sudah menunggu hampir setengah jam.
Sudah terlalu malas Yesung menunggunya di dalam. Kedua kaki pendeknya melangkah menuju kursi panjang di depan toko. Yesung mendudukan bokongnya lalu menyandarkan tubuh lelah itu disandaran kursi. Yeoja itu mengerucutkan bibir cherrynya. Ia bosan, sungguh.
Yesung memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang begitu lembut menerpa kulitnya yang putih. Bulu-bulu halus di sekitar lengan dan kakinya meremang kedinginan. Dan ia suka itu, angin yang berhembus ini seperti membawa semua beban hidupnya.
Ck, lucu sekali Jongwoon.
Padahal, pada kenyataannya angin tidak mau repot-repot mengambil beban hidup seseorang, terlebih itu kau.
Yeah, Jongwoon tau itu..
Dan itu hanya penghiburan semata yang namja ini lakukan untuk dirinya sendiri agar tetap kuat menghadapinya.
Apa itu salah?
"Yesung-ah, maaf menunggu lama.. ini, minumlah!"
Yesung mendongakan kepalanya, saat itu pula sebuah minuman kaleng diarahkan kepadanya. Itu dia. Si pangeran tampan Kyuhyun datang juga.
Diangkatnya kantung plastik itu ke arah Yesung, lalu senyumnya mengembang. "Aku menemukannya.."
Lega.
Puas.
Senang.
Yesung melihat bermacam-macam ekspresi di caramel itu. Gadis cantik itu membalas senyumannya dengan senyuman bersyukur. Itu berarti ia bisa cepat pulang dan mandi.
Kemudian diambilnya minuman itu. Hangat..
Kyuhyun meringis ketika melihat waktu di jam digitalnya, "Maaf ya, karena aku kau harus menunggu begitu lama." Kyuhyun menyesal jadinya membuat yeoja manis ini menunggu karenanya. Yesung pasti kesal padanya.
Namun detik kemudian, Kyuhyun semakin terpana akan sosok si mungil yang kini tersenyum sangat cantik dihadapannya. Angin yang menerpa surai hitam panjang itu menambah kesan berbeda di mata Kyuhyun.
Suka..
Deg.
Angin sore yang berhembus agak kencang membuat rok yang Yesung kenakan terangkat cukup lebar. Dan harus ditekankan juga bahwa Kyuhyun itu tetaplah seorang namja evil, dan pastinya ia tidak mau melewatkan kesempatan emas itu. Yesung yang tidak mengerti dengan ekspresi aneh Kyuhyun, melirik ke arah yang dituju si namja tampan. Refleks gadis itu menahan roknya dengan mukanya yang merona parah.
"Wow.. hoa~ yang tadi itu apa?" Tanya Kyuhyun, dengan mengibas-ngibas mukanya sendiri. Intinya sih, namja itu hendak menggoda Yesung. Tapi, dilihat dari wajah Yesung yang memerah sempurna.. apa dia marah? Kyuhyun membalikan badannya perlahan dan melarikan diri secepat kilat, bisa gawat kalau yeoja pendek itu murka dan memukulinya.
Namun, bagi Yesung waktu seakan terhenti dan seluruh dunia berubah abu-abu. Ia malu dan tentunya…takut?
"D-dia..melihatnya?"
Yesung membatu. Kemudian gadis itu menoleh cepat kearah Kyuhyun. Dimana namja itu tengah tertawa terbahak-bahak jauh di depannya.
Yesung mendesis dengan kedua alisnya yang mengerut, "Ukh! Kau menyebalkan Kyu! Dasar Mesum!" Yesung berdecak kesal, lalu tanpa ba-bi-bu yeoja itu berlari mengejar Kyuhyun dengan kekuatan penuh seorang namja kuat.
Hha.
Kyuhyun menghentikan tawanya seketika. Matanya terbelalak melihat Yesung yang berlari kearahnya bagai eyeshield 21.
Lalu, keduanya pergi meninggalkan toko buku tersebut dengan 'semangat'.
.
.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya namja tan bersurai silver. Dari nadanya yang terlihat cuek, dia tampak tak peduli sebenarnya.
Yang ditanya mendecih, menatap jengkel teman tak bertanggungjawabnya. "Menurutmu? Aku hampir kehilangan gigi-gigiku, tahu?!" Jawabnya kesal. Yang malah mendapat senyuman ejekan dari si namja bersurai silver.
"Itu mungkin balasan atas ulahmu yang suka merusak kehormatan setiap orang yang kau kencani. Terima saja."
Jung Yunho mendengus sebal mendengar ceramahan tak mutu temannya itu. ia pasti akan membalas mereka berdua. Pasti.
Greekk..
Pintu ruangan rawat inap itu bergeser, menampilkan sosok tinggi nan tampan yang sayangnya berwajah dingin.
"Choi Siwon datang~" Sambut Daehyun, menyeringai.
Siwon menatap Yunho tajam.
"Apa?"
"Kau menyedihkan!"
"Lebih tepatnya KITA yang menyedihkan Choi!" Kilah Yunho menekan kata kita.
"Ouh, sorry guys. Tapi aku tidak ikut terlibat, ya. Aku tidak menyedihkan seperti kalian." –Daehyun.
"Bukannya kau yang lebih menyedihkan, Dae? Mencintai adik tirimu sendiri." Siwon terkekeh, memutar bola matanya malas.
Yunho menyeringai, walau sebenarnya itu sakit.
Wajah Daehyun mengeras. "Dasar ember!"
.
.
Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang sedang menyisir rambut cepaknya. Bersiap untuk pergi, katanya mau mengantar Baekhyun pulang. Mengingat itu, Baekhyun menghela nafasnya.
"Chanyeol sunbae –"
"Chanyeol hyung."
"Huh?"
"Jangan sebut namaku seformal itu. Kita bukan orang yang baru kenal, okey?"
Baekhyun pouting, "Dua hari kenalan dan hari selanjutnya kau menyatakan cinta padaku. Itu cukup baru kenal, bukan?" Kilah Baekhyun. "Dan – dengar! Aku baik-baik saja. Lihat. Kau tak perlu mengantarku pulang…hyung."
Chanyeol menyambar mantel hitamnya yang tadi ia sampirkan di sofa. Kemudian menghampiri Baekhyun yang tidak jauh darinya.
"Kau tidak mengerti? Atau tidak peka?" Tanya Chanyeol agak sewot.
"Tentang apa?" Tanya Baekhyun.
Dia itu polos atau bodoh. Pikir Chanyeol.
Chanyeol menghela nafasnya kasar. Kemudian dilihatnya pakaian yang Baekhyun kenakan. Itu kaos miliknya yang kekecilan. Tapi kenapa terlihat begitu besar saat Baekhyun pakai? Chanyeol kembali ke kamarnya dan keluar dengan jaket baseball berwarna biru miliknya. Lalu memakaikannya pada Baekhyun.
Baekhyun yang pada dasarnya polos, suka-suka saja dipakaikan jaket begitu oleh Chanyeol. Itu mengingatkannya sewaktu kecil ketika ia dipakaikan baju selesai mandi oleh kakeknya. Ukh~ Baekhyun jadi rindu kakek sekarang.
Tak lama, Chanyeol menarik Baekhyun keluar apartementnya yang kotor menuju basement. Sesampainya di basement Chanyeol dan Baekhyun menghentikan langkahnya di depan sebuah motor besar berwarna putih yang Baekhyun yakin milik Chanyeol. Baekhyun menerima helm yang Chanyeol arahkan padanya dan memakainya setelah sebelumnya namja mungil itu naik di jok belakang.
Ketika hendak melaju, tiba-tiba motor besar itu terhenti. Membuat Baekhyun menyembulkan kepala helmnya di belakang Chanyeol. Namja yang lebih tinggi terus menyalakan mesin motornya dan hasilnya nihil, motornya tetap tidak menyala. Kemudian, Chanyeol membuka sebuah penutup dari logam di depannya. Dan ternyata..
"Bensinnya habis?" Tanya Baekhyun tepat sasaran.
Chanyeol mati kutu. Malu lebih tepatnya.
Baekhyun turun dari motor mewah itu. Melepas helm tersebut. Lalu mengembalikan benda itu pada pemiliknya. "Kalau begitu, aku pulang ya hyung. Kau tak perlu mengantarku segala."
Setelahnya, Baekhyun pergi meninggalkan Chanyeol yang jiwanya melayang entah kemana.
Dasar motor durhaka! Issh..
.
*Kyusung*
.
Hari mulai gelap, sang surya yang menyinari bumi mulai menenggelamkan diri untuk menyinari belahan bumi lainnya. Namun, bukan Korea Selatan namanya bila kota Seoul tidak ramai. Banyak yang masih beraktifitas di luar sana, sama halnya dengan dua 'sejoli' ini yang baru saja keluar dari sebuah rumah makan sederhana. Mereka berjalan beriringan menuju halte bus sambil bersenda gurau membuat beberapa pasang mata menatap mereka iri. Ditambah Cho Kyuhyun yang entah sejak kapan merangkul bahu sempit Yesung, mereka terlihat begitu akrab dan tidak canggung lagi – atau lebih tepatnya Yesung yang canggung.
"Ya ampun~ cantik sih cantik tapi judes!" Ejek Kyuhyun.
Yesung terkekeh mendengar ejekan yang Kyuhyun lontarkan kepada pelayan wanita berambut cepak di rumah makan yang tadi mereka singgahi. Dan kalau kalian tahu, Yesung benar-benar lupa dengan apapun jika bersama Kyuhyun. Siang yang berubah malam, mamanya yang protective, bahkan Baekhyun yang menghilang.. Yesung melupakannya. Huff..
"Menurutmu bagaimana?" Tanya Kyuhyun. Mereka menghentikan langkahnya ketika sampai di pemberhentian bus.
"Makanannya enak.." Jawab Yesung sekenanya.
Kyuhyun mengerutkan kedua alisnya lalu menoleh ke arah Yesung, "Bukan itu. Makanannya memang enak. Tapi yang lain – kau juga harus ikut berkomentar sepertiku." Dasar evil, berencana membuat Yesung kita terlihat buruk.
Yesung terlihat berfikir, Kyuhyun yang memperhatikannya merasa Yesung benar-benar menggemaskan.
"Ah, iya. Wanita itu di sebelah sini.." Yesung menunjuk bagian samping kiri kepalanya, "Pitak.." Ucap Yesung polos dan… garing. Jangan lupa cengiran imutnya. Keheningan terjadi beberapa detik dengan dua 'sejoli' itu saling memandang satu sama lain. Caramel itu menatap yeoja di sampingnya dengan pandangan yang tak yang tidak mengerti akan tatapan Kyuhyun berkedip lucu.
"Apa pitaknya seluas pulau Jeju?" Tanya si pale sama garingnya.
"Huh?"
Butuh beberapa detik Yesung mencerna pertanyaan Kyuhyun yang sama konyol dengannya. Tak lama, karena setelahnya mereka tertawa bersama. Begitu lepas. Dan bebas. Seakan mereka merindukan moment menyenangkan seperti sekarang ini. Tanpa disadari, keduanya telah menyambut baik perasaan lain yang memenuhi kekosongan masing-masing. Andai mereka tahu itu.
Cukup lama mereka tertawa hingga tidak mereka sadari jarak diantara keduanya begitu dekat, kening yang bertabrakan menyadarkan salah satu dari dua 'sejoli' itu. Kyuhyun menatap lembut Yesung yang tawanya mulai mereda.
Sangat mirip..
Tak lama menunggu, bus yang keduanya tunggu tiba.
Kyuhyun mengacak poni Yesung gemas lalu menarik lembut tangan mungil itu menuju bus. "Ayo, pulang."
Yesung menarik sedikit kasar tangan yang digenggam Kyuhyun. Kyuhyun menoleh ke arah Yesung kaget. Namun, detik kemudian si pale mengerti tatapan bingung yeoja mungil itu.
"Ayo.." Menarik lembut jemari mungil itu lagi, "Oppa antar pulang.." Jelasnya dengan senyuman yang menghangatkan hati sosok lain Yesung, Kim Jongwoon.
.
.
Sudah kesekian kalinya namja mungil bersurai magenta itu menghela nafas, namun bedanya kali ini ia sudah cukup jengah dengan kelakuan 'aneh' seseorang di belakangnya. Sejak kepulangannya dari apartement mewah itu ia sudah merasakan ada 'makhluk asing' mengikutinya terus menerus. Dan ia tahu siapa 'makhluk asing' namun tampan yang mengikutinya bagai anak anjing malang itu.
Langkah yang lebih pendek terhenti membuat seseorang di belakangnya ikut terhenti. Namja mungil itu membalikkan badan kurusnya.
"Chanyeol hyung! Berhenti mengikutiku diam-diam!"
"Aku tidak mengikutimu diam-diam. Kau saja yang pura-pura tidak peduli."
Baekhyun mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada apa dengan sunbaenya ini? Sudah cukup lama mereka tidak bertegur sapa setelah Baekhyun menolak Chanyeol. Dan sekarang, Chanyeol dihadapannya. Sejujurnya, Baekhyun senang Chanyeol disini sampai-sampai rasanya jantungnya mau meledak saja saking senangnya. Ditambah, mau dilihat dari sudut manapun namja tinggi dihadapannya ini semakin tampan dan mempesona.
Ya ampun~ aku bisa gila!
" –Hyun? Baekhyun?" Rasa hangat di kedua pundaknya membuat namja bersurai magenta itu tersadar dari lamunannya. Kedua mata sipitnya berkedip tiga kali dengan cepat ketika sebuah jemari besar menyentuh keningnya.
"Kau tidak apa-apa 'kan, Baekhyun?"
"Huh? O-oh.., iya. Aku baik.., hyung.."
Chanyeol mendengus, "Menurutmu, aku akan membiarkanmu pulang sendirian begitu? Lihat dirimu sekarang, Baek. Kau sedang tidak baik-baik saja!" Baekhyun terdiam atau lebih tepatnya terkejut. Chanyeol baru saja membentaknya.
"Suhu tubuhmu naik. Kalau begini pasti akan demam. Apa kau merasa pening? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Tidak. Kita memang harus ke rumah sakit sekarang –"
"Hyung.." Baekhyun mendongakkan kepalanya menatap caramel itu tidak percaya. "Kau… mengkhawatirkan…, aku?"
Chanyeol terdiam. Mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi. Ia mengikuti namja mungil ini hingga malam, rela kedinginan juga menempuh jarak yang cukup jauh, dan ia sadar bahwa ia baru saja membentak si mungil dihadapannya ini. Bukankah ini memang ciri bahwa ia mengkhawatirkan Baekhyun? Chanyeol mengepalkan tangannya hingga memutih.
"Ya. Aku mengkhawatirkanmu. Dan rasanya aku bisa gila." Ucapnya tegas, dingin dan penuh penekanan. Baekhyun membatu. Tatapan yang Chanyeol pancarkan tak dapat ia artikan. Dan berbeda.
"Hyung.." Baekhyun menarik ujung lengan mantel yang Chanyeol kenakan. Dan menatap sunbaenya tepat di bola mata indahnya itu.
"Jadilah pacarku! C-Chanyeol hyung."
Chanyeol membelalakkan mata bulatnya, dirinya bagai dihantam truk semen dan jantungnya.. rasanya berhenti berdetak untuk beberapa detik.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya gugup dan salah tingkah ketika tidak ada reaksi berarti dari si namja jangkung di hadapannya ini. Ia mengerti ini tiba-tiba, namun apa daya ia tidak bisa memutar kembali waktu dimana ia tidak mengucapkan kalimat 'mematikan' itu sembarangan.
Tunggu.. Sembarangan? Baekhyun mencengkeram ujung jacketnya kuat-kuat. Ia tidak sembarangan mengucapkan kalimat itu. Kalimat itu terucap tulus dari hatinya yang paling dalam. Perasaan yang dipendamnya selama satu bulan yang lalu dimana ia menyesali segalanya saat itu. Baekhyun menundukan kepalanya. Rasanya ia ingin menangis – karena malu – dan berteriak minta tolong pada Jongwoon hyungnya.
"B-baek… kenapa tiba-tiba..?"
"A-anu..s-sunbae…, ah, hyung.. i-itu.." Ucap Baekhyun gagap. "T-tentang pernyataan cintamu waktu itu.."
Chanyeol mematung. Dan Baekhyun benar-benar mulai gelisah sekarang.
"A-aku, aku selalu memikirkannya dan a-aku –"
" –Maaf."
Baekhyun terdiam. Apa yang tadi Chanyeol ucapkan? Dirinya hampir tidak mendengar. Apa itu–
"Maaf.."
–Penolakan?
"Maaf.."
Baekhyun merasa kakinya lemas, jemari lentik itu perlahan melepas ujung mantel Chanyeol bersama dengan suara remuk di hatinya. Untuk bernafas pun rasanya berat bagi Baekhyun sekarang, seolah-olah ada benda tak kasat mata yang menusuk tepat di jantungnya. Dan fakta ternyata dirinya lah sekarang yang ditolak Chanyeol mentah-mentah. Tanpa hitungan menit, sunbaenya menolak perasaannya.
Chanyeol menelan ludahnya gusar, "Biar aku antar kau pulang. Ayo.." Ditariknya tangan halus itu, menuntunnya dan kembali berjalan.
Baekhyun rasanya ingin menangis sekarang juga. Jemari itu, kehangatan yang dirasakannya sekarang. Baekhyun menatap sedih punggung lebar sang sunbae. Pandangan Baekhyun memburam, ia yakin air matanya mulai tak tertahankan lagi. Dengan kasar Baekhyun menepis genggaman Chanyeol membuat yang paling tinggi menoleh kaget pada yang lebih pendek.
"Hyung.."
Chanyeol menatap Baekhyun tepat di onyx kelamnya, entah mengapa tatapan itu menyiratkan kepedihan yang dalam membuat dirinya merasa takut.
"Mari kita jangan bertemu lagi."
Tepat. Telak. Dan sakit.
Chanyeol membisu.
"D-Dan.. ini, untuk terakhir kalinya.."
Baekhyun menarik kerah mantel Chanyeol membuat pemuda yang lebih tinggi sedikit membungkuk, saat itu pula bibir tebal Chanyeol bertemu bibir tipis Baekhyun. Chanyeol membelalakan mata bulatnya terkejut. Jemarinya bergetar, menahan gugup. Walau hanya menempel, namun Baekhyun begitu menikmatinya dengan mata terpejam.
Cantik..
Chanyeol memandang sendu pemuda mungil yang masih menciumnya. Hingga liquid bening itu mengalir tanpa tertahankan dari empunya. Yang pemuda ini rasakan hanyalah perasaan sakit di hatinya saat ini.
Baekhyun perlahan melepas ciuman singkat itu dengan matanya yang juga perlahan terbuka. Dirinya terkejut melihat ekspresi Chanyeol yang dingin, jangan lupa jejak air mata itu. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"A-akan aku pastikan kita tidak bertemu lagi. Cukup sampai di sini saja sunbae mengantarku pulang." Baekhyun sedikit membungkuk memberi salam, "Sampai jumpa.."
Chanyeol mencengkram pundak Baekhyun, membuat Baekhyun bingung.
"Kau curang! Kau kira kau siapa bicara seenaknya padaku."
Dan detik selanjutnya ia dikejutkan dengan Chanyeol yang melumat bibirnya sedikit kasar. Baekhyun hendak berontak, tapi jemari panjang Chanyeol merambat naik dan menekan tengkungnya. Chanyeol mengusap lembut dagu lancip Baekhyun dengan jemarinya yang lain, membuat pemuda yang lebih pendek merasa geli dan akhirnya sang hoobae luluh. Tak ada perlawanan dari Baekhyun, yang ada hanya kenikmatan dan kehangatan yang dirasakannya.
Ciuman itu berakhir dengan Chanyeol melepas tautan bibir mereka perlahan, menatap sang hoobae yang masih memejamkan matanya. Diusapnya lembut kedua pipi merona Baekhyun membuat pemuda itu membuka onyx indahnya dan berakhir dengan si tampan Chanyeol yang terpana, hingga sebuah suara yang dikenalnya menginterupsi.
Klontang…
"Oh my god.."
Chanyeol menoleh ke arah kanan dimana dirinya mendengar suara seseorang menginterupsi kegiatan mereka. Alhasil, mata doenya membelalak mengetahui bahwa sahabatnya lah yang mengganggu perasaannya sedari tadi.
"Kyu.." Lirih Chanyeol.
Baekhyun ikut menoleh dan berakhir sama terkejutnya dengan sang sunbae.
"H-Hyung.."
"Kalian.."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
OMAKE
Sekarang ini, Yeol ama Kyu lagi di beskem mereka yaitu di apatemennya si Yeol yang super kotor dan bau. Suasananya hening mencekam, mereka diem-dieman gitu kaya orang katarak tapi mata lirik-lirikan kaya orang kelilipan pasir segede batu. Yeol lirik Kyu heran. Kyu lirik Yeol nahan tawa.
Chanyeol:"APA?" #sewot
Kyuhyun:"Ciee, yang homo!" #ketawa nista
Chanyeol: #nataphoror.. "Kamu seneng aku jadi homo?"
Kyuhyun: #ngangguksoimut.. "Iyalah, berarti kita temen sehati selamanya, Yeol."
Yeol nganga, ngeratapin betapa ga beruntungnya dia punya temen kaya si Kyu.
Untuk ke sekian kalinya Yeol ngerasa dunia menghianatinya…
.
.
Haloooooooooooo semuanyaaaaaaa…! Pada sehaaaattt? /sujud 100000000x../
Maaaaaffff beribu-ribu maaf, karena saya sebagai author bener-bener gak bertanggung jawab.. /nangis oli../ dan terima kasih banyak karena udah mau nunggu ff lumutan ini. Kalo ga ada kalian, pasti aku bakal berhentiin ff ini. Entah kenapa, tiba-tiba aku mengidap penyakit para author pada umumnya, wkwk.. padahal masih baru tapi udah males begini-_- tapi tenang aja, sebenernya aku suka nyicil bikin ffnya dan berakhirlah cicilan saya di chapter 4 ini dan ta-daa~ akhirnya publish jugaa..^^ Maaf kalo omakenya gaje seiprit pula, hikshiks.. tapi kalo readers punya ide buat omakenya boleh lah share ke author yang abal-abal ini~ hhaha..
Ohya, aku mau jelasin kenapa Kyusung jarang momentnya, itu karena perjalanan hidup mereka masih panjang, wkwk.. masih banyak waktu buat mereka moment-moment an, ga kaya Chanbaek mungkin chap depan Chanbaek bakal jauh dari kata sweet /mungkin../ aku usahain chap depan Kyusung beraksi, err.. mungkin Jongwoon juga ikut andil di sana.. ;3 karena alurnya lambat jadi sabar ya readers ku tercintaa~ ;*
Sekali lagi terima kasih udah mau menunggu dari bulan ke bulan, aku tau menunggu itu capek, hikseu..
Thank's a lot for:
cassandraelf, kim raein, KimDongNeul, Guest, Hana Byun, , CLOUDSiwonest, yesung ukeku, 13, l4yl4M, Albino's Deer, ollla, Kim Yehyun...
Terima kasih semuanyaaaa~ sampai ketemu di Chapter 5… ;D /tebar cinta Kyusung dan Chanbaek/
Don't forget, RnR
