Sakura keluar dari mobilnya dengan tenang. Matanya mengelilingi tempat sekitar, kemudian ia menarik napasnya dalam lalu menutup pintu mobilnya dan menuju tempat kejadian perkara. Ia mendekati wanita yang terkapar begitu saja dipinggir jalan. Tembakan tepat di jantung, tewas di tempat, Sakura yakin. Wanita itu memiliki surai merah muda yang mirip dengannya, cantik, masih muda dan jika Sakura tidak salah mengenalinya, dia cukup terkenal.
Seorang pria berambut pirang menghampirinya cepat begitu melihat dirinya.
"Sakura."Panggilnya.
Sakura meliriknya sekilas, "Naruto. Ini bukannya...", Sakura berusaha memperjelas dugaan identitas korban. Naruto mengangguk,
"Tayuya, penyanyi terkenal kita. Sayang sekali padahal aku menyukai lagu barunya."Ucap Naruto memandang kasihan pada tubuh Tayuya yang sedang di kelilingi oleh tim forensik.
"Kau tahu Sakura, lagunya yang sering ku putar... The Past is What All I Need... Take me baby, take me to the past..."Naruto menyanyikan sembari memperhatikan penyanyinya terkapar di jalanan. Tim forensik yang menatap Naruto dengan bingung. Sakura berdiri dengan cepat, Naruto jelas sudah kehilangan akal. Penyanyinya bersimbah darah dan tubuh banyak lubang peluru di hadapan mereka dan pria itu malah menyanyikan lagu milik korban tanpa ada rasa bersalah.
Sakura memutarkan matanya, "Dimana pelaku kita?"Tanya Sakura mengalihkan topik, ia merasa simpati dengan Tayuya yang masih muda namun harus mati dengan cara tragis seperti itu.
Naruto mengarahkan Sakura menuju tempat kecelakaan terjadi, tidak jauh dari mereka, sekitar 30 meter.
Sakura menyeritkan keningnya melihat keadaan mobil yang hancur parah. Pintunya bahkan terlepas.
"Sakura, dengar, Kasus ini sangat mudah. Mereka mendapati beberapa pil ekstasi dengan bungkus yang sama pada tas Tayuya dan di dalam mobil ini. Sepertinya ini masalah pengedar narkoba dan artis kita. Mereka memiliki transaksi yang belum selesai, mungkin berutang banyak, dan dia mengejarnya 'dor-dor-dor'. Case closed. Pembunuh kita mendapat instant karma". Naruto menjelaskan teori miliknya.
Sakura menatap Naruto tidak suka saat pemuda itu berusaha mencampuri kasus miliknya. Deidara jelas mengatakan bahwa kasus ini miliknya.
"Apa kau sudah melihat jam tangannya? Terlalu mahal hanya untuk seorang pengedar."Sakura menunjuk tangan pria itu.
Naruto menggeleng berusaha menjelaskannya pada Sakura, "Sakura, kau tahu kan Tayuya adalah artis dan dia adalah pengedar. Jika kasus ini tetap berlanjut... Dengar aku hanya mengkhawatirkan dirimu."
"Ada saksi?"Tanya Sakura menghiraukan ucapan Naruto.
Naruto menyerah dengan berkata, "Banyak. Tapi saksi yang bersama korban sepertinya shock dan pulang sebelum memberikan keterangan."
Sakura mengerutkan keningnya. Ada yang terasa tidak beres disini.
"Kenapa mereka membiarkan..."
"Haruno!"
Seseorang menghampiri mereka berdua dengan tergesa-gesa, "Korban kita masih hidup!"Serunya. Naruto dan Sakura langsung lari menuju tempat Tayuya tadi tergeletak.
Sakura memasuki bar lokal dengan dekorasi mewah tersebut. Bar itu jelas belum buka selain masih siang hari namun keadaan sepi dan kursi-kursi yang yang masih berada diatas meja yang malah membuat Bar tersebut lebih terasa seperti Resto mewah dengan gaya Caffe. Meja bartendernya saja begitu mewah dengan koleksi minuman-minuman di dinding tertata dengan rapi, bukanlah dekorasi bar pada umumnya.
Namun begitu melihat tiang-tiang di beberapa tempat pasti akan menimbulkan pertanyaan dan menjelaskan dengan tersirat bahwa itulah tempat penghibur malam melancarkan aksi mereka dengan meraup pundi-pundi uang dengan melikuk dan memamerkan kulit mulus juga lekukan mereka.
Sakura menuruni tangga dengan pelan menuju dance floor yang di tengah-tengahnya ada panggung kecil dan sebuah piano klasik berdiri disitu. Seorang pria sedang memainkan piano dengan nada acak, dan nadanya terdengar begitu sedih.
Sebuah tepukan pelan pada pundaknya membuat Sakura berbalik dengan terkejut, hampir saja ia menjerit. Seorang perempuan berambut pirang dengan mata aquamarine menatapnya dengan bingung. Permpuan itu sangat cantik dan terlihat sangat nakal disaat bersamaan. Jujur saja, Sakura sudah pernah memasuki banyak bar, namun ketika masuk dalam bar ini ia merasakan aura aneh yang mendominasi dirinya, ia menjadi ketakutan.
"Kau mencari siapa?"Tanya perempuan itu.
Suara piano yang lirih menambah intens-nya pertanyaan itu.
"Aku mencari Sasuke Uchiha."Jawab Sakura. Perempuan itu tampak santai dan menunjuk dengan santai pria yang sedang memainkan piano itu. Pria itu tidak dapat Sakura lihat dengan jelas karena kondisi ruangan yang gelap.
Perempuan berambut pirang itu berjalan mendahului Sakura seakan menuntun Sakura pada sosok Sasuke Uchiha itu. Semakin dekat dan Sakura dapat melihat dengan jelas sosok Sasuke itu. Pria itu terlihat larut dengan permainan pianony sendiri, Sakura akui pria itu sangat pandai menarikan jarinya diatas tuts-tuts piano.
Perempuan yang menuntun Sakura itu mengetukan jarinya pelan diatas piano, "Boss, kau ada tamu." Pria itu menghentikan permainan pianonya dan menatap perempuan itu sebelum melihat siapa yang mencarinya.
Sakura akhirnya menatap mata pria itu, mata sekelam malam itu menatapnya dari atas sampai bawah.
"Sasuke Uchiha."Ucap Sakura.
Pria itu melanjutkan kembali permainan pianonya, "Saya."
Sakura menyeritkan keningnya, teringat dengan sebuah nama yang menjadi teori konspirasi yang dibicarakan Karin pagi tadi.
"Apa ini nama panggung? Uchiha. karena terdengar seperti maniak konspirasi teori."suaranya terdengar menyindir.
Sasuke menatap Sakura dengan tajam, "Aku khawatir bahwa itu nama keluarga, Sayang sekali."Pria itu kemudian melanjutkan memainkan pianonya lagi tanpa melihat Sakura.
Sakura segera mengeluarkan raut menyesalnya, sepertinya pembuat konspirasi teori itu harus mencari tahu dahulu apakah ada nama keluarga orang diluar sana yang mirip dengan omong kosong mereka sebelum mempublikasikan, ia kini merasa malu.
"Maaf, adikku berkata tentang orang-orang yang menguasai dunia ini. Mereka sangat kejam menggunakan nama keluargamu sebagai salah satu...yah..."Sakura berusaha menjelaskan.
Sasuke tersenyum sembari memainkan pianonya, "Aku khawatir jika yang dikatakan mereka memang benar. Karena itulah kebenarannya."
Sakura mengerutkan keningnya. Oke, Pria itu juga mungkin maniak konpirasi teori. Mungkin ia hanya merasa beruntung karena nama keluarganya yang digunakan.
"Detektif Haruno. KCPD."Ucap Sakura mengalihkan topik.
"Aku bisa lihat."balas Sasuke tanpa menatap dan menghentikan permainan pianonya.
Sakura berdehem berusaha mengurangi kecanggungan yang menyelimutinya, "Kau adalah Saksi atas penembakan Tayuya. Kau bersamanya?"Tanya Sakura.
"Aku mengenalnya."Jawab Sasuke santai. Tetapi kemudian dahinya mengerut. Sasuke menghentikan permainan pianonya dan menatap Sakura dengan menilai.
"Kau terlihat familiar, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Tanya Sasuke menjalarkan tatapannya keseluruh tubuh Sakura dengan seksama.
Sakura merasa risih dengan tatapan itu, kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dada, "Yah, beberapa menit yang lalu dan aku menanyakan pertanyaan dan yah, rambutku mirip dengan korban."Jawab Sakura merasa tersinggung.
Sasuke meraih gelas yang terletak diatas piano dan meneguknya pelan, "Ah ya, rambutmu mirip Tayuya."
Sasuke menatap Sakura sekali lagi, merasa tertarik dengan Sakura, ia merasa familiar dengan perempuan itu sebelumnya. Bukan sebagai Tayuya, mereka berdua memang memiliki warna rambut yang sama tetapi terdapat banyak perbedaan diantara mereka berdua. Seperti warna mata dan wajah mereka sangat jauh beda, walaupun memiliki warna rambut yang sama, detektif di depannya memiliki warna rambut yang lebih merah muda di banding Tayuya.
Sakura menghela napas pelan, "Bisa kau jelaskan hubunganmu dengan korban?"Sakura mengeluarkan ballpoint dan buku note kecil dari jaket jeans yang di kenakannya.
Sasuke meletakkan kembali gelas itu dan berkata, "Dia bekerja dulu disini. Sebagai penyanyi dan aku mengirinya dengan piano, lalu membantunya sedikit dengan mengenalkan pada salah satu produser, Tayuya menjadi terkenal. Setelah sekian lama ia menemuiku untuk sarapan bersama hingga tadi, seseorang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya."
"Kau tahu siapa yang membunuhnya?"
Sasuke merasa tersinggung, "Tidak."Ucapnya. "Tapi aku melakukan sedikit pembicaraan dengannya sebelum ia akhirnya mati ketakutan. Kami sedikit berbincang kenapa ia menembak Tayuya."
"Hah... Suka bermain polisi-polisi rupanya."
Sasuke tersenyum menyeringai, "Aku suka bermain dengan gaya biasa saja. Tidak perlu cosplay. Bagaimana denganmu detektif?"
Sakura memejamkan matanya beberapa detik mengetahui arah tujuan pembicaraan pria itu, "Dia memberi tahu kenapa ia menembaknya?"
Sasuke mengangguk pelan, "Untuk uang tentu saja. Kalian semua para masyarakat kuno dunia ini menyukai uang bukan?"
Sakura menatap Sasuke tidak percaya, ucapan pria dihadapannya ini seperti menegaskan bahwa ia tidak ingin disamakan dengan manusia umumnya.
"Jadi dari planet mana anda muncul? Suna?"Tanya Sakura jelas meledek Sasuke. Ia mendekatkan tubuhnya pada pria itu.
Sasuke tertawa mendengar sindiran Sakura. Aksen bicaranya memanglah mirip seperti orang Suna, dimana mereka kebanyakan keturunan asing.
"Oh... Dia juga mengatakan bahwa hanya disuruh menarik pelatuknya. Bukankah itu menarik?"Tanya Sasuke pada Sakura.
Sakura menggeleng pelan. Informasi yang didapatkannya lebih dari cukup dari saksi yang aneh ini. Jika Sasuke Uchiha ini benar berbincang kepada penembaknya maka Tayuya jelas berencana dibunuh. Tetapi pria bermata kelam itu rasanya tidak bisa Sakura percaya. Sasuke Uchiha jelas terlihat ingin mencampuri kasus ini.
"Dengar, Tayuya ditembak oleh pengedar narkoba. Apalagi ada ekstasi serupa pada tas Tayuya. Hal itu jelas membuktikan Tayuya memiliki percakapan atau mungkin persetujuan yang belum selesai dengan pengedar itu sebelum ia akhirnya bertemu dengamu untuk sarapan bersama."Jelas Sakura mengenai hipotesanya. Sasuke terlihat tidak suka dengan penjelasan itu.
Tayuya bukanlah anak seperti itu yang ia kenal. Tayuya anak yang manis ketika bekerja dengannya. Walau perempuan itu bekerja di bar. Namun Sasuke tidak pernah memaksakan Tayuya lebih dari menyanyi, ia memang sangat berbakat, jadi Sasuke menolongnya.
Sebelum Sasuke membuka mulutnya untuk mengadukan argumen miliknya, Sakura sudah kembali lebih dulu berkata. "Kau tau apa yang lebih menarik?"Tanya dengan nada berbisik kepada pria itu. Walaupun hanya mereka berdua ditambah perempuan pirang itu yang berdiri di meja bartender dan terus menurus mengawasi mereka.
Sasuke mengikuti permainan Sakura, ia juga mendekati Sakura. Selain itu ia masih terus mengamati, karena ia yakin bahwa ia sangat familiar dengan Sakura.
Sakura kembali melanjutkan kata-katanya, "Tayuya ditembak dengan hujan peluru. Seluruh kaca di belakang kalian berdua hancur, sedangkan kau selamat tanpa goresan."Ujar Sakura.
Sasuke tersenyum menyeringai, "Itulah keuntungan menjadi puncak revolusi manusia. Kami memiliki ciri immortal, kami sulit dibunuh."
Sakura menggeleng, "Mungkin hanya Tuhan memberikan kesempatan padamu."
Sasuke tertawa kecil, "Beritahu aku detektif. Apa menariknya? Seseorang disana terkapar mati karena ditembak oleh suruhan seseorang. Kalian para polisi korupsi, apa yang akan kalian lakukan dengan pembunuh aslinya yang masih berkeliaran diluar sana? Apa dia akan dihukum? Atau dijadikan prioritas kalian supaya mendapatkan uang?"Tanya Sasuke dengan emosi.
Sakura jelas tidak menyukai Sasuke. "Untuk ukuran pria pemberani, kau cukup brengsek."
Sasuke menatap wajah Sakura lagi, "Detektif, Apa kau yakin kita tidak pernah bertemu? Karena sepertinya aku pernah melihatmu telanjang. Apa kita pernah berhubungan Sex sebelumnya?"Tanya Sasuke.
Sakura tanpa sadar sudah menggeleng selama 10 detik mendengar ucapan Sasuke yang terdengar sangat cabul dan melecehkan dirinya. Sebelum dia mulai emosi, mengeluarkan senjatanya dan menembak isi kepala pria itu lebih baik ia melangkahkan kakinya pergi dari bar itu dengan sisa kewarasannya.
"Kita sudah selesai."Ucap Sakura berbalik.
Sasuke menyeritkan keningnya, detektif Haruno jelas belum menjawab pertanyaan terakhir miliknya.
"Belum detektif."Serunya.
Sakura kembali menggeleng sembari berjalan menjauhi pria itu. Akhirnya ia teringat sesuatu yang dari tadi ingin ia luruskan. Tanpa berbalik, Sakura berkata. "Tayuya belum mati. Dia koma di rumah sakit umum Konoha. Ku kira kau berhak tahu. Karena sepertinya mereka ingin merahasiakan hal ini saja oleh media dan tetap membuat mereka berspekulasi bahwa Tayuya sudah meninggal."
Sasuk terkejut mendengarnnya, "Detektif. Kita benar memiliki urusan yang belum selesai."
Sakura mengabaikannya, mengangkat tangan kirinya melambai pelan, tanda ia mengakhiri percakapan mereka.
Bersambung...
