Tittle :: Born To Love You

(terlahir untuk mencintaimu)

Cast :: Kim Jaejoong, Jung Yunho

Pair :: Yunjae and no other

Genre :: Romance

Rate :: T (ada kemungkinan berubah)

Disclaimer :: This story 100% mine. For the cast is not mine

.

Warning! : Gender Switch, TypoS, AU, OOC. Yang gak suka jangan baca, yang baca silahkan tinggalin jejak ^^


Born To Love You

Chapter 3

Jaejoong sangat senang berada di rumah keluarga Jung. Mereka benar-benar memeperlakukannya dengan baik. Anggota keluarga Jung tidak sebanyak keluarganya. Hanya terdiri dari Mr. Jung Hangeng beserta istrinya, lalu Jung Ji Hye sang adik dan Yunho. tapi suasana di keluarga mereka jauh lebih hangat dari pada suasana di keluarganya sendiri. Apalagi setelah salah satu anggota keluarga Jaejoong meninggal, kebahagiaan tak pernah terasa lengkap seperti keluarga Yunho.

Saat ini Jaejoong sedang menikmati makan malam yang lezat bersama anggota keluarga Jung yang lain. Jaejoong menikmati setiap momen dalam makan malam itu. Saat Heechul yang selalu memarahi Yunho seperti anak kecil hanya karena tiga bulan Yunho tak pernah pulang. Dan soal kata 'Tua' yang di ucapkan Yunho tadi siang. Ternyata Heechul benar-benar tidak suka dengan kata itu. Padahal menurut Jaejoong, heechul memang sudah tua. Upzz

Mr. Jung yang mengajak ia bercerita tentang kekonyolan ibu dan anak yang selalu bertengkar itu. sedangkan Ji Hye tidak berhenti mengoceh tentang segala hal. Mungkin ini memang suasana makan malam yang ribut. Tapi Jaejoong cukup nyaman dengan situsi ini. Tidak seperti suasana makan malam di rumahnya yang sepi.

"Jadi benar kau pacar Yunho?" Tanya Mr Jung menatap Jaejoong.

"I..itu—

"Aku kan sudah bilang bukan!" Potong Yunho saat appanya selalu menanyakan hal yang sama. Membuatnya benar-benar jengkel.

"Tapi kalian tampak serasi bersama." Hangeng tetap bersikeras.

Berbalik Yunho yang gugup. Sedang Jaejoong hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Mr Jung. "Aish appa!" kesal Yunho.

"Sudahlah oppa, aku tahu kau menyukai Jae eonni." Kini giliran Ji hye sang Yodongsaeng Yunho yang menggoda.

"Ne, Taepong saja tahu bahwa kau menyukai Jaejoong." Sambung Heechul memanasi anaknya. Membuat wajah Yunho makin memerah.

Brak

"Cukup!" Teriak Yunho sambil menggebrak meja, membuat yang lainnya terkejut.

"YUNHO!/ OPPA!" Teriak Hangeng, Heechul dan Ji hye bersamaan sambil melempar sendok ke arah Yunho yang hampir membuat mereka mati tersedak karena kaget.

Sedangkan Jaejoong hanya tertawa melihat keluarga unik didepannya. 'Seandainya keluargaku sehangat ini.' Gumam Jaejoong sendu. Keluarganya tak pernah sehangat dan selengkap ini jika berada di meja makan.

.

Setelah makan malam usai, Jaejoong membantu Mrs Jung membereskan meja makan. "Sudahlah Jongie, biar eomma saja! Ada maid yang membantu eomma."

"Ania eomma. Aku sudah banyak merepotkan. Biar aku saja yang mencuci piring. Aku sudah terbiasa kok!" Ujar Jaejoong.

"Ne eomma. Biar Jaejoong saja. Aku juga akan ikut membantu." Tambah Yunho yang tiba-tiba muncul di dapur.

"Modus?!" Heechul mengerling nakal pada Yunho. sedangkan Yunho hanya menunjukan cengirannya.

"Baiklah, kalau begitu eomma tinggal dulu, ya Jongie!" Ujar Heechul kemudian pamit meninggalkan dapur.

Yunho Pov

Setelah eomma pergi, aku langsung memposisikan diri di samping Jaejoong. membantu melap piring-piring yang di cucinya. Aku tersenyum melihatnya begitu serius dengan cuciannya. Aku sedikit tidak menyangka wanita berkelas seperti dia terbiasa dengan dapur. Biasanya gadis-gadis kaya itu jarang ada yang mau menyentuh dapur. karena semua yang mereka mau sudah tersedia di depan mereka tanpa harus bersusah payah. Jujur saja, aku tidak terlalu suka dengan perempuan seperti itu.

"Sorry about my family. mereka memang selalu seperti itu!" Kataku, membuka suara.

"kenapa? kelurgamu menyenangkan dan juga baik." Pujinya.

"Baik apanya? mereka selalu memperlakukan aku seperti anak kecil!"

Dia terkikik mendengarnya. "Itu karena mereka menyayangimu."

"Mereka selalu seperti itu jika aku membawa teman perempuan kerumah. Mereka sangat excited jika melihatku dekat dengan seorang yeoja."

"Lalu kenapa tidak menikah saja?"

"Tidak ada yang bisa aku nikahi."

Dia mengerutkan alisnya, lalu menatapku dengan mata bulatnya. "Begitu banyak yeoja cantik di luar sana. Dan, kau juga tampan. Kurasa banyak perempuan yang akan menyukaimu."

"Kau memujiku?"

"Aku serius, kau memang tampan." Katanya meyakinkan.

"Yeah, aku memang tampan." Ujarku narsis, mengundang tawa pelan dari yeoja cantik di sisiku ini.

Aku memandangi dia yang tertawa, "Kalau aku tampan, kenapa kau tidak menyukaiku?" sedetik kemudian aku merutuki ucapanku barusan. Karena kata-kataku suasana antara kami jadi canggung.

Dia memandangku kaget, "A-apa?"

"Haha... aku bercanda nona!" Ucapku dengan cengiran lebar. "lalu, Apa hari ini kau senang?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku tak suka jika suasana antara kami jadi canggung, karena jantungku akan berdetak berkali lipat. Detaknya seperti gemuruh kaki kuda hingga membuatku khawatir dia akan mendengar detak jantung ini.

"Tentu saja aku senang. Keluargamu begitu menyenangkan. Apa lagi chullie eomma. Dia benar-benar baik. Aku jadi ingin memiliki keluarga seperti ini."

"Memangnya keluargamu kenapa?" tanyaku.

"Appa lebih banyak menghabiskan waktu di luar negri untuk mengunjungi dan mengurus perusahaan-perusahaanya yang tersebar di beberapa negara di Asia. Sedangkan dua adikku menempuh pendidikan di Amerika dan Jarang pulang. Adikku yang bungsu tinggal di rumah nenekku di jepang dan jarang pulang ke Seoul. Semenjak aku menyelesaikan pendidikanku di Amerika, aku selalu sendirian di rumah sebesar itu, hanya sepupuku yang sering mengunjungiku jika ia memiliki waktu. Selebihnya aku selalu sendiri." Dia bercerita sambil tersenyum tapi nada bicaranya menunjukan sisi kesepiannya. Ternyata hidupnya tak sesenang yang kukira. Masih ada banyak sisi yang tidakku tahu dari yeoja yang moodyan ini, dan itu makin membuatku tertarik.

"Lalu bagaimana dengan ibumu? Apakah ibumu juga sibuk sama seperti appamu?" Tanyaku kemudian.

"I-iya... di-dia juga sibuk." Ujarnya dengan terbata-bata.

"Hmm... Ohya, aku pernah melihat foto appamu di majalah bisnis. Ia terlihat sangat berwibawa dan tampan, aku yakin ibumu juga pasti cantik." Pujiku sambil tertawa.

Tapi kulihat dia diam saja. Malah tangannya tidak bergerak untuk mencuci satu piring yang tersisa. Aku melihat badannya sedikit bergetar dan keringat mulai mengucur dari dahinya. Padahal udara sedang dingin, lalu kenapa dia berkeringat. Dia membuatku khawatir.

"Hei nona! Gwaenchanayo?" Tanyaku Khawatir.

Aku masih memanggilnya nona. Soalnya dia belum pernah mengenalkan diri secara langsung padaku.

"Maaf, aku harus ke toilet." Ujarnya kemudian, lalu keluar dari dapur menuju toilet. Aku bingung memandangi punggungnya. Dia kenapa? Ekspresinya kenapa seperti orang yang kesakitan sperti itu? Apa aku salah bicara?.

Yunho Pov end

.

Jaejoong mencuci mukanya di wastafel, kemudian menumpu tangannya di pinggiran wastafel. Nafasnya memburu, malah bisa di bilang terengah-engah. Yunho bertanya tentang ibunya. Bagaimana bisa dia tahu, bahkan rupa ibunya saja ia tidak bisa mengingatnya sekeras apapun ia mencoba. Ia sakit ketika mencoba mengingatnya. Oleh karena itu Jaejoong mencoba berhenti mengingat ibunya semenjak ia berumur 7 tahun. Anehnya Jaejoong tidak bisa menemukan foto ibunya di rumah. Ayahnya bilang ibunya meninggal dalam kecelakaan, hanya itu. Mr Kim tidak mengizinkan Jaejoong bertanya lebih lanjut. Padahal ia sangat merindukan sosok sang ibu.

Jaejoong merasa kepalanya berputar. Akhirnya ia memutuskan istirahat setelah ini. Sebelumnya ia izin dulu kepada Mr and Mrs Jung untuk beristirahat. Dan mereka memakluminya, mungkin Jaejoong kelelahan. Itu pikir mereka.


Born To Love You

Keesokan harinya Yunho dan Jaejoong pamit kembali ke Seoul. Yunho masih memiliki perkerjaan yang harus di selesaikannya. Awalnya Heechul meminta Jaejoong untuk tinggal sementara di Gwangju, tapi Yunho menolaknya mentah-mentah. Akhirnya Heechul pasrah melepas Jaejoong, dengan janji Jaejoong akan sering mengunjungi mereka nantinya.

Sepanjang perjalanan Jaejoong diam saja. Tidak seperti kemarin, kali ini bibirnya tidak menampakan senyum. Jaejoong selalu memperhatikan pemandangan luar melalui jendela mobil. Yunho sedikit khawatir di buatnya. Ia bertanya pada Jaejoong apakah dia baik-baik saja. Dan Jaejoong selalu mengangguk sambil tersenyum, dan kemudian kembali memperhatikan pemandangan luar.

Setibanya di apartemen Yunho, Jaejoong langsung masuk ke kamar mandi yang ada di dapur sedangkan Yunho memilih duduk di sofa ruang tengah untuk mengistirahatkan badannya. Taepong di siberian huskynya menghampiri Yunho lalu menjilati tangannya. Kemudian ia ikut mengelus kepala Taepong si anjing kesayangannya.

Ini sudah hari keenam Jaejoong tinggal di rumahnya. Berarti besok Jaejoong akan kembali ke rumahnya. Yunho sedikit tidak rela membiarkannya pergi. Tapi apa haknya? Dia bukanlah siapa-siapa untuk Jaejoong. lagi pula Jaejoong sudah bertunagan dengan orang lain, tidak ada kesempatan untuknya untuk masuk ke dalam hati Jaejoong.

'Tapi tunggu dulu, bukannya Jaejoong tidak menyukai pertunangan itu? otomatis Jaejoong tidak menyukai orang yang di tunangkan dengannya, kan? Kurasa aku masih ada kesempatan' pikir Yunho. bertepatan dengan itu suara Jaejoong membuyarkan lamunannya.

"Yunho!"

"Ne?" Yunho menoleh ke arah Jaejoong yang kini sudah duduk di sofa singgle di sampingnya.

"Terimakasih untuk semuanya. Kau benar-benar baik padaku. Aku benar-benar menghargai semuanya."

"Tunggu dulu, kau mau pergi sekarang?"

Jaejoong mengangguk, "Hei, bukankah masih ada waktu satu hari lagi?"

"Aku benar-benar sudah banyak merepotkanmu. Lagi pula, aku tidak mau appaku semakin khawatir padaku. Kau pasti tidak mau kan' rumahmu di datangi dektektif sekorea untuk mencariku?" Kata Jaejoong sambil tertawa lucu.

Yunho menghela nafas. Apa yang harus di lakukannya? Tentu saja ia tidak mau di tuduh menyimpan anak gadis orang lain, kan?. "Kau benar-benar akan pergi?" Terselip nada tidak rela dalam pertanyaannya.

Jaejoong kembali mengangguk sambil menutupi tawanya dengan punggung tangannya. Ekspresi tidak rela dari Yunho benar-benar membuatnya ingin tertawa. "Kenapa wajahmu seperti itu? Tenang saja, aku akan sering-sering mengunjungimu dan membuatkan makanan untukmu. Aku masih akan tetap menjadi temanmu."

Yunho merasakan dadanya sedikit sakit mendengarkan kata teman dari mulut Jaejoong. 'Teman? Tidak bisakah kau lihat perasaanku yang tergambar jelas di mataku setiap memandangmu? Aku menyukaimu nona. Tidakkah kau menyadarinya? batin Yunho miris.

"Baiklah. Tapi... bisakah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Apa?"

"Bisakah kau katakan padaku kenapa kau murung seharian ini?"

Jaejoong mengernyitkan keningnya, "Murung? Aku tidak—

"Jangan berbohong." Potong Yunho.

Jaejoong menghela nafas, "Ada sesuatu yang menganggu pikiranku. Tapi... aku tidak bisa menceritakannya padamu. Mian." Katanya sambil tertunduk.

"Apa ada kata-kataku yang menyinggungmu?" Tanya Yunho lagi. Kini Jaejoong menggeleng. "Ania... tidak ada kata-katamu yang menyinggungku. Kau selalu baik padaku."

Yunho akhirnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tidak ingin memaksa Jaejoong untuk bercerita. Itu bukanlah haknya.

"Kalau begitu sebelum kau pulang kita harus membuat sesuatu yang menyenangkan." Kata Yunho.

"Apaitu?"
"Tunggu sebentar!" Yunho mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon seseorang.

"Ne Junsu, ini aku!... Junsu, aku ingin mengajak seorang teman perempuan ke Tunnel Tonight malam ini... Oke, kau bisa menjemputnya di apartemenku nanti sore. Dan..Suu dia sedikit pemalu, aku ingin kau merubahnya sedikit sexi seperti...yah kau tahu sendiri lah. ... Oke, Got it!" Yunho menutup teleponnya setelah mendengar kata setuju dari Junsu.

"Kim Junsu adalah bosku di restoran tempatku berkerja. dan setiap minggu malam kami selalu berpesta bersama-sama. Dia akan datang kesini menjemputmu jam enam nanti." Ujar Yunho pada Jaejoong, lalu segera beranjak berdiri dari duduknya. "Kurasa aku harus mengajak si dokter evil itu. Lagi pula aku memiliki janji dengannya. jadi, aku harus pergi." Yunho kembali memakai mantelnya. Ia baru ingat harus membawa Taepong ke tempat Changmin untuk check up.

"Tenang saja, takkan ada yang mengenalimu disana. Jadi, ikuti saja kata hatimu. Kita akan bertemu disana. Jadi jangan tunggu aku!" Ujar Yunho kemudian segera membawa Taepong bersamanya meninggalkan Jaejoong yang masih diam ditempat.

Dia diam bukan karena tidak mau pergi ke club itu. Tapi ada satu hal yang membuatnya aneh, yaitu seseorang yang bernama Junsu yang di katakan Yunho tadi. nama itu tidak asing ditelinganya.

'Jangan-jangan...'

.

.

Hari menjelang sore, Jaejoong duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah novel cinta yang ia dapat dari ruang baca Yunho yang sekarang menjadi kamarnya. Ternyata laki-laki semanly Yunho juga suka novel seperti itu. Membuat Jaejoong berpikir apa Yunho orang yang romantis? Karena tidak sedikit ia temukan novel seperti itu di ruang baca Yunho.

Kalau dipikir-pikir, beberapa hari ini dia menikmati hidupnya bersama Yunho. tak hanya tampan, Ia juga laki-laki yang baik hati, terlebih lagi ia bisa menghargai seorang perempuan. Seandainya cincin pertunangan itu belum melingkar di jari manisnya, mungkin bisa saja Jaejoong jatuh cinta pada Yunho. tapi tidak, ia mencoba bertahan. Ia tidak mau membuat semuanya semakin rumit, jika ia mencintai orang lain. Karena Jaejoong tahu, appanya bukanlah tipe orang yang akan dengan mudah menyetujui hubungan anaknya dengan laki-laki sembarangan. Bukan berarti Yunho adalah laki-laki sembarangan. Hanya saja, appanya bukanlah orang yang mudah menyetujui sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya.

Dalam angan-angannya Jaejoong sangat ingin berdampingan dengan orang yang dicintainya dan mencintainya. Selalu berdua dimanapun dan dalam situasi apapun. Menjalani kisah bersama walaupun kadang rumit, tapi tetap berakhir bahagia. Jaejoong tertawa sendiri karena pikirannya. Akhir bahagia? Bukankah akhir bahagia hanyalah sebuah kisah yang belum selesai. Karena di balik kebahagiaan itu kesusahan menunggu. Begitu seterusnya.

Teett Teett

Suara bell membuyarkan lamunan Jaejoong. ia melirik jam di dinding yang menunjukan pukul 6 sore. Mungkin orang yang dikatakan Yunho sudah datang. Jaejoong memberikan pembatas di novelnya lalu di letakannya di meja. Kemudian ia berjalan ke pintu depan untuk melihat tamu yang memencet bell apartemen.

"Jongie eonie?!" Kaget sang tamu saat melihat Jaejoong yang sangat familiar dimatanya.

Awalnya Jaejoong mengernyitkan keningnya saat melihat yeoja di depannya mengenakan syal hingga menutupi sebagian wajahnya, mengetahui namanya. Tapi saat yeoja didepannya menurunkan syalnya ia ikut terkejut.

"Junsu?! Kenapa kau—

"Eonnie... bogoshipo~!" Pekik si yeoja imut yang bernama Junsu langsung menghambur memeluk sepupunya yang sudah di anggap seperti kakaknya itu.

.

"Jadi, bisa kau ceritakan padaku sekarang?" Tanya Jaejoong dengan nada menuntut. Sekarang ia dan Junsu sudah duduk di ruang tengah ditemani dua cangkir teh hangat di atas meja di depan mereka.

"Aku dan kekasihku membuka restoran kecil-kecilan eonnie. Dan sudah berjalan satu tahun. Itu sebabnya aku jarang pulang ke rumah. Aku memiliki pekerjaanku sendiri sekarang, dan itu sangat menyenangkan. Aku menolak bekerja di perusahaan appa karena aku benar-benar tidak tertarik dengan dunia bisnis seperti itu. Jadi aku menyerahkan ahli waris sepenuhnya kepada Junho adikku. Dia laki-laki, pasti dia lebih mengerti."

"Kau melepaskan segalanya demi kekasihmu?"

"Bukan demi dia eonnie. Bukankah dulu aku pernah bercerita tentang cita-citaku ingin memiliki restoran besar? Memang yang sekarang belum terlalu besar, tapi kami akan berkerja keras untuk mengembangkan usaha kami."

"Lalu, apa kekasihmu tahu tentang asal-usulmu?"

Junsu menggeleng. "Tidak, untuk sekarang dia belum tahu. Nanti jika saatnya tepat, aku akan mengatakannya pada Yoochun."

Jaejoong mengangguk. Dalam hati ia salut pada Junsu. Sepupunya yang terbilang manja itu kini bisa berpikir dewasa hanya karena cintanya pada kekasihnya. Pantas saja semenjak pertemuan Jaejoong dengan keluarga Choi tiga minggu lalu, ia tidak pernah lagi melihat Junsu. bahkan ia baru sadar kalau setahun ini, ia jarang sekali bertemu Junsu. hanya pada saat acara-acara penting keluarga, Junsu baru muncul.

"Lalu eonnie kenapa bisa ada di rumah Yunho oppa? Ada hubungan apa eonnie dengan Yunho oppa?" Tanya Junsu kemudian.

"Nanti saja kuceritakan. sekarang apa yang harus kita lakukan? Bukankah kata Yunho kita akan ke suatu tempat?"

"Ah, iya aku lupa... kajja kita harus siap-siap, mereka sudah menunggu kita disana. Aku akan membuatmu lebih cantik malam ini." Junsu kemudian beranjak dari duduknya lalu menarik Jaejoong menuju kamar.

.

.

Malam itu Jaejoong tampak cantik dalam t-shirt putih berleher lebar, hingga menampakan sebagian bahu putih nan mulusnya. Setengah perutnya yang rata terpamer bebas karena t-shirnya yang pendek. T-shirt putih itu berpadu dengan rok mini berwarna hitam yang sedikit mengembang di bagian bawah. Tak lupa dengan jaket kulit hitamnya, lalu spatu Hi boots yang juga berwarna hitam. rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas menambah kesan sexy.

Junsu dan Jaejoong tiba di sebuah club bernama Tunnel Night yang katanya hanya buka pada malam malam sabtu dan minggu. Jadi wajar saja kalau club itu tampak ramai dengan para muda-mudi yang sedang menikmati malam minggu mereka. Karena Tunnel Night salah satu club elit dan terkenal di Seoul.

"Eonnie Aku harus menjawab telpon sebentar, kau masuklah lebih dulu. Yunho Oppa menunggumu di meja bar!" Ujar Junsu lalu segera pergi menjauh untuk mengangkat teleponnya yang berbunyi di tempat yang lebih aman.

Jaejoong memandang ragu ke arah club di depannya. Kakinya tertarik untuk masuk ketempat itu. Itu karena rasa penasaran yang membuncah karena ia tidak pernah ketempat semacam ini sebelumnya. Jaejoong menyusuri lorong club yang berbentuk trowongan dengan cahaya biru yang temaram. Disisi dinding banyak muda-mudi yang sedang asik mengobrol atau bahkan bercumbu. Tidak sedikit juga namja yang memandangnya lapaar dengan mata penuh nafsu untuk menggoda, tapi Jaejoong berusaha mengacuhkannya dan terus berjalan hingga ia sampai di main floor club yang berbentuk kubah. Banyak orang yang terlihat larut dalam hentakan musik di dance floor yang terletak di tengah-tengah ruangan. Ada juga sebagian hanya menonton kegilaan orang-orang yang sedang sibuk di dance floor dengan hanya duduk di sofa.

Jaejoong segera beralih menuju meja bar untuk mencari seseorang yang katanya telah menunggunya. Tapi ia sama sekali tidak menemukan Yunho disana. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk duduk sementara, sambil menikmati segelas martini yang disediakan bartender untuknya.

"Hai nona!" sapa seseorang di samping Jaejoong. ia menoleh dan melihat Yunho di sana.

"Hai!" Balas Jaejoong sambil tersenyum. ia lega akhirnya ada seseorang yang ia kenal.

"Aku U-know! Kau?"

Jaejoong mengerutkan alisnya tidak mengerti. Apakah Yunho amnesia hingga tidak mengingatnya? namun kemudian ia teringat kata-kata Yunho tadi sore, bahwa Tidak akan ada yang mengenalinya di club.

"Youngwoong!" Balas Jaejoong.

"Such a beautifull name." Puji Yunho membuat Jaejoong tersenyum.

"Kau sangat cantik. Sebentar lagi pasti banyak laki-laki yang akan menghampirimu."

"Aku tidak melihat siapapun disini yang pantas berjalan denganku, yang pantas melihat ke dalam mataku, yang pantas mencuri hatiku." Kata Jaejoong dengan nada sedikit angkuh.

Yunho hanya tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu selamat bersenang-senang!" Ujar Yunho kemudian berbalik pergi ingin meninggalkan Jaejoong.

"U-Know!" Panggil Jaejoong. Yunho kembali menoleh.

"Kau terlalu cepat menyerah." Ujar Jaejoong cemberut.

Yunho menaikan alisnya, "aku bahkan tidak mencoba."

"Wae? Kau tidak menyukaiku." Jaejoong mengerling nakal sambil berpose centil.

"Aku menyukaimu. Tapi untuk sekarang aku membiarkanmu untuk mencari yang lain."

"Jadi kau tidak percaya diri?"

Yunho mengulum senyum mendengarnya lalu lebih mendekati Jaejoong hingga jarak wajahnya dengan wajah Jaejoong berjarak begitu dekat. Jaejoong bisa merasakan nafas Yunho membelai wajahnya.

"Tentu saja aku sangat percaya diri. Karena yang pantas berjalan disisimu, yang pantas melihat kedalam matamu dan yang pantas mencuri hatimu..tidak ada orang lain disini selain..AKU" Yunho menekan kata-katanya dengan seduktif. Sesekali ia melirik bibir Cherry Jaejoong yang mengkilat karena lip gloss.

Sesaat mereka saling terpaku dalam situasi kondisi seperti itu. Jaejoong yang menikmati hembusan nafas Yunho di wajahnya dan Yunho yang sibuk menyusuri wajah mulus Jaejoong dengan mata tajamnya. Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat. Entah siapa yang bergerak duluan. Musik yang menghentak seolah lagu melow di pendengaran mereka berdua, orang yang berjibun di sekitar mereka seolah bagai silluet yang bisu dan bergerak lambat. Jaejoong hanyut di buatnya seolah tak sabar menunggu apa yang akan di lakukan Yunho selanjutnya dadanya berdesir aneh. Kulit bibir mereka baru bersentuhan sedikit sebelum sebuah tarikan halus menghentakan Jaejoong kebelakang. Seketika suasana melow diantara mereka buyar. Lagu kembali menghentak keras, orang-orang disekitar mereka kembali kebentuk semula dan suasana club kembali riuh.

"Noona!" Suara Tenor itu memanggil Jaejoong.

"E-eoh? C-Changmin-ah!" Jaejoong masih sedikit linglung dengan keadaan barusan. Ia melihat Changmin tersenyum lebar kepadanya.

"Apa kabarmu Noona? Aku tidak menyangka kau juga datang kesini." Ujar Changmin seolah tidak peduli dengan suasana antara Yunho dan Jaejoong yang di hancurkannya barusan.

"I-iya..." Jawab Jaejoong masih tetap salah tingkah.

"Kalau begitu ayo kita turun kelantai dansa dan bersenang-senang." Ajak Changmin sambil menarik lengan Jaejoong.

"N-ne." Jawab Jaejoong sambil melirik Yunho yang terlihat salah tingkah juga. Kemudian ia mengikuti kemana Changmin menarik lengannya.

Sedangkan Yunho langsung cepat-cepat menghabiskan koktail-nya sekali teguk untuk meredam jantungnya yang berdetak menggila. Ia memegang bibirnya yang sempat bersentuhan sedikit dengan bibir Jaejoong tadi.

"Apa yang kulakukan?" Desis Yunho menutup bibirnya.

"Yunho Oppa!" Panggil Junsu.

"Yoo Yunho!" Sapa Yoochun yang berdiri di samping Junsu. keduanya langsung menghampiri Yunho lalu duduk di kursi meja bar.

"Mana Jae onnie?" Tanya Junsu.

Yunho memajukan dagunya menunjuk lantai dansa dimana Jaejoong sedang menari bersama Changmin. "Si tiang itu merebutnya dariku." Ujar Yunho sambil terus mengamati Jaejoong yang sedang menari bersama Changmin. Sesekali Jaejoong terlihat tertawa saat Changmin dengan gaya konyolnya memutar-mutar badan Jaejoong. awalnya Yunho melihatnya nyaman-nyama saja sambil menikmati segelas koktailnya yang barus saja diberikan bartender. Namun lama kelamaan Yuho sedikit geram saat melihat Changmin secara tidak sadar menyentuh pinggang Jaejoong yang tidak tertutup baju karena bajunya yang pendek.

Ia membanting gelasnya di meja dengan sedikit kuat membuat Yoochun dan Junsu sedikit terkejut. Lalu Yunho segera menghampiri Jaejoong dan Changmin.

"Giliranku!" Yunho menarik Jaejoong dari Changmin ke dalam rangkulannya.

"Hyung mengganggu!" Gerutu Changmin. Yunho tak peduli, ia melemparkan death glarenya pada Changmin. Terpaksa Changmin mengalah lalu kembali ke meja bar tempat Yoochun dan Junsu.

'Dasar beruang pelit!" gerutu Changmin kesal.

"Kau bisa manari?" Tanya Jaejoong mengangkat alisnya. Sebelumnya ia telah melepaskan diri dari rangkulan Yunho.

"Kau meragukanku?" Setelah berkata seperti itu Yunho langsung menggerakan badannya mengikuti irama musik. Berbaur dengan orang-orang di lantai dansa bersama Jaejoong. Jaejoong menikmatinya. Ia bisa tertawa lepas malam ini. Ia benar-benar jarang tertawa seperti ini, seolah tak ada beban di hatinya.

Kemudian ia sadar bahwa satu minggu ini ia benar-benar menikmati hidupnya bersama Yunho. baru kali ini ia merasa benar-benar hidup. Yunho mampu mengubah semua yang ada pada dirinya. Mampu mengeluarkan sisi manja yang ada pada dirinya. Malam itu Jaejoong benar-benar menikmati malamnya bersama Yunho, Junsu, Yoochun dan Changmin. Dan setelah mendekati tengah malam mereka memutuskan untuk pulang.

.

"Kyaaaaaaa! Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku Yunho!" Pekik Jaejoong sambil berlari-lari kecil di atas trotoar jalan. Yunho terkekeh melihat tingkah Jaejoong yang terlihat amat sangat senang itu. Saat ini Jaejoong dan Yunho sedang menuju halte bis yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Bukan untuk naik bis, tapi mereka menunggu jemputan Jaejoong karena Jaejoong akan segera kembali ke rumahnya malam ini juga.

"Aku tidak tau kalau kau gadis yang senakal ini. Kau menari dengan tarian menggoda dan meminum berbotol-botol bir tanpa merasa mabuk sedikitpun. Aku heran, bagaimana gadis sepertimu terlahir di keluarga mewah." Ujar Yunho dengan nada bercanda.

"Kalau aku senakal itu, kenapa kau mau berteman denganku?" Tanya Jaejoong sambil melompat-lompat kecil di bangku halte. Ia terlihat benar-benar senang.

"Ck, siapa yang ingin berteman? Aku sudah jatuh cinta padamu. Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Yunho santai seolah tanpa beban sedikitpun. Ia duduk di bangku halte berlawanan dengan Jaejoong yang berdiri di atas bangku.

Awalnya Jaejoong terkejut mendengarnya, namun kemudian ia tertawa. Ia turun dari atas bangku. "Sudah kubilang kau pasti jatuh cinta padaku." Ujar Jaejoong sambil tertawa.

"Aku tidak bercanda. Aku sungguh sudah jatuh... cinta." Tawa Jaejoong terhenti seketika saat Yunho mengucapkannya sambil menatap tepat di matanya.

"Karena prilaku nakalmu yang tersembunyi dan sifatmu yang terkadang berubah-ubah... yang menjebakku." Yunho menghela nafas, lalu memandang lurus kedepan.

Jaejoong terdiam mendengarnya. Raut mukanya masih nampak terkejut. "Yunho aku—

"Ya, aku tahu... kau sudah bertunangan dan akan menikah dengan namja itu. Dan sekarang kau kontrak kita sudah berakhir. Kau akan pulang ke rumahmu dan kita tidak ada alasan lagi untuk bertemu. Tidak ada efek sampingnya, kan?" Yunho kembali berujar dengan santai.

"Jemputanmu akan segera datang. Kau menempuh jalanmu dan aku menempuh jalanku, dan tamat." Yunho mendeskripsikannya bagai sebuah cerita yang segampang itu tamat. Tapi tidak, setiap kata yang Yunho ucapkan membuat hati Jaejoong semakin berat.

Jaejoong terlihat diam di tempat. Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Tapi ia tidak berniat menyuarakannya. Semua ini terlalu membuatnya terkejut. Yang hanya bisa Jaejoong lakukan adalah berbalik membelakangi Yunho menghadap jalan. Berharap jemputannya segera datang dan mebuyarkan suasana canggung di antara mereka. Suasana yang membuat ia gelisah dan tak nyaman.

"Nona." Panggil Yunho. Jaejoong kembali menoleh.

"Bila aku menciummu... apakah kau akan menamparku?" Tanya Yunho. Jaejoong masih diam. Yunho tegak dari duduknya.

"Kupikir kau tidak akan menamparku." Yunho berjalan mendekati Jaejoong. dan Jaejoong tetap tidak bergeming. Bahkan saat Yunho meraih pipinya sambil mendekati bibirnya. Jaejoong masih tidak berbuat apa-apa. Ia membiarkan Yunho mengecup pelan bibirnya hingga kecupan itu berubah menjadi lumatan kecil di bibir bagian bawahnya, Hingga membuatnya menutup mata tanpa ikut mebalas ciuman itu.

Tak lama kemudian Yunho melepaskan ciumannya lalu menatap Jaejoong intens. "Kau benar-benar tidak menamparku." Katanya sambil tersenyum, kemudian melangkah mundur. "Kau tidak menamparku." Lirih Yunho kemudian berbalik pergi menyusuri jalan pulang sendiri, meninggaalkan Jaejoong yang masih terpaku di halte. Jaejoong terus memandangi punggung Yunho hingga punggung itu menghilang di tikungan jalan. Tanpa sadar sebuah mobil Roller Royce sudah berada di depannya. Seorang namja berambut ikal berwarna coklat denga syal tebal di lehernya keluar dari kursi penumpang mobil mewah itu. Namja manis itu langsung memeluk Jaejoong lalu membawanya masuk ke dalam mobil untuk segera pulang kerumah mereka. Jaejoong hanya menurutinya dengan pikiran yang masih melayang ke Yunho.

'Kenapa kau mengatakannya Yun? Kenapa?'

.


Jaejoong pulang ke rumahnya setelah satu minggu pergi dari rumahnya. Para dongsaengnya menyambut dengan senang hati kepulangan Jaejoong. apa lagi Kyuhyun juga tampak sangat senang.

Jaejoong menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa. Terkadang ia ikut membantu Mr Kim di kantornya, atau bahkan berkencan dengan Siwon. Namun semua kegiatan di lakukannya tak bisa mengusir bayangan Yunho di matanya. Disemua kegiatannya selalu ada Yunho diingatannya, bahkan pada saat tidurpun Jaejoong memimpikannya. Pelan-pelan sinar ceria di mata Jaejoong meredup seiiring jiwanya yang merindukan Yunho, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan melamun. Ingin rasanya ia bertemu Yunho. namun ia terlalu takut untuk menemuinya. Ia takut semuanya akan bertambah rumit. Padahal Jaejoong sudah berusaha menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Yunho. namun perasaan itu kian hari kian menggerogoti hatinya. Andai saja Yunho tidak mengucapkan itu, mungkin sekarang Jaejoong tidak akan seperti ini.

Tak terasa sudah satu bulan Jaejoong menghabiskan hari untuk merindukan Yunho. itu berarti sudah satu bulan pula ia tidak bertemu namja itu. Suatu hari Jaejoong tampak melamun di taman belakang rumahnya. Ia duduk di bangku taman sambil memeluk lututnya. Matanya tertuju pada taman bunga di depannya. Namun sebenarnya matanya sedang menerawang jauh. Seseorang duduk di sampingnya dan itu tidak disadari Jaejoong.

"Jae.."

Jaejoong mendongakkan kepalanya menoleh ke arah Siwon.

"Ah... wonie oppa!" sapanya kemudian membenahi posisi duduknya. "Astaga aku lupa! Kau akan mengajakku pergi ya. Mian, aku benar-benar lupa. Kau tunggu sebentar ya, aku akan ganti baju sebentar" Jaejoong beranjak dari duduknya untuk berniat masuk ke rumahnya. Ia benar-benar lupa kalau ia memiliki janji dengan Siwon yang akan mengajaknya keluar.

Siwon yang melihat itu, segera menarik tangan Jaejoong. "Sudahlah, tak apa. Kita tunda saja perginya. Duduk disini saja!"

Jaejoong pun mengikuti perintah Siwon. Ia kembali duduk di tempatnya tadi.

"Ku lihat sekarang kau sering melamun."

"Benarkah? Tidak juga." Jawab Jaejoong seadanya kemudian kembali menatapi kebun bunga didepannya.

"Biasanya orang yang sering melamun itu adalah orang yang sedang jatuh cinta."

Tenggorokan Jaejoong tercekat. Pernyataan Siwon barusan tepat mengenai jantungnya. "Haha.. bicar apa sih?" Jawab Jaejoong dengan suara sumbangnya.

Siwon tersenyum. "Aku tidak tahu apa yang terjadi selama satu minggu saat kau kabur dari pertunangan kita. Tapi yang pasti kau terlihat aneh setelah itu."

Jaejoong diam mendegar kata-kata Siwon tanpa berniat menyanggah.

"Aku tahu kau tidak menyukaiku dan tidak menyetujui pertunangan ini. Walau sekeras apapun aku mencoba membuatmu jatuh cinta padaku kau tetap tidak akan tersentuh"

"Mian." Lirih Jaejoong sambil tertunduk.

Siwon mengelus rambut Jaejoong. "Cinta itu tidak bisa di paksa Jae. Dan aku tahu itu." Ujar Siwon lembut.

"Kau tahu, dulu aku memiliki seorang kekasih. Kami saling mencintai dan berniat menikah. Namun ayahku sama sekali tidak mengizinkannya. Hingga suatu hari ayahku menyuruhku berpisah dengannya dengan ancaman akan mengeluarkanku dari ahli waris keluargaku. Aku menuruti appaku dan memutuskannya begitu saja tanpa tahu betapa menderitanya dia karenaku. Dan sekarang aku menyesal, kenapa aku memilih meninggalkannya? Harta bisa di cari kedepannya tapi tidak dengan cinta. Aku menyesal dan mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan kembali pada masa itu dan selalu berada di sisinya. Tidak peduli cintaku melanggar peraturan keluarga, aku akan tetap menjalaninya. Karena hidupku, kebahagianku bukan keluargaku yang merasakannya, tapi aku." Cerita Siwon panjang lebar. "Semoga dengan ini kau mengerti." Siwon mengacak rambut Jaejoong lalu beranjak berdiri dari duduknya.

"Lalu bagaimana denganmu?"

Siwon tersenyum lucu, menampilkan lesung pipinya yang tampak manis. "Aku ini pria tampan. Kehilanganmu bukan berarti aku mati kutu. Kau tahu pribahasa, gugur satu tumbuh seribu, kan? Itulah aku." Angkuh Siwon. Membuatnya mendapat cubitan kecil di pinggangnya.

"Lalu appa?"

"Itu biar oppamu yang tampan ini yang urus." Siwon menepuk dadanya sombong. Jaejoong kembali mencubit pinggang Siwon. Membuat pria tampan itu mengaduh pelan.

"Kalau begitu semoga berhasil ne sangie!" Siwon menepuk-nepuk kecil kepala Jaejoong lalu segera pergi dari sana.

Jaejoong tersenyum kemudian ikut masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap mencari seseorang yang sudah mencuri hatinya.

.

.

Yunho memasukan password kunci apartemennya. sore itu ia baru pulang dari kantor. badanya benar-benar terasa remuk berkerja seharian. apa lagi tidak ada lagi yang bisa membuatnya semangat seperti waktu ada Jaejoong kemarin. Hidupnya kembali terasa datar setelah kepergian Jaejoong.

Yunho memasuki apartemennya tanpa menyadari sebuah sepatu wanita tersimpan di tempat penyimpanan sepatu. ia membuka mantelnya dan melemparkannya ke sofa, begitupula dengan jaz dan dasinya. ia menuju dapur berniat mengambil segelas air untuk melepas dahaganya. namun sesuatu di dapur membuatnya terkejut. bertumpuk-tumpuk kardus berada di dapurnya. di atas meja makan juga tersedia makanan yang tertata rapi.

Yunho terkejut saat melihat isi kardus yang ternyata ice cream itu. kenapa ada ice cream sebanyak ini dirumahnya?

"Bukankah sudah kubilang jangan melepas pakaian sembarangan? tidak bisakah kau mengantung baju-bajumu di kamarmu?"

"Nona!" Yunho terkejut saat melihat jaejoong berdiri di depannya. wanita yang satu bulan ini sangat dirindukannya kini berada di depannya.

"Bagaimana? aku menepati janjiku, kan?" Jaejoong berjalan menghampiri Yunho. "Aku membuatkanmu makanan dan membelikanmu seribu ice cream. apa kau puas sekarang."

PLAK

Yunho merasakan pipinya memanas akibat tamparan Jaejoong yang tidak bisa di bilang pelan. kenapa Jaejoong menamparnya
? apa salahnya? batin Yunho.

"No..na~"

"Kenapa kau menyatakan cintamu padaku? kau tahu betapa tersiksanya aku selama satu bulan ini karena memikirkanmu? kau tahu kau sudah membuat pertunanganku gagal sekarang? kau menghancurkan semuanya sekarang. SUDAH KUBILANG JANGAN MENCINTAIKU!" Bentak Jaejoong.

Yunho tertunduk menyesla. "Maafkan aku." Lirihnya. ia tahu seharusnya ia tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Jaejoong.

"Aku bertahan untuk tidak mencintaimu selama aku tinggal bersamamu karena tidak mau semuanya semakin rumit. tapi dengan gampang dan gaya sok kerenmu, kau menyatakan cintamu semudah itu dan membuat pertahananku runtuh seketika. Kau ada dimanapun mataku memandang, kau bahkan menghantui setiap mimpiku. apa kau pikir itu keren? HUH?!"

Mata Jaejoong memerah menahan tangis. "Yun tatap aku." Pinta Jaejoong tapi Yunho tetap menunduk. "TATAP AKU BODOH!" Bentak Jaejoong. mau tidak mau ia menatap Jaejoong.

"Aku mencintaimu sekarang. aku sangat mencintaimu. KAU PUAS! KAU BERHASIL TUAN JUNG!". Yunho terdiam mendengar pernyataan Jaejoong. Jaejoong mencintainya? benarkah yang barusan ia dengar.

"Kau berhasil Jung, aku mencintaimu sekarang hiks...Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa menikah sementara aku sedang mencintai orang lain, dan aku tidak mungkin meminta ayah untuk membatalkan pertunangan, Yun" Lirih Jaejoong berakhir dengan isakannya. ia berbalik memunggungi Yunho untuk menyembunyikan air matanya.

Yunho memandang miris punggung Jaejoong yang bergetar. 'apa yang kau lakukan Yunho. kau membuat orang yang kau cintai menangis'

Yunho memeluk Jaejoong dari belakang. "AKu mencintaimu Yun..hiks aku mencintaimu... " Isak Jaejoong.

Yunho membalik tubuh Jaejoong lalu menagkupkan tangannya di wajah Jaejoong. ia menghapus air mata di wajah cantik itu. "Aku juga mencintaimu Jae. sangat mencintaimu. maafkan aku, aku tidak tahu peryataan cintaku akan membebanimu." Kini berganti Yunho yang tertunduk.

"Ania, aku sudah mencintaimu dan aku sudah tidak bisa mundur lagi. aku akan memperjuangkan cintaku." Jaejoong kembali memeluk Yunho dengan erat.


disinilah kini mereka. duduk di sofa dalam diam. Jaejoong berada dalam rangkulan Yunho. ia tidak lagi menangis ataupun sesegukan. tak ada yang bersuara. yang terdengar hanya detingan jam didinding yang menunjukan pukul 06.55 yang berarti hari sudah beranjak malam, dan mereka masih betah di duduknya.

"Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak ingin menarik mu dalam masalah, tapi aku juga tidak rela melihatmu bersama orang lain, aku sudah mencoba untuk melupakan mu, berusaha sebaik mungkin. Tapi tetap saja seperti ini, aku tau aku egois. Maafkan aku" lirih Yunho. akhirnya ia membuka suaranya setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya sendiri. ia sungguh merasa bersalah. Jaejoong luluh kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Yunho. tangannya mengelus pipi Yunho yang memerah akibat tamparannya tadi.

"Aku yang memilih ini semua Yun. aku bisa saja mengabaikan pernyataan cintamu dan hanya menganggapnya angin lalu. Tapi aku tidak mau, karena aku sadar aku juga telah jatuh cinta padamu bahkan saat satu minggu kita hidup bersama. hanya saja sebisa mungkin aku menekan perasaanku karena tidak ingin kau terlibat dalam cerita rumitku." Jaejoong menatap Yunho lekat-lekat. "aku sangat ingin berada di dekatmu, aku sangat ingin menunjukan padamu bahwa aku juga sangat mencintaimu. maka dari itu aku datang kesini untuk memasstikan hatiku. aku tahu mencintaimu berarti aku melawan ayahku. aku akan menerima segala konsekuensinya selama aku bisa bersamamu. karena kau cintaku, dan aku berhak mempertahankanmu untuk kebahagian hidupku."

Yunho tersenyum mendengarnya. tak bisa di pungkiri lagi hatinya amat sangat bahagia sekarang. "Jadi, apakah ini berarti kau setuju menjadi kekasihku?"

"Bukan pacar, tapi selingkuhan Yun" ralat Jaejoong membetulkan kata-kata Yunho sambil mengangkat tangan kanannya yang melingkar cincin pertunangan di jari manisnya.

"Terserah, aku rela disebut apapun asal aku bisa bersama mu itu sudah cukup" ujar Yunho dengan polos, Jaejoong tersentuh mendengarnya kemudian mendekati Yunho dan meletakkan tangannya di bahu Yunho.

"Hati ku telah menjadi milik mu, bagaimana aku bisa menolak?" ujar Jaejoong dengan lembut sambil menatap mata Yunho dalam-dalam, mendengar hal itu Yunho tersenyum bahagia.

Pelan-pelan tapi pasti, Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Jaejoong tidak mencoba menghindar, malahan ia tetap ditempatnya dan menunggu apa yang akan dilakukan Yunho berikutnya. Yunho mengecup bibir Jaejoong lembut membuatnya memejamkan matanya perlahan. ciuman Yunho berubah menjadi lumatan kecil, membuat Jaejoong makin terbawa suasana dan membalas ciuman Yunho. ia juga merangkulkan tangannya keleher Yunho dan meremas rambutnya, sedangkan tangan Yunho mulai merangkul pinggang dan punggung Jaejoong mencoba lebih mendekatkan jarak diantara itu Yunho mencium Jaejoong lama sekali dan berulang-ulang, seolah ingin menghapus jarak diantara mereka, seolah ingin menyalurkan perasaan masing-masing.

dua hal yang mereka tahu kini. 'mereka saling mencintai dan mereka saling memiliki' walaupun cinta yang mereka jalani akan banyak ujiannya, mereka akan tegar menghadapinya sambil tetap berpegang teguh pada cinta mereka.


To Be Continue


big thanks to ::

Himawari Ezuki, Jung Jae YJ, Zoldyk, SimYJS, Sakura, CassieYunjae, Kyuubi Kim, Guest, Jaeho, NaraYuuki, Jung Jaema, Minnie, Afrey J, Anne, AKASIA CHEONSA.

.

Untuk pertanyaan kenapa Yunho gak kenal ma Junsu pas Yunjae ketemu pertama kali, itu karena Yunho terlalu tersepona sama Jaema sampe yunpa gak peduli lagi ma sekitarnya. dia cuma deger suara ga terlalu ngeliat wujudnya. hehe

disini Yunho masih manggil Jaejoong nona or Agashi bukan Noona/nuna. jadi yang itu bukan typos, ne~~. seharusnya dri awal saya tulis agashi sja, tapi terlanjur ke buat 'Nona' jadi males ngeditnya dari chap awal.

kyaknya ni ff bakal jadi kyak drama karena konflik yang lumayan berat menunggu mereka di chap-chap depan. semoga yunjae bisa ngelewatinya supaya ceritanya gak melenceng ke angst.

jadi begitulah~

thanks for semua reviewnya dan masukannya. #nunduknunduk

akhir kata...

Terima kasih banyak #lambailambaisambilaegyo