Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Author : NikStar96

Pairing : NaruHina

Genre : Romance

Typo(s), Gaje, Canon, After The Last Naruto The Movie

Chapter 4: Himawari

Pagi hari memang sangat menyegarkan. Burung-burung bernyanyi bahagia saking segarnya udara pagi. Bulir-bulir embun yang membasahi dedaunan hijau menambah kesegaran suasana di pagi hari. Awan-awan putih yang menggumpal yang menemani matahari menambah keindahan pagi hari.

Di Konoha, berdirilah sebuah rumah sederhana namun megah. Rumah itu tak lain adalah rumah keluarga Naruto dan Hinata.

Sebelumnya, Naruto memutuskan untuk membangun rumah karena ia merasa apartemennya terlalu kecil untuk mereka. Setelah anak pertama mereka lahir, Naruto mengungkapkan keinginannya kepada Hinata. Hinata mengatakan bahwa ia tidak keberatan jika tinggal di apartemen. Namun Naruto tetap merasa bahwa apartemennya terlalu kecil. Karena keinginan suaminya yang begitu antusias terhadap rumah baru, Hinata pun menyetujuinya asalkan itu tidak terlalu menyusahkan Naruto.

Dengan tabungan yang dimiliki, Naruto dan Hinata menyewa seorang arsitek untuk merancang rumah mereka. Pasangan suami istri itu saling memberi ide dan saran tentang bagaimana interior dan eksterior rumah mereka.

Berkat rancangan arsitek yang berpengalaman serta seluruh pihak yang terlibat, rumah baru Naruto dan Hinata berhasil dibangun dengan begitu megahnya. Bahkan Patung para Hokage menghadap ke rumah baru mereka. Seakan-akan para Hokage terdahulu akan menjaga rumah mereka.

Hinata membuka jendela rumah dan menghirup dalam-dalam udara pagi.

"Kaa-chan."

Tiba-tiba suara imut terdengar dari dalam rumah.

Hinata kemudian membalikkan badannya untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.

"Kaa-chan, aku sudah siap."

Terlihat seorang anak laki-laki berlari kecil menghampiri ibunya. Anak laki-laki itu kemudian melompat. Karena kaget melihat anaknya melompat seperti itu, secara reflek Hinata menangkap anak laki-lakinya yang menggemaskan.

"Boruto, kenapa kamu melompat seperti itu?"

"Abis, aku senang karena akan pergi bersama Tou-chan."

Hinata kemudian mengecup kening anak laki-laki yang ia sayangi. Hal itu membuat Boruto merasa kegirangan.

"Baiklah. Sebelum kita pergi, kita sarapan dulu ya, sayang."

Boruto mengangguk. Kemudian Hinata menudukkan Boruto di kursi meja makan.

"Ngomong-ngomong Tou-san dimana?" Tanya Hinata.

"Tou-chan masih di kamar dan belum keluar sejak tadi, Kaa-chan."

Mendengar itu membuat Hinata sedikit jengkel. Ia kemudian berjalan menuju kamar mereka untuk membangunkan suaminya yang benar-benar 'tukang tidur'.

"Naruto-kuunnn, banguuuunnn." Kata Hinata sambil membuka pintu. Namun...

"Lho? Naruto-kun dimana?"

Hinata tidak melihat sosok Naruto di tempat tidur.

"Naruto-kun, kamu dimana? Naruto-kun?"

Hinata khawatir karena Naruto menghilang. Ia berteriak memanggil nama Naruto berharap ia membalas teriakannya. Namun...

*GREP*

Seseorang tiba-tiba memeluk Hinata dari belakang.

"Ohayou, Hinata."

Hinata kaget saat seseorang yang sangat ia cinta tiba-tiba memeluknya dari belakang.

"Ke…kenapa kamu mengagetkanku seperti ini?" Tanya Hinata protes.

"Hehe. Apa kamu lupa kalau aku suka menjahili kamu?" Jawab Naruto.

Namun, bukannya senang dengan pelukan Naruto, Hinata malah terlihat cemberut. Naruto menyadari hal itu. Kemudian ia melepaskan pelukannya.

"Apa ada yang salah, Hinata?"

"Tentu saja salah. Seharusnya kamu yang membangunkanku. Bukan aku. Apa kamu lupa jika anak yang ada di dalam rahimku ingin dibangunkan olehmu?"

Mendengar hal itu membuat Naruto kaget. Ia benar-benar lupa akan keinginan istrinya. Sebelum tidur, Hinata berpesan agar Naruto membangunkannya serta Boruto pada jam 6 pagi. Karena itu merupakan keinginan anak yang berada di dalam kandungannya.

Benar. Saat ini, Hinata sedang hamil. Ia mengandung anak kedua dari benih cinta mereka. Saat hamil, Hinata sering ngidam yang aneh-aneh.

Saat Hinata mengandung Boruto, Naruto tidak mengerti apa itu ngidam. Ketika Hinata ngidam untuk pertama kalinya, Naruto sangat kewalahan menghadapi istrinya karena permintaannya aneh-aneh. Bahkan mereka sempat bertengkar dan pisah ranjang karena Naruto tidak memenuhi keinginan istrinya. Namun setelah berkonsultasi dengan teman-temannya, Naruto menyadari kebodohannya yang telah mengabaikan Hinata.

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan ngidam yang sedang dialami istrinya, Naruto bergegas untuk meminta maaf kepada Hinata dan berjanji akan berusaha memenuhi semua keinginannya saat ngidam.

"Hiks. Hiks."

Naruto melihat Hinata menangis. Hal itu membuat dirinya bingung.

"Hi..Hinata. Ada apa? Kenapa kamu menangis?"

Naruto berusaha menggapai wajah Hinata dan mengusap air matanya.

"Kamu jahat. Aku pikir kamu diculik oleh orang yang ingin mencelakakan kamu. Aku khawatir. Aku takut kehilangan kamu."

Naruto merasa bersalah mendengar pernyataan Hinata. Kemudian, ia memeluk Hinata untuk menenangkan dirinya.

"Hinata, kamu tidak perlu takut. Aku akan selalu ada di samping kamu, memegang tangan kamu, memeluk kamu, dan mencium kamu. Aku tidak akan pernah hilang dari hadapanmu. Aku janji, Hinata."

Naruto kemudian mengecup kening Hinata. Setelah itu, ia kembali memeluk Hinata. Hinata yang senang dengan kecupan hangat Naruto kemudian membalas pelukan Naruto dengan erat.

"Terima kasih, sayang. Aku selalu percaya padamu."

Tiba-tiba Hinata melepaskan pelukannya. Kemudian ia menggapai wajah Naruto. Hal itu membuat Naruto kaget keheranan. Hinata mengelus wajah suaminya yang begitu imut di matanya. Naruto yang heran kemudian memandang mata Hinata. Naruto mengerti keinginan Hinata hanya dengan melihat matanya saja. Mata itu menunjukkan keinginan cinta yang begitu besar terhadap Naruto.

Naruto dan Hinata kini saling bertatapan. Kedua bola mata Blue Sapphire itu menatap Lavender Amethyst Hinata dengan penuh cinta. Keduanya seakan mabuk oleh tatapan cinta mereka. Setelah puas memandang kesempurnaan mereka masing-masing, Naruto menutup mata perlahan dan mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata. Hinata pun mengerti dan segera menutup matanya sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Naruto. Dan...

*DOK DOK DOK*

"Tou-chan, Kaa-chan, kenapa lama sekali sih?"

Suara Boruto yang kesal menghentikan niat mereka untuk berciuman. Untung saja Hinata tidak lupa mengunci pintu kamar. Jika tidak, akan memakan waktu yang lama untuk menjelaskan hal-hal yang tidak semestinya untuk anak seumuran Boruto.

"Emmm.. Iya… Sebentar lagi ya, nak. Kami sedang bersiap-siap." Kata Naruto.

Naruto segera mengemas berbagai keperluan mereka untuk jalan-jalan. Namun...

"Naruto-kun."

"Ada apa, Hinata?" Tanya Naruto heran.

Hinata merapikan kerah kemeja Naruto yang semrawutan. Kemudian.

*Chu*

*Chu*

*Chu*

*Chu*

*Chu*

Hinata mengecup wajah Naruto sebanyak lima kali dengan cepat. Hal itu membuat Naruto kaget.

"Hei hei, Hinata. Ahaha. Apa yang kamu lakukan?"

"Kenapa Naruto-kun bertanya? Apa kamu tidak suka?" Tanya Hinata kecewa.

"Tidak. Bukan begitu. Aku kaget saja. Kamu menciumku dengan cepat. Aku jadi kegelian. Hehe." Kata Naruto sambil mengeluarkan seringai andalannya. Senyum yang selalu membuat Hinata tergila-gila.

"Hehe. Bagaimana jika kita berangkat sekarang, sayang? Kasihan Boruto sudah menunggu kita dari tadi."

"Oh iya. Sebaiknya kita berangkat. Ayo Hinata."

Naruto, Hinata, dan Boruto pun menuju Taman Rekreasi Konoha.

-oOoOo-

-Di Taman Rekreasi Konoha-

Keluarga Uzumaki sudah tiba di Taman Rekreasi Konoha. Di tempat itu terdapat banyak sekali jenis permainan yang seru dan menantang. Keluarga Uzumaki mencoba banyak sekali permainan. Mereka memainkan permainan yang ringan seperti permainan berhadiah.

Hinata juga ingin mencoba permainan ekstrim seperti Roller Coaster. Namun Naruto melarang Hinata karena masih dalam masa kehamilan. Hinata bahkan memaksakan keinginannya dengan alasan ia sedang ngidam. Namun, Naruto sebagai suami tidak kehilangan ketegasannya. Ia tetap tidak memperbolehkan Hinata untuk bermain permainan ekstrim.

Namun...

"Naruto-kun. Kelihatannya disana sangat ramai. Ayo kita lihat."

Naruto menuruti ajakan Hinata. Mereka kemudian bergegas menuju sebuah stan permainan yang bernama 'Rumah Hantu'.

Sesampainya di stan tersebut, Naruto protes karena yang dikunjunginya adalah rumah Hantu.

"Hi...Hinata. Ke...kenapa kita disini?" Tanya Naruto ketakutan.

"Ini permintaan buah hati kita, sayang."

"Tidak. Apa kamu tau bahayanya tempat ini bagi ibu hamil sepertimu?"

"Naruto-kun. Tapi ini memang keinginan buah hati yang ada di kandunganku. Lagipula, tidak ada peringatan untuk ibu hamil dilarang masuk. Kumohon. Sekali ini saja. Ya?" Mohon Hinata.

Melihat wajah Hinata yang memohon dengan wajah imutnya membuat Naruto menjadi tidak tahan.

"Tapi kamu harus memelukku erat-erat jika ketakutan." Kata Naruto.

"Eehh? Jadi bener boleh?" Tanya Hinata dengan mata berkaca-kaca.

"Ya. Tapi hanya sekali saja. Setelah itu kita pulang." Jawab Naruto

Hinata sangat senang. Keluarga Uzumaki pun kemudian ikut mengantri untuk bermain di rumah hantu tersebut.

Setelah beberapa lama menunggu, Keluarga Uzumaki akhirnya mendapat giliran untuk masuk. Rumah Hantu ini memiliki dua pintu masuk dimana setiap orang yang berada dari pintu satu akan bertemu dengan setiap orang dari pintu dua di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh lilin. Satu pintu hanya dapat dimasuki lima orang dalam satu antrian.

-Di Rumah Hantu-

Keluarga Uzumaki telah memasuki rumah hantu di pintu 1. Sepanjang perjalanan, seperti biasa Naruto terlihat begitu ketakutan. Begitu juga dengan Boruto yang selalu menutup wajahnya dengan baju Hinata. Sepertinya rasa takut Boruto terhadap hantu diwariskan dari ayahnya. Sedangkan ibunya, walaupun sedikit terkejut dengan hantu-hantu yang ditampilkan, ia tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan seperti suami dan anak-anaknya. Sebaliknya, Hinata malah terlihat menikmati wahana tersebut.

"MAAUU KEEMAANAA?"

"GYYAAAA."

Suara-suara hantu yang menyeramkan tentu sangat mengagetkan para peserta. Apalagi jika sosok makhluk menyeramkan tersebut menampakkan diri di hadapan mereka. Hal itu tentu membuat mereka ketakutan. Di antara teriakan para peserta, suara teriakan Naruto lah yang paling keras. Dua orang lain yang bersama mereka menjadi sedikit heran melihat teriakan sang pahlawan yang begitu keras.

"Na...Naruto-kun. Teriakan kamu keras banget." Kata Hinata.

"Ma..maaf, Hinata. Hehe."

Rombongan pintu 1 melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa saat kemudian, rombongan pintu 1 menabrak sesuatu.

"H..hei, a..ada apa?" Tanya Naruto ketakutan.

"Sepertinya kita menabrak rombongan pintu 2." Jawab orang yang satu pintu dengan Naruto.

"Ma..maaf ya sudah menabrak. Abisnya di sini gelap banget. Aku tidak tahan. Aku...Aku takut. Aku ingin keluar. Huaaaa." Kata salah satu orang di rombongan pintu 2.

"I...iya. Ayo kita keluar bersama." Kata salah satu orang di rombongan pintu 1.

Rombongan pintu 2 akhirnya bertemu dengan rombongan pintu 1. Menandakan bahwa pintu keluar sudah mulai dekat. Hal itu membuat makhluk-makhluk yang ada di rumah hantu itu semakin menyeramkan dibandingkan dengan awal mereka masuk. Seperti pembunuh bergergaji yang berlumuran darah, Sadako yang keluar dari sumur, arwah-arwah penasaran, dan lain sebagainya. Walaupun hanya bohongan, hal itu cukup membuat Naruto berteriak ketakutan seperti anak kecil. Sampai-sampai di akhir perjalanan, ia melompat dan memeluk seseorang tanpa mengetahui atau peduli siapa yang dipeluknya.

Setelah berhasil keluar dari rumah hantu tersebut...

"Selamat. Kalian berhasil melewati rumah hantu kita dalam waktu 24 menit 32 detik. Kalian akan mendapat suvenir gratis dari kami."

Mendengar rekor dan hasil yang mereka dapat membuat Hinata senang. Boruto yang awalnya ketakutan kini kembali lega karena sudah keluar dari tempat itu. Ditambah dengan hadiah yang akan mereka peroleh membuat dirinya senang.

"Kaa-chan. Kita akan dapat hadiah." Seru Boruto.

"Iya sayang. Kamu senang kan?" Tanya Hinata lembut.

"Tentu. Hehe." Jawab Boruto.

"Bagaimana denganmu, Naruto-kun? Kamu dengar pengumuman itu? Kita..."

Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, ia melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

"Aku tidak ingin lihat. Aku tidak ingin lihat." Kata Naruto ketakutan sambil menutup matanya.

"Hei. Bisakah kamu lepaskan aku?" Kata seorang wanita berambut pirang.

"Eh?"

Naruto menyadari bahwa ia sudah keluar dari rumah hantu. Ia merasa lega dan melepaskan pelukannya.

"Ah maafkan aku. Tapi sepertinya aku mengenal suaramu." Kata Naruto.

Naruto memperhatikan dengan seksama wajah wanita berambut pirang itu.

"Ka..kau kan?" Kata Naruto kaget.

"Eh? Kau Naruto kan?" Kata wanita itu.

"I..iya. Kau.. Siapa?"

Wanita itu sweatdrop mendengar perkataan Naruto.

"Dasar bodoh. Apa kau tidak kenal aku?" Kata wanita itu protes.

"Ma..maaf. Aku hanya lupa namamu. Hehe." Kata Naruto.

Wanita itu kecewa dengan pernyataan Naruto.

"Huft. Naruto, aku ini Shion."

Naruto sejenak berusaha mengingat nama yang tidak asing baginya.

"Shion. Shion. Shion? Oh. Kau Shion pemimpin negara iblis kan?" Kata Naruto.

"Huh. Akhirnya kau menyadarinya juga." Kata Shion kesal.

"Maaf. Haha. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Tanya Naruto.

"Baik. Kelihatannya kau sehat-sehat saja sejak meninggalkanku. Ngomong-ngomong kau memotong rambutmu ya? Pantas saja awalnya aku tidak menyadari kalau kau Naruto." Kata Shion.

"Iya. Rambut panjang sedikit membuatku risih. Tapi tetap saja aku tampan. Ngomong-ngomong kau sedang apa disini?" Tanya Naruto.

"Aku sedang bertamasya bersama dua orang temanku di belakang." Jawab Shion.

Naruto menoleh kebelakang. Ia melihat dua wanita teman Shion. Kedua teman Shion melongo melihat Naruto.

"Salam kenal." Sapa Naruto ramah kepada kedua wanita itu.

Kedua wanita itu tiba-tiba menggenggam tangan Naruto.

"KYAAA. Jadi ini Naruto-senpai? Tampan banget. Salam kenal, Naruto-senpai." Jawab kedua wanita itu bersamaan.

Naruto bingung dengan ekspresi berlebihan kedua teman Shion. Sedangkan Shion hanya tertawa melihat mereka.

"Mereka berdua ini penggemarmu loh." Kata Shion menjelaskan.

Naruto menggaruk kepalanya karena sedikit canggung dengan suasana itu. Sedangkan ia tidak menyadari bahwa Hinata memperhatikan dia dari belakang.

"Tou-chan. Ayo kita pulang." Kata Boruto dari belakang.

Naruto menoleh ke arah belakang. Ia melihat Boruto yang mengajaknya pulang. Kemudian ia melirik wajah Hinata yang terlihat tidak nyaman dengan situasi tersebut.

"Eh. Iya. Maaf sebelumnya. Aku ingin perkenalkan keluargaku. Anak laki-laki ini adalah anakku, Boruto. Dan yang disampingnya adalah Hinata, istriku." Kata Naruto.

Hinata yang mendengar itu kemudian menghampiri mereka.

"Hai. Namaku Shion. Salam kenal." Kata Shion ramah sambil mengulurkan tangannya.

"Hi..Hinata Uzumaki. Salam kenal juga." Kata Hinata.

Mereka berdua berjabat tangan. Naruto merasakan sesuatu yang aneh pada sikap Hinata yang terlihat murung.

"Wah. Aku tidak menyangka Naruto mempunyai istri secantik ini. Anakmu juga sangat imut. Siapa namanya?" Tanya Shion.

"Emmm.. Terima kasih. Namanya Boruto." Jawab Hinata.

"Wah. Nama yang bagus. Baiklah. Kami pergi dulu, Naruto. Kami masih ingin menikmati wahana yang lain. Sampai jumpa." Pamit Shion.

"Iya. Kami juga akan segera pulang. Kami pamit dulu." Pamit Naruto.

Naruto dan keluarganya kemudian pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Naruto berbicara banyak hal kepada Hinata. Sedangkan Hinata hanya mengiyakan apa yang dikatakan suaminya sambil menunduk. Hal itu membuat Naruto tidak nyaman.

"Hinata. Kenapa kamu terlihat murung?"

Hinata berpikir untuk beberapa saat. Kemudian ia memberanikan diri menatap wajah Naruto.

"Anu. Kamu terlihat sangat akrab dengan wanita berambut pirang tadi. Siapa wanita itu?" Tanya Hinata

"Oh. Dia adalah kenalanku disaat misi untuk menyegel Moryou, Hinata. Ada apa?" Tanya Naruto.

"Tidak ada. Hanya saja kamu tidak pernah cerita kepadaku."

Naruto melihat ekspresi Hinata. Ia menyadari bahwa istrinya cemburu terhadap hubungannya dengan Shion.

"Hi...Hinata. Aku dan dia cuma berteman kok. Kamu jangan terlalu serius begitu dong, sayang."

"A...aku tidak mempermasalahkannya kok. Tidak apa-apa. Naruto-kun." Kata Hinata.

"Be..benarkah tidak apa-apa?" Tanya Naruto khawatir.

Hinata hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Naruto. Setelah itu, tidak ada lagi sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Bahkan setelah sampai di rumah, suasana diantara mereka menjadi sangat canggung. Hal itu membuat Naruto gelisah.

-oOoOo-

-Di kamar-

"Hinata." Panggil Naruto.

"Ada apa, Naruto-kun?"

"Bisakah aku bicara denganmu?"

"Maaf. Aku sangat lelah. Aku hanya ingin tidur. Lain kali saja ya."

"Huft. Baiklah. Oyasumi, Hinata."

"Oyasumi, Naruto-kun"

Dengan perasaan kecewa, Naruto memutuskan untuk tidur. Namun, Naruto tidak bisa tidur. Walaupun menutup matanya, ia tidak juga terlelap. Kemudian ia menatap Hinata yang sudah tertidur. Wajah Hinata yang terlelap terlihat begitu polos dan manis bagi Naruto. Setelah menatap wajahnya, ia menyadari bahwa Hinata masih cemburu akan hubungannya dengan Shion.

"Hinata. Maafkan aku ya karena sudah membuatmu cemburu."

Naruto mengecup kening Hinata. Kemudian ia keluar dari rumah. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan Sai.

"Oh, Naruto. Apa yang kau lakukan di tengah malam begini?" Tanya Sai.

"Aku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu?"

"Aku baru saja ingin pulang. Kenapa kau terlihat murung? Apa kau tidak bisa memuaskan istrimu?" Tanya Sai polos.

"Grrhh. Kau benar-benar tidak berubah ya." Kata Naruto kesal.

"Ahahaha. Benarkah begitu? Ya sudah. Bagaimana kalau kita minum-minum di kedai sake?" Ajak Sai.

Naruto menerima ajakan Sai untuk minum. Setidaknya dengan minum, ia bisa sedikit tenang. Naruto hanya minum sedikit agar ia tidak mabuk. Setelah puas minum-minum, Naruto mengantar Sai ke rumahnya karena ia mabuk berat.

"Permisi." Kata Naruto mengetuk pintu.

Pintu rumah Sai dibukakan oleh istrinya, Ino.

"Naruto? A...apa yang terjadi dengan suamiku?" Tanya Ino cemas.

"Tenang saja. Ia hanya mabuk. Selain itu, aku ingin curhat."

Ino yang keheranan kemudian mempersilahkan Naruto masuk. Bersama, mereka mengangkat Sai yang mabuk ke tempat tidur. Setelah itu, Ino mendengarkan permasalahan Naruto.

"Jadi begitu? Hinata bersikap aneh kepadamu. Dan kau menyadari bahwa ia cemburu terhadapmu. Kau sudah berubah ya, Naruto."

"Maksudnya?" Tanya Naruto bingung.

"Pada awal hubungan kalian, kalian adalah pasangan yang terlihat begitu polos. Apalagi kau sering sekali tidak peka terhadap perasaan Hinata. Tapi sekarang, kamu langsung menyadari bahwa ia cemburu."

"Benarkah? Entahlah. Aku tidak begitu yakin aku sudah berubah. Memang dulu saat Hinata ngambek, aku juga bisa ikutan marah sehingga menyebabkan pertengkaran. Namun, aku tidak ingin menimbulkan pertengkaran lagi."

"Hmmm. Bagus deh. Jadi apa rencanamu?"

Naruto kemudian melirik semua bagian rumah mereka yang penuh dengan bunga. Ia melirik bunga yang menarik hatinya. Kemudian ia bergerak untuk menghampiri bunga itu.

"Terima kasih, Ino. Aku menemukan apa yang kubutuhkan."

-oOoOo-

Hinata membuka pintu rumahnya. Ia menghirup udara segar di pagi hari. Hal itu membuatnya sedikit tenang. Hinata kemudian mencari suaminya. Ia melihat suaminya sedang menonton TV.

"Naruto-kun."

"Ada apa, Hinata?"

"Aku diajak Sakura-san dan Ino-san jalan-jalan ke festival kembang api. Aku mau minta izin berangkat."

"Oh. Ya sudah. Hati-hati ya, Hinata."

Hinata segera bersiap-siap untuk pergi. Ia berpamitan kepada Boruto sebelum meninggalkan rumah.

Setelah Naruto melihat Hinata sudah jauh dari penglihatannya, ia memanggil Boruto.

"Ada apa, Tou-chan?"

"Cepat siap-siap. Kita akan pergi ke sungai."

-oOoOo-

-Di sebuah sungai-

"Sial. Aku hanya mendapat lima ekor ikan." Kata Boruto kesal.

"Haha. Sepertinya hal ini tidak cocok dengan anak yang tidak sabaran sepertimu. Memancing adalah kegiatan yang dapat melatih kesabaranmu."

Mendengar ceramah ayahnya membuat Boruto sedikit kesal.

"Emang Tou-chan dapat berapa?" Tanya Boruto sambil melirik keranjang ayahnya.

Betapa kesalnya ia karena mengetahui bahwa ayahnya tidak mendapat ikan seekorpun.

"Jangan sok menceramah. Keranjang Tou-chan saja kosong." Protes Boruto.

"Oohh. Jadi kau menantangku, nak?"

Boruto semakin kesal dengan tingkah ayahnya.

"Siapa yang menantangmu? Aku kan hanya kesal." Pikir Boruto.

"Ahahaha. Baiklah jika kau menantangku, nak." Tantang Naruto.

"Huh. Aku aku sudah bilang aku tidak menantangmu. Tapi boleh saja kalau begitu. Ayo bertanding, Tou-chan."

Keduanya kemudian bersiap membuat segel.

"Kagebunshin no Jutsu." Teriak mereka bersamaan.

-oOoOo-

Hari sudah menjelang malam. Hinata, Ino, dan Sakura sedang dalam perjalanan pulang.

"Kita berpisah disini ya. Sampai jumpa semua." Kata Ino dan Sakura.

"Iya. Terima kasih teman-teman. Aku merasa lebih baik. Hati-hati dijalan ya." Kata Hinata sambil melambaikan tangan.

Hinata berjalan sampai kerumahnya. Sesampainya di rumah, ia menjadi gelisah kembali.

"Huft. Kenapa perasaanku seperti ini sih?"

Kemudian dengan mengambil napas yang panjang, ia membuka pintu rumahnya.

"Okaeri nasai, Hinata."

Hinata kaget mendengar suara Naruto yang ternyata sudah berada di balik pintu.

"Na...naru..."

Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Naruto tiba-tiba menarik kepala Hinata dan memberikan kecupan penuh cinta kepada istrinya.

"Na...Naruto-kun?" Kata Hinata dengan wajah yang memerah.

"Kamu pasti lapar. Mari kita makan, sayang."

Hinata mengikuti suaminya yang mengantarnya ke halaman belakang rumahnya.

"Na...Naruto-kun. Ini..."

Betapa kagetnya Hinata ketika melihat begitu banyak lampion warna-warni menerangi halaman belakang rumah mereka. Ditambah lagi dengan begitu banyak bunga Matahari yang menghiasi halaman rumahnya.

"Silahkan duduk, sayang." Kata Naruto ramah.

Hinata segera duduk. Ia melihat meja yang ia gunakan diterangi oleh lilin yang membuat suasana menjadi romantis. Hinata tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas ia merasa senang akan perlakuan Naruto.

"Makanannya akan siap selama 20 menit lagi, Hinata. Jadi kamu sabar ya." Kata Naruto.

Hinata mengangguk meskipun sedikit bingung.

"Naruto-kun, apa yang kamu lakukan?" Tanya Hinata.

"Aku melakukan ini semua karena kamu."

Hinata tetap tidak mengerti maksud Naruto. Namun, ia tetap ingin mendengar apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

"Aku minta maaf. Kamu pasti cemburu karena Shion."

"I...itu..." Hinata mencoba mengelak

"Hinata, aku hanya ingin menjelaskan kepadamu bahwa aku dan Shion hanyalah teman. Tidak ada hal lain di antara kami. Percaya samaku."

"Benarkah itu?"

"Benar, Hinata. Aku hanya mencintai kamu dengan segenap hatiku."

Kata-kata Naruto membuat Hinata sangat terharu. Ia tidak dapat menahan tangisnya.

"Naruto-kun. Maafkan aku. Aku tahu kamu tidak akan mengkhianatiku. Aku mungkin sedikit sensitif karena kehamilanku. Hanya saja, saat itu kamu memeluknya."

"Eh?" Naruto kaget mendengar itu. Ia lupa bahwa ia memeluk Shion sebelumnya di depan mata Hinata.

"Kamu...kamu memeluknya. Kamu tahu tidak banyak yang mengomentari kita saat itu. Hal itu membuatku sakit. Aku..."

*GREP*

Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Naruto langsung menggenggam tangan Hinata.

"Hinata, maafkan aku. Saat itu sangat gelap. Dan aku ketakutan sehingga tidak menyadari siapa yang kupeluk. Kumohon, jangan memikirkan terlalu jauh hal itu. Aku hanya mencintaimu. Jangan pedulikan perkataan orang."

Setelah mengatakan itu, Naruto bangkit berdiri. Kemudian ia menghampiri Hinata dan memeluknya. Hinata sangat kaget dengan perlakuan Naruto.

"Kamu telah mengubah diriku menjadi lebih baik. Dulu, sekarang, dan selama-lamanya, aku akan selalu mencintaimu, Hinata."

"Naruto-kun."

Hinata sangat terharu. Ia kemudian membalas pelukan Naruto dengan erat. Hinata menghirup aroma suaminya yang begitu memabukkan dirinya.

"Aku juga selalu mencintaimu, sayang. Aku memaafkan kamu. Maafkan aku juga yak arena bersikap seperti itu. Seharusnya aku harus bersikap lebih dewasa. Maaf karena sikap kekanak-kanakkanku."

"Kamu tidak perlu minta maaf, Hinata"

Naruto dan Hinata terhanyut dalam cinta. Mereka saling mempererat pelukan mereka seakan-akan tidak ingin melepaskan pelukan mereka.

"I...itu, dari rumah kita kan?" Kata Hinata kaget.

"Iya. Kembang api itu dari rumah kita. Lihatlah disana."

Hinata melirik ke arah yang ditunjuk Naruto. Ternyata ia melihat Boruto yang menyalakan kembang api tersebut.

"Selamat ulang tahun pernikahan yang kelima, Istriku."

"Eh?" Hinata sangat kaget karena ia tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.

"Na...Naruto-kun. Maafkan aku. Aku lupa."

"Tidak apa-apa, Hinata. Kamu tidak perlu minta maaf. Itu semua karena ketika kamu hamil, kamu hanya akan selalu memikirkan anak-anak kamu. Kamu bahkan tidak akan peduli dengan tanggal. Karena kamu menunggu dan menanti-nantikan kedatangan buah hati kita."

"Ta...tapi..."

"Kamu sangat lucu ketika kebingungan, Hinata."

Naruto memamerkan seringainya di depan Hinata. Hal itu membuat Hinata semakin tergila-gila dengan suaminya.

"Lihatlah kembang api itu, Hinata. Bagaimana menurutmu?"

Hinata melihat langit yang dipenuhi kembang api. Kembang api tersebut menyambar langit dan membentuk bunga matahari. Seakan-akan bunga matahari itu bertebaran di langit.

"Bukan hanya itu saja, Hinata."

"Eh?" Hinata terheran dengan perkataan Naruto. Ia penasaran dengan maksud perkataan suaminya.

"Apa maksudmu, Naruto-kun?" Tanya Hinata.

Naruto menjentikkan jarinya. Kemudian, muncul beberapa kagebunshin Naruto mengelilingi mereka. Para bunshin itu berubah menggunakan Rikudo Sennin Mode. Kemudian, mereka melompat ke atas dan menebarkan bunga-bunga matahari yang sangat indah.

Para bunshin itu menggunakan elemen angin untuk menyebarkan bunga matahari itu. Kemudian, dengan elemen angin itu...

"Happy 5th Year Anniversary."

Para bunshin membuat tulisan di langit dengan menggunakan bunga matahari yang bertebaran di angkasa.

Hinata sangat takjub melihat pemandangan yang ada di langit. Ia sangat terharu dengan perlakuan Naruto kepadanya.

"Sayang. Kamu selalu tahu apa yang dapat membuatku bahagia. Terima kasih. Ini sungguh indah. Aku sangat mencintaimu." Kata Hinata terharu.

"Jadi aku tidak dicintai, nih?" Kata Boruto menghampiri mereka berdua.

"Kami juga sangat mencintaimu, Boruto."

Naruto dan Hinata memeluk Boruto bersamaan. Boruto sangat bahagia dengan cinta yang diberikan orang tuanya kepadanya.

"Naruto-kun. Aku pikir aku sudah menemukan nama yang cocok untuk anak kedua kita." Kata Hinata.

"Benarkah? Jadi kita akan menamakan anak kita dengan nama apa?" Tanya Naruto.

Hinata melihat langit yang dihiasi kembang api dan bunga-bunga matahari yang berterbangan.

"Bagaimana dengan Himawari?" Kata Hinata sambil menatap kedua bola mata Sapphire Blue Naruto.

Naruto menatap Lavender Amethyst Hinata dengan penuh cinta. Ia melihat wajah Hinata yang memerah. Menandakan bahwa ia tersipu malu dengan perlakuan Naruto yang begitu romantis.

"Nama yang indah, Hinata."

Naruto kemudian mengelus perut Hinata. Kemudian ia menarik Boruto untuk merasakan keberadaan adiknya.

"Bagaimana, Boruto?" Tanya Naruto.

"Perut Kaa-chan terasa hangat. Adik pasti senang berada di sana." Kata Boruto sambil memeluk perut ibunya.

"Iya. Kehangatan seorang ibu adalah bukti cinta Kaa-san terhadap kamu dan adikmu. Jadi sebagai sesama laki-laki, aku ingin kamu berjanji kepada Tou-san."

"Apa itu, Tou-chan?"

"Lindungilah Kaa-san dan adikmu."

Boruto melihat tatapan ayahnya yang menaruh harapan besar pada dirinya. Ia bisa melihat senyum ayahnya yang begitu gagah. Dengan bahagia, Boruto membalas senyum ayahnya dengan senyum yang tidak kalah manis.

"Aku berjanji. Aku akan melindungi Kaa-chan dan Himawari. Karena itu, cepatlah lahir ke dunia ini, adikku. Hehe." Kata Boruto sambil mengelus perut ibunya.

Naruto sangat bangga mendengar janji anaknya. Hinata juga sangat bahagia akan keberanian anaknya.

Setelah beberapa saat kemudian. Makanan sudah terhidang di meja. Yaitu ikan bakar yang dimasak oleh Naruto. Mereka menikmati hidangan tersebut dengan lahap.

"Lezatnya. Apa kamu yang benar-benar memasaknya, sayang?"

"Tentu saja, Hinata. Hehe."

"Kaa-chan. Tadi kami bertanding menangkap ikan terbanyak. Dan coba tebak. Aku yang menang, lho."

"Benarkah ayahmu kalah? Wah. Itu sangat mengejutkan. Hihi."

"Aku tidak benar-benar kalah kok."

"Tou-chan. Tidak ada alasan jika kalah. Kalau kalah ya kalah saja. Tuh wajah Tou-chan memerah."

"Hihi. Iya. Wajah kamu lucu jika malu, sayang."

"Ahahaha."

Tawa kebahagiaan yang dihiasi dengan kembang api yang memenuhi langit, serta bunga-bunga matahari yang berterbangan di langit, seakan menjadi karya seni kelas atas yang menakjubkan.

Kebahagiaan yang ada di keluarga mereka menjadi kebahagiaan bagi seluruh warga Konoha. Para warga Konoha tentu akan menjadikan hal itu sebagai tontonan yang indah setelah mereka menyaksikan kembang api di festival kembang api. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang tersalurkan dari kembang api yang berasal dari rumah Naruto.

Beginilah keluarga Uzumaki. Keluarga bahagia yang selalu mewarnai hari-harinya dengan menebarkan cinta di setiap kehidupan mereka. Seorang suami yang telah menemukan kebahagiaan dari keluarganya, seorang istri yang telah memperoleh kebahagiaan dari keluarganya, dan anak-anak yang tidak pernah sedikitpun kekurangan cinta dari orang tua mereka.

-oOoOo-

-5 tahun kemudian-

"Hoaaamm."

Naruto terbangun dari tidurnya. Ia mengucek-ngucek matanya karena sedikit gatal. Setelah itu, ia ingin memberi ucapan selamat pagi kepada istrinya. Namun...

"Ohayou, Hina..."

Naruto tidak mendapati istrinya di tempat tidur.

"Sepertinya aku tidur terlalu lama lagi. Sebaiknya aku bangun. Tidur terlalu lama juga tidak baik buat kesehatan. Lagipula, hari ini kami sekeluarga akan pergi jalan-jalan." Kata Naruto.

Naruto bangkit dari tempat tidur. Ia kemudian segera mandi. Setelah selesai mandi, ia keluar kamar melihat Hinata sedang duduk di ruang keluarga.

"Ohayou, Hinata." Kata Naruto tersenyum.

Hinata melihat Naruto dalam keadaan segar. Ia kemudian membalas senyumnya dan mengucapkan selamat pagi untuk suaminya.

"Ohayou mo, Naruto-kun. Kamu sudah bangun? Apa kamu mau kubuatkan sarapan?" Tanya Hinata.

"Tidak, sayang. Aku akan mengambilnya. Karena kelihatannya kamu sibuk. Kamu sedang apa?"

Naruto menghampiri Hinata dan melihat Hinata sedang melakukan sesuatu.

"Hinata. Kenapa kamu menjahit syal lagi? Kan aku sudah punya." Tanya Naruto.

"Ini untuk anak-anak kita, sayang. Karena ini musim dingin, aku tidak ingin anak-anak kedinginan saat kita jalan-jalan nanti."

"Begitu kah? Ya sudah. Aku ingin sarapan dulu, setelah itu aku akan berlatih."

Naruto kemudian mengecup bibir istrinya. Setelah itu, ia menuju ruang makan untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, ia memutuskan untuk berlatih di halaman belakang rumahnya.

Hinata yang hampir selesai menyelesaikan jahitannya dikejutkan oleh Boruto dan Himawari yang berlari menuju ayahnya. Ia kaget saat Himawari hampir terpeleset. Untung saja Himawari memiliki keseimbangan yang bagus sehingga ia tidak terjatuh.

"Tou-chan, ayo kita main."

Kedua anak itu melompat dan memeluk Naruto. Naruto yang kaget kemudian terjatuh di tumpukan salju. Naruto tertawa melihat tingkah lucu anak-anaknya.

"Hei. Bukankah sudah ibu bilang untuk tidak keluar rumah tanpa alas kaki?" Kata Hinata menghampiri mereka.

"Yosh, Boruto, Himawari. Sebelum pergi, bagaimana jika kita bermain perang bola salju?"

Boruto dan Himawari senang ketika diajak bermain bola salju. Hinata yang melihat tingkah anaknya tersenyum. Ia sangat bahagia karena telah memiliki tiga malaikat di hidupnya.

Boruto dan Himawari melihat ibunya. Mereka berbisik-bisik seakan akan merencanakan sesuatu. Setelah itu, senyum jahil terhias di bibir mereka. Boruto mengambil bola salju, menghadap kepada ibunya, dan…

*BUK*

"Kyaaa."

Boruto berhasil melempar bola salju tepat di badan Hinata.

"Dasar Boruto. Jika itu maumu, ibu tidak akan segan-segan lho." Kata Hinata.

"Yeaaahh." Kedua anak itu senang karena mereka berhasil mengajak ibunya untuk ikut perang bola salju.

Hinata kemudian mengambil bola salju bersiap-siap untuk melempar siapa saja yang berani melawannya.

"Hei anak-anak. Ketika ibu serius, dia sangat kuat-ttebayo."

Keluarga bahagia itu kini bermain perang bola salju. Hinata melempar bola salju itu ke arah Naruto. Hal itu membuat Naruto sedikit kesal. Naruto membalas namun dihentikan oleh lemparan Boruto dan Himawari ke arah Naruto.

"Eeeehhh? Aku tidak punya sekutu? Tiga lawan satu? Ini tidak adil-ttebayo."

Chapter 4 END


Pertama-tama saya ingin minta maaf atas keterlambatan dalam mengupdate chapter 4 ini. Karena saat itu saya sedang banyak tugas, sedang UTS, liburan, dan ada kejadian duka yang membuat mood saya hilang untuk menulis ditambah dengan kesibukan saya yang lain. Dengan ini saya akan menyatakan bahwa cerita ini saya tamatkan di chapter 4. Kedepannya, saya mungkin akan buat cerita yang lebih fokus kepada petualangan. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca. Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam cerita saya. Mohon maaf jika cerita saya jelek. Semoga kedepannya NHL bisa lebih kreatif dan lebih kritis dalam menyikapi semua hal yang berbau tentang Naruto serta pasangan yang kita cintai. Dan walaupun Naruto sudah benar-benar tamat, semoga NHL terus bersatu dan tetap eksis. Dan yang paling penting. Tetap setia terhadap pair yang kita cintai ini karena mereka telah mengajarkan kepada kita bahwa cinta dapat diperoleh dengan kesabaran serta usaha. Sekali lagi. Saya mengucapkan terima kasih:)

-Salam NHL-


OMAKE

*Mengapa Boruto bisa menang?*

"Yosh. Aku dapat tiga." Kata bunshin Boruto yang menyelam.

"Haha payah. Aku dapat lima." Kata bunshin Naruto 1 yang menyelam.

"Huh. Aku hanya dapat satu yang panjang." Kata Naruto asli.

"Huh? Emangnya dapat ikan apa?" Tanya bunshin Boruto penasaran. Namun?

*Bzzt Bzzztt*

"To...Tou-chan no baka. I...itu adalah..."

*BZZT CIP CIP*

"GYAAAAAA."

Belum sempat bunshin Boruto menyelesaikan kalimatnya, ketiga bunshin itu tersengat listrik dari ikan yang ditangkap Naruto asli.

"Be...belut..lis..trik." Kata bunshin Boruto berusaha menyelesaikan kalimatnya.

*BOFF*

Setelah itu, bunshin Naruto dan bunshin Boruto menghilang. Sedangkan Naruto yang pingsan mengambang di air. Serangan belut listrik itu membuat semua bunshin Naruto menghilang. Sehingga...

"AKU MENANG."

Boruto mengacungkan jari telunjuknya ke atas sebagai tanda telah memenangkan pertandingan.

FIN