Chapter 4

6 hari kemudian.

Di ruangan kamar yang minimalis, terdapat suami isti tengah asik dengan kegiatan masing-masing. Sang suami sedang memakai dasinya.

"Kau yakin akan sekolah?" Tanya Sasuke meyakinkan.

"I-iya, Sasuke-kun, tentu saja." Jawab Hinata mantap. Mengenakan dasi sekolahnya.

"Apa kakimu sudah tidak sakit lagi?" tanya Sasuke khawatir.

"Sedikit, tapi aku tidak enak, sudah 1 minggu ini, aku bolos sekolah." Keluh Hinata, mengambil tasnya.

Sasuke menghembuskan nafas berat. "Baiklah, aku antar." ujarnya memakai jas kerjanya.

Dua hari ini memang Sasuke sudah pergi kekantor, tapi tidak dengan Hinata, Sasuke melarangnya pergi kemanapun, dan tidak mengizinkan Hinata pergi ke sekolah. Di karenakan kaki Hinata yang masih sakit.

"Iya." Jawab Hinata mengangguk lalu tersenyum manis.

Melangkah keluar, setelah mengambil tas kerja sang suami, membawanya lalu berjalan beriringan dengan Sasuke. Menuju dapur apartemt mereka.

"Maaf aku tidak bisa menyiapkan Sarapan atau pun bekal untukmu." Ujar Hinata menyesal.

Mendudukan dirinya di kursi meja makan, apartement Sasuke atau sekarang bisa di sebut apartement mereka. Sasuke memboyong Hinata dari kediaman Hyuga tepat setelah selesainya pernikahan. Dan tentu saja di setujui oleh kedua orang tua mereka.

"Tidak apa." Jawab Sasuke terseyum.

"Tapi tetap saja aku bukan istri yang baik." Ujarnya kesal mengerucutkan bibir, marah pada dirinya sendiri.

Sudah 1 minggu ini Sasuke yang selalu menyiapkan semua kebutuhanya, termasuk memasak, membersikan apartement, bahkan mengangkat tubuh Hinata, saat Hinata ingin mandi atau selesai mandi. Tapi jangan salah paham dulu, itu kejadian 3 hari yang lalu, saat kaki Hinata benar-benar tidak bisa di gerakan karena bengkak.

"Kata siapa?" Tanya Sasuke meletakan bubur di hadapan meja makan Hinata.

Hinata hanya melirik sebal ke arah Sasuke "..."

"Hey, jangan marah. Bagiku kau istri yang paling baik, sungguh." Sasuke menenangkan sang istri, membelai sayang kepala Hinata. Mendudukan dirinya tepat di samping istrinya.

Hinata hanya tersenyum manis, menyembunyikan wajahnya yang merona akan ucapan suaminya. Sarapan berlangsung dengan Sasuke yang terus mengucapkan kata-kata sayang pada Hinata.

.

.

SJ

.

.

"kalau terasa sakit kau bisa menelponku, aku akan langsung menjemputmu, mengerti?!" Sasuke berujar memperingatkan istrinya.

Hinata hanya mengangguk mengerti akan nasehat yang di katakan suaminya, entah sudah berapa kali Sasuke mengingatkan Hinata di saat perjalanan menuju sekolah, seolah tidak puas dengan apa yang di lihatnya, bahkan Sasuke tak henti-hentinya menanyakan keadaan Hinata, yang bisa dia lihat sendiri, bila sang istri baik-baik saja.

.

.

.

Sesampainya didepan pintu gerbang sekolah, saat Hinata hendak turun dengan gerakan cepat Sasuke segera menarik tubuh sang istri, memeluknya erat .

"Hinata, aku sangat mencintaimu." Bisiknya tepat di telinga Hinata dan sukses menghadirkan rona merah di kedua pipi sang Istri.

Sasuke melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum manis kepada istrinya. Hinata pun melakukan hal yang sama, tersenyum ke arah suaminya. Hinata bergegas menuruni mobil dan melangkahkan kakinya, menuju gerbang sekolah. Setelah berpamitan dengan suaminya.

Saat Hinata hendak melangkah masuk, memasuki gerbang sekolah. Terdengar suara lelaki yang memanggil namanya dengan sangat akrab.

"Hinata-chan." Panggil lelaki berambut coklat, dengan tato segitiga merah di kedua pipinya, melangkah kearah Hinata berdiri.

Hinata yang merasa namanya di panggil segera menengokan kepalanya ke asal suara.

"Kiba-kun." Sapanya tersenyum manis.

Berjalan beriringan dengan sang lelaki, yang sudah berada di sampingnya.

Sasuke yang melihat kejadian di hadapanya, merasa tidak suka. Akan kehadiran pria yang disamping istrinya. Wajahnya terlihat kesal dan tangannya mencengkram setir mobil dengan sangat erat.

"Menyebalkan!." Maki Sasuke kesal.

Segera melajukan mobil sport Hitamnya dengan kecang, menjauhi gedung sekolah Hinata, bergegas menuju kantor.

.

.

.

SJ

.

.

.

Saat Sasuke sampai di kantor, wajahnya masih menunjukan kecemburuan, semua karyawan yang melihanya, tidak mampu berbuat apapun, bahkan banyak karyawan yang merasa takutan dibuatnya, dan tidak ingin berpapasan langsung dengan CEO nya sekarang ini.

.

.

.

Saat jam makan siang pun Sasuke masih terlihat menyeramkan dengan aura yang masih tidak bersahabat, wajahnya terlihat kusut, sedangkan matanya masih sibuk meneliti dokumen yang ada di mejanya. Bahkan Naruto yang notabenen adalah sahabatnya pun tidak bisa berbuat apapun, bila Sasuke sudah seperti ini.

"Kau kenapa Sasuke?" Tanya naruto heran melihat raut wajah Sasuke, tak biasanya Sasuke seperti ini, bahkan 1 hari yang lalu Sasuke masih pergi ke kantor dengan wajah tersenyum aneh. Tapi entah apa yang terjadi, sekarang malah kebalikanya, wajahnya kusut seperti orang yang sedang menahan Sakit menahun.

"Hn." Gunam Sasuke acuh.

"Kau bertengkar dengan Hinata?" Tanya Naruto penasaran.

"..." Sasuke tidak menjawab, atau berniat menjawab pertanyaan yang di lontarkan Naruto padanya, bahkan dia terkesan tidak perdulih.

"Ada masalah apa lagi kau dan Hinata? Bukankah sekarang kau sudah menjadi suaminya, lalu apa lagi yang kau permasalahkan?" Tanya naruto menyeringit heran.

Sedangkan Sasuke masih bungkam.

"Sasuke, jangan pasang wajah seperti itu, kau akan menakuti Hinata." Ujar Naruto mengingatkan.

"Hn, diam kau Dobe. tentu saja, aku tidak akan membuat istriku takut." Jawab Sasuke memutar bola matanya bosan dengan celotehan sahabat kuningnya.

"Terus, kenapa kau tiba-tiba datang ke kantor dengan wajah menyeramkan sepeti itu, kalau kau memang ada masalah dengan Hinata, atau ada hal yang mengganjal hatimu, lebih baik kau tanya Hinata, minta penjelasan padanya, bereskan. Bukan malah memasang tampang seperti itu." Cibir Naruto kesal dengan sifat Sasuke, yang apa bila menyangkut Hinata, bisa membuat mood Sasuke naik turun secara drastis.

"Hn." Ujarnya mengerti.

"Bagus, sekarang cepat kau hubungi Hinata-chan." Naruto mengambil smartphone Sasuke, mecari kontak yang bertulis "Hime-ku" 'betul-betul kekanakan.' Ujar naruto mencibir dalam hati.

Suasana kembali Hening, Sasuke masih duduk di kursinya, membaca dokumen yang entah sudah berapa lama dibacanya. Sedangkan Naruto, masih menunggu seorang di seberang sana menjawab.

"Jangan ganggu dia Dobe, dia sedang sekolah." Ujar Sasuke ketus berusaha mengambil ponsel yang berada di tangan Naruto.

"Dari pada kau terus seperti ini." Jawab Naruto seenaknya, menghindari tangan Sasuke, yang berusaha merebut kembali ponselnya. lalu menekan tombol loudspeaker yang ada di smartphone Sasuke.

'M-moshi-moshi.' ujar seorang di sebrang sana.

Sasuke menghentikan kegiatanya mengembil ponsel di tangan Naruto. Setelah mendengar suara lembut sang istri. Jantungnya berdebar kencang, menelan ludah dengan susah payah.

"Moshi-moshi, Hinata-chan, ini aku Naruto, teman Sasuke, kau masih ingat aku kan?" Tanya Naruto sedikit berteriak.

"I-iya, ada apa Naruto-san?" Tanya Hinata gugup.

"Baguslah, hey Hinata, kau apakan Sasuke? Dia sejak tadi marah-marah terus. Apa semalam kau tidak memberinya jatah ya?" Goda Naruto tersenyum ke arah Sasuke.

"E-eh.."

"Diam kau Dobe, kembalikan ponselku." Bentak Sasuke geram, berusaha merebut ponselnya.

"Aduh, Sasuke, rupanya karena Hinata tidak memberimu jatah ya, hahahhaha..." Goda Naruto tertawa terbahak-bahak.

"Diam kau Dobe!." Sasuke mulai kesal, dengan gerakan cepat merebut ponselnya di tangan Naruto. Tangannya mematikan tombol loudspeaker di smartphonenya.

"Hinata." Sapa Sasuke buru-buru.

"S-Sasuke-kun kenapa?, Apa Sasuke-kun marah padaku?" Tanya Hinata khawatir, saat teringat ucapan Naruto tadi.

Jujur Hinata bukan gadis bodoh, dia tau apa yang di bicarakan Naruto padanya, memang dia belum melaksanaan kewajibanya sebagai seorang istri, yang seharusnya didapat suaminya saat malam pertamanya. Bukan malah menolak Sasuke, bahkan ia terkesan tidak memperdulihkan keinginan suaminya.

"T-tidak, jangan dengarkan Dobe." Jawab Sasuke cepat, dia tidak mau Hinata-nya salah paham dan memandangnya suami, yang hanya memikirkan hal-hal yang kotor saja. Memang semuanya tidak salah, kalau boleh di bilang, memang Sasuke ingin sekali dapat menyentuh Hinata dan memilikinya seutuhnya. Tapi bagaimana pun Sasuke harus lebih mementingkan kenyamanan sang istri.

"Lalu?" Tanya Hinata tidak mengerti.

"Hinata, sebenarnya..aku..., aku... Tidak sengaja melihatmu berjalan bersama lelaki berambut coklat, saat kau hendak masuk ke dalam sekolah tadi, d-dia siapa?" Tanya Sasuke akhirnya jujur, dengan nada suara gugup.

Naruto yang mendengarnya hanya bisa diam tidak percaya mendengar penuturan Sahabat karibnya itu. 'Aku tidak percaya, Sasuke sampai segitunya, Ya Tuhan dia benar-benar posesif.' Cibir naruto bergidik ngeri.

"Hinata..." Panggil Sasuke, tidak sabar mendengar jawaban istrinya.

"Oh, dia Kiba-kun, teman sekelasku. S-sasuke-kun marah gara-gara itu ya?" Tanya Hinata penasaran.

"Aku tidak marah, tapi kenapa dia memanggilmu begitu akrab, apa kalian mempunya hubungan?" Sangkal Sasuke merajuk, meminta penjelasan pada Hinata.

"Tidak mungkin, aku adalah milik Sasuke-kun." jawab Hinata cepat, dengan muka merona hebat, meski tidak terlihat oleh Sasuke, tapi ia merasa malu, akan kata-katanya.

Sasuke menghembuskan nafas lega, mendengar penuturan Hinata padanya.

"Aku juga milikmu Hinata." Ujarnya terseyum.

Naruto yang dari tadi hanya mendengarkan, tidak mampu lagi berkomentar atau menanggapi sikap sahabatnya.

"Pulang jam berapa?" Tanya Sasuke lagi, benginilah Sasuke bila berhadapan dengan Hinata, dia akan lebih banyak berbicara.

"Jam 3 sore."

"Aku jemput."

"I-iya."

"Ya, sudah selamat belajar Hime." Ujar Sasuke mengakiri panggilan telponnya dan tersenyum bahagia. Tanpa menghiraukan Naruto yang masih berada di ruangannya dengan tampang yang sulit di artikan.

TBC.

Maaf update nya lama, so'alnya akuma akhir-akhir ini sibuk, bahkan paketan akuma juga habis. *curhat dikit* hehehheh

Em.., lemon ya? Hahhahaha

Mungkin di chapter selanjunya ya, tunggu aja, hehehhe

Mohon maaf bila lanjutanya mengecewakan, dan terima kasih yang sudah mau membaca, mohon maaf bila ceritanya kurang memuaskan, dan membuat kecewa, soal'y begini lah akuma. Masih belajar. Hehehhe

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Jaa-ne~

SJ : 03/05/2016