Akashi: Halo para readers...! *loncat-loncat kegirangan* Setelah mengalami banyak masalah di awal tahun ini, akhirnya bisa juga Akashi menyelesaikan chapter 4 ini… ^^

Entar lagi UN ya…? *ngeliat kalender* Karena masih kelas 1 saya sih seneng-seneng aja kalau ada UN soalnya saya 'kan jadi libur… *plak* Mau ngucapin ganbatte bagi para readers yang mau UN…! \^^/ Jangan lupa belajar ya… ^^

YOSH! Tanpa perlu banyak kata lagi, Akashi persembahkan Chapter 4 ini. Happy reading minna-san...!

Disclaimer: Masashi Kishimoto-Sensei *sujud-sujud* Akashi pinjem dulu charanya ya… Nanti kalau udah selesai bakal di kembaliin kok. Okeh? *ditimpuk Masashi Kishimoto*

Author: Taiyou no Akashi

Pairing: SasuNaru, NejiGaa (mungkin), dpl (dan pasangan lainnya)

Rating: T aja deh dulu :p

Genre: Hurt/Tragedy/Police/Psychology/Crime/Incest/dll

Warning: Gaje *sudah pasti*, ancur *banget*, Yaoi *mungkin*, akan ada banyak adegan kekerasan, agak psycho, ada OC, semi OOC, dll.

Yang nggak tahan dan nggak suka boleh meninggalkan tempat ini secara teratur!

Summary: "Dia akan jadi penghuni baru rumah kita," kata Sasuke dengan nada datar.

"Eh... Penghuni baru di rumah kita?" tanya Yuki tidak percaya sambil memandangi pemuda berambut pirang di belakang anikinya itu.

"Benar. Saya adalah penghuni baru di rumah ini. Kenalkan nama saya Uzumaki Naruto. Dozo yorushiku," kata Naruto sembari tersenyum manis pada Yuki. Yuki hanya menatap Naruto dengan pandangan melongo.

。 。

"THIS IS YOUR LIFE, DOBE!"

Chapter. 04 : Penghuni Baru

-(masih) Rumah Komandan Kepolisian Konoha. 11.00 p.m-

"Jadi anak itu sudah sadar ya? Apa dia mengatakan sesuatu yang menarik?" tanya Danzo pelan. Mata hitamnya menerawang menatap langit-langit perpustakaan.

"Iya. Saya dan Gaara sudah menginterogasinya Danzo-sama. Ini bukti rekaman interogasinya," kata Sasuke sambil mengeluarkan alat perekam suara milik Gaara dari dalam kantong celananya.

"Simpan saja dulu bukti itu untuk pembuatan laporanmu. Kau pasti belum membuat laporannya 'kan?"

"Belum. Saya langsung kemari sehabis dari rumah sakit," jawab Sasuke tenang.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Sasuke. Kau adalah kebanggaan Kepolisian Pusat Konoha,"

"Goseichou arigatou gozamashita, Danzo-sama (1)," kata Sasuke dengan penuh rasa hormat.

"Hm..." jawab Danzo pelan.

"Lalu, apa yang akan anda lakukan pada anak itu komandan? Dia tidak memiliki catatan kejahatan dalam datanya. Otomatis kita tidak bisa menahannya. Tapi dia juga berhubungan langsung dengan Kyuubi no Kitsune. Menurut anda apa tindakan apa yang harus kita ambil selanjutnya?" tanya Sasuke.

"Jadi anak itu berhubungan langsung dengan Kyuubi no Kitsune?" tanya Danzo pada Sasuke dengan nada tertarik.

"Iya. Anak itu juga bilang kalau Kyuubi no Kitsune adalah temannya,"

"Anak yang menarik. Berapa umur anak itu dan bagaimana dengan orang tuanya?" tanya Danzo sambil bertopang dagu. Mata hitamnya terfokus pada sosok Sasuke.

"Bocah itu berumur 15 tahun dan dia seorang yatim piatu, komandan,"

"Begitu ya... Bagaimana jika dia tinggal di rumahmu dulu Sasuke? Dengan begitu kita bisa mengawasinya secara langsung bukan?" saran Danzo pada Sasuke.

"Tapi bagaimana dengan adik saya? Saya tidak ingin adik saya berdekatan dengan orang yang tidak jelas asal usulnya seperti bocah itu!" kata Sasuke dengan nada tinggi.

"Tenangkan dirimu Sasuke. Yuki anak yang cerdas. Dia pasti bisa mengerti dan bisa menjaga dirinya dengan baik. Jadi apa keputusanmu Sasuke?" tanya Danzo dengan nada final.

Sasuke menelan ludahnya. Dia benci ini. Dia benci pilihan yang membahayakan adiknya ini. Tapi apa yang dapat diperbuatnya? Dia tidak punya kuasa untuk melawan otoritas (2) atasannya itu. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba untuk berpikir jernih kembali.

"Baiklah Danzo-sama. Saya akan menerima bocah itu dirumah saya," kata Sasuke dengan nada datar. Danzo hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Sasuke.

"Jawaban yang bagus Sasuke. Aku bangga padamu,"

"Anda terlalu berlebihan Danzo-sama," kata Sasuke merendah.

"Tidak. Aku benar-benar bangga sekali padamu Sasuke..." kata Danzo pelan. Sebuah senyum tipis terukir di wajah tua.

"Malam sudah larut Sasuke. Aku ingin sekali bisa beristirahat sekarang ini," kata Danzo lagi. Kali ini ada nada lelah yang terdengar dari suaranya.

"Baiklah Danzo-sama. Sekian laporan dari saya. Maaf sudah mengganggu istirahat anda. Saya permisi dahulu," kata Sasuke sambil bangun dari posisi berlututnya.

"Pergilah Sasuke. Hati-hatilah di jalan," kata Danzo pelan sambil menutup buku yang ada di hadapannya.

Sasuke mengangguk kecil mendengar perkataan Danzo. Setelah membungkukan badan dengan hormat, Sasuke segera menuju pintu geser ruangan itu. Dengan amat perlahan Sasuke menggeser pintu itu lalu menutupnya lagi. Dengan langkah perlahan, Sasuke segera menjauh dari ruangan itu. Saat berada di teras rumah itu, Sasuke melihat sosok Haku yang sedang menunggunya.

"Jadi bagaimana pertemuannya Inspektur?" tanya Haku sambil berjalan menuju pintu gerbang.

"Begitulah," kata Sasuke datar sambil berjalan menuju pintu gerbang juga.

"Seperti biasa, anda selalu irit bicara ya?" kata Haku sambil tersenyum kecil.

"Hn..." kata Sasuke bosan.

"Nah... Selamat malam Sasuke-san. Semoga perjalanan anda baik-baik saja," kata Haku sambil membuka pintu gerbang untuk Sasuke.

"Oyasuminasai Haku (2)," kata Sasuke sambil berjalan keluar dari rumah itu.

"Oyasuminasai Sasuke-san," kata Haku pelan. Sebuah senyum manis tercetak jelas di wajah malaikat Haku.

"Hn..." jawab Sasuke pelan sambil berjalan masuk ke mobilnya.

Haku menatap kepergian mobil Sasuke dalam diam. Setelah mobil Sasuke benar-benar menghilang dari pandangan Haku, Haku lalu segera menutup pintu pagar rumah itu dengan rapat...

。 。

-Ruang perpustakaan setelah kepergian Sasuke-

Danzo menatap punggung Sasuke yang menuju pintu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kau tidak ingin memprotes sesuatu... Sai?" tanya Danzo pelan setelah Sasuke benar-benar telah pergi dari ruangan itu. Mata hitamnya terfokus menatap sudut ruangan perpustakaan yang gelap.

Dari dalam kegelapan sudut ruangan perpustakaan yang luput dari perhatian Sasuke, keluarlah sesosok pemuda berambut hitam dan berkulit pucat. Mata onyx-nya yang kelam menatap tajam wajah tua Danzo.

"Tentu saja saya ingin memprotes sesuatu. Itu pun jika anda mengizinkannya, Tuan Danzo," kata pemuda bernama Sai itu dengan nada sopan. Dia berlutut di hadapan Danzo sambil mengatakan hal itu.

"Tentu saja aku mengizinkannya. Katakanlah apa yang ingin kau katakan Sai!" perintah Danzo.

"Baiklah. Saya hanya ingin memprotes soal 'tinggal serumah' itu Tuan Danzo," kata Sai sopan. Sebuah senyum terukir di wajahnya

"Kau mengkhawatirkan sepupu tersayangmu itu ya Sai?"

"Tentu saja. Karena orang yang tidak jelas asal-usulnya seperti itu dapat membahayakan jiwa anak perempuan satu-satunya keluarga Uchiha itu," kata Sai sambil tetap tersenyum.

"Jadi kau meragukan kemampuan sepupumu sendiri ya?"

"Tidak. Sedikit pun saya tidak pernah meragukan kemampuan Yuki. Yuki anak yang kuat. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik,"

"Baguslah kalau begitu. Salah satu anggota ANBU (3) tidak boleh meragukan kemampuan orang lain. Camkan itu baik-baik Sai!" kata Danzo tegas.

"Saya mengerti Tuan," kata Sai dengan kepala menunduk.

。 。

-Kediaman Uchiha. 12.45 p.m-

Sasuke memarkir mobilnya dengan benar di garasi. Setelah dirasanya posisi mobil itu sudah benar, dimatikannya mesin mobil lalu dia pun keluar dari mobilnya. Sambil memikirkan sesuatu, dia pun berjalan menuju pintu rumahnya. Tangannya langsung menarik kunci rumah yang terselip di kantong celananya begitu sampai di depan pintu. Di bukanya pintu itu dengan perlahan lalu di tutupnya lagi dengan perlahan.

'Kenapa anak itu belum tidur? Walau ini liburan biasanya dia tidak pernah tidur selarut ini,' tanya Sasuke dalam hati begitu dilihatnya kamar adiknya terbuka sedikit dan lampu penerangannya masih menyala.

Dengan langkah perlahan dia mendekati kamar adiknya. Di dorongnya pintu kamar adiknya hingga terbuka begitu dia sampai di depan pintu itu. Senyumnya terukir jelas di wajah tampannya begitu melihat pemandangan di depannya.

Di atas meja komputer adiknya, dilihatnya sosok sang adik yang sedang tertidur pulas dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. Rambut hitam panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajah cantik adiknya.

Dengan amat perlahan, Sasuke melangkahkan kakinya ke dalam kamar adiknya. Diperhatikannya sosok sang adik yang sedang tertidur dari dekat. Wajah adiknya terlihat begitu cantik dan polos saat tetidur seperti sekarang ini. Tanpa terasa Sasuke mengangkat jari-jarinya untuk menyelipkan rambut panjang adiknya di belakang telinganya.

'Sekarang tidak ada lagi menghalangi pemandangan indah di depanku,' kata Sasuke dalam hati. Sebuah senyum lembut terukir jelas di wajah tampannya.

Setelah puas menelusuri setiap inci wajah adiknya, akhirnya Sasuke memutuskan untuk memindahkan adiknya ke atas kasur dengan menggendong sang adik ala bridal style.

"Aku mencintaimu Yuki..." kata Sasuke lembut. Tangan kanannya memegang pipi kanan adiknya yang sedang tertidur di atas kasur.

"Sekarang dan selamanya aku akan selalu di sisimu Yuki. Untuk menjagamu dan mencintaimu. Aku tidak peduli walaupun aku di buang dan dianggap hina oleh semua orang. Asal ada kau disampingku, itu sudah cukup bagiku," kata Sasuke lembut sambil menyelimuti adiknya. Tidak lupa dia mencium kening adik perempuan satu-satunya itu.

"Oyasumi (4) Yuki,"

Dengan senyum terukir di wajahnya, Sasuke segera menuju pintu kamar adiknya. Ditutupnya pintu kamar adiknya dengan perlahan agar tidak membangunkan tidur adiknya. Dengan langkah santai dia segera menuju kamarnya untuk beristirahat.

'Tidur sebentar untuk beristirahat sepertinya cukup bagus,' kata Sasuke dalam hati sambil menutup pintu kamarnya untuk beristirahat...

。 。

-Kamar Yuki setelah kepergian Sasuke-

Yuki memandangi langit-langit kamarnya dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya tadi dia hanya pura-pura tidur agar tidak dimarahi oleh anikinya yang irit kata itu. Tapi dia tidak menyangka bahwa anikinya akan mengatakan perasaannya lagi padanya.

Yuki memeluk gulingnya dengan perasaan gelisah. Dia sudah lama tahu bahwa kakaknya menyukai dirinya. Kakaknya pun sudah pernah menyatakan perasaanya pada dirinya. Tapi waktu itu kakaknya bilang dia tidak perlu menjawab pernyataan cintanya itu. Membuat Yuki merasa benar-benar tidak enak hati.

Yuki mengetatkan pelukannya pada guling. Berbagai macam pikiran dan perasaan bercampur menjadi satu. Membuat emosinya menjadi tidak stabil.

Yuki mengeluarkan kalung jimatnya dari dalam bajunya. Sebenarnya itu bukanlah kalung. Melainkan sebuah cincin milik seseorang yang dicintainya dan dia lalu mejadikannya sebagai kalung jimat.

Yuki mencium cincin itu untuk menenangkan dirinya. Perasaanya menghangat setelah mencium cincin itu. Dia rindu sekali pada pemilik cincin itu. Tapi dia tahu kesibukan orang itu benar-benar padat sehingga orang itu belum sempat untuk bertemu dengannya lagi.

"Sasuke-nii... Aku senang sekali mendengar pernyataan cintamu. Aku bahagia sekali karena kau sudah mencintaiku dengan amat tulus. Amat bahagia..." kata Yuki pelan.

"Tapi aku tidak ingin kau dibuang oleh tousan, okasan, bahkan Itachi-nii karena perasaan cintamu padaku. Kau dibuang semua orang karena perasaan cintamu padaku. Karena itu biarlah aku disini untuk membahagiakanmu. Tousan, okasan, Itachi-nii, tolong maafkan keinginan egoisku ini ya..." kata Yuki lagi. Tanpa bisa dibendung lagi, air mata Yuki akhirnya pecah. Sisa malam itu dihabiskan Yuki dengan menangis sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Baik fisik maupun batin...

。 。

-Kepolisian Pusat Konoha. 06.45 a.m-

Udara pagi masih sedikit dingin karena hujan subuh tadi. Tapi sepertinya hal itu tidak menyurutkan niat Sasuke untuk pergi ke kantor lebih pagi. Pasti semua bertanya-tanya kenapa seorang Sasuke Uchiha datang ke kantor lebih pagi? Jawabannya adalah untuk membuat laporan tentang seorang bocah misterius bernama Uzumaki Naruto. Lagipula rencananya Naruto akan dibawa ke Kepolisian Pusat Konoha untuk ditindak lebih lanjut.

Sasuke memasuki pintu masuk dengan langkah santai. Kantor masih terlihat sepi pagi ini. Hanya ada beberapa orang saja yang sudah datang. Itu pun pasti datang karena masih ada pekerjaan yang belum di selesaikan.

"Ohayou Sasuke (5)... Tumben kau datang jam segini?" tanya seorang pemuda tampan berkulit putih, bermata lavender, dan berambut hitam panjang ala model iklan shampo.

"Masih ada laporan yang harus kubuat soalnya," kata Sasuke datar.

"Benarkah? Bukannya semua laporan sudah kau selesai kemarin ya?" tanya orang itu lagi.

"Ini laporan baru Neji. Untuk bocah pirang itu," kata Sasuke sambil masuk ke ruangan kerjanya.

"Are (6)... Bukannya bocah itu belum sadar? Kenapa harus bikin laporan untuk dia?" tanya Neji sambil mengikuti Sasuke yang masuk ke ruang kerjanya.

"Dia sudah sadar kemarin," kata Sasuke datar sambil duduk di kursinya. Segera di nyalakannya laptopnya untuk mulai mengetik laporan yang diminta oleh komandannya.

"Benarkah bocah itu sudah sadar Sas?" tanya Neji sambil duduk di kursi yang menghadap langsung Sasuke.

"Begitulah,"

"Lalu apa langkah yang akan kita ambil selanjutnya?" tanya Neji lagi dengan nada penasaran.

"Masih akan dibahas di rapat nanti,"

"Baiklah jika begitu. Aku pergi dulu ya. Masih ada laporan yang harus kuselesaikan!" kata Neji sambil bangkit di kursinya. Dia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Sasuke.

Sasuke menatap punggung Neji dengan tatapan aneh. 'Andaikan kau tidak memilih sepupumu yang gagap itu, pasti Gaara tidak akan pernah berpacaran dengan Yuki,' kata Sasuke dalam hati dengan nada pahit.

。 。

-Ruang Rapat. 10.00 a.m-

"Jadi keputusan rapat hari ini adalah untuk mengizinkan Uzumaki Naruto tinggal di rumah Inspektur Uchiha Sasuke," kata Komandan Danzo dengan nada final.

Semua peserta di ruangan rapat itu mengangguk setuju mendengar keputusan Danzo. Sedangkan sang pemilik rumah, Uchiha Sasuke, hanya bisa diam seribu bahasa.

"Baiklah jika semua sudah setuju. Sekian rapat hari ini. Kalian boleh kembali ke tugas kalian masing-masing," dan tanpa perlu diperintah 2 kali oleh sang komandan, para peserta rapat segera membubarkan diri mereka masing-masing.

"Um... Danzo-sama... Boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya Naruto dengan nada takut-takut begitu semua peserta rapat kecuali Danzo, Kakashi Hatake (wakil komandan), Sasuke, Hyuuga Neji, Gaara, pergi.

"Silahkan," kata Kakashi mewakili Danzo.

"Anu... Sebelum semua orang menganggap saya orang jahat, saya akan menceritakan beberapa hal terlebih dahulu. Nama saya Uzumaki Naruto. Umur saya 15 tahun. Saya yatim piatu dan tidak bersekolah. Walaupun begitu saya sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang teknisi komputer. Saya tidak bisa memberi tahu perusahaan itu sekarang. Tapi saya berjanji akan memberi tahu apa nama perusahaan itu jika saya sudah memilik keberanian," jelas Naruto panjang lebar.

"Kenapa kau tidak berani mengatakan nama perusahaan itu Uzumaki-kun?" tanya Kakashi.

"Saya sedang lari dari perusahaan itu Hatake-sama," jelas Naruto.

"Kenapa kau lari dari perusahaan itu?" kali ini Neji yang bertanya.

"Perusahaan itu ternyata 'bermain' juga di 'dunia belakang'. Karena mempunyai bukti-bukti kejahatan perusahaan itu, mereka berusaha menyingkirkan saya. Tapi saya berhasil kabur dari sana lalu mulai tinggal di jalanan. Saat di jalanan itulah saya bertemu Kyuubi-sama. Dia bertanya kepada saya kenapa saya bisa berada di jalanan. Lalu saya menceritakan alasannya pada Kyuubi-sama. Kyuubi-sama lalu menawarkan kepada saya untuk balas dendam kepada perusahaan itu. Awalnya saya tidak setuju tapi jika mengingat bahwa mereka sudah merugikan banyak pihak, saya akhirnya menerima tawaran Kyuubi-sama," jelas Naruto lagi.

"Mau sok pahlawan ya Dobe?" cemooh Sasuke. Mendengar cemoohan Sasuke, Naruto hanya tersenyum simpul. Membuat Sasuke memandangi Naruto dengan tajam.

"Tentu tidak Sasuke-sama. Saya sejak awal tidak berniat untuk jadi sok pahlawan. Tapi alangkah baiknya jika saya menghancurkan perusahaan itu sebelum saya menyerahkan bukti-bukti kejahatan mereka pada polisi. Itu yang ada dalam pikiran saya waktu itu,"

"Kau terlalu idealis (7) nak," kali ini Danzo yang berkomentar.

"Mungkin. Tapi saya merasa itulah yang seharusnya saya lakukan. Setelah saya menerima tawaran Kyuubi-sama, akhirnya saya tinggal bersama Kyuubi-sama untuk menyusun rencana. Saya tinggal bersama Kyuubi-sama selama 3 bulan,"

"Berarti kau tahu seperti apa wajah Kyuubi no Kitsune 'kan Uzumaki-kun?" tanya Gaara penasaran.

"Sejujurnya tidak. Dia selalu memakai tudung kepala jaket abu-abunya setiap bersama saya. Saat pertama kali bertemu pun dia juga menutupi wajahnya dengan tudung kepala jaketnya," jelas Naruto.

"Teruskan ceritamu dobe!" perintah Sasuke.

"Baiklah. Akhirnya setelah 3 bulan menyusun rencana, kami berhasil melahirkan sebuah rencana yang sempurna. Tapi setiap rencana pasti selalu punya kelemahan. Begitu pula dengan rencana yang kami susun..." kata Naruto dengan nada pelan.

"Apa yang terjadi?" tanya Kakashi.

"Kami tidak memperhitungkan bahwa mereka akan membawa senjata api untuk menemui Kyuubi-sama. Karena Kyuubi-sama bersembunyi, Kyuubi-sama berhasil selamat. Tapi karena saya berpura-pura menjadi Kyuubi-sama saya tidak bisa kabur. Karena terdesak oleh keadaan, akhirnya saya memutuskan untuk lompat dari atas gedung Konoha Bank Central," jelas Naruto.

"Itu karmamu sendiri dobe," kata Sasuke dengan nada menghina. Sebuah senyum mengejek terukir jelas di wajah tampannya.

"Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Setidaknya Kyuubi-sama berhasil menghancurkan perusahaan itu. Itu saja sudah cukup bagi saya. Mati pun saya rela jika dendam saya sudah terbalas,"

"Kau terlalu ceroboh anak muda," kata Danzo dengan nada lelah.

"Memang. Tapi seperti itulah saya," kata Naruto sambil tersenyum lembut pada Danzo.

"Lalu apa tujuanmu bercerita mengenai hal itu Uzumaki-kun?" tanya Neji.

"Saya tahu ini terlalu tiba-tiba. Tapi jika orang-orang di perusahaan itu tahu bahwa saya belum mati, mereka pasti berusaha untuk membunuh saya. Karena itu, bisakah saya memohon perlindungan dari Kepolisian Konoha?" tanya Naruto dengan nada cemas. Mata blue saffire-nya menatap dalam mata hitam Danzo.

Keheningan langsung melanda ruangan itu begitu Naruto menyelesaikan kalimatnya. Baik Kakashi, Sasuke, Neji, maupun Gaara melihat sang komandan yang sedang terdiam dengan perasaan tegang. Mereka sepertinya sangat penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulut sang komandan.

"Jika pihak kepolisian membutuhkan bantuanmu. Apakah kau bersedia untuk membantu? Walaupun bantuan itu tidak sesuai dengan hati nuranimu, apakah kau masih akan membantu?"

"Saya selalu diajarkan untuk selalu memberi sesuai dengan apa yang saya dapatkan. Jika saya dilindungi oleh pihak kepolisian, saya akan membalas jasa pihak kepolisian sesuai dengan apa yang telah diberikan pada saya. Saya berjanji," kata Naruto dengan nada tegas.

"Apakah aku bisa memegang janjimu?"

"Tentu. Saya akan mengabdikan diri saya pada pihak kepolisian jika itu perlu," kata Naruto dengan tegas.

Mendengar perkataan Naruto, membuat Danzo hanya bisa menghela nafas pelan. Setelah terdiam cukup lama akhirnya Danzo pun berkata, "Peganglah kata-katamu itu Uzumaki-kun. Kelak jika kau melanggarnya, pihak kepolisian akan berbalik menjadi musuhmu."

"Baiklah. Saya mengerti," kata Naruto dengan nada hormat.

Keheningan kembali menyelimuti ruang rapat begitu Naruto menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya saat ini setiap orang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Apakah ceritamu sudah selesai dobe?" tanya Sasuke memecahkan keheningan. Dari suaranya kentara sekali bahwa pemuda berambut raven itu sedang tidak sabaran. Hal ini juga di dukung oleh tindakannya yang sesekali melihat jam tangannya.

"Sudah Sasuke-sama. Memang ada apa?" tanya Naruto balik.

"Kalau sudah aku harus membawamu ke rumahku," kata Sasuke ketus sambil bangkit dari kursi yang di dudukinya.

"Baiklah. Terima kasih semua karena sudah mendengarkan cerita saya. Saya senang sekali karena anda semua mempercayai cerita saya. Arigatou gozaimasu minna-san ()," kata Naruto sambil membungkukan badannya di depan Danzo, Kakashi, Neji, dan Gaara.

"Ayo pergi dobe!" kata Sasuke sambil berjalan menuju pintu. Naruto pun langsung membuntuti Sasuke dari belakang...

。 。

-Kediaman Uchiha. 10.45 a.m-

"Untung mataku tidak bengkak gara-gara semalam," gumam Yuki pelan sambil melihat bayangan dirinya di cermin.

"Bakal repot kalau Sasuke-nii tahu aku menangis tadi malam," gumam Yuki lagi.

"Tadaima!" teriak sebuah suara yang begitu familiar oleh Yuki dari pintu depan. Suara yang begitu di hafal mati oleh Yuki.

"Aniki!" jerit Yuki heboh. Seketika itu juga dia langsung berlari ke pintu depan.

"Okaeri aniki. Tumben aniki sudah pulang jam se... Eh... Siapa yang bersama aniki itu?" tanya Yuki spontan begitu melihat anikinya datang bersama seorang pemuda manis yang tidak dikenal.

"Dia akan jadi penghuni baru rumah kita," kata Sasuke dengan nada datar.

"Eh... Penghuni baru di rumah kita?" tanya Yuki tidak percaya sambil memandangi pemuda berambut pirang di belakang anikinya itu.

"Benar. Saya adalah penghuni baru di rumah ini. Kenalkan nama saya Uzumaki Naruto. Dozo yorushiku (8)," kata Naruto sembari tersenyum manis pada Yuki. Yuki hanya menatap Naruto dengan pandangan melongo.

。 。 。ToBeCon 。 。 。

Balasan Review:

Dinda Qwie: Makasih atas dukungannya ya Dinda… (^^) Jangan lupa chapter ini dibaca juga ya… (^^)

Satsuki Naruhi: Danzo nggak bakal jahat kok di sini… Errr… Gak tahu juga deh. Liat sikon aja lah… *ragu-ragu* Sabar ya… Romancenya bakal segera mulai di sini… Fufufufu… *ketawa mesum*

arumru-tyasoang: Arigatou atas pujiannya… (_ _) Oh silahkan… Silahkan… Dengan senang hati di izinkan… (^^)

Kurome-Amechan: Saya memang telah menentukan batasan cerita ketika nulis… *plak* Jadi saya nggak nyamain halaman cerita satu sama yang lain… (^^) Oh gpp kok… Itu 'kan kritik dan saran untuk ngebuat karya ini semakin bagus *gaya**plak*… (^^)

Mika SasuRenNa: Okeh… Kalau nggak banyak tugas bakal saya usahain buat update kilat… (^^)

monkey D eimi: Naru emang bakal jadi keren banget di sini…! *blushing* errr… Itu bakal saya usahakan kok… *keringet dingin sambil siul-siul kecil*

Chie Na OrangeL: Maunya mawar hitam… *dibuang ke jurang karena terlalu ngelunjak* Arigatou atas dukungannya… (_ _)

blue night-chan: Naru bakal berakhir sebagai butlerku… *plak* Ah… Saya di panggil senpai…! Jadi malu… *muka blushing**plak*

chea 'sansanurui: Naru-chan emang misterius di sini… *meluk Naru**dihajar Sasu* Kenapa Sasu ma Yuki di usir dari kediaman Uchiha…? Jawabannya udah mulai terkuak di chapter ini (^^). Tenang aja kok… Saskey tetap buat Naru…! b(^^)d

Nao Kisari: *hug* hahaha… Makasih Nao-chan (^^). Nao juga jgn lupa berjuang buat UN ya… Jangan baca fic melulu. Okeh… *dihajar*

yashina uzumaki: Errr… Itu bakal saya usahain kok… *nada takut* SasuNaru bakal tinggal serumah…! *teriak pake toa* adegan semi romancenya bakal segera di mulai. Tenang aja…! :p

Akashi: udah semua nih saya balas reviewnya. Baiklah karena sebentar lagi banyak libur *loncat-loncat*, author abal ini sebisa mungkin akan ngetik cerita dengan cepat. Bahkan saya udah nyiapin ide cerita baru. Tapi selesain dulu deh nih fic baru mulai lagi yang baru. Biar saya nggak di bantai gitu sama para readers. Hehehe... *dihajar para readers*

Akhir kata jangan lupa ngirimin review, kritik membangun, saran, dan ide cerita tentang fic ini ya. Lewat fb dan twitter juga saya terima kok (^^). Jangan lupa maafkan saya jika fic ini banyak kekurangan ya... (^o^)

Ja minna...! Sampai ketemu di chapter depan...! *teriak pake toa*

Catatan

Goseichou arigatou gozamashita, Danzo-sama: Terima kasih atas perhatian anda, Danzo-sama

Oyasuminasai, Haku: Selamat beristirahat, Haku

ANBU: ANBU di sini adalah pasukan mata-mata milik kepolisian Konoha

Oyasumi: kependekan dari "Oyasuminasai"

Ohayou Sasuke: Pagi Sasuke

Are: Lho

Idealis: Orang yang bercita-cita tinggi

Dozo Yorushiku: Senang berkenalan dengan anda