Disclaimers :
Naruto belong Kishimoto sensei
Pairing :
SasuNaru
Rated : M (For something unexpected)
Warning : OOC, gaje, alur kecepetan, alur berantakan, ceritanya aneh, EYD hancur - hancuran, Typo etc
Genre : Romance, Hurt/comfort
.
.
.
.
.
Chapter 4:
Naruto POV
Aku terbangun dari tidurku. Aku merasa lelah sekali hingga aku sulit membuka mataku. Aku bermimpi aneh sekali. Aku bermimpi aku berada di rumah sakit dan mereka mengatakan bahwa aku dinyatakan HAMIL. NAmun setelah aku membuka mataku, aku menyadari satu hal bahwa itu semua bukanlah mimpi. Ingin rasanya aku menangis kembali, tapi air mataku sudah mengering. Aku tak bisa mengeluarkan air mataku saat ini.
Cobaan apalagi ini?
Kami-sama
Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku ini.
Sungguh...
Kenapa Engkau memberikan cobaan padaku seberat ini?
Apa sebenarnya kesalahanku hingga aku diberikan cobaan yang tak ada henti - hentinya?
Aku menyentuh perutku dengan hati - hati oleh kedua tanganku. Aku mengelusnya perlahan - lahan karena aku takut menyakiti nyawa yang sedang tumbuh di dalam tubuhku ini.
Aku mengingat perkataan dokter semalam.
'Naruto-san, Kami akan memberikan dua pilihan kepadamu. Apakah kau ingin mempertahankan bayi itu ataukah kau mau menggugurkannya? Kami tahu bahwa anak seumurmu akan sangatlah sulit menerima kenyataan seperti ini. Pikirkanlah dahulu. Jangan mengambil tindakan yang gegabah. Tapi kami yakin pasti kau akan memutuskan hal yang terbaik bagimu dan juga bayimu. Karena kami tahu kalau kau anak yang kuat. Sekarang beristirahatlah. Jangan terlalu banyak berfikir. Kau bisa mengatakan keputusanmu kapanpun.' kata sang dokter
Jujur, aku tak mungkin sanggup untuk menggugurkannya.
Aku tak mungkin sanggup untuk membunuhnya.
Ia adalah satu - satunya keluargaku.
Anak dari seseorang yang aku cintai sejak kecil.
Tapi bagaimana aku bisa merawatnya?
Untuk merawat diriku sendiri saja aku sudah kewalahan.
Bagaimana aku melindunginya dari orang - orang yang membenciku?
Bagaimana kalau orang - orang Desa tahu dan mereka ingin membunuhnya?
Aku menutup mataku dan berfikir. Aku membayangkan seorang anak kecil yang akan selalu ada disampingku, Menyayangiku, menemaniku, menyambutku saat aku pulang ke rumah, memberikan aku sebuah pelukan...
Tidak...
Aku tidak sanggup membunuhnya...
Aku pun menarik nafas dan membuangnya. Lalu aku buka kedua mataku dan aku sudah mengambil keputusan.
Aku akan mempertahankan bayi ini.
Tiba - tiba aku mendengar suara pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang tidak aku duga. Sosok seseorang yang aku cintai. Ayah dari bayi yang tengah aku kandung. Sasuke.
"Kau sudah bangun Dobe?"
Aku pun membelalakan mataku dan segera ingin membicarakan tentang bayi yang tengah aku kandung.
"Sa - sasuke... Tentang masalah ini..."
"Jangan pikir aku akan mengakui anak itu, Dobe. Bagiku anak itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Jadi jangan pernah berfikir aku akan mengakui anak itu." Jelas Sasuke dengan tatapan yang dingin yang paling aku benci.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang telah Sasuke katakan. Kenapa dia setega itu padaku. Padahal ini adalah anak kandungnya sendiri. Hasil perbuatannya sendiri walaupun ia melakukannya secara tidak sadar.
"Tapi ini hidup, Sasuke. Dia membutuhkan kedua orang tuanya. Apa kau sama sekali tidak pernah memikirkannya." lirih Naruto kepada Sasuke. Aku menurunkan harga diriku dengan memelas pada Sasuke agar setidaknya ia memikirkan anak mereka. Bagiku tak apa jika Sasuke mengacuhkanku. Tapi jangan bayiku..
"Aku tidak peduli Naruto. Tujuan hidupku adalah membunuh Kakakku. Tidak lebih dari itu." jelas Sasuke..
Aku pun menghela nafas berat
Sepertinya percuma berbicara dengan orang yang dingin dan pendendam seperti dirinya. Dalam dirinya hanya ada kebencian dan dendam. Tidak mungkin Sasuke akan menerimanya walau apapun yang terjadi.
Dan aku pun langsung menjawab pernyataan Sasuke "Baiklah kalau begitu, lagipula aku pernah mengatakannya padamu kan, Lupakan saja segalanya kalau memang itu membuatmu terpuruk. Anggap saja kejadian incident itu tidak pernah terjadi. Kita kembali ke kehidupan kita seperti biasanya. Dan aku juga tidak membutuhkan orang pendendam sepertimu untuk membesarkan anakku sendiri."
"Baguslah kalau begitu. Ini semua memang salahmu."
Salahku?
Ini semua salahku katanya...?
Jelas - jelas ini semua kesalahannya kenapa malah menyalahkan aku?
Aku pun emosi dan langsung meluapkan unek - unek ku pada Sasuke
"Apa kau bilang? Ini salahku? Pernahkah kau berfikir kalau ini semua adalah awal dari kesalahanmu, TEME. Berfikirlah, siapa yang mabuk pada saat itu, HAH? Kau bilang ini salahku! Sebelum Kau mengatakan bahwa ini salahku, sebaiknya kau mengaca pada dirimu sendiri Sasuke. Dan Tentang anak ini, tenang saja aku akan berusaha untuk menutupinya dengan baik. Sekarang silahkan kau pergi dari tempat ini. Aku tidak membutuhkan laki - laki pengecut sepertimu untuk menjadi ayah dari bayiku.." Jawab Naruto dengan Tegas.
Sasuke langsung terdiam setelah mendengar pernyataanku tersebut. Namun raut wajahnya tidak berubah sedikitpun. Ia pun langsung meninggalkan ruang rawatku dan pergi entah kemana.
Aku pun mengalihkan pandanganku dari pintu kamarku ke bagian perut bawahku.
"Tenang,,, sayang. Aku akan selalu menjagamu dan melindungimu." Sambil mengelus - elus perutnya.
Meski tanpanya...
Tanpa Sasuke...
Aku pasti bisa...
End Naruto POV
.
.
.
.
.
Dibalik jendela ruang rawat Naruto
Kakashi POV
Aku semalaman berjaga di luar di depan jendela ruang rawat Naruto agar aku bisa menjaganya jika terjadi sesuatu. Aku langsung bersembunyi ketika ia terbangun
Naruto sedang merenung dengan pikirannya. Lalu ia menghela nafas dan membuka kedua matanya. Tiba - tiba, aku melihat Sasuke masuk ke dalam ruang rawat Naruto dan mengagetkan Naruto.
Aku pun mendengar pembicaraan mereka dan aku sangat terkejut dengan topik yang tengah mereka bicarakan.
Aku tidak menyangka dengan apa yang aku dengar. Ternyata ayah dari anak yang tengah dikandung oleh Naruto adalah anak dari muridku sendiri juga, Sasuke.
Bagaimana itu bisa terjadi? Sasuke dan Naruto masih kecil. Mana mungkin mereka mengerti tentang sex?
Bagaimana aku menjelaskan ini kepada Jiraiya-san dan Godaime-sama?
Hah..
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Sasuke tidak mau bertanggung jawab atas anak yang tengah dikandung oleh Naruto.
Tak tahukah ia bahwa kehidupan Naruto itu sudah sulit.
Aku pun menggeram. aku mengepalkan kedua tanganku, namun aku tak bisa apa - apa. Aku tidak bisa mencampuri urusan kedua muridku
Tenanglah Naruto...
Setidaknya aku, Jiraiya -san, dan Tsunade-san akan selalu membantumu.
End Kakashi POV
.
.
.
.
.
Di depan pintu ruang rawat Naruto
Sakura POV
Hari ini aku berencana akan menjenguk Naruto dan meminta maaf padanya.
Ya... aku agak sedikit merasa bersalah sih pada Naruto karena sering membentaknya.
Apalagi dengan keadaanya yang sekarang. Pasti ia sangat terpukul.
Semoga saja dengan keberadaanku ia bisa sedikit tenang.
Namun disaat aku ingin membuka ruang rawat Naruto aku mendengar suara Sasuke dan Naruto. Mereka sedang bertengkar. Aku sangat terkejut dengan kenyataan ini. Aku pun menggeleng - gelengkan kepalaku dengan tidak percaya.
Tidak mungkin...
Tidak mungkin anak yang dikandung Naruto adalah anak Sasuke.
Kenapa harus Naruto?
Aku pun segera berlari dari tempat itu dan kemudian pergi ke hutan belakang rumah sakit. Aku menangis disana. Kenapa orang yang aku cintai malah menghamili orang lain. Apalagi yang ia hamili itu adalah Naruto.
Tidak...
Ini tidak boleh terjadi...
Aku tidak akan membiarkan Naruto mengambil Sasuke dariku.
End Sakura POV
.
.
.
.
.
Hari pun semakin siang. Kakashi dan Sakura datang keruang rawat Naruto dengan canggung. Apalagi setelah mendengar pembicaraan Sasuke dengan Naruto tadi pagi.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian diam saja dari tadi?" Tanya Naruto dengan heran
"T - tidak apa - apa kok? Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Tanya Kakashi...
"Iya... Aku sudah baikan kok. Dia juga baik - baik saja." Jawab Naruto sambil mengelus - ngelus perutnya dengan lembut.
'Baru sehari ia diberitahukan bahwa ia hamil, sifat keibuannya langsung muncul. Sepertinya Naruto telah membuat keputusan dan memantapkan hatinya. Naruto memang benar - benar anak yang kuat. Ia pasti bisa melewati cobaan ini. Kau beruntung lahir menjadi anak dari Naruto. Ia begitu penyayang. Kau pasti akan bahagia dan bangga menjadi anaknya' pikir Kakashi.
"Kakashi - sensei?"
" Ah... gomen ... gomen... Aku hanya sedang melamun. Hehehehe..." Jawab Kakashi saat pikirannya terbuyar saat Naruto bertanya.
"Mou... Kakashi - sensei ini bagaimana sih? Jangan terlalu banyak melamun. Tenang saja Kakashi - sensei. Aku tidak apa - apa. Aku benar - benar tidak apa - apa dan dalam keadaan baik - baik saja. Jadi sensei tidak perlu khawatir lagi. Ne?" Terang Naruto saat melihat wajah khawatir Kakashi.
"Haaahh... Kau ini benar - benar sudah mengkhawatirkan aku setengah mati, kau tahu? tapi sepertinya aku sudah tidak perlu khawatir lagi. Aku yakin kau bisa melewatinya Naruto. karena aku tahu kau adalah anak yang kuat. Tenang saja, aku pasti akan membantumu melewati ini semua. Ne?"
Naruto pun mengeluarkan air matanya yang tadi sempat mengering.
"Terima kasih, sensei... hiks... hiks... aku pikir ... hiks.. Aku pikir aku akan sendirian. Terima kasih sensei..." Naruto menangis meluapkan rasa bahagianya saat ada seseorang yang peduli padanya.
Kakashi pun menghampiri Naruto dan memeluknya. Menenangkan muridnya yang tengah menangis di tengah - tengah cobaan yang tengah dihadapinya.
Berbeda dengan Sakura, pikirannya tengah bergelut dengan kenyataan bahwa Sasukelah ayah dari anak yang dikandung oleh Naruto. Ia bingung. Ia menginginkan Sasuke namun ia juga tidak tega melihat Naruto seperti ini. Rasa sukanya pada Sasuke telah membuat wanita berambut merah muda ini begitu possesif kepadanya.
Tiba - tiba pintu terbuka memperlihatkan seorang dokter dan seorang perawat yang akan memeriksa keadaan Naruto.
"Loh... Ada apa ini? Kenapa kau menangis lagi, Naruto-san? Saya kan sudah bilang agar anda jangan terlalu banyak pikiran dan stress." Tanya sang dokter.
"Ahh... Tidak apa - apa kok dokter. Aku hanya sedang terharu." Jawab Naruto.
"Oh... begitukah... Kalau begitu, Bolehkah sekarang saya memeriksa keadaan Naruto - san dahulu?" tanya dkter itu lagi
"Silahkan Dokter..." Kakashi mempersilahkan sang dokter memeriksa Naruto.
Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Naruto.
" Sepertinya keadaanmu sudah baik. Mungkin sekitar 2 hari lagi sudah boleh pulang."
" Benarkah dokter?"
"Iya... Oh ya... Bagaimana dengan keputusanmu? Apa kau sudah memutuskannya?" Tanya sang dokter dengan serius
"Aku memutuskan untuk mepertahankannya dokter. Karena aku yakin ia pantas untuk hidup dan melihat dunia." Jawabnya dengan yakin dengan sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya.
Sakura yang mendengar hal itu langsung menyela pembicaraan antara Sang Dokter dengan Naruto.
"A... apa kau yakin Naruto? Me - mengurus anak itu kan susah. Banyak biayanya. Lagipula kan kau masih kecil. Memang kau sanggup merawat dan membesarkan bayi itu?" tanya Sakura agar Naruto berfikir ulang dengan keputusannya.
Ia berfikir kalau Naruto memilih jalan untuk menggugurkan anaknya maka Sasuke akan menjadi miliknya.
Naruto menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Sakura dengan tegas.
"Tidak... Aku tidak akan pernah menggugurkannya Sakura. Bayi ini adalah anakku. Darah dagingku. Walau ia hadir dengan cara yang salah, tapi anak ini tidak memiliki kesalahan sama sekali. Dia masih suci. Dan aku yakin pasti aku bisa merawat dan membesarkannya. Aku yakin itu." Jawab Naruto sambil mengelus - elus perutnya.
Sakura pun terdiam, ia sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi. Keputusan Naruto sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat.
"Kalau memang itu keputusanmu. Kami sangat senang mendengarnya. Kami tahu kamu pasti akan memilih jalan yang terbaik untukmu dan bayimu." Dokter itu berkata dengan bangganya pada Naruto sambil tersenyum.
Naruto pun membalas senyuman sang Dokter tersebut.
"Kalau begitu keputusanmu, maka kau harus tahu hal - hal apa saja yang yang harus kau hindari selama kau hamil. Pertama, anda tidak boleh banyak pikiran dan stress, usahakan untuk rileks karena itu tidak baik untuk kesehatan. Kedua, Kau harus banyak istirahat, tidak boleh banyak melakukan pekerjaan dan karena anda adalah seorang ninja sepertinya anda harus berhenti melakukan misi - misi berbahaya. Ketiga, anda tidak boleh melakukan latihan - latihan ninja karena akan sangat berbahaya bagi kandungan anda. Keempat, anda sama sekali tidak boleh menggunakan chakra karena akan berpengaruh terhadap kandunganmu. Kelima, Jangan memakan makanan yang banyak mengandung bahan - bahan kimia berbahaya seperti ramen dan makanan siap saji lainnya, usahakan untuk memakan makanan yang sehat seperti sayuran dan buah - buahan terutama yang mengandung protein untuk membantu pembentukan si bayi. Dan yang paling penting..." ucapan sang dokter terputus oleh Naruto.
Naruto meneguk ludahnya, "Masih ada Dokter?"
"Ya... yaitu Jangan melakukan hubungan intim selama kau dalam masa kehamilan karena akan berbahaya bagi kandungan anda. Kami belum tahu dampak dari aktivitas tersebut apakah baik atau buruk bagi kandungan anda. Jadi lebih baik mencegah daripada harus mengobatinya. Mengerti, Naruto-san?"Ucap sang Dokter pada Naruto.
Pernyataan Dokter tersebut langsung membuat Naruto merona merah di kedua pipinya. Ia tidak menyangka bahwa Dokter tersebut akan mengatakan hal tersebut dengan Naruto. Naruto saja tidak pernah berfiikir untuk melakukan hubungan intim untuk yang kedua kalinya mengingat Sasuke ayah dari bayinya itu membencinya.
Mengingat nama Sasuke membuat Naruto menjadi murung kembali. Ia sangat menginginkan Sasuke berada di sampingnya disaat seperti ini. Meski ia hanya diam dan tidak memperhatikannya. Tapi setidaknya ia bisa merasakan rasa aman dengan adanya Sasuke bersamanyaku. Tapi sepertinya ia harus membuang jauh - jauh pikiran itu. Bisa terlihat Sasuke saja tidak menjenguknya kembali setelah pembicaraan mereka tadi pagi.
Melihat Naruto yang asalnya sedang senang langsung terlihat murung dan sedih membuat Dokter itu bingung dan bertanya pada Naruto. Ia takut pasiennya yang satu ini banyak pikiran lagi dan bisa membuatnya mengalami pendarahan kembali. Kakassi yang mengerti penyebab murungnya Naruto hanya bisa terdiam. Ia ingin menghiburnya, tapi ia tahu bahwa satu - satunya orang yang bisa menghibur Naruto hanya seorang, Sasuke.
"Ada apa Naruto-san? Kenapa terlihat sedih seperti itu? Saya kan sudah bilang agar tidak terlalu banyak pikiran. Disaat ada pikiran buruk yang mengganggu, cobalah anda memikirkan sesuatu yang membuat anda senang. Misalnya, pikirkanlah tentang bayi anda. Bagaimana wajahnya? Bagaimana lucunya ia nanti saat ia lahir? Saya yakin itu akan membuat anda rileks. Atau cobalah ke taman untuk menghirup udara segar. ya?" Saran sang Dokter pada Narurto.
"Baik dokter, saya akan mencoba untuk tidak murung lagi." Ucap Naruto dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya sudah kalau begitu. Saya harus memeriksa pasien yang lain. Lebih baik anda beristirahat Naruto-san ."
"Baik, Dok..!"
Dokter pun meninggalkan ruangan Naruto. Setelah Dokter itu pergi, Kakashi dan Sakura langsung menghampiri tempat tidur Naruto. Kakashi yang melihat Naruto masih murung langsung menghiburnya.
"Naruto, sebaiknya kau istirahat dulu. Tidak baik kalau kau murung dan banyak pikiran terus. Dokter kan sudah bilang sendiri padamu agar jangan terlalu banyak pikiran. Kau bilang pada kami kalau kau ingin mempertahankan dan menjaga bayi itu. Karena itulah kau harus mengerti pantangan - pantangan yang harus kau hindari sesuai dengan saran dokter. Sekarang Tidurlah, istirahatkan pikiranmu. Aku akan menjagamu disini." Kata Kakashi - sensei.
"Terima kasih, Kakashi Sensei."
Naruto pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mencoba untuk terlelap. Tidak menunggu lama akhirnya Naruto pun terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Sakura yang melihat keadaan Naruto hanya bisa terdiam. Ia bingung. Apa yang harus ia lakukan. Di sisi lai ia kasihan melihat Naruto. Tapi di sisi lain ia tidak ingin Sasukenya dimiliki oleh orang lain. Rsa sukanya pada Sasuke membuat Sakura tidak rela kalau Sasuke dimiliki oleh orang lain.
.
.
.
.
.
Dua hari kemudian
Hari ini Naruto pulang dari rumah Sakit. Ia merasa senang sekali karena akhirnya ia bisa menghirup udara bebas.
"Yosh... Akhirnya aku keluar juga dari rumah Sakit." Kata Naruto tersenyum senang sambil meregangkan tubuhnya. Tidur beberapa hari di rumah sakit membuat tubuhnya menjadi agak kaku. Ia senang sekali, akhirnya ia bisa menghirup udara luar yang sejuk, bukan bau obat - obatan rumah sakit.
Kakashi yang melihat Naruto begitu bersemangat tersenyum lega. Sepertinya, semua beban masalah yang Naruto alami kemarin seperti hilang di telan bumi. Tapi ia tahu, sebenarnya Naruto melakukannya agar kami semua tidak khawatir. karena tidak mungkin seseorang yang memiliki masalah berat sepertinya bisa tersenyum seperti ini. 'Kau memang anak yang kuat Naruto' pikir Kakashi.
Kakashi berencana untuk kembali ke Konoha besok harinya, melihat Naruto yang sedikit pucat, akan lebih baik apabila mereka ke Konoha esok hari.
"Sebaiknya, kita kembali ke penginapan untuk istirahat. Baru besok kita kembali ke Konoha." Kata Kakashi
"Ehh... Lalu misinya bagaimana, Kakashi - sensei?" Tanya Naruto. Pasalnya, Misi mereka itu sangatlah penting.
"Tenang saja, Aku, Sasuke dan Sakura sudah menyelesaikan misi itu selama kau dirawat di rumah sakit. Jadi kau tidak usah khawatir. Misinya Sukses kok." Jelas Kakashi pada Naruto.
"Heeehhh... Aku minta maaf ya, tidak bisa melakukan misi bersama kalian. Aku tahu misi ini sangat penting. Dan gara - gara aku sakit, misi ini jadi terlambat. Maaf ya!" Kata Naruto meminta maaf kepada teman satu timnya.
"Iya Naruto..."
"..."
"Hnn"
Naruto heran tidak mendengar suara Sakura. Karena biasanya kesalahan kecil saja yang dibuat olehnya akan membuat Sakura murka. Sakura tidak biasanya terdiam seperti ini. Namun sekarang ini, Sakura hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan menyentuhku!" Ucap Sakura dengan Kasar kepada Naruto. Membuat semua orang terkejut.
Naruto yang tekejut dengan ucapan kasar Sakura. Ia pun menarik tangannya dan bertanya kepada Sakura sambil meminta maaf padanya dengan tenang.
"Ma - maaf... Kau kenapa Sakura-chan? Ada apa? Apa kau marah karena aku tidak mengikuti misi ini? Aku minta maaf kalau begitu. Aku tidak bermaksud untuk menghalangi misi kalian. Sungguh... Karena itu ma..." Kata - kata Naruto terputus ketika Sakura kembali berteriak pada Naruto.
"Jangan berpura - pura tidak tahu! Aku tahu akal busukmu Naruto! KAu ingin merebut Sasuke dariku kan? Iya kan? HAAHH... JANGAN MENYANGKALNYA NARUTO. DASAR PELACUR TIDAK TAHU DIRI." Ucap Sakura yang tidak terkontrol.
Deg
NAruto yang mendengar kata - kata itu dari mulut sahabatnya, hanya bisa menyentuh dadanya yang terasa sakit atas hinaan sahabatnya itu. Ia tidak menyangka bahwa Sakura akan mengatakan hal itu padanya. Kata - Katanya serasa panah yang langsung menusuk Jantungnya. Sakit...
"SAKURA!" Teriak Kakashi untuk mengingatkan Sakura.
Sakura yang tersadar akan ucapannya langsung pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan Naruto dengan luka baru yang telah ia torehkan padanya.
"Sakura... Tunggu!" Teriak Kakashi. Namun, Sakura sudah terlanjur pergi jauh. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya pada Naruto yang masih terdiam sambil memegang dadanya. Ia terduduk dan terlihat air matanya mengalir dari kedua matanya.
"Naruto... Tenanglah... Ikuti aku. Tarik nafas... buang... terus seperti itu." Jelas Kakashi. Naruto pun mengikutinya. Melihat Naruto sudah tenang akhirnya ia pun bertanya pada Naruto.
"Apa kau baik - baik saja Naruto?"
"Aku tidak apa - apa sensei. Aku benar - benar tidak apa - apa. Le - lebih baik kita kembali ke penginapan." Dengan suara yang serak.
Naruto pun mencoba untuk bangun. Kakashi pun langsung membantu Naruto.
Sedangkan Sasuke yang namanya disebut - sebut dalam pertengkaran tadi. Ia hanya bisa mengumpat karena kesal pada sikap Sakura yang seenaknya mengklaimnya adalah milik Sakura, ditambah lagi dengan melihat drama tangisan Naruto yang membuat Sasuke cap pantat ayam ini muak. Ia langsung mengikuti Naruto dan Sasuke.
"Cih... dasar cengeng." Dengan suara pelan.
Namun Naruto bisa mendengar suara Sasuke tersebut. Ia hanya bisa tersenyum miris. Ia berharap Sasukelah yang menenangkannya. Tapi bukan itu yang ia dengar dari mulut Sasuke. Hanyalah umpatan - umpatan kasar yang ia dengar dari Sasuke
.
.
.
.
.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~T.B.C.~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Akhirnya Chapter 4 selesai juga. Aku minta maaf ya sama reader semua karena aku gak bisa update cepet nich. Karena aku agak sibuk banget akhir - akhir ini. Tapi aku usahain setidaknya seminggu sekali aku update.
Well... inilah Chapter 4. Mungkin agak mengecewakan buat para reader. Jadi maaf ya... Karena Chientz masih belajar.
Chientz mau berterima kasih sama para reader yang udah riview fic ini. Dan maaf Chientz gx bisa tulis nama - nama orang yang yang udah riview karena terlalu banyak untuk ditulis. Walaupun fic ini masih banyak memiliki kekurangan dimana - mana ternyata banyak para reader yang masih setia untuk membaca fic ini.
Oh ya... Banyak yang nanya. Kenapa sih Sasuke itu gak tau kalau Nalu itu adalah Naruto. Kalau gak salah aku udah jelasin di Chapter 1, kalau Setelah Sasuke ketemu Naruto, keluarga Sasuke dibunuh oleh Itachi. Dan itu membuat syok yang berat bagi anak usia 5 tahun seperti Sasuke pada waktu itu. Akibatnya, banyak memori - memori tentang Nalu itu menghilang. Karena walau bagaimana pun Sasuke baru ketemu Nalu itu satu kali. Biasanya anak yang memiliki syok berat akan kehilangan sedikit ingatannya. Apalagi dengan watak Sasuke yang pendendam dan yang ada di pikirannya hanya membunuh Itachi. Tentunya Nalu akan terlupakan. Begitu, Reader...
Contohnya kayak di film anime D. , waktu Riku mengingat masa kecilnya tentang Daisuke. dalam memorinya hanya terlihat rambut dan postur tubuhnya aja yang kecil. Tapi wajahnya nggak. Jadi kayak kabur gitu.
Nah...
Untuk reader semua, sekian penjelasan Chientz...
Selamat membaca...
Chaoooo...
