After Midnight Stories

Kedua belas kru AM berbagi kisah pribadi mereka saat didatangi makhluk halus untuk pertama kalinya, jauh sebelum mereka bergabung dalam satu klub, dan juga ada beberapa dari mereka yang didatangi arwah orang-orang terdekat yang telah tiada. So… enjoy.

~oo00oo~

1. Can I sleep with you?

Chanyeol

~oo00oo~

Aku tinggal bersama kedua orangtuaku tapi jarang pulang. Lebih senang menginap di rumah kos teman. Nah, temanku ini punya teman sekamar yang sangat takut terhadap petir. Tiap kali mendengar gemuruh petir, dia selalu lompat kebelakang punggung kami sambil berkata: "Boleh aku tidur denganmu?". Karena dia sudah sering begitu, kami jadi terbiasa dengan tingkah lakunya.

Sampai suatu hari, anak ini meninggal dunia. Dia ditabrak mobil di tengah-tengah hujan deras. Dia beserta sepedanya terlempar ke jurang di sisi jalan.

Satu minggu berlalu dan kami semua sudah mulai melupakan insiden kematiannya yang tragis. Di minggu kedua aku bertengkar hebat dengan ayahku. Aku kabur dari rumah dan memutuskan untuk menginap di rumah kos temanku ini. Sialnya dia sedang studi trip ke Tokyo, tapi dia selalu menyimpan kunci kamarnya di bawah karpet depan pintu. Karena sedang marah besar dengan ayahku, aku memaksakan diri untuk masuk. Ruangan kamar itu gelap. Sesaat tidak ada yang aneh, aku beraktifitas dan bersantai seperti biasa. Sampai tiba jam satu malam, langit mulai mendung dan hujan deras datang. Petir menyambar-nyambar di luar jendela. Aku naik ke tempat tidur lalu menyelimuti diriku sendiri. Dua detik kemudian, ada satu tangan memelukku dari belakang disusul suara bisikan: "Boleh aku tidur denganmu?".

~oo00oo~

2. Scratches on my door

Kai

~oo00oo~

Aku tumbuh dikelilingi banyak hewan peliharaan dari kecil. Ibuku sangat suka binatang, terutama kucing dan anjing. Jadi aku tak pernah curiga dengan suara cakaran di pintu kamarku yang selalu terjadi saat jam dua belas malam. Aku tak pernah ambil pusing dan selalu berpikir: "Ah, paling-paling salah satu kucing goblok itu". Nah, minggu lalu, semua binatang peliharaan kami untuk sementara diungsikan ke rumah Pamanku di Daegu karena rumahku akan direnovasi. Sehari sebelum direnovasi, appa dan eomma menginap di Hotel dalam rangka kegiatan kantor. Aku dan adikku kebagian tugas menjaga rumah.

Malam harinya, tepat jam dua belas malam, aku masih mendengar suara cakaran di pintu. Aneh kan? Padahal tak ada binatang lagi di rumah. Awalnya kukira itu ulah adikku, Soojung, karena dia memang cewek iseng. Aku masih bersikap acuh dan kembali tidur. Makin lama, bunyi cakaran di pintu malah semakin keras dan mengganggu. Karena kesal, aku bangkit dari kasur, pergi ke pintu lalu mengintip di lubang peephole. Terkejut menemukan sosok lain berdiri di depan pintu kamarku. Yang pasti itu bukan Soojung. Bukan dia yang berdiri di pintu. Itu sesuatu yang lain. Aku melihat seorang wanita tua, sebagian wajahnya hancur, giginya hitam, rambutnya acak-acakan, dan dia tidak memiliki jari kaki.

Rupanya wanita itu pemilik rumah sebelumnya. Mati dibunuh maling yang masuk ke rumahnya dengan cara sadis. Wajah wanita itu dihantam tongkat bisbol sampai hancur dan jari-jari kakinya dipotong. Soal gigi yang hitam… kata tetangga-tetanggaku, itu karena almarhum semasa hidupnya adalah perokok berat.

Sejak ketemu satu kali, aku selalu berusaha tidur lebih cepat agar tak perlu mendengarnya lagi.

~oo00oo~

3. Someone under the bed

Baekhyun

~oo00oo~

Aku benci kolong tempat tidur! Kira-kira usiaku enam tahun waktu pengalaman menakutkan itu terjadi. Gara-gara itu, sampai sekarang aku trauma punya tempat tidur yang ada kolongnya. Sumpah! Aku tak akan pernah mau tidur di kasur yang ada kolongnya lagi!

Kejadiannya berawal dari acara kunjungan ke rumah kakek-nenekku dalam rangka libur Musim Panas. Karena rumah mereka besar dengan banyak kamar, jadi aku dan kakak-kakakku masing-masing dapat kamar sendiri. Diantara semua kamar, hanya aku yang dapat kasur paling antik. Kakak-kakakku langsung iri karena menurut mereka kasur itu terlalu bagus untuk bocah enam tahun. Tapi aku pribadi justru tidak suka kasur itu. Kasur itu terlalu menakutkan. Terlihat sangat… kuno. Aku sudah punya firasat buruk sejak pertama kali melihatnya.

Malam harinya, disaat semua lampu di rumah padam dan orang-orang pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Aku naik ke tempat tidur. Merebahkan kepala dan menarik selimut sampai ke dagu. Semenit, dua menit berlalu, belum ada hal-hal aneh terjadi. Sampai di menit ketiga, aku mendengar suara ketukan halus dari bawah kolong. Tuk, tuk, tuk. Ketukan itu selalu diulang sebanyak tiga kali. Berhenti sebentar, lalu muncul lagi sebanyak tiga kali. Kadang-kadang aku memang agak tuli, tapi aku yakin aku tidak salah dengar. Awalnya kukira Cuma tikus iseng. Tapi lama-kelamaan, suara ketukan itu berubah menjadi suara desahan napas seseorang.

Karena ketakutan, aku segera lari ke kamar kakek-nenekku, melapor pada mereka ada orang di kolong tempat tidurku. Dengan ditemani kakek, aku kembali lagi ke kamar. Saat kakek menyibak seprai yang menutupi kolong, aku sontak menjerit melihat sesosok perempuan berpakaian putih melotot lebar dibawah sana."

~oo00oo~

4. Intruder

Kris

~oo00oo~

Kemarin malam, aku mendengar derit pintu kamar dibuka, lalu seseorang menarik selimutku. Dengan kaget aku membuka mata, mendapati Mommy duduk di pinggir ranjang, menatap lurus ke wajahku sambil berkata: "Bangun, Kris. Ada orang asing di rumah kita". Yang jadi pertanyaannya sekarang, apa yang dilakukan Mommy di kamarku malam-malam begini? Bukankah dia sudah mati dibunuh oleh orang asing yang masuk ke rumah kami dua tahun yang lalu?

Ternyata, malam itu rumah kami memang dimasuki orang. Perampok sialan. Pelakunya berhasil membawa kabur perhiasan dan barang berharga di rumah kami. Yang lebih sial lagi, aku dan ayahku baru sadar keesokan paginya, saat melihat jendela di dapur terbuka dan seisi rumah acak-acakan.

~oo00oo~

5. 12:07

Suho

~oo00oo~

Aku tak pernah percaya dengan hal-hal gaib sampai hal itu datang padaku dengan sendirinya. Pengalamanku ini terjadi lima tahun yang lalu, saat teman-teman kelas mengadakan trip ke Pulau Jeju. Kami menginap di sebuah hotel bernuansa tradisional. Pokoknya segala dekorasi dan bentuk bangunannya mencerminkan kebudayaan asli bangsa kita. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi… siapa sangka sesuatu yang kita sukai malah berubah menjadi pengalaman paling mengerikan?

Aku sudah lupa apa-apa saja yang kami lakukan malam itu, hal terakhir yang kuingat adalah jam ponselku dengan angka 12:07 yang tertera di layarnya. Sebelum aku sempat sadar sepenuhnya, ada jari-jari panjang berwarna hitam hendak mencekik leherku. Tangan lainnya yang berbau busuk itu membekap mulutku. Disaat aku mengira pintu kematian sudah di depan mata, alarm jamku berbunyi di angka 12:06. Aku terduduk di kasur. Terpaku sesaat. Menghirup napas lega karena yang tadi cuma mimpi. Tapi begitu kulihat jam di ponselku berganti ke angka 12:07, aku melihat pintu lemari mengayun terbuka disertai jari-jari hitam keluar dari dalam sana.

~oo00oo~

6. Bed-time selfie

Chen

~oo00oo~

Semenjak teman sekamarku meninggal dalam kecelakaan tragis. Aku tinggal sendirian di kos. Sesekali Chanyeol datang menginap, tapi setelah 'diganggu' oleh almarhum, dia jadi kapok dan tak pernah datang-datang lagi. Aku juga sering merasa ada yang mengawasiku saat tidur. Aku merasa dia ada di sudut kamar. Berdiri diam disana, tak bergerak. Aku bisa merasakan kehadirannya, tapi tak pernah mau repot-repot menoleh. Pagi harinya, aku menemukan foto wajahku di ponsel, sengaja diambil oleh seseorang saat aku sedang tertidur.Jelas-jelas itu bukan ulah penyusup. Aku yakin seratus persen sudah mengunci pintu sebelum tidur.

~oo00oo~

7. Glowing eyes

Tao

~oo00oo~

Aku selalu paranoid kalau melihat celah di tirai jendela. Selalu membayangkan yang tidak-tidak tentangdua mata bersinar yang mengintip dari balik tirai. Tapi minggu lalu, aku pulang ke rumah dan menemukan dua mata bersinar mengintip dari celah-celah gorden di kamarku. Itu bukan khayalan. Kali ini aku benar-benar 'diintip'. Imajinasiku menjadi nyata.

Setelah itu aku bersikeras minta tukaran kamar dengan kakak perempuanku. Mengira masalah telah selesai, ternyata setelah pindah kamar pun, dua mata bersinar itu masih mengintip dari jendela. Karena putus asa, besoknya aku mendatangkan seorang Pendeta ke rumah tanpa sepengetahuan ayah-ibu. Pendeta itu bilang bukan rumahku yang mendadak berhantu, ternyata aku memang sudah 'diikuti' semenjak pulang dari acara bermalam di kampus.

~oo00oo~

8. I hear that, too…

Sehun

~oo00oo~

Sebelum pindah ke Seoul, aku pernah tinggal di sebuah kota kecil. Letaknya agak di pinggiran dan jauh dari mana-mana. Bagiku itu bukan masalah besar. Karena aku memang suka tinggal di kota-kota kecil yang tidak terlalu ramai.

Waktu itu usiaku Sembilan tahun. Dan kami sekeluarga punya rumah lama yang sangat bagus.Yah, sebenarnya memang bagus. Kalau saja tidak ada anak laki-laki bermata gelap yang suka merayap di langit-langit ruang tamu dan suara tangisan bayi yang selalu terdengar dari lantai tiga tiap tengah malam.

Suatu hari, aku mendengar suara Mama memanggil-manggil namaku dari arah tangga. Jadi aku terpaksa meninggalkan tugas dan bangkit malas-malasan dari tempat tidur. Waktu sudah sampai dibawah, tiba-tiba Mama menarikku ke dalam kamarnya lalu berkata: "Aku juga dengar suara tadi". Berani sumpah baru kali itu melihat Mama terlihat sangat ketakutan.

~oo00oo~

9. Red dress lady

Lay

~oo00oo~

Kejadian ini sudah basi. Tepatnya ini terjadi tujuh tahun yang lalu, saat itu sehari setelah perayaan ultahku yang ketujuh belas. Jadi ceritanya waktu itu aku dan keluargaku ada dalam perjalanan jauh ke suatu tempat. Kami sekeluarga—aku, ayah, ibu dan dua adikku. Ayah yang bertugas sebagai sopir dan ibu duduk di samping kursi kemudi. Sedangkan aku dan kedua adikku duduk di jok tengah. Jok belakang dibiarkan kosong.

Nah, di sebuah tikungan, kami melihat sosok perempuan berdiri di pinggir jalan, wajahnya tak terlalu jelas karena kepala perempuan itu menunduk, dan dia pakai gaun merah panjang. Perempuan itu melambaikan tangan ke mobil kami, menyuruh kami berhenti. Tapi ayah waktu itu sedang terburu-buru, jadi dia memilih untuk jalan terus. Separuh perjalanan masih aman, sampai tiba-tiba kami mendengar suara isak tangis di jok belakang. Rupanya itu perempuan bergaun merah tadi. Dia berteriak keras dengan suaranya yang melengking seperti burung kematian. Lalu menghilang secepat asap. Meninggalkan kami semua dalam keadaan trauma dan shock berat. Ayahku langsung menepikan mobilnya di sebuah penginapan dan baru berani melanjutkan sisa perjalanan besok pagi."

~oo00oo~

10. Yeeees?

Kyungsoo

~oo00oo~

Saat masih kecil, keluargaku pindah ke sebuah rumah tua bertingkat dua, dengan banyak kamar kosong dan lantai papan kayu yang berderit. Kedua orangtuaku bekerja jadi aku sering sendirian ketika pulang dari sekolah. Suatu sore, ketika aku pulang, rumah itu masih gelap.

Aku berteriak, "Maaa?" dan aku dengar suaranya bersenandung dari lantai atas sambil berteriak "Yaaaaaa?". Aku memanggilnya lagi sambil menaiki tangga, untuk melihat di kamar mana Ibuku berada, lagi-lagi aku dengar dia menyahut, "Yaaaaaa?". Kami baru mendekorasi rumah pada saat itu, dan aku tak terlalu hapal jalan saking banyaknya labirin di rumah kami, tapi aku yakin dia ada di salah satu ruangan yang terjauh, karena suara nyanyiannya ada di lorong paling pojok. Firasatku tidak enak, tapi aku pikir itu wajar, mungkin dia sedang bersih-bersih di ujung sana, jadi aku berjalan cepat-cepat agar bisa segera melihat wajahnya.

Begitu meraih gagang pintu, aku mendengar suara pintu depan dibuka dari lantai bawah, lalu Ibuku berseru "Sweetie, kau sudah pulang?" dengan suara ceria.

Aku melompat mundur, terkejut dan segera berlari menuruni tangga, tapi entah kekuatan apa yang mendorongku untuk menoleh kebelakang. Pintu kamar itu perlahan-lahan terbuka. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang aneh berdiri di sana. Aku tidak tahu makhluk apa itu yang mengintip di pintu, tapi itu menatapku."

~oo00oo~

11. The wanderer

Luhan

~oo00oo~

Aku masih kelas 4 SD waktu itu. Tinggal di rumah lamaku di Beijing. Dulu aku punya kebiasaan tidur dengan pintu terbuka. Ada fase dimana aku akan terbangun antara jam 03:00 – 04:00 setiap malam. Dan setiap malam itu pula aku selalu mendengar langkah kaki berjalan menaiki tangga, berkeliling di ruang tamu, melewati ruang makan, melintasi dapur dan turun di lorong depan kamar. Langkah kaki itu akan selalu berhenti tepat sebelum pintu kamarku, kemudian berbalik dan kembali lagi ke ruang bawah tanah. Tapi suatu malam, langkah kaki itu tidak berhenti, aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, ada bayangan seorang gadis kecil masuk di pintu kamar, melihatku selama beberapa detik, kemudian berjalan pergi. Malam berikutnya aku tidur dengan pintu tertutup."

~oo00oo~

12. My astronout classmate

Xiumin

~oo00oo~

Pengalamanku ini tidak terlalu menakutkan, bahkan, mirip film kartun anak-anak bertema paranormal yang pernah kutonton. Saat itu aku baru masuk tahun pertama kelas 1 SD, aku sangat dekat dengan teman-temanku dari kelas Sekolah Minggu. Jelas kita hanya bertemu satu kali seminggu, tapi kami masih semua mudah bergaul dan cepat akrab. Suatu pagi sebelum gereja, orangtuaku bertanya apakah aku kenal seorang anak bernama Jaehwan di kelas. Aku berkata "Ya, dia teman akrabku," dan mereka bilang kalau anak itu telah meninggal dunia kemarin malam. Orangtua anak itu menemukan Jaehwan mati dalam tidur. Belum diketahui secara jelas apa penyebab kematiannya.

Di usia segitu, aku belum benar-benar paham konsep kematian, jadi aku hanya berkata "Oh" dan tak terlalu ambil pusing. Meski begitu, aku benar-benar paham sepenuhnya bahwa mulai detik ini kami tak akan bertemu Jaehwan lagi.

Seminggu sebelum meninggal, Jaehwan membuat kreasi berupa helm aluminium foil. Dia selalu berlari di sekitar lorong kelas pada saat jam istirahat, sambil berteriak pada semua orang kalau dia adalah seorang astronot.

Jadi di malam hari, setelah orangtuaku bercerita tentang kematiannya, aku berdiri di beranda lalu melihat ke langit, berharap untuk melihat arwahnya melayang ke surga.

Aku bersumpah, aku melihat dia merentangkan kedua lengannya dan terbang melalui awan, dia mengenakan helm aluminium astronot di kepala! Kalian semua akan berpikir itu cuma imajinasi anak kecil yang konyol, dan aku tidak percaya hantu sama sekali. apia pa yang aku lihat malam itu telah terjebak dalam ingatanku sampai sekarang. Aku masih bisa mengingat wajahnya yang tersenyum sampai sekarang. Mungkin dia ingin mengucapkan salam perpisahan dengan cara seperti itu."

.

.

Bonus—

A/N: Haaiii :p halaman ini dibuat cuma untuk iseng aja sih sebenarnya. Itung-itung ngisi waktu. Untuk part berikutnya baru jadi 6K lebih. Heheheh. Ditunggu aja :p. Bakalan saya upload secepat mungkin kok.