Disclaimer : Eyeshield21 belongs to Riichiro Inagaki & Yusuke Murata. Leptop punya emak saya. Listrik nebeng kostan orang. Intinya, saya adalah manusia paling nggak modal yang cuma punya ide ff ini T-T

Warning : OOCness, Shounen-ai, typo(s), struktur EYD berantakan.

Many thanks for : Himeka Kyousuke unloggin, Initial 'R'-kun, Tsukishiro Shieren-chan, Suzuki Honoda, lalalala, kureha-alpha, killer, Micky, Guest, and you!^^

Enjoy!

.

Your Hidden Heart

By Naara Akira

Chapter 4

.

Salakan langit yang masih keruh merobek hening yang merengkuh sebuah ruangan berukuran sedang yang nampak gelap tanpa cahaya lampu. Suara guntur lainnya menyusul, menemani simfoni sang penunjuk waktu yang bernyanyi kesepian dalam ruang yang senyap.

Akaba membiarkan suhu beku ruang dalam kamarnya memeluk tubuh atletisnya yang ia biarkan terkulai di atas ranjang besarnya. Kedua manik crimson tanpa lindungan dark sunglasses menatap jenuh pada langit-langit kamar yang bisu. Kilat kembali berkedip saat sebuah pekikan langit terdengar murka.

Dunia terasa lebih kelam di matanya. Segalanya terasa telah dihisap habis ke dalam black hole. Perasaannya masih cerah hingga tiga jam lalu─sebelum Kakei bersedia berbagi rahasia kecilnya pada Akaba.

Sebelah tangan Akaba merambat, membiarkannya meremat helai rambutnya yang berwarna scarlet. Kepalanya jadi terasa berdenyut saat mengingat wajah pemuda itu─juga memori tiga jam lalu saat bersama dengannya.

-flashback-

Di telinga Akaba hanya terdengar bunyi riuh klakson kendaraan di sepanjang jalan yang padat. Ia merasa ada yang salah dengan fungsi pendengarannya. Ia yakin sekali suara ribut hujan di luar sana membuatnya salah menangkap kalimat yang diucapkan Kakei.

"Barusan kau bilang apa, Kakei-kun?" Akaba kembali memastikan.

Sebuah geraman kecil lolos terdengar dari mulut si bluish. "Jangan buat aku mengulang, Akaba." Ia mendesis halus saat menahan perasaan malunya. Rona kemerahan masih melekat di sepasang pipi putihnya, makin membuat sepasang bola mata merah ace Bando di sebelahnya melebar.

Akaba seharusnya tahu sekeras apa pun ia berkelit, pendengarannya yang tajam takkan pernah berkhianat.

Seorang Kakei Shun telah menjatuhkan hatinya pada seseorang. Yang kini berarti, Akaba telah benar-benar paham apa arti dari patah hati.

"Tertawa saja kalau kau ingin." Kakei melipat lengannya. Secara tak langsung ia tersinggung dengan ekspresi terperanga pemuda di sebelahnya.

"Jadi kau…"

Kakei melepaskan nafas lelahnya. "Kau punya solusi untuk menasihati orang menyedihkan yang bertepuk sebelah tangan sepertiku?" ucapnya, lebih terdengar seperti desahan frustasi. Keduanya bergelut dalam diam, hingga sesaat kemudian Kakei terlihat berjengit sambil mengacak helai azure di kepalanya. "Sial.. aku tak pernah mengira akan menceritakannya pada orang lain."

"Lalu kenapa aku?"

Si nomor 41 menoleh pada yang bersurai merah. Kakei menunggu saat Akaba menatapnya dengan ekspresinya yang selalu terlihat tenang.

"Maksudku, kenapa kau memilih menceritakannya padaku daripada dengan temanmu yang lain?" Ia mendorong kacamata gelapnya lebih dalam.

Sesaat Kakei terlihat merenung. Namun pemuda itu masih menatap lurus sorot yang bersembunyi di balik kacamata gelap Akaba.

"Aku menceritakannya karena aku ingin." Kakei memulai, mengalihkan fokusnya pada apapun selain pemuda yang diam mengunggu kalimatnya tandas. "Dan itu… terserah kau mau percaya padaku atau tidak, tapi aku mempercayaimu," ucapnya pelan, perlahan membuat padangan di sepasang mata birunya melembut.

Ada sebuah hempasan angin yang terasa hangat di antara dinginnya perasaan yang merayapi hatinya. Terasa menyenangkan dan membuat perasaannya makin berkembang. Akaba tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya. Perasaan hangat itu masih belum mampu menghalangi hatinya yang terasa ngilu.

Pemuda bersurai scarlet itu kembali membuat punggungnya menyatu dengan sandaran kursi yang terasa dingin. "Fuu… kau pernah mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanyanya, melemparkan pandangannya pada apa saja yang ada di depannya. Ia berusaha mengacuhkan lubang pada hatinya yang menganga. Gelengan kepala Kakei membuatnya menghela nafas. "Kenapa?"

"Apa kau gila?"Jawaban jujur Kakei membuat sebelah alisnya terangkat, kembali memberikan atensinya pada si bluish. "Itu hanya akan membuat jarak di antara kami semakin melebar."

"Lalu apa maumu, Kakei-kun?"

Pertanyaan Akaba sekilas membuat kelopak matanya sedikit melebar. Sekelompok detik berlalu terlampau lambat sebelum Kakei membuka mulutnya. "Tidak ada."

Akaba menatapnya teduh. "Fuu… dan kau puas dengan keadaanmu saat ini? Apa hanya melihatnya saja cukup untukmu?"

Bening yang memantul di sepasang sapphire Kakei lenyap saat pemuda itu perlahan terpejam. "…ya."

Tanpa sadar Akaba merasa seperti melihat cerminan perasaannya. Ia tak pernah menduga Kakei pun memiliki beban serupa yang dipikulnya sendiri.

Otot wajah si reddish bergerak saat ia tersenyum simpul. "Kufu.. betapa beruntungnya orang itu." Akaba terkekeh, membuat Kakei kembali membuka matanya. "Lalu, kau ingin aku memberikan solusi macam apa untuk 'orang menyedihkan yang bertepuk sebelah tangan sepertimu', hm?" Tawa ringannya yang khas memenuhi setiap sudut mulutnyatawa yang ia paksakan.

"Aku ingin melupakannya."

"Apa?" Nada keterkejutan tak mampu disembunyikan oleh Akaba. Ia langsung menoleh pada Kakei yang kini menunduk.

"Beri tahu aku bagaimana cara melupakannya." Pemuda itu kini menatap langsung wajah terperanga Akaba. "Aku hanya tidak ingin merasa terperosok lebih jauh dari ini."

Sebuah celah kecil kini telah dihadiahkan oleh dewa padanya. Pernyataan Kakei menciptakan segaris cahaya dalam hatinya yang nyaris redam. Akaba masih memiliki sebuah kesempatan untuk membuat sosok di hadapannya beralih padanya. Hanya butuh sedikit permainan katasesuai keahliannya, dan ia akan mendapat apa yang diinginkannya.

"Tewas sebelum berperang, eh? Fuu… seperti bukan kau saja, Kakei-kun."

namun tanpa sadar bibirnya mengucapkan hal yang berbanding balik dengan nalarnya.

Akaba menekan rahangnya dengan kuat. Kepalan tangannya yang tengah terlipat di depan dada mencengkeram masing-masing lengannya. Ia bersumpah akan menyesali keputusan yang telah diambilnya.

"Tidak ingin merasa tersakiti lebih dari ini, itu alasan yang tidak masuk akal, kau tahu. Sesulit apa pun sebuah tangga nada untuk dimainkan, kau akan berhasil menciptakan sebuah rangkaian melodi pada akhirnya. Mungkin tidak akan mulus di awal, tapi kau pasti akan menemukan hasilnya setelah mencoba, bukan?"

Akaba sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang baru saja ia katakan. Ia membuat jebakan untuk dirinya sendiri. Namun yang ia inginkan bukan semata kebahagiaannya. Ia tidak mencari kesenangan bagi dirinya seorang.

Yang ia inginkan adalah senyuman tulus di wajah Kakei. Ia akan melakukannya, meski itu berarti ia telah melepaskan harapan terbesarnya.

Sebuah kerutan terpahat di dahi si pemilik sorot navy. "Terkadang aku kesulitan menangkap apa yang kau maksudkan, Akaba."

Akaba benar-benar akan merutuki keputusannya itu. Sungguh. Ia akan menyesalinya sepanjang hidup.

"Tapi kurasa aku sedikit mengerti apa yang kau sampaikan. Terima kasih, aku akan berusaha."

Namun Akaba takkan pernah menyesali sebuah senyuman yang hanya diberikan padanya saat itu. Apa pun yang dimaksudkan Kakei dengan berusahabaik berusaha melupakan perasaan terpendamnya maupun berupaya mengungkapkan isi hatinya, sekejap Akaba melupakannya.

Ia sudah terhisap dalam ilusi sederhana yang diciptakan Kakei.

-end of flashback-

Sebuah dengusan kasar terdengar halus saat Akaba berusaha memejam paksa kelopak matanya. Sisa ingatan tersebut selalu sukses membuat pemuda itu mengerang frustasi. Ia telah membulatkan tekadnya seiring ia meremat makin kuat helai merah rambutnya. Ia akan belajar menghapus harapannya. Ia akan mengubur perasaannya yang sudah terlampau dalam pada sosok yang kini sudah tak mampu dijangkaunya lagi. Ini takkan semudah yang ia bayangkan─ia tahu itu. Namun tak akan ada yang sia-sia bila ia benar-benar berusaha, bukan?

Sebuah gadget gelap terbungkus pasrah dalam genggaman tangan sang pemilik yang bersedih.

.

Rangkaian kata yang baru saja ditulis dalam sebuah mail dengan sengaja kembali dihapus oleh Kakei. Pemuda itu menggeram saat dengan kasar ia menutup flip ponselnya, membuat benda berwarna biru gelap itu beradu dengan kasur empuk saat Kakei melemparnya.

Dari kursi belajarnya, Kakei meratapi ponselnya yang terbaring di atas ranjang besarnya. Hening beberapa saat sebelum ia menghela nafas berat. "Ini tidak mudah," gumamnya dengan murung, yang terus ia rapalkan sejak satu jam lalu.

Ia menyandar pelan sebelum melempar pandangan matanya ke luar jendela yang menyala saat kilat memekik. Ia telah menimangnya puluhan kali─mungkin ratusan. Ia akan mengikuti saran Akaba. Benar, tidak ada salahnya mencoba. Ia akan menulis mail singkat pada Eyes untuk merancang pertemuan mereka, datang tiga puluh menit lebih awal untuk mempersiapkan hatinya, langsung menyatakan perasaannya, kemudian segera berlari sebelum Eyes sempat menyemburnya dengan kalimat penolakan yang akan menyakitinya.

Yah, mungkin Kakei akan melakukannya.

Yang menjadi perkara baginya, Kakei sadar bahwa Eyes adalah seorang lelaki─yang beberapa petunjuknya ia sadari dari percakapan mereka selama ini─. Hei, tidak ada yang salah dengan menyukai sesama jenis, bukan? Bahkan Kobanzame pernah mengatakan padanya kalau cinta itu buta.

Kelak saat Kakei memuntahkan segala perasaannya pada pemuda yang hingga saat ini pun tidak ia ketahui, ia sudah siap dengan kenyataan bahwa Eyes akan langsung membencinya, dan segera menghilang dari hidupnya. Bagaimanapun Kakei telah sejak lama mengetahuinya. Eyes tidak akan menyambut perasaannya. Hatinya telah jatuh pada orang lain─bukan dirinya. Tapi ia akan bertahan, karena Kakei tahu dirinya tidak lemah. Ia kuat. Tekadnya telah kekal.

Pemuda bersurai biru itu mengayuh satu kakinya agar kursi berodanya menepi pada bibir ranjang. Tangannya menggapai ponsel, kini jemarinya mulai lincah menuliskan sebuah pesan ajakan pada alamat yang telah pasti.

Mengesampingkan tekadnya yang kokoh, fisiknya mulai menyerahkan takdir apa adanya. Kakei termangu pada sebuah tulisan 'send'. Ia kembali ragu. Ibu jarinya terasa kelu di atas tombol 'yes'.

"Fuu… dan kau puas dengan keadaanmu saat ini? Apa hanya melihatnya saja cukup untukmu?"

"…ya."

─ya, ia tidak puas. Melihatnya saja tidak akan cukup untuknya. Ia ingin orang itu mengetahui perasaannya.

Tanpa Kakei sadari, ponselnya bergetar sebagai pertanda pesan terkirim.

Dan pemuda yang dilanda kegalauan itu pun mengerang penuh penyesalan.

.

Sepasang mata merah membuka dengan penuh kejut saat mendengar ponselnya berdering dengan nyaring. Akaba mengerjapkan matanya beberapa kali saat menganalisis sekelilingnya yang asing, sebelum ia menepuk wajahnya sendiri. Ia tidak habis pikir akan tertidur di dalam bathtub. Spontan ia menggigil saat merasakan airnya yang sudah mendingin, dan memutuskan untuk segera berpakaian sebelum tubuhnya benar-benar membeku.

Piyama gelapnya terpasang sempurna saat pemuda itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang merangkul bahu tegapnya. Sesekali ia mencoba mengeringkan rambut merahnya yang masih lembab sembari meraih ponselnya yang sudah kembali terlelap. Pemuda bersurai merah itu menatap datar pada layar gadget-nya yang menampilkan sejumlah pesan dan panggilan tak terjawab dari Kotaro. Tanpa sadar Akaba bersiul akan kegigihan teman satu timnya tersebut saat melihat puluhan miscall dan mail yang memenuhi kapasitas memori ponselnya. Sepasang crimson miliknya berkedip beberapa kali, menghentikan penelusuran kecilnya pada display ponsel yang ia genggam saat melihat mail baru dari Sea tiga jam lalu.

From : Sea

Buona sera. Maaf kalau aku mengatakannya secara tiba-tiba seperti ini. Menurutmu apa besok kau punya sedikit waktu bebas? Keberatan untuk mengunjungi La Café pukul empat sore di stasiun Demon? Aku ingin sedikit mengobrol..

Akaba mengangkat kedua alis merahnya secara perlahan. Ia tidak pernah berpikir akan bertemu dengan Sea di saat-saat seperti ini. Bahkan sekalipun tak pernah terlintas dalam kepalanya bahwa sahabatnya yang pasif itu akan berinisiatif lebih dulu merencanakan pertemuan mereka. Akaba tersenyum simpul pada ponsel dalam genggamannya. Ini akan menjadi pertemuan pertama bagi keduanya. Mungkin ia juga akan sedikit membagi kisah suram asmaranya.

Pemuda andalan tim amefuto sekolah Bando tersebut sedikit berjengit, merasakan ada sesuatu yang ganjil. Akaba kembali membaca kalimat terakhir pada pesan Sea. Ia mengernyit tak senang, mulai merasa khawatir pada sahabatnya itu.

'Apa dia berada dalam masalah?'

Dengan segera jemarinya merangkai kalimat balasan yang tengah ditunggu-tunggu dengan perasaan gundah dari seseorang ber-pen name 'Sea'.

.

Merasakan ada getaran halus dari ponsel yang terbungkus genggamannya, Kakei segera bangkit dari posisi terlentangnya. Kantuk yang sejak tadi berusaha ia tahan kini tandas seketika. Walau ia sudah dapat menebak identitas si pengirim, namun tetap tak dapat menghentikan degup jantungnya yang terus menggila.

Pemilik manik sapphire itu perlahan membuka mail baru yang tertera pada layar ponselnya, secara tidak sadar menahan napasnya dengan gugup.

From : Eyes

Tentu aku tidak keberatan. Aku senggang hingga lusa. Kalau begitu sampai bertemu besok! Ah, rasanya tidak sabar ingin segera bertemu denganmu. ^_^

Mendapati sebaris kalimat terakhir, wajah Kakei menghangat. Sebuah senyuman kecil tak dapat ia tahan lebih lama lagi.

Namun selang beberapa detik kemudian suara erangan lolos dari bibir tipisnya. "Aah, sial! Apa yang sudah kulakukan! Aku harus mulai bicara dari mana nanti!" Ia mengacak frustasi rambutnya yang bersurai senada dengan langit malam itu.

.

-tbc-

.

Well, ternyata saya bolos cukup lama di fandom ini :Q. Maaf atas keterlambatan ff yang malah muncul dengan chapter gaje begini. Saya khawatir feel-nya mulai lenyap. Menurut kalian gimana, minna? '= 3=)a

Reviews are loved! :3