.

.

Uchiha Sasuke yakin akan adanya kebahagiaan yang dianugerahkan Sang pencipta di dunia ini. Kakaknya pernah berkata bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa mengobati rasa sakit yang dialami oleh manusia.

Hatinya yang ditempa rasa sakit, selalu mendambakan kebahagiaan.

Itachi adalah orang pertama yang mengenalkan kebahagiaan padanya. Diakuinya bahwa kebahagiaan itu memberikan ekstasi bagi hatinya. Namun, ketika kebahagiaan itu menghilang maka ekstasinya pun menghilang. Dan yang tersisa hanya hatinya yang kembali digerogoti oleh rasa sakit.

Namun, Tuhan memberinya kesempatan untuk bisa merasakan lagi kebahagiaan. Beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Gaara. Cih! Sasuke membenci pemuda itu. Walaupun dulu ia sempat diberikan kebahagian oleh Gaara. Tapi sekarang tidak lagi. Tidak.

.

.

.

Ecstasy

Warning : AU, OOC, Hard Lime, typos, violence, rape.

Desclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

#Criminal Chapter 4#

By : Rhe Muliya Young

Ini adalah hari ketiga setelah kejadian dimana dia mencumbu Hinata di ruang UKS tempo hari. Entah mengapa ia ingin sekali bertemu dia dan mencumbunya lagi. Memang ia sama sekali belum mengenal gadis bernama Hinata itu. Tapi, mengapa rasanya ia ingin selalu melihatnya, ingin bersama dengannya, dan menyentuh tubuhnya?

Sasuke yakin ada yang salah dengannya, pasalnya selama ini tidak satu–pun makhluk bernama wanita yang berhasil menarik perhatiannya. Tapi, mengapa ia tidak bisa menghilangkan Hinata dari fikirannya? Mungkin Sasuke sudah benar-benar gila seperti dugaan semua orang. Dan kegilaan ini membuatnya berani melakukan tindakan asusila terhadap seorang gadis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari jum'at, adalah hari yang dikhususkan untuk anak-anak yang mengikuti klub. Sasuke, ia tidak tertarik memasuki klub apa pun. Ia hanya berjalan di sekitar koridor yang sepi sambil menenteng ranselnya.

Merupakan pemandangan yang biasa melihat para siswa terkesiap dan menjauh beberapa meter darinya, jika ia sedang lewat di dekat mereka. Dirinya yang memang selalu dikucilkan, tak pernah ambil pusing akan hal itu. Bagi Sasuke, menjauhnya orang-orang itu adalah kesenangan tersendiri baginya. Hingga ia tak lagi mendapatkan gangguan.

Sampai ia berhenti karena mendengar sebuah percakapan. Percakapan dari dua pasang siswa yang terlihat sedang berdiri berhadapan sambil bercakap-cakap di depan loker.

Mereka bisa dibilang bukan siswa biasa. Kedua siswa yang telah masuk kedalam memori otaknya. Dan salah satu siswa itu adalah orang yang baru saja ia fikirkan.

Uzumaki Naruto menyandarkan tubuhnya di loker, melipat kedua tangannya di depan dada, menunggui orang disampingnya sambil mengamati siswa yang berlalu lalang disana.

Sedangkan Hinata berdiri disamping Naruto sambil berkutat dengan buku-buku di lokernya "Naruto-kun, apakah Sakura-san sudah pulang dari rumah sakit?"

Sekilas pemuda itu mengangguk dan mengalihkan pandangannya kearah si gadis yang mengajaknya bicara. "Iya, nanti pulang sekolah kita menjenguknya yuk?"

Hinata terkesiap dan menghentikan aktifitasnya. "Aku sangat ingin menjenguknya, tapi aku harus mengikuti klub tata boga sampai sore. Bagaimana?" Ada raut penuh harap tergambar di wajah ayunya.

Pemuda itu tak tega memandang wajah memalas dari rekannya. "Ya sudah, kita pergi hari minggu saja."

"Um, baiklah."

Dari balik tembok, si pemuda bersurai raven mendengarkan dengan fokus kata demi kata yang terlontar dari mulut sepasang muda-mudi itu.

Naruto adalah orang yang pernah ia kenal, dan gadis bernama Hinata, itu, ? Bukan siapa-siapa, hanya sesuatu yang menarik. Ia tahu, bahwa sesuatu yang menarik bisa memberikan ekstasi bagi hatinya yang mati.

Dengan wajah datarnya, Sasuke berjalan dari balik tembok menampakkan sosoknya pada mereka.

Bola mata safir Naruto memandang tajam dan fokus kearahnya. Sedangkan Hinata menundukkan wajahnya dan terlihat hendak berlalu dari sana. Namun Naruto mencegahnya dengan menarik pergelangan tangan gadis itu.

Sasuke berjalan mendekati mereka, tatapannya lurus kedepan seolah tak melihat mereka. Naruto dan Hinata menahan nafasnya saat sang Uchiha berpapasan dengan mereka. Merasa ketakutan dengannya, seperti yang dilakukan semua orang. Ia hanya melirik Naruto dari ekor matanya saat ia berjalan melewati mereka, tanpa melakukan apapun.

Begitu Sasuke berlalu, kedua orang itu langsung menghirup nafas sebanyak-banyaknya dan dikeluarkan melalui mulut dengan helaan panjang. Naruto yang tadi merasakan tangan Hinata bergetar, mengeratkan genggamannya.

"Tak apa Hinata"

Sang gadis hanya mengangguk sembari mengelap keringat dingin di dahinya yang langsung keluar begitu ia menangkap sosok Sasuke. "Segeralah ke klub, nanti kita pulang bersama, aku tunggu ya?" pria blonde itu menepuk pundak Hinata, membuat sang gadis merona, diikuti anggukan kecil dari kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah menghabiskan waktu selama satu jam setengah di klub tata boga, akhirnya para anggota dipersilahkan pulang oleh pembina mereka. Hinata pun mengepak barang-barangnya dan segera berlalu dari sana.

Saat Hinata tengah melewati ruang-ruang kelas, ia melihat tak ada satu siswa pun disana, dan ia mulai merasa ngeri. Entah mengapa, Hinata merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya disuatu tempat yang tersembunyi.

Tatapannya pun waspada kalau-kalau muncul kepala raven disalah satu ruang kelas. Kurenai-sensei sudah mewanti-wantinya agar langsung menjauh jika ia menangkap sosok itu. Dia pun berjalan sambil terus merapal segala macam do'a agar dijauhkan dari pria itu.

'GREB!'

Hinata langsung menghentikan langkahnya saat merasakan jari manusia bertengger di pundaknya. Jantungnya berdetak tak teratur, tubuhnya menegang, dan sulit bernafas. Yang terlintas dipikirannya saat itu adalah Sasuke?

"Hinata!"

Saat Hinata menolehkan kepalanya, bukan wajah menyeramkan itu yang ia dapati, melainkan senyuman dari seorang gadis berambut pirang, Ino.

"Ayo jalan bersama?"dan helaan nafas kelegaan keluar dari Hinata.

"Baik Ino-san" entah apa jadinya kalau itu bukan Ino.

Mereka berdua pun berjalan bersama sampai di dekat gerbang. Tampak disana sosok Naruto dan Kurenai-sensei yang sedang bercakap-cakap dengan seorang pria dewasa berambut pirang yang dikenal dengan nama Tuan Yamanaka–ayah Ino yang biasa mengantar jemput anaknya.

Mereka bertiga menoleh kearah dua gadis itu. Ino langsung berhambur kearah ayahnya, sedangkan Hinata berjalan kearah Kurenai-sensei dan Naruto. Tak lama kemudian, Tuan Yamanaka langsung berpamitan, dan Ino hanya melempar senyum perpisahan pada mereka.

"Kalian akan kuantarkan pulang" Hari ini sepertinya Asuma–tunangan Kurenai-sensei menjemputnya, jadi guru itu berfikir untuk sekalian mengantar pulang Naruto dan Hinata.

"Sensei, apa kami tak merepotkan?" tanya Hinata dengan lugunya.

Gurunya itu hanya tersenyum sambil mengelus rambut indigo sang murid. "Tak apa, sepertinya malah sensei yang mengganggu kebersamaan kalian" guru ramah itu mengerling kearah Naruto, membuat anak itu salah tingkah dan menggaruk-garuk belakang kepalanya.

Hinata langsung menyadari maksud dari kata-kata itu dan ia merona. Malu-malu ia mencuri pandang kearah Naruto dan ia tak sengaja memperhatikan jam warna orange dipergelangan tangan Naruto. Sama persis seperti miliknya, karena memang itu hadiah dari Naruto untuknya yang saat ini juga sedang ia pakai.

Hinata pun menoleh kearah pergelangan tangannya sendiri. Namun matanya membelalak saat mendapati jamnya menghilang. Bukankah tadi ia telah memakainya? Hinata menepuk dahinya sendiri. Ia ingat tadi melepas benda itu saat mencuci tangan sehabis membuat kudapan di klub tata boga. Sepertinya ia lupa memakai kembali jam tangan itu.

"Ada apa Hinata?" Naruto heran mendapati raut kecemasan diwajah Hinata. Kurenai-sensei pun menengok kearahnya juga. Hinata bermaksud untuk mengambil benda yang baginya sangat berharga itu, "Jamku tertinggal di ruang klub tataboga" mendengar itu, Naruto membulatkan mulutnya.

"Kau bisa mengambilnya, lagi pula paman Asuma baru akan datang sepuluh menit lagi kok" kalimat Kurenai membuat Hinata lega.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan ia pun segera berlari kembali kedalam sekolah melewati kelas-kelas kosong itu lagi. Ia terus berlari, tanpa melihat kesekitarnya karena pandangannya tertuju pada ruang klub di ujung ruang kelas nun jauh disana. Dia tak ingin membuat Kurenai-sensei menunggu, makannya ia berusaha secepat mungkin.

Saking fokusnya ia berlari, ia tak menyadari sebuah kaki yang sengaja menjulur di jalan. Hinata pun tersandung kaki itu, sehingga tubuhnya hilang keseimbangan dan terbanting dilantai lalu jatuh tengkurap.

Hinata berusaha mengangkat tubuhnya yang terasa sakit, apalagi bagian dada dan lutut yang lebih dulu membentur lantai saat terjatuh barusan. Dengan susah payah, Hinata akhirnya bisa bangkit dan berdiri.

Namun, ia merasa punggungnya menyentuh tubuh seseorang dibelakangnya.

Tubuhnya membeku seketika, dan matanya membelalak ketakutan. Orang yang ada dibelakangnya melingkarkan kedua tangan dipinggang Hinata, membuatnya merapat didada bidang orang itu. Bulu kuduknya merinding saat nafas hangat menerpa tengkuknya.

'Lepaskan' Hinata membuka mulut, namun tak ada suara yang keluar dari sana. Apa yang terjadi? Kenapa suaranya tiba-tiba saja menghilang? Tangannya berusaha bergerak, namun kenyataannya tak ada gerakan. Ia tak dapat mengeluarkan suara atau pun menggerakkan tubuhnya.

Ia mati rasa, dan kesadarannya perlahan menghilang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Perlahan-lahan Hinata membuka matanya, namun pandangannya sedikit buram. Ia mengerjapkan kedua bola matanya. Saat pandangannya mulai jelas, ia melihat sosok itu–Sasuke– yang berada diatas tubuhnya dan tengah menatapnya dengan tajam.

"AH!"

Gadis itu terkejut mendapati sosok Uchiha Sasuke menindihnya. Tak mau berakhir seperti sebelum-sebelumnya, ia menggerakkan tangannya memukuli wajah atau pun bagian tubuh pria itu dengan brutal. Ia bisa mendengar erangan jengkel dari mulutnya.

Kesal, Saskue langsung mencengkram pergelangan tangan Hinata, mebuatnya tak berkutik. "Kau sudah berani mengadu?!" Kedua mata hitam itu seolah menusuk-nusuk Hinata terus menerus. Ia tak sanggup melakukan kontak mata, makannya ia hanya memejamkannya.

Tubuh Hinata bergetar dan airmatanya yang coba ia tahan lolos begitu saja. "T-t-ti-dak, m-m-ma-af-kan a-a-ku". Uchiha muda itu menguatkan cengkramannya membuat Hinata makin kesakitan.

"Kalau kau mengadu, kau akan menyesal!" Ia menyeringai setan dan menambahkan kekuatan cengkramannya lagi, membuat gadis itu mengaduh.

"Ma'afkan aku, aku mohon...ma'afkan aku." Kali ini cengkraman jari-jari kuat si pria benar-benar menyakiti jari-jari mungil milik Hinata.

"S-s-sa-sakit"

Sasuke membelalak mendengar kata-kata Hinata. Tubuhnya langsung bergetar, dan nafasnya tercekat. Seketika kepalanya sakit bukan main. Ia langsung melepas cengkramannya di tangan Hinata dan menggunakan tangannya untuk meremas helaian raven dikepalanya. Matanya terpejam erat, dan sekilas bayangan masalalu muncul menghantuinya.

FLASH BACK

.

.

.

.

Sasuke kecil duduk bersimpuh diranjang kakanya sambil terisak, "Itachi...nii...san...!" Sasuke menunjukkan punggung mungilnya yang lebam berwarna biru akibat dipukul oleh ayahnya. Lukanya terlihat lembab. Pasti adiknya itu baru saja dikurung dalam kamar mandi. Itachi mengedarkan pandangannya keseluruh tubuh Sasuke dan ada ruam kemerahan di pergelangan tangan kurusnya.

Itachi melepas singlet yang dikenakan adiknya dan memandang nanar luka lebam kebiruan yang nampak jelas. "Kesalahan apa yang kau lakukan Sasuke?"

"Ayah bilang aku tak boleh main sepak bola–, sepulang sekolah harusnya belajar. Padahal aku 'kan sudah mengerjakan semua PR-ku."

"–Hiks– Tapi ayah malah memukulku! Ayah jahat!hiks Dia terus memukulku kak!hiks"

Sasuke yang masih SD mengadu panjang lebar pada kakaknya yang sudah SMP, seperti biasa.

"Tidak apa-apa Sasuke, nii-san akan obati."

Sasuke belum berhenti dari tangisnya, ia remas dada sebelah kririnya yang sesak akibat terisak. "Tapi, aku...aku...hiks...sakit– disini–rasanya benar-benar sakit!"

Itachi mengelus-elus punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. Selama ini dirinyalah tempat Sasuke mengadu. Ia tahu, sudah sangat tahu akan perangai ayahnya yang tak suka dibantah dan perangai Sasuke yang keras kepala. Bila sudah tak bisa diperingati mulut, maka tangan bertindak.

Awalnya Itachi diam saja, dan menganggap hal itu wajar apabila orangtua memarahi dan menghukum anaknya. Namun, ia benci cara Fugaku. Sasuke bukannya akan berubah, justru Itu hanya akan membuatnya semakin brutal. Ia sebagai kakaknya ingin sekali membantunya.

Itachi selalu berfikir bahwa kekerasan bukan cara untuk menangani Sasuke. Namun, ia percaya bahwa kasih sayang dan cinta bisa membantunya. Dan Itachi bisa memberikan dua hal itu pada Sasuke.

Itachi menarik tubuh Sasuke dengan hati-hati agar tidak menyakitinya, dan memeluknya dengan erat. Ia berharap apa yang dilakukannya bisa membuat Sasuke lebih tenang dan bahagia.

"Sasuke, aku akan menghilangkan kesakitanmu."

FLASH BACK END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tiba-tiba Sasuke tertawa terbahak-bahak, membuat Hinata terkesiap kaget dan membuka kelopak matanya. Uchiha Sasuke memandanginya dengan matanya yang berkaca-kaca, tatapannya lembut dengan wajah yang dihiasai senyuman yang bagi Hinata terlihat menakutkan.

"Aku akan menghilangkan kesakitanmu".

Dan tanpa aba-aba, Sasuke langsung merobek seragam yang dikenakan Hinata.

"AHHH!"

Hinata teriak sekeras-kerasnya sampai tenggorokannya nyeri. Ia gunakan lagi tangannya untuk memukuli si Uchiha itu sekuat tenaga. Tapi, pria itu hanya mengeluarkan erangan tidak suka. Hinata berusaha menghalangi tangan Sasuke yang berusaha meyentuh tubuh bagian atasnya.

Kali ini Hinata mencoba menggerakkan kakinya, saat Sasuke makin mendekatkan wajahnya mencoba mencari celah mendekati bibir Hinata. Meski awalnya ragu, Hinata mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk menendang bagian intim Sasuke.

"DUG!"

Sasuke mengerang kesakitan, tubuhnya langsung ambruk kebelakang. Hinata yang ter-engah tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bangkit dengan susah payah dan berlari sekuat tenaga.

'GREB'

Sialnya, tangan Sasuke langsung mencengkram pergelangan kaki kirinya saat Hinata sedang berlari melewatinya. "Lepaskan!" Hinata menarik kakinya agar bebas dari cengkraman Sasuke. Meskipun Sasuke luar biasa kuat, Hinata tak menyerah sampai disitu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menarik sekuat tenaga kakinya. Hingga membuat alas kaki yang dikenakan Hinata lepas. Sepatu pantopel yang dikenakannya kini ada di cengkraman Sasuke, namun kakinya telah bebas.

Hinata belum bisa bersyukur, karena Sasuke sudah mulai bangkit.

Hinata berlari dari tempat yang ternyata atap gedung sekolah itu sekuat tenaga. Ia tak ingin Sasuke menandapatkannya lagi. Saat menuruni tangga, Hinata sempat terjatuh karena kekikukkannya. Hal itu justru membuat Sasuke semakin mendekat padanya.

Airmatanya masih setia mengalir terus-menerus tanpa henti. Hinata masih berlari, saat ini ia melewati belokan sebelum sampai tangga menuju lantai satu. Nafasnya tersengal-sengal, akankah ia bebas darinya? Tuhan! Tolonglah dia!

Rupanya do'anya terkabul, saat ia berbelok ia mendapati sosok gurunya dan sahabatnya, Kurenai-sensei dan Naruto.

"HINATA!"

Mereka terkejut melihat penampilan Hinata. Rambutnya kusut, kemejanya robek dan ia hanya mengenakan sebelah sepatu.

Hinata langsung memeluk erat sang guru. Kurenai dapat merasakan tubuh muridnya itu bergetar hebat, dia menangis terisak dan tangannya mencengkram erat baju Kurenai. Kurenai tentu saja panik, "Hinata, ada ap-"

Kurenai dan Naruto makin terkejut saat didapatinya sosok pemuda berambut raven muncul dengan ter-engah-engah sambil membawa sepatu pantopel yang mereka yakini milik Hinata.

.

.

.

.

TBC

"Pretending to accept, so hard"

From : Rhe Muliya Young with love