Disclaimer:

Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi

Cover's not mine

Rate:

Gak akan nambah, sampe kapanpun

Warning:

Yaoi . Sho-ai . Male x male . INCEST! Probably OOC . Misstypo(s)

Enjoy ~


Suara dari ponsel Kiyoshi memecah heningnya pagi itu. Yuuya, yang sudah bangun duluan dibanding Kiyoshi, mengambil ponsel kakaknya. Jangan tanya, kenapa Yuuya kembali tidur di kamar Kiyoshi.

Tidak, orang tua mereka ada di rumah. Tapi Yuuya tetap memaksa ingin tidur dengan Kiyoshi dengan dalih, "Ingin mengerjakan tugas dengan Aniki."

Modus, Yuu, modus.

Tapi, apa yang dibacanya di ponsel Kiyoshi membuat moodnya memburuk pagi ini.

.

.

.

"Yuuya! Cepatlah, nanti kutinggal!" Kiyoshi berteriak dari pintu depan.

"Duluan saja..." Balas Yuuya. "Nanti aku berangkat sendiri."

Lho, tumben? Kiyoshi sampai bingung dengan sikap aneh adiknya hari ini. Biasanya ia memaksa agar Kiyoshi mau menunggunya, dan akan dibalas oleh ucapan cuek dari Kiyoshi. Dan sekarang, Yuuya malah menyuruh Kiyoshi untuk berangkat duluan.

Kiyoshi bingung.

Cie, bilang aja pengen berangkat bareng Yuuya, tsun...

Tapi Kiyoshi tidak ambil pusing. Daripada telat masuk, lebih baik ia berangkat duluan daripada menunggu Yuuya yang masih sibuk dengan ponsel Kiyoshi.

Tapi, si pemilik ponsel itu tidak sadar kalau ponselnya tidak ada padanya.

.

.

.

Sampai ketika bel istirahat Shuutoku berbunyi, Kiyoshi baru sibuk mencari-cari ponselnya. "Dimana ponselku?" Ia menggeledah tasnya, sampai sudut-sudut tersembunyi pun ia cari. Tapi nihil.

"Apa..." Kiyoshi terdiam sejenak, tiba-tiba terpikirkan siapa yang membawa ponselnya. "Tsk, Yuuya."

Segera saja ia berjalan ke kelas Yuuya, walaupun sebenarnya malas untuk bertemu dengan adiknya di sekolah. Sesampainya di kelas Yuuya, benar saja dugaannya.

Yuuya masih asyik bermain dengan ponsel Kiyoshi.

"Yuuya!" Kiyoshi menyerukan nama adiknya. "Kenapa ponselku ada padamu? Kembalikan!"

Beberapa siswa yang masih berada di dalam kelas, mundur teratur ke luar kelas karena masih sayang nyawa. Ayolah, pertengkaran antara Miyaji bersaudara? Mendingan pergi ke kantin dan makan dengan damai.

"Aniki..." Yuuya tidak mempedulikan kata-kata Kiyoshi sebelumnya. "Boleh aku tanya sesuatu?"

Kiyoshi menatap adiknya dengan bingung. "Tanya saja. Tidak biasanya kau meminta izin seperti ini untuk bicara."

Yuuya menunjukkan ponsel Kiyoshi yang ia pegang agar Kiyoshi melihatnya...

... melihat pesan dari seseorang yang membuat Yuuya cemburu berat dengan kakaknya.

"Kenapa kau saling bertukar pesan dengan Hayama Kotarou dari Rakuzan itu? Kita musuh, bukan?! Kau pernah dikalahkan olehnya, bukan?!" Yuuya asal menuding Kiyoshi.

Ah, Yuuya, kau harus belajar untuk bersikap lebih sopan pada kakakmu itu. Lihat, sekarang Kiyoshi jadi badmood sendiri diingatkan lagi soal kekalahannya dari Hayama.

"Aku tidak bertukar pesan dengannya! Dia yang mengirimiku pesan, dan aku bahkan tidak tahu dia mendapatkan nomorku darimana!" Kiyoshi menjelaskan dengan kesal. "Lagipula, apa masalahnya denganmu?!"

"Ini jelas masalah buatku!" Yuuya menggebrak meja miliknya. "Seenaknya saja pemuda Rakuzan itu mengirim pesan kepada orang yang kucinta begitu saja! Suruh dia datang ke sini, kita lihat siapa yang akan berhasil merebutmu!"

Yuuya sepertinya mulai lupa daratan, bahkan lupa kalau kakaknya sedang berdiri di depannya. Kiyoshi tidak mau ambil pusing dengan tingkah Yuuya. Ia segera menyambar ponselnya dan kembali ke kelasnya, mengabaikan teriakan dari Yuuya yang terus memanggilnya.

Ah, Kiyoshi. Apa memang kau ada 'sesuatu' dengan pemuda Rakuzan tersebut?

.

.

.

Yuuya benar benar dalam mood yang buruk. Sepanjang pelajaran di kelas ia tidak memperhatikan gurunya berbicara. Latihan hari ini pun bagaikan neraka bagi anggota tim basket Shuutoku karena mood buruk Yuuya.

Bahkan Midorima pun tepar!

Bayangkan saja latihannya seperti apa. Tidak, author tidak ingin membayangkannya.

Sepulang latihan pun Yuuya tidak bertemu dengan Kiyoshi. Tidak apa apa, batin Yuuya. Mungkin Yuuya juga belum tahu harus memasang wajah seperti apa ketika bertemu Kiyoshi nanti.

"Yuuya..."

Ah...

Ternyata Kiyoshi pulang cepat-atau lebih tepatnya, sengaja pulang cepat dan menunggu Yuuya keluar dari gymnasium. Banyak hal yang mengganjal dalam pikirannya.

"Catatanmu sudah selesai?" Entah kenapa, setiap kata yang Yuuya ucapkan hari ini begitu ketus, tidak lembut seperti biasa kalau mereka bicara berdua. "Tidak langsung pulang? Atau kau menunggu pangeran dari Kyoto datang menjemputmu?"

Kiyoshi menghela napas pelan, mencoba bersabar dengan tingkah adiknya ini. Kenapa adiknya sampai seperti ini? Cemburu?

"Yuuya, kau ini sebenarnya kenapa?" Kiyoshi terus memaksa Yuuya untuk buka mulut dan menjelaskan kenapa ia begitu cemburu. Hayama? Bukan ia yang memulai chat, tapi Hayama yang memulai. "Sudah kuberitahu aku dan Hayama sama sekali tak ada hubungan apa-apa!"

"Lalu darimana dia mendapat nomormu?!" Amarah Yuuya tidak dapat dibendung lagi. Bibir yang biasa berucap lembut pada Kiyoshi itu kini berubah menjadi membentak sang kakak. "Dan kenapa kau menanggapinya?! Bahkan e-mail dan pesan dari gadis-gadis yang menyukaimu saja tidak kau balas!"

Kiyoshi sudah ingin menjelaskan kembali, tapi ia sadar kalau perdebatan ini tak akan ada habisnya. Maka dari itu, Kiyoshi memilih untuk berbalik dan tak menanggapi Yuuya. Maka dari itu, Kiyoshi memilih untuk berdiam diri mendengar teriakan marah Yuuya.

Maka dari itu, Kiyoshi lebih memilih untuk pulang terlebih dulu dan meninggalkan Yuuya yang masih menatap punggungnya dengan tatapan marah.

.

.

.

Padahal orang tua mereka pergi, tapi ini tidak seperti biasanya. Yuuya mengunci diri di dalam kamar, entah kenapa ia begitu cemburu. Entah kenapa ia begitu menganggap Hayama sebagai saingannya.

Dan Kiyoshi hanya berdiam di kamar, memakan makanan ringan sambil menonton video Miyu Miyu kesukaannya.

Atmosfernya benar-benar berat.

Tidak biasanya Yuuya ingin tidur sendiri. Ini bertentangan sekali dengan prinsipnya, dimana kalau tak ada orang tua, mereka harus dan wajib tidur bareng! Yuuya sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu marah hanya karena kakaknya saling bertukar pesan dengan Hayama.

Apa karena mereka musuh?

Atau...

... Yuuya, yang terlalu mencintai Kiyoshi?

Yuuya segera keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar Kiyoshi dengan tidak sabaran, membuat si pemilik kamar terkejut. "Yuuya!" Kiyoshi sepertinya akan marah. "Bisakah kau tidak ribut?!" Kan...

Yuuya tak mempedulikan omelan Kiyoshi. Ia segera mematikan video yang sedang ditonton Kiyoshi, dan tentu saja itu menuai protes dari orang yang tengah menikmati tontonannya.

"Yuu-"

Dan Kiyoshi langsung terdiam begitu Yuuya menariknya ke dalam pelukannya. Erat... dan hangat. Ah, ada sedikit perasaan posesif di dalam pelukan itu.

"Siapapun... tak ada yang boleh mendekatimu!" Yuuya menjadi semakin posesif saja pada kakaknya ini. "Kau ini milikku!"

Kiyoshi sudah ingin protes karena alasan klise, mereka saudara. Tapi, berada di dalam pelukan hangat seorang Yuuya membuat dirinya kembali tenang. Adiknya sudah kembali seperti biasa.

Atau karena Yuuya emang gak bisa tidur tanpa Kiyoshi? Entahlah, tanyakan pada rumput yang melambai.

"Maaf, seharusnya aku tak menambah beban pikiranmu." Yuuya merasa bersalah, ingat kembali kalau kakaknya akan mengikuti ujian masuk universitas. "Aku terlalu kalut, maafkan aku."

Kiyoshi tertawa pelan mendengar kalimat adiknya itu. "Apa-apaan kau ini, Yuuya? Meminta maaf itu bukan dirimu sekali." Ya, demi kamu, Kiyoshi.

"Kiyoshi, ayo tidur di kamarku." Ajak Yuuya. Benar, kan, Yuuya memang tidak bisa tidur tanpa Kiyoshi. Apalagi kalau orang tua mereka tidak ada.

"Memangnya kenapa di kamarku, hm?"

Mereka langsung memperhatikan sekeliling kamar Kiyoshi. Benar-benar seperti fanboy alay sih kamarnya. Dakimakura, poster, DVD, merchandise, dan lain-lain numpuk jadi satu. Duh, yang ada Yuuya gak bisa tidur gara-gara takut ngerusakin barang-barang di sana.

Kadang Yuuya bingung, gimana Kiyoshi bisa tidur di kamar seperti ini? Ya walaupun kamarnya juga berantakan sih.

Ngaca, makanya.

"Sudahlah, di kamarku saja!" Yuuya menyerah menarik-narik tangan Kiyoshi. Maka dari itu, langsung saja Yuuya mengangkat tubuh Kiyoshi. Iya, Yuuya menggendong Kiyoshi ala pengantin baru.

Kapan, ya?

Kapan mereka nikah?

"YUUYA! TURUNIN GUE CEPETAN!" Wajah Kiyoshi udah gak karuan merahnya digendong kayak gitu sama Yuuya. "Yuuya! Aku bisa jalan sendiri!"

Yuuya lagi, mana mau dia nurutin Kiyoshi. Sifat keras kepalanya saja mirip dengan pemain Rakuzan nomor 7 yang lagi dicemburuin sama dia. Jadi dia hanya pura-pura tidak mendengar dan masuk ke dalam kamarnya.

Dan membaringkan tubuh Kiyoshi di atas ranjang.

Dan selanjutnya...

AMAN KOK AMAN, BULAN PUASA HAHAHAHAHA! /tolong abaikan author yang gila ini/

Selanjutnya, Yuuya hanya mencium sekilas bibir Kiyoshi. Yuuya masih ingat batas kok. Kalian aja yang ngebaca ini pada mesum. Hih...

/seketika author digebukin/

"Yuuya!"

"Urusai." Yuuya tidak mau diprotes. Ia langsung saja menyusul berbaring di samping kakaknya. Dan langsung saja menarik Kiyoshi ke dalam pelukannya. "Oyasumi, Kiyoshi."

Belum sempat Kiyoshi mau protes lagi, Yuuya udah molor duluan. Kiyoshi akhirnya hanya bisa menghela nafas, sambil curi-curi kesempatan memperhatikan wajah tenang Yuuya yang tengah tertidur.

Ah, padahal tadi sore dia masih marah dengan Kiyoshi.

Dan sekarang Yuuya sudah kembali memeluk Kiyoshi dengan sayang.

Kiyoshi mencuri-curi untuk mengecup lembut bibir Yuuya, tanpa sadar kalau adiknya itu hanya pura-pura tertidur. "Oyasumi mou, Yuuya."


TBC :3


Yo! /nyiapin tameng/

Ini naskah udah membusuk di hp, maap alay. Yuuya yang cemburu itu unyu. Maap yak, absurd gini ceritanya. Duh, dibilangin goloknya taro dulu napa...

Maaf lama ya, gak ada ide sama sekali. Maaf juga, udah janji janji gono malah gak ditepatin... /dasar/

Maaf ya, malah ngebikin 'Itterashai, aishiteru' duluan daripada ngelanjut ini... /promo berkedok maaf/

Yowislah, review, minna? ;3


Balasan review udah di pm ya, yang tanpa akun kubalas di sini :3

Pfft(ini nama apaan?): Iya, Yuuya kan kuwadh :3 kuwadh aja kalo soal Kiyoshi mah~ /ini apa sih/ thanks for review ;3

Haqua: Semoga mimpiin Miyaji deh x'D thanks for review ;3 oya, soalnya di mataku sifat mereka emang kayak gitu. Duh, dikutuk Kiyoshi deh saya, ngebikin dia jadi lebih kawaii dari adeknya :"v