Unpredictable Love
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Gaje, OOC, typo's everywhere
Rating : StiLL T kok *nyengir kuda*
Chapter 4
.
.
.
"Sai," Sakura mengangkat satu tangannya yang bebas ia tersenyum lembut.
Menyadari tidak ada perlawanan, Sai memutuskan untuk menghentikan kegiatannya sejenak –mencium leher jenjang Sakura. Matanya terbelalak . Sakura, gadis yang hampir ia lakukan hal yang tidak senonoh ini malah memeluknya lembut.
"Daijoubu yo Sai… Semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya masih tersenyum lembut. Sai tau itu,walaupun tidak melihat ia tau. Dulu ia sering melakukan hal ini padanya dan mengatakan hal yang sama. Raut wajah Sai kembali datar. Ia membalas pelukan Sakura dalam diam.
Kringggggg_!
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah selesai. Sakura perlahan melepaskan pelukannya kemudian mengusap pucuk kepala Sai.
"kau juga tidak berubah Sai,hanya sedikit lebih tinggi." Ucapnya nyengir kuda setelah merapikan diri ia pun melesat pergi mendahului Sai. "cepat! Atau kau akan terlambat masuk kedalam kelas lho…" teriaknya seraya berbalik, kemudian kembali berlari meninggalkan Sai. Sai membalas dengan senyuman singkat. Setelah Sakura menghilang dari sana,raut wajah Sai berubah. Ia memegang setengah wajahnya,mencengkram poninya. Ia kelihatan terluka.
Sreek… Sreek…
"Kenapa?" Tanya sosok yang baru keluar dari persembunyiannya. "kenapa kau menganggu hubungan mereka? disaat Sakura sudah mulai melupakan dia!? " Lanjutnya kali ini dengan inotasi tinggi. Raut wajah cantik miliknya pun tetap tidak luntur walaupun menampakan kesedihan.
"aku tidak akan menyerah. Kau tau aku sudah menyukainya sejak hari itu kau seharusnya ada di pihakku Ino." Setelah berkata demikian Sai pun meninggalkan Ino sendirian yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Di sisi lain, Sakura terus berlari, rasanya ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kelas dan bertemu kedua pria yang hampir membuatnya gila hari ini. HELL-NO! ia mungkin lebih memilih bolos dan di hukum. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. Dipegangnya dada di bagian kirinya. Liquid-liquid bening pun ikut lepas dari ujung ekor matanya.
Bugh…!
"aww… Hei, kau tak punya_ Ahh… Maafkan aku he… hei_" Panik seseorang yang tadinya ditabrak Sakura, ia tentu panik melihat gadis yang seharusnya meminta maaf karena menabraknya malah menangis.
"Hu… Hikz… Ma..maaf…hikz…HUAAAA!" dan tangis yang sedari tadi ditahan Sakura pun mengalir dengan deras.
O
O
O
"Sudah agak baikan?." Tanya sosok itu kepada Sakura. Kini mereka duduk berhadapan diruang UKS. Sakura yang masih sesegukan mengangguk
"Hhh~ sudah saatnya kembali kekelas." Ucap pria itu berdiri dan akan bersiap-siap pergi, tapi diurungkannya ketika ia menyadari ujung baju yang dikenakannya digenggam Sakura.
"temani aku disini hikz…" ucap Sakura dengan nada yang kecil, tapi masih bisa didengar oleh pria itu. pria itupun mengerutkan dahinya.
"huh? Apa? yang benar saja?"
"Kumohon…"
Pria itu ingin sekali kembali protes. Tetapi saat ia menatap kembali wajah pilu Sakura rasanya tidak tega. Pria itupun menghela nafas berat.
"apa boleh buat, ayo!" ajak pria itu seraya menarik lengan Sakura.
"ma-mau kemana?"
"bersenang-senang, hari ini kita bolos!."
O
O
O
"Se-sebenarnya apa tujuanmu? Hyaa! Aku takut anjing!" teriak Sakura, ketika seekor hewan yang merupakan teman sejati manusia itu mendekatinya. Ia pun bersembunyi dibelakang pria yang membawanya.
"hahaha…" Pria itu tertawa. "Kiba, panggil saja Kiba. Kita belum memperkenalkan diri."
"Haruno Sakura, O.k Kiba, sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari?."
"hanya ingin sedikit menghiburmu. Lihat! Tingkah mereka menggemaskan bukan?." Ujar Kiba sambil menunjuk kira-kira ada sembilan ekor anjing didepannya.
"Aku tidak terhibur sama sekali, mereka menakutkan…Hei!, mau apa anjing putih ini. ia terus menatapku."
Sakura berusaha mengusir anjing putih didepannya yang terus menerus menatapnya sejak ia tiba disini. Kiba yang melihat aksi mengusirnya pun hanya bisa tertawa.
"yang itu namanya Akamaru, sepertinya ia tertarik padamu." Jelas Kiba. Ia pun menggendong anjing putih itu. "Nah, coba pegang."
"Eh, tidak mau" tolak Sakura, ia menatap anjing itu dan mengernyitkan alisnya.
"Tenang saja, kau tidak akan kena rabies dengan hanya menyentuhnya." Ujar Kiba nyengir. Dia pun menyodorkan Akamaru didepan Sakura.
"Tentu aku tau itu, hanya saja_" Sakura meneguk ludahnya dengan susah. "baiklah, akan kucoba…" Sakura pun perlahan-lahan mendekatkan tangannya kekepala Akamaru.
Tuk
Jari sakura telah menyentuh kepala Akamaru dan Sakura pun mulai memberanikan diri untuk mengusapnya. Senyum sumringah Sakura nampak ketika Akamaru membalas usapan Sakura dan menjilat-jilat jarinya. Kiba yang melihat perubahan expresi itu hanya bisa terkekeh geli.
"sudah kubilangkan?, bagaimana kalau sekarang kita bermain ditaman pusat?." Ajak Kiba yang dibalas oleh anggukan Sakura.
O
O
O
Ceklek.
"Aku pulang~ " ucap Sakura ketika dia memasuki apartemen miliknya dan Naruto.
Naruto?
"oh ia Naruto, kemana dia?." Inner Sakura seraya mengelilingi pandangannya di apartemen itu. matanya menangkap sepasang sepatu di rak. Ia pun berasumsi Naruto sudah ada didalam. Ia pun berjalan menuju ruang tengah dimana ia melihat seseorang sedang duduk diam di sofa jingganya.
"Hai?" Sapa Sakura Kaku.
"darimana saja? Tanya sosok itu tidak membalas Sakura, ia masih menatap meja didepannya.
"dari taman." Jawab Sakura singkat. Ia merasa Naruto marah dibuktikan dari datarnya nada bicaranya. Sejenak ada terlintas rasa takut, apalagi mengingat kejadian diatap sekolah siang tadi yang meninggalkannya dan melingkarkan tangannya dilengan Sai. Sakurapun menepuk jidatnya. Mengapa ia melakukan hal itu? itu terjadi secara tidak sengaja. Saat itu dikepalanya penuh tentang cara untuk kabur dari Naruto. Dadanya berdegup kencang.
Naruto bangun dan perlahan berjalan mendekati Sakura. Sakura pun hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat dan membayangi apa yang akan terjadi pada dirinya.
Grep
Naruto memeluk Sakura. Sontak sakura membelalakkan matanya. Naruto memeluknya? Sebenarnya apa yang dipikirkan Naruto? Apa maksudnya? Bukankah dia marah?.
Masih dalam pikirannya, Sakura gelagapan tak jelas, ia menjadi salah tingkah.
"diam sebentar." Perintah Naruto. Ia mengelus-elus punggung Sakura yang membuat Sakura bergidik. "sudah tenang?" tanyanya kemudian.
"eh!?" Sakura mengerutkan dahinya.
"Ja-jangan salah paham dulu, aku melakukan ini karena sepertinya kau marah padaku. Ibuku dulu menggunakan cara ini untuk menenangkanku jika aku marah atau sedih." Jelasnya gelagapan. Seperti caraku menenangkan Sai. Inner Sakura tertawa.
"dan caramu sia-sia. Aku tidak marah tau!, sebaliknya, aku kira kau marah padaku karena meninggalkanmu diatap tadi."
"aku memang marah…"
"eh ?"
"Sudah, lupakan saja." Naruto memalingkan wajah.
Mereka masih dalam posisi berpelukan. Tangan Sakura yang tadinya disisi kiri dan kanannya perlahan ia angkat dan meletakkanya dipunggung Naruto-membalas pelukan pemuda itu. menyadari itu Naruto tersenyum.
"permintaanku siang tadi berlebihan ya?" Tanya Naruto.
"Maksudmu?" Tanya Sakura balik. Ia mengernyitkan alisnya.
"maksudku memintamu memanggilku dengan embel-embel Kun."
"Apa? jadi kau kira aku marah karena hal itu?." Sakura mulai menahan tawa.
"apalagi memangnya?" ucap Naruto polos.
Pfftt~~~
"HUAAAHAHAHAHA…!" Tawa Sakura menggelegar. Ia tidak bisa menahan tawanya lagi. Pria didepannya ini memang tidak peka ya?.
"He-hei! Jangan tertawa!." Naruto berusaha membekap mulut Sakura. Tapi karena masih dalam posisi yang tidak memungkinkan-berpelukan. Ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh menindih Sakura. Tawaan Sakura berubah menjadi teriakan dan sedetik kemudian keduanya terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain.
Sapphire dan emerald.
Seakan terhipnotis, Naruto mempersempit jarak diantara mereka. Perlahan tapi pasti, bibir merekapun akhirnya bersentuhan, memberikan sensasi tersendiri bagi keduanya. Sakura menikmati lumatan-lumatan penuh yang diberikan Naruto . ia terbuai, bahkan ketika tangan kiri Naruto mulai menelusup masuk melalui seragam yang ia kenakan. Ia tidak sadar.
"Sakura…"
suara Baritone terlintas dikepala Sakura. Gadis itu tersentak, lalu segera mendorong pria itu menjauh.
"Hentikan…" liquid-liquid bening pun kembali turun.
"Maafkan aku_ Oh-hei!" belum sempat selesai bicara, Sakura sudah lari memasuki kamar.
Blam!
Pintu pun ditutup.
Uzumaki Naruto menunduk dalam. Tangannya yang menggantung disisi tubuh mengepal kuat.
"sebenarnya ada apa denganku!" gumamnya frustasi. Ia meremas surai kuningnya kuat hingga beberapa helai jatuh dilantai yang dingin.
Sementara itu,
Sakura yang masih berdiri dibalik pintu kamar menangis sejadi-jadinya. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Sakit didadanya, ia benar-benar tidak mengerti. ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menggeleng-geleng cepat kepalanya.
"huhu… Ma-maafkan aku, Hikz… Maafkan aku Sasuke-kun!."
O
O
O
Sakura terbangun, mimpi buruk telah membangunkannya. Gadis itu tidak bisa tidur. Iapun bangkit dari ranjang berniat untuk pergi kedapur sekedar untuk minum dan ketika ia akan membuka pintu, ia tersadar akan sesuatu. Pintunya tidak memiliki lubang kunci atau sesuatu yang bisa melindunginya agar pria-Naruto tidak masuk dan melakukan sesuatu yang kau-tau-apa-maksudku seperti tadi. Tidak ada apa-apa selain knop dan pintunya sendiri.
Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan berasumsi bahwa ia benar-benar ceroboh sampai tidak mengetahuinya. Pantas saja Naruto bisa masuk dan menyelinap masuk kekamar saat ia tidur.
Tidak mau membuang waktunya untuk berpikir, iapun membuka pintu dan pergi kedapur. Setengah jalan ingin ketempat tujuannya, ia menghentikan langkahnya. Gadis itu kini menatap seorang pemuda yang tidur terlentang disofa dengan tangan sebagai bantalannya.
Ia pun mendekat.
"sepertinya aku sudah keterlaluan ya?" innernya berbicara. Iapun kembali kekamar dan mengambil sesuatu. Selimut berwarna putih susu dengan motif bunga dan kupu-kupu yang berwarna-warni yang ia ambil dilemari kamarnya. Sakura menutupi Naruto dengan kain itu hingga sebagian tubuhnya. Gadis itu tidak sadar bahwa ia telah tersenyum tipis.
Sakura kaget ketika Naruto memutar badannya tidur menyamping. Iapun ingat tujuan awalnya bangun. Tenggorokannyasudah benar-benar kering dan setelah itu ia pun langsung melesat pergi kedapur.
O
O
O
Kini Sakura sudah berada dikamarnya dan bersiap-siap untuk tidur kembali. Tapi ketika suatu suara mengusiknya, iapun berjaga-jaga. Ia mengambil tongkat bisbol milik Naruto yang terletak disudut ruangan dan menyiapkan kuda-kuda. Pintu pun perlahan terbuka dan muncullah Naruto yang berjalan sempoyongan seperti orang gila yang telah mengkonsumsi alkohol. Sakura yang menyaksikan Naruto berjalan menuju springbed miliknya hanya bisa melongo.
"apa yang akan dilakukannya?, tunggu dulu… itu … itu…" mata Sakura melebar. Bisbol yang dipegangnya pun terjatuh dilantai. Ia mengepalkan tangannya kuat dan dengan secepat kilat, Sakurapun berlari kearah pria itu.
"ITU RANJANGKUUUUUU! HYAAAAAT!."
Pletaaak!
Sebuah jitakan keras mengenai kepala Naruto hingga sebuah gunung kecil tumbuh dihutan berambutnya. Sontan Naruto terbangun dan segera mengusap kepalanya yang benjol.
"Kok sakit ya?" ucapnya yang membuat Sakura bersweatdrop ria.
"Dasar Baka!."
"Apanya?" Kini Naruto mengedarkan pandangannya. "eh? Kenapa aku disini?" tanyanya ketika menyadari bahwa ia bukan berada ditempatnya-ruang tengah.
"Kau tidur berjalan baka!, yang benar saja, kau hampir merebut ranjangku!."
"eh, kok bisa?!"
"mana aku tau! Dan menyingkir dari ranjangku!."
Duaaak! Sakura menendang Naruto sehingga ia jatuh tersungkur dilantai dengan wajahnya yang mencium lantai terlebih dahulu.
"Hei! Bagaimana kalau wajah sempurnaku berbekas atau cacat? Kau mau bertanggung jawab?!"
"apa?! wajah mirip monyet seperti itu, kau bilang sempurna? Apalagi guratannya itu!."
"Guratan ini adalah tanda lahir yang khas dan mana ada monyet yang memiliki guratan?"
"ada dan itu kau"
"apa kau bilang?!."
"Kau monyet yang punya guratan~."
"dan kau nenek sihir bertenaga lima pria berotot."
"Kau… !."
"Kau… !."
Merekapun kembali melotot satu sama lain hingga bola matanya akan keluar disertai geraman-geraman bak anjing marah sambil mendengus kencang.
"Pfff~"
"Hahahaha… !" keduanya tertawa lepas. Ini pernah terjadi sebelumnya, benar-benar Deja-vu.
Masih dengan tawaan, sesekali Naruto melirik Sakura. Iapun berhenti tertawa dan tersenyum tulus. Menyadari itu Sakurapun berhenti tertawa. Wajahnya sedikit merona.
"Kau boleh tidur disini." Ucapnya memalingkan wajah. Narutopun menunjukkan senyum sumringahnya.
"Benarkah?." Tanya Naruto antusias.
"kalau bertanya lagi aku akan berubah pikiran."
"Uwaa! Baiklah, baiklah ! jadi… " Narutopun menepuk-nepuk bantal dan guling yang sudah ia siapkan dan bersiap untuk tidur. "Karena sudah malah, Oyasumi…"
Buk,,,
Sebuah bantal malang lagi-lagi mengenai wajah sempurna mirip monyet berguratan milik Naruto. Empat sudut pun muncul dikepala Naruto.
"Siapa bilang kau boleh tidur satu ranjang denganku?." Teriak Sakura ketika melihat Naruto akan protes. "Maksudku tidur disini yang artinya kau tidur dilantai! Mengerti?!." lanjutnya menunjuk-nunjuk Naruto dan lantai bergantian. Naruto pun menghela napas berat. Tidak marah, tidak membalas. Hanya menghela nafas yang membuat Sakura mengernyitkan dahi. "tumben." Pikirnya.
"Baiklah,apa boleh buat. aku tidur di lantai. Ini masih mending daripada harus tidur diluar tanpa apa-apa." ucap Naruto yang sudah berada dibalik selimut yang dia ambil diluar tadi. Tidurnya pun berlawanan arah dengan Sakura. "dan…" Naruto mengantung kalimatnya.
"Arigatou… Sakura-chan." Lanjutnya lembut.
Mendengar itu Sakura kaget. Panas sudah menjalar diseluruh wajahnya hingga lehernya. Mukanya memerah!. Dengan cepat iapun berbaring dan menutupi dirinya dari ujung kaki sampai kepala dengan selimut.
"….. I..tu… ugh.. 別に … ナ...ナルト-くん"
Sedangkan ,
Diam-diam wajah Naruto pun ikut merona hebat. Jantungnya berdetak tidak karuan. Iapun memegang dada disebelah kirinya.
"lagi? Ada apa denganku sebenarnya? Apa aku sakit?" pikirnya.
Dan malam itu mereka berdua tidak tidur semalaman karena bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Benar-benar pasangan yang tidak peka ya?.
.
.
.
TBC...
HUAAAAA! APA ITUW! *Nunjuk atas*
mIki yuu yuu : hahaha... mau nya ngapain *senyum gaje* #plak! nie dah update, makasih dah repiuu ya? ^^~
.
.
.
Last words, would you mind to give me any feedback? comment and criticism are whole-heartedly appreciated.
Thank you.
