-OMAKE-
"Ka-kalau Rivaille-san benar-benar ingin melakukannya..aku tidak akan menghindar..tapi.."
"Tapi apa?"
"T-tolong..lakukan..dengan perlahan.."
"Heh, apa kau pikir aku akan menurutimu?" Ujar Rivaille sambil tersenyum evil.
"TIDAAAAAKKKKK!" Eren histeris dalam hati.
Sepertinya hari-hari Eren akan dilewati dengan 'dimakan' oleh Rivaille.
Selamat berjuang, Eren.
.
.
.
"A-apa Rivaille-san benar-benar akan melakukannya!?" Eren histeris sambil menahan Rivaille yang sedang membuka kancing kemeja Eren.
"Kalau iya memangnya kenapa?"
"Ka-kalau tidak segera pulang, ibuku akan khawatir!" Alasan yang sangat meyakinkan.
"Tidak perlu khawatir, aku akan bicara dengannya nanti."
"Kenapa oh kenapa…" Eren rasanya mau mewek.
Kesucian seorang Eren Jaeger terancam.
.
.
.
"Mmh.." Eren tampaknya sedang menahan suaranya agak tidak keluar menggunakan kedua tangannya.
"Oi Eren," Lanjut Rivaille sambil berhenti sejenak ",Keluarkan suaramu."
Eren hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya sekitar tiga kali.
"Kenapa?"
"Ka-karena suaraku..terdengar aneh..jadi.."
"Tidak apa. Keluarkan suaramu, aku ingin mendengarnya." Ujar Rivaille sambil menarik dagu Eren dan memaksanya mengeluarkan suaranya.
"Mama, tolong Eren, mama." Batin Eren dalam hati sambil baca doa hominahomina.
Karena Eren tidak kunjung mengeluarkan suaranya, Rivaille mengambil tindakan dengan menyentuh 'sesuatu'(tanda petik) di bagian bawah Eren.
"A-ahn.." Eren keceplosan.
Hening.
"Tuhan, ambil aku sekarang." Batin Eren yang sudah ingin dijemput oleh malaikat maut.
"Heh, ternyata suaramu seperti perempuan, pantas saja kau tidak membiarkanku mendengarnya." Rivaille mengejek sambil terus melanjutkan 'kegiatan'nya.
"I-itu tidak..kh..a-ahn..Rivaille..san.." Eren sudah benar-benar tidak menghindar karena tenaganya sudah meninggalkannya semena-mena.
Ri-Rivaille-san, aku—aahh.." Eren yang sudah lemas langsung saja menenggelamkan wajahnya yang sudah bagaikan apel di dada Rivaille dan berpegangan di bahu Rivaille.
Setelah membiarkan Eren bernafas selama beberapa detik, Rivaille kemudian mendorong Eren sampai punggungnya menempel dengan kasur.
"Tu-tunggu, Rivaille-san!?"
"Kau tidak bisa membuatku menunggu lagi, Eren." Ujar Rivaille sambil memperlihatkan senyuman tipis.
"Colossal Titan lari-lari pake rok berenda pink polkadot merah nabrak Armoured Titan lagi berjemur pake bikini biru muda, kesucian gue bakalan hilang AAARRRRRGGHHH." Eren baca mantra hominahomina dalam hati sambil berharap dia bisa bebas dari Rivaille yang sudah siap 'memakan'nya.
Tapi tampaknya itu mustahil.
Imposibru sodara-sodara.
"A-ah—R-Rivaille-san..ja-jarimu..akh.." Mendadak Eren merasakan jari Rivaille yang indah(?) berada di dalamnya dan terus bergerak.
"Kali ini aku mohon..jangan menghindar dariku, Eren." Rivaille berkata demikian dengan nada bicara yang sangat menggoda dan membuat para fangirls mimisan bagaikan keran air.
"Ta-tapi..jari..Rivaille-sa—ahh.." Eren menutupi mulutnya dengan punggung tangannya supaya tidak lagi mengeluarkan suara yang memalukan nama keluarga Jaeger lagi.
Setelah Rivaille mengeluarkan jairnya, dia menahan kedua tangan Eren.
Tapi Eren bisa merasakan kalau ada 'sesuatu'(tanda petik—lagi) yang memasuki dirinya.
Padahal kedua tangan Rivaille menahan kedua tangan Eren, jadi apa itu?
Kalian semua pasti tahu jawabannya.
"Ng..aahh! Ri-Rivaille-san..sa..kit.." Eren merintih kesakitan karena, yah…ini pertama kalinya untuk Eren.
"Maaf..aku akan lebih pelan sedikit."
"Ta-tapi aku—kh..aahh.." Eren tidak berhenti mendesah bahkan untuk sedetikpun.
Tiba-tiba, Eren entah-kenapa-kok-bisa-ya melingkarkan kedua tangannya dileher Rivaille yang berada di atasnya, sedangkan Rivaille yang terkejut langsung merendahkan posisi tubuhnya dan mencium Eren.
"Nnh..Riva—mhh.." Eren ingin berbicara namun tidak sempat karena Rivaille memasukkan lidahnya kedalam mulut Eren yang sedang lengah dan terbuka tersebut.
Setelah melepaskan mulut Eren, Rivaille beralih mencium dahi Eren, sedangkan Eren hanya bisa gemetar.
"Eren, walaupun sekarang kita sudah reinkarnasi, kau harus ingat..bahwa kau tetap menjadi milikku." Ujar Rivaille sambil tersenyum tipis.
Sedangkan Eren hanya nge-blush.
.
.
.
"Umm..apa dikehidupan kita sebelumnya..Rivaille-san selalu melakukan itu padaku..?" Eren bertanya dengan agak ragu sambil menundukkan kepalanya.
"Maksudmu..?"
"ya 'itu'.." tanda petik—lagi.
Hening.
"Tentu saja, memangnya kenapa?"
Menurut loe kenapa?
"Ti-tidak apa-apa kok, Cuma mau tahu.."
"Apa kau ingin aku ceritakan dari awal sampai akhir?" Rivaille terlihat menyeringai bagaikan iblis yang baru saja menemukan tumbal untuk dimakan.
"Eh? Ceritakan apa?" Eren Jaeger dan kepolosannya yang melebihi kertas folio putih bersih.
"Ceritakan tentang apa saja yang sudah kita 'lakukan' dikehidupan sebelum ini." Ujar Rivaille sambil menarik dagu Eren.
"Ti-ti-ti-tidak perlu!" Teriak Eren sambil mundur teratur.
"Oh iya Eren, lebih baik sekarang kau hubungi orang tuamu kalau kau tidak akan pulang sampai besok pagi."
"Eh?"
"Sudah turuti saja perkataanku." Rivaille bergaya like a boss.
"B-baiklah.."
From : Eren
Mikasa, tolong beritahu ayah dan ibu kalau aku akan pulang besok pagi, bilang saja aku menginap dirumah teman.
Send.
"Sudah?"
"Sudah. Tapi kenapa aku harus bilang kalau aku baru akan pulang besok pagi?"
"Karena," Lanjut Rivaille sambil memeluk Eren kemudian menjatuhkan diri keatas kasur ",Aku ingin kau menemaniku tidur."
"E-eeh!?" Eren shock pangkat dua belas.
"Diam. Aku lelah, biarkan aku memelukmu sambil tidur."
"Ta-tapi Rivaille-san, wa-wajahmu terlalu dekat.." Eren berusaha mendorong Rivaille supaya jarak antara wajah mereka tidak terlalu dekat.
"Tolong diamlah sedikit, Eren. Atau kau mau aku menciummu lagi?" Betapa frontalnya engkau Rivaille.
Eren hanya nge-blush sambil berhenti mendorong dan memilih pasrah dengan posisi mereka yang sangat ambigu dan membahana.
"Ta-tapi kalau menginap di rumah Rivaille-san..um.."
"Besok hari Sabtu dan kau tidak masuk sekolah, bukan?"
"Me-memang sih, tap—" Eren baru mau protes tapi Rivaille mendadak memeluknya lebih erat sampai Eren tidak bisa bernafas.
"Makanya, aku ingin kau menemaniku."
Eren sebenarnya ingin bilang kalau dia lebih memilih tidur di sofa, tapi entah kenapa pelukan Rivaille terasa hangat dan Eren merasa tidak ingin dilepas oleh Rivaille saat itu.
.
.
.
"Jadi..Eren kemarin menginap dirumah Rivaille-san karena Rivaille-san yang minta?" Ujar Carla sambil menahan Mikasa supaya tidak emosi dan membuat perumahan sekitar porak poranda.
Sedangkan Mikasa yang ditahan, terus memberikan Death Glare kepada Rivaille dan dibalas dengan tatapan 'diam-kau-cewe-kampret'.
"Ya begitulah, maaf saya telah memaksa anak anda untuk menginap dirumah saya." Rivaille berkata demikian sambil tersenyum fabulous dan membuat Carla cengo seketika.
"Me-memangnya kenapa Rivaille-san meminta Eren menginap dirumah anda?"
JEGER.
"HOMINAHOMINAHOMINA GUE-HARUS-JAWAB-APA HOMINAHOMINA." Batin Eren panik pangkat Colossal.
"Saya meminta Eren menginap karena ingin meminta sarannya." Rivaille mengeluarkan alasan yang sangat logis.
"Saran apa?" Carla tampak kepo.
"Sebenarnya saya menulis sebuah novel berjudul 'Memories' dan saya meminta saran, cerita seperti apa yang kedengarannya bagus."
"Uuwah, pinter banget bikin alesannya." Batin Eren sambil sweatdrop.
"Begitu, ya. Saya tidak keberatan selama Eren tidak pulang malam atau menginap saat hari sekolah." Carla tersenyum sambil masih menahan Mikasa.
.
.
.
"Oi." Mikasa memanggil Rivaille yang sedang memakai sepatunya dengan kasar.
"Apa?"
"Kau..tidak melakukan hal yang aneh kepada Eren, kan?" Mikasa dan kewaspadaannya patut diawasi.
"A-apa maksudmu, Mikasa!?" Jerit Eren yang mulai panik.
"Hmph, memangnya di matamu aku ini orang seperti itu?" Ujar Rivaille sambil berdiri.
"Iya."
Hening.
"Terserah kau saja." Rivaille tampaknya bête.
Sedangkan Mikasa sudah siap membunuh Rivaille namun dihentikan oleh Eren.
"Oh iya, Eren." Rivaille yang tadinya sudah berniat melangkah keluar rumah Eren, tiba-tiba berhenti.
"Datang lagi ya ke rumahku, aku akan menunggumu." Ujar Rivaille sambil tersenyum tipis.
Dan Eren yang masih sibuk menenangkan Mikasa hanya bisa nge-blush.
"Di-dia akan menungguku katanya.." Batin Eren sambil menyembunyikan wajahnya.
.
.
.
"Eren, itu apa yang ada di belakang lehermu?" Ujar Armin saat berniat menyapa Eren dari belakang.
"Eh? memangnya ada apa?" Eren kemudian meraba-raba leher bagian belakangnya tapi tidak merasakan ada yang aneh.
"Ada suatu bekas berwarna merah."
Hening.
"Be-bekas warna merah…" Eren nge-blush seketika.
"Kenapa wajahmu merah?" Armin Arlert dan ke-innocent-annya.
"E-enggak kenapa-kenapa, ayo ke kelas."
Sementara beranjak ke kelas, Eren dan Armin tidak sadar bahwa Mikasa tidak sengaja mendengar percakapan mereka dan memasang Death Glare.
"Si cebol itu…dia akan mati ditanganku…" Batin Mikasa sambil terus mengeluarkan aura hitam yang membuat orang-orang di sekelilingnya merinding.
Hanya mereka yang menjadi saksi mata yang tahu apa yang terjadi ketika Mikasa melihat Rivaille lagi.
-OWARI-
Yo minna~ Alice desu~
Akhirnya Alice bisa publish juga nih omake dari fic Memories X333.
Alice sih enggak tahu ini masuk rated M apa enggak, tapi menurut Alice sih iya :v kalau para readers punya masukkan utuk Alice supaya dapat membuat adegan lemon yang lebih membahana, tolong beritahu Alice ya~
Kurosawa Alice.
