Sleep With the Devil (KookV version)

Original story by Santhy Agatha

Rated : M

Cast :

Kim Taehyung as Lana

Jeon Jungkook as Mikail Reveno

Kim Namjoon as Norman

Warning : YAOI, M-preg, typo(s).

...

a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.

...

BAB 4

Jungkook keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah dibiarkan teronggok di lantai.

Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Namjoon berdiri di sana, bekas-bekas pukulan Jungkook masih menimbulkan memar di sana-sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati.

"Bagaimana dia?" tanya Jungkook dingin.

"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan banyak air... Anda sendiri Tuan, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan orang itu..."

Jungkook melirik pada Namjoon dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah.

"Tadinya aku berniat membunuhnya."

"Kalau begitu, kenapa Anda malah menyelamatkannya?"

Jungkook membalikkan tubuhnya dan menatap Namjoon dengan mata menyala-nyala.

"Karena sudah kuputuskan, belum saatnya dia mati," mata hitam Jungkook bagaikan berbinar dalam kegelapan, "dan kau... Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?"

Namjoon menatap Jungkook, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian ia langsung memasang wajah datar.

"Saya tidak sengaja membiarkannya lolos."

"Kau pikir aku bodoh?" suara Jungkook menajam, setajam tatapannya, "kau adalah pengawalku yang paling berpengalaman, tidak mungkin kau bisa diperdaya oleh Taehyung, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya."

Namjoon menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, Saya takut dia akan membawa masalah untuk kita."

Jungkook melempar handuknya dengan marah ke sofa.

"Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan aku baik-baik Namjoon," suara Jungkook dalam dan mengancam, "sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat yang aku bisa."

Suara ancaman itu masih menggema dalam kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.

.

Ketika Taehyung terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Ia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.

"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal sekarang," suara Jungkook membawa Taehyung kembali pada kesadarannya.

Dengan waspada ia menoleh dan mendapati Jungkook sedang duduk di tepi ranjangnya. Taehyung beringsut sejauh mungkin dari Jungkook dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Jungkook.

"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?" nada gelipun tersamar dalam suara Jungkook.

Kurang ajar, batin Taehyung dalam hati. Ia berjuang melawan maut, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya.

Tetapi, apakah benar Jungkook yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah sangat jelas dalam kemarahannya bahwa Jungkook sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?

"Ya, aku memang menyelamatkanmu," Jungkook bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Taehyung, "tetapi itu bukan demi dirimu, tetapi demi kepuasanku."

Taehyung menatap Jungkook geram, "apa maksudmu?!"

Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Taehyung bergidik dan beringsut menjauh.

"Aku tidak suka bercinta dengan mayat," senyum di bibir Jungkook tampak kejam, "kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."

Ketika Taehyung menyadari maksud perkataan Jungkook, sudah terlambat. Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Taehyung tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Jungkook yang lebih besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan simpul mati yang sangat rapi, lalu menalikannya pada kepala ranjang,

"Kau... Kau mau apa?!" Taehyung mulai panik ketika Jungkook yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.

Senyum Jungkook tampak penuh kepuasan melihat kondisi Taehyung yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat.

Sejenak Taehyung terpana melihat kulit putih yang berkilauan itu, tetapi kemudian ia sadar bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi genting. Dengan panik Taehyung mulai meronta dan menendang, secepat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.

Tapi percuma, ikatan Jungkook di tangannya sangatlah kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Taehyung benar-benar tak berdaya.

"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan... Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu..." suara Jungkook merendah, penuh gairah, "Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya."

.

Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Taehyung melihat Jungkook melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Taehyung, hingga napas mereka beradu, Jungkook menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Taehyung, membuat Taehyung berjingkat dan berusaha meronta lagi.

"Sshhh... Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu," bibir Jungkook merayap dan mendarat di bibir Taehyung. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Taehyung, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Taehyung yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Taehyung yang hangat dan panas. Lidahnya mengait pada lidah Taehyung dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.

Ketika Jungkook melepaskan bibirnya, napas Taehyung terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.

"Kau menyukainya, bukan?" Jungkook berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Taehyung, "aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku..." tangan Jungkook merayap ke bawah, meraba kulit leher Taehyung, "seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku..." Jemari Jungkook meraba celana bagian depan Taehyung dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya, "disini... Yang paling panas."

Taehyung menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Jungkook yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika ia menggerak-gerakkannya. Jungkook melirik ke arah pergelangan tangan Taehyung yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Taehyung.

"Jangan banyak bergerak, atau kulitmu akan punya banyak memar ketika ini selesai."

Setetes air mata mengalir dari sudut mata Taehyung, ia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.

"Jangan lakukan ini, please..."

Mata Jungkook sedikit melembut ketika mendengar permohonan Taehyung, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras, "aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Taehyung," Jungkook membuka kancing kemeja Taehyung satu persatu, membiarkan dada Taehyung terbuka bebas untuknya.

"Ini milikku," Jungkook menyentuh salah satu puting milik Taehyung dan menggodanya, menikmati erangan tersiksa Taehyung di bawah tubuhnya, "seluruh tubuhmu milikku," Jungkook mengecup ujung puting Taehyung yang mulai menengang, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping dada Taehyung, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.

Taehyung melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.

Dan jemari Jungkook menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Taehyung sesuka hatinya. Tubuh Taehyung meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Jungkook, tapi lengan Jungkook yang kuat menahan tubuhnya.

Kemudian bibir Jungkook mengikuti jemarinya. Taehyung terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya. Seketika ia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.

"Jangan!" teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Jungkook menyentuhnya.

Tetapi lengan Jungkook yang kuat malah menahannya, dan kemudian, Taehyung melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Jungkook di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Panas bertemu panas dan ia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.

"Sshhhh... Semua bagian tubuhmu milikku, Taehyung. Milikku."

Jungkook mencumbu pusat gairah Taehyung menyatakan kepemilikannya. Dan ketika Jungkook selesai bermain-main, Taehyung sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh yang terasa membara. Jungkook menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Taehyung. Dada bidangnya menggesek kedua puting Taehyung, dan Taehyung merasakan kejantanan Jungkook yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Taehyung inginkan.

Jungkook menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Taehyung. Dan Taehyung merasakan tubuh Jungkook yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang semakin menghujam.

"Taehyung," Jungkook mengerang merasakan tubuh Taehyung yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Tapi tidak, malam ini untuk Taehyung. Jungkook ingin Taehyung mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini.

Ketika Jungkook bergerak, Taehyung mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, ia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Jungkook. Jungkook menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Taehyung dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.

"Kau milikku, Taehyung. Ingat itu baik-baik."

Sedetik kemudian, Jungkook membawa Taehyung melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.

.

Jungkook mengangkat tubuhnya dari Taehyung yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan di tangan Taehyung, ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Jungkook mengecup kedua pergelangan tangan Taehyung.

"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat."

Lalu Jungkook bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap Taehyung yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya.

"Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Taehyung yang terbaring diam di atas ranjang.

Setetes air mata mengalir kembali dari sudut mata Taehyung. Jungkook benar, Taehyung tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.

*TBC*

Mind to review?

Chapter ini pendek ya? maaf ya, chapter empat ini harga mati, karena versi aslinya emang pendek dan (menurut saya) gak mungkin disatukan sama chapter lima.

Maaf banget, kemaren gak bisa balas review satu-satu, ini juga updatenya jadi telat karena alasan tertentu. Tapi saya sangat berterimakasih karena masih ada yang mau meluangkan waktu untuk baca dan ngeriview ff ini, karena kalian ff ini masih berlanjut. Sampai jumpa di chapter berikutnya!