AI Author: ShixunWu Rate: M Cast: ChanyeolxSehun and Others

DON'T LIKE DON'T READ

This fanfiction, belong to me, I made this with YAOI plot. So never ask me to change it into GENDERSWITCH

Chapter 4

Disela kembali ingatannya dimasa pertama kali mengenal Baekhyun dan Sehun, sekilas tanpa sengaja iris kelam Jongin mendapati sosok sang kakak yang berjarak tak begitu jauh darinya. Sebuah ide melintas dikepalanya, sebuah permainan kecil mungkin akan sangat menyenangkan. "Sehun…". Yang dipanggil menoleh, terdiam saat jemari Jongin malah menyentuh telapak tangannya.
"Jongin….". Sehun resah, baginya sentuhan Jongin terasa begitu salah ketika dirinya telah dimiliki oleh Chanyeol.
"Jangan seperti ini…". Jongin menahan tangan Sehun yang bergerak ingin dilepas. Jongin mengarahkan tangan kirinya untuk membelai helaian rambut Sehun dengan lembut.
"Biarkan seperti ini, melihat matamu seolah mengobati rinduku pada Baek Hyung". Lirih Jongin, mau tak mau Sehun menuruti, ikut tenggelam di iris kelam Jongin yang teduh.

Chanyeol benar benar tidak bisa menahan emosinya lagi, hatinya seolah dicambuk saat matanya sendiri mendapati Jongin semakin mendekatkan tubuhnya pada Sehun, memeluk isterinya dengan erat, dan melemparkan tatapan mengejek padanya. Ya, Jongin tau jika Chanyeol terus mengamatinya sedari tadi. 'brengsek kau, Jongin!'. Chanyeol mendesis, mengedepankan ego serta emosinya, ia mendekati Jongin juga Sehun yang mendadak membeku dihadapannya.
"J—Jeonha". Gemetar takut suara Sehun diabaikannya ketika fokusnya jatuh pada Jongin yang menatapnya mengejek. Chanyeol menatap Sehun sekilas, lalu tanpa kata menarik tangan Sehun untuk mengikutinya.

Jongin hanya diam, dia tak mengatakan apapun, membiarkan begitu saja Chanyeol datang lalu pergi dengan kemarahan yang mungkin sudah lewat batas normal. Jongin begitu kenal siapa Chanyeol, manusia paling ambisius dan posesif terhadap apa yang menjadi miliknya. Mencebik kecil, Jongin menatap punggung Chanyeol dan Sehun yang mulai menjauh. 'semoga karma dengan segera mengecupmu, jeonha'
()

Flashback

Pertama kalinya Oh Sehun kecil menginjakkan kakinya di istana adalah ketika usianya enam tahun, saat itu seluruh keluarganya diajak untuk bertemu sang Raja. Sehun kecil senang bukan main, berada diistana adalah keinginan terbesarnya, khas anak anak seumurannya.

Mata sipit dengan iris kelamnya berkedip kagum dengan kedua tangannya yang terus meremas ujung jubah nya yang bewarna biru langit. Iris gelap itu terus membola liar, merekam tiap detail yang bisa ia tangkap dan ingat dimemorinya lalu nanti akan ia ceritakan pada Baek hyungnya yang seharusnya juga ikut, namun malah mendadak demam pagi tadi.

Park Yoochun, Raja Joseon itu menyambut keluarganya dengan ramah. Gonryongpo merah menyala yang dipakainya menambah kesan gagah yang melekat padanya. Disamping Yoochun berdiri seorang anak laki laki dengan Ohjoeryongbo yang terus terusan memasang senyum lebar. Sehun menunduk kikuk saat anak laki laki yang ayahnya bilang adalah putra mahkota itu melambaikan tangan kecil kearahnya.
Yang Sehun tau saat itu adalah, Chanyeol berusia enam tahun lebih tua darinya, dan dia sangat baik dengan senyum secerah matahari yang hangat. Pangeran muda itu membawa Sehun untuk berkeliling istana, menceritakan tiap detail istana dengan semangat layaknya tour guide. "Apa kau senang berada disini?". Chanyeol yang saat itu berusia dua belas tahun tersenyum kearah sehun yang terlihat menggemaskan dengan bola matanya yang mengikuti pergerakan dua ikan koi didalam kolam dibawah jembatan yang sedang mereka lewati.
"Uhm, tempatnya sangat indah, mama, nanti Sehun-ie akan ceritakan ini pada Baek hyung, supaya Baek Hyung iri". Chanyeol tergelak, lengkungan yang terbentuk dari senyum Sehun terlihat begitu menggemaskan. Refleks, kedua tangan Chanyeol menangkup wajah Sehun kala itu.
"Kau menggemaskan sekali, jinjja!". Dan itu pertama kalinya hati Sehun kecil berdentum dentum keras, pipinya memerah hingga telinga, perutnya seolah digelitiki ribuan kupu kupu.

Chanyeol sangat mendambakan sosok adik sebenarnya, walaupun dia memiliki satu yang lahir dari salah seorang selir ayahnya, tapi adik nya yang itu tidak mau berdekatan dengannya. Memberi jarak dan dinding sehingga Chanyeol tidak bisa memanjakannya, lagipula sebagai penerus Raja, Chanyeol memiliki waktu bermain yang sangat sedikit dibanding Jongin yang sangat bebas.

Kedatangan Sehun kala itu membuatnya senang luarbiasa, Sehun anak yang baik, menggemaskan, dan lucu, benar benar tipikal adik yang sangat Chanyeol inginkan. Karena itu, jika sedang senggang ia akan meminta Mentri Oh untuk membawa Sehun dan menemaninya bermain. Hanya saja kali ini berbeda, Sehun membawa seseorang lagi hari ini. Sosok yang selalu bocah itu katakan sebagai Hyung kesayangannya. Sosok yang Sehun katakan sangat baik, seperti malaikat. "Annyeonghasimnikka, mama, Byun Baekhyun imnida". Seperti tersihir, Chanyeol terhenyak dalam diam. Senyum masih mengembang dibibir tipis Baekhyun, laki laki itu seolah menunggu jawaban dari perkenalannya tadi. "Senang berkenalan denganmu, Baekhyun". Chanyeol membagi senyumnya, menatap tepat pada iris kelam Baekhyun yang memerangkapnya dengan dalam. Detak jantung keduanya seolah ingin meledak, Chanyeol bahkan tanpa sadar telah merona. Sepersekian detik, mereka bahkan lupa ada sosok lain yang menatap bingung.

Dua tahun setelah itu berjalan dengan baik, Sehun berusia delapan tahun sementara Chanyeol dan Baekhyun memasuki usia empat belas tahun. Semuanya berjalan sesuai dengan aliran waktu. Hanya saja semakin hari terlewat, Chanyeol sedikit demi sedikit berubah. Atau tepatnya, waktunya untuk bermain bersama Sehun mulai menipis lalu tidak sama sekali. Membuat sosok termuda itu merasa sepi, dan tidak diinginkan lagi. Lain Sehun, lain pula Baekhyun yang semakin hari semakin dekat dengan Chanyeol, keduanya sering bertemu dan bermain tanpa sehun tentu saja. "Sehunnie!". Baekhyun mengunjungi Sehun yang kala itu tengah melukis kecil dikediamannya, senyum mengembang diwajah Baekhyun. "Nne, Hyungie waeyo?". Sehun meletakkan kuasnya, duduk menghadap Baekhyun yang berkeringat kecil didahinya.
"Hyung rasa, Hyung jatuh cinta". "Jatuh cinta?". Sehun mengerutkan dahi, sementara Baekhyun mengangguk antusias.
"Nne, jatuh cinta. Seperti ada kupu kupu diperut kita, lalu detak jantung kita seperti ingin meledak". Sehun terhenyak, kata kata baekhyun pernah menghampirinya tepat dua tahun dipertemuan pertamanya dan Chanyeol. Seulas senyum terukir dibibir Sehun.
"Hah? Akupun merasakan itu Hyung!". "Eoh? Jinjja? Nugu?". "Tidak tidak, aku tidak akan mengatakannya, Baek hyung duluan yang harus mengatakan hyung jatuh cinta pada siapa". Baekhyun mendengus, mencubit kecil pipi Sehun.
"Chanyeol, Chanyeol Hwangteja". Sehun terdiam, pikirannya mendadak kosong. Jadi baekhyun hyung juga jatuh cinta pada Chanyeol hwangteja?
"Jadi, katakan siapa yang Sehunnie suka!". Sehun mengerjap, menjilati kecil bibir mungilnya. Dia tidak tau harus menjawab apa, lalu satu nama muncul dikepalanya.
"J-Jongin, Jongin, aku menyukai Jongin, Hyung".

Flashback Off

()
Para dayang hanya bisa diam dan menunduk saat sang Raja membawa sang Ratu masuk kekediamannya. Ya, Chanyeol membawa Sehun pulang, hanya saja Ratu yang naik tahta diusia tujuh belas tahun itu tidak diantar kekediamannya, melainkan dibawa ke kediaman sang Raja. Sehun merintih kecil, tangannya yang sedari tadi digenggam Chanyeol terasa semakin sakit.
"Kalian semua, menjauhlah dari ruanganku!". Chanyeol berteriak dari dalam ruangannya, membuat para dayang dan pengawal didepan ruangannya bergerak menjauh, tidak mau menerima kemarahan Raja mereka.

Chanyeol menghempaskan tangan Sehun keras, membiarkan Sehun menangis tersedu disudut ruangannya. Kemarahan Chanyeol menyentuh tingkat tingginya, ia cemburu. Cemburu dengan amat sangat, namun hal ini terus terusan ditepisnya. Beberapa tahun lalu, Baekhyun bahkan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Sehun dan Jongin, hanya saja Chanyeol tidak sebegini marah, dia malah memakluminya. Namun, entah kenapa saat yang berada diposisi Baekhyun adalah Sehun, hatinya terasa terbakar dan marah melingkupinya hingga keubun ubun. "Arrghhh". Sehun memeluk lututnya erat saat Chanyeol berteriak dan memukul dinding kediamannya. Tubuh laki laki dua puluh tahun itu bergetar hebat, tangisnya masih belum reda alih alih semakin terisak.
"Aku benci kau, Oh Sehun!". Chanyeol meraih bahunya, menggoyangkan kasar bahu kurus sang pendamping yang tak mengeluarkan suara sedikitpun. "Kenapa kau begitu bajingan hah! Kenapa kau dengan beraninya mendekati Jongin!". Rahang Sehun dicengkram erat oleh Chanyeol yang menatapnya marah.
"Tidak berguna! Tidakkah kau puas dengan posisi Ratu itu hah? Tidakkah itu cukup bagimu? Bukankah mendapatkanku adalah segalanya bagimu?". Sehun memejamkan matanya saat Chanyeol menhantamkan tubuhnya pada dinding, pemuda itu meremas bajunya erat, sama sekali tak menatap Chanyeol.
"Bicaralah, kau brengsek! Jangan hanya diam! Apa kau bisu?".

Sehun terisak lagi, Chanyeol mengeratkan tangannya pada bahu sempitnya dan itu menyakitkan. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, pelan namun pasti. Menatap tepat pada iris kelam Chanyeol dengan tatapan penuh kesakitan, dan luka. "Apakah, jika aku bicara akan mengubah pandanganmu padaku, Jeonha? Apakah dengan aku bicara kau akan menghentikan segala tuduhan yang layangkan padaku? Dan apakah, dengan aku bicara bisa membuatmu mengerti betapa aku tak akan pernah bermain api dibelakangmu?. Tidak, tidak bukan? Apapun yang keluar dari bibirku tak akan kau percaya, lalu untuk apa aku bicara jika hanya akan membuatmu semakin marah?".

Chanyeol terdiam, dengan pelan melepaskan tangannya dari bahu Sehun. Mengalihkan wajahnya agar tak menatap iris Sehun yang seolah menyiksanya dengan kepedihan. Chanyeol membalikkan tubuhnya, dia tidak pernah menyangka bahwa apa yang Sehun ucapkan tadi malah membuat perasaannya sakit. Semacam memberikannya satu cambukan keras akan apa yang ia lakukan pada Sehun itu salah, sangat salah. "Kau! Tetaplah berada disini, besok pagi aku akan meminta Changmin menjemputmu!". Sehun hanya diam, membiarkan Chanyeol keluar dan menjauh darinya.

Jongin menatap langit yang masih dipenuhi letusan kembang api yang bewarna warni. Dulu, dulu sekali ia akan datang kemari sambil menggandeng tangan lembut milik Baekhyun. Dulu, Baekhyun selalu merengek padanya untuk bisa datang kemari bersama sama dengan Chanyeol juga bukan hanya berdua. Jongin tergelak kecil, ia ingat ia tak pernah mengabulkan permintaan Baekhyun yang satu itu, dia terlalu takut jika nanti Chanyeol ikut dirinya akan dilupakan, diabaikan dan ditinggal. Chanyeol itu saingannya, saingan terberat yang selalu mendapatkan apa yang Jongin inginkan tanpa perlu bersusah payah. Termasuk mendapatkan Baekhyun, bahkan Chanyeol tidak perlu cara khusus untuk meluluhkan hati Baekhyun. Tidak seperti dirinya yang mencoba berkali kali namun tetap saja kata 'sahabat' yang terus melekat atas tindakannya.

Jongin menunduk, lalu menatap langit sekali lagi. Pikirnya membentuk wajah Baekhyun tersenyum dilangit, bibirnya tersenyum tipis, menyadarkan diri sendiri betapa bodoh ilusi yang tadi ia ciptakan.

Sehun. Jongin mungkin satu satunya yang tau bagaimana perasaan yang Sehun miliki untuk Chanyeol. Walaupun masih sangat kecil kala itu, namun Sehun selalu memberikan pandangan lain pada Chanyeol, pandangan suci, dan tulus lalu irisnya akan menatap Baekhyun dengan raut tak menentu sebelum akhirnya membentuk senyum dibibir tipisnya.

Diingatan Jongin, Baekhyun pernah bercerita jika saja ia sedikit cemburu ketika Chanyeol terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Sehun. Baekhyun juga bilang, terkadang ia kesal ketika Chanyeol menceritakan betapa menggemaskannya Sehun, lalu betapa Chanyeol menginginkan Sehun sebagai adiknya. Jongin ingin marah kala itu, kenapa? Karena tiap perbincangannya bersama Baekhyun selalu ada nama Chanyeol didalamnya, disebut berulang kali dan begitu seterusnya.

Kepergian Baekhyun sangat tiba tiba, dihari hari hampir pernikahannya dimulai ia jatuh sakit dan akhirnya tidak diselamatkan. Ada komplikasi hebat pada jantung dan paru parunya membuat Baekhyun tidak bisa diselamatkan sehingga memberikan pukulan kuat bagi Chanyeol juga Jongin sendiri.

"Hyung… tolong, tolong lepaskan cinta yang kau kait pada Chanyeol. Biarkan dia melepasmu Hyung, tidakkah kau kasihan pada Sehunnie kita yang terus menangis karnanya?". Itu sebaris doa yang Jongin harap dapat didengar Baekhyun dari langit sana.

Chanyeol selalu melarikan dirinya ke pavillium milik Baekhyun ketika ia dirundung masalah. Berada dibangunan yang tak lagi dihuni ini selalu memberikannya ketenangan luar biasa, seakan akan Baekhyun ada disisinya, menenangkannya lewat angin yang berhembus dengan tenang.

Raja muda itu memegang pegangan kolam dengan kedua tangan besarnya. Kepalanya menunduk menatap bulan yang seolah bercermin diatas kolam dibawahnya. Menghela nafas berat, satu isakan kecil keluar dari bibirnya.
"Baek… aku benar benar merindukanmu". Chanyeol mengukir ilusi, seolah olah Baekhyun berdiri didepannya dengan tubuh bercahaya dan senyum manis.
"Uljjima, Jeonha". Bagi Chanyeol semuanya terasa nyata, sentuhan tangan Baekhyun dipipinya benar benar bisa ia rasakan. Sentuhan yang ia rindukan setengah mati.
"Baek… katakan, apa yang harus aku lakukan?"
"Jeonha…"
"Aku.. menyakiti Sehun, Baek… mianhae…"

TBC

Ohjoeryongbo : Baju untuk putra mahkota, biasanya biru atau gak warna ungu gitu.
Gonryongpo : Baju keseharian raja, ituloh yang warna merah

Okeh guys, ini dia chapter 4! ayo yang greget sama Chanyeol mana suaranya?
Chapter 5 sudah selesai jugaloh... FYI akan diupdate hari minggu kalau yang reviewnya banyak sampai hari itu! yaayy!

Annyeong!