Cast:
BTS member and Other
Disclaimer:
BTS and other belongs to their parents, but this fanfic is mine!
Pair:
VJin, HopeKook, MinSu
WARNING!
Typo(s) bertebaran, author masih amatiran ._.v
YAOI or BoyxBoy
v
v
v
v
Seoul, Korea Selatan
Taehyung belum bisa mengerti. Anak rap, tapi jago basket sampai segitunya. Yah~ tidak masalah, sih. Namanya juga bakat. Dengan langkah cepat ia memasuki halaman rumah dan bergegas membuka pintu. Keadaan ruang tengah sepi, namun ia bisa mendengar suara tawa dari kamar kakaknya. Taehyung segera melepas sepatu dan menaruh tasnya disofa.
"Namjoon hyung? Kau sudah dirumah?" kata Taehyung sambil menempelkan telinganya di daun pintu.
"Ne! Maaf aku tidak menunggumu, ya! Kau tidak apa-apa, kan?" balas Namjoon dari dalam.
"Ne, gwenchana. Aku hanya hampir diperkosa."
Suasana tiba-tiba hening, lalu pintu didepan Taehyung terbuka secara spontan. Dilihatnya sosok sang kakak berdiri menatap Taehyung lekat-lekat.
"KAU DIPERKOSA?!" teriaknya histeris.
"Aniya! Kubilang hampir!" Taehyung menutup telinganya ketika mendengar teriakan melengking itu.
"Bagaimana bisa?!"
"Aku tidak tahu! Tapi tadi untungnya ada namja yang menolongku," Taehyung menggedikkan bahu acuh.
"Kau harus lebih berhati-hati! Siapa yang menolongmu tadi?" kata Namjoon khawatir.
"Aku tidak tahu namanya. Tapi dia bilang dari klub vokal rap, satu klub dengan hyung. Kulitnya putih pucat dan dia... sedikit pendiam mungkin?"
Namjoon tertegun. Ia membalikkan badannya untuk kembali bertanya. "Apa nada bicaranya terkesan datar?"
"Ya, dia bahkan diam memperhatikanku dulu sebelum menjawab pertanyaanku,"
Namjoon menghela nafas. "Thanks for Yoongi-hyung."
"Hah? Tadi siapa namanya, hyung?"
"Hei, Namjoon. Kita jadi tanding, tidak?"
Sebuah suara dari dalam kamar Namjoon menyela Taehyung. Dengan serempak keduanya menoleh, namun Taehyung tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas karena tertutup tubuh Namjoon.
"Eh, ne! Tentu saja jadi! Nah, Taehyung... kembalilah ke kamar dan beristirahatlah," kata Namjoon membalas perkataan seseorang—yang diyakini seorang namja.
"Ne, hyung. Ngomong-ngomong, itu siapa?" Taehyung berusaha mengintip ke dalam kamar Namjoon.
"Jung Hoseok dari klub dance, sahabatku." jawab Namjoon.
"Eh?! Dia sahabat hyung?" Taehyung mengerjapkan matanya. Pasalnya, ia belum pernah sama sekali melihat sosok Jung Hoseok itu.
"Ne. Sudah, sana istirahat!"
Taehyung hanya mempoutkan bibirnya sambil berjalan menuju kamarnya dilantai atas. Setibanya dikamar, Taehyung berganti baju dan segera menuju kasur empuknya. Dari sana, matanya menatap lekat pada bingkai foto di meja belajar, hal biasa yang sering ia lakukan. Namun kegiatannya terhenti begitu Jungkook memberinya pesan singkat.
"Tae hyung, kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu?"
Taehyung mengernyit bingung. Ia segera membalas pesan Jungkook.
"Aniya, aku sedang beristirahat. Waeyo?"
"Minggu jadi tidak, jalan-jalannya? Aku bosan dirumah!"
Taehyung terkikik geli membacanya. Untuk apa Jungkook menanyakan hal seperti ini lewat pesan sedangkan mereka bisa membicarakan dengan lebih lama besok? Maka jari-jarinya kembali menekan keypad handphone-nya.
"Ne, aku bisa. Memangnya kau mau kemana?"
"Café Latte, di dekat taman kota. Bagaimana?"
Taehyung tersenyum membacanya. Café Latte adalah nama café langganan mereka. Taehyung dan Jungkook terkadang mengobrol atau hanya sekedar mencicipi kembali menu-menu disana setiap liburan sekolah. Café itu memberikan suasana yang nyaman dan terkesan modern dengan interiornya yang kebanyakan dari kayu. Menu yang ditawarkan pun menggugah dengan harga yang terjangkau.
"Tidak masalah. Kita bisa bersenang-senang minggu nanti."
Taehyung menutup HP-nya begitu balasan itu terkirim. Ia merebahkan tubuhnya yang sudah lelah. Perlahan matanya pun tertutup.
-0-0-0-
Jung Hoseok mengerang frutasi ketika melihat tulisan 'LOSE' terpampang di rute bagiannya. Dengan kesal ia membanting stick playstation dan melirik Namjoon yang kini sibuk mengepalkan tangannya ke udara, tanda bahwa ia telah berhasil mengalahkan Hoseok.
"Berhenti bangga dengan kemenanganmu, Namjoon." sindirnya sambil meminum jus jeruk miliknya.
"Hahaha... bilang saja kau malu, bukan?" Namjoon meninju pelan bahu Hoseok.
"Mwo? Ehm, maaf saja, tapi aku tidak seperti itu," kata Hoseok kalem, berusaha menutupi segala kekesalannya pada Namjoon kali ini.
"Oh, ya? Lalu apa kau tidak gemas sudah 3 kali berturut-turut gagal menghadapiku?" godanya lagi.
"Kau bilang apa? Tentu saja tidak!"
"Masa?"
"Namjoon, diam."
"Haha! Oke, oke... aku akan berhenti."
Hoseok mengambil alih stick playstation Namjoon, menggunakannya untuk mengulan kembali game. Sedangkan Namjoon kini duduk diatas kasurnya, menatap keluar jendela—kearah rumah pohon mereka—seolah menerawang sesuatu.
"Hoseok, sebentar lagi musim dingin..." ucapnya pelan.
"Sekarang pun sudah dingin," balas Hoseok acuh, masih sibuk dengan game-nya.
"Aniya, maksudku salju akan benar-benar turun sebentar lagi,"
"Oh, begitu. Lalu kenapa?"
"Tidak apa. Kudengar sekolah akan mengadakan festival tahun baru, ya?"
"Hah? Iya, festival itu jarang sekali dilaksanakan lantaran banyak murid yang lebih menginginkan Natal bersama keluarga. Tapi beberapa anggota OSIS menyarankan agar tahun ini festival dilakukan setelah 5 tahun tidak dilakukan,"
"Hmmm..." Namjoon menggumam kecil.
"Memangnya kenapa?" kini balik Hoseok yang bertanya. Ia menoleh pada Namjoon yang posisinya lebih tinggi darinya.
"Aku hanya merasa ingin festival itu cepat-cepat dirayakan,"
"Kau ingin mencari yeojachingu, kah?" ledek Hoseok sembari mengerling pada Namjoon.
"Aniya, it's not my style..." Namjoon memutar bola matanya malas.
"Kalau kau tidak cepat bergerak, siapa tahu nanti wanita yang kau kejar sudah ada yang punya. Nanti malah aku duluan lho, yang dapat!" sindir Hoseok lagi.
"Stop doing that kidding!"
Selanjutnya suara tawa Hoseok gantian memenuhi isi kamar Namjoon ketika sang pemilik memberikan ekspresi yang sulit ditebak. Namjoon hanya menggedikkan bahu melihat sahabatnya tertawa seperti itu. Namun, tiba-tiba tawa Hoseok terhenti.
"Eh, kau tahu tidak? Beberapa hari yang lalu aku bertemu seseorang," ujarnya dengan mimik antusias.
"Nugu?" tanya Namjoon.
Hoseok tampak berpikir sebentar. "Hm... mollayo. Tapi demi apapun, dia imut sekali!"
"Memangnya kau bertemu dimana?" tanya Namjoon lagi.
"Toilet. Waktu itu aku habis latian dance, makanya lelah sekali dan penampilanku berantakan saat memasuki toilet untuk cuci muka..."
"Wow... penampilan berantakan. Bad boy gitu, kah?" goda Namjoon.
"Hah? Aku tidak merasa seperti bad boy, kok. Kenyataannya kan, aku lelah karena nge-dance," elak Hoseok memasang wajah innocent.
"Hohoho... kau tidak tahu kan, apa tanggapan orang? Mungkin saja namja... eh? Dia namja?"
"Ne, dia namja,"
"Oh... ya mungkin saja namja itu berpikir hal ambigu ketika melihatmu," kata Namjoon menjelaskan.
"Aniya. Kurasa wajahnya menunjukkan sikap polos." elak Hoseok lagi, tak mau kalah.
Namjoon sekali lagi hanya menggedikkan bahunya. Ia sudah terbiasa jika menanggapi elakan Hoseok, mereka pasti akan berujung teriak-teriakkan. Melelahkan saja.
-0-0-0-
Malam tak terasa dengan cepat merambat. Suasana semakin dingin, namun tak menyurutkan ramainya kota Seoul. Lampu kerlap-kerlip mulai menyala, beberapa café mulai meramai, dan masih banyak kegiatan lain yang dilakukan.
Sosok Min Yoongi keluar dari rumahnya dengan perlahan. Dengan tubuh dibalut kaus, hoodie, dan snapback, namja putih itu berjalan santai menuju rumah sahabatnya yang hanya berbeda beberapa blok darinya.
Malam ini dingin, Yoongi bukannya tak suka kedinginan, ia hanya tidak suka yang namanya keluar rumah. Apalagi keluar malam... baginya itu hanya membuang-buang waktu istirahatnya saja. Ia jarang keluar rumah kalau tak ada sesuatu yang penting atau sesuatu yang ingin sekali dilakukannya. Ia akan lebih memilih tinggal dirumah setelah pulang sekolah. Dirumahnya pun bahkan ia hanya sendirian, tanpa orang tua disana.
Namun Yoongi akan keluar rumah jika sahabatnyalah yang mengajaknya. Tidak ada yang khusus memang, tapi jika sudah menyangkut keluar bersama sahabatnya, Yoongi akan berusaha menerima. Mereka selalu bersama sejak Yoongi menjadi siswa tahun ajaran baru di kampus. Sayangnya, sifat keduanya agak berbeda. Sang sahabat bisa dibilang agak cerewet, dan dirinya adalah sosok pendiam yang dikenal dingin padahal sebenarnya tidak. Yoongi bukannya dingin, ia hanya tak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga ia lebih memilih untuk diam.
Langkahnya terhenti begitu ia sampai didepan sebuah rumah minimalis yang tampak sangat nyaman. Ia mendesah pelan, keadaan rumahnya pasti berbeda dengan suasana rumah sang sahabat yang kini ada didepannya. Rumah Kim Seokjin, sunbae dari kelas vokal. Yoongi melangkah mendekat, menekan bel rumah dan menunggu terdengarnya suara si pemilik dari intercom.
"Nuguya?" suara orang disana mulai terdengar.
"Min Yoongi." katanya singkat.
"OH! Yoongi-ah! Tunggu, ne...!" suara Jin terdengar antusias ketika Yoongi menyebutkan namanya. Ia hanya tersenyum kecil sembari menunggu.
Tak lama, pintu gerbang disampingnya terbuka. Sosok Jin keluar dengan balutan kaus santai, menyodorkan sebuah botol minum pada Yoongi.
"Minum, nih. Kau pasti lelah, kan?" katanya kalem.
Yoongi mengernyitkan dahi. "Aku hampir dehidrasi tiap kali main basket, kau tahu? Kenapa hanya berjalan ke rumahmu saja aku harus lelah?"
"Ssstt, sudahlah. Ayo jalan!"
Jin mendorong bahu Yoongi agar berputar arah. Keduanya berjalan pelan menyusuri blok perumahan Jin yang tidak terlalu sepi. Malam ini tidak terlalu dingin, tidak juga terlalu hangat. Namun suasana seperti ini cocok sekali untuk jalan-jalan.
"Kau mau kemana?" tanya Jin ketika keduanya sampai di alun-alun kota.
"Ah, iya! Kau bilang mau mentraktirku es krim tiga kali? Ingat, aku mengalahkanmu kemarin, hyung!" Yoongi menunjuk wajah Jin tepat didepan hidungnya.
"Mengalahkan apa?" Jin pura-pura tidak ingat. Tentu saja aslinya ingat kejadian dimana tubuhnya benar-benar terasa mati rasa ketika tanding basket bersama Yoongi.
"Pabbo! Aku menang basket 15-10 denganmu!" katanya lagi, dengan nada yang sedikit meninggi.
Jin tertawa kecil ketika mendengar sahabatnya yang kini agak terbuka kepadanya. Sifat asli Yoongi memang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja. Walau sifat aslinya tidaklah sehangat yang mungkin dibayangkan oleh orang-orang, namun bagi mereka yang sudah sangat dekat dengan Yoongi, hanya sekedar kekehan kecil dari Yoongi saja sudah terdengar bersahabat.
"Oke, oke. Tapi malam ini aku hanya membawa sedikit uang, jadi kupikir hari Minggu nanti saja, ya?" Jin tersenyum sambil meraih dompetnya.
"Yayaya, terserah! Yang pasti kau harus memenuhi janjimu,"
"Ne, Princess." Jin terkekeh sambil pura-pura menunduk hormat.
"Sialan. Kau sendiri pun princess..."
"Hei, aku ini manly!" bantah Jin.
"Tapi kau suka Disney Princess, suka warna pink, suka masak..."
"Kau juga selalu masak sendiri,"
"Aku tidak seprofesional dirimu soal memasak, Jin hyung," Yoongi menekankan lagi.
"Ah, sudahlah! Ayo ke kedai es krim,"
Jin menarik tangan Yoongi agar cepat-cepat menyebrang menuju kedai es krim didepan sana. Tak lama, keduanya keluar dengan es krim ditangan masing-masing. Jin dan Yoongi berjalan beriringan menyusuri trotoar yang cukup ramai. Jalanan ini sudah sering mereka lewati, sangat familiar.
"Kau mau ke tempat biasa?" tanya Yoongi.
"Boleh. Disana memang tempat yang nyaman menurutku," tanggap Jin.
Jalanan itu memiliki beberapa gang kecil. Di gang keempat dari kedai es krim terdapat sebuah tangga menuju atap sebuah bangunan yang sudah lama tak terpakai. Itulah tempat yang sering mereka kunjungi jika memiliki kesempatan untuk keluar malam.
Disana, bisa terlihat bintang-bintang sedikit menghiasi malam. Angin semilir berhembus, menerpa pelan wajah keduanya. Yoongi menjilat es krimnya kemudian mengambil duduk dipinggir atap yang menghadap pada suasana kota. Satu hal yang terpikirkan, nyaaman dan indah.
"Yoongi-ah, kupikir kau tidak mau keluar malam ini," ujar Jin membuka suara setelah keheningan melanda mereka.
Yoongi menoleh. "Aniya. Tidak apa-apa, kemarin aku hanya sedang tidak ingin saja. Kau tahu aku, bukan?"
Jin mengangguk mengiyakan. Ia jelas tahu tentang sahabatnya walau Yoongi sendiri jarang menceritakan kisahnya pada Jin. Namun entah kenapa, Jin seolah bisa tahu permasalahan Yoongi tanpa memaksa Yoongi untuk bicara—karena pada kenyataannya Yoongi terlihat susah untuk menceritakan apa yang dia pendam.
Pertemuan pertama mereka adalah saat Jin tergesa-gesa ketika keluar dari kantin karena dipanggil oleh gurunya. Ia yang saat itu menenteng seplastik minuman dingin untuk teman-teman klub vokalnya kemudian bertabrakan dengan Yoongi yang sedang mengikuti MOS. Karena tak tega melihat hoobae-nya keringatan seperti itu, jadilah ia memberikan sebotol minuman dinginnya untuk Yoongi. Itulah yang membuat keduanya menjadi dekat karena setelahnya, Yoongi pernah datang ke kelasnya untuk berterimakasih.
Jin tertarik dengan Yoongi yang pendiam, namun malah memilih klub vokal rap yang kebanyakan anaknya memiliki mulut banyak bicara seperti Park Chanyeol. Yoongi juga bisa menulis lirik rap hanya dalam waktu beberapa menit. Yoongi juga terlihat lebih suka menumpahkan segalanya lewat menulis daripada berbicara. Walau Jin sendiri tidak pernah menemukan buku diary dikamar Yoongi.
"Yoongi-ah, kau suka menulis?" tanya Jin akhirnya.
"Aniya." Yoongi menoleh lagi. "Waeyo?"
"Tidak apa. Kau terlihat keren sekali saat menumpahkan kata-katamu di lirik rap, tapi kenapa kau tidak suka berbicara panjang pada orang lain? Yah... walaupun dengan diriku sendiri kau tak pernah banyak-banyak bicara, sih." Jin menatap Yoongi yang masih diam.
"Aniya... aku bukannya tidak mau bicara. Aku tidak dingin dan aku tidak sombong. Aku hanya tidak terlalu suka berbicara, oke? Terkadang aku tidak tahu cara untuk mengungkapkannya..." Yoongi mendesah kecil.
"Aku hanya ingin semuanya mengerti kalau aku tidak kesepian!"
Jin tersenyum kecil mendengarnya. Ya, Yoongi memang tidak kesepian. Ia tidak menganggap dirinya kesepian. Yoongi punya orang tua, punya Jin sebagai sahabatnya, punya teman-temannya yang lain di sekolah. Ia tidak kesepian.
"Baiklah. Kau memang tidak kesepian, Yoongi."
Yoongi memutar bola matanya malas. "Kau tahu hyung, kita terdengar seperti sepasang kekasih,"
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Jin terkekeh. Ia menatap dari samping wajah Yoongi yang menunduk menjilat es krimnya yang sudah tinggal sedikit.
Yoongi hanya menggedikkan bahunya acuh, malas.
"Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihat adik angkatmu, lho!" Yoongi buka suara lagi.
Senyum kecil Jin terkembang. Yoongi belum pernah bertemu Jimin? Maklum saja sih. Ketika Yoongi datang ke rumah Jin, Jimin malah ada kegiatannya sendiri diluar rumah. Atau bisa saja ketika Yoongi datang, si Jimin malah ketiduran. Hah... ia tidak mungkin kan, membuka kamar Jimin hanya untuk menunjukkan pada Yoongi bagaimana rupa adik angkatnya?
"Dia terkadang suka sedang ada kegiatan diluar jika kau datang..."
"Hm... tapi kan, aku sudah lumayan sering mengunjungi rumahmu? Kita sahabatan berapa tahun, ya?"
"Mollayo. Tapi tidak ada salahnya kan, bersahabat hingga bertahun-tahun?"
Yoongi mengangguk sebagai jawaban. Matanya menerawang ke langit sana. Suasana Seoul masih ramai walau malam sudah agak larut. Yoongi menghembuskan nafasnya ketika mata sipitnya menangkap 7 kilauan cahaya bintang diatas sana. Cantik, jujur saja itu sangat menawan.
"Jin hyung, apa bisa ya, seseorang memiliki sahabat hingga 6 orang?" tanya Yoongi pelan.
"Tentu saja. Bahkan terkadang ia bisa menemukan cinta sejatinya didalam persahabatan itu," jawab Jin.
"Apa aku bisa punya banyak sahabat?"
"Ne, kau bisa. Karena manusia itu makhluk sosial, kan?"
"Hm..." Yoongi hanya bergumam kecil.
"Aku jadi ingin memiliki persahabatan dengan 7 orang. Kapan ya, Tuhan mempertemukanku dengan 6 orang yang lainnya?"
Tak sengaja mata Yoongi menatap ke arah dibawah sana. Disana, ia melihat sesosok namja yang terlihat sedang menatap ke arahnya dan Jin. Namja itu putih dan tinggi. Wajahnya imut dan menyiratkan kesan polos.
Siapa dia?
Kenapa alisnya mengerut seperti itu ketika menatapnya?
.
.
.
.
.
.
TBC!
A/N: Annyeong! saya kembali lagi... gak tau kenapa makin lama kok makin aneh, ya? disini scene-nya Jin sm suga dulu yak... biar gak susah2 nanti si Tae kenalan sama Jin. hehe~~ dapet preview deh bwt chap depan. disana si Tae bakal kenalan sm Jin lebih lanjut!
Time to reply~~
she3nn0: gomawo juga udh review lagi ^^ yey tae chukkae udh bisa ngomong sm Jin. sahabatnya Jin ternyata... JRENG! SYUGANTENG~~ dan yg nyelamatin Tae itu suga, kakak~~ hmmm... disini si Namjoon mw sama siapa, ya? enakan sama namja juga ato yeoja? Mungkin kamu bisa kasih saran untuk pasangan Namjoon. kalo Namjoon single juga gapapa sih... wkwkwk
taetaehyong: thanks for review, chingu! iya, fyuh~ akhirnya ketemuan. yg nyelamatin Tae si suga. dan maaf Jhope kmren gak muncul, tapi disini muncul kok. maap banget juga kalo scene-nya masih sedikit. seiring cerita mungkin akan bertambah scene-nya.. oke? /wink gagal/ thank you :)
kaemtaev: bukan, yang nolongin si Syuga patjar saya /wks/ thank you udah ripiu ya~ nanti diusahan fast update, kok!
N-Yera48: kyaaaa~ thanks udh ripiu lagi yach! semua tebakan kamu bener, dan itu si Baek entah kenapa sama imutnya kayak Jungkook. iya, disini other chapternya bakal munculin banyak kpop idol, tapi gatau juga mau munculin OC apa enggak. boleh kasih saran kok, siapa yg cocok utk jadi OC/other kpop idol. tapi di PM aja, ya! thank you, kakak~
yeri kim: iyup, yg nolongin Tae adalah suga. btw, suga di mv danger itu demi apa kece badai, loh... thanks for review, ya~~ iya deh, aku bakal banyakin tapi pake proses oke? sankyu and review again, ya?
fujoshistan: annyeong, salam kenal juga! hopekook sm minsu-nya nyusul seiring jalan cerita kok, kan nanti mereka makin lama saling kenal. thanks for review :D
yunacho90: iya, yg nolong tae si suga, sesuai dgn ciri2 yg disebutin baek. thanks udh review, chingu~ krn review kalian juga aku jadi semangat lanjutnya! mwah ._.v
Guest: oke, thanks for review! ^^
Pinky05KwmS: keyakinan kamu benar eon, itu suga si patjar wkwkwk. mereka bakal ketemuan lagi di chap depan, okeh? maap kalo yg sekarang garing banget dan gak seru ples makin abal. thankyou :*
MAKASIH BANGET YG UDAH REVIEW! ^^ MAKIN SEMANGAT KALO MAKIN BANYAK YG REVIEW :*! THANKS JUGA BWT YG UDH FAV AND FOLLOW... MAKIN CINTEH BWT SEMUANYA~~~ /caps jeblok/ luv yu guys!
