FLASHBACK:
"Kenapa harus aku?" tanya Gumo dengan suara tinggi. Kesal karena Nero menyuruhnya melacak keberadaan Rin.
"Posisimu yang paling dekat dengannya, Gumo…"
"Mana Len?"
"Entah. Kelihatannya dia sedang mengintai sesuatu."
"He? Nero, aku di sini!"
"Iya, iya… Aku tahu. Jangan berteriak di telingaku!"
"Stop! Sebenarnya apa yang kalian lakukan, sih?"
"Kami sedang memerhatikan markas Soldier. Walau sudah usang, sepertinya masih ada aktivitas"
"Aku juga sedang memerhatikannya!" seru Gumo.
"Lho, kau ada di mana?"
"DI SAMPINGMU, TAU!"
Nero dan Len menoleh dengan wajah 'horror'. Gumo berjongkok di sebelah mereka sambil meremas transceivernya.
"Dengan tempat sama seperti ini, kau bilang posisiku lebih dekat?" geram Gumo.
"Maaf, maaf.. Tapi kau, kan, yang lebih ahli di bidang ini…" rayu Nero.
"Ya, dan kau ahli kentut!" cibir Gumo.
DUAAKK!
"Rasakan!" gerutu Nero setelah mendaratkan satu tendangan di 'tempat terlarang' Gumo. Dan Gumo pun hanya bisa menggelepar kesakitan layaknya ikan Lele di darat..
END OF FLASHBACK
-0-
Di markas Assasin.
"Rambutnya agak memanjang dan dihiasi pita putih besar. Dia sekarang murid di sebuah SMA ya.." gumam Gumo.
"Sulit dipercaya gadis semanis itu pernah merepotkan kita"
"Jelas. Dia, kan, jenderal Soldier. Tepatnya sih mantan." Sela Len.
"Wow, baru kali ini kau ngomong, Len!"
"Oh, shut up. Nero!"
"Jadi, sampai mana tugas kalian?" lerai Master. Len dkk. Saling berpandangan.
"Kami hanya bisa melacak keberadaan Rin Kaganemi, Master." Jawab Nero.
"Bagus. Intai kegiatannya. Gumo, kau bisa masuk di sekolahnya, kan?"
"Aku saja." tukas Len tiba-tiba.
"Tidak boleh. Nanti kau malah merusak rencana!" cegah Nero. Master member isyarat setuju.
"Kau masih dibutuhkan di sini. Biar Gumo saja" lanjut Master. Gumo cemberut.
"Jadi aku sudah tidak dibutuhkan?"
"Bukan begitu. Tapi kau, kan, yang paling senior" kilah Master.
CLIING..
"Siap~" mata Gumo berbinar-binar saat dipanggil 'senior'.
"Tugas seperti ini hanya untukku, junior…" sombong Gumo.
"Oh ya? Kita hanya beda 1 bulan, kan!"
"Aku beda 3 bulan.." lirih Len. Merasa terkucil karena termuda.
"Cuup, cuup, baby.."
"Kau sudah jadi ayah, ya?" tanya Master cengo'. Kalau Nero ayahnya, terus siapa ibunya? Gumo mungkin? Master bergidik sendiri membayangkannya.
"Amit-amit punya anak kayak Len" Nero misuh-misuh.
"Amit-amit juga punya ayah kayak Nero."
Hening..
"Gumo mana?"
"..Dia sudah pergi…"
"..Payah…"
Master, Nero dan Len sama-sama menghela napas panjang. Hhh...
-0-
Gumo memerhatikan SMA Welt dengan gugup. Belum pernah dia sekolah. Kecuali saat SD dulu. Selebihnya dia hanya belajar dari buku. Belajar merakit peledak, maksudnya..
"Siapa?"
Gumo menoleh. Lily berada di belakangnya.
"Murid baru?" tanya Lily lagi.
"Aku… Belum.." Gumo tiba-tiba ingat kalau Master sudah mendaftarkannya di sekolah ini.
"Aku, ngg… Kelas 2-A.."
"Sama dengan nee-sanku. Ayo ikut aku!" ajak Lily.
"Ba.. Baik…" dengan malu-malu, Gumo mengikuti langkah Lily yang ringan. Entah kenapa dadanya terasa nyaman..
"Namamu siapa?"
"Lily Kaganemi."
Kaganemi? Kebetulan. Gumo langsung berpikir kalau dia mendekati Lily, dia bisa mendapatkan informasi tentang Rin secara detail.
"Kita sampai, nee-san!" suara Lily menyadarkan Gumo dari lamunannya.
"Ada apa, Lil? Siapa dia?" tanya Rin sambil mendekati adiknya.
"Megpoid Gumo. Salam kenal" sela Gumo. Rin memerhatikan Gumo dengan cermat.
"Murid baru, ya? Aku Rin Kaganemi. Salam kenal.." sapa Rin ramah. Lalu memberi isyarat pada Lily agar kembali ke kelasnya.
"Karena pak Meito belum datang, kita bisa ngobrol. Duduk di sampingku, dong.. Em, Gumo?"
"Baiklah.."
Gumo mengekori Rin yang beranjak ke bangkunya.
"Kau tahu sejarah perang A.S.?" tanya Rin tiba-tiba. Gumo mendengus. Kepiawaian Rin dalam menilai seseorang tak boleh diremehkan rupanya.
"Tidak."
"Syukurlah. Soalnya itu sudah 3 tahun lalu dan perang itu sadis" Rin menekankan pada kata 'sadis'. Seolah menyindir pasukan Assasin yang pertama kali mengobarkan perang.
"O.. Oh ya?" Gumo tertawa canggung.
"Aku tidak tahu. Aku ada di Yunani saat itu.." lanjut Gumo.
"Yunani? Itu markas Assasin, kan?" desak Rin.
"Aku ada di Athena dan tak melihat orang-orang mencurigakan."
"Tentu saja. Athena, kan, khusus pejabat tinggi Assasin" Rin tersenyum penuh kemenangan.
"Dan ada bekas 'Red Goggles' di kepalamu. Itu salah satu pusaka 3 Assasin…?"
"A…" keringat dingin menetes dari dahi Gumo.
"….BERCANDA! Haha, pak Meito sudah datang tuh!" tawa Rin, kemudian duduk di kursi.
"Hufft.." Gumo menghembuskan napas lega. Tangannya bergerak untuk meraba poninya.
'Emangnya ada bekasnya, ya?' batin Gumo.
PLAKK!
"Addoww!" jerit Gumo. Di pantatnya sekarang terdapat ornament telapak tangan berwarna pink.
'Nasib.. Habis 'itu' ku ditendang Nero, sekarang pantatku yang mulus yang kena sasaran!' rutuk Gumo sedikit narsis dalam hati.
"Duduk sana!" usir pak Meito. Gumo beranjak sambil meringis.
"Dan kau, Rin Kaganemi! Kenapa kau masuk? Kau, kan, kena skors!" tunjuk pak Meito. Dengan mata yang berkaca-kaca (akting), Rin berdiri dari kursinya, dramatis.
"Tolong pak… Saya hanya berniat mencari ilmu. Saya janji, saya tak akan mengulanginya lagi…" setengah terisak (akting juga), Rin memohon.
Semua siswa dan siswi yang mengetahui akal-akalan Rin hanya terkikik pelan.
"Ugh…" Pak Meito mengalah. Bagaimanapun juga, Rin termasuk siswi berprestasi dan imut di kelasnya. Masa' dia tega mengusirnya? Apalagi dengan ekspresi seperti itu.
"Duduklah lagi di tempatmu!"
"Yes!" Rin duduk.
"Bagaimana? Aktingku bagus, kan!" bisik Rin pada Gumo. Gumo tak menjawab. Masih kesakitan.
"Sakit, ya? Tenang. Bakal normal 5 bulan lagi, kok.."
"What!" Gumo melotot.
"Nih, balsem.."
"Bukannya nanti tambah parah ya?"
"Hehe."
-0-
Len termenung di depan sebuah makam, dengan nisan bertuliskan,
R.I.P
Lola Maldini
18 September 0075
"Lola-san.." gumam Len.
"Jangan sedih.."
Len-tanpa menoleh-tahu siapa yang menghiburnya.
"Nero."
Nero tersenyum tipis lalu ikut duduk di samping Len.
"Sudah 3 tahun lalu, Len. Aku dan Agiel juga kehilangan Miriam dan Sonika. Tapi kita harus sadar itu tidak ada gunanya. Meratapi orang mati, sama saja dengan 'pungguk merindukan bulan'!" sahut Nero, bijak.
"Tapi, apa begitu dashyatnya perang itu hingga Lola-san meninggal!"
"Entahlah. Kita hanya bisa meneruskan impian mereka…" Nero menggantung kalimatnya. Len menatapnya nanar sebelum melanjutkan perkataan partnernya.
"Menjadi prajurit setia untuk Master dan Assasin."
Nero menepuk pundak temannya lalu berlalu dari sana diikuti Len. Tanpa sadar bahwa seseorang mengamati gerak-gerik mereka daritadi.
-0-
Orang itu memainkan bunga Lili putih yang berada di depan nisan Lola. Seringai iblis muncul di wajahnya.
"Kalian tidak tahu apa-apa soal kematian 3 dewi Assasin.. Yang juga merupakan penentu takdir kalian kelak…"
-Continued-
Akita : Yeah, aktif lagi deh Akita! *girang.
Len : Hei, ada author lain yang mereview bersama Kuro-san!
Luka : *memukul kepala Len dengan centong (?). Akita-san lagi baca fic, jangan ganggu!
Akita : Nee, sudah kok Luka. Balas review yuk!
Nyx. Stifo
Akita : Banyak yang tidak dimengerti? Hueee.. Maafkan Akita! Mianhae, noona...!
Rin : Itu, sudah dijelaskan di atas. Aku memang sengaja masuk, soalnya di rumah pasti bosan! O ya, Teto belum masuk karena sakit dan skors! Pemuda di awal memang Len *melirik kembarannya.
Miku : Glek, Akita-san disuruh mengurangi waktu untuk baca fic lain? Akita-san pasti langsung lari ke kamar dan nangis berjam-jam! Habis saat ini, Akita-san demam fic Super Junior.
Kikaito : Tetap review, ya, Stifo-san.
Kuro 'Kumi' Mikan
Akita : Waah, terima kasih sudah mau mereview fic Akita untuk yang kesekian kalinya, Kuro-san! Kuro-san sudah mengerti jalan ceritanya? Wow!
Len : Akita-san tersanjung dibilang ' chap ini lbh panjang dr chap yg lain yah~ jd seru bcany'. Makanya sekarang dia berusaha keras untuk menulis chap yang lebih panjang.
All : Please review!
