Author :

Rafiz Sterna

Casts :

All member Super Junior and Super Junior M.

Disclaimer :

Super Junior dan Super Junior M milik diri mereka masing-masing dan Tuhan yang telah menciptakan mereka.

Ada yang mau ambil alih disclaimer nya?

Summary :

Cek! Apakah golongan darah dan sifat kalian sama dengan para anggota Super Junior ini?

...


A/N :

Gomen!

Dalam beberapa minggu ini aku terkena virus malas menulis. Sekalipun ide di kepalaku tengah banjir-banjirnya.

Sebagai bentuk permintaan maaf, kali ini aku berusaha untuk melanjutkan fanfiction ini semaksimal mungkin. Aku rasa, bahasanya akan aneh. Yang penting kalian mengerti apa yang aku tuliskan, ne?

Terima kasih kepada semua pihak yang telah menyempatkan diri untuk memberikan review fanfiction yang penuh typo ini. Terutama chapter kemarin yang begitu parah, dimana aku menuliskan Hangeng bergolongan darah A dan Leeteuk bergolongan darah B, seharusnya itu sebaliknya. Maaf sekali. Terima kasih atak kritiknya. *bow*

Silakan koreksi lagi di chapter ini.

Selamat menikmati! *teriak bareng Ryeowook*

...


A, B, O, dan AB nongkrong di kantin

A : Donghae

B : Henry

O : Kangin

AB : Heechul

...


Ketika empat orang anggota Super Junior tengah makan bersama. Hal apa yang mungkin terjadi? Silakan simak dan bayangkan.

...


Tidak ada perayaan khusus untuk hari ini. Lagi-lagi hanya kebetulan hingga Donghae, Henry, Kangin, serta Heechul bisa berkumpul di salah satu meja di kantin gedung SM Entertainment (ini khayalan ku. Aku tak tahu berapa kadar kebenarannya). Well, mereka ini grup yang sibuk meski tak dalam masa promosi album. Tapi Tuhan memang baik, karena masih memberikan kesempatan, setidaknya kepada empat anggota Super Junior ini menikmati sedikit kebersamaan mereka.

Mereka –seluruh anggota Super Junior- sudah berencana sejak semalam untuk melaksanakan makan siang ini berapa pun jumlah anggota yang bisa hadir. Dan keempat orang ini lah yang ternyata bisa.

Makanan yang mereka pesan sesuai kebutuhan masing-masing. Yeah, seharusnya. Hanya saja, saat ini salah satu member sedang berbaik hati untuk mentraktir, lagi pula hanya empat orang termasuk dirinya sendiri. Sebut saja inisialnya, K.

Oke, namanya Kangin.

Bukti rasa sayangnya kepada saudara tak sedarahnya di Super Junior dan sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Kangin.

"Kita pesan ramen saja. Aku tak mau dompet ku tandas karena kalian bertiga."

Putus Kangin setelah melihat daftar makanan yang tercantum di buku menu. Pelit. Memang. Terlalu lama bergaul dengan leader atau manusia tertua di Super Junior membuat Kangin mendapatkan sedikit sikap buruk nya.

"Huacim!"

Leeteuk tiba-tiba bersin di tempat kerja.

"Apa kau flu Leeteuk-ssi? Perlu aku belikan obat khusus?"

Tanya sang manager kepada Leeteuk yang kini sibuk menggosok ujung hidungnya.

"Anioo. Kurasa ada yang membicarakan aku."

Yang kemudian hanya di tanggapi dengan pandangan aneh sang manager. Jika bersin nya seseorang dihubungkan dengan jumlah manusia yang membicarakan dirimu, harusnya seluruh artis di muka bumi ini mengidap penyakit bersin tak berkesudahan. Hmm..

Kita kembali kepada Kangin dan tiga orang yang akan ditraktirnya.

"Kau memang pelit. Setidaknya yang lebih mengenyangkan sedikit."

Ucap Heechul pedas. Tentu saja pedas. Heechul telah membatalkan janji dengan temannya yang lain demi janji makan siang ini. Lalu setelah cuma empat orang yang hadir, masa dia harus hanya menyantap semangkuk ramen? Yang benar saja.

"Hyung~ kau sayang pada kami kan?"

Sebut Donghae dan Henry seluruh kemampuan aegyo yang mereka miliki, keduanya menatap dalam Kangin. Seolah ini adalah makan siang terakhir mereka. Meski berlebihan.

"Baiklah. Terserah kalian mau pesan apa. Dan kalian berdua, Hae dan Henry, berhenti melakukan tatapan itu. Kalian membuatku merasa ketakutan dengan aegyo aneh itu."

Keputusan Kangin akhirnya di buat. Bertepatan dengan lambaian tangan Heecul memanggil pelayan. Pasrah akan berapa jumlah bill yang kelak akan di tagihkan padanya.

Beberapa menit kemudian di isi dengan pembicaraan ringan sambil menunggu pesanan masing-masing datang dan siap di santap.

Mulai dari bagaimana pertumbuhan rambut Ryeowook yang terakhir terlihat berubah warna menjadi merah, menurut Heechul. Yang kemudian di bantah oleh Donghae, bahwa rambut Ryeowook itu sebenarnya berwarna hijau lumut. Lalu di tambahkan oleh Henry, akibat Ryeowook terlalu banyak mengkonsumsi bawang, rambutnya berwarna ungu seperti bawang merah. Harap wajar dengan pembicaraan absurb semacam ini.

Pesanan keempatnya telah tiba di hadapan masing-masing. Sumpit telah di pegang oleh tangan kanan mereka.

Donghae mulai menyumpit makan dengan tenang. Yang lain pun begitu. Henry mulai melupakan dunia sekitarnya dan mulai fokus dengan mangkuk di hadapannya. Tak tertarik, bahkan sekedar untuk mencicipi apakah makan milik teman di sebelah patut di coba. Sedangkan Kangin, entah kenapa terlihat paling bersemangat dalam sesi makan bersama ini. Dengan sigap, tangannya mengangkat ujung sumpit. Bahkan terlihat tanpa kunyahan di setiap suapan yang di lakukan nya. Seolah jika dalam 5 menit makannya tak segera dihabiskan, maka penyakit mematikan akan mampir .

Heechul, dia adalah rata-rata. Tidak terlalu lambat atau pun cepat. Dia terlihat menikmati makanannya dengan damai. Ambil dengan sumpit, suap kan dengan pelan. Kemudian kunyah dengan seksama. Atau mungkin kini Heechul tengah menghitung hingga kunyahan ke 30 kali? Dan mulai menyuap lagi.

Tata krama untuk tidak berbicara ketika makan, entah bagaimana caranya, kali ini terlaksana dengan baik. Padahal kan biasanya mereka di liputi keramaian, bahkan ketika tidur pun mereka begitu heboh (maksudnya dengan berbagai macam igauan dan dengkuran saat tidur. Bukan yang lain.)

Hingga suatu gerakan mengganggu kegiatan yang lain.

Heechul dengan gerakan tiba-tiba, meletakkan sumpit dengan agak kasar. Meninggalkan Donghae dan Kangin yang terkejut tak terkira. Padahal sedikit lagi makanan di sumpit Kangin hampir masuk ke mulutnya, kini hanya tergantung bebas di udara. Sedangkan Donghae hanya bisa terdiam menatap tingkah Heechul hyung-nya itu. Sedangkan bocah mochi, masih fokus dengan kegiatan makannya. Sama sekali tak terpengaruh akan suasana nya yang baru saja berubah.

B itu biasanya kurang peduli, dan dengan stay coolnya terus menikmati makan hingga suapan terakhir.

Gerakan Heechul kemudian di lanjutkan dengan meninggalkan meja dengan gerak tergesa ke arah salah satu ruangan pada gedung SM Entertainment. Meninggalkan beberapa orang yang khawatir padanya, akan ada masalah apakah gerangan yang menimpa Cinderella Super Junior ini?

AB tetap eksentrik dengan segala prilakunya yang cenderung misterius.

Makanan yang telah di gulung sedemikian rupa pada ujung sumpit Kangin, kini benar-benar di abaikan. Baik pandangan Donghae atau pun Kagin kini beralih menyaksikan langkah kaki Heechul yang tanpa sepotong kalimat permisi meninggalkan mereka bertiga. Beberapa bulir keringat dingin mulai nampak merembes di pelipis Donghae. Oh, mengenai Henry. Sepertinya bocah ini benar-benar tidak peka akan apa yang terjadi.

Donghae diam. Pikirannya memikirkan kemungkinan apa yang terjadi.

Kangin juga sibuk dengan pikirannya. Meski tangan kanannya tak juga melepaskan sumpit.

Dan Henry, masih makan dengan damai.

Beberapa detik kemudian yang di rasa agak menengangkan bagi member yang tersisa di meja makan –kecuali Henry tentunya- berjalan begitu lambat. Hidangan yang ada di meja tak terasa enak lagi. Kangin dan Donghae hanya mampu menatap arah kepergian Heechul. Beberapa detik ini membuat Kangin mengambil keputusan. (berasa drama)

Rasa penasaran terasa begitu membuncah. Dengan segera, Kangin bangkit dari kursi nya dan bergerak menuju arah Heechul melarikan diri tadi. Tanpa meninggalkan sumpit di tangan (-_-). Raut wajah Kangin menjelaskan, seberapa penasaran dirinya dan akan ada banyak pertanyaan yang kelak di sampaikannya kepada Heechul saat di ketemu nanti. Tak peduli jika makanan di mangkuknya masih tersisa. Lapar bukan masalah utamanya kali ini. Rasa penasarannya kini lebih penting.

O itu selalu penasaran, kerennya KEPO (Keep Everything Particular Object).

Hanya dua orang di meja makan. Henry dan Donghae.

Beberapa suapan lagi makanan yang tangah di santap Henry akan habis. Yang termuda pada sesi makan siang ini sama sekali tak tergugah untuk sekedar menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu ada yang salah dengan para hyungdeulnya.

Sukses membuat Donghae kehilangan nafsu makannya 100%. Keringat malah bertambah banyak di pelipisnya. Beberapa poni milik Donghae bahkan terlihat basah. Makanan di hadapannya hanya di aduk secara acak. Donghae tak mampu mengambil keputusan akan hal apa yang harus di tempuhnya.

Suapan terakhir kini selesai bermuara ke lambung Henry. Hingga tetes terakhir Henry menyantap hidangan, bahkan kuah-kuahnya. Sepertinya Mochi memang lapar sekali.

"Ah~ kenyangnya."

Ucap Henry setelah meneguk segelas orange juice. Beberapa gerakan kecil terlihat mengelus perutnya yang kini terisi penuh energi.

Masih belum sadar apa yang terjadi. Butuh beberapa saat baginya untuk sadar apa yang terjadi. Belum sempat Henry mengajukan pertanyaan mengenai apa yang terjadi. Sebuah kalimat tanya malah tiba dari Donghae, lengkap dengan ekspresi mengenaskan.

"Mereka pergi gara-gara aku,kah?"

Aduh~ Please dong, Donghae. Kenapa kamu begitu sensitif?

Dan hanya ditanggapi Henry dengan,

"Ciusan, hyung?"

(-_-) Henry! Sebegitu innocent-kah dirimu?

A malahan merasa bersalah dan berfikir apa kurangnya yang mungkin bisa membuat orang terganggu.

Cerita makan siang bersama di kantin, kali ini berakhir.

Selesai.

...


A/N :

Garingkah saudara-saudara?

Maafkan saya. Aku memang gak pandai menyusun cerita dengan tulisan yang penuh dengan percakapan. Beberapa tulisanku malah berakhir hanya dengan narasi saja.

Apakah masih ada typo yang terlewat? Tolong koreksinya.

Please review? *senyum bareng Siwon*