Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya, atau jika dia tak sempat, dia kan bisa menyuruh sekertarisnya untuk mengurus payung itu. Apalagi Shuhua tahu bosnya itu sangat sibuk.

Gosip yang terdengar mengatakan Tuan Guanlin adalah workaholic sejati yang menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja.

Atau, kenapa tidak dia buang saja payung itu? Toh, aku juga tak akan berani menagihnya, pikir Shuhua sambil mengerutkan kening di dalam lift yang mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO mereka. Ini kali kedua dia ke ruangan ini, sungguh tak disangka, dua tahun bekerja disini dia hampir tak pernah bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan itu, tetapi sekarang, dua hari berturut-turut dia dipanggil menghadap Guanlin.

Lift terbuka dan dia dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekertaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat kaku dan efisien itu menatap Shuhua dengan skeptis, sepertinya dia juga bertanya-tanya kenapa pegawai rendahan macam ini sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke sang CEO, padahal setahunya Guanlin hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaannya, itupun lewat meeting resmi perusahaan dan melalui seleksi janji temu yang rumit.

"Tuan Guanlin sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu Anda, saya sudah menginformasikan kedatangan Anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan Anda langsung masuk," gumam sekertaris itu dingin.

~J~

Guanlin baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuat dia begitu terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi, dia sudah menelpon atasan Shuhua tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan gadis itu. Dan atasan Shuhua begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Shuhua sampai terlambat.

Yah, mungkin setidaknya gadis itu akan berterimakasih padaku… Atau malah jengkel? Guanlin tersenyum sinis, menilik sifat gadis itu, sepertinya Shuhua akan tambah jengkel dengannya.

Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Guanlin termenung.

Gadis itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah kost, bahkan gadis itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi,

'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi. Apakah gadis itu benar-benar sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di kamar kost, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?

Apakah dia sakit? Memikirkan kemungkinan itu, dada Guanlin langsung merasa nyeri.

Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak, gadis itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.

Kalau begitu, dia pasti gadis yang suka menghambur-hamburkan uang, Guanlin menyimpulkan. Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Guanlin rela memberikan uang sebanyak yang Shuhua mau asal Shuhua mau melayaninya.

Ia sangat kaya, dan memiliki gadis seperti Shuhua yang benar-benar memacu hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.

Lamunannya terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan Shuhua.

Guanlin menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya, Dia punya penawaran bagus, dan jika gadis itu seperti yang diduganya, Shuhua pasti tak akan mampu menolaknya.

"Kata Pak Manajer Anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal," gumam Shuhua sopan ketika Guanlin mempersilahkannya duduk.

Guanlin tidak menjawab hingga Shuhua menatap Guanlin bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tetapi pikirannya seolah tak ada di situ.

"Pak?"

Lelaki itu mengerjap.

"Oh! Payung," gumamnya seolah baru teringat akan hal itu, "Ada di meja sekertarisku, kau bisa memintanya padanya."

Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku menghadapnya? Shuhua mengerutkan kening.

Ketika Guanlin sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Shuhua segera bangkit dari kursinya.

"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terimakasih sudah merepotkan Anda, permisi Tuan," gumamnya setengah berbalik.

"Tunggu, Shuhua."

Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Shuhua membalikkan tubuh.

Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri berhadap-hadapan dengan Shuhua.

"Aku meralat ucapanku tadi pagi," gumamnya misterius.

Shuhua mengerutkan keningnya.

"Tentang…?"

"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah."

Mulut Shuhua ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku mmm… Bukan kekasih… Apa ya, istilahnya di Korea? Wanita simpanan?"

Guanlin tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock Shuhua.

"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku." Suaranya menjadi rendah dan merayu. "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi, kau tahu aku kekasih yang murah hati, aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa pindah dari tempat kost kecilmu itu, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan, mobil mewah, perhiasan mahal, baju-baju rancangan desainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau menyukainya Shuhua karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai-sampai kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan kulunasi. Bagaimana Shuhua? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu."

Ketika Guanlin akhirnya mengakhiri pidatonya, Shuhua sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau wanita yang tidak punya harga diri. Tapi lelaki itu menawarkan kepadanya?!Kepadanya!! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!

"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu wanita seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas…."

PLAAAKKK!!!

Tamparan itu begitu keras sampai kepala Guanlin terlempar ke belakang, suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu.

"Berani-beraninya Anda!!" Napas Shuhua terengah-engah. "Berani-beraninya Anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya!! Anda pikir saya wanita macam apa?? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan…" Suara Shuhua terhenti melihat ekspresi Guanlin.

"Menjijikkan katamu?" Jika tadi Guanlin tak marah karena tamparan Shuhua, sekarang dia benar-benar marah "Jika menurutmu aku menjijikkan…"

Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, "Jika menurutmu aku menjijikkan…"

Entah bagaimana Shuhua mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan panik dan takut Shuhua setengah berlari menuju pintu.

Tapi terlambat, Guanlin bergerak secepat kilat menerjangnya, Shuhua berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Guanlin mendorongnya kembali tertutup.

Lelaki itu menghimpitnya di pintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah.

"Le…. Lepaskan saya!!! Atau saya akan berteriak dan menuntut Anda atas pelecehan…"

Guanlin tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara.

Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Shuhua, bibir Guanlin mencari-cari bibir Shuhua, tubuhnya makin menekan Shuhua ke pintu.

Shuhua menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Guanlin hanya menempel di rahangnya, dia mencoba meronta melepaskan diri tapi tubuh Guanlin menghimpitnya ke pintu dan tangannya mencengkeram kedua tangan Shuhua di kiri dan kanan kepalanya.

Mereka bergulat beberapa saat, tetapi Guanlin tak mau menyerah dari perlawanan Shuhua. Sampai kemudian ketika Shuhua membuka mulut untuk berteriak, Guanlin memagut bibir itu.

Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Guanlin melumat bibir Shuhua seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Shuhua yang selembut madu.

Shuhua terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Guanlin untuk mencium semakin dalam, seluruh tubuhnya menempel ditubuh Shuhua, makin mendorong Shuhua ke pintu, setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Shuhua, lidah Guanlin mulai mencecap dan mencoba-coba, mulai membelai masuk ke dalam bibir Shuhua.

Shuhua mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu. Tapi Guanlin begitu lembut dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah, lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Shuhua. Guanlin mengerang dalam ciumannya. Oh ya Tuhan nikmat sekali! Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket. Gadis itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, sekujur tubuh Guanlin menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! Tangannya merayap naik dan menyelinap di antara jari Shuhua sehingga Jari-jari mereka saling bertautan, Guanlin mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup.

Sejenak Shuhua merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga, rasa ciuman ini… Ya Tuhan, Seonho tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini. Seonho…Ya Tuhan!!

Shuhua mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Guanlin. Mulut Guanlin yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi, Shuhua mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.

Suasana ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan, Shuhua bahkan tak tahu itu napas siapa. Guanlin masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya, bibirnya begitu dekat dengan bibir Shuhua, hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Shuhua. Mata Guanlin tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Shuhua sinarnya begitu tajam.

"Kau menikmatinya, kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu, kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong…."

Dengan tiba-tiba Shuhua mendorong Guanlin hingga mundur beberapa langkah, ditatapnya Guanlin dengan mata marah menyala-nyala.

"Dasar bajingan!! Kau bermimpi kalau aku menginginkanmu, kau tak akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi!! Kau begitu menjijikkan!!!"

Suara Shuhua semakin serak karena menahan tangis. Jangan… Jangan! Kau tak boleh menangis, Shuhua! Nanti dia akan semakin merendahkanmu! Desisnya dalam hati.

Guanlin memandang Shuhua dengan pandangan tajam merendahkan.

"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin, nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."

"Lebih baik aku mati!!"

Shuhua setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.

Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Shuhua yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan, rambutnya kusut masai dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

Tapi Shuhua tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu. Dengan langkah berderap, Shuhua memasuki lift meninggalkan ruangan itu.

Guanlin mengusap mulutnya yang terasa panas, dia merasa sedikit bodoh, karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip.

Guanlin menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat, sudah lama sekali Guanlin tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sumsum.

Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar, Guanlin mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali.

Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.

Masih mengernyit Guanlin menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Tapi jika gadis itu seperti yang kupikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung gadis itu?

Tidak! Dengan cepat Guanlin menyingkirkan keragu-raguannya. Semua gadis sama saja, Guanlin tidak pernah salah. Beri gadis-gadis itu kemewahan dan dia akan takluk padamu.

Mungkin tawarannya masih kurang bagi Shuhua, Guanlin mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling Eropa misalnya.

Atau mungkin, Shuhua hanya mencoba jual mahal. Wajah Guanlin menggelap mengingat kata hinaan Shuhua barusan, menjijikkan katanya??

"Lihat saja, Shuhua. Setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa kuberi padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu," sumpah Guanlin dalam hati.

~J~

Suasana hati Shuhua benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk dalam hatinya. Shuhua merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan Guanlin tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu, yang sudah sangat familiar dengannya.

Apapun yang ada dipikirannya tadi langsung buyar begitu melihat Suster Hyuna menyongsongnya dengan wajah pucat pasi.

"Kemana saja kau, Shu?! Aku mencoba menghubungimu sejak dua jam tadi, tapi kau tak bisa dihubungi!"

Wajah Shuhua langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Seonho dirawat.

Suster Hyuna tergopoh-gopoh berlari mengikuti di belakangnya.

Shuhua terpaku di depan ruangan Seonho dengan napas terengah-engah, dokter dan perawat masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Seonho.

Suster Hyuna tiba dibelakang Shuhua dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya.

"Dia sudah tidak apa-apa, Shuhua. Kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat, kenapa kau tadi tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Seonho dalam kondisi paling kritis, saat itu kau pasti ingin bersamanya."

Air mata mengalir di pipi Shuhua. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Seonho kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Shuhua mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat. Ya Tuhan, seandainya tadi Hoho….

Shuhua memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir semakin deras, dia tak berani membayangkan semua itu.

Suster Hyuna memeluknya dengan penuh keibuan sementara Shuhua menumpahkan air matanya.

Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Shuhua makin cemas.

"Bagaimana kondisinya, dokter?" Suara Shuhua gemetar, ketakutan.

Dokter itu menarik napas panjang.

"Seonho pria yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang, tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya, kami harus mengoperasi ginjalnya, Shuhua."

"Mengoperasi ginjalnya?" Shuhua mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris. "Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan!!"

Tubuh Shuhua menjadi lunglai, untung suster Hyuna menyangganya, air mata mengalir semakin deras di pipinya.

"Apakah… Apakah tidak ada cara lain…?"

Dokter itu menarik napas prihatin.

"Seonho dalam kondisi yang tidak lazim, dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi. Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu, operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin, Shuhua."

Shuhua menarik napas dalam dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.

"Baik dokter, lakukan operasi itu, apapun agar Seonho selamat." Suaranya mulai gemetar. "Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut, dok?"

Seluruh tubuh Shuhua menegang, tangannya terkepal seolah-olah menanti hukuman.

Dokter itu menatapnya sedih, rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab.

"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki tiga ratus juta, Shuhua."

~J~

Hujan turun lagi dengan derasnya, bahkan payung itu pun tak bisa melindungi dirinya dari percikan air hujan. Tapi Shuhua tak peduli.

Dimana dia??!

Shuhua menatap sekeliling parkiran itu dengan panik, hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu, apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan.

Kecuali dirinya sendiri tentunya.

Ya Tuhan… Dimana dia??!

Shuhua menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkir direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.

Lelaki itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan.

Sekarang hari Jumat.

Dan Shuhua menunggu dengan cemas, bagaimana jika lelaki itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.

Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Shuhua tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung oleh payung kecilnya.

Lalu pintu lobby itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Shuhua melangkah keluar.

Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Guanlin melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi.

Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Shuhua. Tetapi ketika jarak mereka semakin dekat, Guanlin menyadari bahwa Shuhualah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang.

"Wah, ada apa gerangan sampai Anda menyempatkan diri menunggu saya disini?"

Sebenarnya Guanlin sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran satpam yang memayunginya.

"Ssaa… Saya… Ingin bicara dengan Anda..."

Guanlin mengernyit menyadari suara Shuhua yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, apakah gadis itu kedinginan? Berapa lama gadis itu menunggunya di luar sini?

Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih gadis itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya.

Guanlin melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan, lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka.

Setelah satpam itu jauh, Guanlin menatap Shuhua dengan gusar.

"Demi Tuhan!! Tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payung itu tak berguna, kau hampir basah kuyup!"

Sejenak Shuhua ragu, tapi Guanlin benar, tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang.

Dengan hati-hati, dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Guanlin.

Lelaki itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak banyak," gumamnya sombong.

Shuhua menatap Guanlin penuh tekad meski gemetaran.

"Sa… Saya menawarkan diri kepada Anda, Anda boleh memiliki saya semau Anda".

Guanlin menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu gadis ini menyerahkan diri kepadanya.

"Kau pikir aku masih berminat padamu?" gumamnya mengejek.

Wajah Shuhua pucat pasi, kata-kata Guanlin bagaikan menamparnya keras. Tapi dia bertahan, demi Seonho, tekadnya dalam hati.

"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi."

"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa??!"

Guanlin membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Shuhua, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran gadis itu. Tapi ketika melihat Shuhua hampir terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Guanlin melembut.

"Oke, berapa?"

Shuhua mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu

Guanlin mendesah tak sabar.

"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan." Dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak tertarik. "Aku tak punya banyak waktu untukmu."

Shuhua menelan ludah.

"Ti..Tiga ratus… Juta.."

"Apa?" Guanlin membelalakkan mata tak percaya.

"Tiga ratus juta." Kali ini Shuhua berhasil terdengar mantap.

Guanlin mengernyit jijik.

"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu??!"

"I.. Itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu Anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi."

"Kau pikir aku bodoh atau apa?" desis Guanlin. "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko."

"Kalau begitu Anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini."

Shuhua mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah-olah mengobrolkan penjualan barang.

Guanlin terdiam, tampak menimang-nimang usulan Shuhua, lalu wajahnya mengeras.

"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula…" Ia memandang Shuhua dengan tatapan menghina. "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu, sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam."

Guanlin hendak membalikkan badan meninggalkan Shuhua.

"Lupakan saja, gadis yang terlalu murahan memadamkan gairahku."

Shuhua langsung panik melihat Guanlin membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya. Tidak!! Oh Tidak !! Laki-laki itu tak boleh menolaknya!! Dialah satu-satunya harapan Shuhua untuk menyelamatkan nyawa Seonho!!

Dengan setengah histeris, Shuhua melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak.

Ditariknya lengan Guanlin, dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Shuhua berjinjit, merangkul kepala Guanlin dan mencium bibirnya.

Tubuh Guanlin kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, gadis itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Guanlin langsung meledak tak terkendali.

Dengan kasar dirangkulnya pinggang Shuhua, setengah mengangkatnya agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir gadis itu habis-habisan.

Ciuman Guanlin sangat ganas dan penuh gairah, dan gadis itu meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Guanlin menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Shuhua. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.

Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Guanlin benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak gadis ini.

Guanlin baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Shuhua yang mulai megap-megap.

Mereka berdiri dengan rapat dan Guanlin masih memeluk pinggang Shuhua, setengah mengangkat Shuhua, tangan gadis itu berpegangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh.

Guanlin menatap Shuhua tajam, bibir gadis itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang.

Well, cium saja aku dan aku akan terbakar, geram Guanlin dalam hati.

Dengan kaku diturunkannya pinggang Shuhua, lalu dilepaskan pegangannya.

"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani."

Guanlin menatap Shuhua geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! Malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli."

Tiati chapter 3 ada "that things"nya. Persiapkan mental bacanya. Yang belum cukup umur dosa tanggung sendiri yaa ㅋㅋㅋ