Tidak ada yang perlu disesali

Sejak awal kau telah menarik dosa

Sejak pertama kau memilih hal jahat untuk melingkup dalam hidupmu

Maka yang kau perlukan, hanyalah beristirahat dalam kegelapan abadi

Jurang penghalang noda dan hal suci

Bidang pisau mungil perak didentingkan jemari telunjuk. Alunan nyanyian pemuda merdu melingkupi sekitar dari benda itu berada.

Yang hanya kau perlukan, hanyalah menikmati dosamu yang telah kau buat

Nyanyian merdu itu muncul dari pisau tersebut. Saat ada yang menjentikkan bidangnya, tiba-tiba keluar suara seakan pisau tersebut hidup kemudian bernyanyi. Senyuman samar tercetak dari wajah pemuda berkerudung.

"Hahaha… entah kenapa aku tidak ingin permainan ini cepat berakhir. Tapi orang jahanam tidak pantas untuk hidup."

.

.

.

"Haha, seperti aku tidak tahu siasatmu… Halilintar…"


Dedicated for #FusionBBBChallenge


Pilihanku, adalah Dosa

By

oczelt


"Besok adalah hari pertunanganku."

Air yang saat itu meminum air putih dalam gelasnya, tersedak kuat. Sedang Gempa yang masih menikmati menu sarapan, langsung mendiami sendoknya dari piring. Semua mata tertuju pada pengumandang pengumuman sakral.

Menu hari ini adalah nasi goreng. Gempa sendiri yang memasaknya dibantu Air. Nasi yang dilumuri saus tomat dan kecap seperti makanan Asia pada umumnya. Ditambah potongan daging kecil juga udang-udang yang telah dikupas kulitnya. Seharusnya menu itu menjadi menu yang tidak seenaknya ditolak untuk mengganjal perut.

Api menyatakan pengumuman itu saat ia paling terakhir masuk ke ruang dapur. Orangnya masih duduk di meja makannya, belum menyentuh menu di meja itu sama sekali. Kelihatannya dia buru-buru ingin memberitahu kepada orang yang satu ruangan padanya. Dipicu ekspresinya yang serius, mungkin bisa saja.

'K—khh, siapa yang kau nikahi?'

Lagi-lagi Air lupa kalau dia bisu.

"Api, kau tidak memilih tenggat waktunya terlalu cepat?" ujar Gempa. "Kenapa harus minggu ini…?"

"Sudah kubilang aku akan menikah!" ekspresi wajah Api tampak garang saat itu. Air terperangah. "Kalau aku tidak menikah cepat, kapan aku akan menjadi raja?!"

Gempa tidak kalah membalas, "Tapi pernikahan itu adalah hal sakral, pangeran."

Air juga ikut menyetujui ucapan Gempa dengan menganggukkan kepala. Ia mengenggam tangan Api langsung. Kemudian, ia menggelengkan kepala kecil dengan raut wajah nanar. Memberitahu bahwa pilihan Api terlalu cepat.

Kecuali kalau yang dimaksud Api adalah menikahinya. Air memalingkan irisnya ketika memikirkan hal itu, dengan semburat merah muncul tipis.

"Tidak… aku tetap akan menikah."

Entah firasat menyatakan bahwa harapan Air akan kandas.

=oOo=

Air duduk di tepi kolam, tempat pertemuannya dengan Halilintar saat ia pertama kali belajar berjalan. Tangannya menyipak air disana. Bermain-main pada udara sejuk yang dilebarkan sang unsur alam itu dengan telapak tangannya.

"Jadi kau memanggil namaku dan ingin kesini, hanya untuk melamun… hebat, Air."

'Aku hanya ingin kau sebagai pendengar keluhanku kali ini.'

"Sampai membaw air dari dapur ke kamar dengan diam-diam, demi melamun sepanjang waktu bersamaan mereka tergesa-gesa ingin melaksanakan pernikahan?"

'… begitulah, penyihir.'

Tidak jauh dari dimana Air duduk, permukaan air bertambah kacau. Seseorang menyembul di dekat lokasinya sembari memakai tudung. Iris merahnya ditampakkan menyorot wajah Air yang masih bertampang datar.

'Salahkah aku mengeluh? Besok adalah kematianku. Keinginanku selama ini untuk dipinang dia sirna, Hali.'

"Jangan meringkas nama orang seenaknya."

'…'

Kedua iris Halilintar mengecil, ia merespon kaget. Melihat bibir tipis Air yang datar menjadi senyuman.

"Air?"

'Yah, aku juga entah kenapa jadi ragu memperjuangkannya. Dia hanya menganggapku, sebagai adik. Sampai kapanpun,' iris biru Air mengarah pada wajah Halilintar yang masih menatapnya. 'Aku juga tidak mungkin bisa mendapatkan cintanya. Aku tahu harusnya aku bisa berjuang deminya, tapi aku tidak melakukannya. Karena aku mencintai seorang penyihir.'

"… kau, suka padaku?"

'Aku cinta padamu, sampai kapanpun.'

Suasana menjadi senyap. Kedua pemuda itu saling menatap satu sama lain lama. Halilintar memilih mengalah dengan memalingkan wajahnya dari Air.

"Kalau kau memilihku, kau akan menjadi duyung kembali saat menciumku. Hidupmu bakal sama seperti dulu," ujar Halilintar.

'Aku tahu. Tapi aku bisa hidup lama, bukan?'

Halilintar tertawa kecil. "Hahh? Jadi itu alasanmu bilang kau suka padaku? Karena cintamu kandas oleh Api, akhirnya kau memilihku buat mematahkan kutukan? Lucu."

'Tidak!' raut wajah Air menjadi sedih. Dia mengapit kedua bibirnya dengan kedua matanya menyipit—menahan tangis. 'Aku benar-benar mencintaimu…'

"Kembalilah ke tempatmu berada lalu lihatlah pernikahan Api."

'Tapi—'

Sinar terang berkerlap-kerlip mengitari tubu Air yang terduduk. Air kaget mendapati tubuhnya menjadi transparan. Halilintar kembali menggunakan sihirnya untuk mengembalikan Air pada kamarnya. Terbukti dari cara Halilintar menaikkan satu lengannya ke atas.

Padahal Air menyatakan demikian karena dia ingin bisa bersama Halilintar selamanya. Tapi apalah, Halilintar memang orang yang tidak mau diperalat.

'H—hiks, Halilintar…'

Sosok pemuda manusia itu menghilang dari pandangan Halilintar. Sang penyihir menundukkan kepalanya kemudian menghela napas.

'Aku tidak pernah tahu, aku telah memiliki hati. Bahkan aku tidak tega melihat Air menangis.'

=oOo=

Suasana kediaman Air yang tenang berangsur rame. Beberapa orang yang tidak dia kenali dengan tubuh berotot bolak-balik bergotong royong memindahkan barang dan properti. Ada yang menyediakan kursi-kursi. Ada meja panjang menjadi dimana kursi-kursi itu menghadap. Tiga buah lilin yang diletakkan pada wadah menjadi penghias meja itu. Sebagai pembatas area acara dari hamparan luasnya pantai disana, mereka mendirikan tiang-tiang untuk kemudian dipasang tenda di sekitarnya.

Air menjenguk kesibukan orang ribut itu dari jendela kamarnya. Ia melihat Api dan juga Gempa yang tengah berbicara dengan seorang lelaki berkacamata. Wajah si pemuda itu begitu tampan meski bentuk rambutnya awut-awutan.

Mereka bertiga berbincang dengan selingan senyum. Air sempat merasa heran tentang apakah pemuda itu yang menjadi tunangan si Api?

Tunggu—Api manusia. Dia normal. Tidak mungkin sepertinya yang bahkan orang bermartabat, mau dengan sesama jenis karena hanya melihat wajah?

Gempa dengan memakai topi terbalik coklat tua melambaikan tangan kepada lelaki berkacamata itu. Api yang hanya menggunakan jaket tanpa lengan terdiam dari tempat. Ia tidak memberi tindakan nyaman saat pemuda itu ingin pergi. Kenapa?

'Andai aku bisa bicara. Aku ingin bertanya pada Gempa, siapa tunangannya.'

Kembali Air merebahkan dirinya pada ranjang besar di kamar Api. Tubuhnya ia posisikan miring. Ia menarik selimut tebal disana kemudian menutup tubuh sampai kepalanya.

'Aku tidak mau tahu apapun. Meminta bantuan Taufan sekarang aku juga segan. Apa aku harus mempertaruhkan tridentnya?'

Kedua matanya terbelalak. Saat menyebut Taufan—nama kakaknya, entah bagaimana dia jadi teringat pada sesuatu. Dibukanya kembali selimut tebal itu lalu bangkit dari ranjang. Ia segera melangkahkan kakinya cepat menuju ambang jendela. Air memerhatikan wajah pemuda berkacamata itu lekat.

'Tidak salah lagi, itu Fang! Kenapa dia ada disini? Dan, berkaki?!'

Ingin sekali Air menghampiri tangan kanan kakak kandungnya itu, tentang mengapa ia seakan akrab dengan Gempa dan Api. Tentang apakah dia terlibat pernikahan ini. Dan apa yang dia bicarakan pada Api dan Gempa.

Jika bukan mengingat ia akan terancam dimarahi Taufan saat bertemu, Air tidak mungkin menahan kedua kakinya hanya dalam kamar saat itu. Memberitahu dimana dia berada pada Fang? Dia belum siap melihat wajah kecewa dari Taufan akan kutukan yang ia dapati dari kesepakatannya bersama penyihir.

Walau Air rindu kampungnya. Walau ia mungkin bisa meminta bantuan Taufan mematahkan kutukannya. Walau mungkin saja suaranya akan kembali.

Tapi Air benar-benar berniat ingin mengakhiri hidupnya. Ia sudah lelah hidup diantara cintanya yang tak kunjung bersemi.

Bahkan sekarang yang bisa Air lakukan hanya kembali ke ranjangnya kemudian menenggelamkan tubuhnya di bawah hamparan selimut.

=oOo=

Hari pernikahan Api dimulai. Pantai menjadi riuh oleh pendatang-pendatang asing yang sudi mendatangi hari membahagiakan calon raja mereka. Mobil-mobil mewah penuh di sepanjang jalan beraspal dekat pantai dan acara itu. Ada sebagian bangsawan yang memakai delman sebagai transportasi mereka.

Jamuan-jamuan disana terhidang begitu mewah. Makanan laut (yang biasa orang sebut seafood) beragam jenis menggiurkan mata siapapun anak-anak pendatang disana untuk menyantap segera. Jus-jus dingin ikut menemani jejeran, bahkan seperti asparagus ikut terlibat oleh hidangan mereka.

Api sudah berdandan gagah. Ia berdiam cukup lama dari depan meja pendeta.

Gempa turut menemani sang mempelai laki-laki disana. Ia sengaja duduk paling depan agar bisa mengawasi sekaligus tidak menganggu acara itu ketika akan berlangsung. Sedangkan Air, ia memilih duduk di dekat Gempa tanpa melihat wajah Api sedikitpun. Mereka semua memakai tuxedo.

Suara para tamu-tamu yang riuh seakan ditelan. Air merasakan hal janggal tersebut. Ia segera menoleh dan mendapati sosok pemuda digiring pemuda lain—yang tidak asing di mata Air. Pemuda kacamata menggiring pemuda berwajah sama dengannya menuju kapel.

'K—KAK TAUFAN?!'

Jantung Air berdetak kencang. Wajah ngerinya didapati oleh kakaknya itu, dan yang bersangkutan menoleh sedikit kepada Air dengan tersenyum. Sontak Air mengenggam tangannya geram. Ia bangkit dari kursinya, dan luapan marah menyerubung pikiran Air. Tangannya menggapai kursi yang kemudian dilemparkannya kursi tersebut pada Taufan.

Fang mengambil langkah berani. Ia menangkap bangku itu dengan hanya satu tangan. Seluruh pendatang yang sudah mengambil ancang-ancang menghindari daratan kursi, riuh kagum pada pesona Fang.

"A—apa ini?" Api tersulut murka. "Kau, aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri tapi kenapa kau mengacaukan acaraku?!" Api menunjuk wajah Air secara poin.

"Api, tenanglah," Gempa berusaha menengahi mereka. "Air, bisa kau jelaskan dia siapamu sampai kau melempar kursi pada mempelai Api?"

Air menggelengkan kepalanya lemah. Wajahnya menampakkan ekspresi depresi.

"Air, ada yang mau kuberitahu padamu," Api membalikkan badan dari sang pendeta, mendekati Air yang masih gemetar. "Aku melakukan ini demi kita. Aku tahu kau cinta denganku. Aku juga tahu, kalau kau kaget itu adalah kakakmu yang menjadi mempelaiku…"

Tangan Api mengenggam telapak tangan Air yang bergetar. Air menatap Api tidak percaya.

"Kita keluarga, tapi saling mencintai. Katanya kau terkena kutukan sihir. Kakakmu punya niat mulia untuk melepaskan kutukanmu."

"Baiknya kau, Api~"

Taufan dan Fang sudah dekat dari lokasi Air, Gempa, dan Api berdiri. Api tidak menghiraukan ucapan Taufan. Ia melanjutkan menatap Air serius.

"Aku juga sebenarnya mencintaimu. Tapi aku menahan hasratku ingin menciummu, karena kata Taufan kita saudara," Api mendekatkan punggung tangan Air kepada wajahnya. "Kau bahkan berjuang untuk mendapatkan cintaku dengan mengorbankan suara, ekor, dan nyawamu. Aku jadi semakin suka padamu."

Kedua mata Air terasa perih. Satu pasang bulir airmata jatuh dari kedua pelupuk mata Air. Ia menangis, namun suaranya tidak ada. Api memeluk badan Air erat.

'Aku tidak tahu, kalau Api menerimaku… harusnya aku tidak menyatakan perasaanku pada Halilintar saat itu… hiks!'

"Kakakmu, Taufan, mencintai kita…"

"Kebohongan semata. Opera sabun yang begitu indah."

Suara pemuda lain menimpali kelima pemuda disana. Seorang bertudung secara ajaib muncul di hadapan mereka. Wajahnya yang tenggelam di bayangan penutup tudung menambah aksen mengerikan dari pita suaranya.

"Berapa lama kau membuat skenario ini, Taufan?"

Air menoleh pada Halilintar dan Taufan. Kedua orang yang dicemaskannya bertemu dengan suasana mencekam. Ya, seharusnya para pendatang itu khawatir atau ketakutan. Seharusnya. Namun ada beberapa yang berdiam dari tempatnya dan malah melototi Halilintar.

Halilintar merespon pelototan pendatang dengan percaya diri membuka tudungnya. "Kau menghipnotis Api agar dia bisa bicara manis kepada Air. Kau menikah pada Api dengan cinta paksaan. Tidak ada indahnya dari memaksa orang menyukai kita!"

Air merespon kaget. Sama demikian dengan Gempa disana.

"Kau sudah lama menyukai Api. Aku tahu itu. Dan apa? Air yang seharusnya dicintai Api kemudian menikah bersama. Bukan kau yang malah bersanding dengannya!"

"Apa kau iri denganku, karena kau masih dendam cintamu tidak kubalas?"

Taufan memainkan peran sebagai raja begitu baik. Ia menghadapi sungut Halilintar yang tajam dengan santai.

"Kita berdua sama-sama penyihir. Jangan kira aku tidak tahu akal bulusmu dari semua skenario ini."

"Kau yang bisa mencelakai Air, apa hakmu seperti bisa memihak Air?" balas Taufan lebih dalam. "Aku tahu apa yang kulakukan ini terbaik untuk Air. Aku tahu juga kalau kau ingin Air cepat mati, bukan?"

'Api! Api!'

Sementara itu Air menggoyangkan tubuh orang yang memeluknya. Dia terdiam kaku dengan tubuh yang mendingin. Air menepuk-nepuk pipi pangeran itu, namun ia masih sama hanya membelalakkan mata dalam diam. Seperti boneka yang tidak diprogram untuk digerakkan.

"Kau sudah sadar ya, Air?" Taufan menoleh pada adiknya itu datar. "… Api telah mati."

'APA?!'

"Sihir Halilintar yanng membuatnya mati. Karena kau mengadu pada Halilintar, Api dia bunuh."

"Tch! Kau yang membunuhnya, Taufan!"

Air semakin terkejut. Gempa sudah pingsan duluan dengan jatuh tersungkur pada kursinya.

"Teganya seorang yang ia percayai telah membunuh pujaan hatinya…"

"Taufan, diam kau! Dasar licik!"

Apa dosaku telah mencintai seseorang?

Dia yang menjadi ceria karenaku, telah membunuh harapanku?

Kau penyihir penopangku

Selama ini aku menyukaimu apa adanya

Tapi aku tidak percaya

Duri yang kubiarkan bersemat diantara mawar yang kurawat

Ternyata menghancurkan batang sang mawar

Aku sedih

Aku sedih

Aku sedih….

'B—berhenti kau, suara Air…'

Pisau perak yang menjadi suara Air dikeluarkan Halilintar dari jubahnya. Dia berdenting dengan suara indah. Semua orang dari dalam acara itu dapat mendengar suara jeritan tangis Air lewatnya.

'Karena yang bisa membuat sang raja mati, hanyalah sesuatu yang terbuat dari milik keluarganya.'

Halilintar memfokuskan matanya menatap Taufan. Segera tangannya melesat melambungkan pisau itu menuju Taufan dalam jarak dekat. Mengarah pada jantung sang raja lautan.

Kedua penyihir itu malah merespon wajah yang sama. Kedua mata mereka membesar sambil membuka mulut mereka kecil.

"AIRRRRRR!"

Sang tokoh utama mengenggam bilah pisau yang menancap pada jantungnya. Tubuhnya lemas, dan dengan sisa napasnya yang terkikis waktu kutukan ia manfaatkan untuk menyelamatkan seorang raja.

Seorang raja yang sebenarnya adalah antagonis dari cerita hidupnya selama ini.

Karena yang benar-benar membunuh dan memanfaatkan Api, adalah Taufan dan keculasan hatinya.

Dan Halilintar yang ingin membantu Air dengan rencana kemudian ingin akhirnya menerima cinta Air, kini hanya bisa meratapi tubuh Air yang terkulai mati terpeluk Api.

=End=

A/N: Akhirnya pupusss! Mai gad, ga nyangka ini beneran jadi tragedy *rolls*

Tidak terima jeritan hati gak rela dari pembaca. Bay /ditimpukpembaca