Being together

A/N: Shounen-ai, K+, Angst, Humanized, AU, Second Point of View

The Penguins of Madagascar © Tom Mcgrath/Eric Darnell – Nickelodeon/DreamWork

~~xxXxx~~

Kau tahu kata cinta tidak bisa kau jelaskan secara logis, terlebih karena kau bukanlah psikologis. Jadi wajar saja kalau hal seperti itu selalu menjadi misteri tersendiri di benakmu. Akan tetapi kau tahu satu hal mengenai cinta, ia ada untuk dirasakan, bukan dijelaskan. Kau menyadarinya sebab kau merasakannya, perlahan mengenal dengan cinta yang misterius itu. Dari jauh kau menatap bagaimana wanita anggun itu membaca lembar per lembar laporan para mahasiswanya. Bagaimana cara satu tangannya membalik helaian kertas tersebut sementara yang satunya menggenggam sebungkus roti. Entah bagaimana bisa kau mendapati cara perempuan itu melakukan dua tindakkan sekaligus terlihat indah dan menawan.

"Kowalski," kau segera menengok ketika pundakmu ditepuk oleh Mason. Otakmu yang mengosongkan diri sejenak tadi mencerna arti tepukkan serta tatapan temanmu lima kali lebih lambat. Ini ironis sebab kau terkenal akan kecepatan mengolah informasi yang diterima.

"Lupakan dia, kau tahu Doris sudah bertunangan." kau hanya bisa menunduk ke arah roti isi yang sedang kau santap. Ia yang dipanggil Mason hanya bisa menghela napas dalam, sementara satu temanmu yang lain yakni Phil menikmati makan siangnya dengan damai. Fakta dia bisu dan memilih tidak ikut campur adalah alasannya.

"Heh, mudah bagimu berkata seperti itu, kau tidak tahu rasanya." segera kau lahap roti berisi ikan tuna itu sebagai pelampiasan.

"Perkataanmu benar jika Lulu tidak dihitung." ekspresi kesalmu tiba-tiba saja menghilang menjadi sebuah penyesalan saat tatapan Mason bertemu dirimu. Ya, tatapan, bukan ekspresi. Cara bola mata mengirimkan jawaban terkadang lebih jujur dibanding raut yang menjadi topeng. Kau sudah lama tahu bagaimana kedua saudara kembar itu mengekspresikan emosinya. Fakta mereka memilih tatapan sebagai perantara kau ketahui tidak lama setelah kalian bertemu di Amerika dulu. Saat itu dirimu yang kuliah di sebuah universitas ternama tidak sengaja bertemu dengan Mason dan Phil. Perpustakaan universitas; tepatnya rak buku psikologi, menjadi saksi buta awal pertemanan kalian bertiga. Tidak kau sangka kejenuhanmu belajar kimia dan beralih ke psikologi sebentar mempertemukanmu dengan duo psikolog terkenal ini.

"Maaf." kata itu seakan tergelincir dari ujung bibirmu, tanpa sadar keluar. Sayang, Mason terlanjur tersinggung, kini kau harus menikmati istirahat siangmu ditemani aura canggung. Adanya Phil saja sudah sedikit menyempitkan ruangan mendadak, apalagi ditambah efek samping ucapanmu? Nikmatilah makan siangmu.

~xXx~

Tanganmu meraih telepon genggam yang kau taruh secara sengaja di meja kecil sebelah ranjangmu. Tinggal dua pertiga lagi sampai pada telepon berlayar sentuh itu, tanganmu kau kembalikan pada pinggiran ranjang lagi. Matamu masih saja menatap kosong perangkat elektronik tersebut. Keinginan untuk menelpon sekarang dan nanti masih saja terus berdebat, memperebutkan posisi keputusan yang masih kosong.

"Payah." gumamanmu ditelan oleh bantal tempat kepala berisi otak jeniusmu kau rebahkan. Tanpa sadar sebuah topik aneh memonopoli pikiranmu, menendang acara debat yang tadi. Ia bertanya, apa kau rindu dengan rekan-rekanmu? Pertanyaan bodoh, sudah tentu kau merindukannya, bukan? Kemudian pertanyaan itu diganti dengan kalimat berujungkan tanda tanya lainnya. Kira-kira siapa yang paling kau rindukan? Disinilah pikiranmu berhenti memikirkan jawaban. Sebenarnya kau sudah memiliki jawabannya, hanya saja ragu untuk menjawabnya. Tanpa peringatan, benda yang awalnya ingin kau gunakan kini berganti posisi denganmu. Kini dialah yang meminta untuk digunakan.

"Iya?" segera kau menerima panggilan namamu sebagai jawaban. Tanpa kau sadari, senyuman merekah di wajahmu. Tanpa kau sadari kembali, ini menjadi jawaban atas pertanyaan sebelumnya, Rico 'lah yang paling kau rindukan kalau boleh jujur.

"Ada apa?" tanganmu meraih kacamata yang tadi kau letakkan di meja sebelah, dengan cekatan memakainya.

"Tidak, hanya ingin menelpon. Tidak mengganggu 'kan?" kau mendapati sebua tawa kecil lepas dari mulutmu.

"Tentu tidak. Ngomong-ngomong bagaimana di sana?"

"Biasa saja. Kemarin Marlene mengirimkan tiket ke karnaval, berhubung hanya tiga, rencananya besok pergi. Maaf kalau kau tidak bisa ikut."

"Tidak apa-apa, aku bisa datang sendiri ke karnavalnya setelah pulang." entah kenapa rasa kesepian merayap di benakmu.

"Biar aku temani kalau begitu." matamu mengerjap beberapa kali mendengarnya. Rasa senang bercampur malu melempar rasa kesepian yang tadi hinggap.

"Oh ya, bagaimana universitasnya?" lamunan sesaatmu dihancurkan oleh suara Rico di ujung sana.

"E-eh, ah, biasa-biasa saja 'sih. Mason dan Phil juga ikut diundang ternyata." kau mendengar Rico menyuarakan huruf O dari sisi lain.

"Aku juga, bertemu dengan seorang dosen disini. Perempuan." kau tahu Rico sudah mengetahui kemana arah pembicaraan ini sekarang akan menuju. Rico memilih diam, memberikanmu ruang untuk melanjutkan kisahmu.

"Dia cantik, baik pula,"

"Baguslah kalau begi–"

"sayang, ia sudah bertunangan." kau dapat menebak reaksi lawan bicaramu, terlebih dengan kesunyian yang diberikannya.

"Kowalski," kau tersenyum sendiri mendengarnya, sungguh menenangkan bisa berbincang dengan sahabat.

"Tenang saja, aku tidak apa-apa." kau berbohong, sungguh sebuah pendustaan yang begitu sering dipakai semua orang. Benar jika kau berkata bohong, benar jika kau menyembunyikan rasa patah hati, salah jika kau patah hati akibat Doris. Justru Doris 'lah yang kau jadikan pelarian akibat patah hati.

"Kowalski, ingat, kalau kau ada apa-apa, aku selalu ada untuk membantu." kau merasakan pandanganmu menjadi kabur mendengarnya. Tenggorokkanmu tiba-tiba saja memanas.

"Terima kasih, Rico."

~xXx~

Setengah jam setelah telpon dari Amerika sana, suara Rico masih terngiang di pikiranmu. Alasan kau bisa menyukai Doris karena itu kau jadikan pelarian atas rasa sakit mengetahui rekanmu menyukai orang lain. Doris bahkan adalah pelarian pertamamu, wajar kalau itu entah kenapa menyakitkan, dan wajar jika kau bisa-bisanya mencintai orang yang baru kau temui sekitar empat hari yang lalu. Mau bagaimana lagi, selama setengah tahun mengetahui fakta memedihkan tersebut, kau menerima saja dijejali gestur Rico kepada Private. Jadi kau putuskan untuk mengawali yang baru, akan tetapi kembali berakhir menyedihkan. Awalnya kau mengira hanya kau yang mengalami rasa hancur ini, akan tetapi pemikiran itu segera diganti oleh teori lain. Untuk mengetahuinya adalah sebuah cobaan karena rasa hancurmu berubah menjadi rasa kepedihan tiada tara, seakan dipaksa melihat seseorang disiksa habis-habisan tepat di depan mata. Memang kau tidak mengalaminya, tapi mengetahuinya saja sudah begitu sakit. Bagaimana tidak? Kau yang menyukai Rico mengetahui Rico sendiri mencintai Private, rasa hancur pertama. Setelah itu kau menyadari Private cinta mati dengan Skipper, rasa hancur kedua. Dan sebagai fakta ekstra, kau sadar bahwa Rico telah mencintai Private sejak satu tahun yang lalu, sementara Skipper yang menjadi cinta Private sendiri membalas perasaan Private secara tidak langsung. Dengan kata lain, selama satu tahun ia terpuruk begitu dalam, disiksa dengan disuruh menontonnya. Siapa pun pasti tidak tega mendengarnya, apalagi kau yang memang memiliki rasa kepada sahabatmu itu. Benar-benar dipaksa menelan pemandangan orang lain ditusuk berkali-kali pada tubuhnya, sebegitu sadisnya sebab orang itu masih hidup. Hatimu serasa memilu memikirkannya, seolah mendengar jeritan putus asa orang yang tengah disiksa itu. Sebenarnya, apa yang menjadikan itu jauh lebih sakit adalah karena kau tidak bisa berbuat apa-apa melihat temanmu, sahabatmu, cintamu harus hancur dari hari ke hari.

Bantalmu menjadi saksi malammu hari ini, ia bahkan menjadi TKP akibat jejak-jejak air matamu yang mengering padanya. Andai saja ada yang bisa kau lakukan, ya, andai saja.

Through the pounding in my chest, I still want to protect you. - Heart Rate #0822 / Hatsune Miku ft. papiyon

~~xxXxx~~

Author's note: Sepertinya saya harus mengganti nama Skipper dan Private di characters. Fanfic ini memang benar-benar various pairing, mainly 'sih SkiVate. Ngomong-ngomong, jujur, entah kenapa kecepatan saya mendapat ide fanfic seperti ini jauh lebih cepat dibanding yang lainnya. Juga dengan cara menggunakan Second Point of View. Dan lagi, pada tahu siapa Lulu 'kan? Dia yang ada di Hoboken sekarang, Chimpanzee juga.

Semoga tidak ada typo dan yang lainnya. Serta paham maksud dari plotnya.

Thanks for reading