Kisah sang penulis muda chap 4...
Sebenernya Diamond sama Emerald nanya,sebenernya mau sampe berapa chapter sih?
Q bingung,soalnya kan emang tiap chapter contentnya dikit dikit...
Yah,sementara ni lagi puyeng,qta terusin aja ya perjalanan Rangiku yang...bahkan aku belum mikir endingnya mau kayak gimana...ha ha ha...
Ya...dari sebuah hari yang cerah di kampus Karakura University,tepatnya di kantin di lantai dua,cerita ini dimulai...
KACAMATA MINUS DI BALIK JERUJI BESI 1
"Rangiku,kau tak pernah menceritakan hal ini pada kami...kenapa?Kenapa baru bilang sekarang...aku benar benar tak percaya hal ini..."protes Miyako.
"Iya,jangan cari lelaki tau,laki laki yang nekat menggauli paksa kekasihnya itu...ah...benar benar tak bisa dimaafkan..."kata Kaien.
"Aku tau...aku memang bodoh..."keluh Rangiku,"Tapi sebetulnya...aku punya permintaan...maukah kalian mengantarkanku ke penjara siang ini?,"katanya. Kaien dan Miyako bersitatap,sama sama tidak mengerti maksud Rangiku.
"Ada perlu apa?,"
Rangiku tak menjawab, mengeluarkan surat kabar dari tasnya.
Kaien menerima surat kabar yang diulurkan Rangiku,dibacanya sebuah berita yang baru gencar,tentang tertangkapnya buronan pengedar narkoba beserta seluruh jaringanya yang tersebar di seluruh Karakura.
"Aizen!,"seru Kaien mengerutkan kening,dibacanya sebuah berita yang Rangiku tunjuk.
"Iya,Aizen memang tertangkap!Banyak juga komplotanya yang ternyata tersebar di seluruh kota,"kata Kaien.
"Apa hubunganya?,"tanya Miyako.
"Aizen mengakui bahwa salah satu komplotanya di salah satu jaringan bernama...ehm...Gin...Ichimaru..."kata Kaien melirik Rangiku yang menatapnya dengan tatapan tidak senang.
"Tapi di berita ini tak disebutkan tentang nama itu..."Mata Miyako menyelusuri setiap kalimat.
"Tunggu!Ada!Lihat!,"Kaien menunjuk sebuah paragraf.
...Aizen mengatakan dalam proses pengadilan Senin lalu,bahwa Gin Ichimaru yang pernah Ia sebut sebut sebagai rekanya pada saat penyidikan yang di lakukan kepala kepolisian Karakura,Ukitake ,adalah orang yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya mengenai kasus ini.
Kepolisian tetap akan memburu Gin Ichimaru,tapi Aizen dan yang lainya bersikukuh mengatakan bahwa Gin Ichimaru tak bersalah.
"Gin tak ada kaitanya dengan kasus karena kebetulan dia dekat dengan kami,kemudian di sebut sebut sebagai bagian dari jaringan kami,"kata Grimjaww yang juga komplotan Aizen yang ikut tertangkap karena razia polisi di sebuah kawasan pertokoan Karakura Selatan kepada polisi Chojiro Sasakibe saat proses penyidikan dan interogasi Jum`at lalu.
Tindakan Aizen mungkin seperti melindungi,tapi pernyataan Aizen terbukti saat polisi memang tak menemukan bukti tentang keterlibatan laki laki bernama Gin Ichimaru itu.(Ikaku.M)
Rangiku mengusap air matanya.
"Hei!"Seru Kaien,"Rasanya aku kenal wartawan yang menulis berita ini!,"katanya.
"Ikaku?siapa?,"tanya Miyako.
"Ikaku Madarame!Teman lamaku dari lembaga kewartawanan Karakura,mungkin kita bisa mencari info darinya,"kata Kaien.
Mata Rangiku terarah pada langit yang terlihat dari jendela...Gin...apakah bagimu dunia ini selebar langit yang nampak dari jendela itu...sampai kau mengorbankan aku...aku yang mencintaimu...Batin Rangiku.
"Bagaimana?,"tanya Kaien.
"Entahlah,"kata Rangiku,"Kita temui saja dia di penjara nanti siang,"katanya lagi
.......................................................................
Rangiku mengemasi buku bukunya dengan tergesa. Kaien sudah menunggunya di gerbang.
Setelah mengemasi buku bukunya,Rangiku keluar. Tapi sebuah suara menahan langkah kakinya.
"Matsumoto!."
Rangiku menoleh. Dilihatnya seorang wanita berkulit gelap berjalan ke arahnya. Nona Yoruichi, dosen kebahasaanya.
"Ya?,"jawab Rangiku.
"Perusahaan penerbit Pak Byakuya mau menerbitkan antologi puisi karya penyair Karakura. Bantu saya mengumpulkan anak anak sastra yang lainya, Matsumoto, "kata nona Yoruichi
"Baik, Nona. Besok saya akan bantu anda,"kata Rangiku.
"Besok?," nona Yoruichi berseru. "Kau harus mulai mengerjakanya siang ini. Kumpulkan teman temanmu. Kurotsuchi dan yang lain ada di lantai dasar. Aku akan menghubungi Soi Fong untuk membantumu," kata nona Yoruichi.
"Apa ini begitu mendesak,Nona?Saya ada urusan,"kata Rangiku.
"Ya...lebih cepat lebih baik, Pak Byakuya bukan orang yang mudah mengatakan 'ya, santai saja, waktu penerbitan masih lama'. Karena itu,kau mahasiswa yang paling kompeten, saya mengandalkanmu Matsumoto. Dan Sebaiknya turuti kata kata saya, kalau kau tidak ingin saya mengosongi semua nilai kebahasaanmu yang sebenarnya kompensasi karena kau sering membolos,"kata nona Yoruichi
Rangiku meneguk ludah. Ahh, gerutunya dalam hati. Karena bimbang, Rangiku pun berkata, "Baik Nona."
Nona Yoruichi tersenyum puas. "Mohon kerjasamanya ya, "katanya sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Rangiku.
Mata Rangiku menatap punggung nona Yoruichi yang berbalut baju oranye. Kemudian matanya menukik memandang ubin abu abu di bawahnya.
Rangiku melangkah dengan lesu ke ruang bahasa di lantai dasar, setelah sebelumnya menelpon Kaien dan mengatakan rencana mereka ke penjara siang itu batal.
"Ah," keluh Rangiku. Ruang bahasa yang berantakan begitu sepi. Hanya ada Rangiku seorang diri di sana.
Bola mata Rangiku menyusuri setiap paragraf surat kabar yang memuat berita Aizen tadi. Foto Aizen yang terpampang di halaman pertama tertutup sensor.
"Aku tidak tau, bahkan tidak mau tau seperti apa kau...Kau pengedar narkotik yang orang orang bilang tampan berambut coklat dan berkacamata minus itu... aku yakin kau bukan orang yang akan menyesali perbuatanmu di balik jeruji besi itu...
Aku memang tak bisa menyamakan penjahat macam dirimu dengan Crowley si 'dua senjata', buronan dasyat dari New York yang aku tau dari buku Dale Carnegie... Tapi aku hanya ingin tau, Aizen... aku ingin tau kenapa kau melindungi laki laki macam Gin...
Kehancuranku malam itu... aku tau itu karena benda haram yang selama ini kau edarkan, yang bahkan aku tidak tau sejak kapan Gin memakainya..." gumaman Rangiku terhenti dengan tangis....
Mungkin senyummu kini sudah tak seindah deutzia lagi
Mungkin matamu sudah tak sejernih Sode no Shirayuki
Pelukanmu menjelma menjadi ancaman
Langkahmu menjadi sebuah ketakutan
Irama jantungmu sayatan pedang
Rindu beralin nafsu
Diatas skenario berdarah titian kehidupan...
"Siang, Rangiku,"sapa Soi Fong. Rangiku buru buru mengahapuss air matanya.
"Ah, Soi Fong, selamat siang," Kata Rangiku,"Aku sedang mulai membuat puisi,"lanjutnya.
"Heran ya,kau seolah tak pernah kehabisan inspirasi,Rangiku,"kata Soi Fong. Rangiku hanya tersenyum.
Ya...itu karena kau...Gin...batin Rangiku.
Tangan Rangiku mulai bergerak diatas kertas.
Mungkin kini kau dalam kekalutan,
Angin dan udara bagai membinasakan,
Melonjak menembus makna kehidupan,
Lalu kau bangkit dan berlari mengejar kegelapan,
Aku ingin tanya,
Apa arti ujung Hineko di lehermu,
Kalau kemudian kau tetap mengayunkan langkahmu,
Ke tempat ketidakpastian menunggu...
Mata Rangiku kembali memandang surat kabar tadi. Surat kabar yang sebenarnya ia curi dari ruangan Pak Urahara, dosen akutansi Miyako.
Aizen...Aku yakin kaulah akar dari semua ini...
Bersambung...
Ha???Apa kurang panjang lagi???Ya nanti kalo kurang puas aku panjangin lagi...
Talk show apa enggak???
Enggak dulu ya...
He he he...
