Meski terlalu berat, terlalu keras dan walau kau sangat sedih, kuharap yang kau lakukan adalah sesuatu selain tersakiti, kuharap beban berat itu tidak menghancurkan semua orang. –Nice Guy-

.

Sama seperti kau, meski kau sangat sedih kuharap ada hal lain yang dapat kau lakukan selain tersakiti. Cinta adalah perkara yang wajar dalam kehidupan manusia, bahkan ketika semua orang merasa tersakiti olehnya. Dia tetap berdiri kokoh tanpa goyah. Bukan salah Sehun jika dia ingin mendekati Kyungsoo, dan bukan juga salah Kyungsoo jika dia ingin menerima Sehun untuk menjadi kekasihnya. Tapi Kai juga punya satu hal yang harus diingat, bukan salahnya jika dia jatuh cinta pada Kyungsoo. Tidak ada yang salah disini, dan kemudian dia mulai berpikir untuk menyalahkan diri sendiri.

Kai tidak akan mengantar Sehun lagi ke kampus, atau memaksa untuk ikut pria itu. Obrolan singkatnya kemarin menyadarkan dirinya bahwa derajat dan kasta dirinya dan Kyungsoo tidak sama, Kyungsoo berhak mendapatkan seseorang yang lebih layak untuknya ketimbang seorang kampung sepertinya. Dan Sehun adalah orang yang tepat, dia orang yang baik hati, sedikit jail dan juga sedikit dingin, namun dia adalah pria yang perhatian meskipun jarang berkata-kata. Kai mengangguk perih mengingatnya. Namun karena hal itu, Kai menjadi sangat tepat waktu untuk mengantar Chanyeol kemanapun kemauannya dan kapanpun dirinya di butuhkan.

Bulan itu, Kai di bangunkan oleh Chanyeol di malam hari. Mereka berdua sama-sama mengantuk karena baru saja tertidur setelah kelelahan bekerja dua hari belakangan ini. Chanyeol sedang sakit, dan Sehun mengikuti kegiatan kampusnya untuk berkemah selama tiga hari. Baru saja Chanyeol mendapat telepon dari tempat kemping bahwa Sehun mengalami kecelakaan di sungai, kakinya cidera dan beberapa luka kecil lainnya sehingga dia harus meminta tolong padanya dengan segenap rasa bersalah karena melihat Kai baru saja tertidur. Meskipun pria itu telah berkata tidak apa-apa, Chanyeol tetap meminta maaf, dia bahkan yang menyiapkan baju-baju Kai yang mungkin saja akan di butuhkan oleh pria tan itu, serta mengemas sekaligus baju Sehun meski dalam keadaan sakit.

Kai berangkat di jam 11 malam, dan harus menempuh waktu dua jam lebih untuk sampai di tempat itu. Dia sampai pada pukul 1 malam, sementara dia mencari Sehun di tempat perkehamahan, ponselnya berdering dari nomor asing.

"Hallo." Sapanya di awal

"Hallo, Kai ini Luhan. Maaf membawa pulang Sehun, kau sudah sampai disana?" Kai memaki dalam hati, seharusnya Sehun mengatakannya sejak tadi.

"Kai, jika kau disana. Boleh aku minta tolong padamu. Sebenarnya aku datang untuk menjemput Kyungsoo, tapi keadaannya ternyata berbeda. Bisa kau mengantar pulang Kyungsoo, tadi aku mengajaknya pulang tapi dia keras kepala padahal tangannya terluka, dia bilang bahwa tugasnya belum selesai. Aku minta maaf merepotkanmu."

"Tidak apa-apa, aku akan mengantarnya pulang." Meski enggan, dia tetap mengatakannya

"Terima Kasih banyak, Kai."

"Bukan masalah."

Setelah telepon terputus, Kai kembali menelusuri cahaya-cahaya dari obor yang ada beberapa meter di dekatnya. Dia masih belum dapat menemukan, si mata bulat kesayangannya. Sehun menjadikan Kyungsoo sebagai pelarian, dan sekarang lihat saja yang di lakukan pria itu, pulang bersama Luhan lagi sedangakn dia menempuh jarak dua jam untuk sampai kesini, bahkan sampai mengorbankan waktu tidurnya. Kai jadi bertanya-tanya separah apa luka Sehun hingga dia harus kembali secepatnya bersama Luhan. Oke, seharusnya Kai tahu, Luhan dokter dan seorang dokter jauh lebih tau ketimbang lulusan SMA sepertinya.

Sebenarnya Kai sedang menghindari Kyungsoo, bertatap muka dengannya, ataupun hal-hal semacam di dekat Kyungsoo. Well, Sehun sedang berusaha move on, dia memilih Kyungsoo sebagai penghibur laranya, bonus jatuh cinta mungkin di tengah perjalanan. Kai tak mau menjadi orang ketiga untuk siapapun, apalagi mereka keluarga orang kaya yang perusahaannya cocok untuk bekerjasama, mereka sama-sama mendapat untung, bahkan sampai pada keluarganya. Jika dengan Kai, memangnya Kai akan memberikan Kyungsoo apa? Makan nasi jagung setiap hari? Berkebun atau mungkin beternak? Jika di pikir-pikir itu lucu. Melihat Kyungsoo sedang menanam padi dengan pipi gembilnya yang terkena lumpur, atau dia memberi makan sapi dengan penuh rasa cinta, dia pasti akan bisa menjaga sapi-sapi dengan baik. Kemudian sore harinya, mereka akan makan malam, menonton TV jika perlu, atau apapun itu untuk mengisi waktu sebelum tidur. Membayangkannya saja membuat Kai benar-benar berdebar. Tapi tentu saja itu tidak mungkin, lulusan S1 seperti Kyungsoo mana mau bekerja seperti itu, toh mereka punya perusahaan untuk Kyungsoo langsung bekerja, apalagi yang harus dicari.

Tapi pada hari ini, kesempatan itu datang padanya lagi, dia ditugaskan menjemput Sehun, dan berakhir berduaan lagi dengan Kyungsoo. Biarlah, ini sudah lama dan Kai juga merindukan Kyungsoo, tidak ada yang salah, jika Sehun marah. Maka yang harus di salahkan adalah dia , kenapa dia tidak mau menunggu Kyungsoo menyelesaikan tugasnya baru pulang bersama. Banyak orang melintas, sepertinya mereka hendak pulang juga karena mereka sibuk membereskan barang dan merubuhkan tenda.

"Maaf, apa kau mau pulang?" Tanya Kai pada seorang gadis di dekatnya.

"Ya." Jawabnya singkat.

"Apa pulang kemping selalu selarut ini?"

"Kita bukan kemping, tapi penelitian. Siapapun boleh pulang cepat jika tugas mereka sudah selesai."

"Kenapa tidak pulang besok saja, bukankah ini sudah malam?"

"Memangnya kau pikir aku anak TK. Semua orang ingin pulang hari ini, bahkan ada yang sudah pulang, jika disini kami tidak akan tidur dengan nyaman. Kau menjemput seseorang?"

"Iya, apa kau tau Kyungsoo?"

"Oh, anak yang kecelakaan tadi di sungai?"

"Apa?"

"Iya, dia dan timnya terjatuh."

"Dimana dia?" Gadis itu menunjuk tenda berwarna hijau, setelah mengucapkan terima kasih Kai langsung menuju tenda tersebut. Benar pria itu di dalam bersama dua rekan lainnya sedang menyelesaikan tugas mungkin. Tangannya di perban, sementara wajahnya begitu serius, satu tangannya sesekali mengetik. Kai menunggu di luar tenda sampai pria itu selesai. Waktu telah menunjukan pukul setengah dua, Kai mulai di serang rasa kantuk.

Entah apa yang terjadi, tubuhnya terguncang, ketika dia membuka matanya dia menemukan wajah Kyungsoo tepat di depan matanya.

"Kai?" Kyungsoo mengguncang bahu itu sekali lagi untuk menyadarkannya. Kai mengucek matanya dan menguap mengantuk.

"Sedang apa kau disini?" Tanya Kyungsoo saat Kai sudah terlihat mendapatkan nyawanya kembali.

"Menjemput Sehun, tapi dia kembali duluan. Luhan menyuruhku untuk menjemputmu."

"Sebenarnya aku sudah bilang pada Luhan, aku bisa pulang sendiri. Maaf jadi merepotkanmu."

"Tidak apa-apa, bukan masalah. Apa kau sudah selesai?"

"Ya, kami baru saja membongkar tenda." Kai melihat kearah belakangnya, tendanya sudah tidak ada dan dia baru menyadari ada sebuah tas dan selimut yang menemani dirinya tidur, padahal terakhir kali dia tertidur dia bersandar pada besi penyangga tenda. Hanya ada mereka berdua, dan beberapa tenda yang mungkin masih menyelesaikan tugas mereka.

"Dimana teman-temanmu?"

"Mereka sudah pulang, 10 menit yang lalu."

"Kenapa kau tidak membangunkanku?"

"Maaf, kau terlihat lelah." Kyungsoo tersenyum kikuk, setelah sekian lama mereka tak pernah berjumpa lagi. Ini adalah pertemuan yang canggung.

"Kalau begitu, ayo kita pulang." Kyungsoo mengangguk kemudian membereskan semuanya dan berjalan beriringan bersama Kai menuju mobil.

Nasib selalu berbicara lain, Kai menggigit bibirnya gugup ketika mobil mati mendadak. Bensinya habis, karena terlalu buru-buru tadi dia bahkan lupa membeli bensin. Kyungsoo menatapnya dengan kedua mata bulatnya, sementara Kai berkali-kali minta maaf pada Kyungsoo. Beruntung ada pos keamanan yang petugasnya masih terjaga, mereka menunjukan sebuah penginapan yang paling dekat karena tidak ada pedagang bensin yang masih buka di jam selarut ini. Para petugas kepolisian tersebut, mengantarkan Kyungsoo dan Kai ke sebuah penginapan, mobil di titipkan di pos agar lebih aman.

.

Kai tidak tau dia harus melakukan apa, karena menjadi satu kamar bukanlah kehendaknya. Kai sebenarnya hendak menyewa kamar lain dan membiarkan Kyungsoo istirahat sendirian, namun Kyungsoo menolak dan malah memesan hanya satu kamar untuk mereka berdua, alasannya adalah anak kuliahan harus ber-irit , alhasil mereka patungan dalam membayar ongkos sewa semalam. Kai sudah selesai mandi, dan Kyungsoo baru saja masuk ke kamar mandi. Pria tan itu mondar-mandir tidak jelas menahan gugup. Dia sangat berharap dapat menahan diri untuk segala sesuatu yang terjadi nanti. Kai berkali-kali berdoa pada Tuhan, agar dia tak melakukan apapun yang merugikan dirinya. Dia sangat khawatir, bukan hanya hal tersebut namun dia lebih khawatir jika rasa terbiasa tanpa Kyungsoo yang telah dia bangun belakangan ini bisa saja runtuh, dan dia kembali menyukai apapun yang dilakukan anak itu. Bagaimanapun, Kai sudah pernah bilang bahwa dia tak ingin menjadi orang ketiga atau perusak hubungan orang.

Kyungsoo baru saja keluar, dan melihat Kai sedang menata sofa untuknya tidur.

"Kau tidur di sofa?"

"Ya." jawabnya singkat

"Kenapa? Tempat tidur cukup luas untuk berdua."

"Aku takut kau tidak nyaman."

"Oh tidak itu bukan masalah, toh kita sesama lelaki." Kai seperti di tampar tidak langsung tepat di ulu hatinya. Kai buru-buru menyangkal bahwa dia nyaman tidur di sofa dan telah menjadi kebiasaannya. Namun Kyungsoo lebih kukuh, dia menyeret Kai untuk tidur di kasur yang cukup untuk berdua tersebut. Akhirnya Kai pasrah, dia mengabaikan bagaimana debaran jantungnya menggila saat Kyungsoo menyentuh jemarinya tadi, meskipun sesama lelaki, tangan Kyungsoo terasa berbeda jika Kai merasakannya, ada sesuatu yang membuat Kai enggan untuk melepaskannya.

Kyungsoo menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, Kai sudah menduga bahwa orang seperti Kyungsoo tidak akan tertidur dengan segera. Pria itu bermain dengan ponselnya, dan mungkin itu pesan dari Sehun. Kai tersenyum masam, dia tidak dapat menyembunyikan kecemburuannya pada mereka berdua.

"Bagaimana hubunganmu dengan Sehun?" Kyungsoo menjauhkan ponselnya, mengernyit bingung pada si penanya.

"Baik-baik saja, kami seperti biasa."

"Oh syukurlah. Aku harap hubungan kalian berlangsung lama." Kyungsoo kembali mengernyit bingung sementara Kai menolak menatap mata bulat itu.

"Ya, karena kuliah masih lama. Kami akan menghabiskan waktu cukup lama untuk bersama."

"Ya, aku harap kalian juga akan menikah dengan segera, kau beruntung mendapatkan Sehun. Meskipun kadang manja, namun dia pria yang cukup bertanggung jawab." Kai telah merosotkan punggungnya untuk berbaring, setelah harapan panjang yang dia sampaikan dan cukup menguras emosinya.

"Tunggu, apa-apaan ini? Kenapa aku harus menikah dengan Sehun?"

"Bukankah kalian pacaran?" Kyungsoo terkekeh lucu, kini Kai yang merasa bingung sendiri dengan pertanyaannya.

"Jadi, sejak kapan aku mau di duakan?"

"Maksudmu?"

"Sejak kapan aku mau di duakan dengan Luhan, di pacar Luhan. Bukan aku."

"Tapi dia bilang…"

"Kau percaya omongannya?" Kai mengangguk, kemudian menelan ludahnya menyadari bahwa dia tertipu oleh si cadel tinggi itu. Jadi selama ini, hal bodoh yang sering di lakukannya untuk menjauh dari Kyungsoo, guna menjaga pertemanan mereka, faktanya dia di bohongi!. Tapi terlepas dari itu, melihat Kyungsoo menertawakannya begitu lucu membuatnya sangat bahagia. Jika bukan Sehun, semoga Kyungsoo tidak juga menjadi milik orang lain, selain dirinya.

Ini untuk yang pertama kalinya Kai berani menyentuh Kyungsoo secara sadar. Dia menarik tangan Kyungsoo yang di perban dengan seksama, dia begitu menikmati ketika kulit mereka bersentuhan, dan melihat luka Kyungsoo adalah alasan yang paling menyenangkan. Meskipun pria mungil itu berkali-kali bilang bahwa luka itu hanya luka kecil, Kai tidak mau peduli. Dia masih saja memegang pergelangan Kyungsoo pelan beralasan bahwa Kyungsoo harus membawanya kerumah sakit. Namun akalnya menyuruh untuk melepaskannya di menit ke sepuluh jika tidak ingin mendengar Kyungsoo meronta dilepaskan.

.

Tidak ada yang pernah tahu bahwa perubahan suhu di daerah ini berlangsung begitu ekstrim. Malam ini, suhu berubah menjadi begitu dingin bahkan sangat dingin. Kai dapat merasakan manusia di sebelahnya menggigil tidak bisa diam, berkali-kali merubah posisi tidurnya dengan tidak nyaman. Diapun sama, kakinya terasa beku hingga ke ubun-ubun, bahkan ketika angin tidak sengaja melintas lewat celah udara, dia merasa akan beku di seluruh tubuhnya. Kai bangkit mencari-cari selimut yang tersedia lagi, namun hanya ada satu selimut kecil yang bahkan di baginya berdua dengan Kyungsoo dan tidak menutupi seluruh tubuh mereka.

"Kau sedang apa?" giginya beradu menahan dingin.

"Mencari selimut. Tapi kurasa tidak ada."

"Kalau begitu kembalilah tidur, besok pagi kau harus menyetir."

"Aku tidak akan bisa tidur dengan begini." Kai mengacak rambutnya frustasi, kemudian dia mendudukan dirinya di ranjang. Dia melirik Kyungsoo yang tak jauh beda dengannya bahkan menggigil lebih parah. Hal bodoh melintas di kepalanya, namun dia ragu untuk melaksanakannya. Tapi tidak ada salahnya mencoba.

"Kyungsoo, aku terpikir sesuatu."

"Apa?"

Kai merengkuh Kyungsoo dalam dekapannya, mengapit telapak kaki Kyungsoo yang sedingin es tersebut dan mengenggelamkan Kyungsoo di dadanya.

"Kau tidak keberatan?" Kyungsoo tidak menjawab, namun Kai dapat merasakan kepalanya menggeleng dan gigilan itu seketika berhenti di gantikan oleh hati Kai yang bergemuruh.

Ingatkan Kai untuk mencatatnya di buku harian, bahwa ini adalah hal yang paling luar biasa yang pernah ia lakukan pada Kyungsoo. Dan lebih luar biasa lagi, Kyungsoo dapat tertidur tanpa menggigil, Kai menggunakan peluang itu untuk mengecup beberapa kali puncak kepala Kyungsoo. Udara dingin bahkan tidak ia pedulikan selanjutnya. Hingga pada waktu yang berlalu, ia ikut tertidur. Bahkan dalam setengah sadarnya ia masih sempat menertawakan dirinya karena dengan lancang berani memeluk Kyungsoo. Entah mendapat keberanian dari mana.

Pada pagi harinya, Kai menemukan dirinya tengah berbantal sebuah lengan, Kai yakin itu bukan lengannya karena bagaimanapun lengan itu terasa sedikit kecil namun kuat. Ketika seluruh kesadarannya kembali, pipinya terasa disentuh begitu lembut dan halus, seperti membawanya lagi ke alam mimpi, namun rasa penasarannya lebih kuat daripada apapun. Jadi dia memutuskan untuk membuka matanya dan melihat Kyungsoo yang tengah mendekapnya. Persis seperti apa yang ia lakukan semalam, jari jemari Kyungsoo mengelus pipinya dengan perlahan menimbulkan aura tenang yang tak dapat di gambarkannya. Nafasnya tercekat karena menahan rasa bahagia yang meletup-letup di jantungnya. Maka ketika Kyungsoo membuka mata dan dua pasang mata tersebut bertemu Kai bahkan menggigil dalam kehangatan. Sekali lagi, entah keberanian darimana atau ada yang merasuk dalam jiwanya. Kai dengan lancang mencium merah delima itu, sebuah bibir berbentuk hati, dan apa yang lama ia impikan, dia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi atau mungkin saja Kyungsoo akan memakinya setelah ini. Tapi ia percaya…

Semua akan baik-baik saja…

TBC

Kalian semua apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat ya…

Haengbokhaja apeujimalgo

Maaf, chap ini mengecewakan kedepannya aku perbaikin lagi.

Jangan lupa bahagia…